Tampilkan postingan dengan label 064-At Taghaabun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 064-At Taghaabun. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Mei 2014

Tafsir At Taghaabun Ayat 11-18

Ayat 11-13: Keutamaan bersabar terhadap musibah, perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta peringatan agar tidak berpaling dari seruan Allah.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (١١) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاغُ الْمُبِينُ (١٢) اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (١٣)

Terjemah Surat At Taghaabun Ayat 11-13

11. Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah[1]; dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya[2]. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

12. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul[3]. Jika kamu berpaling[4] maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang[5].

13. (Dialah) Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia[6]. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah[7].

Ayat 14-16: Peringatan kepada kaum mukmin agar tidak tergoda oleh istri dan anak sehingga lalai dari mengerjakan perintah Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٤) إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (١٥)فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٦)

Terjemah Surat At Taghaabun Ayat 14-16

14. [8] [9]Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu,[10] maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka [11]dan jika kamu memaafkan dan kamu santuni serta mengampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[12].

15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)[13], dan di sisi Allah pahala yang besar[14].

16. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu[15] dan dengarlah[16] serta taatlah[17]; dan infakkanlah[18] harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung[19].

Ayat 17-18: Perintah berinfak di jalan Allah, dimana hal itu merupakan separuh dari jihad.

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ (١٧) عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١٨)

Terjemah Surat At Taghaabun Ayat 17-18

17. [20]Jika kamu meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik[21], niscaya Dia melipatgandakan (balasan) untukmu[22] dan mengampuni(dosa-dosa)mu[23]. Dan Allah Maha Mensyukuri[24] lagi Maha Penyantun[25].

18. Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Yang Mahaperkasa[26] lagi Mahabijaksana[27].

KANDUNGAN AYAT

[1] Dengan perintah Allah, yakni dari taqdir dan kehendak-Nya. Hal ini umum mencakup semua musibah baik yang menimpa diri, harta, anak, kekasih dsb. Semua ini dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya yang telah diketahui oleh Allah, ditulis-Nya, dikehendaki-Nya dan sejalan dengan hikmah-Nya? Yang terpenting di antara semua itu adalah apakah seorang hamba dapat memikul tugasnya (bersabar) dalam kondisi ini atau tidak? Barang siapa yang mampu memikulnya dengan bersabar, maka dia akan memperoleh pahala yang besar di dunia dan akhirat. Jika dia beriman bahwa musibah itu dari sisi Allah, dia pun ridha dengannya serta menerima, maka Allah akan menunjuki hatinya sehingga dia pun tenang dan tidak akan gelisah ketika ada musibah sebagaimana yang terjadi pada orang yang tidak ditunjuki oleh Allah hatinya. Tidak hanya itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga mengaruniakan kepadanya tsabat (keteguhan) ketika musibah itu datang, dan ia mampu memikul tugasnya yaitu bersabar sehingga ia memperoleh pahala yang segera disamping pahala yang Allah simpan untuknya pada hari pembalasan sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Terj. Az Zumar: 10)

Dari ayat ini juga dapat diketahui, bahwa barang siapa yang tidak beriman kepada Allah ketika ada musibah, yakni Dia tidak melihat kepada qadha’ Allah dan qadar-Nya, bahkan berhenti di hadapan sebab, maka dia akan ditelantarkan dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menyerahkannya kepada dirinya, dan jika sudah diserahkan kepada dirinya, maka tidak ada yang dia lakukan selain keluh kesah dan gelisah yang merupakan hukuman yang disegerakan kepada seorang hamba sebelum hukuman di akhirat karena ia melalaikan kewajiban sabar. Hal ini yang terkait dengan firman-Nya, “Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah,” dalam hal musibah, adapun yang terkait dengan ayat itu dari sisi keumuman lafaz adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan, barang siapa yang beriman yakni kepada semua yang diperintahkan untuk diimani seperti beriman kepada rukun iman yang enam dan ia benarkan imannya dengan konsekwensi dari iman berupa menegakkan lawazim (hal yang menyatu) dan kewajibannya, maka keimanannya itu merupakan sebab terbesar agar ia mendapatkan hidayah Allah dalam semua keadaaannya, ucapannya dan perbuatannya, demikian pula dalam ilmu dan amalnya. Ini merupakan balasan paling utama yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Terj. Ibrahim: 27)

Pada asalnya tsabat (keteguhan) adalah tetapnya hati, sabar dan yakinnya dia ketika datang semua fitnah. Oleh karena itu, orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang paling mendapat petunjuk hatinya, paling kokoh saat menghadapi peristiwa yang mengguncangkan hatinya karena keimanan yang ada padanya.

[2] Menurut Ibnu Katsir, maksudnya adalah barang siapa yang ditimpa musibah lalu ia mengetahui bahwa musibah itu dengan dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya, sehingga ia pun bersabar dan mengharap pahala, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengganti terhadap apa yang luput baginya dari dunia dengan petunjuk dan keyakinan yang benar di dunia. Ibnu Abbas berkata, “Maksudnya Allah tunjuki hatinya kepada keyakinan, sehingga dia mengetahui bahwa apa yang (ditetapkan) menimpanya maka tidak akan meleset dan apa yang tidak akan menimpanya, maka tidak akan mengenainya.” Al A’masy berkata dari ‘Alqamah tentang ayat, “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan tunjuki hatinya,“ maksudnya adalah seorang yang terkena musibah, ia pun mengetahui bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah sehingga ia pun ridha dan menerima.“ Sa’id bin Jubair berkata, “Ia beristirja’ dengan mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun(artinya: sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada-Nya).”

[3] Dengan melaksanakan perintah keduanya dan menjauhi larangannya, karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan pusat kebahagiaan dan tanda keberuntungan.

[4] Dari taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

[5] Yakni menyampaikan apa yang diembannya dengan jelas sehingga hujjah tegak, dia tidak bisa menjadikan kamu mendapatkan hidayah taufiq selain hidayah irsyad (menerangkan yang hak dan yang batil sejelas-jelasnya) dan dia bukan yang menghisabmu, bahkan yang menghisabmu adalah Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang mengetahui yang gaib dan yang nyata.

[6] Oleh karena itu, segala sesuatu yang diibadahi selain-Nya adalah batil.

[7] Yakni hendaknya mereka bersandar kepada-Nya dalam semua masalah yang menimpa mereka dan dalam hal yang ingin mereka kerjakan, karena tidak ada satu urusan pun yang mudah kecuali dengan pertolongan Allah dan seseorang tidaklah sempurna bersandar kepada Allah sampai dia berhusnuzhzhan (bersangka baik) kepada Allah, percaya bahwa Dia akan mencukupinya, dan tingkat tawakkal seseorang sesuai dengan keimanan seorang hamba, setiap kali imannya menguat, maka semakin kuat pula tawakkalnya.

[8] Tirmidzi berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Israil, telah menceritakan kepada kami Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, bahwa ia ditanya oleh seseorang tentang ayat ini, “Wahai orang-orang yang beriman! sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” Ia berkata, “Mereka ini adalah laki-laki yang masuk Islam dari penduduk Mekah. Mereka ingin mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi istri dan anak-anak mereka menolak ditinggalkan oleh mereka karena hendak datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika mereka telah datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka melihat orang-orang telah paham agama, maka mereka hendak menghukum (keluarga) mereka, maka Allah menurunkan ayat, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…dst.” (Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Muqbil, “Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir juz 28 hal. 124, Hakim juz 2 hal. 490, ia berkata, “Shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkan.” Adz Dzahabi mendiamkan pernyataan Hakim, dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 4 hal. 376. Hadits ini berpusat pada Simak dari Ikrimah, sedangkan riwayat Simak dari Ikrimah adalah mudhtharib (guncang), sehingga hadits tersebut dha’if.”)

[9] Ayat ini merupakan peringatan dari Allah kepada kaum mukmin agar tidak terlalaikan oleh istri dan anak, karena sebagiannya ada yang menjadi musuh bagi mereka, yakni yang menghalangi mereka dari kebaikan. Oleh karena itu, sikap yang harus mereka lakukan adalah berwaspada, tetap melakukan perintah Allah, mengutamakan keridhaan-Nya karena di sisi-Nya ada pahala yang besar dan mengutamakan akhirat daripada dunia yang fana.

[10] Maksudnya, terkadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama atau menghalanginya dari mengerjakan kebaikan seperti berjihad dan berhijrah.

# istri dan anak adalah salah satu godaan terbesar di dunia yang bisa menyebabkan seseorang terlalu mencintai dunia dan melalaikan akhiratnya.
[11] Oleh karena larangan menaati istri dan anak jika di sana terdapat bahaya terhadap seorang hamba memberikan kesan agar bersikap keras kepada mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghilangkan kesan ini dan memerintahkan mereka untuk memaafkan, tidak memarahi dan mengampuni mereka. Hal itu, karena sikap tersebut (memberi maaf) terdapat banyak maslahat.

[12] Hal itu, karena balasan disesuaikan dengan jenis amalan. Barang siapa yang memaafkan, maka Allah akan memaafkannya, barang siapa yang mengampuni maka Allah akan mengampuninya, dan barang siapa yang bermu’amalah dengan Allah dengan amal yang dicintai-Nya, maka Allah akan mencintainya, demikian pula barang siapa yang bermu’amalah dengan manusia dengan amal yang dicintai mereka niscaya manusia mencintainya.

[13] Yang melalaikan kamu dari akhirat.

[14] Oleh karena itu, janganlah kamu luputkan pahalamu karena disibukkan oleh harta dan anak.

[15] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sesuai dengan kemampuan. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap kewajiban yang seorang hamba tidak dapat melakukannya, maka kewajiban itu gugur darinya, dan bahwa jika seseorang mampu melakukan sebagian perintah dan tidak bisa melakukan sebagian lagi, maka yang bisa ia lakukan dilakukannya dan yang tidak bisa maka gugur darinya sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Apabila aku memerintahkan suatu perintah, maka lakukanlah sesuai kesanggupanmu.”

[16] Yakni dengarlah nasihat Allah kepadamu serta hukum-hukum syang disyariatkan-Nya. Ketahuilah hal itu dan ikutlah.

[17] Kepada Allah dan Rasul-Nya dalam semua urusanmu.

[18] Baik infak yang wajib maupun yang sunat, tentu hal itu lebih baik bagimu di dunia dan akhirat, karena kebaikan terletak dalam mengikuti perintah Allah, menerima nasihatnya dan tunduk kepada syariat-Nya, sedangkan keburukan terletak pada selain itu. Namun di sana ada penyakit yang menghalangi kebanyakan manusia dari berinfak, yaitu sifat kikir yang manusia diciptakan di atasnya, maka dalam lanjutan ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan, bahwa barang siapa yang dijaga dari kekirikan dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

[19] Mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan dan selamat dari hal yang tidak mereka inginkan.

[20] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mendorong mereka untuk berinfak.

[21] Yaitu dengan menyedekahkan harta dengan hati yang puas dan rela dari harta yang halal dengan maksud mencari keridhaan Allah.

[22] Dari sepuluh menjadi tujuh ratus, bahkan bisa lebih.

[23] Karena sebab infak dan sedekah, karena dosa dapat terhapus dengan sedelah dan amal saleh lainnya sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Terj. Huud: 114)

[24] Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha Mensyukuri, Dia menerima amal yang sedikit dari hamba-hamba-Nya dan memberinya balasan yang banyak. Dia bersyukur kepada orang yang rela berkorban karena-Nya dan siap memikul beban-beban berat, oleh karenanya barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

[25] Dia tidak segera menyiksa orang-orang yang durhaka kepada-Nya, bahkan memberinya tangguh dan kesempatan untuk bertobat.

[26] Dia tidak bisa dikalahkan, bahkan Dia mengalahkan dan menundukkan segala sesuatu.

[27] Dalam ciptaan dan perintah-Nya, Dia meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

Tafsir At Taghaabun Ayat 1-10

Surah At Taghaabun (Hari Ditampakkan Kesalahan-Kesalahan)

Surah ke-64. 18 ayat. Madaniyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-4: Menerangkan tentang keagungan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, kekuasaan-Nya dan dalil-dalil terhadap keesaan-Nya, serta penyempurnaan penciptaan manusia.

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١) هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (٢) خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ (٣) يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٤)

Terjemah Surat At Taghaabun Ayat 1-4

1. [1]Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah; milik-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya segala puji; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

2. Dialah yang menciptakan kamu, lalu di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu (juga) ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

3. [2]Dia menciptakan langit dan bumi[3] dengan (tujuan) yang benar[4], Dia membentuk rupamu lalu memperbagus rupamu[5], dan kepada-Nya tempat kembali[6].

4. [7]Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi[8], dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati[9].



Ayat 5-6: Hukuman bagi umat-umat yang mendustakan para rasul Allah.

أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ فَذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٥) ذَلِكَ بِأَنَّهُ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالُوا أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْا وَاسْتَغْنَى اللَّهُ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (٦)

Terjemah Surat At Taghaabun Ayat 5-6

5. [10]Apakah belum sampai kepadamu (orang-orang kafir) berita orang-orang kafir dahulu? Maka mereka telah merasakan akibat buruk dari perbuatannya (di dunia) dan mereka memperoleh azab yang pedih.

