Ayat 81-89: Bantahan Al Qur’an tentang kepercayaan Tuhan mempunyai anak, bersihnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari sekutu dan anak dan perintah memperhatikan kerajaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ (٨١) سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ (٨٢) فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّى يُلاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ (٨٣) وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الأرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ (٨٤)وَتَبَارَكَ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَعِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٨٥) وَلا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (٨٦) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (٨٧) وَقِيلِهِ يَا رَبِّ إِنَّ هَؤُلاءِ قَوْمٌ لا يُؤْمِنُونَ (٨٨) فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (٨٩)
Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 81-89
81. Katakanlah (Muhammad)[1], “Jika benar Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, maka akulah orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)[2].
82. Mahasuci Tuhan pemilik langit dan bumi, Tuhan pemilik 'Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu[3].
83. Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main[4] sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka[5].
84. [6]Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi, dan Dialah Yang Mahabijaksana[7] lagi Maha Mengetahui[8].
85. Dan Mahatinggi Allah[9] yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah ilmu tentang hari Kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.
86. [10]Dan orang-orang yang menyeru kepada selain Allah tidak mendapat syafa'at (pertolongan di akhirat)[11]; kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini[12].
87. Dan jika engkau bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, "Allah; jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)[13],
88. Dan (Allah mengetahui) ucapannya (Muhammad)[14], "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.”
89. Maka berpalinglah dari mereka[15] dan katakanlah, "Salam (selamat tinggal)." Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk)[16].
[1] Kepada orang-orang yang mengatakan Allah punya anak, padahal Dia Maha Esa, semua makhluk bergantung kepada-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
[2] Yakni akan tetapi kenyataannya Dia tidak punya anak, sehingga aku tidak menyembahnya. Oleh karena itulah, aku adalah orang yang pertama mengingkarinya dan menafikannya. Ayat ini merupakan hujjah yang besar yang menerangkan kebatilan perkataan mereka, dan bahwa tidak ada satu pun kebaikan, kecuali para rasul adalah orang yang pertama melakukannya, dan tidak ada satu pun keburukan kecuali para rasul adalah orang yang pertama meninggalkannya, mengingkarinya dan menjauhinya. Bisa juga maksud ayat ini adalah, bahwa jika Allah Yang Maha Pengasih punya anak, maka aku sebagai orang yang pertama beribadah kepada Allah, sehingga termasuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah menetapkan apa yang ditetapkan-Nya dan meniadakan apa yang ditiadakan-Nya, dan hal ini termasuk ibadah pada perkataan dan keyakinan. Dengan demikian, jika hal itu benar tentu aku adalah orang yang pertama menetapkannya, sehingga dari sini diketahui kebatilan perkataan orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa Allah punya anak baik secara akal maupun naql (nukilan).
[3] Yaitu penisbatan anak, istri, sekutu, penolong kepada-Nya Subhaanahu wa Ta'aala yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.
[4] Di dunia. Oleh karena itu, ilmu mereka merugikan mereka dan tidak bermanfaat; mereka tenggelam dalam mengkaji ilmu-ilmu untuk menolak yang hak dan apa yang dibawa para rasul. Perbuatan mereka adalah main-main dan kebodohan, tidak membersihkan jiwa dan membuahkan pengetahuan. Oleh karena itu, pada lanjutan ayatnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengancam mereka dengan hari Kiamat, “Sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.”
[5] Yaitu hari Kiamat, dimana mereka akan mengetahui apa yang mereka dapatkan, yaitu kesengsaraan yang kekal dan azab yang tetap.
[6] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa Dia yang berhak disembah saja baik di langit maupun di bumi. Oleh karena itu, penghuni langit semuanya dan penduduk bumi yang beriman mereka beribadah kepada-Nya, mengagungkan-Nya, dan tunduk kepada kebesaran-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (Terj. Ar Ra’d: 15)
Ayat di atas sama seperti firman-Nya, “Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi.” (Terj. Al An’aam: 3) Yakni Dia yang disembah dan dicintai baik di langit maupun di bumi. Adapun Dzat-Nya, maka berada di atas ‘Arsyi-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya, sendiri dengan keagungan-Nya dan mulia dengan kesempurnaan-Nya.
[7] Dia merapihkan ciptaan-Nya dan merapihkan syariat-Nya. Oleh karena itu, Dia tidaklah menciptakan sesuatu kecuali karena hikmah (kebijaksanaan) dan tidak mensyariatkan sesuatu kecuali karena hikmah, dan ketetapan-Nya baik yang qadari (terhadap alam semesta) maupun yang syar’i (dalam agama-Nya) juga mengandung hikmah.
[8] Terhadap hal yang bermaslahat bagi mereka. Dia mengetahui segala sesuatu, yang tampak maupun yang tersembunyi, dan tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah Subhaanahu wa Ta'aala seberat dzarrah (debu) pun baik di langit maupun di bumi, demikian pula yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar.
[9] Tabaaraka artinya Mahatinggi, Maha Agung, Mahabanyak kebaikan-Nya, luas sifat-Nya dan Maha besar kerajaan-Nya. Oleh karena itu, Dia menyebutkan luasnya kerajaan-Nya meliputi langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya, demikian pula luas ilmu-Nya dan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, sehingga Dia sendiri saja dalam mengetahui banyak hal gaib yang tidak ada satu pun makhluk mengetahuinya, baik nabi yang diutus maupun malaikat yang didekatkan. Dia menerangkan bahwa di sisi-Nyalah pengetahuan tentang kapan datang hari Kiamat.
Di antara sempurnanya kerajaan-Nya dan luasnya adalah bahwa Dia yang memiliki dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Dia berfirman, “dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” Yaitu di akhirat, lalu Dia akan memberikan keputusan di antara kamu dengan keputusan-Nya yang adil.
[10] Di antara sempurnanya kerajaan-Nya juga adalah tidak ada seorang pun yang berkuasa terhadap urusan-Nya, dan tidak ada yang berani memberi syafaat kecuali dengan izin-Nya.
[11] Syaikh As Sa’diy menerangkan, bahwa semua yang diibadahi selain Allah, baik para nabi, malaikat, maupun selain mereka tidak memiliki syafaat, dan mereka tidaklah memberi syafaat kecuali dengan izin Allah, dan lagi mereka pun tidak memberi syafaat kecuali kepada orang yang Allah ridhai. Oleh karena itulah pada lanjutan ayatnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini.” Dengan demikian, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan Nabi yang lain ‘alaihimush shalaatu was salam dapat memberi syafa'at setelah diberi izin oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan kepada orang yang diridhai-Nya.
[12] Yakni mengucapkan dengan lisannya dan mengakui dengan hatinya serta mengetahui (meyakini) apa yang diikrarkannya itu. Demikian pula disyaratkan pengakuan ini terhadap yang hak, yaitu bersaksi bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang berhak disembah saja (Laailaahaillallah), mengakui kenabian dan kerasulan para rasul-Nya dan benarnya apa yang mereka bawa, baik yang terkait dengan dasar agama maupun cabang, hakikat maupun syariat. Mereka inilah oran yang bermanfaat bagi mereka syafaat orang-orang yang memberi syafaat dan mereka inilah orang-orang yang selamat dari azab Allah serta mendapatkan pahala-Nya.
[13] Pengakuan mereka bahwa Allah Pencipta mereka mengharuskan mereka untuk beribadah hanya kepada-Nya. Hal ini merupakan dalil terbesar yang menunjukkan batilnya perbuatan syrik.
[14] Yaitu keluhannya kepada Tuhannya karena pendustaan kaumnya dan rasa sedihnya Beliau terhadapnya karena mereka tidak mau beriman. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahui keadaan Beliau, mampu segera menyiksa mereka, akan tetapi Dia Maha halim (santun), Dia menundanya agar mereka bertobat dan kembali. Oleh karena itulah dalam ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka berpalinglah dari mereka dan katakanlah, "Salam (selamat tinggal)."
[15] Yakni maafkanlah gangguan yang datang kepadamu dari mereka baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, dan jangan kamu sikapi selain dengan sikap yang dilakukan oleh orang-orang yang berakal dan berpandangan tajam terhadap orang-orang yang bodoh, yaitu sikap salam (selamat tinggal). Maka Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan perintah Tuhannya, dan menyikapi gangguan kaumnya dengan membiarkan dan memaafkan serta tidak membalas selain dengan berbuat ihsan kepada mereka serta ucapan yang baik. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Beliau atas kesabarannya.
[16] Yakni akibat perbuatan mereka.
Tampilkan postingan dengan label 043-Az Zukhruf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 043-Az Zukhruf. Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 Mei 2014
Tafsir Az Zukhruf Ayat 67-80
Ayat 67-73: Balasan bagi orang-orang yang bertakwa dan kenikmatan di akhirat yang akan mereka peroleh, dan pentingnya memilih teman yang saleh lagi bertakwa.
الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ (٦٧) يَا عِبَادِ لا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (٦٨) الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ (٦٩) ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ (٧٠) يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٧١) وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٧٢)لَكُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ كَثِيرَةٌ مِنْهَا تَأْكُلُونَ (٧٣)
Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 67-73
67. Teman-teman karib[1] pada hari itu saling bermusuhan[2] satu sama lain kecuali mereka yang bertakwa[3].
68. [4]"Wahai hamba-hamba-Ku! Tidak ada ketakutan bagimu pada hari itu dan tidak pula kamu bersedih hati[5].
69. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami[6] dan mereka berserah diri[7].
70. Masuklah kamu ke dalam surga[8], kamu dan pasanganmu[9] akan digembirakan[10].”
71. Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas[11], dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata[12]. Dan kamu kekal di dalamnya[13].
72. Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan[14].
73. Di dalam surga itu terdapat banyak buah-buahan untukmu yang sebagiannya kamu makan[15].
Ayat 74-80: Penjelasan tentang azab yang akan menimpa orang-orang yang berdosa.
إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي عَذَابِ جَهَنَّمَ خَالِدُونَ (٧٤) لا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ وَهُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ (٧٥) وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ (٧٦)وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ (٧٧) لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ (٧٨) أَمْ أَبْرَمُوا أَمْرًا فَإِنَّا مُبْرِمُونَ (٧٩) أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ (٨٠)
Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 74-80
74. [16]Sungguh, orang-orang yang berdosa itu[17] kekal di dalam azab neraka Jahannam[18].
75. Tidak diringankan (azab) itu dari mereka[19], dan mereka berputus asa di dalamnya[20].
76. Dan tidaklah Kami menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.
77. Dan mereka berseru[21], "Wahai (malaikat) Malik[22]! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja[23].” Dia menjawab[24], "Sungguh, kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).”
78. [25]Sungguh, Kami telah datang membawa kebenaran kepada kamu[26], tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu[27].
79. Ataukah mereka telah merencanakan suatu tipu daya (jahat), maka sesungguhnya Kami telah berencana (mengatasi tipu daya mereka)[28].
80. Ataukah mereka mengira[29], bahwa Kami tidak mendengar rahasia[30] dan bisikan-bisikan mereka?[31] [32]Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) selalu mencatat[33] di sisi mereka.
[1] Yang bersahabat di atas kekafiran, mendustakan dan maksiat kepada Allah sewaktu di dunia.
[2] Hal itu, karena persahabatan mereka bukan karena Allah sehingga pada hari Kiamat berubah menjadi permusuhan.
[3] Yakni mereka yang menjauhi diri dari syrik dan maksiat, maka persahabatan mereka akan kekal dan terus-menerus.
