Ayat 34-43: Perbandingan antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang berdosa, apa yang Allah siapkan untuk dua golongan itu, dan keadaan orang-orang yang berdosa pada hari Kiamat.
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (٣٤) أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (٣٥) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (٣٦) أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (٣٧) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (٣٨) أَمْ لَكُمْ أَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُونَ (٣٩) سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذَلِكَ زَعِيمٌ (٤٠) أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ فَلْيَأْتُوا بِشُرَكَائِهِمْ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ (٤١)يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ (٤٢) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (٤٣)
Terjemah Surat Al Qalam Ayat 34-43
34. [1]Sungguh, bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.
35. Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)[2]?
36. Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan.
37. Atau apakah kamu mempunyai kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu pelajari?
38. Sesungguhnya kamu dapat memilih apa saja yang ada di dalamnya.
39. Atau apakah kamu memperoleh (janji-janji yang diperkuat dengan) sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari Kiamat; bahwa kamu dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)?
40. Tanyakanlah kepada mereka, "Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap (keputusan yang diambil itu[3])?"
41. Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu?[4] Kalau begitu hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka orang-orang yang benar.
42. [5](Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan[6] dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu[7],
43. pandangan mereka tertunduk ke bawah, diliputi kehinaan. Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud[8] waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukan).
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan apa yang disiapkan-Nya untuk orang-orang yang bertakwa yang menjauhi kekafiran dan kemaksiatan yaitu kenikmatan dan kehidupan yang sejahtera di sisi Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan bahwa kebijaksanaan-Nya tidak menghendaki untuk menjadikan orang-orang yang taat kepada Tuhan mereka dan tunduk kepada perintah-Nya serta mengikuti keridhaan-Nya sama dengan orang-orang yang berdosa yang menjatuhkan dirinya ke lembah kemaksiatan, kekafiran kepada ayat-ayat-Nya, menentang para rasul-Nya dan memerangi para wali-Nya, dan bahwa siapa saja yang mengira bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyamakan balasannya, maka dia telah salah memutuskan dan keputusannya adalah batil, pandangannya salah dan bahwa orang-orang yang berdosa itu ketika menyangka begitu sama sekali tidak punya sandaran, mereka tidak punya kitab yang mereka pelajari dan mereka baca bahwa mereka termasuk penghuni surga dan bahwa untuk mereka segala yang mereka minta dan mau. Mereka sama sekali tidak mempunyai perjanjian dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala bahwa untuk mereka semua yang mereka tetapkan dan mereka juga tidak memiliki sekutu-sekutu dan para pembantu yang membantu mereka untuk tercapainya apa yang mereka inginkan. Jika mereka memiliki sekutu-sekutu dan para pembantu, maka hendaklah mereka hadirkan kalau mereka memang orang-orang yang benar. Sudah maklum, bahwa semua itu tidak mereka miliki; mereka tidak memiliki kitab, tidak memiliki perjanjian untuk selamat di sisi Allah dan tidak mempunyai sekutu yang membantu mereka, sehingga dakwaan mereka adalah batil dan rusak.
[2] Maksudnya, apakah sama balasan yang disediakan Allah untuk masing-masing mereka? Tentu tidak sama.
[3] Yaitu bahwa mereka di akhirat diberikan yang lebih baik daripada kaum mukmin. Jelas, bahwa mereka tidak memiliki orang yang siap bertanggung jawab terhadap keputusan ini.
[4] Yang sepakat dengan mereka dalam perkataan itu atau memberikan bantuan kepada mereka.
[5] Pada hari Kiamat Allah Subhaanahu wa Ta'aala datang untuk memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya dan memberikan balasan, lalu Dia menyingkapkan betis-Nya yang mulia yang tidak mirip dengan sesuatu apa pun, ketika itu itu manusia menyaksikan keagungan Allah dan kebesaran-Nya yang tidak mungkin diungkapkan. Ketika itu, mereka dipanggil untuk sujud kepada Allah, maka sujudlah orang-orang mukmin yang biasa bersujud kepada Allah dengan suka rela, sedangkan orang-orang fasik dan orang-orang munafik pergi agar dapat sujud, namun mereka tidak sanggup untuk sujud dan punggung mereka tetap rata. Balasan seperti ini sesuai dengan amal mereka ketika di dunia, karena ketika mereka dipanggil di dunia untuk sujud kepada Allah, mengesakan-Nya dan beribadah kepada-Nya dalam keadaan sehat, namun mereka enggan dan sombong melakukannya, maka anda tidak perlu bertanya tentang keadaan mereka dan buruknya tempat kembali mereka, kaena Allah telah murka kepada mereka dan mereka telah tetap mendapatkan ketetapan azab dan terputuslah segala hubungan serta tidak bermanfaat pernyesalan mereka, dan tidak pula uzur mereka pada hari Kiamat. Dalam ayat ini terdapat sesuatu yang membuat hati takut mengerjakan maksiat dan berusaha mengejar yang telah luput selagi masih ada waktu.
[6] Disebutkan dalam Shahih Bukhari, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
فَيَكْشِف عَنْ سَاقِهِ ، فَيَسْجُد لَهُ كُلّ مُؤْمِن وَيَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُد رِيَاءً وَسُمْعَةً فَيَذْهَب كَيْمَا يَسْجُد فَيَصِير ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا
“Maka Dia (Allah) menyingkapkan betis-Nya, lalu setiap mukmin bersujud kepada-Nya dan tinggallah orang yang sujud karena riya’ dan sum’ah; ia pun pergi untuk sujud, maka punggungnya menjadi rata lagi.”
[7] Mereka diminta sujud itu adalah untuk menguji keimanan mereka Padahal mereka tidak sanggup lagi karena persendian tulang-tulang mereka telah lemah dan azab sudah meliputi mereka.
[8] Yakni dipanggil shalat dengan ucapan, “Hayya ‘alash shalaah” (artinya: Marilah kita shalat).
