Tampilkan postingan dengan label 057-Al Hadid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 057-Al Hadid. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Mei 2014

Tafsir Al Hadid Ayat 22-29

Ayat 22-24: Menerima dan ridha kepada qadar Allah, dan peringatan kepada kaum mukmin agar tidak bakhil dan enggan berinfak.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (٢٢) لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (٢٣) الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (٢٤)

Terjemah Surat Al Hadid Ayat 22-24

22. [1]Setiap bencana yang menimpa di bumi[2] dan yang menimpa dirimu sendiri[3], semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.

23. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira[4] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong[5] dan membanggakan diri[6],

24. (yaitu) orang-orang yang kikir[7] dan menyuruh orang lain berbuat kikir[8]. Barang siapa berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah, Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji.

Ayat 25-26: Pengutusan para rasul dan penjelasan tentang maksud dari diutusnya mereka yaitu menyampaikan petunjuk, kabar gembira dan peringatan, serta penjelasan bahwa besi adalah karunia Allah yang merupakan pokok kekuatan untuk membela agama Allah dan memenuhi kebutuhan hidup.



لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (٢٥) وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ فَمِنْهُمْ مُهْتَدٍ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (٢٦)



Terjemah Surat Al Hadid Ayat 25-26

25. Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata[9] dan Kami turunkan bersama mereka kitab[10] dan neraca (keadilan)[11] agar manusia dapat berlaku adil[12]. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia[13], dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun Allah tidak dilihatnya[14]. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa[15].

26. [16]Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami berikan kenabian dan kitab (wahyu) kepada keturunan keduanya[17], di antara mereka[18] ada yang menerima petunjuk[19] dan banyak di antara mereka yang fasik[20].

Ayat 27-29: Tidak ada rahbaaniyyah (kerahiban) dalam agama Allah, ajakan kepada Ahli Kitab untuk masuk ke dalam Islam agar memperoleh dua pahala, dan penjelasan bahwa kenabian dan hidayah serta iman di Tangan Allah; Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya.



ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَى آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الإنْجِيلَ وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (٢٧) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٢٨) لِئَلا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (٢٩)



Terjemah Surat Al Hadid Ayat 27-29

27. Kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami mengikuti jejak mereka dan Kami susulkan (pula) Isa putra Maryam[21]; dan Kami berikan Injil kepadanya[22] dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya[23]. Mereka mengada-adakan rahbaniyyah[24] padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang Kami wajibkan hanyalah) mencari keridhaan Allah, tetapi tidak mereka pelihara dengan semestinya[25]. Maka kepada orang-orang yang beriman di antara mereka[26] Kami berikan pahalanya dan banyak di antara mereka yang fasik.

28. Wahai orang-orang yang beriman[27]! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Muhammad), niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian[28], dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan[29] serta Dia mengampuni kamu[30]. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

29. [31]agar Ahli Kitab mengetahui bahwa sedikit pun mereka tidak akan mendapat karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwa karunia itu ada di Tangan Allah. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki[32]. Dan Allah mempunyai karunia yang besar[33].


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menerangkan meratanya qadha’ dan qadar-Nya.

[2] Seperti kemarau panjang.

[3] Ayat ini mencakup semua musibah yang menimpa makhluk, yang baik maupun yang buruk, dimana semuanya telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh yang kecil maupun yang besar. Perkara ini adalah perkara besar yang tidak dapat dijangkau akal, bahkan hati orang-orang yang berakal sampai lalai di sini, tetapi bagi Allah yang demikian sangat mudah. Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya yang demikian agar kaidah ini menetap pada mereka dan mereka mendasari di atasnya dalam semua yang mereka peroleh, baik atau buruk, sehingga mereka tidak berputus asa dan bersedih terhadap hal yang luput dari mereka dimana diri mereka rindu kepadanya karena mereka mengetahui bahwa hal itu tertulis dalam Lauh Mahfuzh, harus diberlakukan dan harus terjadi sehingga tidak ada jalan untuk menolaknya, demikian pula mereka tidak bergembira dengan sombong terhadap apa yang Allah berikan kepada mereka karena mereka tahu bahwa yang mereka peroleh itu bukan karena upaya dan kekuatan mereka, tetapi dengan karunia Allah dan nikmat-Nya, sehingga mereka pun menyibukkan diri dengan bersyukur kepada Allah yang melimpahkan nikmat itu dan menghindarkan bahaya dari mereka.

[4] Yang dimaksud dengan terlalu gembira, ialah gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah, bahkan yang benar adalah gembira bersyukur.

[5] Terhadap apa yang diberikan kepadanya dan merasa ujub dengannya.

[6] Di hadapan manusia, ia menisbatkan nikmat itu kepada dirinya, tidak kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[7] Terhadap yang wajib mereka keluarkan.

[8] Yakni bagi mereka ini azab yang pedih. Mereka menggabung antara dua perkara yang tercela, dimana salah satunya sesungguhnya sudah cukup menunjukkan keburukannya. Kedua perkara itu adalah yang pertama bakhil (kikir), yaitu menahan hak-hak yang wajib diberikan, dan yang kedua adalah memerintahkan manusia berbuat demikian dengan mendorong berbuat kikir baik dengan ucapan maupun perbuatan. Ini tidak lain karena berpaling dari menaati Allah, padahal barang siapa berpaling dari menaati Allah, maka tidak ada yang ia rugikan kecuali dirinya dan Allah tidaklah terkena madharrat sedikit pun, karena Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji, dimana kekayaan menjadi lawazim (yang mesti) pada zat-Nya; milik-Nya kerajaan langit dan bumi, dan Dialah yang mengkayakan hamba-hamba-Nya dan mencukupkan mereka, dan Dia Maha Terpuji; Dia memiliki semua nama yang baik, sifat yang sempurna, perbuatan yang indah sehingga berhak untuk dipuji, disanjung dan diagungkan.

[9] Yaitu dalil-dalil, bukti-bukti dan tanda yang menunjukkan kebenaran yang mereka bawa.

[10] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkannya sebagai hidayah bagi makhluk dan untuk membimbing mereka kepada hal yang bermanfaat bagi mereka baik pada agama maupun dunia mereka.

[11] Yaitu keadilan baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan. Agama yang yang dibawa para rasul berisi keadilan dalam perintah dan larangan, dan dalam bermu’amalah dengan makhluk, dalam jinayat, qishas, hudud, mawarits, dan lain-lain.

[12] Yakni dapat menegakkan agama Allah dan mewujudkan maslahat mereka yang begitu banyak. Ayat ini merupakan dalil bahwa para rasul semuanya sepakat dalam kaidah syara’, yaitu menegakkan keadilan meskipun berbeda-beda gambaran keadilan itu sesuai situasi, kondisi dan zaman.

[13] Kita dapat melihat banyak peralatan yang dibuat manusia tidak lepas dari besi.

[14] Yakni agar Allah Subhaanahu wa Ta'aala menegakkan pasar ujian dengan apa yang diturunkan-Nya berupa kitab dan besi, sehingga menjadi jelas siapa yang menolong agama-Nya dan para rasul-Nya meskipun Dia tidak dilihat mereka, dimana ketika inilah iman bermanfaat berbeda jika sudah tidak gaib lagi bagi mereka, maka tidak ada faedahnya beriman ketika itu, karena beriman pada saat itu dalam keadaan terpaksa.

[15] Yakni tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya dan tidak ada yang dapat meloloskan diri dari-Nya. Di antara kekuatan dan keperkasaan-Nya adalah Dia menurunkan besi, dimana darinya dibuat berbagai peralatan yang kuat. Di antara kekuatan dan keperkasaan-Nya juga adalah Dia Mahakuasa untuk mengalahkan sendiri musuh-musuh-Nya, akan tetapi Dia menguji para wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya itu agar diketahui siapa yang menolong agama-Nya meskipun Dia tidak dilihat mereka.

Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala menggandengkan antara kitab dengan besi, karena dengan keduanya Allah menolong agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya. Dalam kitab, terdapat hujjah dan bukti, sedangkan besi (seperti pedang) dapat menguatkannya. Dengan keduanya dapat ditegakkan keadilan, yang di sana terdapat dalil yang menunjukkan kebijaksanaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan kesempurnaan-Nya, serta kesempurnaan syariat-Nya yang Dia syariatkan melalui lisan para rasul-Nya.

[16] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kenabian para nabi secara umum, maka Dia menyebutkan di antara mereka nabi pilihan seperti Nuh dan Ibrahim ‘alaihimas salam yang Allah jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya.

[17] Oleh karena itu, para nabi yang terdahulu dan yang datang kemudian semuanya berasal dari keturunan Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim ‘alaihimas salam.

[18] Yang diutus kepada mereka para rasul.

[19] Dengan dakwah para rasul, tunduk kepada perintah mereka dan mengambil petunjuk mereka.

[20] Yakni keluar dari ketaatan kepada Allah dan rasul.

[21] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengkhususkan Nabi Isa ‘alaihis salam, karena susunan ayat ini berkenaan dengan orang-orang Nasrani yang mengaku mengikuti Nabi Isa ‘alaihis salam.

[22] Yang termasuk di antara kitab-kitab Allah yang utama.

[23] Oleh karena itulah orang-orang Nasrani lebih lunak hatinya daripada yang lain ketika mereka berada di atas syariat Nabi Isa ‘alaihis salam.

[24] Yang dimaksud dengan Rahbaniyah ialah tidak beristri atau tidak bersuami dan mengurung diri dalam biara. Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak mewajibkan hal itu kepada mereka, bahkan merekalah yang mewajibkannya dari diri mereka sendiri dengan maksud mencari keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[25] Yakni mereka tidak melakukannya dan memenuhi hak-haknya, sehingga mereka melakukan dua kesalahan; berbuat bid’ah dan tidak melakukan apa yang mereka wajibkan terhadap diri mereka. Keadaan inilah yang dilakukan mereka pada umumnya.

[26] Kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah beriman kepada Nabi Isa ‘alaihis salam, maka masing-masing mendapatkan pahala sesuai keimanannya.

[27] kepada Nabi Musa dan Isa ‘alaihimas salam. Ayat ini menurut sebagian mufassir tertuju kepada Ahli Kitab yang beriman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan Nabi Isa ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan mereka untuk melakukan konsekwensi iman mereka, yaitu bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan bermaksiat kepada-Nya dan beriman kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan bahwa jika mereka melakukan yang demikian, maka Allah akan memberikan pahala dua kali, pahala terhadap keimanan mereka kepada para nabi sebelumnya dan pahala terhadap keimanan mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun ayat ini bisa juga umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang tampak, yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan mereka beriman dan bertakwa di mana semua bagian agama masuk ke dalamnya, zahir maupun batin, ushul (dasar) maupun furu’ (cabang) dan bahwa jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberikan rahmat-Nya dua bagian yang tidak diketahui sifat dan ukurannya kecuali oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Kedua bagian itu adalah pahala terhadap keimanan dan pahala terhadap ketakwaan atau pahala karena mengerjakan perintah dan pahala karena menjauhi larangan atau maksud dua kali di sini adalah diulangnya pemberian lagi setelahnya.

[28] Menurut sebagian mufassir, karena kamu beriman kepada dua nabi; Nabi Isa ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[29] Di atas shirath (jembatan). Atau maksudnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan kepadamu ilmu, petunjuk dan cahaya yang dengannya kamu dapat berjalan dalam gelapnya kebodohan.

[30] Terhadap keburukanmu.

[31] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan karunia dan ihsan-Nya kepada orang-orang yang beriman dengan iman yang menyeluruh (tanpa memilah-milah), bertakwa kepada Allah dan beriman kepada Rasul-Nya agar Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka sedikit pun tidak akan mendapatkan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam), padahal mereka sebelumnya mengatakan bahwa tidak ada yang masuk ke surga kecuali orang-orang Yahudi dan Nasrani, dan mereka memiliki banyak angan-angan, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala di ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang bertakwa kepada Allah itulah yang mendapatkan dua bagian dari rahmat-Nya, mendapatkan cahaya dan ampunan sebagai celaan terhadap Ahli Kitab yang menyangka sebaliknya. Yang demikian juga agar mereka mengetahui, bahwa karunia itu di Tangan Allah, Dia memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki sesuai hikmah-Nya.

[32] Seperti dengan memberikan pahala dua kali bagi Ahli Kitab yang beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[33] Sehingga tidak seorang pun yang dapat mengukur besarnya. Karunia-Nya merata kepada penghuni langit dan bumi, sehingga tidak ada satu pun makhluk yang lepas dari karunia-Nya meskipun sekejap mata atau kurang dari itu.

Tafsir Al Hadid Ayat 13-21

Ayat 13-15: Membicarakan tentang orang-orang munafik, bagaimana mereka bertindak tanpa petunjuk di kegelapan di akhirat sebagaimana mereka di dunia berada dalam kegelapan kebodohan, kesesatan dan keraguan.

يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ (١٣) يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الأمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (١٤) فَالْيَوْمَ لا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَلا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مَأْوَاكُمُ النَّارُ هِيَ مَوْلاكُمْ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (١٥)

Terjemah Surat Al Hadid Ayat 13-15

13. [1]Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu[2].” (Kepada mereka) dikatakan, "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu di antara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat[3] dan di luarnya hanya ada azab[4].

14. Orang-orang munafik memanggil orang-orang mukmin, "Bukankah kami dahulu bersama kamu?"[5] Mereka menjawab, "Benar[6], tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri[7], dan kamu hanya menunggu (kekalahan kami), meragukan (janji Allah) dan ditipu oleh angan-angan kosong[8] sampai datang ketetapan Allah[9]; dan penipu (setan) datang memperdaya kamu tentang Allah[10].

15. Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kamu[11] maupun dari orang kafir. Tempat kamu di neraka. Itulah tempat berlindungmu, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Ayat 16-17: Peringatan kepada kaum mukmin agar tidak berhati keras; hati yang tidak menerima nasihat dan tidak tunduk kepada janji dan ancaman-Nya.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (١٦) اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (١٧)

Terjemah Surat Al Hadid Ayat 16-17

16. [12] [13]Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka)[14] dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang[15] sehingga hati mereka menjadi keras[16]. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.

17. Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya (kering)[17]. Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu tanda-tanda (kebesaran Kami) agar kamu mengerti[18].

Ayat 18-21: Pahala orang yang mengorbankan jiwa dan hartanya untuk menegakkan agama Allah, dan gambaran kehidupan dunia agar manusia tidak tertipu dengannya.

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ (١٨) وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (١٩) اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ (٢٠) سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (٢١)

Terjemah Surat Al Hadid Ayat 18-21

18. Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah[19] baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik[20], akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka[21]; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia[22].

19. Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya[23], mereka itu orang-orang shiddiqin[24]. Dan para syuhada di sisi Tuhan mereka, berhak mendapat pahala dan cahaya[25]. Tetapi orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami[26], mereka itu penghuni-penghuni neraka[27].

20. [28]Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan[29] dan saling berbangga di antara kamu[30] serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan[31], [32]seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya[33]. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu[34]. Ayat Semisal : (Al-Ahqaf: 20)

+ show / hide Dalil Hadits

21. [35]Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki[36]. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

KANDUNGAN AYAT

[1] Ketika itu cahaya orang-orang munafik padam dan mereka berada dalam kegelapan sambil merasa heran, sedangkan mereka melihat cahaya orang-orang mukmin tetap bersinar dan mereka berjalan dengannya, maka mereka berkata kepada orang-orang mukmin seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.

[2] Agar kami dapat selamat dari azab.

[3] Yaitu yang berada dekat orang-orang mukmin.

[4] Yaitu yang dekat dengan orang-orang munafik.

[5] Yakni di dunia, kami sama seperti kamu mengucapkan Laailaahaillallah, kami shalat, kami puasa dan beramal seperti amal kamu?

[6] Ya, benar secara zhahir amalmu sama seperti amal kami, akan tetapi amalmu adalah amal orang-orang munafik yang tidak didasari iman dan niat yang benar.

[7] Dengan berbuat munafik.

[8] Bahwa kamu akan mendapatkan seperti yang didapatkan kaum mukmin, namun kamu tidak yakin.

[9] Yaitu kematian, sedangkan kamu dalam keadaan seperti itu.

[10] Setan telah menghias kekafiran dan keragu-raguan kepada kamu, lalu kamu merasa tenang dengannya dan kamu percayai janjinya yang dusta dan membenarkan beritanya.

[11] Meskipun kamu menebus dirimu dengan emas sepenuh bumi.

[12] Menurut penyusun tafsir Al Jalaalain, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para sahabat yang terlalu banyak bercanda.

[13] Ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan keadaan kaum mukmin laki-laki dan perempuan serta keadaan kaum munafik laki-laki dan perempuan di akhirat, dimana hal tersebut mendorong hati untuk khusyu’ kepada Tuhannya dan tunduk kepada kebesaran-Nya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mencela kaum mukmin karena tidak seperti itu.

[14] Maksudnya, belumkah datang waktu bagi orang-orang yang beriman untuk lunak dan khusyu’ hati berdzikr mengingat Allah, yaitu dalam membaca Al Qur’an, tunduk kepada perintahnya dan menjauhi larangannya, serta kepada kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk berusaha menjadikan hati khusyu’ kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan kepada yang diturunkan-Nya berupa Al Qur’an dan As Sunnah, dan agar kaum mukmin dapat mengingat nasihat-nasihat ilahi dan hukum-hukum syar’i di setiap waktu serta menghisab diri mereka dengannya.

[15] Yakni janganlah mereka seperti orang-orang sebelum mereka dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang telah Allah turunkan kepada mereka kitab yang mengharuskan mereka khusyu’ hatinya dan tunduk sikapnya, namun mereka malah tidak istiqamah di atasnya, bahkan masa yang panjang berlalu kepada mereka namun membuat mereka tetap lalai sehingga iman mereka sedikit demi sedikit terkikis.

[16] Tidak lunak ketika berdzikr kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Dengan demikian, hati terus-menerus butuh mengingat apa yang Allah turunkan dan tidak lalai terhadapnya, karena jika tidak demikian maka dapat menyebabkan hati menjadi keras.

[17] Dengan menjadikannya menumbuhkan tumbuhan. Demikian juga Dia berbuat terhadap hatimu dengan mengembalikan hatimu kepada kekhusyu’an.

[18] Hal itu, karena ayat-ayat itu menunjukkan kepada akal terhadap tuntutan-tuntutan ilahi. Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menghidupkan bumi setelah matinya tentu mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati setelah mereka mati, lalu Dia memberi balasan terhadap amal mereka. Demikian pula karena Dia yang menghidupkan bumi setelah matinya dengan air hujan, maka Dia mampu pula menghidupkan hati-hati yang telah mati dengan kebenaran yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya. Ayat ini menunjukkan, bahwa tidak ada akal bagi orang yang tidak dapat mengambil petunjuk dari ayat-ayat Allah serta tidak tunduk kepada syariat-syariat Allah.

[19] Yakni orang-orang yang banyak bersedekah dan mengeluarkan infak yang diridhai.

[20] Yaitu dengan memberikan harta mereka ke jalan-jalan kebaikan yang menjadi simpanan bagi mereka di sisi Tuhan mereka.

[21] Satu kebaikan dilipat-gandakan menjadi sepuluh, lalu menjadi tujuh ratus dan menjadi kelipatan yang banyak melebihi itu.

[22] Yaitu yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala siapkan untuk mereka di surga berupa kenikmatan yang tidak diketahui oleh jiwa.

[23] Syaikh As Sa’diy menerangkan, iman menurut Ahlussunnah wal Jamaah adalah ucapan hati dan lisan, demikian pula amalan hati, lisan dan anggota badan sehingga mencakup semua syariat agama yang tampak maupun yang tersembunyi. Orang yang menggabung antara perkara-perkara ini, maka mereka adalah shiddiqin yang kedudukan mereka di atas kedudukan kaum mukmin pada umumnya dan di bawah kedudukan para nabi.