6. Yang demikian itu[11] karena sesungguhnya ketika rasul-rasul datang kepada mereka membawa keterangan-keterangan[12], lalu mereka berkata, "Apakah (pantas) manusia yang memberi petunjuk kepada kami?"[13] Lalu mereka ingkar dan berpaling[14]; padahal Allah tidak memerlukan (keimanan mereka). Dan Allah Mahakaya[15] lagi Maha Terpuji[16].

Ayat 7-10: Membicarakan tentang kebangkitan dan Kiamat yang pasti terjadi dan bagaimana kaum musyrik sampai mengingkarinya.

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (٧)فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (٨)يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (٩)وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ خَالِدِينَ فِيهَا وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (١٠)

Terjemah Surat At Taghaabun Ayat 7-10

7. [17]Orang-orang yang kafir mengira, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), "Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan." Dan yang demikian itu mudah bagi Allah[18].

8. [19]Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya[20] dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan[21]. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan[22].

9. (Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan kamu pada hari berhimpun[23], itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan[24]. [25]Dan barang siapa beriman kepada Allah dan beramal saleh[26] niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai[27], mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.

10. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami[28], mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali[29].


[1] Ayat yang mulia ini dan setelahnya mengandung sejumlah sifat-sifat Allah yang agung. Disebutkan di sana keberhakan-Nya untuk disembah, luasnya kekayaan-Nya, butuhnya semua makhluk kepada-Nya, dan bertasbihnya semua yang ada di langit dan di bumi dengan memuji Tuhannya, dan bahwa kerajaan semuanya milik Allah, sehingga tidak ada satu pun makhluk yang keluar dari milik-Nya, segala puji adalah untuk-Nya. Dia terpuji karena sifat-sifat sempurna yang dimiliki-Nya, terpuji karena apa yang diwujudkan-Nya, terpuji karena hukum-hukum yang disyariatkan-Nya, dan nikmat-nikmat yang diberikan-Nya. Kekuasaan-Nya menyeluruh, dimana semua yang ada tidak lepas dari kekuasaan-Nya, sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan keinginan-Nya. Dia yang menciptakan semua hamba, di antara mereka ada yang mukmin dan ada yang kafir. Keimanan dan kekafiran mereka adalah dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya, Dialah yang menghendaki hal itu (namun apa yang dikehendaki tidak mesti dicintai-Nya) dengan memberikan kepada mereka kemampuan dan keinginan sehingga mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkan, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

[2] Setelah Allah menyebutkan penciptaan-Nya kepada manusia yang mendapat beban perintah dan larangan, Dia menyebutkan penciptaan makhluk-makhluk yang lain.

[3] Dan semua yang ada di sana.

[4] Yakni dengan hikmah (tepat) dan tujuan yang diinginkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[5] Oleh karena itu, manusia adalah makhluk yang paling baik rupanya dan paling indah dipandang.

[6] Pada hari Kiamat, lalu Dia membalas keimanan dan kekafiranmu dan menanyakan kepadamu tentang berbagai nikmat yang diberikan-Nya kepada kamu, apakah kamu mensyukurinya atau tidak?

[7] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan tentang meratanya pengetahuan-Nya.

[8] Baik yang dirahasiakan maupun yang ditampakkan, yang gaib maupun yang nyata.

[9] Baik rahasia yang baik maupun yang buruk, niat yang baik maupun yang buruk dan keyakinan. Jika apa yang tersembunyi dalam hati Allah mengetahuinya, maka orang yang berakal dan berpandangan tajam akan berusaha menjaga batinnya dari akhlak yang buruk serta menyifatinya dengan akhlak yang mulia.

[10] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan agung, dimana dengan sifat-sifat itu Dia dikenal, diibadahi, dikerahkan pengorbanan untuk mencari keridhaan-Nya serta dihindari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan-Nya, maka Dia memberitahukan apa yang dilakukan-Nya terhadap umat-umat terdahulu dimana berita-berita mereka selalu dibicarakan oleh orang-orang yang datang kemudian, dan bahwa ketika para rasul datang kepada mereka dengan membawa kebenaran, namun mereka mendustakannya dan menentangnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menimpakan kepada mereka akibat dari perbuatan mereka di dunia dan menghinakan mereka di sana, dan bagi mereka di akhirat ada azab yang pedih.

