Ayat 51-59: Keadaan orang-orang yang bertakwa di surga dan kenikmatannya dan peringatan agar jangan mendustakan.
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ (٥١) فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (٥٢) يَلْبَسُونَ مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَقَابِلِينَ (٥٣) كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ (٥٤) يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ آمِنِينَ (٥٥) لا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلا الْمَوْتَةَ الأولَى وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (٥٦) فَضْلا مِنْ رَبِّكَ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (٥٧)فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (٥٨) فَارْتَقِبْ إِنَّهُمْ مُرْتَقِبُونَ (٥٩)
Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 51-59
51. [1]Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman,
52. (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air,
53. mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadapan[2],
54. demikianlah[3], kemudian Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari[4] yang bermata jeli.
55. Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan[5] dengan aman dan tenteram[6],
56. mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya, selain kematian (pertama) di dunia. Allah melindungi mereka dari azab neraka,
57. Itu merupakan karunia dari Tuhanmu[7]. Demikian itulah kemenangan yang agung[8].
58. Sungguh, Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu[9] agar mereka mendapat pelajaran[10].
59. Maka tunggulah[11]; sungguh, mereka itu (juga sedang) menunggu[12].
[1] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang ketika di dunia menjaga diri dari kemurkaan dan azab-Nya dengan meninggalkan maksiat dan mengerjakan ketaatan, sehingga mereka memperoleh keridhaan Allah dan pahala-Nya. Mereka berada dalam naungan yang teduh karena banyak pepohonan dan buah-buahan serta mata air, di bawahnya mengalir sungai-sungai dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya.
[2] Dengan santai yang sempurna, tenang, saling mencintai, berhubungan baik dan beradab baik.
[3] Kenikmatan dan kesenangan yang sempurna itu.
[4] Yakni wanita-wanita yang cantik.
[5] Baik yang ada namanya di dunia maupun yang tidak ada namanya serta tidak ada bandingannya di dunia. Buah-buahan itu ada pada saat itu di hadapan mereka tanpa susah payah memperolehnya.
[6] Maksudnya, mereka aman dari dikeluarkan dari surga dan aman dari kematian.
[7] Mendapatkan nikmat dan terhindar dari azab termasuk karunia Allah kepada mereka dan kemurahan-Nya karena Allah yang memberi mereka taufiq untuk mengerjakan amal saleh sehingga mereka memperoleh kebaikan akhirat, serta memberikan kepada mereka apa yang tidak dicapai oleh amal mereka.
[8] Kemenangan apa yang lebih besar daripada memperoleh keridhaan Allah dan surga-Nya, serta selamat dari azab dan kemurkaan-Nya.
[9] Yakni Kami mudahkan Al Qur’an dengan bahasamu yang merupakan bahasa yang paling fasih secara mutlak dan paling agung sehingga lafaz dan maknanya mudah.
[10] Yakni mengingatkan mereka sesuatu yang bermanfaat bagi mereka sehingga mereka mengerjakannya, dan mengingatkan sesuatu yang terdapat madharrat sehingga mereka meninggalkannya.
[11] Kehancuran mereka.
[12] Kehancuranmu. Bisa juga diartikan, maka tunggulah apa yang dijanjikan Tuhanmu berupa kebaikan dan pertolongan, sesungguhnya mereka juga menunggu hal yang menimpa mereka berupa azab. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pengikutnya menunggu kebaikan di dunia dan akhirat, sedangkan musuh mereka menunggu keburukan di dunia dan akhirat.
Tampilkan postingan dengan label 044-Ad Dukhaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 044-Ad Dukhaan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 Mei 2014
Tafsir Ad Dukhaan Ayat 34-50
Ayat 34-39: Keingkaran kaum musyrik kepada kebangkitan dan pembatalan syubhat mereka, dan penjelasan bahwa sunnatullah berlaku dalam membinasakan kaum yang melampaui batas dan berdosa.
إِنَّ هَؤُلاءِ لَيَقُولُونَ (٣٤) إِنْ هِيَ إِلا مَوْتَتُنَا الأولَى وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَ (٣٥) فَأْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٣٦) أَهُمْ خَيْرٌ أَمْ قَوْمُ تُبَّعٍ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ أَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (٣٧) وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ (٣٨) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٣٩)
Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 34-39
34. Sesungguhnya mereka[1] itu pasti akan berkata,
35. "Tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami tidak akan dibangkitkan[2],
36. [3]maka hadirkanlah (kembali) nenek moyang kami jika kamu orang yang benar[4].”
37. [5]Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba'[6], dan orang-orang yang sebelum mereka yang telah Kami binasakan karena mereka adalah orang-orang yang sungguh berdosa[7].
38. [8]Dan tidaklah Kami bermain-main menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.
39. Tidaklah Kami ciptakan keduanya melainkan dengan haq (benar)[9], tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui[10].
Ayat 40-50: Ancaman bagi orang-orang kafir dengan azab pada hari ketika harta, anak dan kedudukan tidak lagi bermanfaat.
إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ مِيقَاتُهُمْ أَجْمَعِينَ (٤٠) يَوْمَ لا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئًا وَلا هُمْ يُنْصَرُونَ (٤١) إِلا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٤٢)إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ (٤٣) طَعَامُ الأثِيمِ (٤٤) كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ (٤٥)كَغَلْيِ الْحَمِيمِ (٤٦) خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ (٤٧)ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ (٤٨) ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ (٤٩) إِنَّ هَذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ (٥٠)
Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 40-50
40. Sungguh, hari keputusan[11] (hari Kiamat) adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya[12],
41. (yaitu) pada hari (ketika) seorang teman sama sekali tidak dapat memberi manfaat kepada teman lainnya, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan[13],
42. kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah[14]. Sungguh, Dia Mahaperkasa[15] lagi Maha Penyayang[16].
43. [17]Sungguh pohon zaqqum itu[18],
44. Makanan bagi orang yang banyak dosa.
45. Seperti cairan tembaga[19] yang mendidih di dalam perut,
46. seperti mendidihnya air yang sangat panas.
47. “Peganglah dia[20], kemudian seretlah dia sampai ke tengah-tengah neraka,
48. kemudian tuangkanlah di atas kepalanya azab (dari) air yang sangat panas.
49. “Rasakanlah, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang perkasa lagi mulia[21].
50. Sungguh, inilah azab yang dahulu kamu ragukan[22].
[1] Yaitu kaum musyrik yang mengingkari kebangkitan.
[2] Yakni menurut mereka, tidak ada kehidupan selain di dunia saja, setelah itu tidak ada kebangkitan, surga dan neraka.
[3] Selanjutnya mereka berkata dengan lancang dan berani kepada Tuhan mereka sambil mencoba melemahkan-Nya.
[4] Ini adalah usulan orang-orang yang bodoh lagi menentang. Padahal dimana letak keterkaitan kebenaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan dihadirkan kembali nenek moyang mereka, karena ayat-ayat telah membuktikan kebenaran apa yang Beliau bawa.
[5] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman.
[6] Kaum Tubba' ialah orang-orang Himyar di Yaman dan Tubba' adalah gelar raja-raja mereka.
[7] Yakni mereka (kaum musyrik) saat ini tidaklah lebih baik dari mereka, bahkan sama-sama berdosa. Oleh karena itu, hendaklah mereka menunggu apa yang telah menimpa saudara-saudara mereka dahulu dari kalangan orang-orang yang berdosa.
[8] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang sempurnanya kekuasaan-Nya dan sempurnanya hikmah (kebiaksanaan)-Nya, yaitu Dia tidaklah menciptakan langit dan bumi dengan main-main atau percuma saja tanpa faedah, bahkan Dia menciptakan keduanya dengan hak (kebenaran), mengandung yang hak, dan bahwa Dia menciptakan keduanya adalah agar mereka menyembah-Nya, agar Dia memerintah dan melarang hamba, memberi pahala dan memberi siksa.
[9] Yakni untuk menunjukkan kekuasaan dan keesaan Kami.
[10] Oleh karena itu, mereka tidak memikirkan penciptaan langit dan bumi.
[11] Pada hari itu Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan keputusan kepada hamba-hamba-Nya.
[12] Semuanya akan Allah kumpulkan pada hari itu, Dia menghadirkan mereka dan menghadirkan amal mereka dan pembalasan disesuaikan dengan amal mereka. Ketika itu seorang kerabat atau teman tidak dapat menolong kerabatnya atau temannya.
[13] Yakni dihindarkan dari azab Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[14] Mereka adalah kaum mukmin, dimana sebagian mereka memberi syafaat kepada yang lain dengan izin Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[15] Dalam memberikan hukuman kepada orang-orang kafir.
[16] Kepada orang-orang mukmin.
[17] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan tentang hari Kiamat dan bahwa pada hari itu Dia akan memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya, maka Dia menyebutkan bahwa mereka terbagi menjadi dua golongan; golongan yang menjadi penghuni surga dan golongan yang menjadi penghuni neraka. Adapun golongan penghuni neraka yaitu mereka yang melakukan dosa dengan mengerjakan kekufuran dan kemaksiatan, maka balasannya sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas.
[18] Zaqqum adalah jenis pohon yang tumbuh di neraka, pohon tersebut adalah pohon yang paling jelek dan paling buruk.
[19] Muhl dalam ayat tersebut juga bisa berarti nanah yang berbau busuk, dan akan panas sampai mendidih dalam perut mereka.
[20] Yakni orang yang berdosa itu. Perkataan ini diucapkan kepada malaikat Zabaniyyah.
[21] Ucapan ini merupakan ejekan baginya, dimana dia mengira bahwa tidak ada orang yang paling perkasa dan paling mulia daripadanya. Dia mengira bahwa dirinya adalah orang yang perkasa dan mampu meloloskan diri dari azab Allah, dan bahwa dirinya adalah orang yang mulia yang tidak mungkin ditimpa azab, maka pada hari itu tampak jelas, bahwa dirinya adalah orang yang lemah dan hina.
[22] Yakni sekarang kamu baru meyakininya.
إِنَّ هَؤُلاءِ لَيَقُولُونَ (٣٤) إِنْ هِيَ إِلا مَوْتَتُنَا الأولَى وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَ (٣٥) فَأْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٣٦) أَهُمْ خَيْرٌ أَمْ قَوْمُ تُبَّعٍ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ أَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (٣٧) وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ (٣٨) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٣٩)
Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 34-39
34. Sesungguhnya mereka[1] itu pasti akan berkata,
35. "Tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami tidak akan dibangkitkan[2],
36. [3]maka hadirkanlah (kembali) nenek moyang kami jika kamu orang yang benar[4].”
37. [5]Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba'[6], dan orang-orang yang sebelum mereka yang telah Kami binasakan karena mereka adalah orang-orang yang sungguh berdosa[7].
38. [8]Dan tidaklah Kami bermain-main menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.
39. Tidaklah Kami ciptakan keduanya melainkan dengan haq (benar)[9], tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui[10].
Ayat 40-50: Ancaman bagi orang-orang kafir dengan azab pada hari ketika harta, anak dan kedudukan tidak lagi bermanfaat.
إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ مِيقَاتُهُمْ أَجْمَعِينَ (٤٠) يَوْمَ لا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئًا وَلا هُمْ يُنْصَرُونَ (٤١) إِلا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٤٢)إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ (٤٣) طَعَامُ الأثِيمِ (٤٤) كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ (٤٥)كَغَلْيِ الْحَمِيمِ (٤٦) خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ (٤٧)ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ (٤٨) ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ (٤٩) إِنَّ هَذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ (٥٠)
Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 40-50
40. Sungguh, hari keputusan[11] (hari Kiamat) adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya[12],
41. (yaitu) pada hari (ketika) seorang teman sama sekali tidak dapat memberi manfaat kepada teman lainnya, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan[13],
42. kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah[14]. Sungguh, Dia Mahaperkasa[15] lagi Maha Penyayang[16].
43. [17]Sungguh pohon zaqqum itu[18],
44. Makanan bagi orang yang banyak dosa.
45. Seperti cairan tembaga[19] yang mendidih di dalam perut,
46. seperti mendidihnya air yang sangat panas.
47. “Peganglah dia[20], kemudian seretlah dia sampai ke tengah-tengah neraka,
48. kemudian tuangkanlah di atas kepalanya azab (dari) air yang sangat panas.
49. “Rasakanlah, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang perkasa lagi mulia[21].
50. Sungguh, inilah azab yang dahulu kamu ragukan[22].
[1] Yaitu kaum musyrik yang mengingkari kebangkitan.
[2] Yakni menurut mereka, tidak ada kehidupan selain di dunia saja, setelah itu tidak ada kebangkitan, surga dan neraka.
[3] Selanjutnya mereka berkata dengan lancang dan berani kepada Tuhan mereka sambil mencoba melemahkan-Nya.
[4] Ini adalah usulan orang-orang yang bodoh lagi menentang. Padahal dimana letak keterkaitan kebenaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan dihadirkan kembali nenek moyang mereka, karena ayat-ayat telah membuktikan kebenaran apa yang Beliau bawa.
[5] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman.
[6] Kaum Tubba' ialah orang-orang Himyar di Yaman dan Tubba' adalah gelar raja-raja mereka.
[7] Yakni mereka (kaum musyrik) saat ini tidaklah lebih baik dari mereka, bahkan sama-sama berdosa. Oleh karena itu, hendaklah mereka menunggu apa yang telah menimpa saudara-saudara mereka dahulu dari kalangan orang-orang yang berdosa.
[8] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang sempurnanya kekuasaan-Nya dan sempurnanya hikmah (kebiaksanaan)-Nya, yaitu Dia tidaklah menciptakan langit dan bumi dengan main-main atau percuma saja tanpa faedah, bahkan Dia menciptakan keduanya dengan hak (kebenaran), mengandung yang hak, dan bahwa Dia menciptakan keduanya adalah agar mereka menyembah-Nya, agar Dia memerintah dan melarang hamba, memberi pahala dan memberi siksa.