Tampilkan postingan dengan label 068-Al Qalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 068-Al Qalam. Tampilkan semua postingan
Rabu, 21 Mei 2014
Tafsir Al Qalam Ayat 44-52
Ayat 44-47: Pendustaan orang-orang kafir kepada Rasul dan Al Qur’an yang dibawanya, dan penangguhan terhadap azab.
فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ (٤٤) وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ (٤٥) أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ (٤٦) أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ (٤٧)
Terjemah Surat Al Qalam Ayat 44-47
44. Maka serahkanlah kepada-Ku (urusannya) dan orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran)[1]. Kelak akan Kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui[2],
45. dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.
46. Ataukah engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka[3], sehingga mereka dibebani dengan hutang[4]?
47. Ataukah mereka mengetahui yang gaib lalu mereka menuliskannya?[5]
Ayat 48-52: Perintah Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersabar terhadap gangguan kaum musyrik dan siap memikul beban dakwah.
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَى وَهُوَ مَكْظُومٌ (٤٨) لَوْلا أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ (٤٩) فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ (٥٠) وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ (٥١) وَمَا هُوَ إِلا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (٥٢)
Terjemah Surat Al Qalam Ayat 48-52
48. Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu[6], dan janganlah engkau seperti (Yunus)[7] orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih.
49. Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela[8].
50. Lalu Tuhannya memilihnya[9] dan menjadikannya termasuk orang yang saleh[10].
51. Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mata mereka[11], ketika mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata, "Dia (Muhammad) itu benar-benar orang gila.”
52. Padahal Al Quran itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam[12].
[1] Yakni balasan terhadap mereka adalah urusan-Ku dan kamu tidak perlu meminta disegerakan.
[2] Yakni Kami akan menambahkan harta dan anak mereka, dan Kami tambahkan rezeki mereka agar mereka tertipu dan tetap terus di atas hal yang membahayakan mereka, karena ini termasuk tipu daya Allah kepada mereka, dan tipu daya Allah terhadap musuh-musuh-Nya begitu kuat dan kokoh.
[3] Dalam menyampaikan risalah.
[4] Yang membuat mereka menjadi tidak beriman. Sedangkan keadaan Beliau tidak seperti itu, Beliau tidak meminta upah sama sekali dalam dakwahnya.
[5] Yakni menuliskan apa yang mereka tahu tentang hal yang gaib, dimana mereka menemukan di sana bahwa mereka berada di atas yang hak dan bahwa mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Ini adalah perkara yang tidak sesuai kenyataan, bahkan keadaan mereka adalah keadaan orang yang keras kepala dan zalim, sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk menyikapi mereka selain dengan bersabar terhadap gangguan mereka, siap menerima apa yang muncul dari mereka serta tetap mendakwahi mereka. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu,”
[6] Baik ketetapan qadari maupun syar’i. Ketetapan qadari adalah menyikapinya dengan sabar, tidak keluh kesah dan marah-marah, sedangkan ketetapan syar’i adalah dengan menerima dan tunduk dengan sempurna.
[7] Dalam hal bosan dan terburu-buru serta tidak sabar terhadap sikap kaumnya, ia pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah lalu naik ke perahu, kemudian perahu itu tampak berat hingga hampir tenggelam, maka para penumpang perahu melakukan undian untuk melempar penumpangnya agar perahu tidak tenggelam, ternyata undian jatuh menimpa Yunus, maka Yunus melempar dirinya ke laut dan ia pun ditelan oleh ikan besar. Ketika keadaan seperti itu ia berdoa dalam perut ikan dalam keadaan yang sedih, isi doanya adalah, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” Maka Allah mengabulkan doanya, ikan yang menelannya pun memuntahkan Yunus ke tanah yang tandus dalam keadaan sakit, lalu Allah menumbuhkan pohon sejenis labu. Inilah maksud firman Allah Ta’ala, “Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.”
[8] Karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala merahmatinya, maka Dia mencampakkan Yunus dalam keadaan terpuji dan keadaannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
[9] Yakni memilihnya dan membersihkannya dari kekeruhan.
[10] Yaitu orang yang baik amal, ucapannya, niatnya dan keadaannya. Dengan adanya kisah ini, maka Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan perintah Allah dan bersabar terhadap ketetapan-Nya dengan kesabaran yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan akibat yang terpuji untuk Beliau, sedangkan musuh-musuh Beliau tidak memperoleh apa-apa selain sesuatu yang menyedihkan mereka, sampai-sampai saking kecewanya mereka ingin menggelincirkan Beliau dengan pandangan mata mereka karena dengki mereka yang begitu mendalam. Inilah gangguan perbuatan yang bisa mereka lakukan dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menjaga Beliau dan menolongnya. Adapun gangguan yang berupa ucapan, maka mereka telah mengatakan kata-kata yang banyak terhadap Beliau sesuai yang diilhamkan oleh hati mereka, dimana mereka terkadang menyebut Beliau sebagai ‘orang gila’, sebagai ‘penyair,’ sebagai ‘dukun’, sebagai pesihir, dsb.
[11] Menurut kebiasaan yang terjadi di tanah Arab, seseorang dapat membinasakan binatang atau manusia dengan menujukan pandangannya yang tajam. Hal ini hendak dilakukan pula kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi Allah memeliharanya, sehingga terhindar dari bahaya itu, sebagaimana dijanjikan Allah dalam surat Al Maidah ayat 67. Kekuatan pandangan mata itu pada masa sekarang dikenal dengan hypnotisme.
[12] Dengan Al Qur’an, seluruh alam menyadari hal yang bermaslahat bagi mereka baik pada agama mereka maupun dunia mereka.
فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ (٤٤) وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ (٤٥) أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ (٤٦) أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ (٤٧)
Terjemah Surat Al Qalam Ayat 44-47
44. Maka serahkanlah kepada-Ku (urusannya) dan orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran)[1]. Kelak akan Kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui[2],
45. dan Aku memberi tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.
46. Ataukah engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka[3], sehingga mereka dibebani dengan hutang[4]?
47. Ataukah mereka mengetahui yang gaib lalu mereka menuliskannya?[5]
Ayat 48-52: Perintah Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersabar terhadap gangguan kaum musyrik dan siap memikul beban dakwah.
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَى وَهُوَ مَكْظُومٌ (٤٨) لَوْلا أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ (٤٩) فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ (٥٠) وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ (٥١) وَمَا هُوَ إِلا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (٥٢)
Terjemah Surat Al Qalam Ayat 48-52
48. Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu[6], dan janganlah engkau seperti (Yunus)[7] orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih.
49. Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela[8].
50. Lalu Tuhannya memilihnya[9] dan menjadikannya termasuk orang yang saleh[10].
51. Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mata mereka[11], ketika mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata, "Dia (Muhammad) itu benar-benar orang gila.”
52. Padahal Al Quran itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam[12].
[1] Yakni balasan terhadap mereka adalah urusan-Ku dan kamu tidak perlu meminta disegerakan.
[2] Yakni Kami akan menambahkan harta dan anak mereka, dan Kami tambahkan rezeki mereka agar mereka tertipu dan tetap terus di atas hal yang membahayakan mereka, karena ini termasuk tipu daya Allah kepada mereka, dan tipu daya Allah terhadap musuh-musuh-Nya begitu kuat dan kokoh.
[3] Dalam menyampaikan risalah.
[4] Yang membuat mereka menjadi tidak beriman. Sedangkan keadaan Beliau tidak seperti itu, Beliau tidak meminta upah sama sekali dalam dakwahnya.
[5] Yakni menuliskan apa yang mereka tahu tentang hal yang gaib, dimana mereka menemukan di sana bahwa mereka berada di atas yang hak dan bahwa mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Ini adalah perkara yang tidak sesuai kenyataan, bahkan keadaan mereka adalah keadaan orang yang keras kepala dan zalim, sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk menyikapi mereka selain dengan bersabar terhadap gangguan mereka, siap menerima apa yang muncul dari mereka serta tetap mendakwahi mereka. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu,”
[6] Baik ketetapan qadari maupun syar’i. Ketetapan qadari adalah menyikapinya dengan sabar, tidak keluh kesah dan marah-marah, sedangkan ketetapan syar’i adalah dengan menerima dan tunduk dengan sempurna.
[7] Dalam hal bosan dan terburu-buru serta tidak sabar terhadap sikap kaumnya, ia pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah lalu naik ke perahu, kemudian perahu itu tampak berat hingga hampir tenggelam, maka para penumpang perahu melakukan undian untuk melempar penumpangnya agar perahu tidak tenggelam, ternyata undian jatuh menimpa Yunus, maka Yunus melempar dirinya ke laut dan ia pun ditelan oleh ikan besar. Ketika keadaan seperti itu ia berdoa dalam perut ikan dalam keadaan yang sedih, isi doanya adalah, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” Maka Allah mengabulkan doanya, ikan yang menelannya pun memuntahkan Yunus ke tanah yang tandus dalam keadaan sakit, lalu Allah menumbuhkan pohon sejenis labu. Inilah maksud firman Allah Ta’ala, “Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.”
[8] Karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala merahmatinya, maka Dia mencampakkan Yunus dalam keadaan terpuji dan keadaannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
[9] Yakni memilihnya dan membersihkannya dari kekeruhan.
[10] Yaitu orang yang baik amal, ucapannya, niatnya dan keadaannya. Dengan adanya kisah ini, maka Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan perintah Allah dan bersabar terhadap ketetapan-Nya dengan kesabaran yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan akibat yang terpuji untuk Beliau, sedangkan musuh-musuh Beliau tidak memperoleh apa-apa selain sesuatu yang menyedihkan mereka, sampai-sampai saking kecewanya mereka ingin menggelincirkan Beliau dengan pandangan mata mereka karena dengki mereka yang begitu mendalam. Inilah gangguan perbuatan yang bisa mereka lakukan dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menjaga Beliau dan menolongnya. Adapun gangguan yang berupa ucapan, maka mereka telah mengatakan kata-kata yang banyak terhadap Beliau sesuai yang diilhamkan oleh hati mereka, dimana mereka terkadang menyebut Beliau sebagai ‘orang gila’, sebagai ‘penyair,’ sebagai ‘dukun’, sebagai pesihir, dsb.
[11] Menurut kebiasaan yang terjadi di tanah Arab, seseorang dapat membinasakan binatang atau manusia dengan menujukan pandangannya yang tajam. Hal ini hendak dilakukan pula kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi Allah memeliharanya, sehingga terhindar dari bahaya itu, sebagaimana dijanjikan Allah dalam surat Al Maidah ayat 67. Kekuatan pandangan mata itu pada masa sekarang dikenal dengan hypnotisme.
[12] Dengan Al Qur’an, seluruh alam menyadari hal yang bermaslahat bagi mereka baik pada agama mereka maupun dunia mereka.
Tafsir Al Qalam Ayat 17-33
Ayat 17-33: Perumpamaan kaum musyrik Mekkah dalam hal kufurnya mereka kepada nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala yaitu pengutusan Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kepada mereka.
إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ (١٧) وَلا يَسْتَثْنُونَ (١٨) فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ (١٩)فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ (٢٠) فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ (٢١) أَنِ اغْدُوا عَلَى حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ (٢٢) فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ (٢٣) أَنْ لا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ (٢٤)وَغَدَوْا عَلَى حَرْدٍ قَادِرِينَ (٢٥) فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ (٢٦)بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ (٢٧) قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ لَوْلا تُسَبِّحُونَ (٢٨) قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ (٢٩) فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَلاوَمُونَ (٣٠) قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ (٣١) عَسَى رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَى رَبِّنَا رَاغِبُونَ (٣٢) كَذَلِكَ الْعَذَابُ وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (٣٣)
Terjemah Surat Al Qalam Ayat 17-33
17. [1]Sungguh, Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah pasti akan memetik (hasil)nya pada pagi hari[2],
18. tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, “Insya Allah”),
19. Lalu kebun itu diliputi bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur[3],
20. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita[4],
21. lalu pada pagi hari mereka saling memanggil.
22. "Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik hasil.”
23. Maka mereka pun berangkat sambil berbisik-bisik[5].
24. "Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin masuk ke dalam kebunmu[6].”
25. Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu[7] (menolongnya).
26. Maka ketika mereka melihat kebun itu, mereka berkata[8], "Sungguh, kita ini benar-benar orang-orang yang sesat[9],
27. bahkan kita tidak memperoleh apa pun[10].”
28. Berkatalah seorang yang paling bijak di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih (kepada Tuhanmu)[11]?"
29. Mereka mengucapkan, "Mahasuci Tuhan kami, sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim[12].”
30. Lalu mereka saling berhadapan dan saling menyalahkan.
31. Mereka berkata, "Celaka kita! Sesungguhnya kita orang-orang yang melampaui batas[13].
32. Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada yang ini, sungguh, kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita[14].”
33. Seperti itulah azab (di dunia)[15]. Dan sungguh, azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui[16].
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menguji orang-orang yang mendustakan itu dan memberi tangguh mereka serta memberi harta dan anak sesuai yang Allah kehendaki dan memanjangkan umur mereka serta memberikan apa yang mereka sukai lainnya adalah bukan karena kemuliaan mereka, bahkan sebagai istidraj (penangguhan azab) dari arah yang tidak mereka sadari. Tertipunya mereka itu seperti tertipunya orang-orang yang memiliki kebun bersama-sama, ketika buah-buahnya telah matang, dan sudah tiba saat untuk memetiknya, dan mereka telah berniat jahat dengan tidak memberikan sebagiannya untuk orang-orang miskin serta mengira bahwa tidak ada yang dapat menghalangi mereka untuk mengambil semuanya sehingga mereka bersumpah tanpa mengucapkan ‘insya Allah’ (jika Allah menghendaki) bahwa mereka akan memetiknya pada pagi hari agar tidak diketahui oleh orang-orang miskin. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengintai mereka dan bahwa kebun mereka akan ditimpa bencana.
[2] Agar orang-orang miskin tidak mengetahui.
[3] Menurut sebagian mufassir, bahwa bencana itu adalah api yang membakarnya.
[4] Maksudnya, maka terbakarlah kebun itu dan tinggallah arang-arangnya yang hitam seperti malam.
[5] Agar tidak terdengar oleh seorang pun yang nantinya akan memberitahukan kepada orang-orang fakir-miskin.
[6] Karena begitu bakhilnya mereka.
[7] Ada pula yang mengartikan ‘dengan niat menghalangi orang miskin dan mereka kira bahwa mereka berkuasa penuh terhadapnya.’
[8] Dengan penuh keheranan.
[9] Yakni ‘bukan ini kebunnya,’ selanjutnya mereka berkata seperti yang disebutkan dalam ayat setelahnya ketika mereka mengetahui bahwa yang binasa itu memang kebun mereka.
[10] Mereka mengatakan hal ini setelah mereka yakin bahwa yang dilihat mereka adalah kebun mereka sendiri. Mereka pun menyadari bahwa hal itu adalah hukuman.
[11] Yakni mengapa kamu tidak mensucikan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari segala yang tidak layak bagi-Nya, yang di antaranya adalah anggapan kamu bahwa kekuasaanmu terhadapnya adalah mutlak, mengapa kamu tidak sebut ‘insya Allah’ dan menjadikan kehendak kamu mengikuti kehendak Allah. Ada pula yang menafsirkan ‘bertasbih kepda Allah’ dengan mensyukuri nikmat-Nya dan tidak meniatkan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah seperti meniatkan tidak akan memberikannya kepada fakir miskin.
[12] Dengan menghalangi hak orang-orang fakir.
Mereka ingin menutupi kekurangan mereka, tetapi setelah azab telah menimpa kebun mereka, namun mereka tetap berharap tasbih mereka ini dan pengakuan kezaliman mereka dapat memberikan manfaat bagi mereka untuk meringankan dosa dan sebagai tobat mereka. Oleh karena itulah, mereka menyesal dengan penyesalan yang dalam.
[13] Terhadap hak Allah dan hak hamba-hamba-Nya.
[14] Zhahirnya bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengganti mereka di dunia dengan yang lebih baiknya darinya, karena barang siapa yang berdoa dengan benar kepada Allah, berharap dengan sungguh-sungguh kepada-Nya, maka Allah akan memenuhi permohonannya.
[15] Bagi orang yang menyelisihi perintah Allah atau mengerjakan sebab-sebab diazab dengan mencabut kenikmatan yang dijadikannya untuk bersikap melampaui batas serta menyingkirkan sesuatu yang paling dibutuhkannya.
[16] Jika mereka mengetahui, tentu mereka akan menghindari segala sebab yang mendatangkan azab dan siksaan.
Disebutkan dalam catatan kaki terjemah Al Qur’an Depag sbb.: Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan bahwa Dia menguji penduduk Mekah dengan menganugrahi mereka nikmat-nikmat yang banyak untuk mengetahui apakah mereka bersyukur atau tidak sebagaimana Allah telah menguji pemilik-pemilik kebun, seperti yang diterangkan pada ayat 17-33. Akhirnya pemilik kebun itu insaf dan bertobat kepada Allah. Demikian pula penduduk Mekah yang kemudian menjadi insaf dan masuk Islam berbondong-bondong setelah penaklukan Mekah.
إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ (١٧) وَلا يَسْتَثْنُونَ (١٨) فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ (١٩)فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ (٢٠) فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ (٢١) أَنِ اغْدُوا عَلَى حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ (٢٢) فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ (٢٣) أَنْ لا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ (٢٤)وَغَدَوْا عَلَى حَرْدٍ قَادِرِينَ (٢٥) فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ (٢٦)بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ (٢٧) قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ لَوْلا تُسَبِّحُونَ (٢٨) قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ (٢٩) فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَلاوَمُونَ (٣٠) قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ (٣١) عَسَى رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَى رَبِّنَا رَاغِبُونَ (٣٢) كَذَلِكَ الْعَذَابُ وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (٣٣)
Terjemah Surat Al Qalam Ayat 17-33
17. [1]Sungguh, Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah pasti akan memetik (hasil)nya pada pagi hari[2],
18. tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, “Insya Allah”),
19. Lalu kebun itu diliputi bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur[3],
20. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita[4],
21. lalu pada pagi hari mereka saling memanggil.
22. "Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik hasil.”
23. Maka mereka pun berangkat sambil berbisik-bisik[5].
24. "Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin masuk ke dalam kebunmu[6].”
25. Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu[7] (menolongnya).
26. Maka ketika mereka melihat kebun itu, mereka berkata[8], "Sungguh, kita ini benar-benar orang-orang yang sesat[9],
27. bahkan kita tidak memperoleh apa pun[10].”
28. Berkatalah seorang yang paling bijak di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih (kepada Tuhanmu)[11]?"
29. Mereka mengucapkan, "Mahasuci Tuhan kami, sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim[12].”
30. Lalu mereka saling berhadapan dan saling menyalahkan.
31. Mereka berkata, "Celaka kita! Sesungguhnya kita orang-orang yang melampaui batas[13].
32. Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada yang ini, sungguh, kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita[14].”
33. Seperti itulah azab (di dunia)[15]. Dan sungguh, azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui[16].
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menguji orang-orang yang mendustakan itu dan memberi tangguh mereka serta memberi harta dan anak sesuai yang Allah kehendaki dan memanjangkan umur mereka serta memberikan apa yang mereka sukai lainnya adalah bukan karena kemuliaan mereka, bahkan sebagai istidraj (penangguhan azab) dari arah yang tidak mereka sadari. Tertipunya mereka itu seperti tertipunya orang-orang yang memiliki kebun bersama-sama, ketika buah-buahnya telah matang, dan sudah tiba saat untuk memetiknya, dan mereka telah berniat jahat dengan tidak memberikan sebagiannya untuk orang-orang miskin serta mengira bahwa tidak ada yang dapat menghalangi mereka untuk mengambil semuanya sehingga mereka bersumpah tanpa mengucapkan ‘insya Allah’ (jika Allah menghendaki) bahwa mereka akan memetiknya pada pagi hari agar tidak diketahui oleh orang-orang miskin. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengintai mereka dan bahwa kebun mereka akan ditimpa bencana.
[2] Agar orang-orang miskin tidak mengetahui.
[3] Menurut sebagian mufassir, bahwa bencana itu adalah api yang membakarnya.
[4] Maksudnya, maka terbakarlah kebun itu dan tinggallah arang-arangnya yang hitam seperti malam.
[5] Agar tidak terdengar oleh seorang pun yang nantinya akan memberitahukan kepada orang-orang fakir-miskin.
[6] Karena begitu bakhilnya mereka.
[7] Ada pula yang mengartikan ‘dengan niat menghalangi orang miskin dan mereka kira bahwa mereka berkuasa penuh terhadapnya.’
[8] Dengan penuh keheranan.
[9] Yakni ‘bukan ini kebunnya,’ selanjutnya mereka berkata seperti yang disebutkan dalam ayat setelahnya ketika mereka mengetahui bahwa yang binasa itu memang kebun mereka.
[10] Mereka mengatakan hal ini setelah mereka yakin bahwa yang dilihat mereka adalah kebun mereka sendiri. Mereka pun menyadari bahwa hal itu adalah hukuman.
[11] Yakni mengapa kamu tidak mensucikan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari segala yang tidak layak bagi-Nya, yang di antaranya adalah anggapan kamu bahwa kekuasaanmu terhadapnya adalah mutlak, mengapa kamu tidak sebut ‘insya Allah’ dan menjadikan kehendak kamu mengikuti kehendak Allah. Ada pula yang menafsirkan ‘bertasbih kepda Allah’ dengan mensyukuri nikmat-Nya dan tidak meniatkan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah seperti meniatkan tidak akan memberikannya kepada fakir miskin.
[12] Dengan menghalangi hak orang-orang fakir.
Mereka ingin menutupi kekurangan mereka, tetapi setelah azab telah menimpa kebun mereka, namun mereka tetap berharap tasbih mereka ini dan pengakuan kezaliman mereka dapat memberikan manfaat bagi mereka untuk meringankan dosa dan sebagai tobat mereka. Oleh karena itulah, mereka menyesal dengan penyesalan yang dalam.
[13] Terhadap hak Allah dan hak hamba-hamba-Nya.
[14] Zhahirnya bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengganti mereka di dunia dengan yang lebih baiknya darinya, karena barang siapa yang berdoa dengan benar kepada Allah, berharap dengan sungguh-sungguh kepada-Nya, maka Allah akan memenuhi permohonannya.
[15] Bagi orang yang menyelisihi perintah Allah atau mengerjakan sebab-sebab diazab dengan mencabut kenikmatan yang dijadikannya untuk bersikap melampaui batas serta menyingkirkan sesuatu yang paling dibutuhkannya.
[16] Jika mereka mengetahui, tentu mereka akan menghindari segala sebab yang mendatangkan azab dan siksaan.
Disebutkan dalam catatan kaki terjemah Al Qur’an Depag sbb.: Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan bahwa Dia menguji penduduk Mekah dengan menganugrahi mereka nikmat-nikmat yang banyak untuk mengetahui apakah mereka bersyukur atau tidak sebagaimana Allah telah menguji pemilik-pemilik kebun, seperti yang diterangkan pada ayat 17-33. Akhirnya pemilik kebun itu insaf dan bertobat kepada Allah. Demikian pula penduduk Mekah yang kemudian menjadi insaf dan masuk Islam berbondong-bondong setelah penaklukan Mekah.
Tafsir Al Qalam Ayat 1-16
Surah Al Qalam (Pena)
Surah ke-68. 52 ayat. Makkiyyah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-7: Sumpah Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap ketinggian pribadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan bersihnya Beliau dari tuduhan yang dikatakan orang-orang musyrik kepada Beliau.
ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ (١) مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ (٢) وَإِنَّ لَكَ لأجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ (٣) وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (٤)فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ (٥) بِأَيِّكُمُ الْمَفْتُونُ (٦) إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (٧)
Terjemah Surat Al Qalam Ayat 1-7
1. Nun. Demi pena[1] dan apa yang mereka tuliskan[2],
2. dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila[3].
3. Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
4. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur[4].
5. [5]Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
6. Siapa di antara kamu yang gila[6]?
7. Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk[7].
Ayat 8-16: Sikap kaum musyrik terhadap dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, azab yang disiapkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala untuk mereka, dan larangan menaati usulan mereka.
فَلا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ (٨) وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ (٩) وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ (١٠) هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ (١١) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ (١٢) عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ (١٣) أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ (١٤)إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (١٥) سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ (١٦)
Terjemah Surat Al Qalam Ayat 8-16
8. Maka janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)[8].
9. Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak[9] lalu mereka bersikap lunak (pula)[10].
10. Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah[11] dan suka menghina[12],
11. suka mencela[13], yang kian ke mari menghambur fitnah[14],
12. Yang merintangi segala yang baik[15], yang melampaui batas[16] dan banyak dosa,
13. yang bertabiat kasar[17], selain itu juga terkenal kejahatannya[18],
14. karena dia kaya dan banyak anak[19].
15. Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata, "(Ini adalah) dongeng-dongeng orang dahulu."
16. [20]Kelak dia akan Kami beri tanda pada belalai(nya)[21].
[1] Yakni alat yang digunakan untuk mencatat di Lauh Mahfuzh segala sesuatu yang terjadi sampai hari Kiamat. Ada pula yang menafsirkan qalam (pena) di sini dengan semua pena yang digunakan untuk mencatat ilmu.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan pena dan apa yang mereka tulis karena hal itu termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang besar yang berhak Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kebersihan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dari tuduhan yang dilemparkan oleh musuh-musuh Beliau seperti tuduhan gila. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menafikan sifat gila dari Beliau karena nikmat Allah dan ihsan-Nya, yaitu dikaruniakan kepadanya akal yang sempurna, pandangan yang bagus dan kata-kata yang tepat yang paling baik untuk ditulis. Hal ini merupakan kebahagiaan untuk Beliau di dunia, selanjutnya kebahagiaan untuk Beliau di akhirat sebagaimana diterangkan di ayat selanjutnya adalah bahwa untuk Beliau pahala yang besar yang tidak akan putus, karena amal Beliau yang saleh dan akhlaknya yang sempurna. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
[2] Baik natsr (tulisan bebas) maupun nazhm (tulisan bersusun seperti syair).
[3] Ayat ini merupakan bantahan terhadap ucapan orang-orang kafir bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang gila.
[4] Kesimpulan akhlak Beliau adalah seperti yang dikatakan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, “Kaana khuluquhul Qur’aan,” (artinya: Akhlak Beliau adalah Al Qur’an). Beliau melakukan apa yang disebutkan dalam Al Qur’an seperti pada ayat-ayat berikut:
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Terj. Al A’raaf: 199)
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Terj. Ali Imran: 159)
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Terj. At Taubah: 128)
dan ayat-ayat lainnya yang menyebutkan sifat-sifat Beliau yang mulia serta ayat-ayat lainnya yang mendorong untuk berakhlak mulia. Oleh karena itu, Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan paling agung, dimana tidak ada satu pun akhlak mulia kecuali Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menduduki peringkat tertinggi. Oleh karena itu, Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam orangnya mudah, dekat dengan manusia, memenuhi undangan orang yang mengundangnya, memenuhi kebutuhan orang yang butuh, memberi orang yang meminta-minta dan tidak mengecewakannya. Apabila para sahabatnya menginginkan suatu perkara dari Beliau, maka Beliau menyetujui mereka serta mengikuti mereka jika tidak ada larangannya, dan jika ingin melakukan suatu langkah, maka Beliau mengajak para sahabatnya bermusyawarah terhadapnya. Beliau menerima orang yang berbuat ihsan dan memaafkan orang yang bersalah dan tidaklah ada orang yang duduk dengan Beliau kecuali Beliau bersikap dengan sikap yang sebaik-baiknya untuk Beliau. Oleh karena itu, Beliau tidak bermuka masam, tidak keras ucapannya, tidak menyembunyikan kegembiraannya, menjaga lisannya dari ucapan yang tidak berguna, tidak membalas orang yang bertindak kasar terhadap diri Beliau, Beliau tidak marah jika diri Beliau disakiti, tetapi marah jika syariat Allah Subhaanahu wa Ta'aala dilanggar.
[5] Karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menempatkan Beliau pada posisi yang paling tinggi, sedangkan musuh-musuhnya menuduh Beliau sebagai orang yang gila, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,-- Siapa di antara kamu yang gila?”
[6] Kamu ataukah mereka? Sungguh jelas, bahwa Beliau adalah manusia yang paling mendapatkan petunjuk, paling menyempurnakan diri dan orang lain, sedangkan musuh-musuh Beliau adalah manusia paling tersesat dan paling buruk, mereka telah menggelincirkan hamba-hamba Allah dan menyesatkan mereka dari jalan-Nya. Cukuplah pengetahuan Allah terhadapnya; Dia lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapatkan petunjuk, dan Dialah yang akan menghisab mereka dan memberi balasan.
[7] Dalam ayat ini terdapat ancaman bagi orang-orang yang sesat, janji kebaikan untuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk, menjelaskan kebijaksanaan Allah, dimana Dia memberi petunjuk orang yang layak memperoleh hidayah tidak selainnya.
[8] Hal itu, karena mereka tidak layak diikuti, karena mereka tidaklah menyuruh kecuali yang sesuai hawa nafsu mereka, dan mereka tidak menginginkan selain kebatilan. Oleh karena itu, menaati mereka sama saja mempersiapkan dirinya kepada sesuatu yang membahayakannya, dan hal ini umum kepada setiap orang yang mendustakan dan pada setiap ketaatan yang timbul dari mendustakan, meskipun susunan ayatnya untuk sesuatu yang khusus, yaitu kaum musyrikin meminta kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk diam tidak mencela sesembahan dan agama mereka sehingga mereka pun akan diam terhadap Beliau. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula).”
[9] Yakni sepakat dengan yang mereka pegang, baik dengan ucapan, perbuatan maupun dengan mendiamkan, sehingga mereka akan bersikap lunak terhadap Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.
[10] Akan tetapi Beliau diperintahkan untuk menerangkan perintah Allah dan menerangkan agama-Nya.
[11] Karena tidak ada orang yang seperti itu kecuali ia sebagai pendusta, dan tidak ada yang seperti itu kecuali orang yang keadaannya hina.
[12] Mahiin bisa juga diartikan ‘hina’, yakni dirinya hina, tidak ada kemauan kepada kebaikan, bahkan keinginannya hanya tertuju kepada hawa nafsunya yang hina.
[13] Yakni banyak mencela manusia baik dengan menggunjing, menghina maupun dengan lainnya.
[14] Yakni mengadu domba.
[15] Yakni bakhil terhadap hartanya tidak mau menunaikan hak yang seharusnya ditunaikan seperti nafkah yang wajib, kaffarat, zakat, dsb.
[16] Terhadap manusia dengan menzalimi harta, darah dan kehormatan mereka.
[17] Yakni kasar, keras, berakhlak buruk dan tidak mau tunduk kepada kebenaran.
[18] Yakni diragukan keturunannya, tidak ada asalnya yang menghasilkan kebaikan, bahkan akhlaknya adalah seburuk-buruk akhlak, tidak diharapkan kebaikannya, bahkan terkenal kejahatannya.
Kesimpulan ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang menaati setiap orang yang banyak bersumpah lagi pendusta, hina dirinya dan buruk akhlaknya, khususnya akhlak yang mengandung ujub terhadap diri, sombong terhadap kebenaran, merendahkan manusia seperti ghibah dan namimah (adu domba), mencela manusia dan banyak melakukan maksiat. Ayat-ayat di atas meskipun turun berkenaan dengan sebagian kaum musyrikin seperti Walid bin Mughirah atau selainnya namun umum kepada setiap orang yang memiliki sifat ini, karena Al Qur’an turun untuk memberi hidayah kepada manusia, baik untuk generasi pertama mereka maupun generasi yang datang kemudian, bahkan terkadang turun sebagian ayat karena satu sebab atau pada orang tertentu agar jelas kaidah keumumannya dan dapat diketahui permisalan juz’iyyah(satuan)nya bahwa ia masuk ke dalam kaidah umum.
[19] Orang yang mempunyai banyak anak dan harta lebih mudah mendapat pengikut. Tetapi jika dia mempunyai sifat-sifat seperti tersebut pada ayat 10-13, maka tidak patut diikuti.
[20] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengancam orang yang seperti itu sifatnya, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menandai hidungnya untuk diazab dengan azab yang tampak jelas.
[21] Yang dimaksud dengan ‘belalai’ di sini ialah hidung. Dipakai kata belalai di sini sebagai penghinaan.
Surah ke-68. 52 ayat. Makkiyyah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-7: Sumpah Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap ketinggian pribadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan bersihnya Beliau dari tuduhan yang dikatakan orang-orang musyrik kepada Beliau.
ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ (١) مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ (٢) وَإِنَّ لَكَ لأجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ (٣) وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (٤)فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ (٥) بِأَيِّكُمُ الْمَفْتُونُ (٦) إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (٧)
Terjemah Surat Al Qalam Ayat 1-7
1. Nun. Demi pena[1] dan apa yang mereka tuliskan[2],
2. dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila[3].
3. Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
4. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur[4].
5. [5]Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
6. Siapa di antara kamu yang gila[6]?
7. Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk[7].
Ayat 8-16: Sikap kaum musyrik terhadap dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, azab yang disiapkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala untuk mereka, dan larangan menaati usulan mereka.
فَلا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ (٨) وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ (٩) وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ (١٠) هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ (١١) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ (١٢) عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ (١٣) أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ (١٤)إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (١٥) سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ (١٦)
Terjemah Surat Al Qalam Ayat 8-16
8. Maka janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)[8].
9. Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak[9] lalu mereka bersikap lunak (pula)[10].
10. Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah[11] dan suka menghina[12],
11. suka mencela[13], yang kian ke mari menghambur fitnah[14],
12. Yang merintangi segala yang baik[15], yang melampaui batas[16] dan banyak dosa,
13. yang bertabiat kasar[17], selain itu juga terkenal kejahatannya[18],
14. karena dia kaya dan banyak anak[19].
15. Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata, "(Ini adalah) dongeng-dongeng orang dahulu."
16. [20]Kelak dia akan Kami beri tanda pada belalai(nya)[21].
[1] Yakni alat yang digunakan untuk mencatat di Lauh Mahfuzh segala sesuatu yang terjadi sampai hari Kiamat. Ada pula yang menafsirkan qalam (pena) di sini dengan semua pena yang digunakan untuk mencatat ilmu.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan pena dan apa yang mereka tulis karena hal itu termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang besar yang berhak Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kebersihan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dari tuduhan yang dilemparkan oleh musuh-musuh Beliau seperti tuduhan gila. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menafikan sifat gila dari Beliau karena nikmat Allah dan ihsan-Nya, yaitu dikaruniakan kepadanya akal yang sempurna, pandangan yang bagus dan kata-kata yang tepat yang paling baik untuk ditulis. Hal ini merupakan kebahagiaan untuk Beliau di dunia, selanjutnya kebahagiaan untuk Beliau di akhirat sebagaimana diterangkan di ayat selanjutnya adalah bahwa untuk Beliau pahala yang besar yang tidak akan putus, karena amal Beliau yang saleh dan akhlaknya yang sempurna. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
[2] Baik natsr (tulisan bebas) maupun nazhm (tulisan bersusun seperti syair).
[3] Ayat ini merupakan bantahan terhadap ucapan orang-orang kafir bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang gila.
[4] Kesimpulan akhlak Beliau adalah seperti yang dikatakan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, “Kaana khuluquhul Qur’aan,” (artinya: Akhlak Beliau adalah Al Qur’an). Beliau melakukan apa yang disebutkan dalam Al Qur’an seperti pada ayat-ayat berikut:
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Terj. Al A’raaf: 199)
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Terj. Ali Imran: 159)
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Terj. At Taubah: 128)
dan ayat-ayat lainnya yang menyebutkan sifat-sifat Beliau yang mulia serta ayat-ayat lainnya yang mendorong untuk berakhlak mulia. Oleh karena itu, Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan paling agung, dimana tidak ada satu pun akhlak mulia kecuali Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menduduki peringkat tertinggi. Oleh karena itu, Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam orangnya mudah, dekat dengan manusia, memenuhi undangan orang yang mengundangnya, memenuhi kebutuhan orang yang butuh, memberi orang yang meminta-minta dan tidak mengecewakannya. Apabila para sahabatnya menginginkan suatu perkara dari Beliau, maka Beliau menyetujui mereka serta mengikuti mereka jika tidak ada larangannya, dan jika ingin melakukan suatu langkah, maka Beliau mengajak para sahabatnya bermusyawarah terhadapnya. Beliau menerima orang yang berbuat ihsan dan memaafkan orang yang bersalah dan tidaklah ada orang yang duduk dengan Beliau kecuali Beliau bersikap dengan sikap yang sebaik-baiknya untuk Beliau. Oleh karena itu, Beliau tidak bermuka masam, tidak keras ucapannya, tidak menyembunyikan kegembiraannya, menjaga lisannya dari ucapan yang tidak berguna, tidak membalas orang yang bertindak kasar terhadap diri Beliau, Beliau tidak marah jika diri Beliau disakiti, tetapi marah jika syariat Allah Subhaanahu wa Ta'aala dilanggar.
[5] Karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menempatkan Beliau pada posisi yang paling tinggi, sedangkan musuh-musuhnya menuduh Beliau sebagai orang yang gila, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,-- Siapa di antara kamu yang gila?”
[6] Kamu ataukah mereka? Sungguh jelas, bahwa Beliau adalah manusia yang paling mendapatkan petunjuk, paling menyempurnakan diri dan orang lain, sedangkan musuh-musuh Beliau adalah manusia paling tersesat dan paling buruk, mereka telah menggelincirkan hamba-hamba Allah dan menyesatkan mereka dari jalan-Nya. Cukuplah pengetahuan Allah terhadapnya; Dia lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapatkan petunjuk, dan Dialah yang akan menghisab mereka dan memberi balasan.
[7] Dalam ayat ini terdapat ancaman bagi orang-orang yang sesat, janji kebaikan untuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk, menjelaskan kebijaksanaan Allah, dimana Dia memberi petunjuk orang yang layak memperoleh hidayah tidak selainnya.
[8] Hal itu, karena mereka tidak layak diikuti, karena mereka tidaklah menyuruh kecuali yang sesuai hawa nafsu mereka, dan mereka tidak menginginkan selain kebatilan. Oleh karena itu, menaati mereka sama saja mempersiapkan dirinya kepada sesuatu yang membahayakannya, dan hal ini umum kepada setiap orang yang mendustakan dan pada setiap ketaatan yang timbul dari mendustakan, meskipun susunan ayatnya untuk sesuatu yang khusus, yaitu kaum musyrikin meminta kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk diam tidak mencela sesembahan dan agama mereka sehingga mereka pun akan diam terhadap Beliau. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula).”
[9] Yakni sepakat dengan yang mereka pegang, baik dengan ucapan, perbuatan maupun dengan mendiamkan, sehingga mereka akan bersikap lunak terhadap Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.
[10] Akan tetapi Beliau diperintahkan untuk menerangkan perintah Allah dan menerangkan agama-Nya.
[11] Karena tidak ada orang yang seperti itu kecuali ia sebagai pendusta, dan tidak ada yang seperti itu kecuali orang yang keadaannya hina.
[12] Mahiin bisa juga diartikan ‘hina’, yakni dirinya hina, tidak ada kemauan kepada kebaikan, bahkan keinginannya hanya tertuju kepada hawa nafsunya yang hina.
[13] Yakni banyak mencela manusia baik dengan menggunjing, menghina maupun dengan lainnya.
[14] Yakni mengadu domba.
[15] Yakni bakhil terhadap hartanya tidak mau menunaikan hak yang seharusnya ditunaikan seperti nafkah yang wajib, kaffarat, zakat, dsb.
[16] Terhadap manusia dengan menzalimi harta, darah dan kehormatan mereka.
[17] Yakni kasar, keras, berakhlak buruk dan tidak mau tunduk kepada kebenaran.
[18] Yakni diragukan keturunannya, tidak ada asalnya yang menghasilkan kebaikan, bahkan akhlaknya adalah seburuk-buruk akhlak, tidak diharapkan kebaikannya, bahkan terkenal kejahatannya.
Kesimpulan ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang menaati setiap orang yang banyak bersumpah lagi pendusta, hina dirinya dan buruk akhlaknya, khususnya akhlak yang mengandung ujub terhadap diri, sombong terhadap kebenaran, merendahkan manusia seperti ghibah dan namimah (adu domba), mencela manusia dan banyak melakukan maksiat. Ayat-ayat di atas meskipun turun berkenaan dengan sebagian kaum musyrikin seperti Walid bin Mughirah atau selainnya namun umum kepada setiap orang yang memiliki sifat ini, karena Al Qur’an turun untuk memberi hidayah kepada manusia, baik untuk generasi pertama mereka maupun generasi yang datang kemudian, bahkan terkadang turun sebagian ayat karena satu sebab atau pada orang tertentu agar jelas kaidah keumumannya dan dapat diketahui permisalan juz’iyyah(satuan)nya bahwa ia masuk ke dalam kaidah umum.
[19] Orang yang mempunyai banyak anak dan harta lebih mudah mendapat pengikut. Tetapi jika dia mempunyai sifat-sifat seperti tersebut pada ayat 10-13, maka tidak patut diikuti.
[20] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengancam orang yang seperti itu sifatnya, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menandai hidungnya untuk diazab dengan azab yang tampak jelas.
[21] Yang dimaksud dengan ‘belalai’ di sini ialah hidung. Dipakai kata belalai di sini sebagai penghinaan.
Langganan:
Postingan (Atom)