Tampilkan postingan dengan label 042-Asy Syuura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 042-Asy Syuura. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

Tafsir Asy Syuura Ayat 47-53

Ayat 47-50: Keutamaan memenuhi perintah Allah, kewajiban para rasul adalah menyampaikan, kerajaan adalah milik Allah Subhaanahu wa Ta'aala seluruhnya, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang mengaruniakan anak laki-laki dan perempuan.

اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لا مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَا لَكُمْ مِنْ مَلْجَإٍ يَوْمَئِذٍ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ (٤٧) فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا إِنْ عَلَيْكَ إِلا الْبَلاغُ وَإِنَّا إِذَا أَذَقْنَا الإنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً فَرِحَ بِهَا وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَإِنَّ الإنْسَانَ كَفُورٌ (٤٨) لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (٤٩) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (٥٠)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 47-50

47. [1]Patuhilah seruan Tuhanmu[2] sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (atas perintah dari Allah). Pada hari itu kamu tidak memperoleh tempat berlindung dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu).

48. Jika mereka berpaling[3], maka (ingatlah) Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka[4]. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)[5]. [6]Dan sungguh, apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami dia menyambutnya dengan gembira[7]; tetapi jika mereka ditimpa kesusahan[8] karena perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar), sungguh, manusia itu sangat ingkar (kepada nikmat)[9].

49. [10]Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki,

50. Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, Dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa[11].

Ayat 51-53: Cara wahyu diturunkan kepada rasul (ada yang berupa ilham, mimpi, ucapan yang didengar oleh rasul atau dengan pengutusan malaikat Jibril ‘alaihis salam) dan keutamaan Al Qur’an.


وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ (٥١) وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٥٢) صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ أَلا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الأمُورُ (٥٣)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 51-53

51. [12]Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu[13] atau dari belakang tabir[14] atau dengan mengutus utusan (malaikat)[15] lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi[16] lagi Mahabijaksana[17].

52. Dan Demikianlah[18] Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al Quran)[19] dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah kitab (Al Quran) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al Quran itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami[20]. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus;

53. (yaitu) jalan Allah[21] yang milik-Nyalah[22] apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, segala urusan kembali kepada Allah[23].


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memenuhi seruan-Nya dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, bersegera melakukannya dan tidak menundanya sebelum datang hari Kiamat yang jika sudah datang, maka tidak mungkin ditolak dan tidak dapat dikejar yang telah luput, dan seorang hamba pada hari itu tidak memiliki tempat berlindung untuk meloloskan diri dari Tuhannya, bahkan para malaikat telah mengepung mereka semua dari belakang dan ketika itu mereka dipanggil, “Wahai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Terj. Ar Rahman: 33) Pada hari itu, manusia juga tidak mengingkari perbuatan yang dikerjakannya, bahkan kalau seandainya mereka mengingkari, maka anggota badannya akan menjadi saksi.

Dalam ayat ini terdapat celaan terhadap panjang angan-angan dan perintah memanfaatkan kesempatan untuk beramal saat ada amal saleh di hadapannya, serta tidak menundanya, karena menundanya terdapat malapetaka.

[2] Dengan tauhid dan ibadah.

[3] Dari apa yang engkau bawa setelah menerangkan secara sempurna.

[4] Yang menjaga dan menanyakan amal mereka.

[5] Oleh karena itu, ketika kamu telah mengerjakan kewajibanmu, maka Allah akan memberimu pahala, baik mereka mengikuti atau tidak, dan hisab mereka terserah kepada Allah yang menjaga amal mereka besar maupun kecil, yang tampak maupun tersembunyi.

[6] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan keadaan manusia, yaitu apabila Allah merasakan rahmat-Nya kepada mereka, seperti kesehatan, kekayaan, kedudukan, dsb.

[7] Ia merasa tenteram dengannya dan berpaling dari yang memberi nikmat.

[8] Seperti sakit, kefakiran, dsb.

[9] Yakni tabiatnya sangat kufur kepada nikmat dan berkeluh kesah terhadap keburukan yang menimpanya.

[10] Ayat ini di dalamnya terdapat berita tentang luasnya kerajaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, berlakunya tindakan-Nya pada kerajaan-Nya sesuai yang Dia kehendaki, Dia mengatur semua urusan, sampai-sampai pengaturan Allah Subhaanahu wa Ta'aala karena meratanya; mengena kepada makhluk terhadap sebab yang dikerjakan mereka. Nikah misalnya, ia termasuk sebab lahirnya anak, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala Dialah yang memberikan kepada mereka anak sesuai yang Dia kehendaki. Di antara makhluk-Nya ada yang Dia karuniakan anak perempuan, ada pula yang Dia karuniakan anak laki-laki, ada pula yang Dia berikan secara berpasangan dan bersamaan; anak laki-laki dan perempuan, dan di antara mereka ada pula yang Dia jadikan mandul.

[11] Dia mengetahui segala sesuatu dan berkuasa terhadap segala sesuatu, sehingga Dia bertindak dengan ilmu-Nya dan dengan kekuasaan-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya.

[12] Ketika orang-orang yang mendustakan para rasul berkata, “Mengapa Allah tidak berbicara langsung dengan kami?” karena kesombongan mereka, maka Allah membantah mereka dengan ayat yang mulia ini, dan bahwa pembicaraan Allah Subhaanahu wa Ta'aala hanyalah kepada makhluk pilihan-Nya, dan bahwa caranya sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas.

[13] Yaitu dengan menyampaikan wahyu ke dalam hati rasul tersebut tanpa mengutus seorang malaikat dan tanpa berbicara secara langsung.

[14] Dari belakang tabir artinya ialah seorang dapat mendengar firman Allah, akan tetapi dia tidak dapat melihat-Nya seperti yang terjadi pada Nabi Musa ‘alaihis salam.

[15] Seperti malaikat Jibril ‘alaihis salam.

[16] Tinggi zat-Nya, sifat-Nya, tinggi perbuatan-Nya, Dia mengalahkan segala sesuatu dan semua makhluk tunduk kepada-Nya.

[17] Karena menempatkan sesuatu pada tempatnya.

[18] Sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada para rasul sebelum-Mu.

[19] Al Qur’an disebut ruh karena dengannya hati dan ruh menjadi hidup, demikian pula maslahat dunia dan agama menjadi hidup dengannya; karena di dalamnya terdapat kebaikan dan ilmu yang banyak. Ia merupakan pemberian Allah murni kepada rasul-Nya dan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin tanpa sebab dari mereka. Oleh karena itulah, Dia berfirman, “Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah kitab (Al Quran) dan apakah iman itu, yakni engkau tidak memiliki pengetahuan tentang berita kitab-kitab terdahulu, demikian pula tidak memiliki iman dan amal terhadap syariat Allah, bahkan engkau adalah seorang yang ummi (buta huruf), tidak bisa menulis dan membaca, lalu datanglah kitab ini kepadamu,

[20] Mereka mengambil sinarnya untuk menerangi kegelapan kufur, bid’ah, dan hawa nafsu. Dengannya mereka mengenal hakikat dan dengannya mereka memperoleh petunjuk ke jalan yang lurus.

[21] Jalan tersebut menghubungkan kepada Allah dan kepada surga-Nya.

[22] Yakni milik-Nya, ciptaan-Nya dan hamba-Nya.

[23] Semua perkara baik maupun buruk dikembalikan, maka Dia akan memberikan balasan sesuai amal yang dilakukan seseorang; jika baik maka dibalas dengan kebaikan dan jika buruk, maka akan dibalas dengan keburukan.

