Tampilkan postingan dengan label 005-Al Maidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 005-Al Maidah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Maret 2013

Tafsir Al Maidah Ayat 35

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allâh, dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. [al-Mâidah/5: 35]

al-Hâfizh Ibnu Jarîr at-Thabari rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Hai orang-orang yang membenarkan semua yang diberitakan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya kepada kalian, dan Dia k telah menjanjikan pahala dan mengancam dengan hukuman, sambutlah seruan Allâh Azza wa Jalla dalam seluruh perkara yang diperintahkan dan dilarang untuk kalian dengan penuh ketaatan kepada-Nya (dalam melaksanakan perintah dan menjauhkan larangan), dan wujudkanlah keimanan kalian dan pembenaran kalian kepada Rabb dan Nabi kalian dengan amal-amal shalih kalian.

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya,” yaitu carilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan yang diridhai-Nya.
Firman-Nya :

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya,” artinya al-qurbah , maksudnya seperti yang dikatakan oleh Imam Qatâdah rahimahullah,

تَقَرَّبُوْا إِلَيْهِ بِطَاعَتِهِ وَالْعَمَلِ بِمَا يُرْضِيْهِ.

“Hendaklah kalian mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan taat kepada-Nya dan melakukan amal shalih yang diridhai-Nya.”[1]

al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Allâh Azza wa Jalla berfirman untuk memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar bertakwa kepada-Nya. Lafazh ketakwaan apabila disertai ketaatan kepada-Nya, maksudnya yaitu tindakan menghindari segala hal yang haram dan meninggalkan semua larangan. Setelah itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya.”

Imam Qatâdah berkata, “Artinya, hendaklah kalian mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla , dengan menaati dan mengerjakan segala yang diridhai-Nya.” (Mengenai al-wasîlah ini), Imam Ibnu Zaid rahimahullah membaca ayat,

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

"Orang-orang yang kamu seru itu, mereka sendiri mencari jalan (wasilah) kepada Rabb mereka.” [Al-Isrâ’/17:57]

Itulah yang dikemukakan oleh para imam yang di dalamnya tidak terdapat perbedaan pendapat di antara ahli tafsir.

Wasîlah adalah sarana yang mengantarkan pada pencapaian tujuan. Wasîlah juga merupakan isim ‘alam (nama tempat) untuk tempat yang berada paling tinggi di Surga, yang merupakan kedudukan dan tempat tinggal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Surga. Itulah tempat di Surga yang paling dekat dengan ‘Arsy. Dalam Shahîh al-Bukhâri telah ditegaskan melalui jalan Muhammad bin al-Munkadir, dari Jâbir bin ‘Abdillâh Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ حِيْنَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Barang siapa setelah mendengar seruan adzan mengucapkan, ‘Ya Allâh, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini, dan shalat yang akan didirikan ini, karuniakanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta anugerahkanlah kepadanya tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepada-Nya.’ Maka, ia berhak mendapatkan syafaat pada hari Kiamat kelak. [2]

Dalam Shahîh Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Ka’ab bin ‘Alqamah, dari ‘Abdurrahmân bin Jubair, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin a-‘Ash Radhiyallahu anhu bahwa ia pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوْا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِيْ إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُوْ أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ.

Jika kalian mendengar seruan muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, lalu bershalawatlah kepadaku. Karena sesungguhnya barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allâh akan bershalawat kepada-Nya sebanyak sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah wasilah (derajat di Surga) untukku, karena sesungguhnya wasilah itu merupakan kedudukan di surga yang tidak diperuntukkan kecuali bagi salah seorang hamba dari hamba-hamba Allâh . Aku berharap orang itu adalah aku. Barang siapa memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.[3]

Firman-Nya :

وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan berjihadlah di jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Setelah Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk meninggalkan semua yang haram dan berbuat ketaatan, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk memerangi semua musuh dari kalangan orang kafir dan musyrik yang keluar dan meninggalkan agama yang lurus. Allâh Azza wa Jalla mendorong mereka dengan apa yang Dia Azza wa Jalla janjikan bagi para mujahid di jalan-Nya pada hari Kiamat kelak, berupa kemenangan dan kebahagiaan yang besar lagi abadi. Kemenangan dan kebahagiaan yang tidak berubah dan tidak sirna. Di dalam ruangan-ruangan yang tinggi dan penuh rasa aman, pemandangan yang menyenangkan, tempat tinggal yang sangat bagus. Orang yang menempatinya akan benar-benar menikmati tanpa berputus-asa, terus hidup dan tidak mati, pakaiannya tidak pernah usang, dan masa mudanya pun tidak pernah berakhir.[4]