[4] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan pahala orang-orang yang bertakwa, dan bahwa Allah akan memanggil mereka pada hari Kiamat dengan sesuatu yang membuat senang hati mereka dan ketika itu hilang segala musibah dan penderitaan.
[5] Yakni tidak ada kekhawatiran yang akan menimpamu di masa mendatang dan tidak pula kamu bersedih hati terhadap hal yang telah berlalu bagimu. Jika sesuatu yang tidak diinginkan sudah hilang dari berbagai sisi, maka yang ada adalah hal yang diinginkan dan diharapkan.
[6] Sifat mereka beriman kepada ayat-ayat Allah, hal ini tentu mencakup membenarkannya, dan melakukan sesuatu yang dengannya pembenaran menjadi sempurna, yaitu mengetahui maknanya dan mengamalkan konsekwensinya.
[7] Kepada Allah dan tunduk kepada-Nya dalam semua keadaan mereka. Oleh karena itu, mereka menggabung antara mengerjakan amalan zhahir (berserah diri dan tunduk) maupun batin (beriman).
[8] Yang merupakan tempat menetap.
[9] Yang seperti amalmu; baik istri, anak, kawan, maupun lainnya.
[10] Yakni akan diberi nikmat dan akan dimuliakan, dan karunia Tuhanmu akan datang kepadamu baik berupa kebaikan, kesenangan maupun kenikmatan yang tidak dapat diuraikan oleh lisan.
[11] Pelayan mereka yang terdiri dari anak muda yang tetap muda mengedarkan makanan dan minuman kepada mereka dengan piring dan gelas yang paling baik, yaitu piring dan gelas emas.
[12] Semua yang diinginkan oleh hati, seperti makanan, minuman, menggauli istri, dan yang sedap dipandang mata seperti pemandangan yang indah, pohon-pohon yang lebat, kesenangan yang mengagumkan ada bagi mereka dengan keadaan yang paling sempurna dan paling utama.
[13] Inilah pelengkap kenikmatan surga, yaitu kekal selamanya di sana, dimana di dalamnya mengandung tetapnya nikmat itu dan bertambah serta tidak pernah putus.
[14] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mewariskannya kepada kamu karena amal yang telah kamu kerjakan, dan menjadikan surga karena karunia-Nya sebagai balasan terhadap amalmu serta menyimpan di dalamnya dari rahmat-Nya apa yang Dia simpan.
[15] Yaitu buah yang kamu pilih di antara sekian buah yang enak itu.
[16] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kenikmatan di surga, maka Dia melanjutnya dengan menyebutkan azab di neraka Jahanam.
[17] Karena kekafiran dan pendustaan mereka.
[18] Azab meliputi mereka dari berbagai sisi.
[19] Yakni tidak dikurangi apalagi dihilangkan.
[20] Mereka berputus asa dari semua kebaikan dan tidak mengharapkan lagi jalan keluar. Hal itu adalah karena mereka menyeru Tuhan mereka dengan mengatakan, “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim."--Allah berfirman, "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (Terj. Al Mu’minuun: 107-108) Azab yang pedih ini disebabkan perbuatan mereka dan karena mereka menzalimi diri mereka sendiri, dan Allah tidaklah menzalimi mereka; Dia tidak menghukum mereka tanpa dosa sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya.
[21] Ketika berada dalam neraka dengan harapan mereka dapat beristirahat.
[22] Malik adalah Malaikat penjaga neraka.
[23] Yakni agar kami dapat beristirahat, karena kami dalam kesedihan yang sangat dan azab yang keras, kami tidak sanggup bersabar terhadapnya.
[24] Dengan jawaban yang tidak sesuai dengan yang mereka minta dan membuat mereka bertambah sedih.
[25] Selanjutnya mereka dicela lagi.
[26] Melalui lisan para rasul.
[27] Oleh karena itu kamu mendapatkan kesengsaraan yang tidak ada lagi kebahagiaan setelahnya.
[28] Maksudnya, kaum musyrikin Mekah bukan saja benci kepada kebenaran, bahkan mereka juga telah merencanakan hendak membunuh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi rencana itu gagal, karena Allah juga mempunyai rencana untuk menyelamatkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Bisa juga maksudnya, mereka (orang-orang kafir) juga telah membuat rencana jahat terhadap kebenaran dan orang-orangnya agar mereka dapat membatalkan yang hak, seperti dengan menghias kebatilan, namun Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah berencana pula untuk mengatasinya dengan menetapkan sebab dan dalil untuk mengokohkan yang hak dan membatalkan yang batil sebagaimana firman-Nya, “Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap...dst.” (Terj. Al Anbiyaa’: 18)
[29] Dengan kebodohan dan kezaliman mereka.
[30] Yang disembunyikan dalam hati mereka.
[31] Sehingga mereka berani berbuat maksiat dan mengira bahwa maksiat itu tidak ada akibatnya serta tidak diberikan balasan terhadap hal yang tersembunyi darinya.
[32] Allah Subhaanahu wa Ta'aala membantah sangkaan mereka itu.
[33] Mereka mencatat apa yang mereka kerjakan dan menjaganya untuk mereka sampai tiba hari Kiamat, lalu mereka mendapatkan amal mereka ada di hadapan, dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak pernah menzalimi seorang pun.
الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ (٦٧) يَا عِبَادِ لا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (٦٨) الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ (٦٩) ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ (٧٠) يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٧١) وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٧٢)لَكُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ كَثِيرَةٌ مِنْهَا تَأْكُلُونَ (٧٣)
Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 67-73
67. Teman-teman karib[1] pada hari itu saling bermusuhan[2] satu sama lain kecuali mereka yang bertakwa[3].
68. [4]"Wahai hamba-hamba-Ku! Tidak ada ketakutan bagimu pada hari itu dan tidak pula kamu bersedih hati[5].
69. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami[6] dan mereka berserah diri[7].
70. Masuklah kamu ke dalam surga[8], kamu dan pasanganmu[9] akan digembirakan[10].”
71. Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas[11], dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata[12]. Dan kamu kekal di dalamnya[13].
72. Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan[14].
73. Di dalam surga itu terdapat banyak buah-buahan untukmu yang sebagiannya kamu makan[15].
Ayat 74-80: Penjelasan tentang azab yang akan menimpa orang-orang yang berdosa.
إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي عَذَابِ جَهَنَّمَ خَالِدُونَ (٧٤) لا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ وَهُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ (٧٥) وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ (٧٦)وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ (٧٧) لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ (٧٨) أَمْ أَبْرَمُوا أَمْرًا فَإِنَّا مُبْرِمُونَ (٧٩) أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ (٨٠)
Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 74-80
74. [16]Sungguh, orang-orang yang berdosa itu[17] kekal di dalam azab neraka Jahannam[18].
75. Tidak diringankan (azab) itu dari mereka[19], dan mereka berputus asa di dalamnya[20].
76. Dan tidaklah Kami menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.
77. Dan mereka berseru[21], "Wahai (malaikat) Malik[22]! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja[23].” Dia menjawab[24], "Sungguh, kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).”
78. [25]Sungguh, Kami telah datang membawa kebenaran kepada kamu[26], tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu[27].
79. Ataukah mereka telah merencanakan suatu tipu daya (jahat), maka sesungguhnya Kami telah berencana (mengatasi tipu daya mereka)[28].
80. Ataukah mereka mengira[29], bahwa Kami tidak mendengar rahasia[30] dan bisikan-bisikan mereka?[31] [32]Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) selalu mencatat[33] di sisi mereka.
[1] Yang bersahabat di atas kekafiran, mendustakan dan maksiat kepada Allah sewaktu di dunia.
[2] Hal itu, karena persahabatan mereka bukan karena Allah sehingga pada hari Kiamat berubah menjadi permusuhan.
[3] Yakni mereka yang menjauhi diri dari syrik dan maksiat, maka persahabatan mereka akan kekal dan terus-menerus.
[4] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan pahala orang-orang yang bertakwa, dan bahwa Allah akan memanggil mereka pada hari Kiamat dengan sesuatu yang membuat senang hati mereka dan ketika itu hilang segala musibah dan penderitaan.
[5] Yakni tidak ada kekhawatiran yang akan menimpamu di masa mendatang dan tidak pula kamu bersedih hati terhadap hal yang telah berlalu bagimu. Jika sesuatu yang tidak diinginkan sudah hilang dari berbagai sisi, maka yang ada adalah hal yang diinginkan dan diharapkan.
[6] Sifat mereka beriman kepada ayat-ayat Allah, hal ini tentu mencakup membenarkannya, dan melakukan sesuatu yang dengannya pembenaran menjadi sempurna, yaitu mengetahui maknanya dan mengamalkan konsekwensinya.
[7] Kepada Allah dan tunduk kepada-Nya dalam semua keadaan mereka. Oleh karena itu, mereka menggabung antara mengerjakan amalan zhahir (berserah diri dan tunduk) maupun batin (beriman).
[8] Yang merupakan tempat menetap.
[9] Yang seperti amalmu; baik istri, anak, kawan, maupun lainnya.
[10] Yakni akan diberi nikmat dan akan dimuliakan, dan karunia Tuhanmu akan datang kepadamu baik berupa kebaikan, kesenangan maupun kenikmatan yang tidak dapat diuraikan oleh lisan.
[11] Pelayan mereka yang terdiri dari anak muda yang tetap muda mengedarkan makanan dan minuman kepada mereka dengan piring dan gelas yang paling baik, yaitu piring dan gelas emas.
[12] Semua yang diinginkan oleh hati, seperti makanan, minuman, menggauli istri, dan yang sedap dipandang mata seperti pemandangan yang indah, pohon-pohon yang lebat, kesenangan yang mengagumkan ada bagi mereka dengan keadaan yang paling sempurna dan paling utama.
[13] Inilah pelengkap kenikmatan surga, yaitu kekal selamanya di sana, dimana di dalamnya mengandung tetapnya nikmat itu dan bertambah serta tidak pernah putus.
[14] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mewariskannya kepada kamu karena amal yang telah kamu kerjakan, dan menjadikan surga karena karunia-Nya sebagai balasan terhadap amalmu serta menyimpan di dalamnya dari rahmat-Nya apa yang Dia simpan.
[15] Yaitu buah yang kamu pilih di antara sekian buah yang enak itu.
[16] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kenikmatan di surga, maka Dia melanjutnya dengan menyebutkan azab di neraka Jahanam.
[17] Karena kekafiran dan pendustaan mereka.
[18] Azab meliputi mereka dari berbagai sisi.
[19] Yakni tidak dikurangi apalagi dihilangkan.
[20] Mereka berputus asa dari semua kebaikan dan tidak mengharapkan lagi jalan keluar. Hal itu adalah karena mereka menyeru Tuhan mereka dengan mengatakan, “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim."--Allah berfirman, "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (Terj. Al Mu’minuun: 107-108) Azab yang pedih ini disebabkan perbuatan mereka dan karena mereka menzalimi diri mereka sendiri, dan Allah tidaklah menzalimi mereka; Dia tidak menghukum mereka tanpa dosa sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya.
[21] Ketika berada dalam neraka dengan harapan mereka dapat beristirahat.
[22] Malik adalah Malaikat penjaga neraka.
[23] Yakni agar kami dapat beristirahat, karena kami dalam kesedihan yang sangat dan azab yang keras, kami tidak sanggup bersabar terhadapnya.
[24] Dengan jawaban yang tidak sesuai dengan yang mereka minta dan membuat mereka bertambah sedih.
[25] Selanjutnya mereka dicela lagi.