[24] Yaitu mereka yang sangat teguh dan kuat keyakinannya kepada kebenaran rasul. Mereka ini termasuk di antara orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al Faatihah ayat 7.

[25] Hal ini sebagaimana yang diterangkan dalam hadits shahih, bahwa di surga ada seratus derajat, dimana antara dua derajat jaraknya antara langit dan bumi. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyiapkannya untuk para mujahid di jalan-Nya. Ayat ini menunjukkan tingginya kedudukan mereka dan dekatnya mereka dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[26] Yang menunjukkan keesaan Kami.

[27] Ayat ini dan dua ayat sebelumnya menerangkan beberapa golongan orang, dari mulai al mushshaddiqin (orang-orang yang banyak bersedekah), shiddiqin (orang-orang yang sangat membenarkan), syuhada’ dan As-habul Jahim (penghuni neraka). Al Mushshaddiqin adalah mereka yang sebagian besar amalnya adalah berbuat ihsan kepada makhluk, memberikan manfaat kepada mereka sesuai kemampuan, khususnya memberikan manfaat dengan mengeluarkan harta di jalan Allah.Shiddiqin adalah mereka yang telah sempurna tingkatan iman dan amal saleh, ilmu yang bermanfaat dan keyakinan yang benar. Sedangkan para syuhada adalah orang-orang yang berperang di jalan Allah untuk meninggikan kalimatullah serta mengorbankan diri dan harta mereka lalu mereka terbunuh. Adapun Ash-habul jahiim adalah orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah. Tinggallah golongan yang disebutkan dalam surah Fathir, yaitu al muqtashiduun (yang pertengahan), yaitu mereka yang mengerjakan kewajiban dan meninggalkan larangan, hanyasaja mereka melakukan pengurangan pada sebagian hak Allah dan hak hamba. Mereka ini tempat kembalinya adalah ke surga meskipun mereka mendapatkan hukuman terhadap sebagian amal yang mereka kerjakan.

[28] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan hakikat dunia dan apa yang ada di atasnya, menerangkan akhirnya dan akhir para penghuninya, yaitu bahwa dunia merupakan permainan dan senda gurau, dimana jasad bermain-main dengannya dan hati terlalaikan olehnya. Hal ini seperti yang terjadi pada orang-orang yang mengejar dunia, dimana kita melihat mereka menghabiskan usia mereka dengan senda gurau serta lalai dari dzikrullah, demikian pula terhadap apa yang ada di hadapan mereka berupa janji Allah dan ancaman-Nya di akhirat. Bahkan kita melihat mereka menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau, berbeda dengan orang-orang yang sadar dan mengejar akhirat, dimana hati mereka dipenuhi mengingat Allah, mengenal dan mencintai-Nya, dan mereka menyibukkan waktu mereka dengan amal yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah baik manfaatnya terbatas untuk diri mereka maupun mengena pula kepada orang lain.

+ show / hide Penjelasan Ulama

[29] Yakni berhias, baik dalam pakaian, makanan, minuman, kendaraan, rumah, kedudukan dan lainnya.

[30] Maksudnya, masing-masing penghuninya ingin berbangga di hadapan orang lain dan agar dia lebih unggul dalam urusannya serta masyhur keadaannya.

[31] Masing-masing ingin jika dia lebih banyak daripada yang lain dalam harta dan anaknya seperti yang kita saksikan pada orang-orang yang mencintai dunia dan merasa tenteram dengannya. Berbeda dengan orang-orang yang telah mengenal dunia dan hakikatnya, dimana dia menjadikannya sebagai perjalanan, bukan sebagai tempat menetap, maka dia pun berlomba-lomba dalam hal yang mendekatkan dirinya kepada Allah serta menggunakan sarana yang dapat mengantarkannya kepada Allah, dan ketika dia melihat orang-orang berlomba-lomba dalam hal harta dan anak, maka dia berlomba-lomba dalam amal saleh.

[32] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala membuat permisalan terhadap dunia dengan air hujan yang turun mengena kepada bumi, lalu bercampur dengan tanaman-tanaman bumi yang kemudian menjadi makanan manusia dan hewan. Ketika bumi telah berhias dengan indahnya dan tanamannya menakjubkan para penanam, yang cita-cita dan harapannya terbatas hanya sampai dunia saja, tiba-tiba datang perkara dari perintah Allah yang membinasakannya sehingga tanaman itu menjadi kering menguning dan menjadi seperti belum pernah tumbuh sama sekali. Demikianlah dunia, ketika ia berhias untuk penduduknya, dimana apa saja yang diinginkan penghuninya dapat diperolehnya dan apa yang dituju oleh penghuninya, maka akan ditemukan pintu-pintu ke arahnya dalam keadaan terbuka, namun qadar (taqdir) menimpanya sehingga menghilangkannya dari tangannya dan menyingkirkan kepemilikannya dan tangannya pun menjadi hampa, dimana ia tidak berbekal apa-apa selain kain kafan. Oleh karena itu, sungguh rugi orang yang menjadikan dunia sebagai akhir cita-citanya, dimana untuknya dia beramal dan berbuat. Padahal beramal untuk akhirat, itulah yang bermanfaat, menjadi simpanan pemiliknya dan akan ikut bersama hamba selama-lamanya. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.”

[33] Maksudnya, keadaan di akhirat tidak lepas dari dua keadaan ini, bisa azab yang keras di neraka Jahannam, belenggu, rantai dan kedahsyatannya bagi orang yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya dan akhir harapannya yang membuatnya berani bermaksiat kepada Allah, mendustakan ayat-ayat Allah dan mengingkari nikmat-nikmat Allah. Bisa juga mendapatkan ampunan dari Allah terhadap keburukannya, penyingkiran hukuman dan mendapatkan keridhaan-Nya bagi orang yang telah mengetahui hakikat dunia dan beramal untuk akhirat. Ini semua termasuk hal yang membantu untuk zuhud terhadap dunia dan berharap kepada akhirat.

[34] Tidak ada yang tertipu dan merasa tenang kepadanya selain orang-orang yang lemah akal yang ditipu oleh setan.

[35] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk berlomba-lomba menggapai ampunan Allah, keridhaan-Nya dan surga-Nya. Tentunya hal itu dicapai dengan mengerjakan sebab-sebab untuk mendapatkan ampunan berupa tobat nasuha, istighfar yang bermanfaat dan menjauhi dosa, serta berlomba-lomba menggapai keridhaan Allah dengan amal saleh serta berusaha terus mengerjakan perbuatan yang menjadikan Allah ridha berupa berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan berbuat ihsan kepada makhluk dengan berbagai bentuk manfaat.

[36] Maksudnya, inilah yang telah Kami terangkan kepada kamu berupa jalan-jalan menuju surga serta jalan-jalan yang mengarah kepada neraka, dan bahwa karunia Allah berupa pahala yang besar termasuk nikmat-Nya yang terbesar yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.

+ show / hide Penjelasan Tambahan
===========================================================

TAFSIR AYAT [al-Hadîd/57:16]: 

Potret Ideal Mukmin, Khusyu’ Dan Takut Kepada Allâh Azza Wa Jalla Dan Tunduk Kepada Al-Haq
Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menurunkan al-Qur`ân kepada manusia yang akan menepis dinding syahwat yang menyala-nyala dari penglihatan dan mata hati mereka, sehingga hati mereka akan tersinari oleh cahaya cinta dan pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla yang telah menciptakan diri mereka. Pada gilirannya, akan menyebabkan mereka menghinakan diri, tunduk, merasa tentram dan tenang di hadapan Rabb mereka al-Kabîr (Maha Besar) al-Muta’âl (Maha Tinggi).[1] 

Maka, turunlah teguran dari Allâh Azza wa Jalla kepada kaum Mukminin yang belum mencapai puncak kekhusyu’an. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah . . [al-Hadîd/57:16]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Belumkah tiba waktunya bagi kaum Mukminin untuk khusyu’ hati mereka ketika tengah mengingat Allâh Azza wa Jalla . Maksudnya, hati mereka menjadi melunak kala mengingat Allâh Azza wa Jalla , mendengar nasehat dan mendengar bacaan al-Qur`ân, sehingga memahaminya, patuh kepadanya dan menyimak dan menaatinya”.[2] 

Kata الْخُشُوْعُ secara etimologi bermakna tidak bergerak, tuma'nînah dan merendahkan diri. Sedang dalam terminologi syariat, bermakna rasa khasy-yah (takut) kepada Allâh Azza wa Jalla yang meliputi kalbu yang pengaruhnya tampak pada anggota tubuh dengan menundukkan diri dan tidak bergerak-gerak seperti kondisi orang yang tengah dilanda ketakutan.[3] 

Makna demikian ini ditunjukkan juga oleh firman Allâh Azza wa Jalla berikut:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allâh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabblah mereka bertawakkal.) [al-Anfâl/8:2]. 

Kata الْوَجَلُ (al-wajal) dan الْخَشْيَةُ (al-khasy-yah) bermakna sama. [4] 

Sementara Syaikh Abu Bakr al-Jazâiri hafizhahullâh dalam Tafsirnya mengarahkan pengertian ayat ini kepada orang-orang yang suka bercanda, “Apakah belum tiba saatnya bagi orang-orang yang terlalu banyak bercanda untuk khusyu’ hati mereka dengan mengingat Allah? Maksudnya, hati mereka menjadi lunak, tenang, tunduk dan tenteram dalam mengingat Allâh Azza wa Jalla , janji dan ancaman-Nya”. [5] 

Mengenai firman-Nya , yang artinya "Dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)”, maksudnya ialah al-Qur`ân dan kandungan janji dan ancaman yang ada di dalamnya?”.[6] Karena, sesungguhnya kitab tersebut (al-Qur`ân) datang dengan membawa kebenaran, maka sudah sepantasnya hati seorang Mukmin menjadi khusyu’ ketika mengingat Allâh Azza wa Jalla dan terhadap kebenaran yang turun (kepada mereka).[7] 

Sementara itu, Syaikh as-Sa’di rahimahullah memaknai ‘dzikrullâh’ dalam ayat dengan al-Qur`ân sehingga khusyu’ di sini diartikan tunduk patuh terhadap semua perintah al-Qur`ân dan larangannya, sedang ‘kebenaran yang telah turun’ dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [8] 

Hanya Sebagian Sahabat Yang Mendapatkan Teguran Melalui Ayat Ini
Berdasarkan keterangan az-Zajjâj rahimahullah, yang ditegur dalam ayat ini ialah sejumlah orang dari kalangan Mukminin waktu itu, bukan semuanya. Sebab, masih ada orang yang senantiasa khusyu’ sejak memeluk Islam hingga kembali kepada Rabbnya.[9] Pendapat yang menyatakan ayat ini turun untuk kaum munafiqin merupakan pendapat yang tidak tepat.[10] 

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Aun bin ‘Abdullâh dari ayahnya bahwa Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata, “Rentang waktu antara keislaman kami dengan teguran Allâh Azza wa Jallaepada kami melalui ayat ini hanya berjarak empat tahun”. [HR. Muslim no.3027].

Teguran ini dialamatkan (pertama kali) kepada para generasi Sahabat, karena mereka adalah generasi kaum Mukminin pertama yang mengemban kewajiban menyampaikan manhaj rabbani kepada seluruh umat manusia. Sebab, mereka adalah generasi qudwah (menjadi teladan baik) yang telah tegak di bawah naungan bimbingan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sang teladan terbaik.[11] 

Larangan Menyerupai Ahli Kitab
Selanjutnya, Allâh Azza wa Jalla memperingatkan kaum Mukminin agar tidak menyerupai kalangan Ahli Kitab yang menyepelekan ajaran-ajaran Allâh Azza wa Jalla , sehingga membuat hati mereka rusak dan keras membatu. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ

dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. [al-Hadîd/57:16]

Allâh Azza wa Jalla melarang kaum Mukminin menyerupai karakter orang-orang yang diberi tugas mengemban al-Kitab sebelum mereka, dari kalangan Yahudi dan Nasrani (yang memperoleh kitab taurat dan Injil). Tatkala masa antara mereka dan para nabi terlalu panjang berlalu, mereka merubah-rubah Kitabullah yang ada di tangan mereka dan menggadaikan (petunjuk-petunjuk) Kitabullah dengan harga sedikit. Mereka mencampakkan Kitab-Nya di belakang mereka dan justru lebih memilih mengikuti pikiran-pikiran yang bermacam-macam dan pendapat-pendapat yang aneh-aneh. Mereka pun sekedar mengikuti para tokoh dalam mempraktekkan agama. Mereka menjadikan para pendeta dan rahib sebagai tuhan-tuhan selain Allâh. Pada saat itulah, hati mereka menjadi mengeras, sehingga tidak bisa menerima mau’izhah, hati mereka tidak melunak dengan mendengar janji baik dan ancaman buruk (dari Allâh Azza wa Jalla ).[12] 

Banyak Ahli Kitab Yang Berbuat Kefasikan 
Tentang firman-Nya, وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُون Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik . Maksudnya, dan kebanyakan dari mereka telah keluar dari ajaran Allah, keluar dari syariat-Nya, tidak kenal perkara ma’ruf dan tidak mengingkari kemunkaran. [13]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, maksudnya (mereka telah fasik, melenceng) dalam perbuatan-perbuatan mereka. Hati mereka telah rusak dan amal perbuatan mereka batil, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla.

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya” [al-Mâidah/5:13]. 

Maksudnya, hati mereka sudah rusak, sehingga menjadi keras. Dan merubah-rubah perkataan (ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla ) dari pemahaman semestinya menjadi salah satu karakter (buruk mereka). Mereka mengabaikan amalan-amalan yang diperintahkan kepada mereka dan (sebaliknya justru) melakukan perkara-perkara yang dilarang untuk mereka. Untuk itulah, Allâh Azza wa Jalla melarang kaum Mukminin untuk menyerupai mereka dalam perkara apapun baik perkara ushul atau furu’.[14] 

Kondisi buruk Ahli Kitab tersebut akibat kerasnya hati-hati mereka yang berdampak pada diabaikannya usaha saling mengingatkan dan mengarahkan di antara mereka, sehingga kebanyakan dari mereka telah berbuat fasik, keluar dari agama Allâh Azza wa Jalla dan menolak ajaran-ajaran-Nya. [15] 

Banyaknya jumlah Ahli Kitab yang berbuat fasik, juga ditegaskan dalam ayat-ayat lain. Di antaranya, firman Allâh Azza wa Jalla,

وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Ali ‘Imrân/3:110]. 

Berkaca pada bahaya hati yang sudah mengeras, dapat diketahui bahwa hati manusia memang harus sering diingatkan tentang ajaran-ajaran yang telah diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla , agar tidak lalai yang berujung pada kerasnya hati [16]. 

Sebuah Keprihatinan Terhadap Realita Umat 
Syaikh al-‘Utsaimîn berkata tentang ayat di atas, “Allâh Azza wa Jalla melarang dan memperingatkan kita semua dari meniru orang-orang ahli kitab tersebut. Apabila kita perhatikan kondisi umat Islam, sebagian telah melakukan tindakan yang diperbuat oleh Ahli Kitab. Pada masa-masa sekarang ini, umat Islam telah jauh dari masa kenabian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hati kebanyakan orang telah keras, dan sebagian yang lain berbuat kefasikan. Umat Islam dipimpin manusia-manusia yang tidak layak memimpin mereka, penguasa yang fasik, bahkan ada yang sudah keluar dari Islam”.[17] 

Semoga Allâh Azza wa Jalla berkenan senantiasa mencurahkan hidayah-Nya kepada kita, dan membuka hati kita untuk menerimanya serta meningkatkan keimanan dan rasa takut kita kepada-Nya. 

Pelajaran Dari Ayat 
1. Peringatan dari ghaflah (lalai) dan melupakan dzikrullâh. 
2. Peringatan dari lalai dan melupakan kenikmatan dan siksa yang ada di sisi Allâh Azza wa Jalla . 
3. Kewajiban mengingatkan kaum Mukminin dengan nasehat, pengarahan dan pengajaran agar jangan sampai hati mereka menjadi keras sehingga mereka akan berbuat berbagai macam perbuatan fasik sebagaimana dilakukan oleh Ahli Kitab, dan menjadi kafir sebagaimana kaum Ahli Kitab sudah kafir. 
4. Hati harus diingatkan dan dinasehati agar tidak lalai dan jauh dari kebenaran. 
5. Manfaat mau’izhah hasanah (mengingatkan dengan cara yang baik) bagi hati manusia. 
6. Ajakan untuk mengkondisikan hati yang khusyu’ kepada Allâh Azza wa Jalla , kitab suci dan hikmah yang diturunkan-Nya. 
7. Hendaknya kaum Mukminin mengingat-ingat nasehat-nasehat ilahi dan hukum-ukum syariat setiap saat dan mengintrospeksi diri atas hal tersebut. Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVI/1434H/2013.]
_______
Footnote
[1]. Bahjatun Nâzhirîn, Syarhu Riyâdhi ash-Shâlihîn, Salîm al-Hilâli 1/631.
[2]. Tafsîru al-Qur`âni al-‘Azhîm 5/19. 
[3]. Adhwâ`ul Bayân 7/812. 
[4]. Adhwâ`ul Bayân 7/812. 
[5]. Aisaru at-Tafâsîr 2/1327.
[6]. Lihat Tafsir ath-Thabari 27/265, Rûhul Ma’âni 27/254, Aisaru at-Tafâsîr 2/1327. 
[7]. Syarhu Riyâdhi ash-Shâlihîn, al-‘Utsaimîn, 1/851.
[8]. Taisîrul Karimîr Rahmân hlm.921. 
[9]. Rûhul Ma’âni 27/253. 
[10]. Ibid.
[11]. Bahjatun Nâzhirîn, 1/631. 
[12]. Tafsîru al-Qur`âni al-‘Azhîm 5/20.
[13]. Aisaru at-Tafâsîr 2/1328. 
[14]. Tafsîru al-Qur`âni al-‘Azhîm 5/20. 
[15]. Lihat Aisaru at-Tafâsîr 2/1327. 
[16]. Lihat Taisîrul Karimîr Rahmân hlm.921. 
[17]. Syarhu Riyâdhi ash-Shâlihîn 1/852.

Tafsir Al Hadid Ayat 1-12

Surah Al Hadiid (Besi)

Surah ke-57. 29 ayat. Madaniyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-6: Bertasbihnya makhluk kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan penjelasan tentang sifat dan kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala; dimana di Tangan-Nya kerajaan segala sesuatu.

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١) لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢) هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (٣) هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (٤) لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ (٥) يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٦)

Terjemah Surat Al Hadid Ayat 1-6

1. [1]Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana[2].

2. Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi[3], Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

3. Dialah Yang Awal, Yang Akhir[4], Yang Zhahir dan Yang Bathin[5]; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu[6].

4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari[7]; kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy[8]. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi[9] dan apa yang keluar dari dalamnya[10], apa yang turun dari langit[11] dan apa yang naik ke sana[12]. Dan Dia bersama kamu[13] di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan[14].

5. Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi[15]. Dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan[16].

6. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam[17]. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati[18].



Ayat 7-12: Ajakan kepada kaum muslimin untuk bersikap dermawan dan berinfak di jalan Allah untuk meninggikan Islam dan agar kaum muslimin memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan bahwa segala sesuatu pada hakikatnya milik Allah Subhaanahu wa Ta'aala, maka jangan merasa berat menginfakkan hartanya di jalan Allah.

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ (٧) وَمَا لَكُمْ لا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ أَخَذَ مِيثَاقَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (٨) هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (٩) وَمَا لَكُمْ أَلا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (١٠) مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ (١١) يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١٢)

Terjemah Surat Al Hadid Ayat 7-12

7. [19]Berimanlah[20] kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah)[21]. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan meinfakkannya (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar[22].

8. [23]Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul mengajak kamu beriman kepada Tuhanmu? Dan Dia telah mengambil janji(setia)mu[24], jika kamu orang-orang mukmin[25].

9. Dialah yang menurunkan ayat-ayat yang terang[26] (Al Quran) kepada hamba-Nya (Muhammad) untuk mengeluarkan kamu[27] dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)[28]. Dan sungguh, terhadap kamu Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

10. Dan mengapa kamu tidak menginfakkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi?[29] [30]Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Mekah)[31]. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. [32]Allah menjanjikan kepada masing-masing[33] mereka (balasan) yang lebih baik (surga). Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan[34].

11. [35]Barang siapa meminjamkan kepada Allah[36] pinjaman yang baik[37], maka Allah akan mengembalikannya berlipat-ganda untuknya[38], dan baginya pahala yang mulia.

12. [39]Pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka[40], (dikatakan kepada meraka), "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Demikian itulah kemenangan yang agung[41].”


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang keagungan-Nya, kebesaran-Nya dan luasnya kerajaan-Nya, yaitu bahwa semua yang ada di langit dan di bumi baik makhluk hidup yang bisa berbicara maupun yang diam dan lainnya serta benda-benda mati bertasbih dengan memuji Tuhannya serta mensucikan-Nya dari segala yang tidak layak dengan keagungan-Nya, dan bahwa semuanya taat kepada Allah Tuhannya dan tunduk kepada keperkasaan-Nya, dimana tampak di sana atsar (pengaruh) hikmah(kebijaksanaan)-Nya. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

[2] Dalam ayat ini terdapat penjelasan meratanya rasa butuh makhluk baik yang berada di alam bagian atas maupun alam bagian bawah kepada Tuhannya dalam semua keadaannya. Demikian pula terdapat penjelasan meratanya keperkasaan-Nya kepada segala sesuatu dan meratanya kebijaksanaan-Nya pada ciptaan-Nya dan pada perintah-Nya. Dan pada ayat selanjutnya, Dia memberitahukan tentang meratanya kepemilikan-Nya.

[3] Dia yang menciptakannya, memberi rezeki dan mengaturnya dengan kekuasaan-Nya.

[4] Yang dimaksud dengan Al Awal ialah, yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, Al Akhir ialah yang tidak ada sesuatu pun setelah-Nya.

[5] Maksud Azh Zhahir ialah, yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya, dan Al Bathin ialah yang tidak ada sesuatu pun di bawah-Nya. Dengan demikian, nama-Nya Azh Zhaahir menunjukkan tingginya Dia di atas semua makhluk-Nya, sedangkan nama-Nya Al Baathin menunjukkan bahwa ilmu-Nya meliputi segala sesuatu dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menghalangi-Nya, pendengaran-Nya mengena kepada semua suara dan penglihatan-Nya menembus semua makhluk-Nya (Lihat Anwaarul Hilaalain fit Ta’aqqubaat ‘alal Jalaalain oleh Dr. Abdurrahman Al Khumais).

[6] Ilmu-Nya meliputi segala yang tampak maupun yang tersembunyi, yang samar maupun yang tertutup, perkara yang dahulu maupun yang akan datang.

[7] Dimulai dari hari Ahad dan diakhiri pada hari Jum’at. Adapun hari Sabtu, tidak terjadi penciptaan, karena ia adalah hari ketujuh, sehingga dari sanalah dinamakan Sabtu, yang artinya berhenti.

Hari di sini menurut sebagian ulama seperti hari di dunia, namun ada yang berpendapat bahwa satu hari tersebut lamanya 1.000 tahun sebagaimana dinyatakan Mujahid dan Imam Ahmad, wallahu a’lam.

[8] Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla, di atas semua makhluk-Nya.

[9] Seperti air hujan, benih, orang-orang yang telah mati dan lainnya.

[10] Seperti tumbuhan, hewan dan barang tambang.

[11] Seperti malaikat, taqdir, rezeki, rahmat dan azab.

[12] Seperti malaikat, ruh, amal-amal, doa-doa hamba dan lainnya.

[13] Dengan ilmu-Nya. Hal ini seperti dalam firman Allah Ta’ala, “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tidak ada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Terj. Al Mujaadilah: 7) Oleh karena itu, pada akhir ayat Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjanjikan untuk memberikan balasan terhadap amal yang dikerjakan hamba.

[14] Yakni Dia melihat amal yang muncul dari kamu dan apa yang muncul dari amal itu, baik atau buruk, lalu Dia akan memberikan balasan terhadapnya dan menjaganya untukmu.

[15] Yakni milik-Nya, ciptaan-Nya dan hamba-Nya. Dia bertindak pada mereka dengan apa yang Dia kehendaki berupa perkara qadari maupun syar’i yang berjalan di atas hikmah (kebijaksanaan) Rabbani.

[16] Baik amal maupun orang-orang yang mengerjakannya, lalu Dia akan menunjukkan amalan itu kepada mereka. Dia akan memisahkan yang baik dan yang buruk dan akan memberi balasan kepada orang yang berbuat ihsan karena ihsannya dan orang yang berbuat buruk karena keburukannya.

[17] Yang dimaksud dengan memasukkan malam ke dalam siang adalah menjadikan malam lebih panjang dari siang, dan memasukkan siang ke dalam malam ialah menjadikan siang lebih panjang dari malam sebagaimana yang terjadi pada musim panas dan dingin. Namun menurut Syaikh As Sa’diy, Dia (Allah) akan memasukkan malam ke dalam siang sehingga malam meliputi mereka (manusia) dengan kegelapannya, dan mereka pun bisa tenang dan beristirahat, kemudian Dia masukkan siang ke dalam malam, lalu menyingkirlah kegelapan yang menimpa bumi dan alam sekitarnya pun menjadi terang sehingga para hamba dapat beraktifitas serta bangun untuk maslahat dan penghidupan mereka. Allah Subhaanahu wa Ta'aala senantiasa memasukkan malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam serta mempergilir di antara keduanya dalam hal bertambah lama dan berkurangnya, lama dan singkat sehingga tegaklah musim-musim itu dan zaman pun berlalu dengan lurus, serta terwujudlah berbagai maslahat dari itu, maka Mahasuci Allah Rabbul ‘aaalamiin, dan Mahatinggi Dia Yang Maha Mulia lagi Pemurah, dimana Dia telah melimpahkan kepada hamba-hamba-Nya nikmat-nikmat yang tampak maupun tersembunyi.

[18] Sehingga Dia memberi taufiq orang yang Dia ketahui layak mendapatkannya dan menelantarkan orang yang Dia ketahui tidak cocok mendapatkan hidayah.

[19] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apa yang dibawanya. Demikian pula memrintahkan mereka berinfak di jalan-Nya dari harta yang Dia jadikan pada tangan mereka dan menjadikan mereka menguasainya agar Dia melihat apa yang mereka lakukan dengannya. Setelah Dia memerintahkan demikian, Dia mendorong mereka untuk melakukannya dengan menyebutkan pahala bagi orang yang melakukannya.

[20] Menurut sebagian mufassir adalah perintah untuk tetap beriman.

[21] Yang dimaksud dengan menguasai di sini ialah penguasaan yang bukan secara mutlak. Hak milik pada hakikatnya adalah pada Allah. Oleh karena itu, manusia menginfakkan hartanya harus mengikuti hukum-hukum yang telah disyariatkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, karena itu tidak boleh kikir dan boros.

Menurut sebagian mufassir bahwa ayat ini turun berkenaan dengan perang Tabuk yang ketika itu membutuhkan banyak biaya.

[22] Orang yang menggabung antara beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan berinfak di jalan-Nya, bagi mereka pahala yang besar, dimana yang paling besarnya adalah memperoleh keridhaan Tuhan mereka, mendapatkan tempat kemuliaan-Nya (surga) dengan kenikmatan yang kekal yang ada di dalamnya.

[23] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sebab yang mendorong mereka beriman.

[24] Yaitu dengan berbai’at kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Atau maksudnya, perjanjian ruh Bani Adam sebelum dilahirkan ke dunia bahwa Dia mengakui, bahwa Tuhannya ialah Allah dan tidak menyembah selain kepada-Nya (lihat surah Al A’raaf: 172).

[25] Yakni, apa yang menghalangimu untuk beriman, padahal Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah rasul yang paling utama dan da’i paling mulia yang mengajak kamu kepada Allah. Yang demikian mengharuskan seseorang untuk segera memenuhi seruannya dan menyambutnya, dan lagi Dia (Allah) telah mengambil perjanjian dari kamu untuk beriman jika kamu memang orang-orang mukmin. Di samping itu, karena kelembutan dan perhatian-Nya kepada kamu, Dia tidak membatasi dengan seruan rasul yang mulia saja, bahkan Dia menguatkan rasul tersebut dengan mukjizat-mukjizat yang menunjukkan kebenaran yang dibawanya, terutama sekali adalah dengan Al Qur’an.

[26] Yang menunjukkan kepada akal bahwa apa yang dibawanya adalah benar.

[27] Dengan rasul yang diutus-Nya dan apa yang diturunkan-Nya kepadanya berupa kitab (Al Qur’an) dan hikmah (As Sunnah).

[28] Yakni dari gelapnya kebodohan dan kekafiran kepada cahaya ilmu dan keimanan. Ini termasuk rahmat dan kasih-Nya kepada kamu, dimana Dia lebih sayang kepadamu daripada sayangnya ibu kepada anaknya.

[29] Maksudnya, apa yang menghalangimu untuk berinfak di jalan Allah, yakni di semua jalan kebaikan, padahal kamu tidak memiliki apa-apa, bahkan milik Allah-lah pusaka langit dan bumi, dimana semua harta akan berpindah dari tanganmu atau kamu yang memindahkannya kemudian kepemilikan akan kembali kepada Pemiliknya yang sebenarnya, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena itu, berinfaklah selama harta itu masih ada pada kamu dan Dia berjanji akan menggantinya untukmu dengan yang lebih baik.

[30] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan tingkatan amal sesuai keadaan dan hikmah Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[31] Sebagian mufassir menafsirkan penaklukan di sini dengan perjanjian Hudaibiyah. Hal itu, karena dengan adanya perjanjian damai itu agama Islam menjadi tersebar, kaum muslimin dapat bercampur baur dengan orang-orang kafir dan bisa mendakwahi mereka sehingga ketika itu banyak manusia yang masuk ke dalam agama Allah, padahal sebelumnya kaum muslimin tidak bisa berdakwah pada selain tempat yang sudah masuk Islam seperti Madinah dan sekitarnya, namun setelah ada perjanjian itu, kaum muslimin dapat memperluas dakwah mereka. Demikian juga sebelum ada perjanjian itu, orang yang masuk ke dalam agama Islam disakiti dan diancam, berbeda dengan setelahnya. Oleh karena itulah, orang yang masuk Islam sebelum penaklukkan Fat-h (penaklukkan), berinfak dan berperang lebih besar derajat, pahala dan balasannya daripada orang yang masuk Islam setelahnya.

[32] Oleh karena kelebihan yang Allah berikan kepada orang-orang yang masuk Islam sebelum Fat-h (penaklukkan) bisa saja menimbulkan kesan terdapat kekurangan dan cela pada orang-orang yang yang masuk Islam setelah Fat-h, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghilangkan kesan ini dengan firman-Nya pada lanjutan ayat di atas.

[33] Yang masuk Islam sebelum dan setelah Fat-h. Ayat ini menunjukkan keutamaan para sahabat semuanya radhiyallahu 'anhum, karena Allah bersaksi terhadap keimanan mereka dan menjanjikan mereka surga.

[34] Dia akan memberikan balasan kepada masing-masing di antara kamu sesuai yang Dia ketahui dari amalmu.

[35] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mendorong untuk berinfak di jalan-Nya, karena jihad membutuhkan infak dan pengorbanan harta.

[36] Yaitu dengan menginfakkan hartanya di jalan Allah.

[37] Yaitu mengeluarkannya karena Allah dari harta yang baik dan dengan kerelaan hatinya.

[38] Dari sepuluh menjadi lebih dari tujuh ratus sebagaimana yang diterangkan di surah Al Baqarah: 261. Ini termasuk kemurahan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, karena Dia menamainya pinjaman, padahal semua harta adalah milik-Nya dan semua hamba adalah hamba-Nya, namun Dia menyebutnya pinjaman dan menjanjikan ganti yang berlipat-ganda, sedangkan Dia Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Pelipatgandaan tersebut adalah pada hari Kiamat, hari dimana manusia tampak sekali kefakirannya dan butuh kepada balasan yang baik.

[39] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan keutamaan iman dan betapa orang-orang yang memiliknya sangat senang sekali memilikinya pada hari Kiamat.

[40] Pada hari Kiamat, ketika matahari digulung dan bulan diredupkan cahayanya sedangkan manusia berada dalam kegelapan, dan jembatan telah dibentangkan di atas neraka Jahanam, maka ketika itu engkau akan melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan bersinar cahayanya di depan dan di sebelah kanan mereka, lalu mereka berjalan dengan cahaya mereka pada tempat yang sungguh menegangkan itu. Masing-masing mendapatkan cahaya sesuai kadar keimanannya, dan ketika itu mereka diberi kabar gembira dengan kabar gembira yang paling besar.

[41] Demi Allah, sungguh manis kabar gembira ini di hati mereka dan sungguh nikmat dalam diri mereka, karena mereka mendapatkan semua yang diinginkan dan selamat dari keburukan dan apa yang ditakuti.