Tafsir Asy Syuura Ayat 36-46

Ayat 36-43: Kenikmatan dunia hanya sebentar, kenikmatan akhirat itulah yang kekal, dan penjelasan tentang sifat-sifat orang-orang mukmin, perlunya musyawarah tentang masalah keduniaan, bersabar dan memaafkan lebih baik daripada mengambil pembalasan.

فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٣٦) وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ (٣٧) وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣٨)وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ (٣٩)وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (٤٠) وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ (٤١) إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٤٢) وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الأمُورِ (٤٣)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 36-43

36. [1]Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu[2], maka itu adalah kesenangan hidup di dunia[3]. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah[4] lebih baik[5] dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal[6],

37. dan juga (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji[7], dan apabila mereka marah segera memberi maaf[8].

38. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya[9] dan melaksanakan shalat[10], sedang urusan mereka[11] (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka[12]; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka[13],

39. dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri[14].

40. [15]Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa yang memaafkan[16] dan berbuat baik[17] kepada orang yang berbuat jahat maka pahalanya dari Allah[18]. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.

41. Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi[19], tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka.

42. Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia[20] dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih[21].

43. Tetapi barang siapa bersabar[22] dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia[23].



Ayat 44-46: Orang-orang yang dibiarkan sesat oleh Allah tidak akan menemukan pemimpin yang memberi petunjuk, dan dia akan memperoleh azab yang menghinakan di akhirat.

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ وَلِيٍّ مِنْ بَعْدِهِ وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَى مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ (٤٤) وَتَرَاهُمْ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا خَاشِعِينَ مِنَ الذُّلِّ يَنْظُرُونَ مِنْ طَرْفٍ خَفِيٍّ وَقَالَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلا إِنَّ الظَّالِمِينَ فِي عَذَابٍ مُقِيمٍ (٤٥) وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ أَوْلِيَاءَ يَنْصُرُونَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ سَبِيلٍ (٤٦)



Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 44-46

44. [24]Dan barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah[25], maka tidak ada baginya pelindung[26] setelah itu. Kamu akan melihat orang-orang zalim ketika mereka melihat azab berkata[27], "Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?"

45. Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tertunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata[28], "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat[29]. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang zalim[30] itu berada dalam azab yang kekal[31].

46. Dan mereka tidak akan mempunyai pelindung yang dapat menolong mereka[32] selain Allah. Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah tidak akan ada jalan keluar baginya (untuk mendapat petunjuk)[33].


[1] Ayat ini membuat seseorang zuhud kepada dunia dan cinta kepada akhirat serta menyebutkan amal yang dapat menyampaikan kepadanya.

[2] Seperti kekuasaan, kedudukan, harta dan anak, serta badan yang sehat.

[3] Yang kemudian akan hilang.

[4] Yaitu pahala yang besar dan kenikmatan yang kekal.

[5] Daripada kesenangan dunia.

[6] Mereka menggabung antara iman yang benar yang menghendaki amal dengan tawakkal, dimana ia (tawakkal) merupakan alat untuk setiap amal. Oleh karena itu, setiap amal yang tidak dibarengi tawakkal, maka tidak akan sempurna. Tawakkal adalah bersandarnya hati kepada Allah dalam mendatangkan apa yang dicintai hamba dan dalam menghindarkan apa yang tidak disukainya dengan disertai rasa percaya kepada-Nya.

[7] Menurut Syaikh As Sa’diy, perbedaan antara dosa-dosa besar dengan perbuatan keji; dimana kedua-duanya sama-sama dosa besar adalah, bahwa perbuatan keji adalah dosa besar dimana dalam hati manusia ada kecenderungan kepadanya, seperti zina dan sebagainya. Sedangkan dosa besar (selain perbuatan keji) tidak seperti itu. Hal ini ketika dipadukan antara keduanya, akan tetapi ketika dipisahkan, maka masing-masingnya masuk ke dalam yang lain.

[8] Yakni mereka memiliki akhlak yang mulia dan kebiasaan yang baik, dimana sifat santun menjadi tabiat mereka, akhlak yang mulia juga sehingga ketika ada yang membuat mereka marah, baik dengan kata-kata maupun perbuatannya, maka mereka menahan marahnya dan tidak memberlakukannya, bahkan mereka memaafkan dan tidak membalas orang yang jahat kecuali dengan ihsan, memaafkan dan mengampuni; sehingga dari sikap itu muncullah berbagai maslahat dan terhindar berbagai mafsadat baik bagi mereka maupun orang lain; bahkan yang sebelumnya terdapat permusuhan menjadi persahabatan.

[9] Yakni tunduk menaati-Nya dan menyambut seruan-Nya seperti tauhid dan beribadah kepada-Nya, sehingga niat mereka adalah mencari keridhaan-Nya dan tujuan mereka adalah dekat dengan-Nya. Termasuk memenuhi seruan Allah adalah mendirikan shalat dan menunaikan zakat

[10] Yang fardhu maupun yang sunat.

[11] Baik yang terkait dengan agama maupun dunia.

[12] Mereka tidak bertindak sendiri dan tergesa-gesa dalam masalah yang terkait orang banyak. Oleh karena itu, apabila mereka ingin melakukan suatu perkara yang butuh pemikiran dan ide, maka mereka berkumpul dan mengkaji bersama-sama, sehingga ketika sudah jelas maslahatnya, maka mereka segera melakukannya. Misalnya adalah dalam masalah perang dan jihad, mengangkat pegawai pemerintahan atau yang menjadi hakim, demikian pula membahas masalah-masalah agama secara umum, karena ia termasuk masalah yang terkait antara sesama, dan membahasnya agar jelas yang benar yang dicintai Allah.

[13] Seperti nafkah yang wajib, misalnya zakat, menafkahi anak-istri dan kerabat, dsb. Sedangkan nafkah yang sunat seperti bersedekah kepada semua manusia.

[14] Karena kuat dan mulianya mereka dan mereka bukan orang yang lemah dan hina.

Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati mereka dengan iman, tawakkal kepada Allah, menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, ketundukan yang sempurna, memenuhi seruan Tuhan mereka, mendirikan shalat, berinfak dalam hal-hal yang baik, bermusyawarah dalam menetapkan suatu keputusan serta kuat dan mulia sehingga membalas orang yang menzalimi mereka. Ini semua merupakan sifat sempurna yang mereka miliki, dan hal ini berarti mereka juga mengerjakan perkara yang di bawah itu dan tidak melakukan kebalikannya.

[15] Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan beberapa macam hukuman, dan bahwa ia ada tiga macam, yaitu adil, ihsan dan zalim. Adil contohnya adalah membalas kejahatan dengan kejahatan yang setimpal, tidak kurang dan tidak lebih. Oleh karena itu, jiwa dibalas dengan jiwa, luka dibalas dengan luka yang serupa dan harta ditanggung dengan harta yang serupa. Ihsan contohnya memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya.

[16] Orang yang menzaliminya.

[17] Yang dimaksud berbuat baik di sini ialah berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya. Adapula yang menafsirkan selain ini.

[18] Maksudnya, Allah akan memberikan kepadanya pahala yang besar dan balasan yang banyak, namun Allah mensyaratkan untuk memaafkan hendaknya ada ishlah (memperbaiki), hal itu menunjukkan, bahwa pelaku kejahatan jika tidak layak dimaafkan dan maslahat syar’i menghendaki untuk memberikan hukuman kepadanya, maka dalam keadaan ini tidaklah diperintahkan memaafkan. Firman-Nya, “Fa ajruhuu ‘alallah” (maka pahalanya dari Allah) terdapat dorongan untuk memaafkan dan menyikapi manusia dengan sikap yang dicintai Allah. Oleh karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala suka memaafkan hamba-Nya, maka hendaknya ia memaafkan mereka. Adapun tentang zalim, maka disebutkan dalam firman-Nya, “Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” Yakni orang-orang yang pertama berbuat kejahatan atas orang lain atau membalas pelaku kejahatan secara lebih, maka lebihnya itu adalah zalim.

[19] Hal ini menunjukkan bahwa membalas hanyalah ketika benar-benar terjadi kezaliman terhadap dirinya. Oleh karena itu, jika sekedar ada keinginan untuk menzalimi orang lain namun tidak terjadi, maka tidak dibalas semisalnya, tetapi cukup diberi ta’dib (pelajaran) yang dapat mencegahnya melakukan kezaliman.

[20] Baik darah mereka, harta maupun kehormatan mereka.

[21] Yang menyakitkan hati dan badan sesuai kezaliman mereka.

[22] Terhadap gangguan yang menimpanya dari orang lain.

[23] Yakni termasuk perkara yang didorong dan ditekankan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dimana Dia memberitahukan, bahwa hal itu tidaklah dimiliki kecuali oleh orang-orang yang sabar serta memiliki bagian yang besar, dimiliki oleh orang-orang yang berazam kuat, berpikiran cerdas dan berpandangan dalam. Hal itu, karena tidak membela diri baik dengan ucapan maupun perbuatan termasuk sesuatu yang paling sulit. Demikian pula bersabar terhadap gangguan, memaafkan dan mengampuninya serta menyikapinya dengan ihsan merupakan sesuatu yang paling sulit, akan tetapi hal itu mudah bagi orang yang dimudahkan Allah, ia berusaha menyifati diri dengannya serta meminta pertolongan kepada Allah terhadapnya. Selanjutnya, apabila seorang hamba merasakan manisnya kesabaran dan mendapatkan atsar(hasil)nya, maka dia menerimanya dengan dada yang lapang dan merasa senang di dalamnya.

[24] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa Dia yang sendiri memberi hidayah dan menyesatkan.

[25] Disebabkan kezalimannya.

[26] Yang memberikan hidayah kepadanya.

[27] Menampakkan penyesalan dan kesedihan yang mendalam.

[28] Ketika telah tampak keadaan akhir manusia, dan tampak jelas orang yang benar dan orang yang salah.

[29] Yang dimaksud dengan merugikan diri dan keluarganya ialah mengekalkan mereka di neraka, mendapatkan azab yang pedih di sana dan dipisahkan dengan keluarganya, ia juga tidak memperoleh kenikmatan surga, demikian pula bidadari yang disiapkan di sana jika mereka beriman.

[30] Yakni orang-orang kafir.

[31] Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam surga dan jauhkanlah kami dari neraka.

[32] Yakni yang menghindarkan azab-Nya.

[33] Ia tidak memperoleh petunjuk ketika di dunia dan tidak mengetahui jalan ke surga di akhirat.

Tafsir Asy Syuura Ayat 23-35

Ayat 23-26: Batilnya anggapan orang-orang kafir bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berdusta terhadap Tuhannya, dan bantahan terhadap mereka, serta menerangkan bahwa pintu tobat bagi orang-orang yang berdosa masih terbuka.

ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ (٢٣) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَإِنْ يَشَأِ اللَّهُ يَخْتِمْ عَلَى قَلْبِكَ وَيَمْحُ اللَّهُ الْبَاطِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٢٤) وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (٢٥) وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَالْكَافِرُونَ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ (٢٦)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 23-26

23. Itulah (karunia) yang diberitahukan Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan[1]. [2]Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku[3] kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan[4].” Dan barang siapa mengerjakan kebaikan[5] akan Kami tambahkan kebaikan baginya[6]. Sungguh, Allah Maha Pengampun[7] lagi Maha Mensyukuri[8].

24. Ataukah mereka[9] mengatakan, " Dia (Muhammad) telah mengada-adakan kebohongan tentang Allah[10].” Sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia kunci hatimu[11]. Dan Allah menghapus yang batil dan membenarkan yang benar dengan kalimat-Nya[12]. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati[13].

25. [14]Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan[15] [16]dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,

26. [17]Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan[18] serta menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Orang-orang yang ingkar akan mendapat azab yang sangat keras[19].

Ayat 27-31: Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang membagi rezeki kepada hamba-hamba-Nya sesuai maslahat hamba, luasnya rahmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan peringatan terhadap maksiat.

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الأرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ (٢٧) وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ (٢٨) وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ (٢٩) وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (٣٠) وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الأرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (٣١)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 27-31

27. [20] [21]Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi[22], tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki[23]. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat[24].

28. Dan Dialah yang menurunkan hujan[25] setelah mereka berputus asa[26] dan menyebarkan rahmat-Nya[27]. Dan Dialah Yang Maha Pelindung[28] lagi Maha Terpuji[29].

29. Dan di antara tanda-tanda(kebesaran)-Nya[30] adalah penciptaan langit dan bumi[31] dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya[32]. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya[33] apabila Dia kehendaki.

30. [34]Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri[35], dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).

31. Dan kamu[36] tidak dapat melepaskan diri (dari siksaan Allah) di bumi[37], dan kamu tidak memperoleh pelindung[38] atau penolong[39] selain Allah.

Ayat 32-35: Ayat-ayat Allah dan kekuasaan-Nya tampak terlihat di langit dan di bumi.

وَمِنْ آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالأعْلامِ (٣٢) إِنْ يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَى ظَهْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (٣٣) أَوْ يُوبِقْهُنَّ بِمَا كَسَبُوا وَيَعْفُ عَنْ كَثِيرٍ (٣٤)وَيَعْلَمَ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِنَا مَا لَهُمْ مِنْ مَحِيصٍ (٣٥)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 32-35

32. Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya[40] ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung[41].

33. [42]Jika Dia menghendaki, Dia akan menghentikan angin[43], sehingga jadilah (kapal-kapal) itu terhenti di permukaan laut. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang selalu bersabar dan banyak bersyukur[44],

34. atau (Dia akan) menghancurkan[45] kapal-kapal itu karena perbuatan (dosa) mereka, dan Dia memaafkan banyak (dari mereka),

35. dan agar orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami[46] mengetahui bahwa mereka tidak akan memperoleh jalan ke luar (dari siksaan).

KANDUNGAN AYAT :

[1] Yakni kabar gembira yang besar ini merupakan kabar gembira yang paling besar secara mutlak yang diberitakan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang melalui tangan manusia paling utama (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) untuk orang-orang yang beriman dan beramal saleh, di mana yang diberitakan itu merupakan cita-cita yang paling besar, sedangkan wasilah (sarana) yang menyampaikan ke sana adalah wasilah yang paling utama.

[2] Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abdul Malik bin Maisarah ia berkata: Aku mendengar Thawus berkata, “Ibnu Abbas ditanya tentang ayat ini, “Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Ia (Thawus) berkata, “Sa’id bin Jubair berkata, “(Yaitu) hubungan kekeluargaan dengan Muhammad.” Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Engkau terburu-buru, sesungguhnya tidak ada satu pun marga dari marga-marga Quraisy kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempunyai hubungan kekerabatan dengan mereka, lalu ia berkata, “Kecuali kamu menyambung hubungan kekerabatan antara aku dengan kamu.”

[3] Yakni atas penyampaian Al Qur’an ini kepadamu dan ajakan kepada hukum-hukumnya. Aku tidak menginginkan hartamu dan berkuasa atas kamu serta kesenangan lainnya.

[4] Bisa maksudnya, aku tidak meminta kepadamu selain satu imbalan yang diperuntukkan buat kamu dan manfaatnya kembalinya kepadamu, yaitu agar kamu mencintaiku karena hubungan kekerabatan, yakni kasih sayang tambahan setelah kasih sayang karena iman, karena kasih sayang dan cinta karena beriman kepada rasul serta mendahulukannya di atas semua kecintaan -setelah cinta kepada Allah- adalah wajib bagi setiap muslim. Mereka itu diminta lebih dari itu, yaitu agar mereka mencintai Beliau karena hubungan kekerabatan, karena Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam telah langsung mendakwahkan kepada orang yang paling dekat kerabatnya dengan Beliau, bahkan sampai disebutkan bahwa tidak ada satu pun dari kabilah Quraisy kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki hubungan kekerabatan kepadanya. Bisa juga maksudnya, bahwa yang Beliau minta adalah kecintaan kepada Allah yang benar yang diiringi dengan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan mencari sarana untuk taat kepada-Nya yang menunjukkan benarnya kecintaannya. Kedua kemungkinan ini menunjukkan bahwa Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sama sekali tidak meminta upah selain sesuatu yang kembalinya buat mereka dan hal ini sesungguhnya bukanlah upah, bahkan merupakan imbalan Beliau kepada mereka.

Pengecualian dalam ayat di atas disebut istitsna’ munqathi’ (pengecualian yang memutuskan dengan sebelumnya) seperti ucapan seseorang, “Fulan tidak punya dosa kepadamu selain perbuatan ihsannya kepadamu.”

[5] Seperti shalat, zakat, puasa, haji atau berbuat ihsan kepada orang lain.

[6] Yaitu Allah akan lapangkan dadanya, memudahkan urusannya, menjadi sebab diberi taufiq kepada amalan yang lain, bertambah amalnya, tinggi derajatnya baik di sisi Allah maupun di sisi makhluk-Nya serta memperoleh pahala cepat atau lambat.

[7] Terhadap dosa-dosa meskipun besar dan banyak ketika seseorang bertobat darinya. Dengan ampunan-Nya maka diampuni dosa-dosa dan ditutup semua aib.

[8] Amal yang dikerjakan hamba dengan menerima kebaikannya meskipun sedikit dan melipatgandakannya.

[9] Yang mendustakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

[10] Karena menisbatkan Al Qur’an kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, padahal mereka mengetahui kejujuran dan amanahnya, lalu mengapa mereka berani menuduh Beliau berdusta. Tuduhan tersebut sebenarnya juga mencacatkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, karena Allah yang memberikan kesempatan kepada Beliau untuk mengemban dakwah yang agung ini, menyuarakannya dan menisbatkannya kepada-Nya, dan Dia memperkuat Beliau dengan mukjizat yang nyata dan dalil-dalil yang kuat, ditambah dengan pertolongan-Nya yang jelas dan keberhasilan mengalahkan musuhnya, padahal Allah Subhaanahu wa Ta'aala berkuasa memutuskan dakwah ini dari dasarnya, yaitu dengan mengunci hati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga Beliau tidak dapat menerima apa-apa dan tidak lagi dimasuki oleh kebaikan. Jika hati sudah dikunci maka perkara apa pun terhenti. Ini merupakan dalil yang qath’i benarnya apa yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan persaksian dari Allah yang paling kuat terhadap aa yang Beliau ucapkan, dan bahwa tidak ada persaksian yang lebih besar daripada ini. Oleh karena itulah, termasuk hikmah, rahmat dan sunnah-Nya yang berjalan di alam semesta ini adalah Dia menghapuskan kebatilan dan menyingkirkannya meskipun terkadang kebatilan dalam suatu waktu memiliki sedikit kekuatan, namun akhirnya akan binasa.

[11] Untuk bersabar terhadap gangguan mereka.

[12] Baik kalimat-Nya di alam semesta yang tidak dapat dirubah dan diganti, janji-Nya yang benar, kalimat agama-Nya yang mewujudkan apa yang disyariatkan-Nya berupa kebenaran, mengokohkannya di hati serta menerangi ulul albab (orang-orang yang berakal). Sehingga termasuk penguatan-Nya terhadap yang hak adalah Dia adakan kebatilan untuk melawannya, jika kebatilan melawannya, maka kebenaran menyerangnya dengan bukti dan keterangannya, sehingga dari cahaya dan petunjuknya kalahlah yang batil itu dan tampak jelas kebatilannya oleh semua orang dan kebenaran semakin jelas bagi setiap orang.

[13] Yakni yang ada di dalamnya dan sifat yang melekat padanya baik atau buruk, yang disembunyikan maupun yang ditampakkan.

[14] Ayat ini menerangkan sempurnanya kemurahan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, luasnya pemberian-Nya dan sempurnanya kelembutan-Nya; Dia menerima tobat yang muncul dari hamba-hamba-Nya saat mereka mencabut dosa mereka dan menyesalinya serta berazam untuk tidak mengulanginya jika maksud mereka adalah mencari keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala tetap menerimanya meskipun telah sempurna sebab seseorang binasa.

[15] Yakni menghapusnya dan menghapus pengaruhnya, seperti aib dan hukuman yang menghendakinya, dan orang yang bertobat di sisi-Nya menjadi mulia seakan-akan dia tidak pernah mengerjakan kejahatan pun, Dia juga mencintainya dan memberinya taufik kepada sesuatu yang mendekatkan kepada-Nya.

[16] OIeh karena tobat terkadang sempurna karena sempurnanya keikhlasan dan kejujurannya, namun bisa saja berkurang ketika kurang ikhlas dan jujur, bahkan bisa saja sia-sia jika maksudnya untuk memperoleh tujuan duniawi, dan karena hal itu terletak di hati dimana tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, maka Dia tutup ayat ini dengan firman-Nya, “dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,

[17] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajak semua hamba-hamba-Nya untuk kembali kepada-Nya dan tobat terhadap kelalaiannya, maka terbagilah mereka kepada dua golongan; golongan yang mengikuti yaitu orang-orang yang beriman dan golongan yang tidak mau mengikuti, yaitu orang-orang yang kafir.

[18] Maksudnya orang-orang yang beriman memenuhi ajakan Tuhan mereka saat mengajak mereka kepada-Nya, tunduk kepada-Nya dan mendatangi seruan-Nya, karena iman dan amal saleh yang ada pada mereka membawa mereka kepadanya. Ketika mereka mau mengikuti, maka Allah mensyukuri mereka dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Dia tambahkan kepada mereka pula karunia, taufiq dan semangat untuk beramal serta menambahkan kelipatannya dalam hal pahala melebihi hal yang seharusnya diperoleh amal mereka berupa pahala dan keberuntungan yang besar.

[19] Adapun orang-orang yang tidak mau memenuhi panggilan Allah, yaitu mereka yang tetap membangkang yang kafir kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, maka mereka mendapatkan azab yang keras di dunia dan di akhirat.

[20] Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada ‘Amr bin Harrits dan lainnya, bahwa mereka berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan penduduk Shuffah (serambi masjid), “Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki.” Hal itu karena mereka mengatakan, “Kalau sekiranya kamu punya…dst.” Mereka berangan-angan.

+ show / hide Penjelasan Tambahan

[21] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan, bahwa di antara kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia tidak melapangkan rezeki kepada mereka yang dapat membahayakan agama mereka.

