Tampilkan postingan dengan label 055-Ar Rahman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 055-Ar Rahman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Mei 2014

Tafsir Ar Rahman Ayat 46-78

Ayat 46-78: Rincian kenikmatan yang akan diperoleh kaum mukmin dan pujian bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap hal tersebut.

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ (٤٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٧) ذَوَاتَا أَفْنَانٍ (٤٨) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٩) فِيهِمَا عَيْنَانِ تَجْرِيَانِ (٥٠)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥١) فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ (٥٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٣) مُتَّكِئِينَ عَلَى فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ وَجَنَى الْجَنَّتَيْنِ دَانٍ (٥٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٥) فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ (٥٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٧)كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ (٥٨) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٩) هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ (٦٠) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦١) وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ (٦٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٣) مُدْهَامَّتَانِ (٦٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٥) فِيهِمَا عَيْنَانِ نَضَّاخَتَانِ (٦٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٧) فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ (٦٨)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٦٩)فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ (٧٠) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧١)حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ (٧٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٣) لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ (٧٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٥)مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ (٧٦) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٧٧) تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (٧٨)

Terjemah Surat Ar Rahman Ayat 26-45

46. Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya[1] ada dua surga[2].

47. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

48. Kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan[3].

49. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

50. Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar[4].

51. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

52. Di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan[5].

53. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

54. Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal[6]. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat[7].

55. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?



56. Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan[8], yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya[9].

57. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

58. Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan[10].

59. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

60. Tidak ada balasan untuk kebaikan[11] selain kebaikan (pula)[12].

61. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

62. Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi[13].

63. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

64. Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.

65. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

66. Di dalam keduanya (syurga itu) ada dua buah mata air yang memancar.

67. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

68. Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma dan delima.

69. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

70. Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik (akhlaknya) dan cantik wajahnya[14].

71. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

72. Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah[15].

73. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

74. Mereka sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin.

75. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

76. Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah[16].

77. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

78. [17]Mahasuci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.


[1] Yakni berdiri di hadapan-Nya untuk dihisab.

[2] Yakni bagi orang yang takut kepada Tuhannya dan takut berhadapan dengan-Nya, dimana hal itu membuatnya mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, maka dia memperoleh dua surga. Menurut Syaikh As Sa’diy, dia akan mendapatkan dua surga dari emas, baik bejana, perhiasan, bangunan dan apa yang ada di sana (dari emas); surga yang satu sebagai balasan karena meninggalkan larangan, sedangkan surga yang satu lagi karena mengerjakan ketaatan.

@ Allȃh Azza wa Jalla telah menjelaskan balasan yang telah Dia siapkan di akhirat bagi hamba-hamba-Nya yang takut kepada-Nya

[3] Ada pula yang menafsirkan kata ‘afnaan’ dengan berbagai jenis kenikmatan, baik kenikmatan luar maupun dalam yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terlintas di hati manusia.

[4] Mereka dapat memancarkannya ke tempat yang mereka inginkan dan mereka kehendaki.

[5] Setiap jenisnya memiliki rasa dan warnanya masing-masing yang tidak dimiliki oleh jenis yang lain.

[6] Syaikh As Sa’diy menerangkan, ini adalah sifat permadani penghuni surga dan sifat duduknya mereka di atasnya, dan bahwa mereka sambil bersandar sambil santai. Permadani ini tidak diketahui sifatnya kecuali oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala, sampai-sampai bagian dalamnya dari sutera tebal yang merupakan sutera terbaik dan dibanggakan, lalu bagaimana dengan luarnya yang bersentuhan langsung dengan kulit mereka?

Ibnu Mas’ud berkata, “Ini bagian dalamnya, lalu bagaimana kalau kamu melihat bagian luarnya?”

[7] Yakni bisa dipetik sambil berdiri, sambil duduk dan sambil berbaring.

[8] Kepada suami mereka karena cakep dan gantengnya suami mereka, dan cintanya mereka kepadanya.

[9] Mereka masih sebagai gadis.

[10] Yakni karena bersih, cantik dan indahnya mereka.

[11] Yakni tidak ada balasan bagi orang yang berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan berbuat ihsan dalam bergaul dengan manusia kecuali dibalas dengan kebaikan, berupa pahala yang besar, keberuntungan yang besar, kenikmatan yang kekal, dan kehidupan yang sentosa. Kedua surga yang tinggi yang terbuat dari emas ini diperuntukkan bagi orang-orang yang didekatkan dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala (Al Muqarrabiin).

[12] Dengan kenikmatan surga.

[13] Selain dari dua surga yang tersebut di atas ada dua surga lagi yang disediakan untuk orang-orang mukmin yang derajatnya di bawah orang-orang mukmin yang dimasukkan ke dalam kedua surga yang pertama. Menurut Syaikh As Sa’diy, kedua surga yang lain itu dari perak, baik bangunannya, bejananya, perhiasannya, dan apa yang ada di dalamnya. Kedua surga ini diperuntukkan kepada As-habul Yamin (Golongan kanan).

[14] Mereka menggabung antara indahnya luar dan dalam; fisiknya indah dan akhlaknya baik.

[15] Bidadari itu tertahan dalam kemah-kemah mutiara; yang telah mempersiapkan diri mereka untuk suami mereka, namun hal itu tidaklah menafikan mereka untuk keluar ke kebun-kebun dan taman-taman surga sebagaimana kebiasaan putri-putri raja dan wanita-wanita yang dipingit.

[16] Orang-orang yang mendapatkan kedua surga yang kedua ini tempat sandaran mereka adalah rafraf (permadani) hijau, yaitu permadani yang berada di atas majlis-majlis (tempat duduk) yang tinggi yang menjadi tambahan terhadap majlis (tempat duduk) mereka. Dengan demikian, majlis tersebut memiliki rafrafah (permadani) di atas majlis mereka sehingga semakin indah dan bagus. Adapun ‘abqariy sebagai nisbat kepada setiap yang ditenun dengan tenunan yang indah dan mewah, oleh karenanya, disifati dengan keindahan yang menyeluruh karena bagus buatannya, indah dilihat serta halus disentuh. Kedua surga ini bukanlah surga yang sebelumnya sebagaimana disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, “Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi.” Selain itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyifatkan dua surga yang pertama dengan beberapa sifat yang tidak disifatkan kepada dua surga yang setelahnya. Pada dua surga yang pertama Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar,” sedangkan pada kedua surga setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam keduanya (syurga itu) ada dua buah mata air yang memancar.” Sudah menjadi maklum, bahwa keduanya berbeda, yang satu mengalir, sedangkan yang satu lagi memancar. Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan.” Dan Dia tidak berfirman demikian pada surga yang kedua. Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan.” Sedangkan pada kedua surga yang setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam kedua surga itu ada buah-buahan, kurma dan delima.” Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.” Sedangkan pada dua surga yang kedua (setelahnya), Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.” Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” Sedangkan pada kedua surga yang setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah.” Sudah menjadi maklum adanya perbedaan di antara keduanya.

Pada kedua surga yang pertama, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” Dan Dia tidak berfirman demikian, pada dua surga setelahnya, maka hal ini menunjukkan bahwa hal itu sebagai balasan bagi orang-orang yang berbuat ihsan.

Di samping itu, didahulukan kedua surga yang pertama daripada yang kedua menunjukkan keutamaan yang pertama.

Berdasarkan sisi-sisi di atas dapat diketahui kelebihan dua surga yang pertama daripada dua surga yang kedua, dan bahwa kedua surga yang pertama itu dipetuntukkan kepada orang-orang yang didekatkan dari kalangan para nabi, para shiddiqin dan hamba-hamba pilihan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang saleh, sedangkan pada kedua surga yang kedua disiapkan untuk kaum mukmin pada umumnya. Di semua surga itu terdapat sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terlintas di hati manusia, di dalamnya terdapat apa yang diinginkan jiwa dan indah dipandang mata, penduduknya benar-benar santai, ridha, tenang, dan mendapatkan tempat tinggal yang terbaik, bahkan masing-masing dari mereka tidak melihat bahwa orang lain lebih bagus darinya dan lebih tinggi kenikmatannya darinya.

[17] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan luasnya karunia dan ihsan-Nya, maka Dia berfirman, “Mahasuci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” Yakni Mahaagung dan banyak kebaikan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang memiliki kebesaran yang unggul di atas segalanya, Mahamulia secara sempurna, serta memuliakan para wali-Nya.

Tafsir Ar Rahman Ayat 26-45

Ayat 26-45: Keadaan pada hari Kiamat, hisab, dan azab bagi orang-orang yang berdosa di neraka Jahanam.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (٢٦) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (٢٧)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢٨) يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ (٢٩)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٠) سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ (٣١) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٢) يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ (٣٣) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٤) يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلا تَنْتَصِرَانِ (٣٥) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٦) فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ (٣٧) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٣٨) فَيَوْمَئِذٍ لا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلا جَانٌّ (٣٩) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٠) يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالأقْدَامِ (٤١)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٢)هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُونَ (٤٣) يَطُوفُونَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيمٍ آنٍ (٤٤)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٥)

Terjemah Surat Ar Rahman Ayat 26-45

26. Semua yang ada di bumi itu[1] akan binasa.

27. Tetapi zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran[2] dan kemuliaan[3] tetap kekal.

28. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

29. Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya[4]. Setiap waktu Dia dalam kesibukan[5].

30. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

31. Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu[6] wahai (golongan) manusia dan jin.

32. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

33. [7]Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan[8].

34. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?



35. [9]Kepada kamu (jin dan manusia), akan dikirim nyala api dan cairan tembaga (panas)[10] sehingga kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya)[11].

36. [12]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

37. [13]Maka apabila langit telah terbelah[14] dan menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak[15].

38. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

39. Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya[16].

40. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

41. Orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tandanya[17], lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya[18].

42. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

43. Inilah neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa.

44. Mereka berkeliling di sana dan di antara air yang mendidih[19].

45. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


[1] Baik manusia, jin, hewan dan makhluk-makhluk lainnya.

[2] Yakni yang mempunyai keagungan dan kebesaran; yang diagungkan dan dibesarkan.

[3] Ikraam artinya yang luas karunia dan kemurahan-Nya, serta yang menghendaki untuk memuliakan para wali dan makhluk pilihan-Nya dengan berbagai bentuk pemuliaan, dimana Dia dimuliakan, diagungkan, dicintai dan diibadahi oleh para wali-Nya.

[4] Baik dengan lisaanul maqaal (lisan) maupun lisaanul haal (keadaan).

Allah Subhaanahu wa Ta'aala Mahakaya zat-Nya tidak membutuhkan semua makhluk-Nya dan Mahaluas kemurahan-Nya. Semua makhluk butuh kepada-Nya meminta dipenuhi kebutuhannya dan mereka tidak pernah cukup terhadapnya sekejap mata pun atau kurang dari itu.

[5] Dia mengayakan yang miskin, menutupi hati yang sedih, memberi kepada suatu kaum dan menghalangi yang lain, menciptakan, menghidupkan dan mematikan, memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan, memelihara, memberi rezki, mengabulkan doa dan lain lain. Dia tidak pernah lelah terhadapnya dan tidak pernah bosan terhadap permintaan makhluk-Nya yang begitu banyak dan terus menerus. Dia senantiasa menampilkan apa yang telah ditetapkan-Nya di zaman azali (yang tidak ada awalnya) pada waktu-waktunya yang sesuai hikmah-Nya, baik ketetapan agama yang berupa perintah dan larangan, ketetapan qadari terhadap hamba-hamba-Nya selama mereka tinggal di dunia, sehingga ketika telah sempurna makhluk itu dan Allah telah membinasakan mereka, Dia menampilkan ketetapan jaza’i(pembalasan)-Nya dan memperlihatkan kepada mereka keadilan, karunia dan ihsan-Nya yang banyak, dimana dengannya mereka dapat mengenal-Nya dan mentauhidkan-Nya. Dia memindahkan manusia dari tempat ujian (dunia) menuju kepada kehidupan yang sesungguhnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (Al ‘Ankabut: 64)

Maka Mahasuci Allah Tuhan Yang Maha Pemberi yang pemberian-Nya merata kepada penduduk langit dan bumi, dan kelembutan-Nya mengena kepada semua makhluk di setiap waktu dan setiap saat.

[6] Untuk menghisab dan memberikan balasan terhadap amal yang kamu kerjakan selama di dunia.

[7] Apabila Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengumpulkan mereka di mauqif (tempat perhentian seperti di padang mahsyar) pada hari Kiamat, maka Allah memberitahukan kelemahan mereka, sempurnanya kekuasaan-Nya, berlakunya kehendak dan kekuasaan-Nya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman sebagaimana pada ayat di atas menerangkan kelemahan mereka.

[8] Bagaimana mereka memilikinya sedangkan mereka tidak berkuasa memberikan manfaat kepada diri mereka dan menghindarkan madharrat dari diri mereka, tidak bisa menghidupkan dan tidak bisa mematikan serta tidak bisa membangkitkan?! Pada tempat itu (padang mahsyar) tidak ada seorang pun yang berani bicara kecuali dengan izin-Nya dan tidak terdengar selain suara bisik-bisik. Di tempat itu, semua manusia sama, baik raja maupun rakyatnya, pemimpin maupun yang dipimpin, orang kaya maupun orang miskin.

[9] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan apa yang disiapkan-Nya untuk mereka di tempat itu.

[10] Syaikh As Sa’diy menerangkan tentang syuwaazh, yaitu nyala api yang bersih, sedangkan nuhaas, yaitu nyala api yang bercampur asap. Maksudnya kedua ini adalah bahwa keduanya akan dikirimkan untuk mengepung jin dan manusia agar tidak melarikan diri.

[11] Mujahid berkata, “Tembaga adalah kuningan yang dilebur lalu dituangkan di atas kepala mereka.” Maksudnya, Kalau kamu (wahai jin dan manusia) pergi melarikan diri pada hari Kiamat, tentu para malaikat dan malaikat Zabaniyah akan mengembalikan kamu dengan mengirimkan nyala api dan tembaga yang dileburkan yang akan ditimpakan kepada kamu agar kamu kembali (ke padang mahsyar).

[12] Oleh karena penakutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya merupakan nikmat-Nya kepada mereka sekaligus sebagai cemeti untuk menggiring mereka ke tempat yang tinggi dan untuk memperoleh pemberian yang paling baik yang diberikan-Nya kepada mereka, maka Dia berfirman, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

[13] Pada hari Kiamat karena dahsyatnya keadaan ketika itu, banyaknya kegelisahan, rasa takut tidak kunjung henti, matahari dan bulan diredupkan dan bintang-bintang berjatuhan maka langit menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak, yakni seperti cairan logam dan timah yang mencair.

[14] Menjadi pintu-pintu untuk turunnya malaikat.

[15] Jika demikian, maka sungguh dahsyat dan mengerikan kejadian ketika itu.

[16] Tetapi pada waktu yang lain. Atau maksudnya, bahwa pada hari itu manusia dan jin tidak dimintai informasi tentang apa yang terjadi karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahui yang gaib dan yang tampak, yang lalu dan yang akan datang. Dia ingin memberikan balasan kepada hamba sesuai yang diketahui-Nya terhadap keadaan mereka, dan Dia telah mengadakan tanda pada hari Kiamat untuk orang-orang yang baik dan orang-orang yang buruk yang dengannya mereka dapat dikenali sebagaimana firman-Nya di ayat lain, “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. (Terj. Ali Imran: 106)

[17] Yaitu dengan hitam wajahnya dan biru matanya sebagaimana yang dikatakan Qatadah dan Al Hasan.

[18] Maksudnya, ubun-ubun orang yang berdosa dan kakinya direnggut lalu dilempar ke dalam neraka dan mereka diseret di sana. Allah Subhaanahu wa Ta'aala jika bertanya kepada mereka, maka maksudnya pertanyaan untuk menghinakan dan agar mereka mengakuinya karena Dia lebih mengetahui dari mereka, akan tetapi Dia ingin menunjukkan kepada makhluk hujjah-Nya yang kuat dan hikmah-Nya yang dalam.

[19] Mereka akan meminumnya ketika meminta pertolongan dari panasnya api neraka.

Tafsir Ar Rahman Ayat 1-25

Surah Ar Rahman (Allah Yang Maha Pengasih)

Surah ke-55. 78 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-13: Ayat-ayat Allah begitu banyak; baik di langit, di bumi maupun pada penciptaan manusia.



الرَّحْمَنُ (١) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (٢)خَلَقَ الإنْسَانَ (٣) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (٤) الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ (٥) وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ (٦) وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ (٧) أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ (٨) وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ (٩) وَالأرْضَ وَضَعَهَا لِلأنَامِ (١٠) فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الأكْمَامِ (١١) وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ (١٢)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٣)

Terjemah Surat Ar Rahman Ayat 1-13

1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,

2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].

3. Dia menciptakan manusia[3],

4. mengajarnya pandai berbicara[4].

5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].

6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).

7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].

8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],

9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].

10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],

12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].

13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]

Ayat 14-25: Penciptaan jin dan manusia dan asal penciptaannya, dan beberapa nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang dapat dirasakan di dunia.

خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ (١٤) وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ (١٥) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٦) رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ (١٧) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٨) مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ (١٩) بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ (٢٠) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢١) يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ (٢٢) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢٣) وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالأعْلامِ (٢٤) فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٢٥)

Terjemah Surat Ar Rahman Ayat 14-25

14. [19]Dia menciptakan manusia[20] dari tanah kering[21] seperti tembikar,

15. dan Dia menciptakan jin[22] dari nyala api tanpa asap[23].

16. [24]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

17. Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat[25].

18. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

19. Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu,

20. di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing[26].

21. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

22. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.

23. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

24. Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung[27].

25. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


[1] Surah yang mulia ini dimulai dengan nama Allah Ar Rahman yang menunjukkan luasnya rahmat-Nya, meratanya ihsan-Nya, banyaknya kebaikan-Nya dan luasnya karunia-Nya. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sesuatu yang menunjukkan rahmat-Nya dan atsar(pengaruh)nya yang Allah sampaikan kepada hamba-hamba-Nya berupa nikmat-nikmat agama, dunia maupun akhirat, dan setelah itu Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan manusia dan jin yang mendapatkan nikmat itu agar bersyukur kepada-Nya dengan firman-Nya, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

[2] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan, bahwa Dia telah mengajarkan Al Qur’an, yakni Dia telah mengajarkan lafaz dan maknanya serta memudahkannya kepada hamba-hamba-Nya. Ini adalah nikmat dan rahmat yang paling besar yang Allah limpahkan kepada hamba-hamba-Nya, dimana Dia menurunkan kepada mereka Al Qur’an berbahasa Arab dengan lafaz dan keterangan yang paling baik yang mengandung semua kebaikan dan melarang semua keburukan.

[3] Dia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya; sempurna anggota badannya dan tepat bagian-bagiannya (seperti meletakkan mata di kepala tidak di anggota badan yang lain), Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah merapihkan dan menyempurnakannya serta membedakannya dengan makhluk-makhluk yang lain, yaitu dengan mengajarkannya pandai berbicara.

[4] Al Bayaan artinya menerangkan, sehingga termasuk pula menerangkan dengan lisan maupun tulisan. Al Bayaan yang Allah lebihkan manusia dengannya termasuk nikmat yang besar yang diberikan kepadanya.

@ Bicara merupakan kemampuan khusus manusia yang diajarkan oleh Allah Ta’ala

[5] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menciptakan matahari dan bulan dan menundukkannya untuk beredar menurut perhitungan sebagai rahmat kepada hamba-hamba-Nya dan perhatian-Nya kepada mereka dan agar maslahat mereka dapat tegak dengannya, demikian juga agar mereka dapat mengetahui perhitungan tahun.

[6] Ada yang menafsirkan ‘najm’ dengan tumbuhan yang tidak berbatang, sedangkan ‘syajar’ dengan tumbuhan yang memiliki batang. Ada pula yang menafsirkan najm di sini dengan bintang, yakni bintang yang ada di langit dan pepohonan yang ada di bumi mengenal Tuhannya, sujud, taat dan tunduk kepada-Nya. Dia menundukkannya untuk maslahat dan manfaat hamba-hamba-Nya.

[7] Sebagai atap untuk makhluk-makhluk di bumi.

[8] Yakni keadilan di antara hamba-hamba-Nya baik dalam ucapan maupun perbuatan. Mizan (timbangan atau keseimbangan) di sini bukan hanya sekedar timbangan saja, akan tetapi termasuk pula takaran yang dengannya dapat diukur segala sesuatu, pengukur untuk mengukur sesuatu yang belum jelas dan hakikat yang dengannya dipisahkan di antara makhluk serta ditegakkan keadilan di antara mereka. Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman di ayat selanjutnya,“Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu,”

[9] Hal itu, karena jika Allah tidak menurunkan keseimbangan itu dan menyerahkan perkara tersebut kepada akal dan pendapat mereka yang terbatas, tentu akan terjadi kerusakan yang besar yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan tentu langit dan bumi akan hancur.

[10] Yakni jangan kamu kurangi keseimbangan itu dan kamu kerjakan hal yang bertentangan dengannya, yaitu zalim, aniaya dan melampaui batas.

[11] Agar mereka dapat tinggal di atasnya, dapat mendirikan bangunan, dapat menggarap tanahnya, bercocok tanam, membuat jalan, menggalinya, memanfaatkan barang tambangnya dan segala yang perlu mereka lakukan.

[12] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebutkan berbagai makanan pokok yang mereka sangat butuhkan.

[13] Yang dapat dinikmati oleh hamba, seperti buah anggur, buah tin, buah delima, buah apel, dan lain-lain.

[14] Yakni yang mempunyai wadah yang terbelah dari tangkai-tangkai yang keluar sedikit demi sedikit sehingga menjadi sempurna sehingga menjadi makanan yang dimakan dan disimpan, dipakai bekal oleh musafir serta sebagai makanan yang lezat bagi mereka.

[15] Seperti gandum, beras dsb.

[16] Bisa juga maksud ‘raihaan’ adalah semua rezeki yang dimakan manusia.

[17] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sekian nikmat-nikmat-Nya yang dapat dilihat oleh mata dan dipikirkan oleh hati, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mentaqrir mereka (membuat mereka (jin dan manusia) mengakuinya) dengan firman-Nya di atas.

Sungguh bagus jawaban jin ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan kepada mereka surah ini, dimana Beliau tidak membacakan ayat, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” kecuali mereka mengatakan, “Tidak ada satu pun dari nikmat-nikmat Engkau wahai Tuhan kami yang kami dustakan. Maka untuk-Mulah segala puji.” Demikianlah yang seharusnya dilakukan seorang hamba, yakni ketika disebutkan kepada mereka nikmat-nikmat Allah, maka ia mengakuinya dan mensyukurinya serta memuji Allah Ta’ala terhadapnya.

[18] Pertanyaan di sini adalah untuk mengokohkan.

[19] Termasuk nikmat-nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia memperlihatkan kepada mereka atsar (pengaruh) dari qudrah(kekuasaan)-Nya dan indahnya ciptaan-Nya.

[20] Bapak manusia yaitu Adam ‘alaihis salam.

[21] Yaitu tanah yang basah, yang dikokohkan sehingga menjadi kering dan berbunyi seperti suara tembikar yang dibakar di atas api.

[22] Bapak jin yaitu Iblis yang terlaknat.

[23] Yakni kobaran api yang bersih. Hal ini menunjukkan keutamaan unsur (bahan baku) manusia yang diciptakan dari tanah, dimana tanah dapat dimanfaatkan, seperti dengan digarap dan ditanam tumbuh-tumbuhan. Berbeda dengan api, yang keadaannya ringan, tidak tentu arah, buruk dan merusak.

[24] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan penciptaan manusia dan jin serta bahan bakunya, dimana hal itu merupakan nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada mereka, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

[25] Maksudnya tempat terbit dan terbenam matahari di musim panas dan di musim dingin.

[26] Sehingga tidak bercampur. Di antara ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa la yabghiyan maksudnya masing-masingnya tidak menghendaki. Dengan demikian maksud ayat 19-20 ialah bahwa ada dua laut yang keduanya terpisah karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (tidak diperlukan), maka pada akhirnya, tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas), maka bertemulah dua lautan itu, seperti terusan Suez dan terusan Panama.

Menurut Syaikh As Sa’diy, maksud dua buah laut adalah; laut yang terasa tawar dan laut yang terasa asin, keduanya bertemu bersama, sehingga laut yang berair tawar mengena kepada laut yang berair asin sehingga keduanya bercampur. Akan tetapi, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan di antara keduanya ada batas pemisah dari daratan sehingga yang satu tidak dapat dilampaui oleh masing-masing, namun tercapai manfaat dari keduanya. Dari air yang tawar dapat dimanfaatkan dengan diminum oleh manusia dan hewan serta digunakan menyirami tanaman, sedangkan dari air laut yang asin ada udara menjadi sejuk, ikan, mutiara dan marjan. Demikian pula menjadi tempat berlayar perahu dan kapal-kapal.

[27] Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menundukkan kapal-kapal untuk hamba-hamba-Nya sehingga kapal yang dibuat mereka itu dapat membelah lautan dengan izin-Nya. Saking besarnya kapal itu, maka ia bagaikan gunung yang besar, dimana manusia dapat menaikinya, mereka dapat membawa barang-barang mereka ke atasnya serta yang mereka butuhkan lainnya untuk dibawa ke atasnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menjaga lagit dan bumi telah menjaga kapal itu untuk mereka. Ini termasuk di antara nikmat-nikmat Allah yang besar yang diberikan-Nya kepada mereka.