Tampilkan postingan dengan label 069-Al Haaqqah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 069-Al Haaqqah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Mei 2014

Tafsir Al Haaqqah Ayat 38-52

Ayat 38-52: Menguatkan kebenaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan amanahnya dalam menyampaikan wahyu, dan membantah kedustaan orang-orang musyrik.

فَلا أُقْسِمُ بِمَا تُبْصِرُونَ (٣٨) وَمَا لا تُبْصِرُونَ (٣٩) إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (٤٠) وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلا مَا تُؤْمِنُونَ (٤١) وَلا بِقَوْلِ كَاهِنٍ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ (٤٢) تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٤٣)وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأقَاوِيلِ (٤٤) لأخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (٤٥)ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (٤٦) فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ (٤٧)وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (٤٨) وَإِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّ مِنْكُمْ مُكَذِّبِينَ (٤٩) وَإِنَّهُ لَحَسْرَةٌ عَلَى الْكَافِرِينَ (٥٠) وَإِنَّهُ لَحَقُّ الْيَقِينِ (٥١) فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ (٥٢)

Terjemah Surat Al Haaqqah Ayat 38-52

38. Maka aku bersumpah dengan apa[1] yang kamu lihat,

39. dan dengan apa yang tidak kamu lihat[2].

40. Sesungguhnya ia (Al Quran itu) benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,

41. dan ia (Al Quran) bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.

42. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya.

43. Ia (Al Qur’an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam.

44. [3]Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,

45. Pasti Kami pegang dia pada tangan kanan[4].

46. Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya.

47. Maka tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya).

48. Dan sungguh, Al Quran itu suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa[5].

49. Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakannya (Al Qur’an)[6].

50. Dan sungguh, Al Quran itu akan menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat)[7].

51. Dan sungguh, Al Quran itu kebenaran yang meyakinkan[8].

52. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahaagung[9].

KANDUNGAN AYAT

[1] Yakni makhluk.

[2] Sehingga termasuk semua makhluk. Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan semua makhluk untuk menunjukkan benarnya Al Qur’an yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa ia adalah firman-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga membersihkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam dari tuduhan yang dilontarkan oleh musuh-musuh Beliau, bahwa Beliau adalah penyair atau pesihir, dan bahwa yang mendorong mereka menuduh seperti itu adalah karena mereka tidak beriman dan tidak mengambil pelajaran. Kalau sekiranya mereka beriman dan mengambil pelajaran, tentu mereka akan mengetahui apa yang bermanfaat bagi mereka dan apa yang berbahaya, di antaranya adalah mereka akan melihat keadaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, memperhatikan sifat dan akhlaknya, dimana dari situ mereka akan melihat kebenaran Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Beliau adalah utusan-Nya dan bahwa Al Qur’an yang Beliau bawa adalah firman Allah Tuhan seluruh alam, bukan perkataan manusia, bahkan perkataan itu (Al Qur’an) menunjukkan keagungan yang berfirman, kebesaran sifat-sifat-Nya, sempurnanya tarbiyah(pendidikan)-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan tingginya Dia di atas semua makhluk-Nya.

[3] Yakni kalau memang Beliau mengada-ada atas nama Allah, tentu Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan segera menghukumnya karena Dia Mahabijaksana lagi Mahakuasa atas segala sesuatu. Kebijaksanaan-Nya menghendaki untuk tidak menunda hukuman terhadap orang yang berdusta atas nama-Nya. Tetapi kenyataannya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala membela Beliau dan memenangkan Beliau terhadap musuhnya, maka yang demikian merupakan dalil terbesar yang menunjukkan kerasulannya.

#  syariat yang beliau sampaikan bersumber dari Allâh Azza wa Jalla.Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengatakan sesuatu atas dasar pendapat pribadinya dalam perkara yang terkait kapasitasnya sebagai penyampai risalah Allâh Azza wa Jalla . Itulah hakekat status beliau sebagai utusan Allâh Azza wa Jalla

# Allâh Azza wa Jalla tidak akan mendukung orang yang mengadakan kebohongan atas nama-Nya, akan tetapi pasti akan menampakkan kedustaannya dan menyiksanya.

[4] Maksudnya, Kami beri tindakan yang sekeras-kerasnya.