[26] Melalui lisan para rasul.
[27] Oleh karena itu kamu mendapatkan kesengsaraan yang tidak ada lagi kebahagiaan setelahnya.
[28] Maksudnya, kaum musyrikin Mekah bukan saja benci kepada kebenaran, bahkan mereka juga telah merencanakan hendak membunuh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi rencana itu gagal, karena Allah juga mempunyai rencana untuk menyelamatkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Bisa juga maksudnya, mereka (orang-orang kafir) juga telah membuat rencana jahat terhadap kebenaran dan orang-orangnya agar mereka dapat membatalkan yang hak, seperti dengan menghias kebatilan, namun Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah berencana pula untuk mengatasinya dengan menetapkan sebab dan dalil untuk mengokohkan yang hak dan membatalkan yang batil sebagaimana firman-Nya, “Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap...dst.” (Terj. Al Anbiyaa’: 18)
[29] Dengan kebodohan dan kezaliman mereka.
[30] Yang disembunyikan dalam hati mereka.
[31] Sehingga mereka berani berbuat maksiat dan mengira bahwa maksiat itu tidak ada akibatnya serta tidak diberikan balasan terhadap hal yang tersembunyi darinya.
[32] Allah Subhaanahu wa Ta'aala membantah sangkaan mereka itu.
[33] Mereka mencatat apa yang mereka kerjakan dan menjaganya untuk mereka sampai tiba hari Kiamat, lalu mereka mendapatkan amal mereka ada di hadapan, dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak pernah menzalimi seorang pun.
Tafsir Az Zukhruf Ayat 57-66
Ayat 57-66: Ajakan Nabi Isa ‘alaihis salam kepada kaumnya agar beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, batilnya sangkaan golongan-golongan sesat terhadap Nabi Isa ‘alaihis salam, dan ancaman bagi orang-orang kafir dengan azab pada hari Kiamat.
وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ (٥٧) وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ (٥٨) إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ (٥٩)وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلائِكَةً فِي الأرْضِ يَخْلُفُونَ (٦٠) وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (٦١) وَلا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (٦٢) وَلَمَّا جَاءَ عِيسَى بِالْبَيِّنَاتِ قَالَ قَدْ جِئْتُكُمْ بِالْحِكْمَةِ وَلأبَيِّنَ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (٦٣) إِنَّ اللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (٦٤) فَاخْتَلَفَ الأحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ عَذَابِ يَوْمٍ أَلِيمٍ (٦٥) هَلْ يَنْظُرُونَ إِلا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٦٦)
Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 57-66
57. [1]Dan ketika putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (suku Quraisy) bersorak karenanya.
58. Dan mereka berkata, "Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?" Mereka tidak memberikan (perumpamaan itu) kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja; sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar[2].
59. Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat (kenabian) kepadanya, dan Kami jadikan dia[3] sebagai tanda contoh bagi Bani lsrail[4].
60. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun[5].
61. Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat[6]. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (Kiamat) itu[7] dan ikutilah aku[8]. Inilah jalan yang lurus[9].
62. Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan[10]; sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu[11].
63. Dan ketika Isa datang membawa keterangan[12], dia berkata[13], "Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa hikmah[14], dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu perselisihkan[15]; maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku[16].
64. Sungguh, Allah, Dia Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus[17].”
65. [18]Tetapi golongan-golongan (yang ada) saling berselisih[19] di antara mereka; maka celakalah[20] orang-orang yang zalim[21] karena azab pada hari yang pedih (Kiamat).
66. Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari Kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya[22].
[1] Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Maula bin ‘Aqil ia berkata: Ibnu Abbas berkata, “Sungguh aku mengetahui sebuah ayat dalam Al Qur’an yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun. Aku tidak mengetahui, apakah orang-orang sudah mengetahuinya sehingga tidak lagi bertanya atau mereka tidak mengerti sehingga (perlu) bertanya?” Lalu ia (Ibnu Abbas) mulai berbicara dengan kami. Ketika ia (Ibnu Abbas) bangun (dan pergi), maka kami saling cela-mencela karena tidak bertanya kepadanya, maka aku berkata, “Saya siap untuk bertanya, jika ia datang besok. Ketika ia datang, aku berkata, “Wahai Ibnu Abbas, kemarin engkau menyebutkan tentang sebuah ayat yang belum ditanyakan oleh seorang pun; engkau tidak mengetahui apakah orang-orang sudah mengetahuinya sehingga tidak lagi bertanya atau mereka tidak mengerti? Lalu aku melanjutkan kata-kataku, “Beritahukanlah kepadaku tentang ayat itu dan tentang beberapa ayat yang telah engkau bacakan.” Ia (Ibnu Abbas) menjawab, “Ya.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata kepada orang-orang Quraisy, “Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya tidak ada satu pun yang disembah selain Allah ada kebaikannya.” Orang-orang Quraisy mengetahui, bahwa orang-orang Nasrani menyembah Isa putra Maryam dan mengetahui apa yang dikatakan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, “Wahai Muhammad! Bukankah engkau menyangka bahwa Isa seorang nabi dan salah satu hamba di antara hamba-hamba Allah yang saleh. Jika engkau benar, maka sesungguhnya sembahan-sembahan mereka sama seperti yang engkau katakan.” Maka Allah menurunkan ayat, “Dan ketika putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (suku Quraisy) bersorak karenanya.” Aku bertanya, “Apa maksud bersorak?” Ia (Ibnu Abbas) menjawab, “Berteriak dengan gaduh.” (Apa maksud), “Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat.” (Az Zukhruf: 61) Ibnu Abbas menjawab, “Yaitu keluarnya Isa putra Maryam ‘alaihis salam sebelum hari Kiamat.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Thahawi dalam Musykilul Aatsar juz 1 hal. 431. Hadits ini menurut Haitsami dalam Majma’uz Zawaa’id juz 7 hal. 104, diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani yang sama seperti itu (hanyasaja di sana disebutkan lafaznya, “Fa in kunta shaadiqan fa innahaa li aalihatihim”) dan di dalam sanadnya terdapat ‘Ashim bin Bahdalah yang ditsiqahkan oleh Ahmad dan yang lain, ia buruk hapalannya, sedangkan para perawi selebihnya adalah para perawi hadits shahih. As Suyuthiy dalam Lubaabun Nuqul berkata, “Sesungguhnya sanadnya shahih,” Syaikh Muqbill mengatakan, bahwa yang ditetapkan oleh Adz Dzahabi dalam Al Mizan adalah bahwa hadits ‘Ashim itu hasan.”).
[2] Ayat 57 dan 58 di atas menceritakan kembali kejadian ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan di hadapan orang-orang Quraisy surah Al Anbiya ayat 98 yang artinya, “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahannam.” Maka seorang Quraisy bernama Abdullah bin Az Zab'ari menanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang keadaan Isa yang disembah orang Nasrani apakah beliau juga menjadi bahan bakar neraka Jahannam seperti halnya sembahan-sembahan mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terdiam dan mereka pun mentertawakannya; lalu mereka menanyakan lagi mengenai mana yang lebih baik antara sembahan-sembahan mereka dengan Isa ‘alaihis salam? Pertanyaan-pertanyan mereka ini hanyalah mencari perbantahan saja, bukan mencari kebenaran. Jalan pikiran mereka itu adalah kesalahan yang besar. Nabi Isa ‘alaihis salam yang disembah oleh orang-orang Nasrani sesungguhnya tidak rela dijadikan sesembahan.
Di samping itu, penyamaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala antara larangan menyembah berhala dan larangan menyembah Nabi Isa ‘alaihi salam adalah karena ibadah adalah hak Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja, tidak dimiliki oleh seorang pun dari makhluk, baik malaikat yang didekatkan, para nabi yang diutus maupun lainnya, dimanakah letak syubhat ketika pelarangan diratakan baik menyembah patung maupun menyembah Isa ‘alaihis salam? Tidak ada bukan? Dan lagi kelebihan Nabi Isa ‘alaihis salam dan keadaannya yang dekat dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah menunjukkan dibedakannya Beliau dalam masalah ini, karena Beliau sebagaimana diterangkan dalam lanjutan ayat adalah seorang hamba yang Allah berikan nikmat kepadanya dengan kenabian, hikmah, ilmu dan amal.
Adapun firman Allah Ta’ala di surah Al Anbiya: 98, “Innakum wa maa ta’buduuna minduunillahi hashabu Jahannam” (artinya: Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahannam.) maka dapat dikaji sebagai berikut:
Pertama, firman-Nya tersebut menggunakan kata “maa” (apa) yang biasa digunakan untuk sesuatu yang tidak berakal, sehingga tidak termasuk ke dalamnya Nabi Isa ‘alaihis salam.
Kedua, ayat ini tertuju kepada orang-orang musyrik yang tinggal di Mekah dan sekitarnya, dimana mereka menyembah patung dan berhala dan tidak menyembah Al Masih.
Ketiga, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala setelah ayat tersebut berfirman, “Bahwa orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka,” (Terj. Al Anbiyaa’: 101) Tidak diragukan lagi bahwa Isa dan para nabi yang lain serta para wali tergolong ke dalam ayat ini.
[3] Lahir dari Maryam tanpa bapak. Hal itu sebagai dalil Mahakuasanya Allah Subhaanahu wa Ta'aala atas apa yang Dia kehendaki.
[4] Ayat ini menegaskan pandangan Islam terhadap kedudukan lsa ‘alaihis salam, yaitu sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.
[5] Yakni lalu mereka tinggal di bumi, kemudian Allah mengutus utusan yang terdiri dari para malaikat. Adapun kamu wahai manusia! Maka tidak bisa yang diutus kepadamu adalah para malaikat (tidak sejalan). Oleh karena itu, termasuk rahmat Allah kepadamu adalah Dia mengutus para rasul dari jenismu agar kami dapat menimba ilmu dari mereka.
[6] Yakni ketika Isa turun ke dunia di akhir zaman saat Dajjal telah keluar, merupakan tanda dekatnya hari Kiamat, demikian pula menunjukkan bahwa yang berkuasa menciptakannya tanpa bapak, berkuasa pula membangkitkan orang-orang yang telah mati dari kubur mereka.
[7] Karena meragukannya adalah sebuah kekufuran.
[8] Yaitu dengan mengerjakan apa yang aku perintahkan dan menjauhi apa yang aku larang. Di antara yang aku perintahkan adalah mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla.
[9] Yang menghubungkan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[10] Dari menjalankan perintah Allah.
[11] Ia berusaha sekuat tenaga untuk menyesatkan kamu.
[12] Yang menunjukkan benarnya kenabian Beliau dan apa yang Beliau bawa, seperti menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit sopak.
[13] Kepada Bani Israil.
[14] Yang dimaksud dengan hikmah di sini ialah kenabian, Injil, ilmu dan hukum.
[15] Sehingga kesamaran menjadi hilang. Oleh karena itu, Nabi Isa ‘alaihis salam datang menyempurnakan syariat Nabi Musa ‘alaihis salam dan datang membawa sebagian kemudahan yang seharusnya diikuti dan diterima
[16] Yakni sembahlah Allah saja, ikutilah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya, berimanlah kepadaku, benarkanlah aku dan taatilah aku.
[17] Dalam ayat ini terdapat pengakuan terhadap tauhid rububiyyah (Allah adalah Pengatur alam semesta) dan tauhid Uluhiyyah (Allah yang berhak disembah saja), demikian pula terdapat pemberitahuan bahwa Isa ‘alaihis salam adalah salah satu di antara hamba-hamba Allah, dan bahwa apa yang disebutkan ini adalah jalan yang lurus; yang menyampaikan kepada Allah dan kepada surga-Nya.