[22] Yakni tentu akan lalai dari menaati Allah, mendatangi kesenangan dunia, sehingga hidup mereka penuh dengan memenuhi hawa nafsu meskipun sebagai kemaksiatan dan kezaliman.

[23] Yakni sesuai kelembutan dan kebijaksanaan-Nya.

+ show / hide Penjelasan Tambahan

[24] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberi mereka rezeki yang Dia pilih yang di sana terdapat kebaikan bagi mereka, Dia lebih tahu dalam hal itu, sehingga Dia memberikan kekayaan orang yang berhak mendapatkannya dan membuat fakir orang yang berhak mendapatkannya. Jika kekayaan memperbaiki imannya, maka Dia memberikannya, tetapi jika kekayaan malah merusaknya, maka Dia berikan kefakiran. Demikian pula jika kesehatan memperbaiki imannya, maka Dia memberikannya dan jika sakit yang memperbaiki imannya, maka Dia berikan sakit.

[25] Yakni hujan yang deras yang mengenai negeri dan penduduknya.

[26] Seyelah mereka mengira bahwa hujan tidak akan turun kepada mereka.

[27] Seperti dikeluarkan-Nya makanan untuk mereka dan hewan ternak mereka, sehingga mereka bergembira dengannya.

[28] Yakni yang mengurus hamba-hamba-Nya dengan berbagai pengurusan, Dia mengurus maslahat agama mereka maupun dunia mereka.

[29] Dalam pengurusan-Nya dan pengarahan-Nya. Demikian pula Maha Terpuji karena kesempurnaan-Nya dan karena Dia melimpahkan berbagai karunia kepada hamba-hamba-Nya.

[30] Yakni termasuk dalil yang menunjukkan kekuasaan-Nya yang besar dan bahwa Dia akan menghidupkan orang yang telah mati setelah matinya.

[31] Dengan keadaannya yang luas dan besar yang menunjukkan kekuasaan-Nya dan luas-Nya kerajaan-Nya. Apa yang tampak pada keduanya berupa kerapihan dan keindahan menunjukkan kebijaksanaan-Nya. Demikian pula apa yang ada pada keduanya berupa berbagai manfaat dan maslahat menunjukkan rahmat-Nya, dan bahwa hal itu menunjukkan bahwa Dia berhak ditujukan berbagai ibadah, dan bahwa peribadahan kepada selain-Nya adalah batil.

[32] Sebagai maslahat dan manfaat bagi hamba-hamba-Nya.

[33] Setelah mereka mati di padang mahsyar pada hari Kiamat.

[34] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa tidaklah Dia menimpakan musibah pada badan mereka, harta mereka, dan anak-anak mereka dan apa saja yang mereka cintai, dimana mereka sangat mencintainya kecuali disebabkan perbuatan tangan mereka, yaitu karena mereka melakukan berbagai maksiat, namun Allah lebih banyak memaafkan, karena Dia tidak menzalimi hamba-hamba-Nya, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri, Dia berfirman, “Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Terj. Fathir: 45) Dan penundaan itu bukanlah berarti meremehkan atau karena lemah.

+ show / hide Penjelasan

[35] Digunakan kata tangan, karena kebanyakan tindakan yang dilakukan oleh manusia dengan tangannya. Musibah bagi orang-orang yang berdosa adalah untuk menghapuskan dosa-dosa mereka, adapun bagi orang yang tidak berdosa, maka untuk meninggikan derajat mereka di surga.

[36] Wahai kaum musyrik.

[37] Yani kamu tidak dapat melemahkan kekuasaan Allah terhadapmu, bahkan kamu semua adalah lemah, dan kamu tidak dapat menolak apa yang Allah tetapkan untukmu.

[38] Sehingga kamu memperoleh manfaat.

[39] Yang menghindarkan bahaya darimu.

[40] Yakni di antara dalil yang menunjukkan rahmat dan perhatian-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

[41] Allah menundukkan lautan untuk kapal itu, menjaganya dari gelombang yang besar dan menjadikan kapal itu dapat membawamu dan membawa barang-barangmu yang banyak ke negeri dan daerah yang jauh serta menundukkan semua sebab yang dapat membantu hal itu.

[42] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan tentang sebab-sebab itu.

[43] Dimana dengan angin kapal mereka dapat berjalan.

[44] Orang itu adalah orang mukmin, di mana ia bersabar saat menerima musibah dan terhadap hal yang memberatkan dirinya, seperti rasa lelah ketika menjalankan ketaatan, menolak segala yang mengajak kepada maksiat serta menahan dirinya agar tidak keluh kesah. Demikian pula ia bersyukur saat memperoleh kelapangan dan saat mendapatkan nikmat; dia mengakui nikmat Tuhannya dan tunduk kepada-Nya serta mengalihkan nikmat-nikmat itu untuk mencari keridhaan-Nya. Orang inilah yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Adapun orang yang tidak bersabar dan bersyukur, maka ia tetap saja berpaling atau membangkang dan tidak mendapatkan manfaat dari ayat-ayat-Nya.

[45] Yakni dengan menenggelamkannya dan membinasakannya, akan tetapi Dia Maha Penyantun dan banyak memaafkan.

[46] Dengan kebatilan mereka.

Tafsir Asy Syuura Ayat 13-22

Ayat 13-15: Semua rasul mengajak untuk menyembah Allah yang Maha Esa, perintah untuk bersatu dan larangan berpecah belah dan pentingnya beristiqamah di atas agama.

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (١٣) وَمَا تَفَرَّقُوا إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِهِمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ (١٤) فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لأعْدِلَ بَيْنَكُمُ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ لا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ (١٥)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 13-15

13. [1]Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu, tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan)[2] dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya[3]. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka[4]. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid[5] dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)[6].

14. [7]Dan mereka tidak berpecah belah, kecuali setelah datang kepada mereka ilmu (kebenaran yang disampaikan para nabi), karena kedengkian antara sesama mereka[8]. Jika tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan[9], pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan[10]. Dan sesungguhnya orang-orang yang mewarisi kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad)[11], benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentang kitab (Al Qur’an) itu[12].

15. Karena itu serulah (mereka beriman)[13] dan tetaplah (beriman dan berdakwah)[14] sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka[15] dan katakanlah[16], "Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah[17] dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu[18]. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu[19]. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu[20]. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu[21], Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali[22].”

Ayat 16-19: Al Qur’an adalah kebenaran, syariat Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah timbangan kebenaran terhadap amal, kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada hamba-hamba-Nya dan bahwa di Tangan-Nya rezeki hamba-hamba-Nya.

وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُ حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ (١٦) اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ (١٧)يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِهَا وَالَّذِينَ آمَنُوا مُشْفِقُونَ مِنْهَا وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا الْحَقُّ أَلا إِنَّ الَّذِينَ يُمَارُونَ فِي السَّاعَةِ لَفِي ضَلالٍ بَعِيدٍ (١٨) اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (١٩)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 16-19

16. Dan orang-orang yang berbantah-bantah[23] tentang (agama) Allah setelah (agama itu) diterima[24], perbantahan mereka itu sia-sia di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah)[25] dan mereka mendapat azab yang sangat keras[26].

17. [27]Allah yang menurunkan kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran dan neraca (keadilan)[28]. [29]Dan tahukah kamu, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat?

18. Orang-orang yang tidak beriman kepada hari Kiamat[30] meminta agar hari itu segera terjadi dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya[31] dan mereka yakin bahwa Kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya Kiamat itu benar-benar telah tersesat jauh[32].

19. [33]Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang Dia kehendaki, dan Dia Mahakuat lagi Mahaperkasa[34].

Ayat 20-22: Allah memberikan pembalasan kepada amal seseorang menurut niatnya, orang yang beramal untuk akhirat dan balasannya dan orang yang tertipu dengan dunia serta bagian yang diperolehnya dari dunia, penghinaan terhadap orang-orang kafir dengan azab yang akan mereka terima dan kabar gembira kepada orang-orang mukmin dengan surga.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ (٢٠) أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢١) تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (٢٢)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 20-22

20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan (pahala) di akhirat[35] akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya[36] dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia[37] Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia)[38] tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat[39].

21. [40]Apakah mereka mempunyai sembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridhai) Allah[41]? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan[42]. Dan sungguh, orang-orang zalim itu[43] akan mendapat azab yang sangat pedih[44].

22. [45]Kamu akan melihat orang-orang zalim[46] itu sangat ketakutan karena (kejahatan-kejahatan) yang telah mereka lakukan, [47]dan (azab) menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman[48] dan mengerjakan kebajikan[49] (berada) di dalam taman-taman surga[50], mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan[51]. Yang demikian itu adalah karunia yang besar[52].

PENJELASAN AYAT

[1] Ayat ini menerangkan nikmat yang paling besar yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu mensyariatkan untuk mereka agama terbaik dan paling utama, paling mulia dan paling suci, yaitu agama Islam, dimana Allah mensyariatkan agama itu kepada hamba-hamba pilihan-Nya bahkan makhluk terbaik dan paling tinggi derajatnya, yaitu para rasul ulul ‘azmi yang disebutkan dalam ayat ini. Kalau bukan karena agama Islam, maka tidak ada seorang pun di antara makhluk menjadi makhluk yang tinggi. Dengan demikian, agama Islam merupakan ruh kebahagiaan, poros kesempurnaan, dimana hal itu terkandung dalam kitab yang mulia ini; dimana yang diserukannya adalah tauhid, amal, akhlak dan adab.

Ayat ini menunjukkan bahwa agama para nabi adalah agama tauhid (Islam) meskipun syariatnya berbeda-beda sesuai dengan kondisi umat pada waktu itu.

[2] Yang dimaksud dengan menegakkan agama Islam di sini adalah mengesakan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta menaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya atau menegakkan semua syariat baik yang ushul (dasar) maupun yang furu’ (cabang), yaitu kamu menegakkannya oleh dirimu dan berusaha menegakkannya juga pada selain dirimu serta saling bantu-membantu di atas kebaikan dan takwa.

[3] Agar agama dapat tegak secara sempurna. Termasuk di antara sarana berkumpul di atas agama dan tidak berpecah adalah apa yang diperintahkan syari’ (Allah dan Rasul-Nya) untuk berkumpul di waktu haji, pada hari raya, shalat Jum’at dan jamaah, berjihad dan ibadah-ibadah lainnya yang tidak mungkin sempurna kecuali dengan berkumpul bersama dan tidak berpecah belah.

[4] Jangankan mengikuti, disebut nama Allah saja mereka tidak suka.

[5] Allah memilih di antara makhluk-Nya orang yang Dia ketahui layak dipilih untuk menerima risalah atau kewalian-Nya. Termasuk pula Dia memilih umat ini dan melebihkannya di atas seluruh umat.

[6] Kembali kepada-Nya merupakan sebab dari seorang hamba yang dengannya ia memperoleh hidayah Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Dengan demikian baiknya niat seorang hamba dan berusaha memperoleh hidayah termasuk sebab untuk dimudahkan kepada hidayah Allah, sebagaimana firman-Nya, “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, …dst.” (Terj. Al Ma’idah: 16).

[7] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan agar kaum muslimin berkumpul di atas agama mereka serta melarang mereka berpecah belah, maka Dia memberitahukan kepada mereka agar jangan tertipu hanya karena Allah telah menurunkan kitab kepada mereka, karena Ahli Kitab sebelumnya tidaklah berpecah belah sampai Allah menurunkan juga kitab kepada mereka yang menghendaki mereka untuk bersatu, namun ternyata mereka mengerjakan kebalikan dari apa yang diperintahkan dalam kitab tersebut. Hal itu terjadi karena kedengkian di antara mereka; mereka saling benci membenci dan saling dengki-mendengki sehingga terjadilah perpecahan, oleh karena itu hendaknya kita berhati-hati agar tidak seperti mereka.

[8] Maksudnya, orang-orang yang beragama atau Ahli Kitab tidaklah berpecah belah dalam hal agama, kecuali setelah nyata kebenaran, namun mereka pun tetap berpecah belah.

[9] Yaitu hari Kiamat.

[10] Dengan mengazab mereka di dunia, akan tetapi kebijaksanaan dan santun-Nya menghendaki untuk menunda azab dari mereka.

[11] Yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani.

[12] Yakni benar-benar berada dalam kesamaran yang besar yang menjatuhkan ke dalam perselisihan, dimana pendahulu mereka berselisih baik karena dengki maupun karena sikap membangkang. Generasi setelah mereka juga berselisih karena ragu-ragu, dan semuanya sama-sama dalam perselisihan yang tercela.

[13] Yakni kepada agama yang lurus dan agama yang benar, dimana Al Qur’an Allah turunkan membawanya dan para rasul diutus Allah dengan membawanya. Oleh karena itu, serulah umatmu kepadanya dan dorong mereka kepadanya serta berjihadlah melawan orang-orang yang tidak menerimanya.

[14] Maksudnya, tetaplah dalam agama dan lanjutkanlah berdakwah. Atau tetaplah sesuai perintah Allah, tidak meremehkan dan tidak berlebihan, bahkan di atas perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan konsisten di atasnya. Dalam ayat ini Allah memerintahkan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menyempurnakan dirinya dengan tetap istiqamah dan menyempurnakan orang lain dengan berdakwah kepadanya. Sudah menjadi maklum perintah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi perintah pula untuk umatnya jika tidak ada takhshis(pengkhusus)nya.

[15] Yakni hawa nafsu orang-orang yang menyimpang dari agama seperti orang-orang kafir dan munafik, bisa dengan mengikuti sebagian agama mereka, meninggalkan dakwah, dan tidak istiqamah. Karena sesungguhnya, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu datang kepadamu, maka engkau akan menjadi orang-orang yang zalim. Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti agama mereka.” Karena hakikat agama mereka adalah apa yang Allah syariatkan untuk mereka, yaitu agama para rasul, akan tetapi mereka tidak mengikutinya, bahkan mereka mengikuti hawa nafsu mereka dan menjadikan agama mereka sebagai bahan permainan.

[16] Ketika berdebat dengan mereka.

[17] Yakni hendaknya perdebatan mereka didasari atas asas yang besar ini, dimana hal ini menunjukkan kemuliaan Islam, keagungannya, dan pengawasannya terhadap semua agama. Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa Ahli Kitab jika mereka mengajak berdebat atas dasar beriman kepada sebagian kitab atau sebagian rasul, maka tidak diterima, karena kitab yang mereka serukan kepadanya dan rasul yang mereka menisbatkan diri kepadanya mensyaratkan harus membenarkan semua kitab dan semua rasul.

[18] Yakni dalam memberikan keputusan terhadap hal yang kamu perselisihkan. Oleh karena itu, wahai Ahli Kitab! Janganlah kebencian dan permusuhanmu menghalangimu untuk berbuat adil terhadap kami.

[19] Yakni Tuhan kita semuanya.

[20] Masing-masing dibalas sesuai amalnya.

[21] Maksudnya, setelah jelas hakikatnya, kebenaran daripada kebatilan juga menjadi jelas, petunjuk daripada kesesatan juga menjadi jelas, maka tidak ada lagi perdebatan, karena maksud dari perdebatan adalah adalah menerangkan yang hak dari yang batil agar orang yang cerdas mendapat petunjuk dan agar hujjah tegak kepada orang-orang yang sesat, namun hal ini bukanlah berarti bahwa Ahli Kitab tidak didebat, tetapi maksudnya seperti tadi.

[22] Yakni pada hari Kiamat, lalu Dia membalas masing-masing sesuai amalnya dan ketika itu jelaslah yang benar daripada yang dusta.

[23] Hal ini menguatkan firman-Nya di ayat sebelumnya, “Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu.” Di ayat ini Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang membantah agama Allah dengan hujjah-hujjah yang batil serta syubhat yang bertentangan.

[24] Oleh orang-orang yang berakal setelah Allah menerangkan kepada mereka ayat-ayat yang qath’i (pasti) dan hujjah yang jelas, maka mereka yang mendebat kebenaran setelah jelas seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi, hujjahnya batal dan tertolak di sisi Tuhan mereka, karena mengandung penolakan terhadap yang hak, sedangkan segala sesuatu yang menyelisihi yang hak adalah batil.

[25] Karena kedurhakaan mereka dan berpalingnya mereka dari hujjah-hujjah Allah serta bukti-buktinya dan karena mereka mendustakannya.

[26] Itu merupakan atsar (bekas) dari kemurkaan Allah kepada mereka. Inilah hukuman bagi setiap orang yang mendebat yang hak dengan yang batil.

[27] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan bahwa hujjah-hujah-Nya begitu jelas dan terang, dimana hujjah-Nya diterima oleh orang yang memiliki kebaikan, maka Allah menyebutkan dasar dan kaidahnya, bahkan merupakan semua hujjah yang Allah sampaikan kepada hamba.

[28] Kitab di sini adalah Al Qur’an. Ia turun dengan membawa kebenaran, mengandung kebenaran, kejujuran dan keyakinan. Semuanya adalah ayat-ayat yang jelas, dalil yang terang terhadap semua tuntutan ilahi dan keyakinan dalam beragama, maka Al Qur’an datang dengan membawa masalah yang paling baik dan dalil yang paling jelas. Adapun neraca, maka maksudnya keadilan dan memandang dengan qiyas yang shahih dan akal yang kuat. Termasuk ke dalam neraca yang Allah turunkan dan letakkan di antara hamba-hamba-Nya adalah semua dalil ‘aqli (akal), baik ayat-ayat yang ada di ufuk maupun yang ada pada diri manusia, memandang dari sisi syar’i, munasabah (kesesuaian), illat (alasan-alasan), hukum-hukum dan hikmah-hikmah. Allah letakkan di antara hamba-hamba-Nya agar mereka menimbang masalah-masalah yang masih samar, mengetahui benarnya apa yang Dia beritakan kepada mereka, dan apa yang diberitakan para rasul-Nya. Oleh karena itu, apa yang berada di luar perkara ini (kitab dan neraca) yang dianggap sebagai hujjah atau dalil maka ia adalah batil dan bertentangan, dimana asasnya rusak, bangunannya roboh demikian pula cabang-cabangnya. Hal itu diketahui oleh orang yang mengetahui masalah dan pengambilannya, mengetahui perbedaan antara dalil yang rajih dengan yang kurang rajih, serta dapat membedakan antara hujjah dan syubhat. Adapun orang yang tertipu dengan ungkapan yang terkesan indah, lafaz yang dihias, bashirah(mata hati)nya tidak sampai kepada makna yang dikehendaki, maka ia tidak termasuk ke dalam orang-orang tersebut.

[29] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menakut-nakuti orang-orang yang meminta disegerakan Kiamat lagi mengingkarinya.

[30] Dengan sikap membangkang, mendustakan, dan melemahkan Tuhannya.

[31] Yakni takut karena keimanan mereka kepadanya, mereka tahu sesuatu yang akan terjadi pada hari itu yaitu pembalasan terhadap amal, mereka takut karena mereka kenal Tuhan mereka; mereka takut jika amal mereka tidak membahagiakan mereka dan tidak menyelamatkan.

[32] Yakni setelah mereka membantahnya; membantah rasul dan para pengikutnya yang menetapkan adanya Kiamat, maka sesungguhnya mereka berada dalam pertengkaran dan permusuhan yang jauh dari kebenaran, bahkan jauh sekali. Padahal sesuatu apa yang lebih jauh dari kebenaran daripada orang-orang yang mendustakan negeri yang sebenarnya; negeri yang diciptakan untuk tetap dan kekal; negeri tempat pembalasan yang di sana Allah menampakkan keadilan dan karunia-Nya, sedangkan negeri ini (dunia) jika dibandingkan dengannya seperti orang yang mengendarai kendaraan yang beristirahat di bawah naungan pohon lalu ia pergi meninggalkannya. Negeri tersebut adalah negeri tempat berlalu dan bukan tempat menetap. Tetapi mereka malah membenarkan negeri yang akan sirna dan fana karena mereka menyaksikannya dan mendustakan negeri akhirat yang telah mutawatir diberitakan oleh kitab-kitab samawi dan para rasul yang mulia serta para pengikutnya yang merupakan makhluk paling sempurna akalnya, paling banyak ilmunya, dan paling dalam kecerdasan dan kepintarannya.

[33] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya agar mereka mengenal dan mencintai-Nya dan mencari kelembutan dan kemurahan-Nya. Kelembutan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, maknanya bahwa Dia mengetahui yang tersembunyi maupun yang rahasia, dimana Dia menyampaikan kepada hamba-hamba-Nya –khususnya kaum mukmin- kepada sesuatu yang di sana terdapat kebaikan bagi mereka dari arah yang tidak mereka ketahui dan tidak mereka sangka. Ya Allah, berikanlah kembutan-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah kelembutan-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah kelembutan-Mu kepadaku.

Di antara kelembutan-Nya kepada hamba-Nya yang mukmin adalah Dia menunjukinya kepada kebaikan dengan petunjuk yang tidak terlintas dalam hatinya karena Dia memudahkan sebab-sebab kepadanya, seperti fitrahnya untuk mencintai yang hak, tunduk kepadanya, ilham Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada para malaikat yang mulia agar mereka mengokohkan hamba-hamba-Nya yang mukmin.dan mendorong mereka kepada kebaikan serta menaruh ke dalam hati mereka indahnya kebenaran yang mendorong mereka untuk mengikutinya.

Termasuk kelembutan-Nya adalah Dia memberintahkan kaum mukmin ibadah yang dilakukan secara jama’i (berjamaah), dimana dengannya niat mereka kuat dan cita-cita mereka bangkit dan terjadilah perlombaan kepada kebaikan serta mencintainya, demikian pula mengikutinya sebagian mereka kepada sebagian yang lain.

Termasuk kelembutan-Nya adalah Dia menetapkan kepada hamba-Nya semua sebab yang menghalanginya berbuat maksiat, sehingga Allah Subhaanahu wa Ta'aala karena Dia mengetahui bahwa dunia, harta dan kepemimpinan dan yang semisalnya -yang biasa dikejar oleh orang-orang yang cinta dunia-, dimana hal itu dapat memutuskan hamba-Nya dari ketaatan kepada-Nya atau membuatnya lalai dari-Nya atau membuatnya jatuh ke dalam maksiat, maka Dia palingkan hamba-Nya dan membatasi rezekinya. Oleh karena itulah Dia berfirman, “Dia memberi rezeki kepada yang Dia kehendaki,” sesuai hikmah (kebijaksanaan) dan kelembutan-Nya.

[34] Dia memiliki kekuatan semuanya, tidak ada daya dan upaya bagi makhluk kecuali dengan pertolongan-Nya, dimana segala sesuatu tunduk kepada-Nya.

[35] Yakni pahala dan balasan-Nya, dia mengimaninya dan membenarkannya serta berusaha kepadanya.

[36] Yakni satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan atau lebih, ia juga memperoleh bagian dari dunia ini. Oleh karena itu, orang yang mencari akhirat seperti orang yang menanam padi, dimana akan tumbuh pula rumput. Sedangkan orang yang mencari dunia seperti orang yang menanam rumput, tidak akan tumbuh padi.

[37] Maksudnya dunia yang menjadi tujuannya dan akhir cita-citanya, tidak mau mengejar akhiratnya, tidak mengharap pahalanya dan tidak takut siksa pada hari itu.

[38] Yakni Kami berikan kepadanya bagian yang telah ditetapkan untuknya.

[39] Ia tidak masuk surga dan tidak memperoleh kenikmatannya, bahkan berhak masuk neraka dan memperoleh kesengsaraannya. Ayat ini sama seperti firman-Nya di ayat lain, “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.-- Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Terj. Huud: 15-16).

[40] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa kaum musyrik mengambil para sekutu, dimana mereka berwala’ (menaruh sikap setia) kepadanya, dan mereka bersama-sama dengan para sekutu itu dalam kekafiran dan amalan kufur, dari kalangan setan manusia para penyeru kekafiran.

Ada pula yang menafsirkan, apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan yang menetapkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?

[41] Seperti syirk, mengingkari kebangkitan, bid’ah, mengharamkan apa yang Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan dan sebagainya sesuai hawa nafsu mereka. Padahal aturan dalam agama itu tidak boleh kecuali apa yang disyariatkan Allah Ta’ala. Dengan demikian, hukum asal dalam ibadah itu haram sampai ada dalil yang memerintahkannya dari Allah dan Rasul-Nya.

* Allah menyebut tindakan berkreasi dalam melakukan ibadah (yang diistilahkan dengan bid’ah) sebagai tindakan menyekutukan Allah dalam masalah penetapan syariat (aturan beribadah). dia menandingi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah penetapan aturan ibadah.

* Garis bawahi kalimat, ‘mensyariatkan untuk mereka agama’ artinya aturan itu diyakini sebagai aturan agama, padahal Allah tidak pernah mengizinkannya. Tidak Allah izinkan berarti kosong dari dalil. Dan itulah bid’ah.

[42] Pada saat itu juga karena yang menghendaki untuk dibinasakan sudah ada, akan tetapi Dia menundanya karena santun-Nya dan karena kebijaksanaan-Nya.

[43] Yakni orang-orang kafir.

[44] Di akhirat.

[45] Pada hari itu.

[46] Kepada diri mereka dengan kekafiran dan kemaksiatan.

[47] Oleh karena orang yang takut terhadap sesuatu yang ditakuti terkadang mendapatkan sesuatu yang ditakuti itu dan terkadang tidak, maka Allah memberitahukan, bahwa sesuatu yang ditakuti itu (azab) akan menimpa mereka. Hal itu, karena mereka telah mengerjakan sebab yang sempurna yang menghendaki mereka disiksa tanpa ada penghalang, seperti tobat atau lainnya dan telah mencapai tempat yang tidak berlaku lagi penangguhan dan penundaan.

[48] Dengan hati mereka kepada Allah, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan apa yang mereka bawa.

[49] Baik yang terkait dengan hati, lisan maupun anggota badan, yang wajib maupun yang sunat.

[50] Taman tersebut disandarkan ke surga, maka berarti indahnya tidak dapat terbayangkan, baik sungainya, pohon-pohonnya, burung-burungnya, suara yang terdengar di sana dan berkumpul dengan kekasih. Taman-taman tersebut semakin hari semakin bertambah indah dan eloknya, dan tidak menambah kepada penduduknya selain kerinduan kepada kenikmatannya.

[51] Apa yang mereka inginkan selalu ada dan apa yang mereka minta selalu hadir di hadapan, dimana kenikmatannya sampai tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di hati manusia.

[52] Karunia apa yang lebih besar daripada mendapatkan keridhaan Allah, mendapatkan kenikmatan di dekat-Nya di tempat istimewa-Nya (surga).

======================================================================

Beberapa Pelajaran [Asy-Syuro: 21]
1) Mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah artinya berbuat bid’ah dalam agama. Al-Imam Al-Mufassir Ibnu Jarir Ath-Thobari rahimahullah (w. 310 H) berkata,
يقول تعالى ذكره: أم لهؤلاء المشركين بالله شركاء في شركهم وضلالتهم (شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ) يقول: ابتدعوا لهم من الدين ما لم يبح الله لهم ابتداعه
“Firman Allah ta’ala dzikruhu tersebut maknanya: Apakah orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang lain dalam kesyirikan dan kesesatan mereka itu “yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah!?” Artinya: Mengada-ada (berbuat bid’ah) untuk mereka agama yang Allah tidak izinkan untuk mereka mengada-adakannya!?” [Tafsir Ath-Thobari, 21/522, Muassasah Ar-Risalah Beirut, Cet. 1, 1420 H, Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir]
Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah (w. 597 H) berkata,
والمعنى: ألَهُمْ آلهةٌ شَرَعُوا أي ابتدعوا لَهُمْ دِيناً لم يأذن به الله؟!
“Maknanya: Apakah mereka memiliki sesembahan-sesembahan yang mensyari’atkan, artinya yang berbuat bid’ah untuk mereka agama yang Allah tidak izinkan?!” [Zaadul Masir fi ‘Ilmit Tafsir, 4/63, Daarul Kutub Al-‘Arabi Beirut, Cet. 1, 1422 H, Tahqiq: Abdur Rozzaq Mahdi]
2) Hanya Allah ta’ala yang berhak menetapkan aturan-aturan dan cara-cara beribadah dalam agama, yang Dia turunkan dalam kitab-Nya Al-Qur’an yang mulia atau melalui lisan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam dalam As-Sunnah.
3) Allah subhanahu wa ta’ala menyamakan para pembuat syari’at dan cara-cara ibadah kaum musyrikin dengan sesembahan-sesembahan selain Allah ta’ala, maka ayat yang mulia ini mengandung celaan yang keras terhadap orang-orang yang menetapkan hukum yang bertentangan dengan syari’at atau berbuat bid’ah dalam agama, pada hakikatnya mereka telah menyamakan diri mereka dengan Allah ta’ala, dan para pengikut mereka telah meyamakan mereka dengan Allah ta’ala, sadar atau tidak.
4) Pentingnya menuntut ilmu agama berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sesuai Pemahaman Salaf, karena seseorang tidak mungkin dapat beribadah kepada Allah ta’ala sesuai dengan syari’at-Nya tanpa memiliki ilmunya.
5) Bahaya taklid buta; ikut-ikutan terhadap tokoh-tokoh, tradisi nenek moyong dan kebiasaan masyarakat tanpa mencocokkannya terlebih dahulu dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sesuai Pemahaman Salaf, karena akan menjerumuskan ke dalam syirik dan bid’ah sebagaimana yang terjadi pada kaum muysrikin dahulu dan telah terjadi pada sebagian kaum muslimin, waspadalah…!