Tampilkan postingan dengan label 063-Al Munafiqun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 063-Al Munafiqun. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Mei 2014

Tafsir Al Munafiqun Ayat 1-11

Surah Al Munafiqun (Orang-Orang Munafik)

Surah ke-63. 11 ayat. Madaniyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-4: Akhlak dan sifat kaum munafik, persekongkolan yang mereka lakukan terhadap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum mukmin, dan peringatan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum mukmin agar berhati-hati terhadap mereka.

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (١) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَفْقَهُونَ (٣) وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (٤)

Terjemah Surat Al Munafiqun Ayat 1-4

1. [1] [2]Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata[3], "Kami mengakui, bahwa engkau adalah rasul Allah[4].” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta[5].

2. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai[6], lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan[7].

3. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman[8], kemudian menjadi kafir[9], maka hati mereka dikunci[10], sehingga mereka tidak dapat mengerti[11].

4. Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya[12]. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar[13]. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan kepada mereka[14]. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya)[15], maka waspadalah terhadap mereka[16]; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)[17]?



Ayat 5-8: Akhlak kaum munafik, ucapan buruk mereka kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan anggapan mereka bahwa agama Beliau akan binasa.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ (٥) سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (٦) هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَفْقَهُونَ (٧) يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الأعَزُّ مِنْهَا الأذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ (٨)

Terjemah Surat Al Munafiqun Ayat 5-8

5. Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), “Marilah (beriman), agar Rasulullah memohonkan ampunan bagimu[18].” Mereka membuang muka[19] dan engkau melihat mereka berpaling[20] menyombongkan diri[21].

6. Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) memohonkan ampunan untuk mereka atau tidak engkau mohonkan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

7. [22]Mereka yang berkata (kepada orang-orang Anshar), "Janganlah kamu bersedekah kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah sampai mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)[23]." Padahal milik Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi[24], tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami[25].

8. Mereka berkata, "Sungguh, jika kita telah kembali ke Madinah[26], pastilah orang yang kuat[27] akan mengusir orang-orang yang lemah[28] dari sana." Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui[29].

Ayat 9-11: Peringatan kepada kaum mukmin agar tidak tersibukkan oleh dunia sehingga melalaikan diri dari beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan ajakan kepada mereka untuk beramal saleh dan berinfak di jalan Allah sebelum ajal tiba.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (٩) وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (١٠) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١١)

Terjemah Surat Al Munafiqun Ayat 9-11

9. [30]Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah[31]. Dan barang siapa berbuat demikian[32], maka mereka itulah orang-orang yang rugi[33].

10. Dan infakkanlah[34] sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu[35] sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali)[36], "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi[37], maka aku dapat bersedekah[38] dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh[39]."

11. Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan[40].


[1] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Zaid bin Arqam ia berkata, “Aku berada dalam pasukan perang, lalu aku mendengar Abdullah bin Ubay berkata, “Janganlah kamu berinfak kepada orang-orang yang berada di dekat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga mereka bubar (meninggalkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam). Sungguh, jika kita pulang dari sisi Beliau, pastilah orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah dari sana." Maka aku ceritakan hal itu kepada pamanku atau ke Umar, lalu dia menceritakannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian Beliau memanggilku dan aku menceritakan kepadanya, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimkan orang kepada Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya, lalu mereka bersumpah bahwa mereka tidak berkata demikian, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganggapku dusta dan membenarkannya, sehingga aku merasakan kesedihan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku pun duduk di rumah, lalu pamanku berkata kepadaku, “Engkau tidak ingin Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendustakanmu dan membencimu,” maka Allah Ta’ala menurunkan ayat, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad),…dst.” Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim orang kepadaku untuk membacakan ayat dan berkata, “Sesungguhnya Allah telah membenarkan kamu wahai Zaid.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[2] Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, jumlah kaum muslimin di Madinah cukup banyak dan Islam pun semakin kuat di sana, maka di antara penduduknya yang belum memeluk Islam menampakkan keimanan di luar dan menyembunyikan kekafiran di batinnya agar kedudukannya tetap terjaga, darahnya tetap terpelihara dan harta mereka dapat terjaga, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sifat mereka agar diketahui sehingga kaum mukmin dapat bersikap waspada terhadap mereka dan berada di atas pengetahuan.

