Tampilkan postingan dengan label 053-An Najm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 053-An Najm. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Mei 2014

Tafsir An Najm Ayat 42-62

Ayat 42-62: Atsar dari kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala pada makhluk-Nya, dan bahwa Dia berkuasa membangkitkan mereka serta peringatan kepada kaum kafir Mekah dengan azab yang menimpa umat-umat yang mendustakan agar mereka mengambil pelajaran darinya.

وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (٤٢) وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى (٤٣) وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا (٤٤) وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَى (٤٥) مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى (٤٦)وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ الأخْرَى (٤٧) وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَى وَأَقْنَى (٤٨) وَأَنَّهُ هُوَ رَبُّ الشِّعْرَى (٤٩)وَأَنَّهُ أَهْلَكَ عَادًا الأولَى (٥٠) وَثَمُودَ فَمَا أَبْقَى (٥١) وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَى (٥٢) وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى (٥٣) فَغَشَّاهَا مَا غَشَّى (٥٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكَ تَتَمَارَى (٥٥)هَذَا نَذِيرٌ مِنَ النُّذُرِ الأولَى (٥٦) أَزِفَتِ الآزِفَةُ (٥٧) لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ كَاشِفَةٌ (٥٨) أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ (٥٩) وَتَضْحَكُونَ وَلا تَبْكُونَ (٦٠) وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ (٦١)فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا (٦٢)

Terjemah Surat Ath Thuur Ayat 31-41

42. dan sesungguhnya kepada Tuhamulah kesudahannya (segala sesuatu)[1],

43. dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis[2],

44. Dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan[3],

45. Dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan[4],

46. dari mani, apabila dipancarkan[5],

47. dan sesungguhnya Dialah yang menetapkan penciptaan yang lain (kebangkitan setelah mati)[6],

48. dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan[7],



49. dan sesungguhnya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang syi'ra[8],

50. dan sesungguhnya Dialah yang telah membinasakan kaum 'Aad yang dahulu kala[9],

51. dan kaum Tsamud[10], tidak seorang pun yang ditinggalkan-Nya (hidup),

52. dan (juga) kaum Nuh sebelum itu[11]. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka[12].

53. Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah[13],

54. Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya.

55. Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kamu ragukan[14]?

56. Ini (Muhammad) salah seorang pemberi peringatan di antara para pemberi peringatan yang telah terdahulu[15].

57. Yang dekat (hari Kiamat) telah makin mendekat[16].

58. Tidak ada yang akan mengungkapkan (terjadinya hari itu) selain Allah.

59. [17]Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini[18]?

60. Dan kamu tertawakan dan tidak menangis[19]?

61. Sedang kamu lengah (darinya)[20].

62. Maka bersujudlah kepada Allah[21] dan sembahlah (Dia).


[1] Yakni tempat kembali mereka setelah mati adalah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka. Kepada-Nyalah segala sesuatu dan semua makhluk kembali. Kepada-Nya berpulang pengetahuan, hikmah-hikmah, rahmat dan seluruh kesempurnaan.

[2] Yakni Dialah yang mengadakan sebab tertawa, sebab menangis, dan Dia memiliki hikmah dalam hal itu.

[3] Yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala, Dialah yang sendiri mengadakan dan meniadakan, Dia yang mengadakan makhluk, memerintahkan mereka dan melarang, maka Dia akan mengembalikan mereka setelah mereka mati dan akan memberikan balasan terhadap amal yang mereka kerjakan selama di dunia.

[4] Termasuk pula dari jenis hewan, ada jantan dan ada betina.

[5] Dalam rahim. Hal ini termasuk dalil terbesar yang menunjukkan sempurnanya kekuasaan Allah dan sendirinya Dia dengan keperkasaan, Dia mengadakan makhluk hidup yang kecil maupun besar dari air mani yang lemah dan hina, lalu Dia mengembangkannya dan menyempurnakannya sampai menjadi dewasa dan mencapai usianya. Selanjutnya, untuk manusia, maka ada yang naik kedudukannya di tempat yang paling tinggi (surga) dan ada pula yang turun kedudukannya ke tempat yang paling bawah (neraka). Oleh karena itu, Dia (Allah) berdalih dengan permulaan terhadap penciptaan kembali, Dia berfirman, “Dan sesungguhnya Dialah yang menetapkan penciptaan yang lain (kebangkitan setelah mati),”

[6] Dia yang mengeluarkan manusia dari alam kubur, mengumpulkan mereka dan memberikan balasan kepada mereka.

[7] Dia memberikan kekayaan kepada hamba dengan memudahkan penghidupan mereka baik dengan berdagang, berbisnis maupun dengan keterampilan yang Allah berikan kepada mereka, dan Dia pula yang memberikan faedah kepada hamba-hamba-Nya dengan harta yang bermacam-macam sehingga mereka memilikinya dan memiliki banyak barang. Ini termasuk nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada hamba-hamba-Nya, yaitu bahwa semua nikmat berasal dari-Nya. Hal ini mengharuskan semua hamba untuk bersyukur kepada-Nya dan beribadah hanya kepada-Nya.

[8] Bintang Syi'ra ialah bintang yang disembah oleh orang-orang Arab pada masa jahiliyah. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan, bahwa apa yang disembah kaum musyrikin itu diatur Allah dan diciptakan-Nya. Oleh karena itu, mengapa ia dijadikan sesembahan selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[9] Ketika mereka (kaum ‘Aad) mendustakan Nabi Hud ‘alaihis salam, maka Allah membinasakan mereka dengan angin yang sangat dingin lagi sangat kencang.

[10] Ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus Nabi Shalih ‘alaihis salam kepada mereka, maka mereka mendustakannya, lalu Allah Subhaanahu wa Ta'aala mendatangkan mukjizat kepada Beliau berupa unta betina, tetapi mereka malah membunuhnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga membinasakan mereka.

[11] Yakni sebelum kaum ‘Aad dan Tsamud, Dia juga membinasakan mereka.

[12] Yakni daripada kaum ‘Aad dan Tsamud, karena Nabi Nuh ‘alaihis salam tinggal di tengah-tengah mereka selama 950 tahun, namun mereka tidak juga beriman, ditambah lagi dengan menyakiti Beliau baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala membinasakan mereka dan menenggelamkan mereka dalam banjir besar.

[13] Yakni telah dijatuhkan-Nya dalam keadaan terbalik setelah diangkat ke atas.

