Tampilkan postingan dengan label 052-Ath Thuur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 052-Ath Thuur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2014

Tafsir Ath Thuur Ayat 29-49

Ayat 29-44: Membantah keyakinan orang -orang kafir, menegakkan hujjah terhadap mereka dan menakut-nakuti mereka dengan azab.

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلا مَجْنُونٍ (٢٩) أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ (٣٠) قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ (٣١)أَمْ تَأْمُرُهُمْ أَحْلامُهُمْ بِهَذَا أَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ (٣٢)أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ بَلْ لا يُؤْمِنُونَ (٣٣) فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ (٣٤) أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ (٣٥) أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بَل لا يُوقِنُونَ (٣٦) أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُونَ (٣٧) أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (٣٨) أَمْ لَهُ الْبَنَاتُ وَلَكُمُ الْبَنُونَ (٣٩) أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ (٤٠) أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ (٤١) أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَ (٤٢)أَمْ لَهُمْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٤٣) وَإِنْ يَرَوْا كِسْفًا مِنَ السَّمَاءِ سَاقِطًا يَقُولُوا سَحَابٌ مَرْكُومٌ (٤٤)

Terjemah Surat Ath Thuur Ayat 29-44

29. [1]Maka peringatkanlah[2], karena dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah seorang tukang tenung[3] dan bukan pula orang gila[4].

30. Bahkan mereka berkata, "Dia adalah seorang penyair[5] yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya[6].”

31. Katakanlah (Muhammad), "Tunggulah! Sesungguhnya aku pun termasuk orang yang sedang menunggu[7] bersama kamu.”

32. Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini[8] ataukah mereka kaum yang melampaui batas?

33. Ataukah mereka berkata, "Dia (Muhammad) mereka-rekanya[9].” Sebenarnya mereka tidak beriman[10].

34. Maka cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Al Quran) jika mereka orang-orang yang benar[11].

35. Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul[12] ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)[13]?

36. Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi[14]? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)[15].

37. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu[16] ataukah mereka yang berkuasa[17]?

38. Atau apakah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan (hal-hal yang gaib)[18]? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka itu datang membawa keterangan yang nyata[19].



39. Ataukah (pantas) untuk Dia anak-anak perempuan[20] sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki[21]?

40. Ataukah engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka[22] sehingga mereka dibebani dengan hutang[23]?

41. Ataukah di sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya[24]?

42. Ataukah mereka[25] hendak melakukan tipu daya[26]? Tetapi orang-orang yang kafir itu, justru merekalah yang terkena tipu daya[27].

43. Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah[28]? Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan[29].

44. [30]Dan jika mereka melihat gumpalan-gumpalan awan berjatuhan dari langit[31], mereka berkata, "Itu adalah awan yang bertumpuk-tumpuk[32].”

Ayat 45-49: Arahan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk beribadah dan bersabar dalam memikul beban dakwah sampai datang pertolongan Allah.

فَذَرْهُمْ حَتَّى يُلاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي فِيهِ يُصْعَقُونَ (٤٥) يَوْمَ لا يُغْنِي عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا وَلا هُمْ يُنْصَرُونَ (٤٦) وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَلِكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٤٧)وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ (٤٨) وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ (٤٩

Terjemah Surat Ath Thuur Ayat 45-49

45. Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka, pada hari itu mereka dibinasakan[33],

46. (yaitu) pada hari (ketika) tipu daya mereka tidak berguna sedikit pun bagi mereka[34] dan mereka tidak akan diberi pertolongan.

47. [35]Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang zalim masih ada azab selain itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui[36].

48. [37]Dan bersabarlah (Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu[38], karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami[39], dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika engkau bangun[40],

49. [41]dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya[42] dan (juga) pada waktu terbenamnya bintang-bintang (pada waktu fajar)[43].


