Tampilkan postingan dengan label 056-Al Waqiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 056-Al Waqiah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Mei 2014

Tafsir Al Waqiah Ayat 75-96

Ayat 75-87: Sumpah Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap keagungan Al Qur’an, dan bahwa ia turun dari Rabbul ‘aalamin dan penjelasan terhadap hal yang akan menimpa manusia ketika sakratul maut.

فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ (٧٥) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ (٧٦) إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (٧٧) فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (٧٨) لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ (٧٩)تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٨٠) أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ (٨١)وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ (٨٢) فَلَوْلا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ (٨٣) وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ (٨٤) وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لا تُبْصِرُونَ (٨٥)فَلَوْلا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ (٨٦) تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٨٧)

Terjemah Surat Al Waqiah Ayat 75-87

75. [1]Maka aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.

76. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui[2],

77. dan (ini) sesungguhnya Al Quran yang sangat mulia,

78. dalam kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh)[3],

79. tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan[4].

80. Diturunkan dari Tuhan seluruh alam[5].

81. Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al Qur’an)?[6]

82. [7]Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan-Nya[8].

83. Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika nyawa telah sampai di kerongkongan,

84. dan kamu ketika itu melihat,

85. dan Kami lebih dekat kepadanya[9] daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat,

86. maka mengapa jika kamu memang tidak dikuasai (oleh Allah)[10],

87. kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu)[11] jika kamu orang yang benar?[12]



Ayat 88-96: Penjelasan tentang tempat kembali tiga golongan di atas, dan bahwa Kiamat adalah hak dan yakin.



فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ (٨٨) فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ (٨٩) وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (٩٠) فَسَلامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (٩١) وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ (٩٢) فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ (٩٣) وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ (٩٤) إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ (٩٥) فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ (٩٦)

Terjemah Surat Al Waqiah Ayat 88-96

88. [13]Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah)[14],

89. maka dia memperoleh ketenteraman[15] dan rezeki[16] serta surga (yang penuh) kenikmatan[17].

90. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan[18],

91. maka, “Salam[19] bagimu (wahai) dari golongan kanan!”[20] (sambut malaikat).

92. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan dan sesat[21],

93. maka dia disambut siraman air yang mendidih,

94. dan dibakar di dalam neraka[22].

95. Sungguh, inilah[23] keyakinan yang benar[24].

96. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar[25].


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan bintang dan mawaaqi’, yakni jatuhnya di tempat tenggelamnya dan apa yang Allah adakan pada waktu itu berupa kejadian-kejadian yang menunjukkan kebesaran-Nya, keagungan-Nya dan keesaan-Nya. Dan pada ayat selanjutnya, Dia perbesar perkara sumpah ini.

[2] Sumpah ini dipandang besar karena pada bintang dan peredarannya serta jatuhnya di tempat tenggelamnya terdapat ayat-ayat dan pelajaran yang tidak dapat dijumlahkan. Sedangkan isi sumpahnya adalah mengukuhkan Al Qur’an, dan bahwa dia adalah benar tanpa ada keraguan lagi. Demikian pula bahwa Al Qur’an adalah bacaan yang mulia, yang banyak kebaikan dan pengetahuannya. Bahkan setiap kebaikan dan ilmu diambil dan digali darinya.

[3] Yakni tertutup dari penglihatan makhluk, yaitu Lauh Mahfuzh. Maksudnya, Al Qur’an ini tertulis dalam Lauh Mahfuzh, dimuliakan di sisi Allah dan di sisi para malaikat-Nya. Bisa juga maksud ‘kitab yang terpelihara’ adalah kitab yang berada di tangan-tangan para malaikat, dimana Allah menurunkan mereka dengan membawa wahyu-Nya. Sedangkan maksud ‘terpelihara’ adalah tertutup dari setan, dimana mereka tidak sanggup merubahnya, mengurangi dan mencurinya.

[4] Yakni tidak ada yang menyentuh Al Qur’an selain hamba-hamba yang disucikan, yaitu para malaikat yang yang mulia, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyucikan mereka dari dosa-dosa dan cacat. Menurut sebagian ulama, ayat ini mengingatkan, bahwa tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci. Oleh karena itu, ada yang berpendapat, bahwa ayat ini meskipun bentuknya berita, namun terdapat larangan, yaitu tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci.

[5] Maksudnya, Al Qur’an yang telah disebutkan sifatnya itu turun dari Allah Tuhan Yang Mengurus seluruh alam; Dia mengurus hamba-hamba-Nya dengan nikmat-nikmat dunia dan agama, dimana di antara kepengurusan-Nya kepada mereka yang paling besarnya adalah dengan menurunkan Al Qur’an ini yang di dalamnya terdapat petunjuk bagi mereka agar mereka dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat. Hal ini menunjukkan, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala setelah menciptakan mereka, maka Dia tidak membiarkan mereka begitu saja, bahkan tetap mengurus mereka dengan nikmat-nikmat-Nya baik nikmat dunia berupa rezeki maupun nikmat agama berupa petunjuk. Dengan Al Qur’an Allah berikan rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang mereka tidak sanggup untuk mensyukurinya. Oleh karena itu, mereka harus menjunjung tinggi isi Al Qur’an, mengamalkannya dan mendakwahkannya.

[6] Maksudnya, apakah terhadap kitab yang agung dan peringatan yang bijaksana ini kamu meremehkan; kamu menyembunyikannya karena takut kepada manusia, takut celaan dan cercaan mereka? Ini tidaklah pantas. Yang pantas diremehkan adalah berita yang tidak dapat dipercaya orang yang menceritakannya. Adapun Al Qur’anul Karim, maka ia adalah kebenaran, dimana tidak ada yang melawannya kecuali ia akan kalah. Oleh karena itu, ia layak untuk diberitakan dan disampaikan secara terang-terangan.

[7] Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, “Orang-orang mendapat siraman hujan pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, (maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda), “Pada pagi hari ini di antara manusia ada yang bersyukur dan ada yang kufur.” Mereka (yang bersyukur) berkata, “Ini adalah rahmat (dari Allah).” Sebagian mereka (yang kufur) berkata, “Sungguh, bintang ini dan itu telah benar.” Maka turunlah ayat ini, “Maka aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sampai ayat, “Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan-Nya.”

Imam Nawawi berkata, “Syaikh Abu ‘Amr rahimahullah, yakni Ibnu Shalaah berkata, “Bukanlah maksudnya, bahwa semua ayat ini turun berkenaan ucapan ‘benar bintang ini dan itu’, karena perkara tentang itu dan tafsirnya tidak menghendaki demikian, bahkan hanya turun berkenaan firman Allah Ta’ala, “Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan-Nya.” (Terj. Al Waaqi’ah: 82) Selebihnya turun tidak berkenaan dengan itu, akan tetapi bersamaan waktu turunnya sehingga disebutkan semuanya karena sebab itu.” Syaikh Abu ‘Amr rahimahullah juga berkata, “Di antara hal yang menunjukkan demikian adalah bahwa pada sebagian riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang hal ini terbatas pada bagian ini (ayat 82) saja.”

[8] Yaitu karena menyandarkan turunnya hujan kepada bintang ini dan itu, padahal hujan turun karena karunia Allah dan rahmat-Nya. Hal ini sama saja mendustakan dan mengkufuri nikmat Allah karena menyandarkan nikmat kepada selain yang memberinya. Oleh karena itu, mengapa kamu tidak bersyukur kepada Allah atas ihsan-Nya kepada kamu karena telah menurunkan kepadamu karunia-Nya, padahal sikap kufur dan mendustakan dapat mencabut nikmat itu dan menggantinya dengan azab.

[9] Yakni dengan ilmu Kami dan malaikat Kami.

[10] Bisa juga diartikan, “Maka mengapa jika kamu memang tidak akan diberi balasan,”

[11] Ke dalam jasad.

[12] Ketika itu, kamu di antara dua pilihan; membenarkan apa yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam atau tetap membangkang setelah mengetahui kebenarannya dan kamu akan memperoleh tempat kembali yang buruk.

[13] Allah Subhaanahu wa Ta'aala di awal surah telah menyebutkan tiga golongan; golongan orang-orang yang didekatkan, golongan kanan dan golongan kiri (golongan yang mendustakan lagi sesat) dan keadaan mereka di akhirat. Selanjutnya di akhir surah ini, Allah menyebutkan keadaan mereka menjelang wafat.

[14] Menurut Syaikh As Sa’diy, yaitu mereka yang mengerjakan perkara wajib dan sunat, meninggalkan yang haram dan yang makruh dan perkara mubah yang berlebihan.

[15] Yakni ketenangan, kegembiraan dan kenikmatan lahir-batin.

[16] Raihaan pada ayat tersebut adalah nama yang mencakup segala kenikmatan yang diterima badan, berupa makanan, minuman, dan lain-lain.

[17] Yakni yang menggabung rauh (ketenteraman) dan raihaan, dimana di dalamnya terdapat sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas di hati manusia.

Orang yang didekatkan dengan Allah, maka akan diberi kabar gembira dengan kabar gembira itu yang membuat ruhnya melayang dari jasad karena gembira dan senang. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".--- Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.---Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Terj. Fushshilat: 30-32) Dalam ayat lain Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. (Terj. Yuunus: 64).

[18] Menurut Syaikh As Sa’diy, yaitu mereka yang mengerjakan kewajiban dan meninggalkan hal yang haram, meskipun terjadi pengurangan pada sebagian hak yang tidak merusak tauhid dan iman mereka.

[19] Yakni selamat dari azab.

[20] Bisa maksudnya, “Salam bagimu dari saudara-saudaramu yang berada di golongan kanan,” yakni mereka (golongan kanan) akan mengucapkan salam dan menyambutnya ketika ia sampai dan bertemu dengan mereka. Atau maksudnya, “Salam bagimu dari musibah, cobaan dan azab karena engkau termasuk golongan kanan yang selamat dari dosa-dosa yang membinasakan.”

[21] Yaitu mereka yang mendustakan kebenaran dan tersesat dari petunjuk.

[22] Yang mengepung mereka, dimana apinya membakar sampai ke hati, dan apabila mereka meminta minuman karena sangat haus, maka mereka mereka diberi minuman seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah (lihat Al Kahfi: 29).

[23] Yakni pemberian balasan terhadap kebaikan dan keburukan yang dilakukan hamba serta rinciannya.

[24] Yang tidak ada keraguan lagi, bahkan benar dan pasti terjadi. Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memberikan buktinya baik dari dalil ‘aqli (akal) maupun naqli yang menunjukkan demikian sehingga hal itu di kalangan orang-orang yang berakal seakan-akan dirasakan oleh mereka dan disaksikannya. Maka mereka memuji Allah Subhaanahu wa Ta'aala atas nikmat yang dikaruniakan-Nya kepada mereka berupa hidayah irsyad (petunjuk) maupun hidayah taufiq (bantuan dari Allah untuk menjalankan petunjuk itu). Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.”

[25] Maka Mahasuci Allah Tuhan kita Yang Mahaagung dari apa yang diucapkan orang-orang yang zalim dan ingkar dengan ketinggian yang besar, dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam dengan pujian yang banyak, baik lagi diberkahi.

Tafsir Al Waqiah Ayat 57-74

Ayat 57-74: Dalil terhadap kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menunjukkan bahwa Dia berkuasa membangkitkan dan menghisab, serta menyebutkan nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan adanya tanaman, air dan sumber-sumber api.

نَحْنُ خَلَقْنَاكُمْ فَلَوْلا تُصَدِّقُونَ (٥٧) أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ (٥٨) أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ (٥٩) نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ (٦٠) عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لا تَعْلَمُونَ (٦١) وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْأَةَ الأولَى فَلَوْلا تَذَكَّرُونَ (٦٢) أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ (٦٣) أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ (٦٤) لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ (٦٥) إِنَّا لَمُغْرَمُونَ (٦٦) بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ (٦٧) أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (٦٨) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (٦٩) لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلا تَشْكُرُونَ (٧٠) أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ (٧١) أَأَنْتُمْ أَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنْشِئُونَ (٧٢) نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعًا لِلْمُقْوِينَ (٧٣) فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ (٧٤)

Terjemah Surat Al Waqiah Ayat 57-74

57. [1]Kami telah menciptakan kamu, mengapa kamu tidak membenarkan (hari berbangkit)[2]?

58. Maka adakah kamu perhatikan tentang nutfah (mani) yang kamu pancarkan[3].

59. Kamukah yang menciptakannya[4], atau Kamikah penciptanya?

60. Kami telah menentukan kematian masing-masing kamu dan Kami tidak lemah,

61. untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (di dunia) dan membangkitkan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.

62. Dan sungguh, kamu telah tahu penciptaan yang pertama, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)[5]?

63. [6]Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam?

64. Kamukah yang menumbuhkannya ataukah kami yang menumbuhkan?[7]



65. Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan[8] sampai lumat[9]; maka kamu akan heran tercengang[10].

66. (sambil berkata), "Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian,

67. bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun[11].”

68. [12]Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?

69. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?

70. Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?[13]

71. [14]Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)?

72. Kamukah yang menumbuhkan kayu itu atau Kami yang menumbuhkan?

73. Kami menjadikannya (api itu) untuk peringatan[15] dan bahan yang berguna bagi musafir[16].

74. [17]Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar[18].


[1] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan dalil ‘aqli (akal) yang menunjukkan adanya kebangkitan.

[2] Padahal yang mampu menciptakan pasti mampu mengulangi penciptaan kembali.

[3] Di rahim istri-istrimu. Maksudnya, tidakkah kamu perhatikan awal penciptaan kamu yang berasal dari mani, apakah kamu yang menciptakan mani itu dan apa yang terjadi setelahnya, yakni menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging dan menjadi manusia, ataukah Allah yang menciptakannya?

[4] Menjadi manusia.

[5] Yaitu bahwa yang menciptakan pertama kali tentu mampu menciptakan kembali setelah mereka mati.

[6] Apa yang disebutkan merupakan nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada hamba-hamba-Nya, Dia mengajak mereka dengan menyebutkan nikmat itu untuk mentauhidkan-Nya, beribadah dan kembali kepada-Nya karena Dia telah melimpahkan nikmat kepada mereka dengan memudahkan mereka menanam tanaman dan tumbuhan, dimana dari sana keluar makanan dan buah-buahan yang menjadi kebutuhan pokok mereka maupun kebutuhan pelengkap (sekunder) mereka, dan mendapatkan kenikmatan lainnya yang tidak bisa mereka jumlahkan, terlebih untuk mensyukurinya dan memenuhi haknya, maka Dia membuat mereka mengakuinya, Dia berfirman, “Kamukah yang menumbuhkannya ataukah kami yang menumbuhkan?”

[7] Yakni apakah kamu yang megeluarkannya dari dalam bumi atau menumbuhkannya atau mengeluarkan tangkai dan buahnya sehingga menjadi biji yang dapat dipanena dan buah yang masak? Ataukah Allah yang sendiri melakukannya dan memberimu nikmat dengannya. Perbuatan kamu hanyalah menggarap tanah, menabur benih dan menyiraminya selanjutnya kamu tidak mengetahui apa yang terjadi dan kamu tidak berkuasa lagi setelahnya.

Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan kita bahwa tanaman yang kita tanam sesungguhnya siap menerima bahaya jika Allah tidak menjaganya dan memeliharanya, agar menjadi bahan makanan bagi kita sampai waktu tertentu.

[8] Tanaman yang ditanam itu beserta buahnya.

[9] Sehingga tidak bermanfaat dan tidak menjadi rezeki.

[10] Yakni karena dijadikan-Nya hancur setelah kamu bersusah payah menanamnya dan mengeluarkan belanja untuknya, kamu pun menjadi menyesal dan kegembiraanmu menjadi hilang.

[11] Oleh karena itu, pujilah Allah Subhaanahu wa Ta'aala karena Dia telah menumbuhkannya untuk kamu, menjaganya dan memeliharanya hingga sempurna dan tidak mengirimkan musibah yang membuat kamu tidak dapat mengambil manfaat dan kebaikannya.

[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya berupa makanan, maka Dia menyebutkan nikmat-Nya kepada mereka yang berupa minuman yang segar, dan bahwa jika Allah tidak memudahkannya untuk mereka tentu mereka tidak akan bisa memperolehnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menurunkan air itu dari awan, dimana dari sana mengalirlah air di permukaan bumi dan di bawahnya.

[13] Termasuk nikmat-Nya adalah Dia menjadikan air itu segar yang menyegarkan peminumnya, kalau Dia menghendaki, bisa saja Dia jadikan air itu terasa asin sehingga tidak enak diminum. Oleh karena itu, mengapa kamu tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang dilimpahkan kepadamu?

[14] Apa yang disebutkan di ayat ini dan setelahnya juga termasuk bagian nikmat yang dikaruniakan-Nya kepada mereka, dimana nikmat ini tergolong nikmat dharuri (pokok), karena manusia butuh nyala api dalam banyak keperluan mereka, maka Dia membuat mereka mengakuinya dengan menerangkan bahwa Dia yang menumbuhkan pohon yang hijau yang dari sana mereka bisa menyalakan api untuk kebutuhan mereka, setelah itu mereka memadamkannya.

[15] Terhadap nikmat-nikmat Allah dan terhadap neraka Jahanam yang Dia siapkan untuk orang-orang yang bermaksiat dan sebagai cemeti untuk menggiring hamba-hamba-Nya menuju negeri yang penuh kenikmatan (surga)..

[16] Disebutkan musafir secara khusus, karena musafir lebih banyak membutuhkannya daripada selainnya. Atau maksudnya, karena dunia ini tempat safar, bukan tempat menetap, maka seorang hamba dari sejak dilahirkan maka dia sedang mengadakan perjalanan menuju Tuhannya. Nah, api itu Allah siapkan untuk musafir tersebiut sebagai bahan berguna baginya dan sebagai peringatan baginya terhadap negeri yang kekal (akhirat).

[17] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka yang menghendaki agar Dia dipuji oleh hamba-hamba-Nya, disyukuri dan diibadahi, maka Dia memerintahkan mereka untuk bertasbih dan memuji-Nya.

[18] Yakni sucikanlah Tuhanmu Yang Mahabesar, yang sempurna nama dan sifat-Nya, banyak ihsan dan kebaikan-Nya. Dan pujilah Dia dengan hatimu, lisanmu dan anggota badanmu, karena Dia layak memilikinya, Dia berhak disyukuri tidak dikufuri, Dia berhak disebut nama-Nya tidak dilupakan dan Dia berhak ditaati dan tidak didurhakai. Menurut Ibnu Jarir, “Maka sucikanlah dengan menamai Tuhanmu Yang Mahabesar dengan nama-nama-Nya yang indah (Asmaa’ul Husna).”

Tafsir Al Waqiah Ayat 27-56

Ayat 27-40: Rincian kenikmatan yang diperoleh As-habul yamin.

وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ (٢٧) فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ (٢٨) وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ (٢٩) وَظِلٍّ مَمْدُودٍ (٣٠) وَمَاءٍ مَسْكُوبٍ (٣١) وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ (٣٢) لا مَقْطُوعَةٍ وَلا مَمْنُوعَةٍ (٣٣) وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ (٣٤) إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً (٣٥) فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا (٣٦) عُرُبًا أَتْرَابًا (٣٧) لأصْحَابِ الْيَمِينِ (٣٨) ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ (٣٩) وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ (٤٠)

Terjemah Surat Al Waqiah Ayat 27-40

27. [1]Dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu.

28. (Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri[2],

29. dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),

30. dan naungan yang terbentang luas,

31. dan air yang mengalir terus-menerus[3],

32. dan buah-buahan yang banyak,

33. yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya[4].

34. dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk[5].

35. Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) secara langsung[6],

36. lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan[7].

37. yang penuh cinta[8] dan sebaya umurnya[9],

38. untuk golongan kanan,

39. segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,

40. dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian[10].



Ayat 41-56: Rincian azab yang diperoleh As-habusy syimal dan bantahan terhadap pendustaan mereka terhadap kebangkitan.

وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ (٤١) فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ (٤٢)وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ (٤٣) لا بَارِدٍ وَلا كَرِيمٍ (٤٤) إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُتْرَفِينَ (٤٥) وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِ (٤٦) وَكَانُوا يَقُولُونَ أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَبْعُوثُونَ (٤٧) أَوَآبَاؤُنَا الأوَّلُونَ (٤٨) قُلْ إِنَّ الأوَّلِينَ وَالآخِرِينَ (٤٩) لَمَجْمُوعُونَ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ (٥٠) ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ (٥١) لآكِلُونَ مِنْ شَجَرٍ مِنْ زَقُّومٍ (٥٢)فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ (٥٣) فَشَارِبُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْحَمِيمِ (٥٤) فَشَارِبُونَ شُرْبَ الْهِيمِ (٥٥) هَذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ الدِّينِ (٥٦)

Terjemah Surat Al Waqiah Ayat 41-56

41. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu?[11]

42. (Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih[12],

43. dan naungan asap yang hitam,

44. tidak sejuk dan tidak menyenangkan[13].

45. [14]Sesungguhnya mereka sebelum itu (dahulu) hidup bermewah-mewah[15],

46. dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa besar[16],

47. Dan mereka berkata[17], "Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?”

48. Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?"

49. Katakanlah, "(Ya), sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian,

50. pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi[18].

51. Kemudian sesungguhnya kamu, wahai orang-orang yang sesat[19] lagi mendustakan[20]!

52. pasti akan memakan pohon zaqqum[21],

53. maka kamu akan memenuhi perutmu dengannya.

54. Setelah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.

55. Maka kamu minum seperti unta (yang sangat haus) minum.

56. Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.”


[1] Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan apa yang Dia siapkan untuk golongan kanan.

[2] Yakni terpotong duri dan dahan yang jelek yang membahayakan, lalu diganti dengan buah yang enak. Pohon bidara memiliki kelebihan, naungannya dapat menaungi dan seseorang dapat beristirahat di bawahnya.

[3] Baik dari mata air, sungai yang mengalir maupun air-air yang memancar.

[4] Yang berbeda dengan buah-buahan di dunia yang berhenti buahnya pada waktu tertentu dan sulit didapatkan.

[5] Bisa juga diartikan, dan kasur-kasur yang ditinggikan, yakni ditinggikan di atas ranjang. Kasur-kasur tersebut dari sutera, emas, mutiara dan lainnya yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[6] Mereka diciptakan tanpa melalui kelahiran dan langsung menjadi gadis, atau maksudnya Allah menciptakan mereka (wanita-wanita penghuni surga) dalam keadaan sempurna dan tidak menerima kebinasaan.

[7] Baik wanita yang masih kecil maupun yang sudah tua di dunia, Allah menjadikan mereka di akhirat dalam keadaan muda. Hal ini mencakup bidadari dan wanita-wanita penghuni surga, dan bahwa keperawanan ini senantiasa ada pada mereka meskipun mereka telah digauli oleh suami mereka.

[8] Apabila mereka berbicara, maka mereka berbicara dengan lafaz yang indah dan menarik sikapnya, cantik dan penuh rasa cinta sehingga memikat akal suami mereka dan ingin terus mendengar kata-katanya, terlebih ketika mereka bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Apabila suami mereka melihat adab dan sifatnya, tentu hati mereka akan dipenuhi rasa gembira dan senang. Ketika bidadari-bidadari tersebut pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain, maka tempat yang mereka tinggalkan penuh dengan wangi dan cahaya.

[9] Yaitu pada usia 33 tahun.

[10] Yakni golongan kanan ini terdiri dari sejumlah besar orang-orang yang terdahulu dan sejumlah besar orang-orang yang datang kemudian.

[11] Yang dimaksud golongan kiri di sini adalah penghuni neraka. Allah Subhaanahu wa Ta'aala pada ayat selanjutnya menyebutkan azab yang ditimpakan kepada mereka karena keadilan-Nya.

[12] Yang memotong usus-usus mereka.

[13] Atau tidak indah dipandang. Maksudnya, bahwa di sana terdapat kesedihan, kecemasan dan kegelisahan serta keburukan, dan suasananya panas, berbeda dengan naungan-naungan yang lain.

[14] Selanjutnya Allah menyebutkan amal yang membuat mereka sampai ke tempat itu.

[15] Tidak mau mengerjakan amal saleh dan dibuat lalai oleh dunia. Yang ada di benak mereka adalah keinginan hidup enak di dunia, sehingga mereka kerahkan pikiran dan tenaga untuk memperolehnya sampai lupa terhadap akhirat.

[16] Yaitu syirk dan dosa-dosa besar yang lain. Mereka tidak bertobat darinya dan tidak menyesal terhadapnya, bahkan mereka senantiasa mengerjakan perbuatan yang membuat murka Tuhan mereka sehingga mereka menemui-Nya dengan membawa dosa-dosa yang besar, wal ‘iyaadz billah.

[17] Mengingkari adanya kebangkitan.

[18] Yaitu pada hari Kiamat; hari dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala membalas amal yang mereka kerjakan selama di dunia.

[19] Dari petunjuk baik ilmu maupun amal.

[20] Yakni mendustakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan apa yang Beliau bawa berupa kebenaran, janji dan ancaman.

[21] Jenis pohon yang paling buruk, paling busuk dan tidak sedap dipandang. Pohon yang tumbuh di neraka yang mengakibatkan derita yang luar biasa bagi yang memakannya. Pohon ini tidak membuat pemakannya gemuk dan tidak menutupi dirinya dari lapar. Inilah makanan mereka, adapun minumannya, maka berupa minuman yang paling buruk, yaitu air yang sangat mendidih.

Tafsir Al Waqiah Ayat 1-26

Surah Al Waaqi’ah (Hari Kiamat Yang Pasti Terjadi)

Surah ke-56. 96 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-10: Di antara peristiwa dahsyat pada hari Kiamat, dan bahwa manusia akan terbagi menjadi tiga golongan; As Saabiqun, As-habul yamin dan As-habusy syimal.



إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (١) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (٢) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (٣) إِذَا رُجَّتِ الأرْضُ رَجًّا (٤) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (٥) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (٦)وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلاثَةً (٧) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (٨)وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (٩) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (١٠)

Terjemah Surat Al Waqiah Ayat 1-10

1. [1]Apabila terjadi hari Kiamat,

2. Terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal)[2].

3. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan)[3] dan meninggikan (golongan yang lain)[4].

4. Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya,

5. dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya,

6. maka jadilah ia debu yang beterbangan[5],

7. dan kamu menjadi tiga golongan[6].

8. yaitu golongan kanan[7], alangkah mulianya golongan kanan itu,

9. dan golongan kiri[8], alangkah sengsaranya golongan kiri itu,

10. dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga)[9],



Ayat 11-26: Rincian kenikmatan yang diperoleh As Saabiquun.

أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (١١) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (١٢) ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ (١٣) وَقَلِيلٌ مِنَ الآخِرِينَ (١٤) عَلَى سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ (١٥) مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ (١٦) يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ (١٧) بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ (١٨) لا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلا يُنْزِفُونَ (١٩) وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ (٢٠) وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ (٢١) وَحُورٌ عِينٌ (٢٢) كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ (٢٣) جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢٤) لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلا تَأْثِيمًا (٢٥) إِلا قِيلا سَلامًا سَلامًا (٢٦)

Terjemah Surat Al Waqiah Ayat 11-26

11. mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah)[10].

12. Berada dalam surga kenikmatan,

13. segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu[11],

14. dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian[12].

15. Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata[13],

16. mereka bersandar[14] di atasnya berhadap-hadapan.

17. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda[15],

18. dengan membawa gelas, cerek[16] dan sloki (piala) berisi minuman (arak) yang diambil dari air yang mengalir,

19. mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk[17],

20. dan buah-buahan apa pun yang mereka pilih[18],

21. dan daging burung apa pun yang mereka inginkan.

22. dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah[19],

23. laksana mutiara yang tersimpan baik[20].

24. Sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan[21].

25. Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun yang menimbulkan dosa,

26. tetapi mereka mendengar ucapan salam[22].


[1] Di ayat ini dan setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang sesuatu yang pasti terjadi, yaitu hari Kiamat.

[2] Sebagaimana sebelum terjadinya disangkal atau didustakan oleh sebagian manusia. Atau maksudnya, tidak ada keraguan padanya karena begitu jelas dalil-dalilnya baik secara akal maupun naql, demikian pula ditunjukkan oleh hikmah (kebijaksanaan) Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[3] Dengan masuk ke tempat yang paling rendah, yaitu neraka.

[4] Dengan masuk ke tempat yang paling tinggi, yaitu surga.

[5] Sehingga bumi menjadi rata tidak ada tempat yang tinggi dan tidak ada tempat yang rendah.

[6] Sesuai amal yang kamu kerjakan selama di dunia.

[7] Ialah mereka yang menerima buku catatan amal dengan tangan kanan.

[8] Ialah mereka yang menerima buku catatan amal dengan tangan kiri.

[9] Menurut Syaikh As Sa’diy, maksudnya bahwa orang-orang yang bersegera kepada kebaikan ketika di dunia, maka mereka itulah orang-orang yang bersegera di akhirat untuk masuk surga. Mereka inilah orang-orang yang dekat dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala di surga kenikmatan yang berada di tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin).

[10] Mereka ini adalah makhluk-makhluk pilihan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[11] Yakni mereka itu terdiri dari segolongan besar dari generasi pertama umat ini dan umat-umat sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[12] Ayat ini menunjukkan keutamaan generasi pertama umat ini secara jumlah (garis besar) daripada generasi yang datang kemudian, karena orang-orang yang didekatkan dari kalangan orang-orang terdahulu lebih banyak daripada orang-orang yang datang kemudian.

[13] Yakni dipan-dipan yang dilapisi emas, perak, mutiara dan permata dan perhiasan lainnya yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[14] Dengan tenang dan santai.

[15] Anak-anak muda ini melayani dan memenuhi kebutuhan mereka (penghuni surga). Mereka (anak-anak muda) ini saking indahnya seperti mutiara yang berhamburan. Mereka kekal dan tetap muda di sana serta tidak bertambah usianya.

[16] Yakni teko yang memiliki pegangan.

[17] Berbeda dengan arak di dunia. Walhasil, semua kenikmatan di surga yang ada jenisnya di dunia, maka kenikmatan tersebut ketika di surga tidak memiliki kekurangan.

[18] Mereka dapat memperolehnya dengan keadaannya yang sempurna.

[19] Yakni bidadari yang sangat jelas hitam bola matanya dan sangat putih pinggirnya serta matanya jeli.

[20] Demikianlah bidadari itu, tidak ada cacatnya, bahkan sempurna sifatnya.

[21] Oleh karena mereka memperbaiki amal, maka Allah memperbaiki balasan-Nya.

[22] Hal itu, karena surga adalah tempat orang-orang yang baik dan tidak ada di sana selain semua yang baik. Hal ini juga menunjukkan bagusnya adab penghuni surga dalam percakapan di antara sesama mereka, dan bahwa ucapan mereka adalah ucapan yang paling baik dan paling menyenangkan jiwa serta paling selamat dari sesuatu yang sia-sia dan dosa.