[14] Maksudnya, nikmat dan karunia Allah yang mana wahai manusia yang kamu ragukan? Karena nikmat Allah jelas bagimu dan tidak diragukan lagi, dimana tidak ada satu pun nikmat kecuali dari-Nya dan tidak ada yang menghindarkan bencana kecuali Dia.

[15] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bukanlah rasul yang baru, bahkan sebelumnya telah didahului oleh rasul-rasul, dimana dakwah mereka sama seperti yang didakwahkan Beliau. Oleh karena itu, atas dasar apa kamu mengingkari risalahnya dan menolak dakwahnya? Bukankah akhlaknya adalah akhlak yang paling mulia dan bukankah seruannya adalah seruan kepada setiap kebaikan dan larangan terhadap semua keburukan? Bukankah dia telah datang membawa Al Qur’an yang tidak dimasuki kebatilan baik dari depan maupun belakang? Bukankah Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah membinasakan orang-orang yang mendustakan para rasul yang diutus sebelumnya? Dengan demikian, apa yang menghalangi azab turun menimpa orang-orang yang mendustakan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pemimpin para rasul dan imam orang-orang yang bertakwa?

[16] Dan telah tampak tanda-tandanya.

[17] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengancam orang-orang yang mengingkari risalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam; yang mendustakan apa yang Beliau bawa berupa Al Qur’anul Karim.

[18] Yakni apakah terhadap Al Qur’an ini kamu merasa heran dan kamu menganggapnya termasuk hal yang menyelisihi kebiasaan? Ini tidak lain karena kebodohan, kesesatan dan pembangkangan mereka, padahal Al Quran adalah ucapan yang benar, hukumnya dapat menyelesaikan masalah dan bukan senda gurau. Jika diturunkan kepada sebuah gunung, tentu gunung itu tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Al Qur’an menambahkan kecerdasan bagi orang-orang yang berakal serta menambahkan keimanan dan keyakinan bagi mereka. Yang pantas untuk dianggap heran adalah akal orang yang merasa heran terhadapnya dan kejahilannya.

[19] Yakni kamu menertawakan dan meremehkannya, padahal seharusnya hati tersentuh olehnya, menjadi lunak karenanya, mata juga menangis karenanya ketika mendengar perintah dan larangannya, memperhatikan janji dan ancaman-Nya serta memperhatikan berita-beritanya yang baik lagi benar.

[20] Yakni lalai dan lengah dari mentadabburinya. Hal ini karena lemahnya akal dan agama mereka, kalau sekiranya mereka beribadah kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya tentu mereka tidak seperti ini keadaannya, dimana keadaan tersebut adalah keadaan yang dibenci oleh orang-orang yang berakal. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).”

[21] Perintah bersujud kepada Allah secara khusus menunjukkan keutamaan sujud, dan bahwa ia adalah inti ibadah, karena inti ibadah adalah khusyu’ kepada Allah dan tunduk merendahkan diri kepada-Nya. Sujud adalah keadaan yang paling besar yang menunjukkan ketundukkannya, karena ketika itu tunduk pula hati dan badannya serta menaruh anggota badan yang paling mulia di atas tanah tempat injakan kaki. Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk beribadah secara umum yang mencakup semua yang dicintai Allah dan diridhai-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Tafsir An Najm Ayat 31-41

Ayat 31-41: Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar mendapatkan ampunan dan balasan yang baik dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan menerangkan tentang pembalasan yang adil yaitu bahwa setiap manusia tidak memperoleh apa-apa selain apa yang dia kerjakan dan usahakan.

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى (٣١) الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى (٣٢) أَفَرَأَيْتَ الَّذِي تَوَلَّى (٣٣) وَأَعْطَى قَلِيلا وَأَكْدَى (٣٤) أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرَى (٣٥) أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى (٣٦)وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى (٣٧) أَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (٣٨) وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى (٣٩) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (٤٠) ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الأوْفَى (٤١)

Terjemah Surat Ath Thuur Ayat 31-41

31. [1]Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik[2] dengan pahala yang lebih baik (surga)[3].

32. [4](Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji[5], kecuali kesalahan-kesalahan kecil[6]. Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya[7]. Dia mengetahui tentang kamu, sejak dia menjadikan kamu[8] dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu[9]. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci[10]. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa[11].

33. Maka tidakkah engkau melihat orang yang berpaling (dari Al-Quran)[12]?

34. dan dia memberikan sedikit (dari apa yang dijanjikannya) lalu menahan sisanya[13].

35. Apakah dia mempunyai ilmu tentang yang gaib[14], sehingga dia dapat melihat(nya)?



36. Ataukah belum diberitakan (kepadanya)[15] apa yang ada dalam lembaran- lembaran (kitab suci yang diturunkan kepada) Musa?

37. Dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji[16]?,

38. (yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

39. Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya[17],

40. dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya),

41. kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna[18],


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa Dia Pemilik kerajaan, Dia sendiri yang memiliki dunia dan akhirat, dan bahwa semua yang ada di langit maupun di bumi adalah milik Allah, Dia bertindak kepada yang ada di sana seperti tindakan Raja Yang Agung kepada hamba dan milik-Nya, Dia memberlakukan padanya qadar-Nya, memberlakukan syariat-Nya, memerintah dan melarang dan akan memberikan balasan terhadap apa yang diperintah-Nya dan apa yang dilarang-Nya, Dia akan memberi balasan kepada orang yang taat dan menghukum orang yang bermaksiat, Dia akan memberikan balasan kepada orang yang yang berbuat jahat seperti berbuat kekafiran dan kemaksiatan yang berada di bawahnya sesuai kejahatan yang mereka kerjakan dengan hukuman yang besar.

[2] Yakni berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada makhluk Allah dengan memberikan berbagai manfaat.

[3] Syaikh As Sa’diy menafsirkan Al Husnaa dengan keadaan yang baik di dunia dan akhirat, dan yang paling besarnya adalah mendapatkan keridhaan Allah serta memperoleh surga-Nya.

[4] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sifat mereka yang berbuat baik itu.

[5] Yaitu mereka yang mengerjakan perintah-perintah Allah berupa yang wajib-wajib, dimana meninggalkannya termasuk dosa besar, dan mereka meninggalkan dosa-dosa besar. Dosa besar adalah perbuatan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, di mana perbuatan tersebut ada hadnya (hukumannya) di dunia, atau adanya ancaman berupa azab dan kemurkaan di akhirat atau adanya laknat terhadap pelakunya. Contoh dosa besar adalah zina, meminum minuman keras, memakan riba, membunuh, dsb.

[6] Pengecualian di sini adalah istitsna’ munqathi’ yang berarti “tetapi”, maksudnya tetapi dosa-dosa kecil, Dia ampuni karena mereka menjauhi dosa-dosa besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

« الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ » .

“Shalat yang lima waktu, shalat Jum’at yang satu ke shalat Jum’at berikutnya dan puasa Ramadhan yang satu ke puasa Ramadhan yang selanjutnya menghapuskan dosa-dosa yang ada di antara keduanya apabila ia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Tentunya dosa-dosa kecil ini tidak dilakukan terus menerus karena laa shaghiirata ma’al istimraar (bukan dosa kecil kalau dilakukan terus menerus), tetapi ia lakukan sesekali atau jarang-jarang dan sedikit. Dosa-dosa kecil seperti ini tidak mengeluarkan seseorang dari tergolong sebagai orang-orang yang berbuat baik, karena dosa-dosa kecil ini bersamaan dengan mengerjakan kewajiban dan menjauhi larangan berada di bawah ampunan Allah yang meliputi segala sesuatu.

Faedah:

Dosa kecil bisa menjadi besar apabila dilakukan terus-menerus, meremehkannya, bangga dalam mengerjakannya ataupun terang-terangan melakukannya.

[7] Kalau tidak ada ampunan-Nya tentu negeri dan hamba akan binasa, kalau tidak ada maaf-Nya dan santun-Nya tentu langit jatuh menimpa bumi dan tentu tidak ada lagi makhluk bergerak yang hidup di bumi.

[8] Yakni bapak kamu (Adam).

[9] Allah Subhaanahu wa Ta'aala lebih mengetahui keadaan kamu semua dan keadaan ketika kamu diciptakan-Nya seperti sifat lemah dan loyo untuk melaksanakan perintah Allah, banyaknya pendorong untuk mengerjakan sebagian perkara yang diharamkan dan tidak ada penghalang yang kuat untuk menghalangimu melakukan larangan-Nya. Kelemahan ada dan terlihat pada dirimu ketika Dia menciptakan kamu dari tanah dan ketika kamu berada dalam perut ibumu, dan hal itu tetap terus ada pada dirimu meskipun Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah mewujudkan kekuatan pada dirimu untuk melaksanakan perintah-Nya, tetapi kelemahan itu senantiasa ada pada dirimu. Oleh karena pengetahuan-Nya terhadap keadaanmu ini, maka tepat sekali kebijaksanaan-Nya dan kemurahan-Nya Dia melimpahkan rahmat-Nya, ampunan-Nya, dan maaf-Nya, melimpahkan kepada kamu ihsan-Nya serta menyingkirkan berbagai dosa, terlebih jika seorang hamba maksud atau tujuannya adalah mencari keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala di setiap waktu, berusaha mendekatkan diri kepada-Nya di setiap saat, berlari dari dosa lalu kemudian terjatuh ke dalam kesalahan, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala Dialah Tuhan Yang Paling Pemurah dan Paling Penyayang, Dia lebih sayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya. Oleh karena itu, hal semisal ini dekat dengan ampunan Tuhannya dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memenuhinya dalam semua keadaannya.

[10] Yakni jangan kamu puji dirimu karena ujub (berbangga diri), adapun dengan maksud mengakui nikmat, maka hal itu adalah baik. Atau maksudnya, jangan kamu beritahukan kepada manusia kebersihan dirimu dengan cara memujinya.

[11] Hal itu, karena takwa tempatnya di hati. Allah yang mengetaui isi hati yang akan memberikan balasan terhadap apa yang ada di dalamnya baik atau buruk, adapun manusia tidaklah berguna bagimu sedikit pun.

[12] Yakni tidakkah engkau melihat buruknya keadaan orang yang diperintahkan beribadah kepada Tuhannya dan mentauhidkan-Nya tetapi dia malah berpaling dari itu.

[13] Yakni jika dia melapangkan dirinya untuk sesuatu yang sedikit, namun keadaannya tidak selalu demikian, bahkan setelahnya ia akan bakhil kembali. Kebaikan tidak menjadi tabiatnya, bahkan tabiatnya berpaling dari ketaatan, tidak tetap di atas perkara ma’ruf, namun ia malah mentazkiyah (menganggap bersih) dirinya dan menempatkan dirinya pada tempat yang Allah tidak tempatkan padanya.

[14] Sehingga dia menyangka, bahwa ada orang lain yang memikul azab yang ditanggungnya. Atau maksudnya, apakah ia mengetahui yang gaib, lalu dia memberitahukannya atau dia berkata mengada-ada terhadap Allah, bersikap berani dengan menggabung antara bersikap buruk dan mentazkiyah dirinya. Sudah menjadi maklum, bahwa dia tidak memiliki pengetahuan terhadap yang gaib, dan bahwa jika ia mengaku mengetahuinya, tetapi berita-berita yang qath’i yang termasuk perkara gaib yang diberitahukan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ternyata tidak seperti yang dinyatakannya, dan hal ini menunjukkan kebatilannya.

[15] Yakni kepada orang yang mengaku itu.

[16] Atau maksudnya, melaksanakan apa yang ditugaskan kepadanya. Seperti dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, "Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". (Terj. Al Baqarah: 124) Ujian terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diantaranya adalah membangun Ka'bah, membersihkan ka'bah dari kemusyrikan, mengorbankan anaknya Ismail, menghadapi raja Namrudz dan lain-lain.

[17] Maksudnya, setiap orang yang beramal, maka untuknya amalnya itu baik atau buruk, dia tidak mendapatkan amal dan usaha orang lain sedikit pun serta tidak akan memikul dosa orang lain.

Sebagian ulama berdalih dengan ayat ini untuk menerangkan bahwa semua ibadah tidak bisa dihadiahkan kepada orang-orang yang masih hidup maupun yang sudah mati, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” Oleh karena itu, sampainya usaha orang lain kepadanya bertentangan dengan ayat ini. Namun menurut Syaikh As Sa’diy, “Pendalilan ini perlu ditinjau kembali, karena ayat hanyalah menunjukkan bahwa seseorang tidaklah mendapatkan selain yang ia kerjakan sendiri. Ini jelas tidak ada khilaf, namun di ayat itu tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa tidak bermanfaat untuknya usaha orang lain jika orang lain menghadiahkan untuknya sebagaimana seseorang tidaklah memiliki harta selain yang ada dalam kepemilikannya dan yang ada pada tangannya, namun hal ini tidak berarti bahwa ia tidak dapat memiliki apa yang dihibahkan orang lain dari harta miliknya.

Faedah:

Ada beberapa amal yang bermanfaat bagi si mati, di antaranya:

1. Doa orang muslim untuknya (lihat surah Al Hasyr: 10), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

« دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ » .

“Doa orang muslim untuk saudaranya tanpa di hadapannya adalah mustajab. Di dekatnya ada malaikat yang diserahkan (untuknya). Setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diserahkan untuknya berkata, “Amin (artinya: kabulkanlah ya Allah),” dan kamu memperoleh hal yang sama.” (HR. Muslim)

2. Penunaian terhadap nadzarnya yang belum sempat dikerjakan baik puasa atau lainnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - : أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ - رضى الله عنه - اسْتَفْتَى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ . فَقَالَ :« اقْضِهِ عَنْهَا » .

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu 'anhu pernah meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda, “Sesungguhnya ibuku wafat sedangkan dia punya nadzar (yang belum sempat ditunaikan)?” Maka Beliau bersabda, “Tunaikanlah untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini juga menunjukkan bolehnya sedekah dari (atas nama) si mati, dan bahwa hal itu akan bermanfaat baginya yaitu dengan sampainya pahala sedekah kepadanya, terlebih jika yang melakukannya anaknya (lihat Fathul Bari dalam syarah hadits ini).

3. Sedekah jariyah/yang mengalir (seperti waqaf)

4. Ilmu yang bermanfaat

5. Doa anak saleh untuk orang tuanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak shalih yang mendoakan (orang tua)nya.” (HR. Muslim)

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar meninggikan derajat untuk seorang hamba yang saleh di surga, lalu ia berkata, “Yaa Rabbi, dari mana aku mendapatkan hal ini?” Allah berfirman, “Karena permintaan ampunan dari anakmu untukmu.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ahmad)

6. Peninggalannya yang baik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَ حَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا نَشَرَهُ وَ وَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَ مُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيْلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَ حَيَاتِهِ تَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

"Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan yang akan sampai kepada seorang mukmin setelah wafatnya adalah ilmu yang disebarkannya, anak saleh yang ditinggalkanya, mushaf Al Qur'an yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk Ibnussabil yang didirikannya, sungai yang dialirkannya, sedekah yang dikeluarkan dari hartanya di waktu sehat dan sewaktu hidupnya. Semua itu akan sampai kepadanya setelah meninggalnya." (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi, lihat Shahihul Jaami' no. 2231)

Imam As Suyuthiy membuatkan sya’ir menyebutkan hal-hal yang bermanfaat bagi seseorang setelah meninggalnya sbb:

اِذَا مَاتَ ابْنُ ادَمَ يَجْرِي عَلَيْهِ مِنْ فِعَالٍ غَيْرِ عَشْرٍ

عُلُوْمٍ بَثَّهَا وَدُعَاءِ نَجْلٍ وَغَرْسِ النَّخْلِ وَالصَّدَقَاتُ تَجْرِي

وَرَاثَةِ مُصْحَفٍ وَرِبَاطُ ثَغْرٍ وَحَفْرِ الْبِئْرِ أَوْ إِجْرَاءِ نَهْرٍ

وَبَيْتٍ لْلْغَرِيْبِ بَنَاهُ يَأْوِى إلَِيْهِ أَوْ بِنَاءِ مَحَلِّ ذِكْرٍ

"Apabila cucu Adam meninggal, maka mengalirlah kepadanya sepuluh perkara;,

Ilmu yang disebarkannya, doa anak saleh, pohon kurma yang ditanamnya serta sedekahnya yang mengalir,

Mushaf yang diwariskan dan menjaga perbatasan,

Menggali sumur, mengalirkan sungai, rumah untuk musafir yang dibangunnya atau membangun tempat ibadah."

7. Menjaga perbatasan negeri yang dikhawatirkan adanya serangan musuh (Ribath). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

« رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِى كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِىَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ »

“Ribath sehari semalam lebih baik daripada puasa sebulan dengan qiyamullail, dan jika ia meninggal, maka amal yang dikerjakannya akan mengalir untuknya dan dialirkan rezekinya serta aman dari penguji kubur (aman dari fitnah kubur).” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i)

8. Tanaman yang ditanamnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

« مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةً وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ » .

“Tidak ada seorang muslim yang menanam suatu tanaman kecuali yang dimakan darinya adalah sedekah baginya, yang dicuri darinya adalah sedekah baginya, yang dimakan binatang buas darinya adalah sedekah dan yang dimakan burung adalah sedekah, dan tidak dikurangi oleh seorang pun kecuali menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim)

9. Menggali kubur untuk orang yang mati. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غُفِرَ لَهُ أَرْبَعِيْنَ مَرَّةً ، وَمَنْ كَفَنَ مَيِّتًا كَسَاهُ اللهُ مِنَ السُّنْدُسِ ، وَإِسْتَبْرَقِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ حَفَرَ لِمَيِّتٍ قَبْرًا فَأَجَنَّهُ فِيْهِ أُجْرِيَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ كَأَجْرِ مَسْكَنٍ أَسْكَنَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang memandikan mayit, lalu ia menyembunyikan (cacat)nya, maka akan diampuni dosanya sebanyak empat puluh kali. Barang siapa yang mengkafani mayit, maka Allah akan memakaikan pakaian dari sutera tipis dan sutera tebal dari surga, dan barang siapa menggalikan kuburan untuk si mati, lalu ia menguburkannya, maka akan dialirkan pahala untuknya seperti pahala tempat yang ia buatkan sampai hari Kiamat.” (HR. Hakim, ia berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim,” dan disepakati oleh Adz Dzahabi)

10. Mencontohkan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ » .

“Barang siapa mencontohkan dalam Islam contoh yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya. Barang siapa yang mencontohkan sunnah yang buruk (seperti mencontohkan bid’ah), maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkan setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim: 2351)

[18] Yang baik dengan Al Husna (yang terbaik), dan yang buruk dengan yang buruk, sedangkan yang bercampur maka disesuaikan dengan keadaannya sebagai balasan yang ihsan dan adil, dimana semuanya merasakan kepuasan dan Allah berhak mendapatkan segala puji terhadapnya, sehingga penghuni neraka masuk ke neraka sedangkan hati mereka penuh dengan pujian terhadap Tuhan mereka serta mengakui kebijaksanaan-Nya dan mereka marah kepada diri mereka sendiri, dan bahwa merekalah yang membuat diri mereka masuk ke tempat yang buruk itu.

Tafsir An Najm Ayat 19-30

Ayat 19-30: Batilnya menyembah patung-patung dan berhala-berhala, dimana mereka tidak dapat memberikan manfaat dan menghindarkan bahaya serta celaan keras bagi para penyembahnya.

أَفَرَأَيْتُمُ اللاتَ وَالْعُزَّى (١٩) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأخْرَى (٢٠) أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الأنْثَى (٢١) تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى (٢٢) إِنْ هِيَ إِلا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى (٢٣) أَمْ لِلإنْسَانِ مَا تَمَنَّى (٢٤)فَلِلَّهِ الآخِرَةُ وَالأولَى (٢٥) وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى (٢٦) إِنَّ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلائِكَةَ تَسْمِيَةَ الأنْثَى (٢٧) وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا (٢٨) فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (٢٩) ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى (٣٠)

Terjemah Surat An Najm Ayat 19-30

19. [1]Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (berhala) Al Lata dan Al Uzza,

[1] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala mentazkiyah (menjelaskan kebersihan) apa yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berupa petunjuk dan agama yang benar serta perintah untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan mengeesakan-Nya, maka Allah menyebutkan batilnya apa yang dipegang kaum musyrik yang menyembah sesuatu yang tidak memiliki sifat kesempurnaan sedikit pun, tidak mampu memberikan manfaat dan tidak mampu menimpakan madharat (bahaya), tetapi hanya sekedar nama-nama yang kosong dari makna yang diberi nama oleh orang-orang musyrik yang tidak tahu lagi tersesat sehingga mereka tertipu dan orang lain pun ikut tertipu dengannya.

Berhala-berhala yang mereka (kaum musyrik) beri nama dengan nama-nama ini (Laata, Uzza dan Manaat) berasal dari kata Ilaah (bagi Laata), ‘Aziz (bagi ‘Uzza) dan Mannan (bagi Manaat) sebagai sikap ilhaad (penyimpangan) terhadap nama-nama Allah dan menjadikan mereka sebagai sekutu bagi-Nya, Subhaanallah.

20. dan Manat, yang ketiga yang paling kemudian (sebagai anak perempuan Allah)[2]?

[2] Al Lata, Al Uzza dan Manah adalah nama berhala-berhala yang disembah orang Arab Jahiliyah dan dianggapnya sebagai perantara antara mereka dengan Allah dan dianggap sebagai anak-anak perempuan Allah, Subhaanallah (Mahasuci Allah).

21. Apakah (pantas) untuk kamu yang laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan?

22. Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil[3].

[3] Pembagian apa yang lebih zalim daripada pembagian yang menghendaki diutamakannya makhluk di atas Khaliq (Pencipta)? Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari perkataan mereka itu.

23. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan[4], dan apa yang diingini oleh keinginannya[5]. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka[6].

[4] Dalam menyembahnya, bukan di atas ilmu, keterangan dan petunjuk.

[5] Yang telah dihias oleh setan, berupa syirk dan bid’ah-bid’ah yang sejalan dengan hawa nafsu mereka.

[6] Melalui lisan Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diperkuat dengan dalil dan bukti yang qath’i (pasti); yang menerangkan kepada mereka ‘aqidah yang benar dan segala tuntutan yang dibutuhkan hamba, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menerangkannya secara jelas dan gamblang, namun mereka tetap saja tidak mau mengikuti.

24. [7]Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?

[7] Jika sudah jelas bahwa apa yang dipegang oleh kaum musyrik adalah dugaan dan bukan ilmu, dimana hal ini berakibat kepada kesengsaraan abadi dan azab yang kekal, maka tetap berada di atasnya merupakan kedunguan yang sangat dalam dan kezaliman yang paling batil. Namun anehnya, mereka (kaum musyrik) malah memiliki banyak angan-angan dan tertipu olehnya. Oleh karena itulah, dalam ayat di atas Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingkari orang yang merasa akan mendapatkan apa yang diangan-angankan itu dan bahwa mereka dusta.

25. Tidak! Maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia[8].



[8] Dia akan memberikan sesuai yang Dia kehendaki dan akan menghalangi sesuai yang Dia kehendaki. Keadaannya tidak mengikuti apa yang mereka angan-angankan itu dan tidak mengikuti keinginan mereka. Hal itu, karena tidak ada yang terjadi di dunia dan akhirat kecuali apa yang dikehendaki-Nya.

26. [9]Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali apabila Allah telah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang dikehendaki dan diridhai[10].

[9] Di ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingkari orang yang menyembah selain-Nya baik berupa malaikat maupun selainnya dan menyangka bahwa sembahannya itu bermanfaat baginya dan dapat memberinya syafaat di sisi Allah Subhaanahu wa Ta'aala pada hari Kiamat.

[10] Oleh karena itu, syafaat hanyalah akan diberikan setelah terpenuhi dua syarat:

- Izin dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala untuk memberi syafaat

- Ridha Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada orang yang diberi syafaat.

27. [11]Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sungguh mereka menamakan para malaikat dengan nama perempuan.

[11] Orang-orang yang menyekutukan Allah lagi mendustakan Rasul-Nya yang tidak beriman kepada akhirat, karena mereka tidak beriman kepada akhirat, maka mereka berani melakukan tindakan yang menentang Allah dan Rasul-Nya baik yang berupa ucapan maupun yang berupa perbuatan. Yang berupa ucapan seperti mengatakan bahwa para malaikat adalah puteri Allah, subhaanallah. Mereka tidak membersihkan Allah dari sifat melahirkan dan tidak memuliakan para malaikat sehingga menamai mereka dengan anak-anak perempuan, padahal mereka tidak memiliki ilmu baik berasal dari Allah maupun dari Rasul-Nya, dan tidak pula didukung oleh fitrah dan akal. Bahkan ilmu malah menunjukkan sebaliknya, yaitu bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan bagaimana Dia mempunyai anak sedangkan Dia tidak mempunyai istri, bahkan Dia Mahaesa, Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. Sedangkan para malaikat-Nya, mereka adalah makhluk-Nya yang mulia yang didekatkan dengan Allah yang selalu menjalankan perintah-Nya dan tidak mendurhakai-Nya. Oleh karena itu, tidak ada yang dijadikan dasar oleh orang-orang musyrik dalam ucapan dan tindakan mereka selain mengikuti dugaan dan sangkaan yang tidak membuahkan sedikit pun kebenaran, karena kebenaran harus ada keyakinan dan hal itu hanya dapat dihasilkan dari dalil-dalil yang qath’i (pasti) dan bukti-bukti yang jelas.

28. Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.

29. [12]Maka tinggalkanlah (Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami (Al Qur’an), dan dia hanya mengingini kehidupan dunia.

[12] Sebagaimana yang disebutkan di atas seperti itulah kebiasaan mereka, yakni tidak ada tujuan mereka untuk mengikuti kebenaran, bahkan tujuan mereka hanyalah mengikuti apa yang diingini keinginan mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya untuk berpaling dari orang-orang yang berpaling dari peringatan-Nya; peringatan yang merupakan peringatan yang bijaksana, Al Qur’anul ‘Azhiim dan berita yang mulia. Mereka berpaling dari ilmu yang bermanfaat dan tidak menginginkan selain kehidupan dunia. Inilah kadar atau batas ilmu dan keinginan mereka. Sudah menjadi maklum, bahwa seseorang tidaklah mengerjakan selain yang dia inginkan. Oleh karena yang diinginkan hanyalah kehidupan dunia, maka usaha mereka hanya terbatas pada kehidupan dunia, kenikmatan dan kesenangannya.

30. Itulah kadar ilmu mereka[13]. Sungguh, Tuhanmu, Dia lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk[14].

[13] Yakni inilah batas ilmu dan tujuan mereka, sehingga mereka lebih mengutamakan dunia daripada akhirat. Adapun orang-orang yang beriman kepada akhirat, maka harapan mereka tertuju kepada akhirat, ilmu mereka adalah ilmu yang paling utama dan paling mulia, yaitu ilmu yang diambil dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahui siapa yang berhak memperoleh hidayah sehingga diberi-Nya hidayah dengan orang yang tidak berhak mendapatkannya sehingga Allah Subhaanahu wa Ta'aala serahkan kepada dirinya sendiri dan menelantarkannya, maka jadilah ia sebagai orang yang tersesat dari jalan Allah. Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sungguh, Tuhanmu, Dia lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

[14] Maka Dia meletakkan karunia-Nya ke tempat yang Dia ketahui bahwa ia layak memperolehnya.

=============================================
Tafsir An-Najm 19-23
Kandungan umum beberapa ayat ini adalah penetapan tauhid di hati kaum mukminin, sekaligus bantahan terhadap kesyirikan kaum musyrikin. Allah membantah kaum musyrikin penyembah berhala dan patung. Berhala dan patung yang paling mereka agungkan adalah al-laata, al-uzza, dan manaah, Allah menyatakan kepada mereka:
{أَفَرَأَيْتُمُ}
Maksudnya
Kabarkan kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan tersebut sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudhorot (bahaya)? Apakah sesembahan-sesembahan tersebut bisa menyelamatkanmu dari segala marabahaya?Apakah sesembahan-sesembahan itu sanggup memberi rezeki kepadamu?
Kaum musyrikin pun tidak mampu menjawabnya, karena memang terbukti bahwa sesembahan-sesembahan tersebut tidak sanggup berbuat apa-apa dan tidak mampu menolong kaum musyrikin di berbagai kancah peperangan, seperti perang badar dan selainnya.
Sesembahan-sesembahan itu pun tidak mampu menolak bahaya yang Allah timpakan kepada kaum musyrikin di berbagai peristiwa. Maka hal ini menjadi dalil yang tegas bahwa alasan mereka dalam menyembah berhala dan patung tersebut agar mendapatkan manfaat atau terhindar bahaya dari diri mereka adalah perkara yang tertolak dan batil1.
Al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab Tafsirnya mengatakan,
وفي الآية حذف دل عليه الكلام ; أي أفرأيتم هذه الآلهة هل نفعت أو ضرت حتى تكون شركاء لله
“Dalam ayat ini sesunguhnya terdapat pola kalimat yang menyimpan kata-kata yang tak disebutkan (hadzfun). Kata-kata tersebut ditunjukkan dari konteks pembicaraan, yaitu ‘Terangkanlah kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan ini sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudharat (bahaya) hingga merekapun dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah.”
Ketidak-berdayaan sesembahan-sesembahan mereka, al-laata, al-uzza, dan manaah ini semakin nampak apabila kita renungi ayat kesatu sampai kedelapan belas dari surat An-Najm yang berisikan tentang keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya, kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapatkan wahyu Al Quran, dan kemuliaan Malaikat Jibril ‘alaihis salam.
Sedangkan dua ayat selanjutnya, yaitu ayat kesembilan belas dan kedua puluh itu berisikan tentang perbandingan antara ketidakberdayaan ketiga sesembahan mereka yang terbesar tersebut dengan keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya dan perkara lainnya yang disebutkan dalam ayat-ayat yang sebelumnya.
Sebagai contoh saja, ketiga sesembahan mereka tersebut tidaklah bisa mewahyukan kepada kaum musyrikin suatu wahyu, adapun Allah Ta’ala, Dia Ta’ala mewahyukan Alquran kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,
لما ذكر الوحي إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، وذكر من آثار قدرته ما ذكر ، حاج المشركين إذ عبدوا ما لا يعقل وقال : أفرأيتم هذه الآلهة التي تعبدونها أوحين إليكم شيئا كما أوحي إلى محمد ؟
“Tatkala Allah menyebutkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang kekuasaan-Nya sebagaimana yang telah disebutkan (sebelumya), Allah pun membantah hujjah kaum musyrikin, karena mereka menyembah sesembahan-sesembahan yang tidak berakal.
Allah menyatakan bahwa terangkanlah kepadaku tentang sesembahan-sesembahan yang kalian sembah ini, apakah sesembahan-sesembahan ini (sanggup) menyampaikan wahyu kepada kepada kalian sebagaimana Allah mewahyukan (Alquran) kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”1.
Di samping itu, ketiga berhala dan patung mereka tersebut tidak mampu membuat mereka mencapai kedudukan yang tinggi sebagaimana yang Allah jadikan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga berhala dan patung itupun tidak mampu menciptakan malaikat yang mulia sebagaimana Allah menciptakan malaikat Jibril ‘alaihis salam.
Lalu apakah layak berhala dan patung seperti itu dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah Azza wa Jalla? Demikianlah seluruh pertanyaan-pertanyaan dalam Alquran Al-Karim yang bebentuk tantangan (tahaddi) dan pembuktian ketidakmampuan (ta’jiz), maka tidaklah mungkin bisa dijawab oleh kaum musyrikin sampai hari Kiamat tiba.

Siapa al-laata, al-uzza dan manaah? Bagaimana Kaum Musyrikin Menyembah Mereka?

Allah Ta’ala berfirman:
أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ
(19) Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Laata dan al Uzza.
Al-Laata
Terdapat dua tafsiran Ulama rahimahumullah terhadap {اللَّاتَ}, yaitu2.
Pertama:
Tanpa mentasydidkan huruf ta` (ت): al-laata (اللَّاتَ), Dan bacaan tanpa tasydid ini adalah bacaan jumhur ulama3. Al-laata adalah batu besar halus, berwarna putih dan terukir. Jadi, Al-laata adalah sebuah patung di daerah Thaif milik Bani Tsaqif. Kaum musyrikin dahulu mencari keberkahan darinya, meminta pemenuhan hajat mereka kepadanya dan meminta kepadanya agar terangkat musibah yang menimpa kepada mereka.
Dengan demikian, al-laata adalah batu atau patung yang dikeramatkan dan dicari keberkahannya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah al-laata adalah ngalap berkah (tabarruk bil ahjaar) kepada batu-batu yang dikeramatkan.
Mereka menamai batu yang dikeramatkan tersebut dengan (اللَّاتَ), karena mengambil dari (الإله), dengan anggapan bahwa al-laata memang sesembahan yang layak untuk dimintai barakah, maslahat, dan keselamatan. Demikianlah para kaum musyrikin di zaman sekarang, mereka menamai sesembahan-sesembahan mereka dengan nama yang menurut mereka indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah sehingga banyak orang yang tertipu dengannya, sehingga mereka mengagungkan dan menyembah sesembahan-sesembahan tersebut.
Camkanlah baik-baik! Bahwa jurus melariskan dagangan kesyirikan berupa menamai kesyirikan dengan nama yang mengandung kesan indah sebenarnya adalah jurus nenek moyang musyrikin semenjak tempoe doeloe.
Kedua1
Dengan mentasydidkan huruf ta` (ت), sehingga dibaca al-laatta (اللاَتَّ) yang merupakan ism fa’il dari  latta-yaluttu ( لَتَّ-يَلُتُّ ). Dan bacaan dengan tasydid ini merupakan bacaan Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid, dan selainnya2. Pada asalnya al-laatta adalah orang saleh yang dahulu membuat adonan (makanan) dari tepung untuk memberi makan jama’ah haji, sebagai bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Lalu ketika ia meninggal dunia, kaum musyrikin berdiam diri di kuburannya dan mencari berkah darinya, sebagaimana peristiwa yang terjadi di kaum Nabi Nuh tatkala mereka bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Dengan demikian al-laatta adalah kuburan yang dikeramatkan dan dicari berkahnya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah al-laatta adalah ngalap berkah (tabarruk bil qubuur) kepada kuburan yang dikeramatkan.
Dan kandungan ayat ini mencakup kedua tafsiran ini, sehingga mencakup larangan terhadap dua tabarruk yang syirik ini, yaitu  ngalap berkah (tabarruk bil ahjaar) kepada batu-batu yang dikeramatkan dan ngalap berkah (tabarruk bil qubuur) kepada kuburan yang dikeramatkan.
Al-’uzza dan Bentuk Penyembahannya3
Al-uzza (الْعُزَّىٰ) adalah sebuah pohon yang berada antara kota Mekkah dan Thaif. Di dekatnya, dibangun rumah dan ada seorang dukun perempuan yang menjadi penunggunya, ia menghadirkan jin sehingga orang-orang tertipu dengan kekeramatan pohon tersebut, semua itu dilakukan dalam rangka menyesatkan orang-orang. Dahulu kaum musyrikin Quraisy dan Mekkah menyembah pohon yang dikeramatkan tersebut, yang hakekatnya adalah menyembah setan (jin) yang dihadirkan oleh dukun perempuan tersebut. Setan itulah yang terkadang berbicara dengan suara yang didengar oleh manusia, seolah-olah terkesan pohon itu yang berbicara.
Mereka menamai pohon yang dikeramatkan tersebut dengan (الْعُزَّ), karena mengambil dari (العزيز), dan ini adalah penyelewengan terhadap nama Allah, karena menamai sesembahan selain Allah dengan nama yang diambil dari nama Allah adalah pelecehan terhadap Allah. Hal ini dikarenakan tertutupnya hati mereka dari kebenaran, dengan dalih “pengagungan” terhadap sesembahan selain Allah Tabaraka wa Ta’ala tersebut.
Dahulu kaum musyrikin Quraisy dan Mekkah meyakini bisa mendapatkan berkah dari pohon yang dikeramatkan tersebut dengan mengagungkannya dan melakukan ritual penyembahan kepadanya. Dengan demikian al-’uzza adalah pohon yang dikeramatkan dan dicari berkahnya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah al-uzza adalah ngalap berkah (tabarruk bil qubuur) kepada pohon yang dikeramatkan.

Manaah dan Bentuk Penyembahannya4

Manaah adalah batu besar (patung) yang dikeramatkan. maanah berada di antara kota Mekah dan Madinah. Dahulu suku khuza’ah, aus dan khazraj mengagungkannya, mereka berihram untuk haji dan umrah dari tempat patung tersebut. Penamaannya diambil dari nama Allah Al-Mannan (Yang Maha Memberi Karunia) dan dinamakan dengan manaah karena banyaknya darah binatang yang dialirkan dalam rangka ngalap berkah dengan cara menyembelih binatang di sisi batu besar tersebut.
Ingatlah! Bahwa di antara ciri khas kaum musyrikin dalam melariskan dagangan kesyirikannya adalah mengadakan upacara ritual pengaliran darah binatang untuk selain Allah Ta’ala ataupun upacara-upacara ritual selainnya yang dibuat-buat dan dikesankan memiliki nilai filosofis yang tinggi, padahal itu hanya tipu daya setan belaka, tak satupun dalil yang menunjukkan kebernarannya.
Dengan demikian, manaah adalah batu (patung) yang dikeramatkan dan dicari berkahnya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah manaah adalah ngalap berkah (tabarruk bil qubuur) kepada batu (patung) yang dikeramatkan.

Tafsiran الْأُخْرَىٰ

Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ
(20) dan Manaah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?
Terdapat dua tafsiran untuk memaknai الْأُخْرَىٰ dalam QS. An-Najm: 20, yaitu:
1. Al-Ukhra dengan makna “hina atau rendah”, sehingga  terjemah ayatnya yaitu:
وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ
(20) dan Manah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?
Makna Al-Ukhra dengan makna rendah ini juga terdapat dalam firman Allah Ta’ala,
وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ
(39) Dan berkata tokoh-tokoh mereka kepada orang-orang lemah (pengikut) di antara mereka, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami (dengan diringankan azabnya), maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan” (QS. Al-A’raaf: 39).
Kata Ukhra di sini dimaknai sebagai orang-orang lemah, strata sosial yang rendah dan statusnya sebagai pengikut.
2. Al-Ukhra dengan makna “selain(nya)”, maka terjemah ayatnya sebagai berikut. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ
(20) dan Manaah yang ketiga, selain (kedua)nya (sebagai anak perempuan Allah)?
Makna Ukkhra seperti ini adalah salah satu bentuk gaya bahasa Arab untuk menyertakan sesuatu yang memiliki kesamaan dengan beberapa perkara yang telah disertakan sebelumnya. Apabila bangsa Arab mengabarkan sesuatu yang berbilang, tapi salah satu dari perkara yang berbilang tersebut disangka oleh sebagian orang tidak termasuk kedalam bagiannya, karena dianggap tidak sebanding dengan dengan perkara selainnya atau tidak sepadan dengan kebesaran selainnya, maka dalam bahasa Arab diungkapkan dengan menyebutkan sesuatu yang disangka salah tersebut dan menegaskannya dengan kata aakhor atau ukhroo, sebagai penutup dalam penyebutan beberapa perkara yang berbilang tersebut.
Contohnya,
وفلانٌ هو الآخَر
“Sedangkan si anu itu juga orang lain (selain orang-orang yang telah disebutkan, pent.) yang termasuk (kedalam orang-orang tersebut)”.
Perlu diketahui, di antara suku-suku bangsa Arab, para penyembah manaah itu jumlahnya banyak, maka dalam ayat yang agung ini diingatkanlah para penyembah manaah, bahwa jumlah mereka yang banyak tidak menyebabkan diistimewakan dan dibedakannya manaah dari kedua sesembahan selainnya, karena semuanya sama, semua sesembahan itu sama-sama sesembahan selain Allah yang batil. Berarti konteks ayat kesembilan belas dan kedua puluh ini adalah menyatakan kehinaan, keburukan dan salahnya keyakinan mereka dan sesembahan mereka tersebut dan menetapkan bahwa ketiga berhala dan patung itu adalah sesembahan-sesembahan yang batil.
Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,
أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ
(21) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?
Ayat di atas punya dua tafsiran, yaitu:
1. Tafsiran pertama:
Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan tafsiran yang pertama, yaitu:
أي : أتجعلون له ولدا، وتجعلون ولده أنثى، وتختارون لأنفسكم الذكور
“Maksudnya, ‘Apakah kalian menganggap Allah memiliki anak, dan kalian menetapkan anak Allah itu perempuan, sedangkan kalian memilih untuk diri kalian anak laki-laki?’”.
2. Tafsiran kedua
“Apakah kalian menganggap al-laata, al-uzza, dan manaah itu sesembahan-sesembahan perempuan dan kalian tetapkan sesembahan-sesembahan permpuan tersebut sebagai sekutu-sekutu Allah Ta’ala yang layak untuk disembah, padahal biasanya kalian merendahkan perempuan dan kalian malu jika memiliki anak perempuan”1.
Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,
تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ
(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.
Maksudnya adalah itu merupakan pembagian yang zalim dan batil. Bagaimana bisa kalian membagi untuk Rabb kalian dengan model pembagian yang kalau seandainya pembagian seperti itu diterapkan di antara makhluk saja, akan terhitung sebagai bentuk kecurangan, ketidakadilan, kebatilan dan kedunguan. Bahkan sebenarnya kalian pun juga tidak mau mendapatkan pembagian anak perempuan, tapi kalian tetapkan anak perempuan itu untuk Allah Ta’ala.
إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ
(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.
Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Kemudian Allah berfirman mengingkari mereka terkait dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dan perbuat, berupa kedustaan, mengada-ada dan kekufuran, dalam bentuk menyembah patung dan berhala serta menyebut patung dan berhala tersebut sebagai “sesembahan-sesembahan”, (maka Allah pun mengingkari mereka)
إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya”
maksudnya (penamaan itu hanyalah) dari diri kalian sendiri,
مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ
“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya,”
maksudnya: (tidak menurunkan) hujjah (yang benar sedikit pun),
إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”
maksudnya: mereka tidak memiliki landasan (yang benar) kecuali sebatas berbaik sangka kepada bapak-bapak (pendahulu) mereka yang meniti jalan kebatilan sebelum mereka. Seandainya tidak demikian, tentulah penamaan itu dikarenakan mereka mengikuti nafsu mengejar kepemimpinan (kekuasaan) dan mengagungkan bapak-bapak mereka terdahulu.
وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ
“dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka,”
maksudnya: Allah telah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kebenaran yang terang dan hujjah yang tegas, namun kendati demikian, mereka tidaklah mengikuti petunjuk (Allah) yang sampai kepada mereka dan mereka pun tidak mau tunduk melaksanakannya.
Penutup
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa faidah sebagai berikut:
  1. Kesalahan musyrikin yang disebutkan dalam Surat An-Najm: 19-23 ini ada tiga, yaitu:
    1. Mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan mudharat (bahaya).
    2. Mereka memberi nama dan sifat kepada tiga sesembahan tersebut dengan nama yang diambil dari nama Allah.
    3. Mereka anggap ketiga sesembahan tersebut sebagai anak-anak perempuan Allah.
  1. Di antara jurus kaum musyrikin dalam melegalkan kesyirikan mereka adalah memberi nama dan sifat kepada sesembahan-sesembahan mereka dengan nama dan sifat yang mengandung kesan indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah.
  1. Inti kesyirikan mereka adalah bahwa mereka meyakini akan memperoleh barakah dari al-laatta, al-uzza, dan manaah (tabarruk) dengan mengagungkan, berharap, dan mempersembahkan ritual ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut.         
  1. Barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada kuburan yang dikeramatkan, maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-laatta, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada pohon yang dikeramatkan,  maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-uzza, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada batu yang dikeramatkan (patung), maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada manaah.

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah