Tampilkan postingan dengan label 046-Al Ahqaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 046-Al Ahqaf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Mei 2014

Tafsir Al Ahqaf Ayat 26-35

Ayat 26-28: Peringatan kepada kaum musyrik untuk mengambil pelajaran dari hal yang menimpa umat-umat terdahulu dan agar tidak tertipu dengan kekuatan dan kekayaan, dan bahwa kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak dapat dikalahkan.

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلا أَبْصَارُهُمْ وَلا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (٢٦) وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَى وَصَرَّفْنَا الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٢٧) فَلَوْلا نَصَرَهُمُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ قُرْبَانًا آلِهَةً بَلْ ضَلُّوا عَنْهُمْ وَذَلِكَ إِفْكُهُمْ وَمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (٢٨)

Tafsir Al Ahqaf Ayat 26-28

26. Dan sungguh, Kami telah meneguhkan kedudukan mereka (dengan kemakmuran dan kekuatan) yang belum pernah Kami berikan kepada kamu[1] dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati[2]; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka (selalu) mengingkari ayat-ayat Allah[3], dan (ancaman) azab yang dahulu mereka perolok-olokkan telah mengepung mereka.

27. [4]Dan sungguh, telah Kami binasakan negeri-negeri di sekitarmu[5], dan juga telah Kami jelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran) Kami agar mereka kembali (bertobat).

28. Maka mengapa (berhala-berhala dan tuhan-tuhan) yang mereka sembah selain Allah untuk mendekatkan diri (kepada-Nya) tidak dapat menolong mereka? Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka[6]; dan itulah akibat kebohongan mereka[7] dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.

Ayat 29-32: Penyiaran Al Qur’an pada golongan jin, dan bahwa di antara jin itu ada yang mukmin dan ada yang kafir.

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (٢٩) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (٣٠) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (٣١) وَمَنْ لا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الأرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَولِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٣٢)

Tafsir Al Ahqaf Ayat 29-32

29. [8]Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang mendengarkan (bacaan) Al Quran, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya mereka berkata, "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Maka ketika telah selesai[9], mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan[10].

30. Mereka berkata, "Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang diturunkan setelah Musa[11], membenarkan (kitab-kitab) yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran, dan kepada jalan yang lurus[12].

31. [13]Wahai kaum kami! Terimalah seruan orang (Muhammad) yang menyeru kepada Allah[14]. Dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.

32. Dan barang siapa tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah (Muhammad) maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari siksaan Allah di bumi[15], padahal tidak ada pelindung baginya selain Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata[16].”

Ayat 33-35: Alam semesta adalah milik Allah Subhaanahu wa Ta'aala, keadaan orang-orang kafir ketika dihadapkan ke neraka, pengakuan mereka terhadap kebenaran, dan bimbingan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar bersabar di jalan dakwah.

Tafsir

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٣٣)وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَلَيْسَ هَذَا بِالْحَقِّ قَالُوا بَلَى وَرَبِّنَا قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ (٣٤) فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ (٣٥)

Al Ahqaf Ayat 33-35

33. Dan tidakkah mereka[17] memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, dan Dia kuasa menghidupkan yang mati? Begitulah, sungguh, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu[18].

34. [19]Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang yang kafir dihadapkan kepada neraka, (mereka akan ditanya), "Bukankah (azab) ini benar?" Mereka menjawab, "Ya benar, demi Tuhan kami.” Allah berfirman, "Maka rasakanlah azab ini, karena dahulu kamu mengingkarinya[20].”

35. [21]Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar (azab) disegerakan untuk mereka[22]. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, mereka merasa seolah-olah tinggal (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari[23]. Tugasmu hanya menyampaikan[24], maka tidak ada yang dibinasakan[25], kecuali kaum yang fasik (tidak taat kepada Allah)[26].

PENJELASAN AYAT

[1] Yakni oleh karena itu, jangan kamu mengira bahwa peneguhan Kami kepada kamu hanya diberikan kepadamu saja, dan bahwa hal itu akan menghindarkan kamu dari azab Allah, bahkan selain kamu juga diberikan peneguhan, namun harta, anak-anak dan tentara mereka tidak berguna bagi mereka sedikit pun dari azab Allah.

[2] Pendengaran, penglihatan dan hati mereka normal, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa mereka meninggalkan kebenaran karena kebodohannya dan tidak dapat mengetahui atau karena kurangnya akal mereka, akan tetapi taufiq di Tangan Allah.

[3] Yang menunjukkan keesaan-Nya dan keberhakan-Nya untuk diibadahi saja.

[4] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memperingatkan kaum musyrik bangsa Arab dan selain mereka dengan pembinasaan-Nya terhadap umat-umat yang mendustakan yang tinggal di sekitar mereka, bahkan kebanyakan mereka tinggal di jazirah Arab seperti kaum ‘Aad, Tsamud, dsb. dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah mengulang-ulang ayat-ayat-Nya dan menampilkan secara bermacam-macam kepada mereka agar mereka kembali kepada Allah, meninggalkan kekafiran dan mendustakan. Namun mereka tetap tidak beriman, sehingga Allah menghukum mereka dengan hukuman dari Tuhan yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa, dan sesembahan yang mereka sembah selain Allah itu tidak bermanfaat apa-apa bagi mereka.

[5] Yang dimaksud dengan negeri-negeri di sekitarmu ialah negeri-negeri yang berada di sekitar kota Mekah, seperti negeri Al Hijr, Sadum, Ma'rib dan lain-lain.

[6] Ketika azab turun.

[7] Bisa juga diartikan, bahwa itulah kebohongan mereka, yaitu mengambil berhala dan patung sebagai sesembahan selain Allah dengan anggapan bahwa hal itu dapat mendekatkan diri mereka kepada-Nya serta dapat memberi manfaat bagi mereka.

[8] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kepada makhluk baik manusia maupun jin. Kepada manusia, maka Beliau bisa mendakwahkan mereka dan memberi peringatan, adapun kepada jin, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala hadapkan jin dengan kekuasaan-Nya kepada Beliau.

[9] Dan mereka telah hapal atau mengerti.

[10] Untuk menegakkan hujjah kepada kaumnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menaqdirkan jin beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membantu Beliau menyebarkan dakwah Islam di kalangan jin.