Syaikh ‘Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini, “Ayat ini merupakan perintah dari Allâh Azza wa Jalla untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, tercakup di dalamnya iman, termasuk takwa kepada Allâh Azza wa Jalla dan berhati-hati dari adzab dan murka Allâh Azza wa Jalla . Dan semua itu (dapat direalisasikan) seorang hamba dengan bersungguh-sungguh, mencurahkan segenap kemampuan yang bisa dicapainya dalam menjauhi perkara yang dimurkai Allâh Azza wa Jalla , seperti maksiat hati, lisan, anggota badan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan seorang hamba hendaklah memohon kepada Allâh Azza wa Jalla untuk dapat meninggalkan maksiat tersebut agar selamat dari adzab Allâh Azza wa Jalla .

Firman-Nya :

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya,”

Yaitu yang dekat dari-Nya, keutamaan di sisi-Nya, dan cinta kepada-Nya. Itu semua dihasilkan dengan melaksanakan amalan-amalan hati, seperti cinta kepada Allâh Azza wa Jalla , cinta karena Allâh Azza wa Jalla , takut, harap, taubat, dan tawakkal kepada-Nya. Dan amalan-amalan badan seperti zakat dan haji. Juga amalan-amalan yang mencakup hati dan anggota tubuh seperti shalat, membaca al-Qur`ân, dzikir, berbuat baik kepada makhluk dengan harta, ilmu, kedudukan, anggota tubuh, dan saling menasehati. Semua amalan ini mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada Allâh dengan amalan-amalan tersebut sampai Allâh mencintainya….. Kemudian Allâh Azza wa Jalla mengkhususkan ibadah yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan jihad di jalan Allâh Azza wa Jalla , yaitu mencurahkan segenap kemampuan dalam memerangi orang-orang kafir, dengan harta, jiwa, akal, lisan, dan berusaha menolong agama Allâh Azza wa Jalla dengan segala kemampuan yang dimiliki seorang hamba, karena jihad di jalan Allâh Azza wa Jalla adalah ketaatan yang paling mulia dan pendekatan diri (kepada Allâh Azza wa Jalla ) yang paling utama.

لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Jika kalian bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla , dengan meninggalkan maksiat, mencari wasîlah yang mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan mengerjakan ketaatan, berjihad di jalan-Nya, dan mencari keridhaan-Nya. Al-Falâh ialah kesuksesan dan kemenangan dengan semua yang dituntut dan disukai, dan keselamatan dari semua yang ditakuti. Jadi, hakekat al-falâh adalah kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal.”[5]

Seluruh Sahabat, Tabi’in dan para Ulama mufassirin menafsirkan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya,” dengan al-qurbah , maksudnya seperti yang dikatakan oleh Imam Qatâdah rahimahullah, “Hendaklah kalian mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan taat kepada-Nya dan melakukan amal shalih yang diridhai-Nya.”[6]

Jadi, wasîlah dalam ayat ini bukan wasîlah dan tawasul yang diartikan oleh sebagian kaum Muslimin yang mengartikan tawasul dengan orang mati, atau tawasul dengan orang shalih yang sudah meninggal. Ini perbuatan tawasul yang dilarang dan ini adalah syirik.

Tawasul dalam ayat di atas memerintahkan kita untuk berlomba-lomba dan bersegera melakukan amal-amal shalih yang dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla dan menjauhkan apa-apa yang dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk mendekat diri kepada-Nya dengan melakukan amal-amal shalih, seperti ikhlas, tawakkal, takut, berharap hanya kepada Allâh Azza wa Jalla , mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla , menjauhkan segala macam bentuk kesyirikan, melaksanakan shalat, zakat, sedekah, puasa, haji, silaturrahim, menolong orang-orang yang susah, daan lainnya.

FAWAID AYAT
1. Wajib bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla .

2. Takwa seperti yang disebutkan oleh Imam Thalq bin Habîb rahimahullah adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla berdasarkan cahaya dari Allâh Azza wa Jalla karena mengharap pahala dari-Nya, dan engkau meninggalkan segala bentuk kemaksiatan kepada-Nya berdasarkan cahaya dari-Nya karena takut terhadap siksa-Nya.[7]

3. Takwa adalah melaksanakan perintah-perintah Allâh Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya.

4. Disyariatkan untuk tawasul kepada Allâh Azza wa Jalla , yaitu dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan melakukan amal shalih yang diridhai-Nya.

5. Yang dimaksud dengan tawasul dalam ayat ini adalah mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan taat kepada-Nya dan melakukan amal shalih yang diridhai-Nya.

6. Tawasul yang paling besar (agung) adalah dengan mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dan menjauhkan syirik.

7. Bertawasul (meminta keperluan atau hajat) dengan orang yang sudah mati adalah syirik besar.

8. Diperintahkan untuk berjihad di jalan Allâh Azza wa Jalla .

9. Jihad adalah ibadah dan wajib dilaksanakan menurut syarat dan kaidah yang telah ditetapkan oleh al-Qur`ân dan Hadits.

10. Keberuntungan akan tercapai dengan ilmu, tauhid, iman, amal shalih, dan jihad di jalan Allâh Azza wa Jalla .

Wallâhu a’lamu bis shawâb.

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حَفِظَهُ الله تَعَالَى

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XV/1433H/2012M.]
_______
Footnote
[1]. Diringkas dari Tafsîr at-Thabari (IV/566-567), Dârul Kutub al-‘Ilmiyyah Beirut Cet. I, Thn. 1412 H.
[2]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (Fathul Bâri, II/94, no. 614), Abû Dâwud (no. 529), at-Tirmidzi (no. 211), an-Nasâi (II/26-27) dan Ibnu Mâjah no. 722.
[3]. Shahîh: HR. Muslim no. 384, Abû Dâwud no. 523, at-Tirmidzi no. 3614, dan an-Nasâi II/25, lafazh ini milik Muslim.
[4]. Diringkas dari Tasfîr Ibni Katsîr III/103-105, tahqîq Sami Muhammad as-Salâmah, Cet.IV, Thn. 1428 H, Dâr at-Thaibah.
[5]. Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîri Kalâmil Mannân, hlm. 218-219, Maktabah al-Ma’ârif, cet.1, th. 1420 H.
[6]. Tafsîr at-Thabari IV/567 Cet.I, Thn.1412 H.
[7]. Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh ‘Abdullâh Ibnul Mubârak dalam az-Zuhd no. 1054, Hannâd dalam az-Zuhd no. 522, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (no. 30878, 36169), dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ III/75, no. 3220. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam takhrij Kitâbul Imân no. 99, karya Ibnu Abi Syaibah. Lihat juga Risâlah at-Tabûkiyyah hlm. 43-44 karya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.

Selasa, 05 Juli 2011

Surat Al Maidah Ayat 13

“Maka dengan sebab mereka melanggar janji, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati-hati mereka keras seperti batu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka, Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ma`idah: 13)
Penjelasan Mufradat Ayat
Firman Allah subhanahu wata’ala:

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ

“Maka dengan sebab mereka melang­gar janji, Kami laknat mereka,”

Pada potongan ayat di atas, ada sebuah kata yang dihilangkan, dan kata tersebut adalah:

(فنقضوا)، فبنقضهم لعناهم …

“(mereka pun melanggar janji) maka dengan sebab pelanggaran tersebut, Kami laknat mereka…” (Lihat Zadul Masir 2/182).


Berkata Qatadah :

“Mereka melanggar janji dari segala sisi yaitu mendustakan para rasul yang datang kepada mereka setelah Musa, membunuh para nabi Allah, melempar kitab Allah (Taurat) dan mengabaikan berbagai kewajiban yang diwajibkan atas mereka.” (Lihat Ma’alimut Tanzil 3/31).

Huruf ba الباء di sini menunjukkan makna sebab. Kata ما di sini berfungsi sebagai tambahan dan memberi faedah sebagai penguat kalimat. Ini adalah pendapat Qatadah dan mayoritas ulama. Atau juga bisa bermakna sesuatu sebagaimana dikatakan oleh Abul Baqa. (Lihat Ruhul Ma’ani 4/417, Tafsir al-Qurthubi 6/114, Fathul Qadir 2/282).