[9] Yakni untuk menunjukkan kekuasaan dan keesaan Kami.
[10] Oleh karena itu, mereka tidak memikirkan penciptaan langit dan bumi.
[11] Pada hari itu Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan keputusan kepada hamba-hamba-Nya.
[12] Semuanya akan Allah kumpulkan pada hari itu, Dia menghadirkan mereka dan menghadirkan amal mereka dan pembalasan disesuaikan dengan amal mereka. Ketika itu seorang kerabat atau teman tidak dapat menolong kerabatnya atau temannya.
[13] Yakni dihindarkan dari azab Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[14] Mereka adalah kaum mukmin, dimana sebagian mereka memberi syafaat kepada yang lain dengan izin Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[15] Dalam memberikan hukuman kepada orang-orang kafir.
[16] Kepada orang-orang mukmin.
[17] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan tentang hari Kiamat dan bahwa pada hari itu Dia akan memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya, maka Dia menyebutkan bahwa mereka terbagi menjadi dua golongan; golongan yang menjadi penghuni surga dan golongan yang menjadi penghuni neraka. Adapun golongan penghuni neraka yaitu mereka yang melakukan dosa dengan mengerjakan kekufuran dan kemaksiatan, maka balasannya sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas.
[18] Zaqqum adalah jenis pohon yang tumbuh di neraka, pohon tersebut adalah pohon yang paling jelek dan paling buruk.
[19] Muhl dalam ayat tersebut juga bisa berarti nanah yang berbau busuk, dan akan panas sampai mendidih dalam perut mereka.
[20] Yakni orang yang berdosa itu. Perkataan ini diucapkan kepada malaikat Zabaniyyah.
[21] Ucapan ini merupakan ejekan baginya, dimana dia mengira bahwa tidak ada orang yang paling perkasa dan paling mulia daripadanya. Dia mengira bahwa dirinya adalah orang yang perkasa dan mampu meloloskan diri dari azab Allah, dan bahwa dirinya adalah orang yang mulia yang tidak mungkin ditimpa azab, maka pada hari itu tampak jelas, bahwa dirinya adalah orang yang lemah dan hina.
[22] Yakni sekarang kamu baru meyakininya.
Tafsir Ad Dukhaan Ayat 17-33
Ayat 17-33: Pelajaran yang dapat diambil dari azab yang menimpa Fir’aun dan kaumnya, serta akibat sikapnya yang melampaui batas.
وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ (١٧) أَنْ أَدُّوا إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (١٨) وَأَنْ لا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ إِنِّي آتِيكُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (١٩) وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ (٢٠) وَإِنْ لَمْ تُؤْمِنُوا لِي فَاعْتَزِلُونِ (٢١) فَدَعَا رَبَّهُ أَنَّ هَؤُلاءِ قَوْمٌ مُجْرِمُونَ (٢٢) فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلا إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ (٢٣)وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ (٢٤) كَمْ تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (٢٥) وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ (٢٦) وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ (٢٧)كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ (٢٨) فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالأرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ (٢٩) وَلَقَدْ نَجَّيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنَ الْعَذَابِ الْمُهِينِ (٣٠) مِنْ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ كَانَ عَالِيًا مِنَ الْمُسْرِفِينَ (٣١) وَلَقَدِ اخْتَرْنَاهُمْ عَلَى عِلْمٍ عَلَى الْعَالَمِينَ (٣٢)وَآتَيْنَاهُمْ مِنَ الآيَاتِ مَا فِيهِ بَلاءٌ مُبِينٌ (٣٣)
Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 17-33
17. [1]Dan sungguh, sebelum mereka, Kami telah menguji kaum Fir'aun dan telah datang kepada mereka seorang Rasul yang mulia (Musa)[2],
18. (dengan berkata), "Serahkanlah[3] kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil yang kamu perbudak)[4]. Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dapat kamu percaya[5],
19. dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah[6]. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata[7].
20. [8]Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari ancamanmu untuk merajamku,
21. dan jika kamu tidak beriman kepadaku, maka biarkanlah aku[9] (memimpin Bani Israil).”
22. Kemudian dia (Musa) berdoa kepada Tuhannya, "Sungguh, mereka ini adalah kaum yang berdosa[10] (segerakanlah azab kepada mereka).”
23. (Allah berfirman), "Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar,
24. Dan biarkanlah laut itu terbelah[11]. Sesungguhnya mereka bala tentara yang akan ditenggelamkan.”
25. Betapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka tinggalkan,
26. juga kebun-kebun serta tempat-tempat kediaman yang indah,
27. dan kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana,
28. demikianlah, dan Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain (Bani Israil).
29. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka[12], dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu.
30. [13]Dan sungguh, telah Kami selamatkan Bani Israil dari siksaan yang menghinakan[14],
31. dari (siksaan) Fir'aun, sungguh, dia itu orang yang sombong[15], termasuk orang-orang yang melampaui batas[16].
32. Dan sungguh, Kami pilih mereka (Bani Israil) dengan ilmu (Kami)[17] di atas semua bangsa (pada masa itu)[18].
33. Dan Kami telah berikan kepada mereka di antara tanda-tanda (kekuasaan Kami) sesuatu yang di dalamnya terdapat nikmat yang nyata[19].
[1] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan pendustaan orang-orang yang mendustakan Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Dia menyebutkan bahwa mereka mempunyai pendahulu mereka yang sama mendustakan, yaitu kaum Fir’aun. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kisah mereka dengan Nabi Musa ‘alaihis salam dan apa yang Allah timpakan kepada mereka agar orang-orang yang mendustakan itu berhenti dari apa yang mereka pegang selama ini berupa kesyirkkan dan kekufuran.
[2] Pada diri Beliau (Nabi Musa ‘alaihis salam) terdapat kemuliaan dan akhlak yang mulia yang tidak ada pada orang lain.
[3] Yakni lepaskanlah mereka dari siksaanmu, karena mereka adalah keluargaku dan bangsa yang paling mulia di zaman ini. Kamu telah menzalimi dan memperbudak mereka dengan tanpa hak, maka lepaskanlah mereka agar beribadah kepada Tuhan mereka.
[4] Ayat ini juga bisa diartikan, “Lakukanlah apa yang aku seru kepadamu, yaitu beriman wahai hamba-hamba Allah.”
[5] Yakni dapat dipercaya terhadap risalah-Nya kepadaku, aku tidak akan menyembunyikannya meskipun sedikit, aku tidak menambah dan tidak pula mengurangi. Hal ini seharusnya membuat mereka tunduk secara sempurna kepadanya.
[6] Dengan enggan beribadah kepada-Nya serta bersikap sombong terhadap hamba-hamba Allah.
[7] Yaitu mukjizat dan dalil, namun ternyata mereka mendustakan Beliau dan hendak membunuh Beliau dengan mengancam akan merajam Beliau.
[8] Maka Nabi Musa ‘alaihis salam berlindung kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari ancaman itu.
[9] Yakni jika kamu tidak mau beriman kepadaku, maka jangan menggangguku. Tetapi mereka di samping tidak mau beriman malah menambah dengan mengganggunya.
[10] Yakni mereka telah mengerjakan dosa yang mengharuskan untuk disegerakan hukuman. Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa dengan menyebutkan keadaan mereka, dan ini adalah doa bil haal (dengan menyebutkan keadaan), dimana doa ini lebih dalam daripada doa dengan perkataan sebagaimana doa Nabi Musa ‘alaihisa salam ketika lapar, “Ya Rabbi, sesungguhnya aku butuh kepada kebaikan yang Engkau turunkan.” Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Beliau membawa pergi Bani Israil pada malam hari dan memberitahukan, bahwa Fir’aun dan kaumnya akan mengejar mereka.
[11] Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam membawa pergi Bani Israil pada malam hari sebagaimana yang Allah perintahkan, lalu Fir’aun mengejar mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Musa memukul laut. Lalu Musa memukulnya sehingga terbelahlah dua belas jalan, dan ketika itu air laut seperti gunung yang besar, lalu Musa dan kaumnya melintasinya. Setelah mereka melintasinya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Musa agar membiarkan laut seperti itu agar Fir’aun dan tentaranya melintasinya karena mereka akan ditenggelamkan. Ketika kaum Fir’aun telah masuk ke dalamnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan laut agar menyatu sehingga mereka (Fir’aun dan kaumnya) tenggelam semuanya, mereka mati dalam keadaan meninggalkan kesenangan yang banyak dari kehidupan dunia (lihat ayat 26-28 surah ini) dan Allah mewariskannya kepada Bani Israil yang sebelumnya diperbudak oleh mereka.
[12] Bahkan merasa senang dengan kematian mereka, karena mereka meninggalkan sesuatu yang buruk yang merusak bumi. Berbeda dengan orang-orang mukmin, maka bumi yang menjadi tempat shalat mereka akan menangisi mereka, demikian pula langit yang menjadi tempat naiknya amal mereka akan menangis.
[13] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan nikmat kepada Bani Israil.
[14] Yaitu pembunuhan anak laki-laki dan menjadikan kaum wanita sebagai pelayan.
[15] Dia sombong di muka bumi dengan tanpa hak.
[16] Yakni yang melanggar batasan Allah dan berani mengerjakan larangan-Nya.
[17] Yakni dengan pengetahuan Kami terhadap keadaan mereka dan layaknya mereka mendapatkan keutamaan itu.
[18] Allah melebihkan mereka pada masa itu dan memberi mereka nikmat yang tidak diberikan-Nya kepada selain mereka.
[19] Yang dimaksud tanda-tanda kekuasaan Allah ialah seperti naungan awan, turunnya manna dan salwa, terpancarnya air dari batu, terbelahnya laut merah. Itu semua merupakan hujjah atas mereka yang membuktikan kebenaran apa yang dibawa Nabi mereka Musa ‘alaihis salam.
وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ (١٧) أَنْ أَدُّوا إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (١٨) وَأَنْ لا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ إِنِّي آتِيكُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (١٩) وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ (٢٠) وَإِنْ لَمْ تُؤْمِنُوا لِي فَاعْتَزِلُونِ (٢١) فَدَعَا رَبَّهُ أَنَّ هَؤُلاءِ قَوْمٌ مُجْرِمُونَ (٢٢) فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلا إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ (٢٣)وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ (٢٤) كَمْ تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (٢٥) وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ (٢٦) وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ (٢٧)كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ (٢٨) فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالأرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ (٢٩) وَلَقَدْ نَجَّيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنَ الْعَذَابِ الْمُهِينِ (٣٠) مِنْ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ كَانَ عَالِيًا مِنَ الْمُسْرِفِينَ (٣١) وَلَقَدِ اخْتَرْنَاهُمْ عَلَى عِلْمٍ عَلَى الْعَالَمِينَ (٣٢)وَآتَيْنَاهُمْ مِنَ الآيَاتِ مَا فِيهِ بَلاءٌ مُبِينٌ (٣٣)
Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 17-33
17. [1]Dan sungguh, sebelum mereka, Kami telah menguji kaum Fir'aun dan telah datang kepada mereka seorang Rasul yang mulia (Musa)[2],
18. (dengan berkata), "Serahkanlah[3] kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil yang kamu perbudak)[4]. Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dapat kamu percaya[5],
19. dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah[6]. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata[7].
20. [8]Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari ancamanmu untuk merajamku,
21. dan jika kamu tidak beriman kepadaku, maka biarkanlah aku[9] (memimpin Bani Israil).”
22. Kemudian dia (Musa) berdoa kepada Tuhannya, "Sungguh, mereka ini adalah kaum yang berdosa[10] (segerakanlah azab kepada mereka).”
23. (Allah berfirman), "Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar,
24. Dan biarkanlah laut itu terbelah[11]. Sesungguhnya mereka bala tentara yang akan ditenggelamkan.”
25. Betapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka tinggalkan,
26. juga kebun-kebun serta tempat-tempat kediaman yang indah,
27. dan kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana,
28. demikianlah, dan Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain (Bani Israil).
29. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka[12], dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu.
30. [13]Dan sungguh, telah Kami selamatkan Bani Israil dari siksaan yang menghinakan[14],
31. dari (siksaan) Fir'aun, sungguh, dia itu orang yang sombong[15], termasuk orang-orang yang melampaui batas[16].
32. Dan sungguh, Kami pilih mereka (Bani Israil) dengan ilmu (Kami)[17] di atas semua bangsa (pada masa itu)[18].
33. Dan Kami telah berikan kepada mereka di antara tanda-tanda (kekuasaan Kami) sesuatu yang di dalamnya terdapat nikmat yang nyata[19].
[1] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan pendustaan orang-orang yang mendustakan Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Dia menyebutkan bahwa mereka mempunyai pendahulu mereka yang sama mendustakan, yaitu kaum Fir’aun. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kisah mereka dengan Nabi Musa ‘alaihis salam dan apa yang Allah timpakan kepada mereka agar orang-orang yang mendustakan itu berhenti dari apa yang mereka pegang selama ini berupa kesyirkkan dan kekufuran.
[2] Pada diri Beliau (Nabi Musa ‘alaihis salam) terdapat kemuliaan dan akhlak yang mulia yang tidak ada pada orang lain.
[3] Yakni lepaskanlah mereka dari siksaanmu, karena mereka adalah keluargaku dan bangsa yang paling mulia di zaman ini. Kamu telah menzalimi dan memperbudak mereka dengan tanpa hak, maka lepaskanlah mereka agar beribadah kepada Tuhan mereka.
[4] Ayat ini juga bisa diartikan, “Lakukanlah apa yang aku seru kepadamu, yaitu beriman wahai hamba-hamba Allah.”
[5] Yakni dapat dipercaya terhadap risalah-Nya kepadaku, aku tidak akan menyembunyikannya meskipun sedikit, aku tidak menambah dan tidak pula mengurangi. Hal ini seharusnya membuat mereka tunduk secara sempurna kepadanya.
[6] Dengan enggan beribadah kepada-Nya serta bersikap sombong terhadap hamba-hamba Allah.
[7] Yaitu mukjizat dan dalil, namun ternyata mereka mendustakan Beliau dan hendak membunuh Beliau dengan mengancam akan merajam Beliau.
[8] Maka Nabi Musa ‘alaihis salam berlindung kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari ancaman itu.
[9] Yakni jika kamu tidak mau beriman kepadaku, maka jangan menggangguku. Tetapi mereka di samping tidak mau beriman malah menambah dengan mengganggunya.
[10] Yakni mereka telah mengerjakan dosa yang mengharuskan untuk disegerakan hukuman. Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa dengan menyebutkan keadaan mereka, dan ini adalah doa bil haal (dengan menyebutkan keadaan), dimana doa ini lebih dalam daripada doa dengan perkataan sebagaimana doa Nabi Musa ‘alaihisa salam ketika lapar, “Ya Rabbi, sesungguhnya aku butuh kepada kebaikan yang Engkau turunkan.” Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Beliau membawa pergi Bani Israil pada malam hari dan memberitahukan, bahwa Fir’aun dan kaumnya akan mengejar mereka.
[11] Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam membawa pergi Bani Israil pada malam hari sebagaimana yang Allah perintahkan, lalu Fir’aun mengejar mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Musa memukul laut. Lalu Musa memukulnya sehingga terbelahlah dua belas jalan, dan ketika itu air laut seperti gunung yang besar, lalu Musa dan kaumnya melintasinya. Setelah mereka melintasinya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Musa agar membiarkan laut seperti itu agar Fir’aun dan tentaranya melintasinya karena mereka akan ditenggelamkan. Ketika kaum Fir’aun telah masuk ke dalamnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan laut agar menyatu sehingga mereka (Fir’aun dan kaumnya) tenggelam semuanya, mereka mati dalam keadaan meninggalkan kesenangan yang banyak dari kehidupan dunia (lihat ayat 26-28 surah ini) dan Allah mewariskannya kepada Bani Israil yang sebelumnya diperbudak oleh mereka.
[12] Bahkan merasa senang dengan kematian mereka, karena mereka meninggalkan sesuatu yang buruk yang merusak bumi. Berbeda dengan orang-orang mukmin, maka bumi yang menjadi tempat shalat mereka akan menangisi mereka, demikian pula langit yang menjadi tempat naiknya amal mereka akan menangis.
[13] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan nikmat kepada Bani Israil.
[14] Yaitu pembunuhan anak laki-laki dan menjadikan kaum wanita sebagai pelayan.
[15] Dia sombong di muka bumi dengan tanpa hak.
[16] Yakni yang melanggar batasan Allah dan berani mengerjakan larangan-Nya.
[17] Yakni dengan pengetahuan Kami terhadap keadaan mereka dan layaknya mereka mendapatkan keutamaan itu.
[18] Allah melebihkan mereka pada masa itu dan memberi mereka nikmat yang tidak diberikan-Nya kepada selain mereka.
[19] Yang dimaksud tanda-tanda kekuasaan Allah ialah seperti naungan awan, turunnya manna dan salwa, terpancarnya air dari batu, terbelahnya laut merah. Itu semua merupakan hujjah atas mereka yang membuktikan kebenaran apa yang dibawa Nabi mereka Musa ‘alaihis salam.
Tafsir Ad Dukhaan Ayat 1-16
Surah Ad Dukhaan (Asap)
Surah ke-44. 59 ayat. Makkiyyah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-8: Turunnya Al Qur’an pada malam yang diberkahi, yaitu malam Lailatul Qadr.
حم (١) وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ (٢) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (٣) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (٤) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ (٥) رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٦) رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ (٧) لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ (٨)
Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 1-8
1. Haa miim.
2. [1]Demi kitab (Al Quran) yang menjelaskan,
3. sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi.[2] Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.
4. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan[3] yang penuh hikmah[4],
5. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami[5]. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul[6],
6. Sebagai rahmat dari Tuhanmu[7]. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui[8],
7. Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya[9]; jika kamu orang-orang yang meyakini[10].
8. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Dia yang menghidupkan dan yang mematikan[11]. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu dahulu.
Ayat 9-16: Sikap kaum musyrik terhadap Al Qur’anul Karim, keraguan mereka terhadapnya padahal jelas bukti-bukti kebenarannya dan ancaman azab untuk mereka.
بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ يَلْعَبُونَ (٩) فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ (١٠) يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (١١) رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ (١٢) أَنَّى لَهُمُ الذِّكْرَى وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ (١٣) ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ (١٤) إِنَّا كَاشِفُوا الْعَذَابِ قَلِيلا إِنَّكُمْ عَائِدُونَ (١٥) يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ (١٦)
Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 9-16
9. [12]Tetapi mereka dalam keraguan[13], mereka bermain-main[14].
10. [15]Maka tunggulah[16] pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas[17],
11. yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.
12. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sungguh, kami akan beriman[18].”
13. Bagaimana mereka dapat menerima peringatan, padahal (sebelumnya pun) seorang rasul telah datang memberi penjelasan kepada mereka,
14. kemudian mereka berpaling darinya dan berkata, "Dia itu orang yang menerima ajaran (dari orang lain) dan orang gila[19].”
15. Sungguh, (kalau) Kami melenyapkan azab itu sedikit saja, tentu kamu akan kembali (ingkar)[20].
16. (Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan keras[21]. Kami pasti memberi balasan.
[1] Ini adalah sumpah Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan Al Qur’an untuk Al Qur’an. Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan Al Qur’an yang menjelaskan, yakni menjelaskan semua yang butuh dijelaskan.
[2] Malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan, yaitu malam Lailatul qadr. Lailatuq dar adalah malam yang diberkahi, karena pada malam itu banyak kebaikan dan berkah, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan ucapan yang paling mulia di malam yang paling mulia kepada manusia yang paling mulia dengan bahasa orang-orang Arab yang mulia untuk memperingatkan kaum yang diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan, agar mereka mendapat penerangan dengan sinarnya dan dapat mengambil petunjuknya, serta berjalan di belakangnya sehingga mereka memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.”
[3] Yang dimaksud dengan segala urusan di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti hidup, mati, rezeki, keberuntungan, kerugian dan sebagainya.
[4] Ibnu Katsir berkata, “Yakni pada malam Lailatul qadr dijelaskan dari Lauh Mahfuzh kepada para malaikat yang mencatat, urusan yang terjadi setahun, dan apa yang terjadi pada tahun itu berupa ajal, rezeki, dan apa yang terjadi sampai akhir tahun.”
Syaikh As Sa’diy menjelaskan, “Yakni dipisahkan dan dicatat semua perkara, baik yang qadari (terhadap alam semesta) dan yang syar’i (terhadap agama) yang Allah putuskan. Pemisahan dan pencatatan yang terjadi pada malam Lailatul qadr ini adalah salah satu catatan yang ditulis dan dipisahkan, sehingga bersesuaian antara catatan pertama yang Allah catat dengannya taqdir semua makhluk, ajalnya, rezeki, amal dan keadaan mereka, kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala mewakilkan kepada para malaikat untuk mencatat apa yang akan terjadi pada seorang hamba, yaitu ketika dia masih dalam perut ibunya. Selanjutnya Dia menyerahkan kepada mereka (para malaikat) setelah manusia terlahir ke dunia, Allah menyerahkan kepada para malaikat yang mulia lagi mencatat, mereka menulisnya dan menjaga amal manusia. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menaqdirkan pada malam Lailatul qadr apa yang terjadi dalam setahun. Semua ini termasuk sempurnanya pengetahuan-Nya, sempurnanya kebijaksanaan-Nya, teliti menjaganya dan perhatian-Nya kepada makhluk-Nya.”
[5] Yakni perkara yang penuh hikmah ini muncul dari sisi Kami.
[6] Yakni untuk menyampaikan perintah-perintah-Nya.
[7] Maksudnya, pengutusan rasul dan penurunan kitab adalah rahmat dari Rabbul ‘alamin. Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah memberikan rahmat yang lebih besar daripada memberikan hidayah kepada mereka dengan menurunkan kitab dan mengutus rasul, dimana setiap kebaikan yang mereka peroleh di dunia dan akhirat adalah karena hal itu dan sebabnya.
[8] Dia mendengar semua suara dan mengetahui semua perkara yang lahir maupun yang batin. Dia mengetahui butuhnya hamba-hamba-Nya kepada para rasul dan kitab, maka Dia merahmati mereka dengan menurunkan kitab dan mengutus para rasul serta menganugerahkan nikmat kepada mereka.
[9] Dia yang menciptakan semua itu, yang mengaturnya dan yang bertindak padanya sesuai yang Dia kehendaki.
[10] Jika kamu meyakini bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala Tuhan pemelihara langit dan bumi, maka yakinilah bahwa Dia yang berhak disembah saja dan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah utusan-Nya.
[11] Dia yang sendiri menghidupkan dan mematikan, dan akan menghimpun kamu setelah kamu mati, lalu memberi balasan kepada amalmu, jika baik maka dibalas dengan kebaikan dan jika buruk, maka dibalas dengan keburukan.
[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyatakan rububiyyah dan uluhiyyah-Nya (ketuhanan dan keberhakan-Nya disembah) dimana hal ini mengharuskan ada pengetahuan yang sempurna (yakin) dan menolak keraguan, maka Dia memberitahukan, bahwa orang-orang kafir setelah dijelaskan hal ini, ternyata masih bergelimang di atas keraguan dan syubhat serta lalai dari tujuan mereka diciptakan, demikian juga mereka menyibukkan dengan permainan yang batil yang tidak menghasilkan bagi mereka selain bahaya.
[13] Terhadap tauhid dan kebangkitan.
[14] Yakni mengolok-olok Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau berdoa kepada Allah agar menimpakan kepada mereka kemarau panjang selama tujuh tahun sebagaimana yang menimpa bangsa Mesir di zaman Nabi Yusuf ‘alaihis salam.
[15] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Masruq, ia berkata: Abdullah (Ibnu Mas’ud) berkata, “Sesungguhnya hal ini adalah karena orang-orang Quraisy ketika mereka mendurhakai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau mendoakan mereka agar ditimpakan kemarau panjang seperti kemarau (pada zaman) Nabi Yusuf, sehingga mereka merasakan kelaparan dan kesusahan sampai mereka memakan tulang, lalu ada seorang yang melihat ke langit dan ia lihat antara dirinya dengan langit ada seperti asap, hal itu karena penderitaan yang menimpanya, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat, “Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas,-- yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (Ad Dukhan: 10-11) Maka orang itu mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu dikatakan kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan kepada Allah untu suku Mudhar, karena mereka telah binasa.” Beliau menjawab, “(Apa) untuk Mudhar? Sesungguhnya engkau benar-benar lantang.” Maka Beliau meminta hujan, lalu mereka diberi hujan, maka turunlah ayat, “Tentu kamu akan kembali (ingkar).” (Ad Dukhan: 15) Ketika mereka memperoleh kesenangan, maka mereka kembali kepada keadaan mereka ketika senang sebelumnya, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat, “(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan keras. Kami pasti memberi balasan.” (Terj. Ad Dukhaan: 16) Ia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Yaitu pada perang Badar.”
Syaikh Muqbil berkata, “Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Imam Muslim juz 17 hal. 141 dan di sana disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Abdullah dan berkata, “Saya tinggalkan seseorang di masjid yang menafsirkan Al Qur’an dengan pendapatnya, ia menafsirkan ayat, “Pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas,” bahwa pada hari Kiamat akan datang kepada manusia dukhaan (asap) lalu mengena kepada nafas-nafas mereka sehingga mengenai mereka seperti pilek, lalu Abdullah berkata, “Barang siapa yang mengetahui ilmu, maka katakanlah dan barang siapa yang tidak tahu, maka katakanlah, “Allahu a’lam (Allah lebih tahu).” Karena termasuk kepandaian seseorang adalah mengatakan kepada yang tidak ia ketahui, “Allahu a’lam.” Sesungguhnya hal ini adalah karena…dst.” Lalu disebutkanlah hadits itu. Hadits itu ada di Bukhari juga, dan diriwayatkan oleh Ahmad juz 1 hal. 381.”
[16] Yakni azab.
[17] Para mufassir berbeda pendapat tentang maksud dukhan (asap/kabut) di ayat ini. Ada yang berpendapat, bahwa dukhan tersebut adalah asap yang meliputi manusia ketika neraka mendekat kepada orang-orang yang berdosa pada hari Kiamat, dan bahwa Dia mengancam mereka dengan azab pada hari Kiamat serta menyuruh Nabi-Nya menunggu hari itu. Hal ini diperkuat oleh jalan yang dilalui Al Qur’an dalam memberikan ancaman kepada orang-orang kafir dan menakut-nakuti mereka dengan hari itu dan azabnya, sekaligus menghibur rasul dan kaum mukmin agar menunggu azab yang menimpa orang yang mengganggu mereka. Hal ini juga diperkuat dengan firman-Nya, “Bagaimana mereka dapat menerima peringatan, padahal (sebelumnya pun) seorang rasul telah datang memberi penjelasan kepada mereka.” (Terj. Ad Dukhaan: 13) Hal ini diucapkan pada hari Kiamat kepada orang-orang kafir ketika mereka meminta kembali ke dunia lalu dikatakan bahwa waktunya telah hilang.
Adapula yang berpendapat, bahwa maksud dukhan (kabut/asap) yang nyata ialah bencana kelaparan yang menimpa kaum Quraisy karena mereka menentang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak mau beriman dan sombong kepada kebenaran sehingga Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar menimpakan kepada mereka kemarau yang menimpa bangsa Mesir pada zaman Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menimpakan kepada mereka kelaparan yang dahsyat sehingga mereka memakan bangkai dan tulang serta melihat seperti ada kabut di antara langit dan bumi karena lapar yang dahsyat. Mereka tetap seperti ini sampai meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar dikasihani serta meminta kepada Beliau agar Beliau berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala agar Dia menghilangkan azab itu dari mereka, lalu Beliau berdoa dan Allah menghilangkan azab itu. Sehingga firman-Nya, “Sungguh, (kalau) Kami melenyapkan azab itu sedikit saja, tentu akan kembali (ingkar).” Merupakan pemberitahuan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menghilangkannya dan memberitahukan bahwa mereka akan kembali ingkar, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menghukum mereka dengan azab yang lebih besar lagi sebagaimana pada lanjutan ayatnya (ayat 16), yaitu dengan terjadinya perang Badar.
Ada pula yang berpendapat, bahwa maksud dukhan adalah salah satu tanda Kiamat dan bahwa pada akhir zaman akan ada dukhan (asap/kabut) yang mengena kepada nafas manusia dan menimpa orang-orang mukmin di antara mereka seperti asap. Wallahu a’lam.
Syaikh As Sa’diy berkata, “Jika beberapa ayat ini turun menurut dua makna (kemungkinan itu), maka engkau tidak temukan dalam lafaz yang menolaknya, bahkan engkau menemukannya sama persis, dan inilah yang tampak dan rajih menurut saya, wallahu a’lam.”
[18] Kepada Nabi-Mu.
[19] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dituduh menerima pelajaran dari seorang yang bukan bangsa Arab bernama Addas yang beragama Kristen.
[20] Ternyata mereka kembali ingkar.
[21] Hantaman yang keras itu terjadi di peperangan Badar di mana orang-orang musyrik dipukul dengan sehebat-hebatnya sehingga menderita kekalahan dan banyak di antara pemimpin-pemimpin mereka yang tewas.
Surah ke-44. 59 ayat. Makkiyyah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-8: Turunnya Al Qur’an pada malam yang diberkahi, yaitu malam Lailatul Qadr.
حم (١) وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ (٢) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (٣) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (٤) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ (٥) رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٦) رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ (٧) لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ (٨)
Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 1-8
1. Haa miim.
2. [1]Demi kitab (Al Quran) yang menjelaskan,
3. sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi.[2] Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.
4. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan[3] yang penuh hikmah[4],
5. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami[5]. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul[6],
6. Sebagai rahmat dari Tuhanmu[7]. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui[8],
7. Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya[9]; jika kamu orang-orang yang meyakini[10].
8. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Dia yang menghidupkan dan yang mematikan[11]. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu dahulu.
Ayat 9-16: Sikap kaum musyrik terhadap Al Qur’anul Karim, keraguan mereka terhadapnya padahal jelas bukti-bukti kebenarannya dan ancaman azab untuk mereka.
بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ يَلْعَبُونَ (٩) فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ (١٠) يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (١١) رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ (١٢) أَنَّى لَهُمُ الذِّكْرَى وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ (١٣) ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ (١٤) إِنَّا كَاشِفُوا الْعَذَابِ قَلِيلا إِنَّكُمْ عَائِدُونَ (١٥) يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ (١٦)
Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 9-16
9. [12]Tetapi mereka dalam keraguan[13], mereka bermain-main[14].
10. [15]Maka tunggulah[16] pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas[17],
11. yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.
12. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sungguh, kami akan beriman[18].”
13. Bagaimana mereka dapat menerima peringatan, padahal (sebelumnya pun) seorang rasul telah datang memberi penjelasan kepada mereka,
14. kemudian mereka berpaling darinya dan berkata, "Dia itu orang yang menerima ajaran (dari orang lain) dan orang gila[19].”
15. Sungguh, (kalau) Kami melenyapkan azab itu sedikit saja, tentu kamu akan kembali (ingkar)[20].
16. (Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan keras[21]. Kami pasti memberi balasan.
[1] Ini adalah sumpah Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan Al Qur’an untuk Al Qur’an. Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan Al Qur’an yang menjelaskan, yakni menjelaskan semua yang butuh dijelaskan.
[2] Malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan, yaitu malam Lailatul qadr. Lailatuq dar adalah malam yang diberkahi, karena pada malam itu banyak kebaikan dan berkah, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan ucapan yang paling mulia di malam yang paling mulia kepada manusia yang paling mulia dengan bahasa orang-orang Arab yang mulia untuk memperingatkan kaum yang diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan, agar mereka mendapat penerangan dengan sinarnya dan dapat mengambil petunjuknya, serta berjalan di belakangnya sehingga mereka memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.”
[3] Yang dimaksud dengan segala urusan di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti hidup, mati, rezeki, keberuntungan, kerugian dan sebagainya.
[4] Ibnu Katsir berkata, “Yakni pada malam Lailatul qadr dijelaskan dari Lauh Mahfuzh kepada para malaikat yang mencatat, urusan yang terjadi setahun, dan apa yang terjadi pada tahun itu berupa ajal, rezeki, dan apa yang terjadi sampai akhir tahun.”
Syaikh As Sa’diy menjelaskan, “Yakni dipisahkan dan dicatat semua perkara, baik yang qadari (terhadap alam semesta) dan yang syar’i (terhadap agama) yang Allah putuskan. Pemisahan dan pencatatan yang terjadi pada malam Lailatul qadr ini adalah salah satu catatan yang ditulis dan dipisahkan, sehingga bersesuaian antara catatan pertama yang Allah catat dengannya taqdir semua makhluk, ajalnya, rezeki, amal dan keadaan mereka, kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala mewakilkan kepada para malaikat untuk mencatat apa yang akan terjadi pada seorang hamba, yaitu ketika dia masih dalam perut ibunya. Selanjutnya Dia menyerahkan kepada mereka (para malaikat) setelah manusia terlahir ke dunia, Allah menyerahkan kepada para malaikat yang mulia lagi mencatat, mereka menulisnya dan menjaga amal manusia. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menaqdirkan pada malam Lailatul qadr apa yang terjadi dalam setahun. Semua ini termasuk sempurnanya pengetahuan-Nya, sempurnanya kebijaksanaan-Nya, teliti menjaganya dan perhatian-Nya kepada makhluk-Nya.”
[5] Yakni perkara yang penuh hikmah ini muncul dari sisi Kami.
[6] Yakni untuk menyampaikan perintah-perintah-Nya.
[7] Maksudnya, pengutusan rasul dan penurunan kitab adalah rahmat dari Rabbul ‘alamin. Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah memberikan rahmat yang lebih besar daripada memberikan hidayah kepada mereka dengan menurunkan kitab dan mengutus rasul, dimana setiap kebaikan yang mereka peroleh di dunia dan akhirat adalah karena hal itu dan sebabnya.
[8] Dia mendengar semua suara dan mengetahui semua perkara yang lahir maupun yang batin. Dia mengetahui butuhnya hamba-hamba-Nya kepada para rasul dan kitab, maka Dia merahmati mereka dengan menurunkan kitab dan mengutus para rasul serta menganugerahkan nikmat kepada mereka.
[9] Dia yang menciptakan semua itu, yang mengaturnya dan yang bertindak padanya sesuai yang Dia kehendaki.
[10] Jika kamu meyakini bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala Tuhan pemelihara langit dan bumi, maka yakinilah bahwa Dia yang berhak disembah saja dan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah utusan-Nya.
[11] Dia yang sendiri menghidupkan dan mematikan, dan akan menghimpun kamu setelah kamu mati, lalu memberi balasan kepada amalmu, jika baik maka dibalas dengan kebaikan dan jika buruk, maka dibalas dengan keburukan.
[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyatakan rububiyyah dan uluhiyyah-Nya (ketuhanan dan keberhakan-Nya disembah) dimana hal ini mengharuskan ada pengetahuan yang sempurna (yakin) dan menolak keraguan, maka Dia memberitahukan, bahwa orang-orang kafir setelah dijelaskan hal ini, ternyata masih bergelimang di atas keraguan dan syubhat serta lalai dari tujuan mereka diciptakan, demikian juga mereka menyibukkan dengan permainan yang batil yang tidak menghasilkan bagi mereka selain bahaya.
[13] Terhadap tauhid dan kebangkitan.
[14] Yakni mengolok-olok Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau berdoa kepada Allah agar menimpakan kepada mereka kemarau panjang selama tujuh tahun sebagaimana yang menimpa bangsa Mesir di zaman Nabi Yusuf ‘alaihis salam.
[15] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Masruq, ia berkata: Abdullah (Ibnu Mas’ud) berkata, “Sesungguhnya hal ini adalah karena orang-orang Quraisy ketika mereka mendurhakai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau mendoakan mereka agar ditimpakan kemarau panjang seperti kemarau (pada zaman) Nabi Yusuf, sehingga mereka merasakan kelaparan dan kesusahan sampai mereka memakan tulang, lalu ada seorang yang melihat ke langit dan ia lihat antara dirinya dengan langit ada seperti asap, hal itu karena penderitaan yang menimpanya, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat, “Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas,-- yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (Ad Dukhan: 10-11) Maka orang itu mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu dikatakan kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan kepada Allah untu suku Mudhar, karena mereka telah binasa.” Beliau menjawab, “(Apa) untuk Mudhar? Sesungguhnya engkau benar-benar lantang.” Maka Beliau meminta hujan, lalu mereka diberi hujan, maka turunlah ayat, “Tentu kamu akan kembali (ingkar).” (Ad Dukhan: 15) Ketika mereka memperoleh kesenangan, maka mereka kembali kepada keadaan mereka ketika senang sebelumnya, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat, “(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan keras. Kami pasti memberi balasan.” (Terj. Ad Dukhaan: 16) Ia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Yaitu pada perang Badar.”
Syaikh Muqbil berkata, “Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Imam Muslim juz 17 hal. 141 dan di sana disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Abdullah dan berkata, “Saya tinggalkan seseorang di masjid yang menafsirkan Al Qur’an dengan pendapatnya, ia menafsirkan ayat, “Pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas,” bahwa pada hari Kiamat akan datang kepada manusia dukhaan (asap) lalu mengena kepada nafas-nafas mereka sehingga mengenai mereka seperti pilek, lalu Abdullah berkata, “Barang siapa yang mengetahui ilmu, maka katakanlah dan barang siapa yang tidak tahu, maka katakanlah, “Allahu a’lam (Allah lebih tahu).” Karena termasuk kepandaian seseorang adalah mengatakan kepada yang tidak ia ketahui, “Allahu a’lam.” Sesungguhnya hal ini adalah karena…dst.” Lalu disebutkanlah hadits itu. Hadits itu ada di Bukhari juga, dan diriwayatkan oleh Ahmad juz 1 hal. 381.”
[16] Yakni azab.
[17] Para mufassir berbeda pendapat tentang maksud dukhan (asap/kabut) di ayat ini. Ada yang berpendapat, bahwa dukhan tersebut adalah asap yang meliputi manusia ketika neraka mendekat kepada orang-orang yang berdosa pada hari Kiamat, dan bahwa Dia mengancam mereka dengan azab pada hari Kiamat serta menyuruh Nabi-Nya menunggu hari itu. Hal ini diperkuat oleh jalan yang dilalui Al Qur’an dalam memberikan ancaman kepada orang-orang kafir dan menakut-nakuti mereka dengan hari itu dan azabnya, sekaligus menghibur rasul dan kaum mukmin agar menunggu azab yang menimpa orang yang mengganggu mereka. Hal ini juga diperkuat dengan firman-Nya, “Bagaimana mereka dapat menerima peringatan, padahal (sebelumnya pun) seorang rasul telah datang memberi penjelasan kepada mereka.” (Terj. Ad Dukhaan: 13) Hal ini diucapkan pada hari Kiamat kepada orang-orang kafir ketika mereka meminta kembali ke dunia lalu dikatakan bahwa waktunya telah hilang.
Adapula yang berpendapat, bahwa maksud dukhan (kabut/asap) yang nyata ialah bencana kelaparan yang menimpa kaum Quraisy karena mereka menentang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak mau beriman dan sombong kepada kebenaran sehingga Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar menimpakan kepada mereka kemarau yang menimpa bangsa Mesir pada zaman Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menimpakan kepada mereka kelaparan yang dahsyat sehingga mereka memakan bangkai dan tulang serta melihat seperti ada kabut di antara langit dan bumi karena lapar yang dahsyat. Mereka tetap seperti ini sampai meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar dikasihani serta meminta kepada Beliau agar Beliau berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala agar Dia menghilangkan azab itu dari mereka, lalu Beliau berdoa dan Allah menghilangkan azab itu. Sehingga firman-Nya, “Sungguh, (kalau) Kami melenyapkan azab itu sedikit saja, tentu akan kembali (ingkar).” Merupakan pemberitahuan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menghilangkannya dan memberitahukan bahwa mereka akan kembali ingkar, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menghukum mereka dengan azab yang lebih besar lagi sebagaimana pada lanjutan ayatnya (ayat 16), yaitu dengan terjadinya perang Badar.
Ada pula yang berpendapat, bahwa maksud dukhan adalah salah satu tanda Kiamat dan bahwa pada akhir zaman akan ada dukhan (asap/kabut) yang mengena kepada nafas manusia dan menimpa orang-orang mukmin di antara mereka seperti asap. Wallahu a’lam.
Syaikh As Sa’diy berkata, “Jika beberapa ayat ini turun menurut dua makna (kemungkinan itu), maka engkau tidak temukan dalam lafaz yang menolaknya, bahkan engkau menemukannya sama persis, dan inilah yang tampak dan rajih menurut saya, wallahu a’lam.”
[18] Kepada Nabi-Mu.
[19] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dituduh menerima pelajaran dari seorang yang bukan bangsa Arab bernama Addas yang beragama Kristen.
[20] Ternyata mereka kembali ingkar.
[21] Hantaman yang keras itu terjadi di peperangan Badar di mana orang-orang musyrik dipukul dengan sehebat-hebatnya sehingga menderita kekalahan dan banyak di antara pemimpin-pemimpin mereka yang tewas.
Langganan:
Postingan (Atom)