[18] Setelah Nabi Isa ‘alaihis salam menerangkan kebenaran.
[19] Tentang Nabi Isa, ada yang mengatakan bahwa dia adalah Allah, atau dia putra Allah atau dia salah satu di antara yang tiga. Padahal yang benar bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula mereka membantah apa yang Beliau bawa. Kecuali orang-orang yang beriman, yang bersaksi terhadap kerasulan Beliau, membenarkan semua yang Beliau bawa, dan mereka berkata tentang Beliau, bahwa Beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.
[20] Yakni alangkah sedih, rugi dan celaka mereka pada hari itu.
[21] Yakni orang-orang yang kafir karena ucapan mereka yang salah tentang Nabi Isa ‘alaihis salam.
[22] Ketika Kiamat tiba, maka janganlah engkau tanya keadaan orang-orang yang mendustkannya dan orang-orang yang mengolok-oloknya, dan bahwa teman akrab pada hari itu akan bermusuhan.
وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ (٥٧) وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ (٥٨) إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ (٥٩)وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلائِكَةً فِي الأرْضِ يَخْلُفُونَ (٦٠) وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (٦١) وَلا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (٦٢) وَلَمَّا جَاءَ عِيسَى بِالْبَيِّنَاتِ قَالَ قَدْ جِئْتُكُمْ بِالْحِكْمَةِ وَلأبَيِّنَ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (٦٣) إِنَّ اللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (٦٤) فَاخْتَلَفَ الأحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ عَذَابِ يَوْمٍ أَلِيمٍ (٦٥) هَلْ يَنْظُرُونَ إِلا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٦٦)
Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 57-66
57. [1]Dan ketika putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (suku Quraisy) bersorak karenanya.
58. Dan mereka berkata, "Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?" Mereka tidak memberikan (perumpamaan itu) kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja; sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar[2].
59. Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat (kenabian) kepadanya, dan Kami jadikan dia[3] sebagai tanda contoh bagi Bani lsrail[4].
60. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun[5].
61. Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat[6]. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (Kiamat) itu[7] dan ikutilah aku[8]. Inilah jalan yang lurus[9].
62. Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan[10]; sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu[11].
63. Dan ketika Isa datang membawa keterangan[12], dia berkata[13], "Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa hikmah[14], dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu perselisihkan[15]; maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku[16].
64. Sungguh, Allah, Dia Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus[17].”
65. [18]Tetapi golongan-golongan (yang ada) saling berselisih[19] di antara mereka; maka celakalah[20] orang-orang yang zalim[21] karena azab pada hari yang pedih (Kiamat).
66. Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari Kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya[22].
[1] Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Maula bin ‘Aqil ia berkata: Ibnu Abbas berkata, “Sungguh aku mengetahui sebuah ayat dalam Al Qur’an yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun. Aku tidak mengetahui, apakah orang-orang sudah mengetahuinya sehingga tidak lagi bertanya atau mereka tidak mengerti sehingga (perlu) bertanya?” Lalu ia (Ibnu Abbas) mulai berbicara dengan kami. Ketika ia (Ibnu Abbas) bangun (dan pergi), maka kami saling cela-mencela karena tidak bertanya kepadanya, maka aku berkata, “Saya siap untuk bertanya, jika ia datang besok. Ketika ia datang, aku berkata, “Wahai Ibnu Abbas, kemarin engkau menyebutkan tentang sebuah ayat yang belum ditanyakan oleh seorang pun; engkau tidak mengetahui apakah orang-orang sudah mengetahuinya sehingga tidak lagi bertanya atau mereka tidak mengerti? Lalu aku melanjutkan kata-kataku, “Beritahukanlah kepadaku tentang ayat itu dan tentang beberapa ayat yang telah engkau bacakan.” Ia (Ibnu Abbas) menjawab, “Ya.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata kepada orang-orang Quraisy, “Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya tidak ada satu pun yang disembah selain Allah ada kebaikannya.” Orang-orang Quraisy mengetahui, bahwa orang-orang Nasrani menyembah Isa putra Maryam dan mengetahui apa yang dikatakan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, “Wahai Muhammad! Bukankah engkau menyangka bahwa Isa seorang nabi dan salah satu hamba di antara hamba-hamba Allah yang saleh. Jika engkau benar, maka sesungguhnya sembahan-sembahan mereka sama seperti yang engkau katakan.” Maka Allah menurunkan ayat, “Dan ketika putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (suku Quraisy) bersorak karenanya.” Aku bertanya, “Apa maksud bersorak?” Ia (Ibnu Abbas) menjawab, “Berteriak dengan gaduh.” (Apa maksud), “Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat.” (Az Zukhruf: 61) Ibnu Abbas menjawab, “Yaitu keluarnya Isa putra Maryam ‘alaihis salam sebelum hari Kiamat.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Thahawi dalam Musykilul Aatsar juz 1 hal. 431. Hadits ini menurut Haitsami dalam Majma’uz Zawaa’id juz 7 hal. 104, diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani yang sama seperti itu (hanyasaja di sana disebutkan lafaznya, “Fa in kunta shaadiqan fa innahaa li aalihatihim”) dan di dalam sanadnya terdapat ‘Ashim bin Bahdalah yang ditsiqahkan oleh Ahmad dan yang lain, ia buruk hapalannya, sedangkan para perawi selebihnya adalah para perawi hadits shahih. As Suyuthiy dalam Lubaabun Nuqul berkata, “Sesungguhnya sanadnya shahih,” Syaikh Muqbill mengatakan, bahwa yang ditetapkan oleh Adz Dzahabi dalam Al Mizan adalah bahwa hadits ‘Ashim itu hasan.”).
[2] Ayat 57 dan 58 di atas menceritakan kembali kejadian ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan di hadapan orang-orang Quraisy surah Al Anbiya ayat 98 yang artinya, “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahannam.” Maka seorang Quraisy bernama Abdullah bin Az Zab'ari menanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang keadaan Isa yang disembah orang Nasrani apakah beliau juga menjadi bahan bakar neraka Jahannam seperti halnya sembahan-sembahan mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terdiam dan mereka pun mentertawakannya; lalu mereka menanyakan lagi mengenai mana yang lebih baik antara sembahan-sembahan mereka dengan Isa ‘alaihis salam? Pertanyaan-pertanyan mereka ini hanyalah mencari perbantahan saja, bukan mencari kebenaran. Jalan pikiran mereka itu adalah kesalahan yang besar. Nabi Isa ‘alaihis salam yang disembah oleh orang-orang Nasrani sesungguhnya tidak rela dijadikan sesembahan.
Di samping itu, penyamaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala antara larangan menyembah berhala dan larangan menyembah Nabi Isa ‘alaihi salam adalah karena ibadah adalah hak Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja, tidak dimiliki oleh seorang pun dari makhluk, baik malaikat yang didekatkan, para nabi yang diutus maupun lainnya, dimanakah letak syubhat ketika pelarangan diratakan baik menyembah patung maupun menyembah Isa ‘alaihis salam? Tidak ada bukan? Dan lagi kelebihan Nabi Isa ‘alaihis salam dan keadaannya yang dekat dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah menunjukkan dibedakannya Beliau dalam masalah ini, karena Beliau sebagaimana diterangkan dalam lanjutan ayat adalah seorang hamba yang Allah berikan nikmat kepadanya dengan kenabian, hikmah, ilmu dan amal.
Adapun firman Allah Ta’ala di surah Al Anbiya: 98, “Innakum wa maa ta’buduuna minduunillahi hashabu Jahannam” (artinya: Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahannam.) maka dapat dikaji sebagai berikut:
Pertama, firman-Nya tersebut menggunakan kata “maa” (apa) yang biasa digunakan untuk sesuatu yang tidak berakal, sehingga tidak termasuk ke dalamnya Nabi Isa ‘alaihis salam.
Kedua, ayat ini tertuju kepada orang-orang musyrik yang tinggal di Mekah dan sekitarnya, dimana mereka menyembah patung dan berhala dan tidak menyembah Al Masih.
Ketiga, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala setelah ayat tersebut berfirman, “Bahwa orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka,” (Terj. Al Anbiyaa’: 101) Tidak diragukan lagi bahwa Isa dan para nabi yang lain serta para wali tergolong ke dalam ayat ini.
[3] Lahir dari Maryam tanpa bapak. Hal itu sebagai dalil Mahakuasanya Allah Subhaanahu wa Ta'aala atas apa yang Dia kehendaki.
[4] Ayat ini menegaskan pandangan Islam terhadap kedudukan lsa ‘alaihis salam, yaitu sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.
[5] Yakni lalu mereka tinggal di bumi, kemudian Allah mengutus utusan yang terdiri dari para malaikat. Adapun kamu wahai manusia! Maka tidak bisa yang diutus kepadamu adalah para malaikat (tidak sejalan). Oleh karena itu, termasuk rahmat Allah kepadamu adalah Dia mengutus para rasul dari jenismu agar kami dapat menimba ilmu dari mereka.
[6] Yakni ketika Isa turun ke dunia di akhir zaman saat Dajjal telah keluar, merupakan tanda dekatnya hari Kiamat, demikian pula menunjukkan bahwa yang berkuasa menciptakannya tanpa bapak, berkuasa pula membangkitkan orang-orang yang telah mati dari kubur mereka.
[7] Karena meragukannya adalah sebuah kekufuran.
[8] Yaitu dengan mengerjakan apa yang aku perintahkan dan menjauhi apa yang aku larang. Di antara yang aku perintahkan adalah mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla.
[9] Yang menghubungkan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[10] Dari menjalankan perintah Allah.
[11] Ia berusaha sekuat tenaga untuk menyesatkan kamu.
[12] Yang menunjukkan benarnya kenabian Beliau dan apa yang Beliau bawa, seperti menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit sopak.
[13] Kepada Bani Israil.
[14] Yang dimaksud dengan hikmah di sini ialah kenabian, Injil, ilmu dan hukum.
[15] Sehingga kesamaran menjadi hilang. Oleh karena itu, Nabi Isa ‘alaihis salam datang menyempurnakan syariat Nabi Musa ‘alaihis salam dan datang membawa sebagian kemudahan yang seharusnya diikuti dan diterima
[16] Yakni sembahlah Allah saja, ikutilah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya, berimanlah kepadaku, benarkanlah aku dan taatilah aku.
[17] Dalam ayat ini terdapat pengakuan terhadap tauhid rububiyyah (Allah adalah Pengatur alam semesta) dan tauhid Uluhiyyah (Allah yang berhak disembah saja), demikian pula terdapat pemberitahuan bahwa Isa ‘alaihis salam adalah salah satu di antara hamba-hamba Allah, dan bahwa apa yang disebutkan ini adalah jalan yang lurus; yang menyampaikan kepada Allah dan kepada surga-Nya.
[18] Setelah Nabi Isa ‘alaihis salam menerangkan kebenaran.
[19] Tentang Nabi Isa, ada yang mengatakan bahwa dia adalah Allah, atau dia putra Allah atau dia salah satu di antara yang tiga. Padahal yang benar bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula mereka membantah apa yang Beliau bawa. Kecuali orang-orang yang beriman, yang bersaksi terhadap kerasulan Beliau, membenarkan semua yang Beliau bawa, dan mereka berkata tentang Beliau, bahwa Beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.
[20] Yakni alangkah sedih, rugi dan celaka mereka pada hari itu.