Makna dari النقض adalah : “Merusak (melanggar) sesuatu yang telah disusun baik berupa bangunan, tali atau janji.” (Lihat Tafsir al-Qurthubi 6/115).

نَقْضِهِمْ

Huruf ha الهاء dan mim الميم (kata ganti orang ketiga jamak) di sini kembalinya kepada Bani Israil (sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya). (Lihat Tafsir ath-Thabari 10/126).

Makna dari الميثاق adalah: “Janji yang dikuatkan dengan sumpah.” (Lihat Tafsir al-Qurthubi 6/115).


Yang dimaksud dengan janji di sini dikatakan oleh Ibnu Abbas: “Itu adalah janji yang Allah ambil dari ahli Taurat (Yahudi) kemudian mereka melanggarnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath Thabari). (Lihat Tafsir ath Thabari 10/126, Ad Durul Mantsur 3/344).

لَعَنَّاهُمْ

“Kami laknat mereka.”

Kalimat ini ditafsirkan: “Kami usir dan Kami jauhkan mereka dari rahmat Kami sebagai hukuman bagi mereka.” Ini adalah pendapat ‘Atha, Az Zajjaj dan sekumpulan ahli tafsir. (Lihat Ruhul Ma’ani 4/417, Zadul Masir 2/182).


وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً

“Kami jadikan hati-hati mereka keras seperti batu.”

قَاسِيَةً

Kata ini memiliki 3 penafsiran:

1. Ibnu Abbas mengatakan: “Seperti batu yang keras.”

2. Sebagian ulama mengatakan: “Kasar dan tidak lembut.”

3. Sebagian ulama lain mengatakan : “Maknanya adalah sesungguhnya keimanan mereka bukan keimanan yang murni namun keimanan yang bercampur dengan kekufuran dan kemunafikan.” (Lihat Ma’alimut Tanzil 3/31).


Maksudnya adalah: “…dan Kami jadikan hati-hati mereka tidak bisa menerima berbagai nasehat disebabkan oleh keras dan kasarnya hati mereka.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/66).

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

“Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya.”

Di sini ada 3 penafsiran:

1. Merubah hukum-hukum Taurat. Ini pendapat Ibnu Abbas.

2. Merubah sifat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (yang ada dalam Taurat). Ini pendapat Muqatil.


3. Menafsirkan ayat-ayat Allah (Taurat) kepada selain makna yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata’ala. Ini pendapat Az Zajjaj. (Lihat Zadul Masir 2/ 182).

Maksudnya adalah dari tempat, maksud dan artinya. (Lihat Zadul Masir 2/40).

وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

“Dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka.”

Maksudnya adalah mereka tidak mau mengamalkan Taurat karena benci dengannya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/66, Ruhul Ma’ani 4/417).


وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ

“Dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka.”

Maksudnya adalah dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat tipu daya dan pengkhianatan mereka kepadamu dan kepada para sahabatmu. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/66).

إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ

“Kecuali sedikit di antara mereka.”

Maksudnya adalah kecuali mereka yang tidak berkhianat dan tidak melanggar janji, yaitu orang-orang yang masuk Islam dari kalangan ahli kitab. (Lihat Ma’alimut Tanzil 3/31).


Orang-orang yang masuk Islam dari kalangan ahli kitab seperti ‘Abdullah bin Salam dan para sahabatnya. (Lihat Zadul Masir 2/182).

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat dalam memahami perintah Allah dalam ayat ini. Mayoritas mereka mengatakan bahwa perintah untuk memaafkan dan membiarkan mereka dalam ayat ini telah dihapus dengan ayat yang memerintahkan untuk memerangi mereka. Sebagian mereka mengatakan bahwa perintah dalam ayat ini tetap demikian adanya dan tidak dihapus.

Ibnu Jarir ath Thabari mengatakan:

“Dibolehkan untuk memaafkan mereka dalam pengkhianatan yang mereka lakukan, selama mereka tidak mengumumkan perang (kepada kaum muslimin) dan selama mereka tidak menolak untuk membayar jizyah (upeti) serta mengakui akan kehinaan dan kerendahan diri-diri mereka.” (Lihat Tafsir ath Thabari 2/182).


Ada pula yang berpendapat bahwa perintah ini berlaku bagi mereka yang terikat perjanjian dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Penjelasan Ayat

Ayat di atas masih berhubungan dengan beberapa ayat sebelumnya yaitu mulai ayat 7 sampai 12 kemudian ayat setelahnya yaitu ayat 14. Sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir:

“Ketika Allah subhanahu wata’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk memenuhi janji yang Allah subhanahu wata’ala ambil atas mereka melalui lisan hamba dan rasul-Nya yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian memerintahkan mereka untuk menegakkan kebenaran, bersaksi dengan keadilan, kemudian Allah sebutkan berbagai nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka baik yang nampak maupun yang tersembunyi termasuk di antaranya Allah telah menunjukkan mereka kepada hidayah dan kebenaran, maka Allah subhanahu wata’ala mulai menerangkan kepada kaum mukminin tentang bagaimana Allah subhanahu wata’ala telah mengambil berbagai perjanjian atas umat sebelum mereka dari kalangan ahli kitab yaitu Yahudi dan Nashara. Maka tatkala mereka melanggar berbagai perjanjian tersebut, Allah subhanahu wata’ala melaknat mereka, kemudian mereka dijauhkan dari pintu rahmat dan hati-hati mereka ditutup untuk sampainya hidayah dan agama yang benar kepada mereka yang berupa ilmu yang bermanfaat dan amalan yang shalih.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/64).


Dan ayat 13 di atas menerangkan tentang pelanggaran janji yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.

Dengan sebab pelanggaran janji yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi maka Allah subhanahu wata’ala membalas mereka dengan 5 hukuman:

1. Mereka dijauhkan dari rahmat Allah.

2. Hati-hati mereka menjadi keras seperti batu, tidak bisa menerima berbagai nasehat dan peringatan.

3. Mereka merubah dan mengganti ayat-ayat Allah serta memalingkan makna ayat kepada makna yang tidak dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya.

4. Mereka melupakan dan meninggalkan untuk beramal dengan isi Taurat.


5. Mereka terus-menerus berbuat khianat baik kepada Allah subhanahu wata’ala ataupun kepada orang-orang mukmin. (Lihat Tafsir As Sa’di hal. 204)

Maka kita mohon semoga Allah subhanahu wata’ala menyelamatkan kita dari akhlak yang tercela ini. Amin.

Menepati Janji Bagian dari Ibadah

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah! Menepati atau memenuhi janji termasuk bagian dari ibadah, karena Allah subhanahu wata’ala dalam banyak ayat-Nya memerintahkan kaum mukminin untuk menepati janji.


Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji…” (Al Ma`idah : 1)

Dan firman-Nya pula (yang artinya):

“Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji…” (An Nahl : 91)


Dan firman-Nya pula (yang artinya):
“…dan tepatilah janji, sesungguhnya janji itu pasti akan dimintai pertanggungjawabannya (kelak di hari kiamat).” (Al Israa` : 3)

Dan Allah subhanahu wata’ala memuji kaum mukminin yang menepati janji, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (Al Ahzab : 23)


Tidak menepati janji merupakan perbuatan tercela dan termasuk salah satu tanda kemunafikan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Ada empat tanda yang barangsiapa keempat tanda tersebut ada pada diri seseorang maka ia adalah munafik yang murni. Dan barangsiapa pada dirinya ada salah satu dari sifat-sifat tersebut maka terdapat pula pada dirinya salah satu tanda kemunafikan sampai ia meninggalkannya…”
Dan salah satu dari empat sifat tersebut:
“…apabila ia berjanji ia mengingkari (berkhianat)…” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengancam orang-orang yang tidak menepati janji (pengkhianat) dengan sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:


“Bagi setiap pengkhianat akan ditancapkan bendera pada hari kiamat nanti, kemudian dikatakan : ‘Ini adalah bendera si pengkhianat itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Asy Syaikh Al ‘Utsaimin mengatakan:

“Hadits ini menunjukkan bahwa perbuatan khianat merupakan bagian dari dosa-dosa besar, karena pada perbuatan tersebut terdapat ancaman yang sangat keras.” (Lihat Syarh Riyadhush Shalihin, bab Tahrim al ghadar, juz 1 hal. 1860).