[11] Hal itu karena kitab Musa adalah kitab asal (pokok) bagi Injil dan pegangan bagi Bani Israil dalam hukum-hukum syara’, sedangkan Injil hanyalah sebagai pelengkap dan penyempurna serta merubah sedikit sebagian hukum.

[12] Yakni menyampaikan kepada Allah dan kepada surga-Nya. Di dalamnya terdapat mengenal Allah, hukum-hukum agama-Nya dan hukum-hukum jaza’i(balasan)-Nya.

[13] Ketika mereka telah memuji Al Qur’an dan menerangkan kedudukannya, maka mereka mengajak kaumnya untuk beriman.

[14] Dia mengajak kepada Allah, bukan untuk kepentingan diri dan hawa nafsunya. Dia mengajak kamu kepada Allah agar Dia memberimu pahala dan menghindarkan semua perkara buruk dan dibenci. Oleh karena itu, mereka (jin-jin yang masuk Islam) itu berkata, “niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” Apabila Dia melindungi mereka dari azab yang pedih, maka di sana tidak ada lagi selain kenikmatan. Ini merupakan balasan bagi orang yang memenuhi seruan Allah.

[15] Karena Allah Mahakuasa atas segala sesuatu sehingga tidak ada yang dapat meloloskan diri dari azab-Nya.

[16] Kesesatan apa yang lebih besar daripada orang yang dipanggil oleh para rasul, disampaikan peringatan-peringatan dengan ayat-ayat yang jelas dan hujjah-hujjah yang kuat, lalu ia berpaling dan menyombongkan diri?

[17] Yakni orang-orang yang mengingkari kebangkitan.

[18] Ayat ini merupakan istidlal (pengambilan dalil) dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala untuk menunjukkan bahwa Dia mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati, yaitu dengan menerangkan bahwa Dia yang telah menciptakan langit dan bumi dengan keadaannya yang besar, luas dan rapih. Dia tidak merasa payah menciptakan semua itu. Oleh karena itu, bagaimana mungkin Dia sulit menciptakan manusia yang telah mati, sedangkan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

[19] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan keadaan orang-orang kafir yang sangat mengerikan ketika mereka dihadapkan ke neraka yang telah mereka dustakan, dan bahwa mereka akan dicela dan akan dikatakan, "Bukankah (azab) ini benar?" Mereka menjawab, "Ya benar, demi Tuhan kami.” Mereka pun mengakui dosa mereka dan jelaslah kedustaan mereka.

[20] Yakni rasakanlah azab yang kekal ini karena kekafiranmu selalu melekat dalam dirimu padahal hujjah telah ditegakkan.

[21] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersabar menghadapi gangguan orang-orang yang mendustakan dan menentangnya, dan agar Beliau senantiasa mengajak manusia kepada Allah serta mengikuti kesabaran para rasul ulul ‘azmi (yang mempunyai keteguhan hati dan cita-cita yang tinggi), dimana mereka adalah para pemimpin manusia yang kuat kesabarannya, sempurna keyakinannya dan mereka adalah manusia yang paling berhak diteladani dan diikuti jejaknya.

Maka Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan perintah Tuhannya, Beliau pun bersabar dengan kesabaran yang tidak pernah dilakukan oleh nabi sebelumnya, sampai musuh-musuhnya berkumpul bersama menentang dakwah Beliau, tetapi Beliau tegar mendakwahi manusia kepada Allah, bahkan sampai melakukan jihad melawan musuh-musuh Allah, bersabar terhadap gangguan yang menimpa Beliau sampai Allah memberikan kekuasaan kepada Beliau, memenangkan agama-Nya di atas semua agama serta melebihkan umatnya di atas semua umat, maka semoga shalawat dan salam Allah dilimpahkan kepada Beliau.

[22] Yang meminta untuk disegerakan azab. Mereka meminta disegerakan azab adalah karena kebodohan mereka, oleh karena itu jangan terpengaruh olehnya sehingga membuatmu mendoakan keburukan atas mereka..

[23] Oleh karena itu, janganlah kamu dibuat sedih karena mereka bersenang-senang. Hal itu, karena mereka hanya sebentar saja bersenang-senang dan akan kembali kepada azab yang pedih.

[24] Kata-kata “balaagh” bisa tertuju kepada kehidupan dan kesenangan dunia yang keadaannya memadai namun kurang. Atau bisa juga maksudnya, bahwa di dalam Al Qur’an ini Allah telah jelaskan dengan penjelasan yang sempurna, cukup dan menyampaikan ke kampung akhirat. Ia adalah sebaik-baik bekal yang dapat menyampaikan ke surga dan memelihara seseorang dari neraka, ia merupakan bekal paling utama yang harus dipegang oleh seseorang agar sampai ke sana, dan merupakan nikmat yang paling besar yang Allah anugerahkan kepada mereka.

[25] Dengan berbagai siksaan.

[26] Mereka adalah orang-orang yang sudah tidak ada lagi kebaikannya, telah keluar dari ketaatan kepada Tuhan mereka dan tidak menerima kebenaran yang dibawa para rasul. Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memperingatkan mereka, namun mereka tetap saja berada di atas pendustaan dan kekafiran. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.

=======================================================================

Penjelasan Ayat Al Ahqaf Ayat 29-32

Dalam ayat-ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa Dia Azza wa Jalla mengarahkan (menghadapkan) sejumlah jin yang berjumlah kurang dari sepuluh. Jin-jin itu mendengarkan bacaan al-Qur`ân yang sedang dibaca oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing dari jin itu saling meminta yang lainnya untuk menyimak qirâ`ah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dengan baik. Usai menyimak bacaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka beranjak pulang untuk memperingatkan kaum mereka. Untuk menyampaikan kepada kaum mereka, bahwa mereka baru saja mendengarkan satu kitab suci yang diturunkan setelah Musa Alaihissallam, yang memberikan petunjuk menuju al-haqq dan menuju jalan yang lurus. 

Dalam dakwahnya itu, mereka berkata: أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ {terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allâh}, yaitu Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam وَآمِنُوا بِهِ (dan berimanlah kepadanya) agar kalian memperoleh maghfirah (ampunan) dan selamat dari siksa yang pedih. Barangsiapa tidak menyambut seruan dakwah ini, ia tidak akan bisa mengalahkan Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla akan menyiksanya atas penolakannya terhadap dakwah tersebut. Tidak ada yang akan bisa menyelamatkan dirinya dari siksa Allâh Azza wa Jalla . Sungguhnya ia berada dalam kesesatan yang nyata. 

Dalam ayat ini terkandung satu petunjuk dalil, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus juga kepada bangsa jin. Dalil yang menunjukkan hal tersebut, ialah ayat yang terdapat dalam Surat ar-Rahmân yang berisi khithâb kepada jin dan manusia, dan firman Allâh Azza wa Jalla di dalam surat tersebut :

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan ? 

Yang berulang 31 kali. 

Ada dua persoalan berkait dengan ayat-ayat ini. 

Pertama. Tidak ada rasul dari kalangan jin, tetapi yang ada adalah nudzur (para pemberi peringatan). Tidak ada dalil yang menunjukkan keberadaan rasul dari kalangan jin. 

Sedangkan firman Allâh Azza wa Jalla dalam surat al-An’âm dan surat al-Ar’âf yaitu firman-Nya :

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي 

Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu [al-An’âm/6:130. Lihat juga QS al-A’râf/7:35].

Kata ﯞ (rusulun) pada ayat tersebut tidak menunjukkan keberadaan rasul dari kalangan jin, akan tetapi rasul-rasul yang diutus untuk dua golongan sekaligus, yaitu manusia dan jin. 

Pada ayat-ayat di atas pun termuat isyarat terhadap perkara tersebut, karena jin mengatakan :

إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ 

Sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`ân) yang telah diturunkan sesudah Mûsâ. 

Jin-jin itu tidak menyebutkan kitab yang diturunkan kepada salah satu dari kalangan mereka, dan juga seorang rasul khusus yang diutus kepada mereka. Mereka hanya menyebutkan Mûsâ Alaihissallam dan kitabnya (Taurat). Dan setelah kitab Musa, diturunkan kitab Zabur dan Injil. Jin-jin itu pun tidak menyebut dua kitab tersebut, padahal turun setelah Taurat, karena keduanya menyempurnakan kitab Taurat dan memuat sejumlah hukum-hukum Taurat. 

Kedua. Apakah pahala yang didapatkan jin atas keimanannya adalah maghfirah dan keselamatan dari siksa yang pedih saja (seperti diungkap ayat al-Ahqâf/46 : 31 di atas), ataukah selain itu mereka juga masuk surga ? 

Sebagian Ulama berpendapat, balasan yang diperoleh jin adalah ampunan dosa-dosa mereka dan perlindungan dari siksa yang pedih saja, sebagaimana ditunjukkan oleh tekstual ayat-ayat di atas. 

Sementara Jumhur Ulama berpendapat –dan pendapat mereka itulah yang benar- bahwa balasan jin-jin yang beriman adalah selamat dari siksa dan masuk surga. Hal ini berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ 

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabb-nya ada dua surga [ar-Rahmân/55:46]. 

Ayat ini mencakup obyek jin dan manusia, sebab khithâb (arah pembicaraan ayat ini) tertuju kepada dua golongan, manusia dan jin dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan ?

Tidak ada kontradiksi ayat-ayat di surat al-Ahqâf dan ayat yang terdapat dalam Surat ar-Rahmân. Sebab, yang terdapat dalam surat al-Ahqâf itu menyebutkan sebagian balasan yang mereka peroleh. Sementara kandungan yang terdapat dalam Surat ar-Rahmân menunjukkan balasan baik yang lain bagi mereka, yaitu masuk surga. 

Imam Ibnu Katsîr t menguatkan pendapat kedua, bahwa jin Mukmin akan mendapat balasan masuk Surga melalui beberapa sisi pendalilan. Beliau t berkata –secara ringkas- , “Yang benar, jin-jin Mukmin, seperti kaum Mukminin, akan masuk surga sebagaimana disampaikan oleh sejumlah Ulama Salaf. Di antara mereka berdalil dengan firman Allâh berikut : 

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. [ar-Rahmân/55:56]

Namun dalam istidlâl (berdalil) dengan ayat ini fîhi nazhar (masih menyisakan tanda tanya). Yang lebih baik dari istidlâl tersebut, adalah istidlâl dengan firman Allâh Azza wa Jalla : 

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ 

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabb-nya ada dua surga [ar-Rahmân/55:46]

Melalui ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan anugerah yang diberikan-Nya kepada bangsa manusia dan jin, dengan menjadikan surga sebagai balasan bagi mereka yang berbuat baik. Tidak mungkin Allâh Azza wa Jalla menyebutkan nikmat bagi mereka yang tidak mungkin mereka peroleh. Begitu pula, Allâh Azza wa Jalla membalas jin kafir dengan neraka – ini merupakan satu bentuk keadilan- , maka dibalasnya jin-jin Mukmin dengan balasan surga – yang merupakan petunjuk limpahan anugerah dari Allâh Azza wa Jalla – pantaslah Allâh Azza wa Jalla melakukannya. 

Dalil lain yang menunjukkan jin mukmin akan masuk surga, ialah keumuman firman Allâh Azza wa Jalla.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

“Sesungguhnya yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal [al-Kahfi/18:107], juga ayat-ayat lainnya. 

Apa yang diungkapkan Ulama bahwa balasan keimanan jin adalah digugurkannya dosa-dosa mereka dan dihindarkan dari siksa yang pedih. Hal ini secara otomatis bermakna mereka masuk surga. Sebab, di akhirat, tidak ada kecuali surga dan neraka saja. Siapa saja yang dilindungi dari neraka, berarti ia masuk surga, itu pasti. Tidak ada nash yang tegas ataupun zhahir dari Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan jin yang Mukmin tidak masuk surga, meskipun telah diselamatkan dari neraka. Seandanya ada dalil yang shahîh, pastilah kami akan berpendapat dengan mengikutinya. Wallâhu a’lam. 

HIDÂYÂTUL ÂYÂT (BEBERAPA PELAJARAN DARI AYAT)

1.Penetapan adanya alam jin. Karenanya, pengingkaran terhadap keberadaan jin seperti pengingkaran terhadap malaikat, hukumnya kufur.

2. Kewajiban sopan saat membaca al-Qur`ân dan mendengarkannya.

3. Kewajiban menyampaikan ajaran dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam hadits, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”.

4. Berpaling dari agama Allâh Azza wa Jalla akan menyebabkan jauh dari taufik dan rahmat. 

MARAJI.
1. Min Kunûzi al-Qur`ânil Karîm Tafsîru Âyâtin minal Kitâbil ‘Azîz, dari himpunan karya Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd hafizhahullâh dalam Kutub wa Rasâ’ilu ‘Abdil Muhsin bin Hamd al’Abbâd al-Badr Daar at-Tauhiid Riyaadh, Cet. I Th. 1418H, 1/300-3003.

2. Aisaru at-Tafâsîri li Kalâmi al-‘Aliyyil Kabîr , Abu Bakr Jâbir al-Jazâiri, Maktabah ‘Ulûm wal Hikam Cet. VI. Th.1423H 2/1232. 

Tafsir Al Ahqaf Ayat 1-14

Surah Al Ahqaf (Bukit-Bukit Pasir)

Surah ke-46. 35 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-5: Kelemahan kaum musyrik dari mendatangkan kitab yang serupa dengan Al Qur’an dan bantahan terhadap orang-orang kafir karena menyembah selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

حم (١) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (٢) مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ (٣) قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الأرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ اِئْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٤) وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ (٥)

Terjemah Surat Al Ahqaf Ayat 1-5

1. Haa Miim.

2. [1]Kitab ini diturunkan dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

3. [2]Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar[3] dan dalam waktu yang ditentukan[4]. [5]Namun orang-orang yang kafir berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka.

4. Katakanlah (Muhammad)[6], "Terangkanlah (kepadaku) tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apa yang telah mereka ciptakan dari bumi, atau adakah peran serta mereka dalam (penciptaan) langit?[7] [8]Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (Al Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu)[9], jika kamu orang yang benar."

5. Dan siapakah yang lebih sesat[10] daripada orang-orang yang menyembah selain Allah (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat[11], dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka[12]?



Ayat 6-8: Batilnya keyakinan syirk, pengingkaran kaum musyrik kepada kebenaran dan berpegangnya mereka dengan ‘aqidah yang batil.

وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ (٦)وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (٧) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَلا تَمْلِكُونَ لِي مِنَ اللَّهِ شَيْئًا هُوَ أَعْلَمُ بِمَا تُفِيضُونَ فِيهِ كَفَى بِهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٨)

Terjemah Surat Al Ahqaf Ayat 6-8

6. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan yang mereka lakukan kepadanya.

7. Dan apabila mereka[13] dibacakan ayat-ayat Kami yang jelas[14], orang-orang yang kafir berkata ketika kebenaran itu datang kepada mereka, "Ini adalah sihir yang nyata[15].”

8. Bahkan mereka berkata, "Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Quran)[16].” Katakanlah, "Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tidak kuasa sedikit pun menghindarkan aku dari (azab) Allah[17]. Dia lebih tahu apa yang kamu percakapkan tentang Al Quran itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antara aku dan kamu[18]. Dia Maha Pengampun[19] lagi Maha Penyayang[20].”

Ayat 9-14: Menetapkan kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tugas Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menyampaikan, pembenaran kitab-kitab samawi terhadap kerasulan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan pentingnya istiqamah di atas agama.

يُوحَى إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلا نَذِيرٌ مُبِينٌ (٩) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (١٠) وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ (١١) وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً وَهَذَا كِتَابٌ مُصَدِّقٌ لِسَانًا عَرَبِيًّا لِيُنْذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ (١٢) إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (١٣) أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٤)

Terjemah Surat Al Ahqaf Ayat 9-14

9. Katakanlah (Muhammad), "Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara rasul-rasul[21], dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadapmu[22]. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku[23], dan aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan[24].”

10. [25]Katakanlah, "Terangkanlah kepada-Ku, bagaimana pendapatmu jika sebenarnya Al Quran ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya[26], padahal ada seorang saksi dari Bani Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur’an lalu dia beriman[27], dan kamu menyombongkan diri. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim[28].”

11. Dan orang-orang yang kafir berkata[29] kepada orang-orang yang beriman, "Sekiranya (Al Quran)[30] itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya[31]. Tetapi karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, "Ini adalah dusta yang lama.”[32]

12. Dan sebelum Al Quran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan (Al Quran) ini adalah kitab yang membenarkannya[33] dalam bahasa Arab[34] untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim[35] dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik[36].

13. Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah[37], tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati[38].

14. Mereka itulah para penghuni surga[39], kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan[40].


[1] Ini merupakan pujian dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap kitab-Nya yang agung dan pengagungan untuknya. Di dalamnya terdapat bimbingan kepada hamba agar mengambil petunjuknya, mentadabburi ayat-ayat-Nya dan menggali simpanannya.

[2] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan tentang penurunan kitab-Nya yang mengandung perintah dan larangan, maka Dia menyebutkan tentang penciptaan langit dan bumi, sehingga Dia menggabung antara menciptakan dan memerintahkan sebagaimana dalam firman-Nya di ayat lain, “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Terj. Ath Thalaaq: 12) Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menciptakan manusia, menciptakan tempat tinggal mereka dan menundukkan langit dan bumi untuk mereka lalu Dia mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya, Dia memerintahkan dan melarang serta memberitahukan bahwa dunia yang mereka tempati ini adalah tempat beramal dan tempat sementara, bukan tempat tujuan dan tempat persinggahan terakhir, dan bahwa mereka akan pindah ke tempat yang kekal, di mana pada tempat yang kekal itu mereka akan mendapatkan balasan secara sempurna. Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga menegakkan dalil yang menerangkan tentang tempat ini (dunia) dan merasakan kepada hamba contoh pahala dan hukuman di dunia agar mendorong mereka untuk mengejar sesuatu yang dicintai dan menjauhkan diri dari yang ditakuti.

[3] Yakni bukan untuk main-main atau percuma begitu saja, bahkan untuk mengenalkan kepada hamba keagungan, kekuasaan dan keesaan Penciptanya, dan agar mereka dapat mengetahui kesempurnaan-Nya dan agar mereka mengetahui bahwa yang berkuasa menciptakan keduanya yang demikian besar dan luas, mampu pula mengembalikan hamba setelah matinya untuk diberi balasan, dan bahwa dunia yang mereka tempati ada batas akhirnya.

[4] Yaitu sampai hari Kiamat.

[5] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan hal itu, menegakkan dalil dan menyinari jalan, maka Dia memberitahukan, bahwa sebagian makhluk malah tidak menghendaki melainkan berpaling dari yang hak; berpaling dari dakwah para rasul. Berbeda dengan orang-orang yang beriman, ketika mereka mengetahui hakikat yang sebenarnya, maka mereka menerima wasiat Tuhan mereka dan tunduk kepadanya serta memuliakannya, sehingga mereka memperoleh semua kebaikan dan terhindar dari semua keburukan.

[6] Kepada orang-orang yang menyekutukan Allah dengan patung dan berhala yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak dapat menghindarkan bahaya, tidak dapat menghidupkan dan tidak dapat mematikan, yakni katakan kepada mereka untuk menerangkan lemahnya sesembahan mereka dan bahwa sesembahan itu tidak berhak disembah.

[7] Yakni apakah mereka menciptakan benda-benda langit atau bumi? Apakah mereka menciptakan gunung atau mengalirkan sungai? Apakah mereka yang menyebarkan hewan-hewan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan atau apakah mereka ikut serta dan membantu dalam hal semua itu? Jelas sekali, mereka tidak menciptakan dan tidak pula memiliki peran serta dalam hal itu. Ini merupakan dalil ‘aqli (akal) yang menunjukkan bahwa selain Allah semuanya tidak berhak disembah.

[8] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan alasan kedua secara riwayat (dalil naqli), yakni apakah ada kitab yang menyuruh berbuat syrik atau ilmu yang diwariskan dari para rasul yang menyuruh demikian, bahkan semua kitab dan semua rasul mengajak mentauhidkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan melarang berbuat syirk. Dengan demikian, perdebatan orang-orang musyrik untuk menguatkan kemusyrikan mereka sama sekali tidak bersandar kepada dalil maupun bukti, bahkan hanya bersandar kepada sangkaan-sangkaan yang dusta, pandangan-pandangan yang tidak laku dan tidak dipandang, serta akal yang rusak. Hal ini dapat diketahui jika menelusuri keadaan mereka, pengetahuan dan amal mereka serta melihat keadaan orang yang menghabiskan umurnya untuk menyembah patung dan berhala itu, apakah memberi manfaat bagi mereka meskipun sedikit di dunia dan akhirat sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya, “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” (Terj. Al Ahqaaf: 5)

[9] Yang membenarkan dakwaanmu menyembah patung dan berhala, dan bahwa mereka dapat mendekatkan kamu kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[10] Yakni tidak ada yang lebih sesat.

[11] Maksudnya selama hidupnya di dunia, ia tidak dapat mengambil manfaat apa-apa dari sesembahannya.

[12] Bisa juga maksudnya, bahwa sesembahan itu tidak dapat mendengar doa mereka dan tidak dapat menjawab seruan. Inilah keadaan mereka ketika di dunia, adapun pada hari Kiamat, maka sesembahan itu akan mengingkari kesyirkkan mereka sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya, dan bahwa sebagian mereka akan saling laknat-melaknat dan akan saling berlepas diri.

[13] Orang-orang yang mendustakan itu.

[14] Yang tidak menyisakan keraguan, namun ternyata tidak memberikan kebaikan bagi mereka, bahkan hanya menegakkan hujjah dan mereka malah berkata yang keluar dari kedustaan mereka, “Ini adalah sihir yang nyata.”

[15] Ini merupakan pemutarbalikkan hakikat, dimana hal ini hanya laris di kalangan orang-orang yang lemah akal, karena antara kebenaran yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sihir terdapat perbedaan dan pertentangan yang jauh sebagaimana jauhnya langit dan bumi. Oleh karena itu, bagaimana mungkin kebenaran yang tinggi dan menjulang ke langit, diperkuat oleh dalil-dalil baik yang ada di cakrawala dan oleh apa yang ada pada diri manusia, diakui oleh orang-orang yang berpandangan tajam dan berakal cerdas kemudian sama dengan sihir yang merupakan kebatilan, dimana ia tidak muncul kecuali dari orang yang sesat, zalim, berjiwa kotor dan beramal buruk?

[16] Yakni berasal dari dirinya, bukan dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

[17] Yakni jika Dia mengazabku, karena Dia Mahakuasa terhadapku.

[18] Oleh karena itu, kalau aku berani mengada-ada terhadap-Nya, tentu Dia bertindak keras terhadapku dan menghukumku dengan hukuman yang dilihat semua orang. Selanjutnya, Beliau mengajak mereka bertobat terhadap hal yang muncul dari mereka berupa menentang yang hak dan memusuhinya, yaitu pada kata-kata, “Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[19] Bagi orang yang bertobat.

[20] Sehingga Dia tidak segera menghukum mereka. Oleh karena itu, bertobatlah kalian kepadanya dan berhentilah dari apa yang kalian kerjakan selama ini, niscaya Dia akan mengampuni dosamu dan merahmatimu; Dia akan memberimu taufiq kepada kebaikan dan membalasmu dengan pahala yang besar.

[21] Yakni aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul, lalu mengapa kamu menganggap aneh kerasulanku dan mendustakanku, padahal sebelumku telah ada para nabi dan rasul yang dakwah mereka sama dengan dakwahku.

[22] Di dunia ini, yakni apakah aku akan diusir dari kampung halamanku atau dibunuh sebagaimana yang terjadi pada para nabi sebelumku, atau kamu merajamku atau bahkan kamu akan diberi hukuman sebagaimana yang terjadi pada orang-orang sebelummu. Aku hanyalah manusia, aku tidak berkuasa apa-apa. Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang berkuasa terhadapku dan terhadapmu, dan aku tidak dapat mendatangkan apa-apa dari sisiku.

[23] Yakni aku tidak mengadakan sesuatu pun dari sisiku.

[24] Yakni jika kamu menerima risalahku dan memenuhi seruanku, maka itu adalah keberuntungan untukmu di dunia dan akhirat, dan jika kamu menolaknya, maka hisabmu terserah Allah, dan aku telah memperingatkan kamu, sedangkan orang yang telah diperingatkan, maka sudah ditegakkan hujjah.

[25] Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abdurrahman bin Jubair bin Nufair dari bapaknya dari ‘Auf bin Malik ia berkata: Suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah pergi dan aku ikut bersamanya sehingga kami memasuki tempat ibadah orang-orang Yahudi di Madinah pada hari raya mereka, lalu mereka tidak senang terhadap masuknya kami kepada mereka, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada mereka, “Wahai kaum Yahudi! Tunjukkanlah kepadaku 12 orang dari kamu yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Allah akan menjatuhkan kemurkaan kepada setiap orang Yahudi dari atas langit.” Lalu mereka semua diam dan tidak ada seorang pun dari mereka yang menjawab, lalu Beliau mengulangi lagi namun tidak ada yang menjawab sehingga ketiga kalinya Beliau mengulangi lagi, namun tidak ada yang menjawab. Kemudian Beliau bersabda, “Demi Allah, kamu memang tidak mau. Sesungguhnya aku adalah orang yang akan mengumpulkan, orang (nabi) yang terakhir, dan nabi yang terpilih, baik kamu beriman atau mendustakan.” Lalu Beliau pulang dan aku ikut bersama Beliau, sehingga ketika kami hendak keluar ada seorang laki-laki yang memanggil dari belakang, “Sebagaimana engkau wahai Muhammad?” Lalu orang itu datang, dan berkata, “Siapakah seseorang yang mau memberitahuku wahai kaum Yahudi?” Mereka (orang-orang Yahudi) menjawab, “Demi Allah, kami tidak mengetahui di antara kami orang yang paling tahu dan paling paham tentang kitab Allah daripada engkau, demikian pula daripada bapakmu sebelummu dan kakekmu yang sebelum bapakmu.”:Lalu orang tersebut berkata, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa dia adalah nabi Allah yang kalian temukan dalam Taurat.” Mereka menjawab, “Engkau dusta.” Kemudian mereka membantah perkataannya dan mengatakan, bahwa pada orang tersebut ada keburukan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kamu dusta dan ucapanmu tidak lagi diterima. Sebelumnya kamu puji dia karena kebaikannya, namun ketika ia beriman, kamu malah mendustakannya dan kamu katakan terhadapnya ucapan yang telah kamu ucapkan sehingga ucapanmu tidak lagi diterima.” Lalu kami keluar dalam keadaan bertiga; yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, aku, dan Abdullah bin Salam, maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat tentangnya (Abdullah bin Salam), “Katakanlah, "Terangkanlah kepada-Ku, bagaimana pendapatmu jika sebenarnya Al Quran ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur’an lalu dia beriman, kamu menyombongkan diri. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Hadits ini menurut Haitsami dalam Majma’uz Zawaa’id juz 7 hal. 106, diriwayatkan oleh Thabrani dan para perawinya adalah para perawi hadits shahih. Ibnu Hibban juga menyebutkannya dalam Mawaariduzh Zham’aan hal. 518, Thabrani juz 26 hal. 12, Hakim dalam Mustadrak juz 3 hal. 416 dan ia berkata, “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim dan didiamkan oleh Adz Dzahabi.” Syaikh Muqbil berkata, “Hadits tersebut sesuai syarat Muslim, karena Bukhari tidak menyebutkan hadits dari Abdurrahman bin Jubair dan bapaknya, demikian pula Shafwan bin ‘Amr, ia (Bukhari) tidak menyebutkannya selain secara mu’allaq sebagaimana dalam biografinya di Tahdziibut tahdziib, wallahu a’lam.”)

Catatan:

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwa Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu adalah orang yang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Beliau baru datang dari Mekah, dan disebutkan hal yang serupa dengan kisah tersebut, namun di sana tidak disebutkan sebab turunnya ayat. Sedangkan kisah ini menunjukkan bahwa Beliau yang pergi ke tempat ibadah mereka. Lalu bagaimanakah menggabungnya? Menurut Syaikh Muqbil, bahwa Abdullah bin Salam ketika telah masuk Islam saat ia datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ia pergi ke kumpulan orang-orang Yahudi, namun mereka tidak mengetahui keislamannya. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepada mereka, Beliau berkata kepada mereka apa yang Beliau katakan, wallahu a’lam. Jika penggabungan ini diridhai, atau Allah membukakan kepada hati anda penggabungan yang lebih baik darinya, jika tidak maka dikuatkan hadits yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, terlebih ‘Auf bin Malik menurut al Waaqidiy, masuk Islam pada perang Khaibar, yang lain berpendapat, bahwa ia hadir pada penaklukkan Mekah, sedangkan menurut Ibnu Sa’ad, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mempersaudarakan antara ‘Auf bin Malik dengan Abud Dardaa’ (dari Al Ishaabah juz 3 hal. 43). Dalam Al Istii’aab, bahwa perang yang dihadirinya pertama kali adalah Khaibar, juz 3 hal. 131 dengan Al Ishaabah. Dalam Ath Thabaqaat juz 7 qaaf 2, bahwa ‘Auf bin Malik Al Asyja’i masuk Islam sebelum peristiwa Hunain dan hadir pada saat perang Hunanin sampai selesai. Dalam Al Mustadrak juz 3 hal. 546 dari Al Waaqidiy sama dengan yang disebutkan di sini, sehingga yang tampak adalah tidak sahnya hadits di atas, wallahu a’lam. Demikianlah menurut Syaikh Muqbil).

[26] Yakni beritahukanlah kepadaku jika sekiranya Al Qur’an dari sisi Allah, dan kebenarannya disaksikan oleh orang-orang Ahli Kitab yang mendapat taufiq, dimana mereka memiliki sesuatu yang dengannya mereka dapat mengetahui kebenaran, lalu mereka beriman kepadanya sehingga sesuailah berita para nabi dan para pengikutnya yang mulia, namun kamu wahai orang-orang yang jahil dan sesat malah bersikap sombong?

[27] Yang dimaksud dengan seorang saksi dari Bani Israil ialah Abdullah bin salam. Ia menyatakan keimanannya kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah memperhatikan bahwa di antara isi Al Quran ada yang sesuai dengan Taurat, seperti ketauhidan, janji dan ancaman, kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, adanya kehidupan akhirat dan sebagainya.

[28] Termasuk kezaliman adalah sombong terhadap yang hak setelah mengetahuinya.

[29] Menolak kebenaran lagi menentangnya.

[30] Ada pula yang menafsirkan dengan “beriman.”

[31] Maksud ayat ini ialah bahwa orang-orang kafir itu mengejek orang-orang Islam dengan mengatakan, kalau sekiranya Al Quran ini benar tentu kami lebih dahulu beriman kepadanya daripada mereka itu, yaitu orang-orang miskin dan lemah seperti Bilal, 'Ammar, Suhaib, Habbab radhiyallahu anhum dan lain-lain. Padahal siapakah yang lebih bersih jiwanya dan sempurna akalnya daripada orang-orang mukmin itu? Ucapan yang muncul dari mereka ini, mereka maksudkan untuk menghibur diri mereka seperti halnya orang yang tidak mendapatkan sesuatu lalu segera mencelanya.

[32] Ini sebab mereka berkata seperti itu, yakni karena mereka tidak mendapat petunjuk dari Al Qur’an ini dan kehilangan pemberian yang paling besar serta harapan yang paling agung, maka mereka berkata bahwa Al Qur’an adalah dusta, padahal ia adalah kebenaran yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya; yang sesuai dengan kitab-kitab samawi (dari langit), khususnya kitab samawi yang paling lengkap dan paling utama setelah Al Qur’an yaitu Taurat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi Bani Israil sehingga mereka memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat.

[33] Yakni membenarkan kitab-kitab yang terdahulu, ia (Al Qur’an) menjadi saksi terhadap kebenaran kitab-kitab itu dan ia (Al Qur’an) dibenarkan pula oleh kitab-kitab sebelumnya.

[34] Agar mudah diterima dan mudah dipelajari.

[35] Yang menzalimi diri mereka dengan kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan jika mereka tetap terus di atasnya, yaitu diberi peringatan dengan azab yang buruk.

[36] Baik dalam beribadah kepada Tuhan mereka maupun dalam memberikan manfaat kepada manusia, yaitu diberi kabar gembira dengan pahala yang banyak, di dunia dan akhirat.

[37] Istiqamah ialah teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal saleh.

[38] Yakni mereka yang mengakui Tuhan mereka, menyaksikan keesaan-Nya dan menaati-Nya serta konsisten di atasnya selama mereka masih hidup, maka tidak ada kekhawatiran atas mereka terhadap keburukan yang ada di hadapan mereka dan tidak pula mereka bersedih hati terhadap yang mereka tinggalkan di belakang mereka.

[39] Mereka tidak ingin pindah darinya dan mencari gantinya. Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar (ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka). Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar. Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar. Amin Yaa Rabbal ‘alamiin.

[40] Berupa iman yang menghendaki amal saleh dan istiqamah di atasnya.

Tafsir Al Ahqaf Ayat 15-25

Ayat 15-18: Pentingnya berbuat ihsan dan berbakti kepada kedua orang tua, serta bahaya durhaka kepada kedua orang tua.

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلا بِكُمْ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (١٥) أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ (١٦) وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (١٧)أُولَئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ (١٨)

Tafsir Al Ahqaf Ayat 15-18

15. [1]Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan[2], sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa[3] dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku[4] dan kepada kedua orang tuaku[5] dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; [6]dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau[7], dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”

16. Mereka itulah[8] orang-orang yang Kami terima amal baiknya yang telah mereka kerjakan[9] dan (orang-orang) yang Kami maafkan kesalahan-kesalahannya, (mereka akan menjadi) penghuni-penghuni surga[10]. Itu janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka[11].

17. [12]Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya[13], "Ah. Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal beberapa umat sebelumku telah berlalu[14]? Lalu kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya berkata, "Celaka kamu, berimanlah![15] Sungguh, janji Allah itu benar.” [16]lalu dia (anak itu) berkata, "Ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu[17].”

18. Mereka itu orang-orang yang telah pasti terkena ketetapan (azab) bersama umat-umat dahulu sebelum mereka, dari golongan jin dan manusia[18]. Mereka adalah orang-orang yang rugi[19].



Ayat 19-20: Balasan terhadap amal manusia pada hari Kiamat dan keadaan orang-orang kafir ketika itu.

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (١٩)وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ (٢٠)

Tafsir Al Ahqaf Ayat 19-20

19. Dan setiap orang[20] memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan[21], dan agar Allah mencukupkan balasan perbuatan mereka, dan mereka tidak dizalimi[22].

20. [23]Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (seraya dikatakan kepada mereka), "Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu[24], dan kamu telah bersenang-senang (menikmati)nya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan, karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran[25], dan karena kamu berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah)[26].”

Ayat 21-25: Kisah Nabi Hud ‘alaihis salam ketika didustakan kaumnya dan bagaimana mereka meminta disegerakan azab serta pembinasaan mereka.

وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالأحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (٢١) قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ آلِهَتِنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (٢٢) قَالَ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَأُبَلِّغُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ (٢٣) فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢٤)تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لا يُرَى إِلا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (٢٥)

Tafsir Al Ahqaf Ayat 21-25

21. Dan ingatlah saudara kaum 'Aad[27] yaitu ketika dia mengingatkan kaumnya di bukit-bukit pasir[28], dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan setelahnya[29] (dengan berkata), "Janganlah kamu menyembah selain Allah, aku sungguh khawatir[30] nanti kamu ditimpa azab pada hari yang besar.”

22. [31]Mereka menjawab, "Apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami?[32] Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah engkau ancamkan kepada kami, jika engkau termasuk orang yang benar[33].”

23. Dia (Hud) berkata, "Sesungguhnya ilmu (tentang itu) hanya pada Allah[34] dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang diwahyukan kepadaku, tetapi aku melihat kamu adalah kaum yang berlaku bodoh[35].”

24. [36]Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.” [37](Bukan!) Tetapi itulah azab yang kamu minta agar disegerakan datangnya, (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,

25. Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya[38], sehingga mereka (kaum ‘Aad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka[39]. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa[40].


[1] Ini termasuk kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada hamba-hamba-Nya dan syukur-Nya kepada mereka; Dia memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua mereka baik dengan berkata yang lembut dan halus, memberi nafkah dan perbuatan lainnya yang termasuk ihsan. Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sebab yang mengharuskan demikian, yaitu karena ibunya mengandungnya dengan merasakan penderitaan saat mengandung, lalu penderitaan saat melahirkan dan penderitaan saat menyusui dan mengasuhnya, dan waktunya tidak sebentar; tidak satu jam atau dua jam; bahkan dalam waktu yang cukup lama, yaitu 30 bulan; untuk hamilnya sembilan bulan dan sisanya untuk menyusui, ini menurut rata-rata.

[2] Ulama berdalil dengan ayat ini, bahwa masa kehamilan paling sedikit adalah enam bulan, karena masa menyusui selama dua tahun, sehingga 30 bulan dikurang 24 bulan sama dengan 6 bulan.

[3] Yakni telah sempurna kekuatannya, akalnya, dan pandangannya, dimana paling sedikitnya adalah 30 atau 33 tahun.

[4] Baik nikmat agama maupun nikmat dunia. Mensyukurinya adalah dengan menggunakan nikmat-nikmat itu untuk menaati pemberi nikmat, mengakuinya dan merasa dirinya kurang bersyukur serta bersungguh-sungguh dalam memuji Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[5] Nikmat yang Allah berikan kepada orang tua kita merupakan nikmat bagi kita. Di antara sekian nikmat yang Allah limpahkan kepada orang tua kita yang paling besarnya adalah nikmat beragama Islam dan mengamalkannya sehingga kita dapat mengikutinya.

[6] Setelah ia berdoa kepada Allah untuk kebaikan dirinya, maka dia berdoa kepada Allah untuk kebaikan anak cucunya, yaitu agar Allah memperbaiki keadaan mereka, dan bahwa kesalihan mereka manfaatnya kembali juga kepada kedua orang tua mereka.

[7] Dari dosa dan maksiat serta kembali menaati-Mu.

[8] Yang telah disebutkan sifatnya di ayat sebelumnya.

[9] Yaitu amal ketaatan.

[10] Sehingga mereka memperoleh kebaikan dan sesuatu yang mereka cintai, dan mereka akan terhindar dari keburukan serta sesuatu yang mereka benci.

[11] Hal itu, karena janji tersebut adalah janji dari Allah yang tidak pernah mengingkari janji.

[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan keadaan orang saleh yang berbakti kepada kedua orang tuanya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kebalikannya, yaitu menyebutkan keadaan orang yang durhaka, dan bahwa keadaan tersebut adalah keadaan yang paling buruk.

[13] Kedua orang tuanya mengajaknya beriman kepada Allah dan hari akhir serta menakut-nakutinya dengan pembalasan. Ini merupakan ihsan yang terbesar yang diberikan orang tua kepada anaknya; mengajak kepada kebahagiaan dan keberuntungan yang kekal. Namun sayang, perbuatan baik ini dibalas dengan balasan yang buruk.

[14] dan mereka belum juga dibangkitkan.

[15] Kedua orang tuanya berusaha keras untuk menunjuki anaknya sampai berdoa kepada Allah untuk kebaikannya, namun dibalas dengan kata-kata yang sangat menyakitkan sampai akhirnya kedua orang tuanya mencelanya dengan keras dan menerangkan yang hak (benar) kepadanya.

[16] Kedua orang tuanya menegakkan hujjah terhadap kebenarannya semampunya, tetapi anaknya tetap saja sombong kepada kebenaran dan menjauhinya serta mencelanya dengan mengatakan, bahwa itu adalah dongengan orang-orang yang terdahulu.

[17] Padahal semua orang tahu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam seorang yang ummiy; tidak mengenal baca-tulis dan tidak belajar kepada seseorang, sehingga dari mana Beliau bisa membawa Al Qur’an yang tidak dapat ditandingi oleh jin dan manusia -meskipun mereka saling bantu-membantu untuk membuat yang semisalnya- kalau bukan berasal dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala?

[18] Yang sama-sama kafir dan mendustakan.

[19] Rugi artinya kehilangan modal, dan jika sudah kehilangan modal, maka bagaimana akan mendapat untung. Mereka telah kehilangan iman, sehingga di akhirat tidak akan mendapatkan sedikit pun kenikmatan serta tidak akan selamat dari azab neraka.

[20] Orang yang baik (mukmin) maupun orang yang buruk (kafir).

[21] Semuanya tergantung tingkat kebaikan dan keburukannya, dan tempat mereka di akhirat tergantung amal mereka. Orang-orang mukmin berada di tempat yang tinggi, yaitu surga, sedangkan orang-orang kafir berada di tempat yang rendah, yaitu neraka.

[22] Yaitu dengan ditambah keburukannya atau dikurangi kebaikannya.

[23] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan keadaan orang-orang kafir ketika dihadapkan ke neraka saat mereka dicela dan digertak.

[24] Yakni kamu merasa tenteram dengan dunia, tertipu oleh kesenangannya, ridha dengan syahwatnya, rezeki yang baik telah membuatmu lalai dari menggunakannya untuk akhirat, dan kamu bersenang-senang seperti bersenang-senangnya hewan ternak.

[25] Yakni karena kamu berkata-kata terhadap Allah dengan tidak benar, kamu nisbatkan jalan sesat yang kamu pegang selama ini kepada Allah dan kepada hukum-Nya, dan kamu dusta dalam semua itu.

[26] Yakni sombong dari menaati-Nya. Dengan demikian, mereka menggabung berkata yang batil, beramal yang batil, berdusta terhadap Allah, mencacatkan yang benar dan sombong terhadap kebenaran, sehingga mereka dihukum dengan hukuman yang sangat pedih.

[27] Yaitu Nabi Hud ‘alaihis salam salah seorang rasul yang mulia; yang Allah lebihkan dia dengan dakwahnya kepada agama-Nya dan membimbing manusia kepada-Nya.

[28] Yang berada di Yaman.

[29] Sehingga Beliau bukanlah rasul yang baru.

[30] Jika kamu menyembah selain-Nya.

[31] Namun ternyata dakwah Beliau tidak bermanfaat apa-apa bagi mereka.

[32] Yakni kamu tidak punya niat selain dengki kepada sesembahan kami, sehingga kamu ingin memalingkan kami darinya.

[33] Ini merupakan kebodohan yang dalam dan sikap keras kepala mereka.

[34] Yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang mengetahui kapan datangnya azab itu kepada kamu.

[35] Karena meminta disegerakan azab.

[36] Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengirimkan kepada mereka azab yang besar, yaitu angin yang akan membinasakan mereka. Angin tersebut seperti awan yang menuju lembah-lembah mereka untuk memberikan siraman hujan.

[37] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman.

[38] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menimpakan angin itu dengan izin dan kehendak-Nya selama 7 malam dan 8 hari terus menerus sehingga mereka mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).

[39] Jiwa, harta dan hewan ternak mereka binasa oleh azab itu.

[40] Disebabkan dosa dan kezaliman mereka, padahal Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah melimpahkan nikmat yang banyak, namun mereka tidak mensyukurinya dan tidak mengingat-Nya sebagaimana yang Allah terangkan dalam ayat selanjutnya.