[21] Yakni orang-orang yang kafir karena ucapan mereka yang salah tentang Nabi Isa ‘alaihis salam.
[22] Ketika Kiamat tiba, maka janganlah engkau tanya keadaan orang-orang yang mendustkannya dan orang-orang yang mengolok-oloknya, dan bahwa teman akrab pada hari itu akan bermusuhan.
Selasa, 29 April 2014
Tafsir Az Zukhruf Ayat 40-56
Ayat 40-45: Hiburan untuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap sikap berpaling orang-orang kafir dan bahwa mereka akan ditanya pada hari Kiamat.
أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ أَوْ تَهْدِي الْعُمْيَ وَمَنْ كَانَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٤٠) فَإِمَّا نَذْهَبَنَّ بِكَ فَإِنَّا مِنْهُمْ مُنْتَقِمُونَ (٤١) أَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِي وَعَدْنَاهُمْ فَإِنَّا عَلَيْهِمْ مُقْتَدِرُونَ (٤٢) فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٤٣) وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ (٤٤) وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ (٤٥)
Terjemah Surat Az Zukhruf Ayat 40-45
40. [1]Maka apakah engkau (Muhammad) dapat menjadikan orang yang tuli bisa mendengar, atau (dapatkah) engkau memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya), dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata[2]?
41. [3]Sungguh, sekiranya Kami mewafatkan kamu[4], maka sesungguhnya Kami akan tetap memberikan azab mereka (di akhirat),
42. atau Kami perlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka[5]. Maka sungguh, Kami berkuasa atas mereka[6].
43. [7]Maka berpegang teguhlah kamu kepada (agama) yang telah diwahyukan kepadamu[8]. Sungguh, engkau berada di jalan yang lurus[9].
44. Dan sungguh, Al Quran itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu[10], dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban[11].
45. Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau[12], "Apakah kami menentukan tuhan-tuhan selain Allah Yang Maha Pengasih untuk disembah?"[13]
Ayat 46-56: Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam dengan Fir’aun yang merupakan kisah pertarungan antara kebenaran dengan kebatilan, dan bahwa kemenangan akan selalu diraih oleh kebenaran dan orang-orang yang berpegang di atasnya.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَقَالَ إِنِّي رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٤٦) فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِآيَاتِنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَضْحَكُونَ (٤٧)وَمَا نُرِيهِمْ مِنْ آيَةٍ إِلا هِيَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَا وَأَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٤٨) وَقَالُوا يَا أَيُّهَا السَّاحِرُ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ إِنَّنَا لَمُهْتَدُونَ (٤٩) فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ (٥٠) وَنَادَى فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الأنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلا تُبْصِرُونَ (٥١) أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلا يَكَادُ يُبِينُ (٥٢) فَلَوْلا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ (٥٣) فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ (٥٤) فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ (٥٥)فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلا لِلآخِرِينَ (٥٦)
Terjemah Surat Az Zukhruf Ayat 46-56
46. [14]Dan sunguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami[15] kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka dia (Musa) berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seluruh alam[16].”
47. Maka ketika dia (Musa) datang kepada mereka membawa mukjizat-mukjizat Kami, seketika itu mereka mentertawakannya[17].
48. Dan tidaklah Kami perlihatkan suatu mukjizat kepada mereka kecuali (mukjizat itu) lebih besar dari mukjizat-mukjizat (yang sebelumnya). Dan Kami timpakan kepada mereka azab[18] agar mereka kembali (ke jalan yang benar)[19].
49. Dan mereka berkata[20], "Wahai pesihir[21]! Berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu[22]; Sesungguhnya kami (jika doamu dikabulkan) akan menjadi orang yang mendapat petunjuk.”
50. Maka ketika Kami hilangkan azab itu dari mereka[23], ketika itu (juga) mereka ingkar janji[24].
51. Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata[25], "Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku[26] dan (bukankah) sungai-sungai[27] ini mengalir di bawahku[28]; apakah kamu tidak melihat[29]?
52. Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)[30]?
53. Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas[31], atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya[32]?"
54. Maka Fir'aun (dengan perkataan itu) telah mempengaruhi kaumnya[33], sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik[34].
55. Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami hukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),
56. dan Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu, dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian[35].
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman kepada Rasul-Nya memberinya hiburan karena orang-orang yang mendustakan tidak mau memenuhi seruan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, dan bahwa mereka tidak memiliki kebaikan sama sekali serta tidak memiliki sifat baik yang membuat mereka mendatangi petunjuk.
[2] Dia tersesat dalam keadaan tahu bahwa dirinya tersesat dan ridha dengannya.
[3] Sebagaimana orang yang tuli tidak dapat mendengar suara, orang yang buta tidak dapat melihat dan orang yang sesat dengan kesesatan yang nyata tidak mendapatkan petunjuk, maka mereka ini telah rusak fitrah dan akalnya karena berpaling dari peringatan dan mengadakan keyakinan yang baru dan sifat yang buruk yang menghalangi mereka dari petunjuk dan mengharuskan mereka bertambah sengsara, sehingga tidak tersisa lagi bagi mereka selain azab dan hukuman baik di dunia maupun di akhirat.
[4] Yakni sebelum engkau mencapai kemenangan atau sebelum memperlihatkan azab yang dijanjikan-Nya kepada mereka, maka ketahuilah Kami tetap akan memberikan azab kepada mereka.
[5] Maksudnya ialah kemenangan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kehancuran kaum musyrik.
[6] Akan tetapi hal itu sesuai kebijaksanaan-Nya untuk menangguhkan azab atau menyegerakannya. Inilah keadaan engkau dan keadaan orang-orang yang mendustakanmu.
[7] Yakni adapun engkau, maka berpeganglah…dst.
[8] Baik dengan mengerjakannya maupun bersifat dengannya, demikian pula mendakwahkannya dan berusaha mewujudkannya (berpegang teguh itu) baik pada dirimu maupun pada diri orang lain.
[9] Yang menyampaikan kepada Allah dan kepada surga-Nya. Hal ini mengharuskan engkau berpegang kepada agama-Nya dengan kuat dan menjadikannya petunjuk, jika engkau mengetahui bahwa engkau berada di atas yang hak, di atas keadilan, dan kebenaran, dan engkau berada di atas bangunan yang berpondasi kuat, sedangkan orang lain berada di atas bangunan yang mudah roboh; di atas keraguan, persangkaan, dan kezaliman.
[10] Bisa juga diartikan sebagai kemuliaan dan ketinggian bagimu serta nikmat yang tidak dapat diukur besarnya, demikian pula mengingatkan kamu sesuatu yang di sana terdapat kebaikan di dunia maupun di akhirat, mendorongmu kepadanya, serta mengingatkan kamu kepada keburukan dan menakut-nakuti kamu darinya.
[11] Yakni yang terkait dengan Al Qur’an itu; apakah kamu sudah memenuhi haknya sehingga Al Qur’an menjadi hujjah bagimu atau malah tidak memenuhinya sehingga Al Qur’an menjadi hujjah atasmu.
[12] Ada yang berpendapat, bahwa perintah ini sesuai zhahirnya, yaitu pada malam Beliau berisraa’-mi’raj dikumpulkan para rasul kepada Beliau, lalu Beliau diperintahkan untuk bertanya kepada para rasul, namun Beliau sudah cukup yakin sehingga tidak bertanya. Namun kebanyakan para mufassir berkata, “(Maksudnya) bertanyalah kepada orang-orang mukmin dari Ahli Kitab yang para nabi diutus kepada mereka, bukankah para rasul datang membawa tauhid?” Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dalam semua riwayat, Mujahid, Qatadah, Adh Dhahhak, As Suddiy, Al Hasan dan dua orang Muqatil. Hal ini ditunjukkan pula oleh qiraat Abdullah (Ibnu Mas’ud) dan Ubay, “Was ‘alilladziina ar salnaa ilaihim qablaka rusulanaa.”
Perintah untuk bertanya ini adalah untuk menyatakan kepada kaum musyrik Quraisy, bahwa tidak ada satu pun rasul maupun kitab yang memerintahkan beribadah kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[13] Ayat ini menunjukkan bahwa semua para rasul menyuruh menyembah Allah dan menjauhi sesembahan selain-Nya. Demikian pula menunjukkan bahwa kaum musyrik tidak memiliki sandaran dalam syriknya, baik dari akal yang sehat maupun nukilan dari para rasul.
[14] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau, "Apakah kami menentukan tuhan-tuhan selain Allah Yang Maha Pengasih untuk disembah?", maka Dia menerangkan keadaan Musa dan dakwahnya yang sudah masyhur.
[15] Yang menunjukkan kebenaran kerasulannya dan apa yang Beliau serukan, seperti tongkat, ular, pengiriman belalang dan kutu, dll.
[16] Beliau mengajak mereka mengakui Tuhan mereka (Allah) dan melarang mereka beribadah kepada selain-Nya.
[17] Mereka menolak dan mengingkarinya serta memperolok-oloknya dengan sikap zalim dan sombong, sehingga hal itu bukan karena mukjizatnya yang kurang dan tidak jelasnya ayat-ayatnya. Oleh karena itulah di ayat selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan tidaklah Kami perlihatkan suatu mukjizat kepada mereka kecuali (mukjizat itu) lebih besar dari mukjizat-mukjizat (yang sebelumnya).”
[18] Yang dimaksud azab di sini ialah azab duniawi sebagai cobaan dari Allah seperti kurangnya makanan, berjangkitnya hama tumbuh-tumbuhan, merebaknya belalang, katak, darah dsb.
[19] Agar mereka beriman dan tidak berbuat syrik dan berbuat buruk.
[20] Ketika azab itu menimpa mereka.
[21] Yang mereka maksud dengan pesihir di sini ialah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ucapan ini bisa maksudnya memperolok-olok Beliau dan bisa maksudnya sebagai ucapan penghormatan mereka kepada Beliau, karena mereka menyangka bahwa ulama mereka adalah para pesihir.
[22] Yakni dengan keistimewaan yang Allah berikan kepadamu berupa keutamaan dan kelebihan.
[23] Dengan doa Musa.
[24] Mereka tidak memenuhi janji mereka untuk beriman dan mereka tetap di atas kekafiran (lihat pula surah Al A’raaf: 133-135).
[25] Merasa tinggi dengan kebatilannya dan telah tertipu oleh kerajaannya. Harta dan tentaranya juga telah membuatnya bersikap melampaui batas.
[26] Yakni aku rajanya dan yang berkuasa bertindak di dalamnya.
[27] Yang berasal dari sungai Nil.
[28] Yakni di bawah istanaku.
[29] Kebesaran dan kerajaanku yang panjang dan lebar. Hal ini termasuk kebodohannya yang dalam, karena ia berbangga dengan sesuatu yang berada di luar dirinya dan tidak berbangga dengan sifat-sifat terpuji dan perbuatan yang baik.
[30] Hal itu karena Beliau tidak fasih lisannya. Ini bukanlah aib jika Beliau masih bisa menerangkan isi hatinya meskipun berat dalam mengucapkan.
[31] Maksudnya, mengapa Tuhan tidak memakaikan gelang emas kepada Musa, sebab menurut kebiasaan mereka apabila seseorang akan diangkat menjadi pemimpin, mereka mengenakan gelang dan kalung emas kepadanya sebagai tanda kebesaran.
[32] Sambil menjadi saksi atas kebenarannya, membantu dakwahnya dan menguatkan ucapannya.
[33] Dengan syubhat yang ditampilkannya yang sesungguhnya tidak ada hakikatnya, yang bukan dalil terhadap yang hak maupun yang batil; syubhat yang hanya laku di kalangan orang yang lemah akal. Mana dalil yang menunjukkan bahwa Fir’aun adalah orang yang benar dalam pernyataannya bahwa dirinya sebagai raja Mesir dan sungai-sungai mengalir di bawah istananya. Apakah di sana terdapat dalil yang menunjukkan batilnya apa yang dibawa Nabi Musa ‘alaihis salam hanya karena pengikutnya sedikit, lisannya tidak fasih dan karena Allah tidak memberinya perhiasan selain hanya karena Beliau bertemu dengan para pemuka yang tidak berakal yang selalu mengikuti ucapan pimpinannya; benar atau salah.
[34] Oleh karena kefasikannya, Allah jadikan Fir’aun untuk mereka; dimana dia menghias kesyirkkan dan keburukan kepada mereka.
[35] Agar mereka tidak melakukan hal yang sama dengannya.
أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ أَوْ تَهْدِي الْعُمْيَ وَمَنْ كَانَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٤٠) فَإِمَّا نَذْهَبَنَّ بِكَ فَإِنَّا مِنْهُمْ مُنْتَقِمُونَ (٤١) أَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِي وَعَدْنَاهُمْ فَإِنَّا عَلَيْهِمْ مُقْتَدِرُونَ (٤٢) فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٤٣) وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ (٤٤) وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ (٤٥)
Terjemah Surat Az Zukhruf Ayat 40-45
40. [1]Maka apakah engkau (Muhammad) dapat menjadikan orang yang tuli bisa mendengar, atau (dapatkah) engkau memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya), dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata[2]?
41. [3]Sungguh, sekiranya Kami mewafatkan kamu[4], maka sesungguhnya Kami akan tetap memberikan azab mereka (di akhirat),
42. atau Kami perlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka[5]. Maka sungguh, Kami berkuasa atas mereka[6].
43. [7]Maka berpegang teguhlah kamu kepada (agama) yang telah diwahyukan kepadamu[8]. Sungguh, engkau berada di jalan yang lurus[9].
44. Dan sungguh, Al Quran itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu[10], dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban[11].
45. Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau[12], "Apakah kami menentukan tuhan-tuhan selain Allah Yang Maha Pengasih untuk disembah?"[13]
Ayat 46-56: Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam dengan Fir’aun yang merupakan kisah pertarungan antara kebenaran dengan kebatilan, dan bahwa kemenangan akan selalu diraih oleh kebenaran dan orang-orang yang berpegang di atasnya.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَقَالَ إِنِّي رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٤٦) فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِآيَاتِنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَضْحَكُونَ (٤٧)وَمَا نُرِيهِمْ مِنْ آيَةٍ إِلا هِيَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَا وَأَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٤٨) وَقَالُوا يَا أَيُّهَا السَّاحِرُ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ إِنَّنَا لَمُهْتَدُونَ (٤٩) فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ (٥٠) وَنَادَى فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الأنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلا تُبْصِرُونَ (٥١) أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلا يَكَادُ يُبِينُ (٥٢) فَلَوْلا أُلْقِيَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ جَاءَ مَعَهُ الْمَلائِكَةُ مُقْتَرِنِينَ (٥٣) فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ (٥٤) فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ (٥٥)فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلا لِلآخِرِينَ (٥٦)
Terjemah Surat Az Zukhruf Ayat 46-56
46. [14]Dan sunguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami[15] kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka dia (Musa) berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seluruh alam[16].”
47. Maka ketika dia (Musa) datang kepada mereka membawa mukjizat-mukjizat Kami, seketika itu mereka mentertawakannya[17].
48. Dan tidaklah Kami perlihatkan suatu mukjizat kepada mereka kecuali (mukjizat itu) lebih besar dari mukjizat-mukjizat (yang sebelumnya). Dan Kami timpakan kepada mereka azab[18] agar mereka kembali (ke jalan yang benar)[19].
49. Dan mereka berkata[20], "Wahai pesihir[21]! Berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu[22]; Sesungguhnya kami (jika doamu dikabulkan) akan menjadi orang yang mendapat petunjuk.”
50. Maka ketika Kami hilangkan azab itu dari mereka[23], ketika itu (juga) mereka ingkar janji[24].
51. Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata[25], "Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku[26] dan (bukankah) sungai-sungai[27] ini mengalir di bawahku[28]; apakah kamu tidak melihat[29]?
52. Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)[30]?
53. Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas[31], atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya[32]?"
54. Maka Fir'aun (dengan perkataan itu) telah mempengaruhi kaumnya[33], sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik[34].
55. Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami hukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),
56. dan Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu, dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian[35].
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman kepada Rasul-Nya memberinya hiburan karena orang-orang yang mendustakan tidak mau memenuhi seruan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, dan bahwa mereka tidak memiliki kebaikan sama sekali serta tidak memiliki sifat baik yang membuat mereka mendatangi petunjuk.
[2] Dia tersesat dalam keadaan tahu bahwa dirinya tersesat dan ridha dengannya.
[3] Sebagaimana orang yang tuli tidak dapat mendengar suara, orang yang buta tidak dapat melihat dan orang yang sesat dengan kesesatan yang nyata tidak mendapatkan petunjuk, maka mereka ini telah rusak fitrah dan akalnya karena berpaling dari peringatan dan mengadakan keyakinan yang baru dan sifat yang buruk yang menghalangi mereka dari petunjuk dan mengharuskan mereka bertambah sengsara, sehingga tidak tersisa lagi bagi mereka selain azab dan hukuman baik di dunia maupun di akhirat.
[4] Yakni sebelum engkau mencapai kemenangan atau sebelum memperlihatkan azab yang dijanjikan-Nya kepada mereka, maka ketahuilah Kami tetap akan memberikan azab kepada mereka.
[5] Maksudnya ialah kemenangan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kehancuran kaum musyrik.
[6] Akan tetapi hal itu sesuai kebijaksanaan-Nya untuk menangguhkan azab atau menyegerakannya. Inilah keadaan engkau dan keadaan orang-orang yang mendustakanmu.
[7] Yakni adapun engkau, maka berpeganglah…dst.
[8] Baik dengan mengerjakannya maupun bersifat dengannya, demikian pula mendakwahkannya dan berusaha mewujudkannya (berpegang teguh itu) baik pada dirimu maupun pada diri orang lain.
[9] Yang menyampaikan kepada Allah dan kepada surga-Nya. Hal ini mengharuskan engkau berpegang kepada agama-Nya dengan kuat dan menjadikannya petunjuk, jika engkau mengetahui bahwa engkau berada di atas yang hak, di atas keadilan, dan kebenaran, dan engkau berada di atas bangunan yang berpondasi kuat, sedangkan orang lain berada di atas bangunan yang mudah roboh; di atas keraguan, persangkaan, dan kezaliman.
[10] Bisa juga diartikan sebagai kemuliaan dan ketinggian bagimu serta nikmat yang tidak dapat diukur besarnya, demikian pula mengingatkan kamu sesuatu yang di sana terdapat kebaikan di dunia maupun di akhirat, mendorongmu kepadanya, serta mengingatkan kamu kepada keburukan dan menakut-nakuti kamu darinya.
[11] Yakni yang terkait dengan Al Qur’an itu; apakah kamu sudah memenuhi haknya sehingga Al Qur’an menjadi hujjah bagimu atau malah tidak memenuhinya sehingga Al Qur’an menjadi hujjah atasmu.
[12] Ada yang berpendapat, bahwa perintah ini sesuai zhahirnya, yaitu pada malam Beliau berisraa’-mi’raj dikumpulkan para rasul kepada Beliau, lalu Beliau diperintahkan untuk bertanya kepada para rasul, namun Beliau sudah cukup yakin sehingga tidak bertanya. Namun kebanyakan para mufassir berkata, “(Maksudnya) bertanyalah kepada orang-orang mukmin dari Ahli Kitab yang para nabi diutus kepada mereka, bukankah para rasul datang membawa tauhid?” Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dalam semua riwayat, Mujahid, Qatadah, Adh Dhahhak, As Suddiy, Al Hasan dan dua orang Muqatil. Hal ini ditunjukkan pula oleh qiraat Abdullah (Ibnu Mas’ud) dan Ubay, “Was ‘alilladziina ar salnaa ilaihim qablaka rusulanaa.”
Perintah untuk bertanya ini adalah untuk menyatakan kepada kaum musyrik Quraisy, bahwa tidak ada satu pun rasul maupun kitab yang memerintahkan beribadah kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[13] Ayat ini menunjukkan bahwa semua para rasul menyuruh menyembah Allah dan menjauhi sesembahan selain-Nya. Demikian pula menunjukkan bahwa kaum musyrik tidak memiliki sandaran dalam syriknya, baik dari akal yang sehat maupun nukilan dari para rasul.
[14] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau, "Apakah kami menentukan tuhan-tuhan selain Allah Yang Maha Pengasih untuk disembah?", maka Dia menerangkan keadaan Musa dan dakwahnya yang sudah masyhur.
[15] Yang menunjukkan kebenaran kerasulannya dan apa yang Beliau serukan, seperti tongkat, ular, pengiriman belalang dan kutu, dll.
[16] Beliau mengajak mereka mengakui Tuhan mereka (Allah) dan melarang mereka beribadah kepada selain-Nya.
[17] Mereka menolak dan mengingkarinya serta memperolok-oloknya dengan sikap zalim dan sombong, sehingga hal itu bukan karena mukjizatnya yang kurang dan tidak jelasnya ayat-ayatnya. Oleh karena itulah di ayat selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan tidaklah Kami perlihatkan suatu mukjizat kepada mereka kecuali (mukjizat itu) lebih besar dari mukjizat-mukjizat (yang sebelumnya).”
[18] Yang dimaksud azab di sini ialah azab duniawi sebagai cobaan dari Allah seperti kurangnya makanan, berjangkitnya hama tumbuh-tumbuhan, merebaknya belalang, katak, darah dsb.
[19] Agar mereka beriman dan tidak berbuat syrik dan berbuat buruk.
[20] Ketika azab itu menimpa mereka.
[21] Yang mereka maksud dengan pesihir di sini ialah Nabi Musa ‘alaihis salam. Ucapan ini bisa maksudnya memperolok-olok Beliau dan bisa maksudnya sebagai ucapan penghormatan mereka kepada Beliau, karena mereka menyangka bahwa ulama mereka adalah para pesihir.
[22] Yakni dengan keistimewaan yang Allah berikan kepadamu berupa keutamaan dan kelebihan.
[23] Dengan doa Musa.
[24] Mereka tidak memenuhi janji mereka untuk beriman dan mereka tetap di atas kekafiran (lihat pula surah Al A’raaf: 133-135).
[25] Merasa tinggi dengan kebatilannya dan telah tertipu oleh kerajaannya. Harta dan tentaranya juga telah membuatnya bersikap melampaui batas.
[26] Yakni aku rajanya dan yang berkuasa bertindak di dalamnya.
[27] Yang berasal dari sungai Nil.
[28] Yakni di bawah istanaku.
[29] Kebesaran dan kerajaanku yang panjang dan lebar. Hal ini termasuk kebodohannya yang dalam, karena ia berbangga dengan sesuatu yang berada di luar dirinya dan tidak berbangga dengan sifat-sifat terpuji dan perbuatan yang baik.
[30] Hal itu karena Beliau tidak fasih lisannya. Ini bukanlah aib jika Beliau masih bisa menerangkan isi hatinya meskipun berat dalam mengucapkan.
[31] Maksudnya, mengapa Tuhan tidak memakaikan gelang emas kepada Musa, sebab menurut kebiasaan mereka apabila seseorang akan diangkat menjadi pemimpin, mereka mengenakan gelang dan kalung emas kepadanya sebagai tanda kebesaran.
[32] Sambil menjadi saksi atas kebenarannya, membantu dakwahnya dan menguatkan ucapannya.
[33] Dengan syubhat yang ditampilkannya yang sesungguhnya tidak ada hakikatnya, yang bukan dalil terhadap yang hak maupun yang batil; syubhat yang hanya laku di kalangan orang yang lemah akal. Mana dalil yang menunjukkan bahwa Fir’aun adalah orang yang benar dalam pernyataannya bahwa dirinya sebagai raja Mesir dan sungai-sungai mengalir di bawah istananya. Apakah di sana terdapat dalil yang menunjukkan batilnya apa yang dibawa Nabi Musa ‘alaihis salam hanya karena pengikutnya sedikit, lisannya tidak fasih dan karena Allah tidak memberinya perhiasan selain hanya karena Beliau bertemu dengan para pemuka yang tidak berakal yang selalu mengikuti ucapan pimpinannya; benar atau salah.
[34] Oleh karena kefasikannya, Allah jadikan Fir’aun untuk mereka; dimana dia menghias kesyirkkan dan keburukan kepada mereka.
[35] Agar mereka tidak melakukan hal yang sama dengannya.
Tafsir Az Zukhruf Ayat 26-39
Ayat 26-35: Keteguhan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam di atas kalimat tauhid, berlepas dirinya dari penyembahan kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala, protes kaum musyrik terhadap kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan penjelasan terhadap kerendahan dunia di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ (٢٦) إِلا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ (٢٧) وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٢٨) بَلْ مَتَّعْتُ هَؤُلاءِ وَآبَاءَهُمْ حَتَّى جَاءَهُمُ الْحَقُّ وَرَسُولٌ مُبِينٌ (٢٩) وَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ وَإِنَّا بِهِ كَافِرُونَ (٣٠) وَقَالُوا لَوْلا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ (٣١) أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (٣٢)وَلَوْلا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فَضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ (٣٣) وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ (٣٤) وَزُخْرُفًا وَإِنْ كُلُّ ذَلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةُ عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ (٣٥)
Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 26-35
26. [1]Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya[2] dan kaumnya[3], "Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah[4],
27. kecuali (aku menyembah) Allah yang mencipatakanku[5]; karena sungguh, Dia akan memberi petunjuk kepadaku[6].”
28. Dan (lbrahim ‘alaihis salam) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya[7] agar mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu)[8].
29. Bahkan Aku telah memberikan kenikmatan hidup kepada mereka[9] dan nenek moyang mereka[10] sampai kebenaran (Al Qur’an) datang kepada mereka bersama seorang Rasul yang memberi penjelasan[11].
30. Tetapi ketika kebenaran (Al Qur’an)[12] itu datang kepada mereka, mereka berkata, "Ini adalah sihir, dan sesungguhnya kami mengingkarinya[13].”
31. Dan mereka juga berkata[14], "Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu (di antara) dua negeri ini (Mekah dan Thaif)[15]?"
32. [16]Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu[17]? [18]Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia[19], dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain[20]. Dan rahmat Tuhanmu[21] lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan[22].
33. [23]Dan sekiranya bukan karena menghindarkan manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), pastilah sudah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada (Allah) Yang Maha Pengasih loteng-loteng rumah mereka dari perak, demikian pula tangga-tangga (perak) yang mereka naiki,
34. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan tempat mereka bersandar,
35. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan dari emas[24]. Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, sedangkan kehidupan akhirat di sisi Tuhanmu disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Ayat 36-39: Permusuhan yang terjadi antara setan dan bala tentaranya dengan hamba-hamba Allah; orang yang berakal adalah orang yang sadar terhadapnya.
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (٣٦)وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ (٣٧) حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ (٣٨)وَلَنْ يَنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذْ ظَلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِي الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ (٣٩)
Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 36-39
36. [25]Barang siapa berpaling dari pengajaran Allah[26] Yang Maha Pengasih (Al Quran), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.
37. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk[27].
38. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (pada hari Kiamat) dia berkata, "Wahai! Sekiranya (jarak) antara aku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat! Memang setan itu teman yang paling jahat (bagi manusia).”
39. Dan (harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu pada hari itu karena kamu telah menzalimi (dirimu sendiri)[28]. Sesungguhnya kamu pantas bersama-sama dalam azab itu[29].
KANDUNGAN AYAT
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang agama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dimana orang-orang Ahli Kitab dan kaum musyrik menisbatkan diri kepada Beliau, dan masing-masing mereka menyangka bahwa mereka berada di atas jalan Beliau, maka dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang agama Beliau yang diwariskannya kepada anak cucunya.
[2] Di antara mufassir ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Abiihi (bapaknya) ialah pamannya.
[3] Ayah dan kaumnya menyembah selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[4] Maksudnya, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak menyembah berhala-berhala yang disembah kaumnya, membencinya, menjauhinya dan memusuhi orang-orang yang menyembahnya.
[5] Dialah yang aku sembah.
[6] Yakni aku berharap Dia memberiku petunjuk kepada ilmu terhadap yang hak dan mengamalkannya. Sebagaimana Dia telah menciptakanku dan mengurusku dengan sesuatu yang memperbaiki fisik dan duniaku, maka Dia akan menunjuki pula aku terhadap hal yang bermaslahat bagi agamaku dan akhiratku.
[7] Oleh karena itu, senantiasa pada keturunan Beliau ada orang yang mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla.
[8] Maksudnya, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menjadikan kalimat tauhid sebagai pegangan bagi keturunannya sehingga kalau di antara mereka ada orang yang mempersekutukan Allah agar mereka kembali kepada tauhid itu, karena sudah masyhurnya kalimat itu dari Beliau dan karena ia merupakan wasiat Beliau kepada keturunannya. Kalimat ini tetap ada pada keturunannya sampai mereka didatangi oleh kemewahan hidup dan sikap melampaui batas.
[9] Yakni orang-orang musyrik.
[10] Dengan berbagai kesenangan, sehingga hal itu (kesenangan) menjadi tujuan.
[11] Di antara keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam itu ada yang melupakan tauhid dan Allah tidak mengazab mereka tetapi memberikan kenikmatan dan kehidupan kepada mereka yang seharusnya mereka syukuri. Namun mereka tidak mensyukurinya, malah menuruti hawa nafsunya, karena itu Allah menurunkan Al Quran dan mengutus seorang Rasul untuk membimbing mereka dan menjelaskan hukum-hukum syar’i. Benarnya kerasulan Beliau dapat dilihat dari akhlak Beliau, mukjizatnya, apa yang Beliau bawa, Beliau membenarkan para rasul sebelumnya, dan dapat dilihat pula dari inti dakwahnya.
[12] Dimana kebenaran itu mengharuskan orang yang memiliki akal meskipun kurang sempurna untuk menerima dan tunduk kepadanya.
[13] Ini merupakan penentangan yang paling keras, dimana mereka tidak hanya berpaling dan mengingkari, bahkan mereka belum puas sampai mencacatkan kebenaran dan memperburuk citranya dan menganggapnya sebagai sihir yang tidak dilakukan kecuali oleh orang yang paling buruk dan paling besar kedustaannya, dan yang membuat mereka begitu adalah karena sikap melampaui batas mereka karena Allah telah menganugerahkan kesenangan kepada mereka dan nenek moyang mereka.
[14] Memberikan usulan berdasarkan akal mereka yang rusak.
[15] Mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, karena menurut pikiran mereka, seorang yang diutus menjadi Rasul itu hendaklah seorang yang kaya raya dan berpengaruh.
Kalau sekiranya mereka mengetahui hakikat laki-laki sejati dan sifat yang dengannya diketahui tingginya kedudukan seseorang di sisi Allah maupun di sisi makhluk-Nya, tentu mereka akan mengetahui, bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib adalah laki-laki yang paling besar kedudukannya, paling tinggi kemuliaannya, paling sempurna akalnya, paling banyak ilmunya, paling tajam dan kuat pendapatnya, paling sempurna akhlaknya, paling luas kasih sayangnya, paling banyak memberikan petunjuk dan paling takwa kepada-Nya. Beliau adalah laki-laki yang paling sempurna, laki-laki nomor satu di dunia; diakui oleh kawan maupun lawan. Oleh karena itu, hanya orang yang dungu saja yang tidak mengakui keutamaan dan kemuliaan Beliau, yaitu orang-orang yang berdoa dan beribadah kepada sesuatu yang lebih lemah dari dirinya, seperti patung, berhala, batu, pohon, dsb. yang tidak dapat menimpakan bahaya dan tidak dapat memberikan manfaat, tidak dapat memberi dan menghalangi, bahkan menjadi beban bagi penyembahnya, perlu diurusnya dan dijaga. Bukankah ini menunjukkan kebodohannya dan tidak dapat menimbang sesuatu secara adil dan tepat?
[16] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman membantah usulan mereka.
[17] Maksudnya, apakah mereka yang menyimpan rahmat Tuhanmu (seperti kenabian, dsb.) dan di tangan mereka hak mengaturnya, sehingga mereka memberikan kenabian dan kerasulan kepada orang yang mereka kehendaki dan mencegahnya dari orang yang mereka kehendaki.
[18] Jika penghidupan manusia dan rezeki mereka di tangan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, Dia yang membagikannya di antara hamba-hamba-Nya, Dia yang melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya kepada siapa yang Dia kehendaki sesuai kebijaksanaan-Nya, maka rahmat agama; dimana yang paling tinggi adalah kenabian dan kerasulan lebih patut berada di Tangan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, sehingga Dialah yang paling tahu dimanakah Dia menaruh risalah-Nya. Dari sini diketahui, bahwa usulah mereka gugur dengan sendirinya, dan bahwa mengatur segala urusan baik yang terkait dengan agama maupun dunia adalah di Tangan Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja. Hal ini untuk menundukkan mereka dari sisi kesalahan mereka dalam memberikan usulan yang bukan di tangan mereka urusan tentang hal itu, bahkan hal itu sebenarnya sikap zalim mereka dan penolakan terhadap yang hak.
[19] Yakni oleh karena itu, Kami jadikan sebagian mereka sebagai orang kaya dan sebagian lagi sebagai orang miskin.
[20] Dalam ayat ini terdapat pengingat dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap hikmah mengapa Dia melebihkan sebagian hamba di atas sebagian yang lain di dunia, yaitu agar sebagian dapat dimanfaatkan oleh orang lain dengan mendapat upah. Jika seandainya manusia semuanya sama kaya, dan sebagiannya tidak membutuhkan yang lain, maka tentu banyak maslahat mereka yang hilang.
[21] Yaitu surga.
[22] Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa nikmat agama jauh lebih baik daripada nikmat dunia.
[23] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa dunia tidak ada artinya apa-apa di sisi-Nya, dan kalau bukan karena kelembutan dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, tentu Dia akan meluaskan dunia kepada orang-orang kafir dengan seluas-luasnya.
[24] Yakni kalau bukan karena dikhawatirkan orang-orang mukmin akan kafir karena orang-orang kafir diberikan semua kesenangan itu, tentu Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberikan semua yang disebutkan itu karena rendahnya kedudukan dunia di sisi Allah dan tidak ada artinya dengan kenikmatan di akhirat.
Ayat ini menunjukkan bahwa Dia menghalangi hamba-hamba-Nya sebagian kesenangan dunia baik secara umum maupun khusus karena maslahat mereka, dan bahwa dunia di sisi Allah tidak memiliki arti apa-apa sampai saking rendahnya tidak menyamai beratnya sayap nyamuk, dan bahwa semua yang disebutkan adalah kesenangan hidup di dunia yang memiliki kekurangan, sementara dan akan binasa, dan bahwa akhirat (surga) di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, karena kenikmatannya sempurna, kekal dan semua yang diinginkan ada.
[25] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang hukuman-Nya yang besar bagi orang yang berpaling dari peringatan-Nya.
[26] Yaitu Al Qur’anul Karim yang merupakan rahmat terbesar yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya.
Barang siapa yang menerimanya, maka ia telah menerima pemberian terbaik, berhasil memperoleh harapan yang paling besar, dan barang siapa yang berpaling darinya dan menolaknya, maka ia telah rugi dengan kerugian yang tidak ada lagi kebahagiaan setelahnya, dan Allah Yang Maha Pengasih akan menyerahkan untuknya setan yang durhaka sebagai kawannya yang menemani, yang menjanjikan dan membuatnya berangan-angan serta mendorongnya berbuat maksiat.
* siapa yang lalai dari Al Qur’an, lalai dari dzikir, lalai dari shalat dan ibadah, maka akan mudah diganggu setan
[27] Hal ini disebabkan penghiasan dari setan kepada kebatilan dan berpalingnya mereka dari yang hak.
Jika seorang berkata, “Apakah ia bisa diterima uzurnya, yaitu karena ia mengira bahwa hal itu sebagai petunjuk?” Maka dijawab, bahwa orang itu dan yang sepertinya tidak bisa diterima uzurnya karena sumber kebodohan mereka adalah berpaling dari peringatan Allah padahal mampu mengambilnya sebagai petunjuk; mereka tidak suka petunjuk padahal mampu memperolehnya, dan mereka juga senang kepada yang batil.
Inilah keadaan orang yang berpaling dari mengingat Allah di dunia bersama kawannya yaitu setan, ia berada dalam kesesatan, kebodohan dan terbaliknya hakikat yang sebenarnya. Adapun keadaannya ketika datang menghadap Tuhannya, maka lebih buruk lagi, ia akan menampakkan penyesalan dan kesedihan yang tidak dapat ditutupi, dan berlepas diri dari kawannya itu (lihat ayat 38 surah ini).
[28] Dengan kekafiran dan kemaksiatan.
[29] Kebersamaan mereka dalam azab tidaklah memberikan manfaat apa-apa bagi mereka, demikian pula mereka tidak mendapatkan ruh hiburan saat tertimpa musibah, karena biasanya ketika di dunia saat seseorang tertimpa musibah, lalu ada orang lain pula yang mendapatkan musibah, maka musibah itu terasa ringan dan sebagiannya menghibur yang lain. Adapun musibah di akhirat, maka musibah itu menghimpun semua siksa, di dalamnya tidak ada istirahat meskipun sebentar. Ya Allah, masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka.
Tafsir Az Zukhruf Ayat 15-25
Ayat 15-25: Bantahan terhadap anggapan kaum musyrik, penyucian Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari anak dan sekutu, serta celaan terhadap taqlid buta yang membuat akal beku.
وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا إِنَّ الإنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ (١٥) أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ وَأَصْفَاكُمْ بِالْبَنِينَ (١٦) وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَنِ مَثَلا ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (١٧) أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ (١٨) وَجَعَلُوا الْمَلائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ (١٩) وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ مَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ (٢٠) أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِ فَهُمْ بِهِ مُسْتَمْسِكُونَ (٢١) بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ (٢٢) وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ (٢٣) قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (٢٤) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (٢٥)
15. [1]Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya[2]. Sungguh, manusia itu[3] pengingkar (nikmat Allah) yang nyata.
16. Pantaskah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan memberikan anak laki-laki kepadamu?
17. Dan apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa (kelahiran anak perempuan) yang dijadikan sebagai perumpamaan bagi Allah Yang Maha Pengasih, jadilah wajahnya hitam pekat karena menahan sedih dan marah[4].
18. Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak mampu memberi alasan yang tegas dan jelas dalam pertengkaran[5].
19. Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih itu sebagai jenis perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan (malaikat-malaikat itu)? Kelak akan dituliskan kesaksian mereka[6] dan akan dimintakan pertanggungjawaban.
20. Dan mereka berkata, "Sekiranya Allah Yang Maha Pengasih menghendaki, tentulah Kami tidak menyembah mereka (malaikat)[7].” Mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Tidak lain mereka hanyalah menduga-duga belaka.
21. Atau apakah pernah Kami berikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Quran[8], lalu mereka berpegang dengan kitab itu?
22. Bahkan mereka berkata, "Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka.”
23. Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, "Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka[9].”
24. (Rasul itu) berkata, "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami mengingkari (agama) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya[10]."
25. Lalu Kami binasakan mereka[11], maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran)[12].
KANDUNGAN AYAT
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang kejinya ucapan orang-orang musyrik yang menjadikan anak untuk Allah, padahal Dia Maha Esa, bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tidak punya istri dan anak, dan tidak ada yang setara dengan-Nya, dan bahwa hal tersebut termasuk kebatilan yang paling batil karena beberapa sisi, di antaranya:
- Makhluk semuanya adalah hamba-Nya, dan keadaan sebagai hamba menolak sebagai anak.
- Anak merupakan bagian dari bapaknya, sedangkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala berbeda dengan makhluk-Nya. Berbeda sifat-Nya dan sifat-sifat kebesaran-Nya. Oleh karena itu, mustahil Allah Subhaanahu wa Ta'aala mempunyai anak.
- Mereka menyangka bahwa para malaikat adalah puteri-puteri Allah, padahal sudah menjadi maklum bahwa puteri merupakan bagian yang paling rendah, lalu bagaimana untuk Allah anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki. Apakah mereka lebih mulia dari Allah, Mahatinggi Allah dari hal itu dengan ketinggian yang besar.
- Bagian yang mereka nisbatkan kepada Allah adalah puteri, dimana bagian tersebut adalah bagian yang paling hina, paling mereka benci, bahkan saking bencinya mereka, ketika diberitakan kelahiran seorang anak perempuan wajahnya menjadi hitam, lalu bagaimana mereka menjadikan untuk Allah sesuatu yang mereka benci.
- Perempuan sifatnya memiliki kekurangan, termasuk dalam bicara dan dalam menjelaskan (lihat ayat 18).
- Mereka menjadikan para malaikat yang sesungguhnya sebagai hamba-hamba Allah sebagai perempuan, sehingga mereka berani terhadap para malaikat yang didekatkan, mengangkat mereka (para malaikat) dari kedudukan sebagai hamba sebagai sekutu bagi Allah dalam sesuatu yang menjadi kekhususan-Nya, selanjutnya mereka menurunkan kedudukan mereka (para malaikat) dari kedudukan laki-laki kepada kedudukan perempuan, maka Mahasuci Allah yang memperlihatkan bertentangannya orang yang berdusta terhadap-Nya dan menentang Rasul-Nya.
- Allah Subhaanahu wa Ta'aala membantah mereka (kaum musyrik), bahwa mereka tidak menyaksikan penciptaan malaikat, lalu bagaimana mereka berani berbicara terhadap sesuatu yang tidak mereka ketahui. Meskipun begitu, mereka akan ditanya tentang persaksian tersebut, akan dicatat dan akan diberikan siksa sebagai balasan.
[2] Maksudnya orang musyrikin mengatakan bahwa malaikat-malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah, padahal malaikat itu sebagian dari makhluk ciptaan-Nya.
[3] Yang mengatakan seperti itu.
[4] Maksud ayat ini ialah apabila dia diberi kabar tentang kelahiran anaknya yang perempuan, mukanya menjadi merah padam karena malu dan dia sangat marah, padahal dia sendiri mengatakan bahwa Allah mempunyai anak perempuan.
[5] Yakni tidak jelas hujjahnya dan tidak fasih mengungkapkan isi hatinya, lalu bagaimana mereka menisbatkannya kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala?
[6] Yaitu bahwa para malaikat adalah perempuan.
[7] Mereka ketika menyembah para malaikat berhujjah dengan kehendak Allah; hujjah yang senantiasa dipakai orang-orang musyrik, hujjah yang batil dengan sendirinya secara akal maupun syara’. Semua orang yang berakal tidak akan menerima berhujjah dengan qadar, dan jika tetap dilakukannya, maka pendiriannya tidak akan teguh karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memberikan kekuasaan kepada mereka untuk memilih jalan yang benar dan jalan yang salah, dan Dia telah menegakkan hujjah dengan mengutus Rasul-Nya untuk menerangkan jalan yang benar, tetapi mereka malah memilih jalan yang salah dengan kesadaran mereka. Adapun secara syara’ adalah karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala membatalkan berhujjah dengannya, Dia telah menegakkan hujjah sehingga tidak ada hujjah bagi seorang pun terhadapnya. Oleh karena itu Dia berfirman, “Mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Tidak lain mereka hanyalah menduga-duga belaka.”
[8] Yang memberitakan benarnya perbuatan dan ucapan mereka. Bahkan tidak demikian, sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai pemberi peringatan kepada mereka, sedangkan mereka sebelumnya tidak didatangi oleh pemberi peringatan. Dengan demikian, akal dan naql (kitab) tidak membenarkan perbuatan mereka, sehingga tidak ada lagi setelahnya selain kebatilan. Ya memang, mereka punya alasan, yang bukan hujjah, tetapi syubhat, dimana syubhat itu adalah syubhat yang paling lemah, yaitu mengikuti nenek moyang mereka yang sesat, dimana orang-orang kafir sejak dulu biasa menolak rasul karena alasan mengikuti nenek moyang.
[9] Oleh karena itu, mereka bukanlah orang pertama yang menolak rasul dengan alasan mengikuti nenek moyang, dan mereka bukanlah orang yang pertama mengucapkan kata-kata itu.
# Berhujjahnya mereka (kaum musyrik) dengan mengikuti nenek moyang mereka bukanlah tujuannya mengikuti yang hak dan mengikuti petunjuk, ia hanyalah sebatas fanatik yang maksudnya membela kebatilan mereka.
# Sesungguhnya orang-orang yang taklid ini, mengamalkan ajaran agama mereka hanyalah dengan pendapat para pendahulu mereka yang diwarisi secara turun-temurun. Apabila datang seorang juru dakwah yang mengajak mereka keluar dari kesesatan, kembali kepada al-haq, atau menjauhkan mereka dari kebid’ahan yang mereka yakini dan warisi dari para pendahulu mereka itu tanpa didasari dalil yang jelas—hanya berdasarkan katanya dan katanya
[10] Dari sini diketahui, bahwa mereka tidak ingin mengikuti yang hak dan mengikuti petunjuk, maksud mereka adalah mengikuti yang batil dan hawa nafsu.[11] Karena pendustaan mereka terhadap yang hak dan penolakan mereka kepadanya dengan syubhat yang batil ini.
[12] Oleh karena itu, hendaknya mereka ini takut jika terus menerus mendustakan akan ditimpa hal yang sama seperti yang menimpa generasi sebelum mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)