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya agar tetap memberikan peringatan kepada manusia, baik yag muslim maupun yang kafir agar hujjah Allah tegak kepada mereka dan agar dengan peringatan itu orang-orang yang mendapatkan taufiq memperoleh petunjuk. Demikian pula agar Beliau tidak mempedulikan ucapan dan gangguan orang-orang musyrik untuk menghalangi manusia dari mengikuti Beliau, padahal mereka mengetahui bahwa Beliau tidak seperti apa yang mereka tuduhkan. Oleh karena itulah di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menafikan kekurangan yang mereka tuduhkan kepada Beliau, “Karena dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila.”

[2] Maksudnya tetaplah memberikan peringatan kepada orang-orang musyrik dan jangan berhenti hanya karena mereka mengatakan bahwa engkau adalah seorang dukun atau seorang yang gila.

[3] Yaitu orang yang memiliki khadam (pelayan) dari kalangan jin yang datang kepadanya membawa sebagian berita gaib yang dicuri dari langit yang kemudian dicampur dengan seratus kedustaan.

[4] Yakni yang hilang akal. Bahkan engkau wahai Muhammad adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling jauh dari setan, paling jujur, paling mulia dan paling sempurna.

[5] Dalam ayat lain, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.” (Terj. Yaasin: 69)

[6] Sehingga kami dapat beristirahat darinya.

[7] Kecelakaan menimpa kamu, yaitu dengan Allah timpakan musibah kepada kamu dengan azab dari sisi-Nya atau melalui tangan kami. Ternyata mereka diazab dengan dibunuh pada perang Badar.

[8] Yaitu ucapan bahwa Beliau sebagai pesihir, dukun, orang gila atau penyair. Jika demikian, sungguh buruk akal mereka yang menghasilkan kesimpulan yang buruk pula. Karena akal yang baik tidaklah menganggap orang yang sempurna akalnya sebagai orang gila, orang yang paling jujur sebagai pendusta dan orang yang paling amanah sebagai orang yang khianat. Atau mungkin yang membuat mereka berkesimpulan seperti itu adalah kezaliman dan sikap melampaui batas mereka. Sepertinya inilah keadaan mereka. Orang yang melampaui batas sudah lepas dari aturan, maka tidak aneh jika keluar ucapan dan perbuatan yang tidak beraturan.

[9] Yakni menagada-ada Al Qur’an dan berasal dari dirinya sendiri.

[10] Karena kesombongan. Kalau mereka beriman, tentu mereka tidak akan mengucapkan kata-kata itu.

[11] Bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengada-ada, karena kamu adalah orang-orang yang faseh dan ahli sastra. Dia (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) telah menantang kamu untuk mendatangkan yang semisal dengan Al Qur’an, sekarang kamu tinggal membenarkan pertentangan kamu atau mengakui kebenarannya, padahal jika kamu berkumpul bersama jin dan manusia yang lain untuk membuat yang semisalnya, tentu kamu tidak akan sanggup. Oleh karena itu, kamu berada antara dua keadaan; beriman dan mengambilnya sebagai petunjuk atau menentangnya dengan mengikuti kebatilan yang kamu pegang.

[12] Maksudnya, tanpa pencipta. Hal ini tidaklah mungkin. Sudah pasti adanya makhluk, maka ada yang menciptakan, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Maka mengapa mereka tidak mentauhidkan-Nya dan beriman kepada Rasul-Nya dan kitab-Nya.

[13] Ini adalah berdalih dengan sesuatu yang tidak memberikan kesempatan kepada mereka selain tunduk kepada kebenaran atau jika tidak ia keluar dari sesuatu yang sejalan dengan akal dan fitrahnya. Lebih jelasnya adalah sebagai berikut:

Mereka mengingkari keesaan Allah dan mendustakan Rasul-Nya, dan hal ini sama saja mereka mengingkari bahwa Allah yang telah menciptakan mereka. Karena sudah maklum menurut akal bersama syara’, bahwa dalam hal ini tidak lepas dari tiga perkara:

- Bisa bahwa mereka diciptakan tanpa sesuatu, yakni tidak ada yang menciptakan mereka, bahkan mereka ada tanpa ada yang mewujudkannya, dan hal ini jelas mustahil.

- Bisa bahwa mereka yang menciptakan diri mereka. Hal ini juga sama termasuk mustahil, karena tidak dapat dibayangkan bahwa mereka yang mengadakan diri mereka sendiri.

Jika kedua hal ini ditolak oleh akal dan dianggap mustahil, maka tinggallah perkara yang ketiga, yaitu:

- Bahwa Allah yang telah menciptakan mereka. Jika demikian, maka dapat diketahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala Dialah yang berhak disembah, dimana tidak pantas ditujukan ibadah selain kepada-Nya.

[14] Padahal tidak ada yang sanggup menciptakan keduanya kecuali Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh kiarena itu, mengapa mereka tidak menyembah-Nya? Pertanyaan ini untuk menguatkan penafian, yakni mereka bukanlah yang menciptakan langit dan bumi, dan demikianlah kenyataannya.

[15] Maksudnya, mereka tidak memiliki ilmu yang sempurna dan keyakinan yang mengharuskan mereka mengambil manfaat dan pelajaran dari dalil-dalil syar’i dan ‘aqli (akal).

[16] Maksudnya, apakah pada sisi mereka perbendaharaan rahmat Tuhanmu (seperti kenabian, rezeki dan lainnya), sehingga mereka memberikan dan menghalangi perbendahraan itu sesuai yang kehendak mereka, sehingga mereka bisa menghalangi Allah untuk memberikan kenabian kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana mereka seakan-akan sebagai wakil yang diserahi terhadap perbendahraan rahmat Allah, padahal mereka lebih hina dan rendah dari itu; mereka tidak berkuasa memberi manfaat, menimpakan madharrat, mematikan, menghidupkan dan membangkitkan. Dalam ayat lain Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Terj. Az Zukhruf: 32)

[17] Yakni berkuasa terhadap makhluk Allah dan milik-Nya dengan menguasai dan mengalahkan? Bahkan mereka adalah orang-orang yang lemah dan fakir.

[18] Di antara penghuni langit.

[19] Bagaimana mereka bisa membawakannya, padahal Allah-lah yang mengetahui yang gaib maupun yang tampak, Dia tidak memberitahukan perkara gaibnya itu kepada seorang pun selain kepada rasul yang diridhai-Nya.

Jika Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Rasul yang paling utama, paling berilmu dan sebagai pemimpin mereka; dia memberitahukan apa yang diberitakan Allah seperti tentang keesaan Allah, janji-Nya, ancaman-Nya dan lain sebagainya yang termasuk berita-berita gaib, sedangkan orang-orang yang mendustakan adalah tidak seperti itu (mereka tidak berilmu, tersesat lagi membangkang), maka berita manakah yang lebih berhak diikuti? Terlebih, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menegakkan dalil-dalil dan bukti yang menguatkan berita Beliau dimana dalil dan bukti itu menjadikan berita itu sebagai berita yang yakin, benar, sedangkan mereka tidak membawakan bukti, bahkan yang syubhat saja tidak bisa mereka datangkan?

[20] Seperti yang kamu sangka wahai orang-orang musyrik.

[21] Kamu sama saja telah mengerjakan dua larangan; kamu jadikan untuk-Nya anak dan kamu pilih di antara anak itu yang paling buruknya? Bukankah ini merupakan pencacatan terhadap Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[22] Karena menyampaikan risalah.

[23] Bahkan tidak demikian. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang sangat memperhatikan mereka, Beliau membimbing mereka secara suka rela tanpa mengharapkan imbalan, bahkan Beliau memberikan kepada mereka harta yang banyak agar mereka menerima risalahnya, memenuhi seruannya dan dakwahnya agar mereka yang lunak hatinya dapat mengambil ilmu darinya dan beriman.

[24] Yakni apakah mereka mengetahui yang gaib yang tidak diketahui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu pengetahuan itu mereka gunakan untuk menentang dan membangkang kepada Beliau? Sudah menjadi maklum, mereka adalah umat yang ummi (tidak tahu baca-tulis), tidak berpengetahuan dan teresat, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki ilmu yang lebih dibanding mereka, dan Allah telah memberitakan kepadanya pengetahuan terhadap hal gaib yang tidak diketahui oleh orang lain.

Semua yang disebutkan dalam ayat di atas adalah agar mereka beriman dengan metode akal maupun naql yang menunjukkan rusaknya pendapat mereka, sekaligus memberikan bayangan terhadap kebatilannya dengan cara yang paling baik, paling jelas dan paling selamat dari krtikan.

[25] Dengan mencacatkan kamu wahai Muhammad dan apa yang kamu bawa.

[26] Untuk membatalkan agamamu.

[27] Yakni tipu daya mereka akan kembali menimpa mereka. Al Hamdulillah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah melakukannya. Orang-orang kafir telah mengerahkan segala tipu daya mereka, namun Allah Subhaanahu wa Ta'aala menolong nabi-Nya dan agama-Nya, Dia menjadikan mereka tidak berhasil dan kecewa.

[28] Yang diminta dan diharakan manfaatnya serta dikhawatirkan bahayanya di samping Allah Ta’ala?

[29] Oleh karena itu, tidak ada sekutu bagi-Nya baik dalam kerajaan-Nya maupun dalam ibadah. Inilah sebenarnya maksud dari ayat-ayat sebelumnya, yaitu menyatakan batilnya menyembah selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan menerangkan batilnya dengan dalil-dalil yang qath’i tadi dan bahwa apa yang dipegang kaum musyrikin selama ini adalah batil, dan bahwa yang berhak diibadahi, disembah, disujudi dan diminta adalah Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang sempurna nama dan sifat-Nya, sifat-sifat-Nya indah, perbuatan-Nya bagus, Pemilik keagungan dan kemuliaan, kemuliaan-Nya tidak henti-hentinya, Mahaesa, yang dituju, Yang Mahabesar lagi Mahamulia.

[30] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menerangkan bahwa kaum musyrik yang mendustakan kebenaran telah melampaui batas dari kebenaran, tetap akan berada di atas kebatilan, dan bahwa jika setiap kebenaran ditegakkan dalilnya niscaya mereka tidak akan mengikutinya, bahkan akan menyelisihinya dan menentangnya.

[31] Sebagai azab.

[32] Yakni ini adalah awan biasa yang bertumpuk-tumpuk, mereka tidak peduli terhadap ayat-ayat yang ditunjukkan dan tidak mengambil pelajaran darinya. Oleh karena itu, untuk mereka ini tidak ada penawar yang dapat menyadarkannya selain azab. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman di ayat selanjutnya, “Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka, pada hari itu mereka dibinasakan,”

[33] Yaitu hari Kiamat, dimana pada hari itu mereka ditimpa azab yang besar.

[34] Baik sedikit maupun banyak, meskipun di dunia terkadang ada tipu daya dari mereka yang dapat mereka lakukan, namun dalam waktu yang sebentar saja, dan pada hari Kiamat semua tipu daya mereka akan lenyap, usaha mereka sia-sia, dan mereka tidak akan ditolong dari azab Allah.

[35] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan azab untuk orang-orang zalim pada hari Kiamat, maka Allah memberitahukan bahwa untuk mereka ada lagi azab selain azab pada hari Kiamat. Azab tersebut mencakup azab di dunia dengan terbunuh, tertawan, diusir, diazab dengan kelaparan, kemarau panjang, terbunuh pada perang Badar.dan azab di alam barzakh.

[36] Oleh karena itu, mereka tetap terus mengerjakan perbuatan yang mengharuskan.

[37] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan hujjah-hujjah dan bukti-bukti yang menunjukkan batilnya ucapan orang-orang yang mendustakan, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam agar tidak mempedulikan sedikit pun mereka serta bersabar terhadap ketetapan Tuhannya baik yang qadari (terhadap alam semesta) maupun syar’i (dalam agama) yaitu dengan tetap istiqamah di atasnya, dan Dia juga menjanjikan akan memberikan kecukupan kepada Beliau.

[38] Dan janganlah kamu bersempit dada.

[39] Yakni dalam pantauan dan penjagaan Kami.

[40] Maksudnya, hendaklah kamu bertasbih ketika bangun dari tidur atau bangun meninggalkan majlis, atau ketika berdiri hendak shalat.

Ketika bangun dari tidur, yaitu sebagaimana dalam hadits berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : « مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ : فَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . الْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ . ثُمَّ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى . أَوْ دَعَا اسْتُجِيبَ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتُهُ » .

Dari ‘Ubadah bin Ash Shaamit: Dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barang siapa yang terbangun dari tidurnya, lalu mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . الْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. kepunyaan-Nya-lah kerajaan dan kepunyaan-Nya-lah segala pujian. Dia Mahakuasa terhadap segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Mahasuci Allah, Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar dan tidak ada daya serta upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”

Kemudian berkata, “Ya Allah, ampunilah aku” atau dia berdoa, maka doanya akan dikabulkan. Jika dia berwudhu’ kemudian shalat, maka shalatnya akan diterima.” (HR. Bukhari)

Ketika bangun meninggalkan masjid, yaitu dengan mengucapkan doa kaffaratul majlis. Sedangkan ketika bangun untuk shalat dengan membaca doa iftitah berikut:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ .

“Mahasuci Engkau ya Allah sambil memuji-Mu, Mahaberkah nama-Mu, Mahatinggi keagungan-Mu dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.” (Ini adalah doa iftitah Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim).

[41] Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam agar dapat bersabar dengan berdzikr dan beribadah.

[42] Ada yang menafsirkan dengan shalat di waktu Maghrib dan Isya serta di waktu Fajar (shalat Subuh). Dalam ayat ini terdapat perintah untuk Qiyamullail .

[43] Ada yang menafsirkan dengan waktu Fajar (shalat Subuh).

Tafsir Ath Thuur Ayat 17-28

Ayat 17-28: Kenikmatan yang akan diperoleh orang-orang yang bertakwa.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ (١٧) فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (١٨) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٩) مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ (٢٠) وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (٢١)وَأَمْدَدْنَاهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ (٢٢) يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لا لَغْوٌ فِيهَا وَلا تَأْثِيمٌ (٢٣) وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَكْنُونٌ (٢٤) وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ (٢٥) قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ (٢٦) فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ (٢٧) إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ (٢٨)

Terjemah Surat Ath Thuur Ayat 1-16

17. [1]Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa[2] berada dalam surga[3] dan kenikmatan[4],

18. mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka[5]; dan Tuhan memelihara mereka dari azab neraka[6].

19. (Dikatakan kepada mereka), "Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.”

20. Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun[7] dan Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah[8].

21. Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga)[9], dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. [10]Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya[11].

22. Dan Kami berikan kepada mereka tambahan berupa buah-buahan[12] dan daging dari segala jenis yang mereka ingini[13].

23. (Di dalam surga itu) mereka saling

mengulurkan gelas (khamr) yang isinya tidak (menimbulkan) ucapan yang tidak berfaedah atau pun perbuatan dosa[14].

24. Dan di sekitar mereka ada anak-anak muda yang berkeliling untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan[15].

25. Dan sebagian mereka berhadap-hadapan satu sama lain saling bertegur sapa[16].

26. Mereka berkata[17], "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)[18].”

27. Maka Allah memberikan karunia kepada kami[19] dan memelihara kami dari azab neraka[20].

28. Sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu[21]. Dialah Yang Maha Melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang[22].”


[1] Ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan hukuman orang-orang yang mendustakan, maka Dia menyebutkan nikmat yang diberikan-Nya kepada orang-orang yang bertakwa agar berkumpul antara targhib dan tarhib, rasa cemas dan harap.

[2] Kepada Tuhan mereka; menjaga diri dari kemurkaan dan azab-Nya dengan mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

[3] Jannat bisa diartikan kebun-kebun yang penuh dengan pohon-pohon yang lebat, sungai yang memancar, istana-istana dan tempat-tempat yang indah.

[4] Baik bagi hati, ruh maupun badan.

[5] Mereka merasa bangga dan senang dengannya karena kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka yang tidak bisa disifatkan.

[6] Yang demikian karena mereka mengerjakan apa yang dicintai Allah dan menjauhi apa yang dimurkai-Nya.

[7] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati dipan-dipan tersebut bahwa ia tersusun yang menunjukan banyaknya, rapinya, berkumpulnya keluarganya dan senangnya mereka karena baiknya pergaulan mereka dan halusnya ucapan antara sesama mereka. Ketika kenikmatan hati, ruh maupun badan telah berkumpul pada mereka yang belum pernah terbayang berupa makanan dan minuman yang enak dan tempat duduk yang indah, tinggallah mereka bersenang-senang dengan wanita yang kesenangannya tidak sempurna tanpanya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan bahwa untuk mereka ada istri-istri yang paling sempurna sifat, fisik dan akhlaknya. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “dan Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah.”

[8] Wanita-wanita ini menggabung antara penampilan yang menarik dan akhlak yang utama, yang membuat orang-orang yang melihatnya tercengang karena begitu cantiknya, bahkan membuat hati melayang kepadanya karena rindunya. Mata mereka indah, dimana warna putih dan hitamnya begitu jelas.

[9] Maksudnya, anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah derajatnya sebagaimana derajat bapak-bapak mereka, dan dikumpulkan dengan bapak-bapak mereka di dalam surga meskipun mereka tidak mengerjakan amal mereka (bapak-bapak mereka) sebagai penghormatan dan balasan kepada bapak-bapak mereka, serta sebagai tambahan terhadap pahala mereka. Ini termasuk di antara sempurnanya kenikmatan penghuni surga. Meskipun begitu Allah tidak mengurangi amal saleh bapak-bapak mereka. Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar (Ya Allah, kami meminta surga kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu dari neraka). Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar. Allahumma innaa nas’alukal jannah wa na’uudzu bika minan naar. Rabbanagh firlanaa wa li waalidainaa kamaa rabbayaanaa shighaaraa.

[10] Terkadang timbul anggapan, bahwa penghuni neraka juga sama, yakni Allah pertemukan mereka dan keturunannya di neraka, maka Allah memberitahukan bahwa hukum di antara kedua tempat itu (surga dan neraka) tidak sama, karena neraka adalah tempat keadilan, dan di antara keadilan Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dia tidak akan mengazab seorang pun kecuali karena dosanya. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

[11] Jika baik maka dibalas dengan kebaikan, dan jika buruk maka dibalas dengan keburukan, dan seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain.

[12] Seperti anggur, delima, apel dan berbagai buah-buahan lainnya yang enak.

[13] Meskipun mereka tidak menyebutkan secara tegas permintaannya.

[14] Berbeda dengan khamr (arak) di dunia, yang menimbulkan ucapan yang sia-sia dan perbuatan dosa. Jika tidak ada ucapan yang sia-sia dan perbuatan dosa, maka yang ada adalah ucapan salam, baik dan suci, menyenangkan jiwa dan menggembirakan hati. Mereka tidak mendengar dari Tuhan mereka selain sesuatu yang menyenangkan mereka dan menunjukkan ridha dan cinta-Nya kepada mereka.

[15] Hal ini menunjukkan banyaknya kenikmatan yang mereka peroleh, luas dan sempurnanya istirahat mereka.

[16] Yakni tentang urusan dunia dan keadaannya.

[17] Menyebutkan keadaan mereka sewaktu di dunia sehingga mereka sampai ke tempat yang penuh kenikmatan itu.

[18] Yakni oleh karena rasa takut kami kepada azab, maka kami tinggalkan dosa-dosa dan kami kerjakan perintah-perintah Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[19] Dengan memberikan ampunan, hidayah dan taufiq kepada kami.

[20] Yaitu azab yang sangat panas.

[21] Yakni mentauhidkan-Nya. Bisa juga kata-kata “nad’uuhu” diartikan, “Kami berdoa kepada-Nya,” yakni berdoa kepada-Nya agar kami dihindarkan dari azab neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Kami selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagai ibadah dan berdoa kepada-Nya di setiap waktu.

[22] Termasuk kebaikan dan rahmat-Nya kepada kami adalah Dia memberikan kepada kami keridhaan-Nya dan surga-Nya serta menghindarkan kami dari kemurkaan-Nya dan dari neraka.

Tafsir Ath Thuur Ayat 1-16

Surah Ath Thuur (Gunung Sinai)

Surah ke-52. 49 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-16: Sumpah-sumpah Allah yang menegaskan bahwa azab Allah pasti datang kepada orang-orang yang mendustakan, dan bahwa karunia-Nya pasti akan dilimpahkan kepada orang-orang yang bertakwa.

وَالطُّورِ (١) وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ (٢) فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ (٣) وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ (٤) وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ (٥) وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ (٦)إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ (٧) مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ (٨) يَوْمَ تَمُورُ السَّمَاءُ مَوْرًا (٩) وَتَسِيرُ الْجِبَالُ سَيْرًا (١٠) فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ (١١)الَّذِينَ هُمْ فِي خَوْضٍ يَلْعَبُونَ (١٢) يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَى نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا (١٣) هَذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ (١٤) أَفَسِحْرٌ هَذَا أَمْ أَنْتُمْ لا تُبْصِرُونَ (١٥) اصْلَوْهَا فَاصْبِرُوا أَوْ لا تَصْبِرُوا سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٦)

Terjemah Surat Ath Thuur Ayat 1-16

1. [1]Demi gunung (Sinai),

2. dan demi kitab yang ditulis[2],

3. Pada lembaran yang terbuka[3],

4. demi Baitul Ma'mur[4],

5. demi atap yang ditinggikan (langit)[5],

6. demi lautan yang penuh gelombang[6],

7. Sungguh, azab Tuhanmu pasti terjadi,

8. Tidak sesuatu pun yang dapat menolaknya[7],

9. [8]pada hari ketika langit berguncang sekeras-kerasnya,

10. dan gunung berjalan berpindah-pindah[9].



11. Maka celakalah[10] pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.

12. [11]Orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan (perbuatan dosa)[12],

13. pada hari (ketika) itu mereka didorong ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya[13].

14. [14](Dikatakan kepada mereka), "Inilah neraka yang dahulu kamu mendustakannya.”

15. Maka apakah ini[15] sihir? Ataukah kamu tidak melihat?

16. Masukklah ke dalamnya (rasakanlah panas apinya)[16]; baik kamu bersabar atau tidak[17], sama saja bagimu; sesungguhnya kamu hanya diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan beberapa perkara yang besar terhadap hikmah-hikmah yang besar, terhadap kebangkitan, pembalasan kepada orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang mendustakan. Dia bersumpah dengan gunung Sinai; gunung dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala berbicara dengan Nabi Musa ‘alaihis salam dan mewahyukan kepadanya apa yang Dia wahyukan berupa hukum-hukum yang menjadi karunia bagi Beliau dan umatnya yang menjadi ayat atau tanda kekuasaan Allah dan nikmat-nikmat-Nya yang tidak dapat dinilai dan dihargakan oleh hamba.

[2] Bisa maksudnya Lauh Mahfuzh, bisa juga maksudnya adalah Al Qur’an yang merupakan kitab yang paling utama yang di dalamnya terdapat berita orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian.

[3] Yakni tertulis, tampak dan tidak tersembunyi, dan keadaannya tidak samar bagi setiap orang yang berakal dan memiliki pandangan yang tajam.

[4] Baitul Ma'mur ialah ka'bah karena ka'bah selalu mendapat kunjungan haji, 'umrah, tawaf dan lain-lain atau sebuah rumah di langit yang ketujuh yang setiap hari dimasuki oleh 70.000 malaikat; setelah mereka keluar, maka mereka tidak kembali lagi.

[5] Langit Allah Subhaanahu wa Ta'aala jadikan sebagai atap bagi bumi, dimana cahaya yang tampak di bumi berasal dari sana, tanda-tandanya dipakai sebagai petunjuk jalan, dan dari sana Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan hujan, rahmat dan berbagai rezeki.

[6] Yakni penuh airnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memenuhkan laut dengan air dan menahannya agar tidak melimpah ke bumi, dimana secara tabiat akan membanjiri permukaan bumi, namun hikmah Allah menghendaki agar air itu tidak tumpah dan banjir agar makhluk yang tinggal di permukaan bumi dapat hidup. Ada pula yang menafsirkan “Wal bahril masjuur” dengan yang dinyalakan api dalam tanahnya, yakni akan menyalakan api pada hari Kiamat, sehingga menjadi api yang menyala-nyala.

Semua ini, yakni perkara-perkara yang Allah bersumpah dengannya menunjukkan bahwa ia termasuk ayat-ayat Allah dan dalil yang menunjukkan keesaan-Nya, bukti kekuasaan-Nya dan berkuasanya Dia membangkitkan orang-orang yang telah mati. Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi,” (Terj. Ath Thuur: 7), maksudnya pasti terjadi dan Allah tidak akan menyalahi janji-Nya.

[7] Karena kekuasaan Allah tidak ada yang dapat melemahkannya.

[8] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sifat atau keadaan pada hari itu.

[9] Yakni berpindah dari tempatnya dan berjalan seperti awan berjalan, lalu gunung itu dijadikan seperti bulu yang dihambur-hamburkan dan menjadi seperti debu. Itu semua karena dahsyatnya hari Kiamat dan mengerikannya peristiwa ketika itu dan terdapat guncangan yang besar yang menjadikan benda-benda besar menjadi seperti itu, lalu bagaimana dengan manusia?

[10] Wail atau kecelakaan adalah kata yang mencakup semua siksaan, kesedihan, azab dan ketakutan.

[11] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sifat orang-orang yang mendustakan yang mendapatkan wail atau kecelakaan itu.

[12] Pengetahuan dan pengkajian mereka hanya berfokus pada pengetahuan yang memberikan madharrat (bahaya) yang isinya mengandung pendustaan kepada kebenaran, pembenaran kepada kebatilan, dan perbuatan mereka adalah perbuatan orang-orang yang bodoh; berbeda dengan orang-orang yang membenarkan dan beriman, dimana ilmu mereka bermanfaat dan amal mereka saleh.

[13] Dan mereka diseret di atas wajahnya.

[14] Dikatakan kepada mereka sambil dicela dengan keras.

[15] Kata “ini” bisa tertuju kepada neraka dan azab sebagaimana ditunjukkan oleh susunan ayatnya, yakni ketika mereka melihat neraka dan azab, maka dikatakan kepada mereka secara keras, “Apakah ini sihir yang tidak ada hakikatnya, padahal kamu melihatnya ataukah kamu di dunia tidak melihatnya?” Maksudnya, kamu seakan-akan tidak memiliki bashirah dan ilmu, tidak mengetahui perkara ini sehingga belum tegak hujjah kepada kamu? Untuk menjawabnya adalah dengan dinafikan kedua perkara tersebut. Keadaannya sebagai sihir, maka telah tampak bagi mereka, bahwa ia merupakan kebenaran yang paling benar dan menyelisihi sihir dari berbagai sisi. Adapun keadaan mereka tidak melihatnya karena kenyataannya tidak demikian, bahkan hujjah Allah telah tegak bagi mereka, para rasul telah mengajak mereka beriman serta menegakkan dalil dan bukti terhadapnya yang menjadikan perkara itu sebagai perkara yang paling jelas dan tampak.

Bisa juga kata “ini” dalam ayat di atas tertuju kepada apa yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berupa kebenaran yang jelas dan jalan yang lurus, yakni apakah yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sihir atau kamu tidak memiliki bashirah seingga perkara itu samar bagi kamu, padahal keadaannya lebih jelas dari segala sesuatu dan kebenarannya adalah kebenaran yang paling benar, dan bahwa hujjah Allah telah tegak atas mereka.

[16] Maksudnya, masukilah neraka yang meliputi kamu, membakar semua badanmu dan naik sampai ke hati kamu.

[17] Yakni sabarnya kamu terhadap neraka tidaklah berfaedah apa-apa bagimu, tidak meringankan azab itu dan tidak termasuk perkara yang jika seorang hamba bersabar terhadapnya, maka bebannya menjadi ringan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghukum demikian kepada mereka adalah karena amal dan perbuatan mereka yang jelek. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.”