[11] Yakni azab di dunia dan akhirat.

[12] Yakni ayat-ayat yang jelas yang menunjukkan mana yang benar dan mana yang batil, tetapi mereka membencinya dan menyombongkan diri.

[13] Maksud mereka, jika rasul itu manusia, maka tidak ada kelebihannya di atas kami dan karena sebab apa Allah Subhaanahu wa Ta'aala melebihkan mereka di atas kami? Pertanyaan ini telah dijawab Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam ayat yang lain, “Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi Kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.” (Terj. Ibrahim: 11) Mereka yang menolak seruan rasul karena alasan demikian sesungguhnya sama saja hendak mencegah karunia Allah dan nikmat-Nya kepada para nabi-Nya berupa nikmat menjadi para rasul(utusan)-Nya kepada manusia, mereka telah sombong untuk tunduk kepada mereka (para rasul) sehingga mereka ditimpa musibah dengan menyembah batu, pohon, dsb.

[14] Dari taat kepada Allah.

[15] Dia tidak butuh kepada semua makhluk-Nya.

[16] Dalam perkataan-Nya, perbuatan-Nya dan sifat-sifat-Nya.

[17] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang keras kepalanya orang-orang yang kafir, persangkaan mereka yang batil dan pendustaan mereka kepada kebangkitan tanpa ilmu dan petunjuk serta tanpa kitab yang menerangi, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kepada manusia yang paling mulia yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersumpah dengan nama Tuhannya memastikan bahwa mereka akan dibangkitkan dan bahwa amal mereka yang buruk serta pendustaan mereka kepada kebenaran akan mendapat balasan.

[18] Yakni betapa pun kebangkitan itu berat bagi makhluk, dimana jika mereka semua berkumpul untuk membangkitkan makhluk tentu tidak akan bisa, namun hal itu mudah bagi Allah ‘Azza wa Jalla yang apabila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah” maka jadilah ia. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (Terj. Az Zumar: 68).

[19] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan pengingkaran orang-orang yang mengingkari kebangkitan dan bahwa hal itu sama saja mereka kafir kepada Allah dan ayat-ayat-Nya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk melakukan sesuatu yang dapat menjaga seseorang dari kebinasaan dan kesengsaraan, yaitu beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan kitab-Nya.

[20] Beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan kitab-Nya menghendaki keyakinan yang pasti serta beramal terhadap konsekwensi dari pembenaran itu berupa mengerjakan perintah dan menjauhi larangan.

[21] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menamai kitab-Nya dengan “cahaya” karena keadaannya yang menyinari gelapnya kebodohan dan kesesatan, dan dengannya seseorang dapat berjalan di tengah kegelapan-kegelapan itu.

[22] Lalu Dia akan membalas amalmu yang baik dan yang buruk.

[23] Yaitu hari Kiamat. Pada hari itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian, menempatkan mereka pada tempat yang menegangkan dan Dia memberitahukan kepada mereka amal yang mereka kerjakan, ketika itulah tampak perbedaan antara makhluk, dimana sebagian kaum ditempatkan ke tempat-tempat yang tinggi (surga) yang penuh kesenangan dan sebagian kaum ditempatkan ke tempat yang rendah (neraka) yang menjadi tempat kesedihan, kegundahan, kesengsaraan dan azab yang keras sebagai hasil dari apa yang mereka kerjakan untuk diri mereka.

[24] Ada pula yang menafsirkan bahwa dikatakan hari Kiamat dengan ‘taghaabun’ karena pada hari itu orang-orang mukmin mengalahkan orang-orang kafir dengan mengambil tempat tinggal dan calon istri mereka di surga yang sudah disiapkan jika mereka beriman.

[25] Seakan-akan ada pertanyaan, “Karena apa mereka memperoleh keberuntungan dan kenikmatan atau kesengsaraan dan azab?” Maka pada lanjutan ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebutkan sebabnya.

[26] Yang wajib maupun yang sunat, baik berupa memenuhi hak Allah maupun hak hamba-hamba-Nya.

[27] Di dalamnya terdapat apa yang disenangi jiwa, enak dipandang mata, disukai hati dan menjadi akhir cita-cita.

[28] Mereka mengingkarinya tanpa sandaran syar’i maupun ‘aqli (akal), bahkan datang kepada mereka dalil-dalil dan bukti, namun mereka tetap mendustakan dan menentangnya.

[29] Hal itu, karena di neraka menghimpun semua keburukan, kesengsaraan dan azab.