[3] Dengan lisan mereka yang berbeda dengan hatinya.

[4] Persaksian dari kaum munafik ini adalah dusta dan nifak, padahal untuk memperkuat Rasul-Nya tidak dibutuhkan persaksian mereka.

[5] Dalam ucapan dan dakwaan mereka.

[6] Mereka bersumpah bahwa mereka beriman adalah untuk menjaga diri dan harta mereka agar jangan dibunuh atau ditawan atau dirampas hartanya.

[7] Karena menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, bersumpah berada di atas keimanan dan memberikan kesan bahwa mereka benar dalam sumpahnya.

[8] Dengan lisan mereka, atau maksudnya mereka tidak tetap di atas keimanan.

[9] Dengan hati mereka, yakni mereka tetap terus di atas kekafiran.

[10] Sehingga tidak dapat dimasuki kebaikan lagi untuk selamanya.

[11] Hal yang bermanfaat bagi mereka.

[12] Karena bagusnya kata-kata mereka dan enak didengar. Tubuh dan ucapan mereka mengagumkan, namun di balik itu tidak ada akhlak yang utama dan petunjuk sedikit pun.

[13] Mereka diumpamakan seperti ‘kayu yang tersandar’ untuk menyatakan sifat mereka yang buruk meskipun tubuh mereka bagus-bagus dan pandai berbicara, akan tetapi sebenarnya otak mereka adalah kosong tidak dapat memahami kebenaran seakan-akan kayu yang tersandar ke tembok yang tidak ada manfaatnnya.

[14] Karena mereka takut turun ayat yang membuka rahasia mereka atau menghalalkan darah dan harta mereka. Mereka takut kalau isi hati mereka terbongkar.

[15] Karena musuh yang menampakkan dirinya jauh lebih ringan daripada musuh dalam selimut, yang tidak diketahui sebagai musuh, dimana ia melakukan tipu daya dan membuat makar diam-diam.

[16] Karena mereka akan menyebarkan rahasiamu kepada orang-orang kafir.

[17] Bisa juga maksudnya, dipalingkan dari beriman setelah tegaknya bukti. Atau maksudnya, bagaimana mereka mereka dapat dipalingkan dari agama Islam setelah tegak bukti dan dalilnya serta jelas rambu-rambunya beralih kepada kekafiran yang tidak memberikan apa-apa kepada mereka selain kerugian dan kesengsaraan.

[18] Terhadap hal yang terjadi padamu agar keadaanmu menjadi baik dan amalmu diterima.

[19] Mereka menolak meminta doa kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

[20] Dari kebenaran sambil membencinya.

[21] Inilah keadaan mereka ketika diajak meminta doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan hal ini termasuk kelembutan Allah dan karamah(kemuliaan)-Nya kepada Rasul-Nya yaitu mereka (kaum munafik) tidak mau datang kepada Beliau agar Beliau memintakan ampunan untuk mereka, dan sama saja bagi mereka baik Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memintakan ampunan untuk mereka atau tidak, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak akan mengampuni mereka karena mereka adalah orang-orang yang fasik; yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan mengutamakan kekafiran daripada keimanan. Oleh karena itu, istighfar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah bermanfaat bagi mereka meskipun melakukan istighfar untuk mereka sebanyak tujuh puluh kali (lihat At Taubah: 80).

[22] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Muhammad bin Ka’ab Al Qurazhiy ia berkata: Aku mendengar Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu (berkata), “Ketika Abdullah bin Ubay berkata, “Janganlah kamu berinfak kepada orang-orang yang berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,” ia juga berkata, “Sungguh, jika kita telah kembali ke Madinah…dst.” Maka aku beritahukan hal itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu orang-orang Anshar mencelaku, dan Abdullah bersumpah bahwa dia tidak berkata demikian, maka aku pulang ke rumah dan tidur, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggilku dan berkata, “Sesungguhnya Allah telah membenarkanmu.” Dan turunlah ayat, “Mereka yang berkata (kepada orang-orang Anshar), "Janganlah kamu bersedekah…dst.”

[23] Ini termasuk kerasnya permusuhan mereka kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum muslimin ketika mereka melihat kaum muslimin bersatu. Mereka menganggap bahwa tanpa harta dan nafkah mereka (kaum munafik) tentu mereka (kaum muslimin) tidak akan berkumpul membela agama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh hal ini merupakan sesuatu yang paling aneh, yaitu karena kaum munafik yang sangat senang agama Islam terlantar dan kaum muslimin tersakiti menyangka demikian, dimana sangkaan ini hanyalah laris di kalangan orang-orang yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itulah dalam lanjutan ayat Allah Subhaanahu wa Ta'aala membantah mereka dengan firman-Nya, “Padahal milik Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi.” Yakni Dia yang memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menghalangi dari siapa yang Dia kehendaki, memudahkan sebab bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyusahkan kepada siapa yang Dia kehendaki.

[24] Dia akan memberi rezeki kepada kaum muhajirin dan selain mereka.

[25] Sehingga mengatakan demikian yang isinya memberi kesan bahwa perbendaharaan rezeki ada di tangan mereka dan di bawah kehendak mereka.

[26] Maksudnya, kembali dari perang Bani Musthalik atau perang Muraisi’, ketika ini orang-orang munafik menampakkan kemunafikannya. Tokoh mereka yaitu Abdullah bin Ubay berkata, “Tidak ada perumpamaan antara kita dengan mereka (kaum muhajirin) melainkan seperti yang dikatakan seseorang, “Beri makan anjingmu, nanti dia akan memakanmu.” Ia juga berkata, “Sungguh, jika kita telah kembali ke Madinah, pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana."

[27] Yang mereka maksud adalah diri mereka sendiri.

[28] Yang mereka maksud adalah orang-orang mukmin.

[29] Oleh karena itulah mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat dan mulia karena tertipu dengan kebatilan mereka.

[30] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk banyak mengingat-Nya, karena di sana terdapat keberuntungan dan kebaikan yang banyak, dan melarang mereka dibuat sibuk oleh harta dan anak-anak mereka sampai lalai mengingat Allah. Hal itu, karena jiwa manusia diciptakan dengan keadaannya yang senang kepada harta dan anak, namun jika sampai diutamakan di atas kecintaan dan ketaatan kepada Allah, maka dapat mengakibatkan kerugian yang besar seperti saat dikumandangkan azan Jum’at untuk shalat Jum’at, tetapi ia masih saja sibuk berdagang.

[31] Seperti dari shalat yang lima waktu.

[32] Yakni harta dan anaknya membuat lalai dari mengingat Allah.

[33] Tidak mendapatkan kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal karena mengutamakan kenikmatan yang fana’ (sebentar). Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At Taghaabun: 15)

[34] Termasuk dalam hal ini nafkah/infak yang wajib maupun yang sunat. Yang wajib seperti zakat, kaffarat, nafkah kepada istri, dsb. Sedangkan yang sunat seperti mengorbankan harta untuk segala yang bermaslahat.

[35] Hal ini menunjukkan bahwa nafkah yang Allah bebankan agar hamba mengeluarkannya tidaklah menyusahkan mereka, bahkan Allah memerintahkan mereka agar mengeluarkan sebagian dari rezeki yang Allah karuniakan kepada mereka, dimana Dia telah mempermudahnya untuk mereka dan mempermudah sebab-sebabnya. Oleh karena itu, hendaknya mereka bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepada mereka rezeki itu, yaitu dengan membantu saudara-saudara mereka yang memerlukan dan bersegera kepadanya sebelum datang kematian yang jika tiba, maka seorang hamba tidak dapat mengejar lagi amal saleh yang telah dilalaikannya.

[36] Meminta agar dikembalikan lagi ke dunia.

[37] Agar aku dapat mengejar amal saleh yang telah aku lalaikan seperti zakat ketika hartanya telah mencapai nishab (ukuran wajib zakat) dan haji ketika sudah mampu.

[38] Sehingga aku dapat selamat dari azab dan dapat memperoleh banyak pahala.

[39] Dengan mengerjakan perkara yang diperintahkan dan menjauhi larangan.

[40] Baik atau buruk, lalu Dia membalasnya sesuai yang Dia ketahui dari kamu, yakni dari niat dan amalmu.

Selasa, 05 Juli 2011

Surat Al-Munafiqun Ayat 9

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Penjelasan Mufradat Ayat

ذِكْرِ اللهِ

“Mengingat Allah.”

Ada beberapa pendapat yang menjelaskan makna dzikrullah dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah seluruh amalan wajib, sebagaimana yang diriwayatkan dari Al-Hasan, dan dikuatkan oleh Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir. Adh-Dhahhak dan ‘Atha` menerangkan: “Yang dimaksud adalah shalat wajib.” Al-Kalbi berkata: “Yang dimaksud adalah berjihad bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ada lagi yang berpendapat: “Al-Qur`an.”

Yang shahih bahwa dzikrullah dalam ayat ini bersifat umum, mencakup semua yang mereka sebutkan, sebagaimana dikatakan Al-Alusi dalam tafsirnya.

Penjelasan Makna Ayat

Ketika menerangkan ayat ini, Al-Allamah As-Sa’di rahimahullahu mengatakan:


“(Allah) Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk memperbanyak berdzikir kepada-Nya, karena hal itu akan mendatangkan keberuntungan, kemenangan, dan kebaikan yang banyak. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang mereka tersibukkan dengan harta dan anak-anak mereka dari berdzikir kepada-Nya. Karena mencintai harta dan anak-anak adalah sesuatu yang menjadi tabiat kebanyakan jiwa, sehingga akan menyebabkan lebih dia utamakan daripada kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan hal itu akan mendatangkan kerugian yang besar.

Oleh karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ‘Barangsiapa yang melakukan itu’, yaitu harta dan anak melalaikannya dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ‘maka mereka itulah orang-orang yang merugi’ dari mendapatkan kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal, karena mereka lebih mengutamakan kehidupan yang fana daripada kehidupan yang kekal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 15) [Taisir Al-Karim Ar-Rahman]

Al-Alusi berkata: “Janganlah karena mementingkan pengurusan (anak-anak dan harta) dan memerhatikan kemaslahatannya serta bersenang-senang dengannya, menyebabkan kalian tersibukkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa shalat dan ibadah-ibadah lainnya, yang akan mengingatkan kalian kepada sesembahan yang haq Subhanahu wa Ta’ala.” (Tafsir Al-Alusi)


Asy-Syaukani rahimahullahu menyebutkan bahwa harta dan anak-anak yang melalaikan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu akhlak kaum munafiqin. (Fathul Qadir)

Anak dan Harta Sebagai Perhiasan Dunia

Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini menjelaskan bahwa anak dan harta merupakan sebuah kesenangan dan perhiasan yang melengkapi kehidupan seseorang di dunia. Dengannya, dia merasakan kebahagiaan dan ketentraman dalam hidupnya. Di dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ. قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللهِ وَاللهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Ali ‘Imran: 14-15)

Namun demikian, kebahagiaan dengan mendapatkan karunia berupa harta dan anak tidaklah sempurna, jika tidak dibarengi iman dan amal shalih yang akan menunjang kehidupan dan kebahagiaan dunia serta akhiratnya. Oleh karenanya, bagi seorang mukmin, kehidupan akhirat jauh lebih penting dan lebih utama daripada kehidupan dunia. Sehingga kesenangan yang dia rasakan di dunia tidak akan menjadi penyebab kelalaiannya untuk mengejar kehidupan yang lebih kekal dan kebahagiaan yang bersifat abadi di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)

Asy-Syinqithi rahimahullahu menerangkan: “Yang dimaksud ayat yang mulia ini adalah peringatan kepada manusia agar senantiasa beramal shalih, agar mereka tidak tersibukkan dengan perhiasan kehidupan dunia berupa harta dan anak-anak, dari sesuatu yang memberi manfaat kepada mereka di akhirat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa amalan-amalan yang shalih.” (Adhwa`ul Bayan, 4/80, cetakan Darul Hadits, Kairo)

Sehingga pada hakikatnya, di balik kesenangan dan kebahagiaan mendapatkan harta dan anak, keduanya merupakan ujian yang apabila seorang hamba tidak memanfaatkannya dengan baik maka dapat menyebabkan kebinasaan dan kehancuran kehidupan dunia serta akhiratnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 15)


Juga firman-Nya:

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ. إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (Asy-Syu’ara`: 88-89)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memperingatkan umatnya dari bahaya fitnah (cobaan) harta dan anak.

Di antaranya adalah yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari Ka’b bin ‘Iyadh radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat mempunyai ujian, dan ujian bagi umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi no. 2336, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 2148)


Demikian pula tentang anak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ

“Sesungguhnya anak itu penyebab kekikiran dan ketakutan.” (HR. lbnu Majah no. 3666, Al-Hakim dalam Mustadrak, 3/179, Al-Baihaqi, 10/202, Ibnu Abi Syaibah 6/378, Ath-Thabarani, 3/32, dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’)


Al-Munawi berkata menjelaskan hadits ini: “Yaitu membawa kedua orangtuanya untuk berbuat bakhil dan mendorongnya untuk bersifat demikian sehingga dia menjadi kikir harta karenanya, serta meninggalkan jihad karenanya.” Al-Mawardi berkata: “Hadits ini mengabarkan bahwa hendaknya seseorang berhati-hati terhadap anak, yang dapat menyebabkan munculnya sifat-sifat ini. Juga akan memunculkan akhlak yang demikian.

Ada sebagian kaum yang membenci untuk meminta dikaruniai anak karena khawatir keadaan yang tidak mampu dia tolak dari dirinya, sebab menetapnya hal ini (pada diri manusia) secara alami dan mesti terjadi.” (Faidhul Qadir, 2/403)

Masing-masing Ada Saatnya

Dalam Shahih Muslim (no. 2750), dari sahabat Hanzhalah Al-Usayyidi radhiyallahu ‘anhu ­-salah seorang juru tulis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dia berkata: Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menemuiku lalu bertanya: “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?”

Beliau berkata: Aku menjawab: “Hanzhalah telah munafik!”

Abu Bakr berkata: “Subhanallah, apa yang engkau katakan?”

Aku berkata: “Tatkala kami berada di samping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga, sehingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala. Namun di saat kami keluar dari sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami menyibukkan diri bersama istri, anak-anak dan kehidupan, sehingga kami banyak lupa.”

Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pun berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kami juga merasakan hal seperti ini!”


Akupun berangkat bersama Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu hingga kami masuk ke tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata: “Hanzhalah telah munafik, wahai Rasulullah.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Ada apa?”

Aku berkata: “Wahai Rasulullah, kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami dengan neraka dan surga sehingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala. Namun jika kami keluar dari sisimu maka kamipun sibuk bersama istri, anak-anak, dan kehidupan sehingga kami banyak lupa.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً -ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya kalian terus-menerus (memiliki keimanan) seperti di saat kalian berada di sisiku dan selalu berdzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di atas tempat-tempat tidur dan di jalan-jalan (yang kalian lalui). Namun wahai Hanzhalah, masing-masing ada saatnya.” Beliau mengucapkannya tiga kali.

‘Ali Al-Qari berkata tatkala menjelaskan hadits ini: “Kesimpulan maknanya adalah: Wahai Hanzhalah, terus-menerus dalam keadaan yang disebutkan adalah satu kesulitan yang tidak seorang pun mampu melakukannya, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah membebani demikian. Namun yang sanggup dilakukan oleh kebanyakan adalah seseorang mempunyai waktu berada dalam keadaan seperti ini. Tidak ada dosa baginya menyibukkan dirinya untuk bersenang-senang dengan apa yang disebutkan di waktu yang lain. Engkau dalam keadaan tetap berada di atas jalan yang lurus. Tidak terdapat kemunafikan pada dirimu sama sekali seperti yang engkau sangka. Maka berhentilah dari keyakinanmu itu, karena sesungguhnya itu termasuk celah bagi setan untuk masuk kepada para ahli ibadah, yang akan mengubah mereka dari apa yang telah mereka amalkan. Sehingga mereka akan terus berusaha mengubahnya hingga mereka meninggalkan amalan tersebut.” (Mirqatul Mafatih, 5/150)


Hadits ini menunjukkan bahwa bukanlah satu hal yang tercela jika seseorang menyempatkan dirinya untuk bersenda gurau bersama istri dan anak-anaknya. Juga menyibukkan diri dengan usahanya dalam mencari nafkah. Asalkan perkara tersebut diberi porsi yang sesuai, tidak menyebabkannya lalai dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan pula sebaliknya, karena istri yang dapat menjadi penyebab fitnah, justru dijadikan alasan untuk tidak menikah. Atau anak dijadikan alasan penyebab fitnah, sehingga dia menelantarkan mereka dan tidak menyempatkan waktu bersamanya. Atau harta yang dapat menjadi penyebab fitnah sehingga meninggalkan mencari nafkah dan tidak menafkahi orang-orang yang wajib dia nafkahi. Namun semestinya semua itu ditempatkan sesuai kedudukannya, sehingga bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam sebuah hadits dari jalan ‘Aun bin Abi Juhaifah, dari ayahnya, dia berkata: Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Salman dan Abud Darda`, Salman datang mengunjungi kepada Abud Darda`. Beliau melihat Ummud Darda` dalam keadaan lusuh. Beliau bertanya kepadanya: “Ada apa denganmu?” Ia menjawab: “Saudaramu Abud Darda` tidak punya kebutuhan terhadap dunia.” Lalu datanglah Abud Darda` dan membuatkan makanan untuknya. Abud Darda` lalu berkata: “Makanlah, karena sesungguhnya aku berpuasa.” Salman berkata: “Saya tidak akan makan hingga engkau makan.” “Maka diapun makan bersama Salman. Tatkala di malam hari Abud Darda` bangkit (untuk shalat), maka Salman berkata: “Tidurlah.” Lalu dia bangkit, lagi maka Salman berkata: “Tidurlah.” Sehingga tatkala di akhir malam Salman berkata: “Bangunlah sekarang.” Lalu keduanya pun shalat. Lalu Salman berkata kepadanya: “Sesungguhnya atas diri ada hak untuk Rabb-mu, ada hak untuk dirimu, dan ada pula hak untuk keluargamu. Berikanlah hak tersebut kepada setiap yang memiliki haknya.” Lalu Abud Darda` datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan hal tersebut kepada beliau, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah benar Salman.” (HR. Al-Bukhari, no. 1867)

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Buraidah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami. Tiba-tiba datang Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma yang keduanya sedang memakai gamis berwarna merah dan keduanya terjatuh. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbarnya dan menggendong keduanya, lalu meletakkan keduanya di hadapannya. Lalu beliau berkata: “Maha benar Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berfirman: ‘Sesungguhnya harta-harta dan anak-anak kalian adalah fitnah (ujian)’. Aku melihat dua anak kecil ini berjalan dan terjatuh, maka aku tidak bersabar, sehingga aku memutus khutbahku dan menggendong keduanya.” Kemudian beliau melanjutkan khutbahnya. (Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan, Ahmad, Ibnu Hibban dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)

Demikian pula yang diriwayatkan dari Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma berada di atas pundaknya, lalu beliau bersabda: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya maka cintailah dia‘.” (HR. Al-Bukhari no. 3749 dan Muslim no. 2422)


Maka, rasa cinta kepada seorang anak dan harta, seharusnya membawa dampak yang positif, yang semakin mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya. Dengan cara menginfakkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala jika itu berupa harta. Adapun anak adalah dengan mendidiknya dan membiasakannya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semenjak kecil.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita dan keluarga kita agar senantiasa menjadi hamba yang ikhlas, bersabar dan istiqamah dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menjauhkan kita dari fitnah serta penyebab jauhnya hamba dari beribadah kepada-Nya.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Al-Furqan: 74)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal