Minggu, 08 Desember 2013

Tafsir Al Baqarah Ayat 40-48

Ayat 40-48: Membicarakan tentang Bani Israil, peringatan Allah kepada Bani Israil, nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada mereka, ajakan Allah kepada mereka agar beriman kepada risalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, pengingatan Allah kepada mereka terhadap hari Kiamat; hari dimana harta dan anak tidak lagi bermanfaat, serta beberapa perintah dan larangan Allah kepada Bani Israil


يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ (٤٠) وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ (٤١) وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٤٢) وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ (٤٣) أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ (٤٤)وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ (٤٥) الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (٤٦)يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (٤٧) وَاتَّقُوا يَوْمًا لا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلا هُمْ يُنْصَرُونَ (٤٨

40. Wahai Bani Israil[1], ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu[2], dan penuhilah janjimu kepada-Ku[3], niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu[4], dan takutlah kepada-Ku saja.

[1] Israil adalah sebutan bagi Nabi Ya'qub. Bani Israil adalah keturunan Nabi Ya'qub; sekarang terkenal dengan bangsa Yahudi.

[2] Mencakup semua nikmat yang diberikan Allah kepada mereka, sebagian nikmat tersebut akan disebutkan dalam surat ini (lihat ayat 49 dan ayat-ayat setelahnya). Tujuan mengingatnya adalah agar mereka mengakui nikmat tersebut, memujinya dengan lisan dan menggunakan anggota badannya untuk mengerjakan perbuatan yang dicintai Allah dan diridhai-Nya.

[3] Janji Bani Israil kepada Allah ialah: bahwa mereka akan menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, serta beriman kepada rasul-rasul-Nya di antaranya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam serta menegakkan syari'at-Nya sebagaimana yang disebutkan di dalam Taurat.

[4] Janji Allah kepada mereka adalah seperti yang disebutkan dalam surat Al Maa'idah: 12, yang artinya:

"Dan sesungguhnya Allah telah mengambil Perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Aku bersama kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, pasti Aku akan menutupi dosa-dosamu, dan pasti akan Aku masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahya sungai-sungai. Tetapi barang siapa kafir di antaramu setelah itu, maka sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus."

41. Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran)[5] yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat)[6], dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya[7]. Janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah[8], dan bertakwalah hanya kepada-Ku[9].

[5] Hal ini menghendaki juga beriman kepada orang yang diturunkan kepadanya Al Qur'an, yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[6] Sesuai dengan kitab Taurat yang ada pada mereka dan tidak menyelisihi sehingga tidak ada lagi penghalang bagi mereka untuk beriman kepadanya, karena ia datang dengan membawa hal yang sama dengan dibawa para rasul. Oleh karena itu, jika mereka mendustakan kitab Al Qur'an, maka sama saja mereka mendustakan kitab Taurat dan kitab-kitab yang lain. Mereka (Bani Isra'il) adalah orang yang lebih patut beriman dan membenarkannya, karena mereka ahlul kitab dan memiliki pengetahuan.

[7] Yakni kepada Al Qur'an dan kepada Rasul-Nya. Kata-kata "pertama kafir kepadanya" lebih dalam daripada kata-kata "janganlah kamu kafir kepadanya", karena kata-kata tersebut menunjukkan kesegeraan mereka untuk kafir padahal tidak patut bagi mereka, dan mereka akan memperoleh dosa mereka serta dosa orang yang mengikuti mereka setelahnya.

[8] Perhiasan dunia yang akan lenyap. Inilah sebab yang menghalangi mereka untuk beriman, yaitu karena lebih memilih dan melebihkan perhiasan dunia di atas kebahagiaan selama-lamanya –na'uuudzu billahi min dzaalik-. Mereka lebih memilih jabatan dan harta daripada beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

[9] Yang menghendaki untuk mengedepankan iman daripada perhiasan dunia.

42. Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan[10] dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran[11], sedangkan kamu mengetahuinya.

[10] Karena yang diharapkan dari orang yang memiliki pengetahuan adalah menerangkan yang hak dan membedakannya dari yang batil serta menampakkan yang hak itu agar orang-orang yang mencari petunjuk dapat memperolehnya, orang-orang yang tersesat dapat kembali dan tegaknya hujjah terhadap orang-orang yang tetap menyelisihi. Oleh karena itu, siapa saja ahli ilmu yang menerangkan kebenaran dan tidak mencampuradukkan dengan yang batil, maka dia termasuk para pewaris rasul dan penggantinya serta pemberi petunjuk kepada ummat. Jika sebaliknya, maka ia termasuk du'at ke arah jahannam.

[11] Di antara yang mereka sembunyikan itu ialah: Allah akan mengutus seorang Nabi dari keturunan Ismail yang akan membangun umat yang besar di belakang hari, Yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat[12], dan ruku'lah beserta orang yang ruku'[13].

[12] Dalam shalat dan zakat terdapat ikhlas kepada Allah dan berbuat ihsan terhadap hamba-hamba Allah. Pada shalat dan zakat terdapat ibadah hati, badan dan harta.

[13] Ayat ini bisa maksudnya memerintahkan orang-orang Yahudi untuk masuk ke dalam Islam dengan mengerjakan shalat secara benar dan menunaikan zakat sehingga mereka tergolong orang-orang yang ruku', yakni tergolong ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ada juga yang menafsirkan ayat "dan ruku'lah beserta orang yang ruku'" adalah perintah mengerjakan shalat berjama'ah dan ada pula yang mengartikan: tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama orang-orang yang tunduk. Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini untuk menerangkan wajibnya shalat berjama'ah, yaitu dari ayat "dan ruku'lah beserta orang yang ruku'", yakni shalatlah beserta orang yang shalat. Disebutnya shalat dengan ruku' menunjukkan bahwa ruku' merupakan rukun shalat, dan tidak dinamakan shalat jika tidak ada ruku'nya. Disebutkan bagian dari gerakan shalat, yaitu ruku' untuk shalat menunjukkan wajibnya ruku'.

44. Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti? [14]

[14] Yakni alangkah buruknya keadaan kamu mendorong orang lain mengerjakan kebaikan, namun kamu malah melupakan dirimu untuk memperoleh kebaikan yang besar yaitu Islam, padahal kamu membaca kitab Taurat yang di sana diterangkan sifat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kewajiban beriman kepadanya. Tidakkah kamu menggunakan akal sehatmu?!

Ayat ini meskipun turun berkenaan tentang ulama bani Isra'il, namun ia umum kepada setiap orang yang menyuruh orang lain berbuat baik namun ia melupakan dirinya ibarat sebuah lilin yang menerangi orang lain, namun dirinya habis terbakar. Di dalam hadits disebutkan:

مَثَلُ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَ يَنْسَى نَفْسَهُ مَثَلُ الْفَتِيْلَةِ تُضِيء ُلِلنَّاسِ وَ تُحَرِّقُ نَفْسَهَا

“Perumpamaan orang yang mengajar kebaikan kepada manusia, namun ia melupakan dirinya sendiri adalah seperti sebuah sumbu, ia menerangi manusia sedangkan dirinya sendiri terbakar.” (HR. Thabrani dari Abu Barzah dan Jundab, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 5837)

45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[15]. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'[16],

[15] Yakni jadikanlah sabar dengan semua macamnya dan shalat sebagai penolongmu untuk mengatasi semua masalah. Sabar itu ada beberapa macam, yaitu: 1) sabar dalam menjalankan keta'atan kepada Allah, 2) sabar dalam menjauhi larangan Allah, dan 3) sabar terhadap taqdir Allah dengan tidak berkeluh-kesah.

[16] Bagi mereka yang khusyu', memiliki rasa takut kepada Allah, berharap apa yang ada di sisi-Nya dan rasa cinta kepada-Nya mengerjakan shalat itu ringan. Karena hal tersebut (khusyu', rasa takut dan harap) menghendaki untuk mengerjakannya dengan lapang dada dan senang. Berbeda dengan yang tidak memilikinya, mengerjakan shalat menjadi hal yang sangat berat meskipun hanya sebentar. Khusyu' artinya tunduknya hati, tenang dan tenteramnya kepada Allah Ta'ala, memasrahkan diri kepada-Nya dengan menghinakan diri, menampakkan rasa butuh serta beriman kepada Allah dan kepada pertemuan dengan-Nya.

46. (yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya[17].

[17] Mereka yakin akan bertemu dengan Tuhannya setelah mati dan akan kembali kepada-Nya pada hari kiamat untuk dihisab dan menerima pembalasan terhadap amal. Semua rasa inilah yang membuat mereka merasa ringan menjalankan ibadah, membuat mereka tetap terhibur ketika mendapatkan musibah, meringankan derita mereka dan mencegah diri mereka dari berbuat maksiat.

47. Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu[18], dan Aku telah melebihkan kamu di atas semua umat (pada masa itu)[19].

[18] Yang mengharuskan untuk bersyukur kepada-Nya, bukan malah mengkufurinya.

[19] Bani Israil yang telah diberi rahmat oleh Allah dan dilebihkannya dari segala ummat ialah nenek moyang mereka yang berada di masa Nabi Musa alaihis salam. Termasuk kelebihan yang diberikan Allah Ta'ala kepada mereka adalah banyaknya para nabi dari kalangan mereka serta diturunkan-Nya kitab-kitab kepada mereka seperti Taurat dan Injil.

48. Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafa'at[20] dan tebusan apa pun darinya tidak diterima[21] dan mereka tidak akan ditolong[22].

[20] Syafa'at: usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at bagi orang-orang kafir.

[21] Meskipun dengan harta yang ada di bumi semuanya. Ayat di atas semakna dengan ayat berikut:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kekafirannya, maka tidaklah diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (sebanyak) itu. bagi mereka itulah siksa yang pedih dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong." (Ali Imran: 91)

[22] Tidak ada seorang pun yang berani maju untuk menolong mereka dan menyelamatkan mereka dari azab.

Ayat di atas menyuruh kita untuk tidak bergantung kepada makhluk, karena mereka sama sekali tidak memiliki dan tidak berkuasa apa-apa meskipun seberat dzarrah pada hari kiamat, dan agar kita bergantung kepada Allah, karena Dia yang mampu mendatangkan manfa'at dan menolak madharat. Oleh karena itu, hendaknya kita beribadah kepada-Nya dan meminta-Nya pertolongan dalam beribadah.

Jumat, 06 Desember 2013

Tafsir Al Baqarah Ayat 30-39

Ayat 30-33: Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kisah manusia pertama yaitu Adam ‘alaihis salam, penciptaannya dan bagaimana Dia mengistimewakannya dengan khilafah dan ilmu

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ (٣٠) وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٣١) قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (٣٢) قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (٣٣

30. Ingatlah[1] ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi[2]." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak[3] dan menumpahkan darah di sana[4], sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?"[5] Dia berfirman, "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui[6]."

[1] Demikian pula ingatkanlah kepada yang lain.

[2] Makhluk yang akan mengelola bumi dan memberlakukan perintah-perintah Allah di sana, yaitu manusia di mana sebagiannya akan digantikan oleh yang lain.

[3] Dengan berbuat maksiat.

[4] Ini adalah perkiraan para malaikat.

[5] Maksud ayat di atas adalah bahwa para malaikat meminta diberitahukan hikmah di balik penciptaan mereka, padahal makhluk tesebut menurut perkiraan mereka akan mengadakan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah, sedangkan mereka selalu ta'at kepada-Nya, bertasbih dengan memuji-Nya dan mengagungkan-Nya dengan semua sifat sempurna dan sifat kebesaran. Kata-kata "nuqaddisu laka" (lihat ayat di atas) memiliki dua makna: pertama, berarti "kami menyucikan-Mu karena-Mu" lam di ayat tersebut menunjukkan takhshis (pengkhususan kepada Allah saja) dan menunjukkan ikhlas (karena Allah) . Kedua, berarti "Kami menyucikan diri kami dari akhlak buruk karena-Mu dan kami isi dengan akhlak mulia seperti cinta kepada-Mu, takut dan mengagungkan-Mu".

[6] Berupa hikmah yang dalam pada penciptaan mereka. Karena ucapan para malaikat itu sebatas perkiraan mereka, sedangkan Allah Ta'ala mengetahui yang nampak maupun yang tersembunyi. Bahkan kebaikan yang muncul dari mereka lebih banyak daripada keburukan, dengan diciptakan-Nya mereka dipilih-Nya siapa di antara mereka yang menjadi para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shalih dan agar ayat-ayat-Nya nampak jelas bagi makhluk-Nya serta dapat dilakukan ibadah yang tidak bisa dilakukan selain oleh kalangan manusia seperti jihad dan lainnya, diuji-Nya mereka (manusia) akankah mereka mau ta'at kepada-Nya dengan kecenderungan yang ada dalam diri mereka ke arah kebaikan dan keburukan, demikian juga agar semakin jelas mana wali-Nya dan mana musuh-Nya, siapa yang berhak menempati surga-Nya dan siapa yang berhak menempati neraka-Nya, agar nampak jelas karunia dan keadilan-Nya, dan agar kelihatan jelas apa yang disembunyikan oleh Iblis berupa keburukan serta hikmah-hikmah lainnya.
-----------------------------------------------------
31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat[7] seraya berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama (semua) benda ini jika kamu yang benar!"[8]

[7] Untuk mengetest mereka.

[8] Di sini Allah Ta'ala membuktikan kelebihan Adam 'alaihis salam dalam hal ilmu, Allah mengajarkan kepadanya nama-nama benda semuanya lalu diperlihatkan-Nya kepada para malaikat sambil berfirman: "Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama benda yang ada ini jika kamu memang benar", yakni memang benar lebih layak menjadi khalifah di muka bumi daripada Adam dan keturunannya.
------------------------------------------------------------
32. Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau[9], tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana[10]."

[9] Dari sikap kami yang berani berbicara terhadap ucapan-Mu dan menyelisihi perintah-Mu.

[10] Hikmah atau bijaksana artinya adalah tepat, yakni menempatkan sesuatu pada posisi yang layak. Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa jika samar bagi seorang hamba hikmah Allah menciptakan sesuatu atau memerintahkan sesuatu, maka kewajibannya adalah tunduk dan menerima.
---------------------------------------------------
33. Allah berfirman, "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu[11]." Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Allah berfirman: "Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi[12] dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?"

[11] Yakni nama-nama benda yang mereka tidak mengetahuinya. Setelah Adam memberitahukannya, Allah Ta'ala menegaskan bahwa Dirinya lebih mengetahui hal yang samar bagi mereka baik di langit maupun di bumi dan Dia mengetahui apa yang mereka nyatakan dan apa yang mereka sembunyikan.

[12] Rahasia atau ghaib adalah yang tidak kita ketahui dan tidak dapat kita saksikan. Jika Allah Ta'ala mengetahui yang rahasia, apalagi yang nampak atau kelihatan.
-----------------------------------------
Ayat 34-39: Menerangkan kisah sujudnya malaikat kepada Adam ‘alaihis salam dan sikap Iblis terhadapnya

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (٣٤) وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ (٣٥) فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ (٣٦) فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (٣٧) قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (٣٨) وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٣٩

34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah[13] kamu kepada Adam!" Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir[14].

[13] Sebagai pemuliaan Allah kepada Adam 'alaihis salam. Sujud di sini adalah sujud penghormatan kepada Adam, bukan sebagai sujud memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah Ta'ala.

[14] Iblis enggan untuk sujud karena sombong dan dengki, sehingga ia termasuk golongan yang ingkar kepada Allah dan durhaka kepada perintah-Nya.
-------------------------------------
35. Dan Kami berfirman, "Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai) makanan yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini[15], nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.

[15] Pohon yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan namanya, sebab Al Quran dan As Sunnah tidak menerangkannya. Mendekati pohon itu bagi Adam dan Hawa merupakan kemaksiatan sehingga mereka akan tergolong orang-orang yang melanggar perintah Allah. Allah Ta'ala melarang memakan pohon itu sebagai ujian atau karena hikmah yang kita tidak mengetahuinya.
---------------------------------
36. Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga[16] sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga)[17]. Kami berfirman, "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain[18], dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan[19]."

[16]Adam dan Hawa dengan tipu daya dan bisikan setan akhirnya memakan buah pohon yang dilarang itu, yang mengakibatkan keduanya keluar dari surga. yang dimaksud dengan setan di sini ialah iblis yang disebut dalam surat Al Baqarah ayat 34 di atas.

[17] Maksud Keadaan semula ialah kenikmatan, kemewahan dan kemuliaan hidup dalam surga.

[18] Yakni Adam dan keturunannya menjadi musuh bagi Iblis dan keturunannya, dan sudah menjadi maklum bagi yang namanya musuh tentu akan berusaha sekuat tenaga menimpakan madharat kepada musuhnya, mendatangkan keburukan dengan berbagai cara dan menghalanginya dari memperoleh kebaikan. Dalam ayat tersebut terdapat peringatan Allah Ta'ala kepada bani Adam agar waspada terhadap setan.

[19] Ayat ini menerangkan bahwa dunia yang kita tempati ini bukanlah tempat tinggal yang sesungguhnya dan bahwa kita hidup di dunia hanya sementara sebagai ladang beramal menuju akhirat.
---------------------------------------------------
37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat[20] dari Tuhannya, lalu Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat[21] lagi Maha Penyayang.

[20] Tentang beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Allah yang diterima oleh Adam sebagian ahli tafsir mengartikannya dengan kata-kata untuk bertobat, yaitu ucapan "Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa…dst (lih. Surat Al A'raaf: 23)

[21] Tobat dari-Nya ada dua; diberi-Nya taufiq (dorongan) untuk bertobat dan diterima-Nya tobat seseorang ketika telah terpenuhi syarat-syaratnya. Diberi-Nya taufiq untuk bertobat termasuk kasih sayang-Nya sebagaimana diajarkan-Nya kepada Adam kalimat untuk bertobat.
-------------------------------------------------------
38. Kami berfirman, "Turunlah kamu semua dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku[22] kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku[23], tidak ada kekhawatiran atas mereka[24], dan mereka tidak bersedih hati[25]".

[22] Dari rasul dan kitab yang dibawanya kepada kamu wahai jin dan manusia.

[23] Yaitu dengan beriman kepada rasul tersebut dan kitab yang dibawanya serta menjadikannya sebagai petunjuk; dengan membenarkan berita yang mereka sampaikan dan yang tercantum dalam kitab-kitab itu serta mengikuti perintah yang ada dan menjauhi larangannya.

[24] Terhadap hal yang akan datang dari perkara akhirat.

[25] Terhadap hal yang telah luput dari perkara dunia.

Khawatir itu terjadi karena sesuatu yang tidak disukainya bisa menimpanya di masa mendatang, sedangkan kesedihan terjadi karena sesuatu yang tidak disukai telah menimpa di masa lalu. Di dalam ayat ini, Allah Ta'ala menghilangkan kedua hal tersebut menunjukkan bahwa mereka akan memperoleh keamanan yang sempurna. Di dalam ayat lain, yaitu surat Thaahaa ayat 23 diterangkan bahwa orang yang mau mengikuti petunjuk Allah, maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka, yakni menunjukkan ia akan memperoleh petunjuk (lawan sesat) dan akan memperoleh kebahagiaan (lawan celaka). Dengan demikian, orang yang mau mengikuti petunjuk Allah akan memperoleh kemananan, petunjuk dan kebahagiaan di dunia dan akhirat –nas'alullah an yaj'alanaa minhum-.
-----------------------------------------------
39. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka[26]. Mereka kekal di dalamnya.[27]

[26] Dalam ayat tersebut digunakan lafaz "as-haab" jamak dari kata shaahib yang artinya "kawan", yakni mereka itu kawan-kawan neraka yang selalu bersama dengannya sebagaimana bersamanya seseorang dengan kawannya.

[27] Ayat 38 dan 39 menunjukkan bahwa manusia dan jin terbagi dua ada yang berbahagia dan ada yang celaka, di masing-masing ayat tersebut disebutkan sifat golongan yang berbahagia dan golongan yang celaka serta amalan yang menjadi sebabnya, demikian juga menunjukkan bahwa jin dan manusia sama dalam hal pahala dan siksa serta dalam hal kewajiban menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

====================
ustadz Ahmad Zainuddin,Lc

Tafsir Al Baqarah Ayat 26-29

Ayat 26-27: Menyebutkan perumpamaan-perumpamaan dalam Al Qur'an dan hikmah-hikmahnya, sikap manusia terhadapnya, dan bahwa dalam perumpamaan itu terdapat ujian bagi hati dan jiwa manusia

Ayat 28-29: Menetapkan kekuasaan Allah dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya dalam menciptakan langit dan bumi, dan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu

إِنَّ اللَّهَ لا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلا الْفَاسِقِينَ (٢٦)الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (٢٧)كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٢٨) هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (٢٩

Terjemah Surat Al Baqarah Ayat 26-29

26. Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu[1]. Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka[2], tetapi mereka yang kafir berkata[3]: "Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?[4]." Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu kecuali orang-orang yang fasik[5],

[1] Sebagai perumpamaan terhadap lemahnya berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah. Hal ini seperti yang disebutkan dalam surat Al Hajj ayat 73; di dalamnya Allah menerangkan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat membuat lalat, Sekalipun mereka kerjakan bersama-sama, dan di surat Al Ankabuut ayat 41 yang di dalamnya Allah menggambarkan kelemahan berhala-berhala yang dijadikan oleh orang-orang musyrik itu sebagai pelindung seperti lemahnya sarang laba-laba.

Nampaknya ayat di atas sebagai jawaban terhadap orang yang mengingkari perumpamaan yang dibuat Allah Ta'ala menggunakan makhluk-makhluk yang kecil seperti nyamuk, padahal bukan pada tempatnya membantah hal tersebut, ia merupakan pengajaran Allah kepada hamba-hamba-Nya sekaligus sebagai rahmat-Nya yang seharusnya diterima dan disyukuri. Bagi orang-orang yang beriman, ketika mereka mengetahui hikmahnya bertambahlah ilmu dan iman mereka, kalau pun samar hikmahnya bagi mereka, mereka mengetahui bahwa perumpamaan itu adalah hak (benar), isinya hak meskipun secara rincinya mereka tidak mengetahui, karena mereka yakin bahwa Allah tidaklah membuat perumpamaan main-main, bahkan karena ada hikmah yang dalam di balik itu.

[2] Mereka mengetahui hikmah Allah Ta'ala membuat perumpamaan dengan makhluk-Nya yang kecil maupun yang besar.

[3] Sambil membantah dan mengolok-olok.

[4] Mereka tidak bisa memahami perumpamaan itu.

[5] Perumpamaan yang dibuatkan oleh Allah Ta'ala itu merupakakan ujian untuk membedakan siapa yang mukmin dan siapa yang kafir. Oleh karena itu, dengan perumpamaan itu ada yang disesatkan Allah karena olok-olokkan yang mereka lakukan dan ada juga yang ditambahkan oleh-Nya iman dan hidayah dari-Nya. Disesatkan Allah berarti bahwa orang itu sesat karena keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. Allah tidaklah menzhalimi seorang pun, karena tidak ada yang dijauhkan dari yang hak kecuali karena perbuatannya yang keluar dari keta'atan kepada-Nya dan karena mereka tidak cocok memperoleh hidayah-Nya sesuai kebijaksanaan-Nya
------------------------------------
27. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu diteguhkan[6], dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan[7], dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

[6] Padahal mereka telah berjanji untuk mentauhidkan Allah Ta'ala dan menta'ati-Nya serta beribadah kepada-Nya sebagai amanah yang dibebankan kepada mereka ketika langit, bumi dan gunung enggan memikulnya karena khawatir tidak bisa melaksanakan, diperkuat lagi dengan diutusnya para rasul dan diturunkan kitab-kitab agar mereka mau memenuhi amanah itu. Di samping itu, mereka juga melanggar ajaran Allah seperti dengan memutuskan tali silaturrahim dan menyebarkan kerusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang rugi di dunia dan akhirat.

[7] Ada yang menafsirkan sebagai menyambung tali silaturrahim dan ada yang menafsirkan lebih luas lagi, yaitu memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disampaikan berupa hak-hak. Kepada Allah Ta'ala, seperti dengan beriman dan beribadah kepada-Nya. Kepada rasul-Nya, seperti dengan beriman kepadanya, mencintainya, membelanya dan memenuhi hak-haknya. Demikian juga termasuk ke dalamnya memenuhi hak orang tua, kerabat dan orang lain.
---------------------------------
28. Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?[8]

[8] Pertanyaan di sini maksudnya adalah ta'ajjub (menunjukkan keanehan), taubikh (mencela) dan mengingkari. Yakni bagaimana kamu wahai orang-orang musyrikin bisa ingkar kepada keesaan Allah, kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu padahal ada bukti yang nyata terhadap keesaan-Nya pada diri kamu. Bukankah kamu dahulu mati, lalu Allah menghidupkan kamu, lalu Dia mematikan kamu setelah tiba ajalmu dan akan membangkitkan kamu lagi dan kepada-Nya kamu dikembalikan untuk dihisab dan diberikan balasan terhadap amalmu selama di dunia. Di samping itu, kamu semua berada di bawah kekuasaan-Nya, lalu apakah pantas kamu ingkar kepada-Nya, bukankah yang demikian merupakan kebodohan yang sangat, bahkan yang sepatutnya kamu lakukan adalah beriman kepada-Nya, bertakwa dan bersyukur, takut terhadap azab-Nya dan berharap pahala-Nya.
-------------------------
29. Dia-lah (Allah) yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untukmu[9], kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu[10].

[9] Untuk kamu manfa'atkan, untuk dipakai bersenang-senang dan untuk diambil pelajaran. Dalam ayat ini diambil sebuah ka'idah fiqh bahwa Al Ashlu fil asyaaa'il ibaahah wath thahaarah (asal pada segala sesuatu itu boleh dan suci), karena ayat di atas menerangkan bahwa itu semua merupakan pemberian Allah kepada kita, tidak termasuk ke dalamnya hal-hal yang kotor. Dia menciptakan semua yang ada di bumi untuk kita manfa'atkan, oleh karena itu jika ada bahaya di sana tidak termasuk bagiannya, dan termasuk sempurnanya nikmat Allah kepada kita adalah dengan dilarang-Nya juga sesuatu yang kotor dan membahayakan.

[10] Sering sekali disebutkan Allah Maha Mengetahui setelah menerangkan penciptaan-Nya, karena penciptaan-Nya menunjukkan ilmu-Nya, hikmah dan kekuasaan-Nya.

==================
USTADZ ABU ISHAQ MUSLIM


Kamis, 05 Desember 2013

Tafsir Al Baqarah Ayat 17-25

Ayat 17-20: Allah membuat dua permisalan untuk orang-orang munafik, menerangkan keadaan mereka, kebingungan dan kesesatan mereka

Ayat 21-22: Menetapkan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya, serta wajibnya beribadah kepada-Nya

Ayat 23-25: Menyebutkan kemukjizatan Al Qur’an, tantangan kepada kaum musyrikin mengenai Al Qur'an, menetapkan kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, menerangkan balasan orang-orang kafir dan balasan untuk orang-orang mukmin


مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لا يُبْصِرُونَ (١٧)صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَرْجِعُونَ (١٨)أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ (١٩)يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٠)يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١)الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٢)وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٢٣)فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (٢٤)وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٢٥
Terjemah Surat Al Baqarah Ayat 17-25


17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang-orang yang menyalakan api[1], setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat[2].

[1] Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.

[2] Mereka terombang-ambing dalam gelapnya kesesatan namun mereka tidak sadar dan tidak ada harapan lagi untuk keluar daripadanya tidak ubahnya seperti sebuah rombongan yang berada di malam yang gelap, di mana salah seorang di antara mereka menyalakan api yang besar untuk penerangan dan menghangatkan badan. Ketika api telah membesar dan menerangi sekelilingnya, saat itu juga api pun padam sehingga mereka kebingungan tidak dapat melihat apa-apa dan tidak mengetahui jalan.
-------------------------------------
18. Mereka tuli, bisu dan buta[3], sehingga mereka tidak dapat kembali (ke jalan yang benar),

[3] Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta karena tidak dapat menerima kebenaran. Oleh karena itu, mereka tidak dapat kembali kepada keimanan dan kebenaran yang telah mereka tinggalkan dan mereka ganti dengan kesesatan. Berbeda dengan orang-orang yang meninggalkannya karena tidak mengetahui, mereka ini lebih mudah kembali.
----------------------------------------
19. Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan[4], petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati[5]. Allah meliputi orang-orang yang kafir[6].

[4] Kegelapan malam dan kegelapan awan.

[5] Keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. Mereka menyumbat telinganya karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Qur’an itu.

[6] Maksudnya pengetahuan dan kekuasaan Allah meliputi orang-orang kafir.
-------------------------------------
20. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka[7]. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu[8].

[7] Dalam ayat ini, Allah menakut-nakuti orang-orang munafik dengan azab di dunia agar mereka takut sehingga berhenti dari melakukan keburukan dan berbuat nifak.

[8] Sekiranya Allah tidak memberikan tangguh kepada mereka, tentu Allah akan menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka, dan Dia Mahakuasa terhadapnya kapan saja waktunya, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi-Nya. Di ayat ini juga terdapat bantahan kepada kaum Qadariyyah (yang mengingkari taqdir) yang mengatakan bahwa perbuatan mereka tidak di bawah kekuasaan Allah Ta'ala, padahal perbuatan mereka termasuk yang berada di bawah kekuasaan-Nya.
---------------------------
21. Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa[9].

[9] Ayat ini merupakan seruan Allah kepada semua manusia agar beribadah kepada Allah yang mengurus mereka dengan nikmat-nikmat-Nya dan agar mereka takut kepada-Nya serta tidak menyelisihi agama-Nya. Dialah yang mengadakan mereka yang sebelumnya tidak ada, Dia pula yang mengadakan orang-orang sebelum mereka. Ayat "agar kamu bertakwa" bisa maksudnya bahwa jika kita beribadah kepada Allah saja, berarti kita telah menjaga diri dari kemurkaan dan siksa-Nya, bisa juga maksudnya bahwa jika kita beribadah kepada Allah, kita dapat menjadi orang-orang yang bertakwa. Kedua maksud tersebut adalah benar, oleh karena itu barangsiapa yang beribadah kepada Allah Ta'ala secara sempurna maka ia tergolong sebagai orang-orang yang bertakwa, dan jika tergolong orang-orang yang bertakwa, maka ia akan memperoleh keselamatan dari azab Allah dan kemurkaan-Nya.
-----------------------
22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu[10] dan langit[11] sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah[12], padahal kamu mengetahui[13].

[10] Agar manusia dapat hidup dengan mudah di atasnya.

[11] Langit atau dalam bahasa Arabnya disebut samaa' artinya semua yang ada di atas kita. Oleh karena itu, ahli tafsir menafsirkan samaa' atau langit di sini dengan awan.

[12] Ialah segala sesuatu yang disembah selain Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.

[13] Yakni mengetahui bahwa Dialah satu-satunya yang menciptakan dan memberikan rezeki. karena itu hanya Dia sajalah yang berhak disembah, tidak selain-Nya. Ayat ini memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah Ta'ala saja dan meniadakan sesembahan selain Allah apa pun bentuknya sebagai cerminan dari kalimat Laailaahaillallah. Dalam ayat ini terdapat tauhid Rububiyyah (pernyataan bahwa hanya Allah saja yang menciptakan, mengatur, menguasai dan memberikan rezeki kepada alam semesta) dan uluhiyyah (keberhakan-Nya diibadahi). Jika kita mengetahui bahwa hanya Dia yang menciptakan dan mengatur alam semesta, maka hanya Dia pula yang berhak diibadahi; tidak selain-Nya.
-------------------------------
23. Dan jika kamu meragukan (Al Quran)[14] yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad)[15], maka buatlah[16] satu surat yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

[14] Orang yang masih meragukan jika sebelumnya tidak mengenal yang hak, lalu diterangkan yang hak itu, maka diharapkan mau mengikuti jika memang dalam hatinya ada niat mencari yang hak. Adapun orang yang tetap menentang, yakni sudah mengetahui yang hak, namun malah ditinggalkannya, maka tidak mungkin rujuk, demikian juga orang yang meragukannya dan niat untuk mencari yang hak tidak benar, pada umumnya ia juga tidak mau mengikuti.

[15] Jika kalian wahai orang-orang kafir tetap meragukan Al Qur'an yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak mengenal tulis-baca dan kalian mengira bahwa ia bukan dati sisi Allah. Disebut "hamba Kami" oleh Allah Ta'ala dalam ayat tersebut merupakan kedudukan besar bagi Beliau.

[16] Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran. Al Qur'an itu tidak dapat ditiru walaupun hanya satu surat meskipun mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
-----------------------------------
24. Jika kamu tidak mampu membuatnya dan pasti kamu tidak akan mampu[17], maka takutlah kamu akan api neraka[18] yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir[19].

[17] Hal ini merupakan bukti kebenaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan apa yang dibawanya. bagaimana mungkin makhluk yang diciptakan dari tanah (manusia) sanggup mengatakan perkataan yang sama dengan perkataan Rabbul 'aalamin, apakah makhluk yang memiliki kekurangan dan fakir ini mampu menandingi perkataan Zat yang memiliki kesempurnaan secara mutlak. Setiap orang yang memiliki rasa bahasa dan pengetahuan tentang berbagai macam perkataan pasti akan mengetahui perbedaan yang nampak ketika Al Qur'an ini dibandingkan dengan perkataan para ahli sastera.

[18] Yaitu dengan beriman kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan ta'at kepada Allah Ta'ala. Api neraka yang sudah disiapkan Allah Ta'ala untuk orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya bahan bakarnya manusia dan batu, maka janganlah kamu kafir setelah jelas bagimu kebenarannya. Setelah itu, pada ayat selanjutnya Allah Ta'ala menyebutkan balasan jika mereka mau beriman sebagaimana pada ayat selanjutnya. Seperti inilah cara yang digunakan Al Qur'an, menggabung antara targhib (memberikan dorongan) dan tarhib (menakut-nakuti) agar seorang hamba ketika berharap sambil bersikap cemas, dan ketika takut sambil tetap berharap dan tidak berputus asa.

[19] Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafirlah yang kekal di neraka. Adapun orang yang beriman (muslim) meskipun melakukan dosa besar, maka ia tidak kekal di neraka.
------------------------------------
25. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat baik, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai[20]. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, "Inilah rezeki yang pernah diberikan kepada kami dahulu[21]." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci[22]. Mereka kekal di dalamnya[23].

[20] Yakni berikanlah kabar gembira wahai Rasul dan orang yang menjadi pewarisnya (para ulama) kepada orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal shalih dengan anggota badannya, di mana mereka membuktikan iman mereka dengan amal shalih, bahwa mereka akan memperoleh taman-taman yang indah, dan di bawah istana yang tinggi serta pohon yang lebat ada sungai-sungai yang mengalir; ada sungai yang berair tawar, sungai susu, sungai madu dan sungai khamr (arak) sebagaimana dalam surat Muhammad ayat 15; mereka bisa memancarkan dan mengarahkannya ke arah yang mereka kehendaki.
Amal yang baik disebut amal yang shalih, karena dengan amal shalih akan menjadi baik keadaan seorang hamba, urusan agama dan dunianya, hidupnya di dunia dan akhiratnya dan hilang daripadanya keadaan yang buruk sehingga ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan cocok untuk tinggal di sisi Ar Rahman di surga-Nya.

[21] Setiap kali Allah memberikan rezeki berupa satu jenis buah-buahan yang nikmat, mereka berkata, "Dahulu, Allah juga melimpahkan rezeki jenis ini." Ketika mereka memakannya, mereka merasakan sesuatu yang baru dalam hal rasa dan lezatnya, meskipun buah-buahan itu mirip dengan sebelumnya di dunia baik warna, nama dan nampak dari luarnya.

[22] Suci dari semua kotoran hissiy (yang dapat dirasakan) seperti buang air kecil, buang air besar, ingus, riak, haidh, dsb. demikian juga suci dari kotoran maknawi seperti dusta dan akhlak yang buruk.

[23] Kenikmatan di surga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baik jasmani maupun rohani, penghuninya senantiasa memperoleh kenikmatan, mereka tidak mati di dalamnya dan tidak akan dikeluarkan. Dalam ayat ini terdapat anjuran memberikan kabar gembira kepada kaum mukmin untuk mendorong mereka beramal dengan menyebutkan balasan yang akan diperoleh, dengan begitu membuat mereka ringan dalam beramal shalih. Kabar gembira yang paling besar bagi seseorang adalah diberi-Nya taufiq untuk beriman dan beramal shalih, ia merupakan awal kabar gembira dan asalnya, setelahnya kabar gembira ketika meninggal dan setelahnya lagi adalah masuk ke tempat yang penuh kenikmatan. Kita meminta kepada Allah agar kita semua dimasukkan ke dalamnya, Allahumma aamiin.

==========================
Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴿٢١﴾ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh, padahal kamu mengetahui. [al-Baqarah/2:21-22]

MUQADDIMAH

Ketika kita membuka lembaran-lembaran mush-haf al-Qur’ân, kita akan mendapatkan kata perintah pertama kali terdapat dalam surat al-Baqarah ayat ke-21 dan kata larangan pertama kali terdapat dalam surat al-Baqarah ayat ke-22. Oleh karenanya, kedua ayat ini sangat penting untuk kita fahami dengan baik. Berikut ini sedikit penjelasan tentang dua ayat tersebut. Semoga bermanfaat.

Tafsir Ayat ke-21:

Firman Allâh Azza wa Jalla.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ 

Wahai manusia!

Ini adalah seruan kepada seluruh manusia, dari semua bangsa atau suku, di semua tempat dan waktu, setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini menunjukkan bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditujukan kepada seluruh manusia. Hal ini sebagaimana Firman Allâh Azza wa Jalla:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [Saba’/34:28]

Firman Allâh Azza wa Jalla:

اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ 

“beribadahlah kepada Robb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu”, 

Ini menunjukkan bahwa manusia wajib beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla karena Dia telah menciptakan manusia. Hal ini sebagaimana Firman Allâh Azza wa Jalla yang menyebutkan perkataan Nabi Syu’aib Alaihissallam kepada kaumnya :

وَاتَّقُوا الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالْجِبِلَّةَ الْأَوَّلِينَ

dan bertaqwalah kepada Allâh yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu". [asy-Syu’arâ’/26:184]

Dan sesungguhnya perintah Allâh Azza wa Jalla ini merupakan hikmah manusia diciptakan di dunia ini, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. [adz-Dzâriyât/51:56]

Beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla yaitu: taat secara mutlak kepada Allâh Azza wa Jalla, disertai dengan rasa cinta dan pengangungan, berharap dan takut, dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya lewat syari’at Rasul-Nya (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dengan hati yang ikhlas.

Firman Allâh Azza wa Jalla:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“agar kamu bertaqwa”, 

Ini adalah tujuan ibadah seorang hamba, yaitu agar bertaqwa, agar hamba terlindungi dari murka dan siksa Allâh Azza wa Jalla . 

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah (wafat 795 H) berkata, “Makna dasar dari kata taqwa adalah seorang hamba membuat perlindungan yang akan melindunginya dari apa yang dia takutkan dan dia waspadai. Jadi makna ketaqwaan hamba kepada Rabbnya adalah dia membuat perlindungan yang akan melindunginya dari apa yang dia takutkan dan dia waspadai dari Rabbnya, seperti kemarahan-Nya dan siksa-Nya, dengan cara mentaati-Nya dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada-Nya.” [1] 

Ini juga menujukkan bahwa manfaat ibadah yang dilaksanakan hamba akan kembali kepada hamba tersebut, bukan untuk Allâh Azza wa Jalla , juga bukan untuk orang lain. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Barangsiapa mengerjakan amal saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya) [Fusshilat/41:46]

Tafsir Ayat ke-22:
Firman Allâh Azza wa Jalla:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ 

Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu.[al-Baqarah/2:22]

Ini menunjukkan bahwa di antara sebab hamba diwajibkan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla adalah Allâh Azza wa Jalla telah memberi rezeki kepada manusia. Dan Allâh Azza wa Jalla telah menyiapkan segala keperluan hidup manusia, dan telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada hamba. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ ﴿٥٧﴾ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allâh Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.[adz-Dzâriyât/51:56-58]

Syaikh Abdurrahman bin Nâshir as-Sa’di (wafat 1376 H) rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ke-22 dari surat al-Baqarah ini, “Kemudian Allâh Azza wa Jalla menyebutkan hujjah (argumentasi-red) wajibnya beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla semata, yaitu Dia adalah Rabb (Pencipta; Pemilik; Penguasa; Pemelihara) kamu (manusia), Yang telah memelihara kamu dengan berbagai macam kenikmatan. 

Dia telah menciptakan kamu yang sebelumnya tidak ada. Dia juga telah menciptakan orang-orang sebelum kamu. Dia telah memberikan kenikmatan kepada kamu dengan kenikmatan-kenikmatan lahir dan batin. 

Dia telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, kamu dapat menetap di atasnya. Kamu juga dapat memanfaatkannya dengan (membuat) bangunan, pertanian, pengolahan tanah, berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain dan berbagai pemanfaatan bumi yang lain.

Dia juga telah menjadikan langit sebagai atap bagi tempat tinggal kamu, dan Dia meletakkan di langit berbagai benda bermanfaat yang menjadi kebutuhan kamu, seperti matahari, bulan dan bintang-bintang....

Kemudian Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan, seperti biji-bijian dan buah-buahan dari pohon kurma, dan seluruh buah-buahan, serta tumbuh-tumbuhan, dan lainnya, sebagai rezeki untukmu, dengan itu kamu memperoleh rezeki, kamu mendapatkan makanan pokok, kamu hidup, dan bersenang-senang”.[2] 

Firman Allâh Azza wa Jalla:

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا 

“Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh Azza wa Jalla ”, 

Ini merupakan larangan terhadap perbuatan syirik lawan dari tauhid, yaitu “Janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan (bagi Allâh Azza wa Jalla ) dari kalangan makhluk, yaitu kamu beribadah kepada tandingan-tandingan itu sebagaimana kamu beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla , dan kamu mencintai mereka sebagaimana kamu mencintai Allâh Azza wa Jalla , sedangkan mereka seperti kamu, diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla , diberi rezeki oleh Allâh Azza wa Jalla , dikuasai oleh Allâh Azza wa Jalla . Mereka tidak memiliki apapun, meskipun seberat debu di bumi dan di langit. Dan mereka tidak dapat memberikan manfaat kepada kamu dan tidak dapat membahayakan kamu”.[3] 

Firman Allâh Azza wa Jalla:

وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ 

“padahal kamu mengetahui”, 

Yaitu kamu mengetahui “bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak memiliki sekutu dan tandingan, baik di dalam mencipta, memberi rezeki, dan mengatur. Demikian juga Allâh Azza wa Jalla tidak memiliki sekutu dan tandingan dalam ulûhiyah (hak untuk diibadahi) dan kesempurnaan. Lalu, bagaimana bisa kamu beribadah kepada tuhan-tuhan yang lain disamping beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla ? Padahal kamu mengetahui hal itu. Ini merupakan perkara yang sangat mengherankan dan kebodohan yang paling bodoh”.[4] 

Hal ini sebagaimana Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ 

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka (orang-orang musyrik), "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab, "Allâh", maka bagaimanakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). [al-‘Ankabut/29:61]

PETUNJUK-PETUNJUK AYAT.

1. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia.
2. Manusia wajib beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla karena Dia telah menciptakan manusia.
3. Di antara sebab manusia wajib beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla adalah karena Dia memberi rezeki kepada manusia
4. Tujuan ibadah hamba kepada Rabbnya adalah taqwa, yaitu untuk melindungi diri dari murka dan siksa Allâh Azza wa Jalla . 
5. Tauhid adalah perintah pertama kali aalam al-Qur’an. Ini menunjukkan pentingnya tauhid.
6. Syirik adalah larangan pertama kali dalam al-Qur’an. Ini menunjukkan bahaya syirik. 
7. Manusia meyakini keesaan Allâh dalam rubûbiyah-Nya (kekuasaan-Nya), maka seharusnya mereka juga meyakini keesaan Allâh dalam ulûhiyah-Nya (hak-Nya untuk diibadahi dan tidak disekutuan dengan selainNya)

Inilah sedikit penjelasan dua ayat yang agung ini. Semoga Allâh Azza wa Jalla selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus 11/Tahun XVII/1435H/2014M. ]
_______
Footnote
[1].Kitab Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, 1/398, diteliti oleh: Syaikh Syu’aib al-Arnâuth dan Syaikh Ibrâhîm Bajis, penerbit: Muasasah ar-Risalah
[2].Tafsir Taisîr Karîmirrahmân, surat al-Baqarah ayat ke-22
[3]. Tafsir Taisîr Karîmirrahmân, surat al-Baqarah ayat ke-22, karya Syaikh Abdurrahman bin Nâshir as-Sa’di
[4]. Tafsir Taisîr Karîmirrahmân, surat al-Baqarah ayat ke-22

===========================
USTADZ ABU ISHAQ MUSLIM

DOWNLOAD : Tafsir surat al Baqarah ayat 17 dan 18 (Permisalan Orang Munafik)
DOWNLOAD : Tafsir surat al Baqarah lanjutan ayat 17 dan 18 (Permisalan Orang Munafik)
DOWNLOAD : Tafsir surat al Baqarah ayat 23 dan 24
DOWNLOAD : Tafsir surat al Baqarah ayat 24