[5] Dengan Al Qur’an mereka dapat mengingat hal yang bermaslahat bagi mereka baik dalam hal agama maupun dunia, mereka dapat mengetahuinya dan dapat mengamalkannya. Al Qur’an juga mengingatkan mereka ‘aqidah yang benar, akhlak yang diridhai dan hukum-hukum syar’i sehingga mereka menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk.

[6] Dalam ayat ini terdapat ancaman bagi orang-orang yang mendustakan Al Qur’an, yaitu bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menghukum mereka dengan hukuman yang berat.

[7] Ketika mereka melihat pahala orang-orang yang membenarkan Al Qur’an dan hukuman orang-orang yang mendustakan.

[8] Kebenarannya berada pada posisi paling tinggi, yaitu sampai meyakinkan yang merupakan ilmu yang tetap, tidak goyang dan tidak ragu-ragu lagi. Yakin ada tiga tingkatan: (1) ‘Ilmul yaqiin, yaitu ilmu yang diambil dari berita, (2) ‘Ainul yaqiin, yaitu ilmu yang diperoleh dari melihat langsung, (3) Haqqul yaqiin, yaitu ilmu yang diperoleh dari merasakan langsung. Nah, Al Qur’an ini menempati posisi paling tinggi, yaitu haqqul yaqiin karena di dalamnya terdapat ilmu yang diperkuat dengan bukti-bukti yang pasti, hakikat dan ma’rifat keimanan sehingga dengannya seseorang merasakan kebenarannya secara haqqul yaqiin.

[9] Yakni sucikanlah Dia dari segala yang tidak layak dengan keagungan-Nya dan sucikanlah Dia dengan menyebutkan sifat-sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan-Nya.

Tafsir Al Haaqqah Ayat 25-37

Ayat 25-37: Keadaan orang kafir pada hari itu, yaitu diberi catatan amal dengan tangan krinya.

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ (٢٥)وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (٢٦) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (٢٧)مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (٢٨)هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (٢٩) خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (٣٠) ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ (٣١) ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ (٣٢) إِنَّهُ كَانَ لا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ (٣٣) وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣٤) فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَا هُنَا حَمِيمٌ (٣٥) وَلا طَعَامٌ إِلا مِنْ غِسْلِينٍ (٣٦) لا يَأْكُلُهُ إِلا الْخَاطِئُونَ (٣٧)

25. [1]Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata[2], "Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku[3].

26. Sehingga aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku[4].

27. Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu.

28. [5]Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku.

29. Kekuasaanku telah hilang dariku[6]."

30. (Allah berfirman[7]), "Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.”



31. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.

32. Kemudian belitlah dia dengan rantai[8] yang panjangnya tujuh puluh hasta.

33. [9]Sesungguhnya Dialah orang yang tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar.

34. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin[10].

35. Maka pada hari ini[11] di sini tidak ada seorang teman pun baginya[12].

36. Dan tidak ada makanan (baginya) kecuali dari darah dan nanah.

37. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa[13].


[1] Orang-orang yang celaka diberikan catatan amal mereka yang buruk dengan tangan kiri mereka untuk memisahkan mereka dengan yang lain dan untuk menghinakan mereka sekaligus membuka aib mereka.

[2] Dalam keadaan sedih dan duka.

[3] Karena ia diberi kabar gembira dengan masuk ke neraka dan mendapatkan kesengsaraan yang kekal.

[4] Yakni alangkah baiknya aku menjadi sesuatu yang dilupakan, tidak dibangkitkan dan tidak dihisab.

[5] Selanjutnya ia melihat kepada harta dan kekuasaannya, ternyata menjadi musibah baginya, tidak berguna baginya di akhirat dan tidak bisa dipakai menebus dirinya dari azab Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[6] Tentara yang banyak telah menghilang, perlengkapan yang kuat telah sirna dan kedudukan telah tiada.

[7] Kepada para malaikat Zabaniyyah yang keras dan kasar.

[8] Yang panas.

[9] Sebab ia diazab dengan azab yang demikian rupa adalah karena dia tidak beriman kepada Allah, yakni kafir kepada-Nya, menentang para rasul-Nya dan menolak kebenaran yang mereka bawa.

[10] Dalam hatinya tidak ada rasa kasih sayang kepada orang-orang miskin, tidak memberi mereka makan, atau jika tidak mempunyai harta untuk disedekahkan, mereka tidak juga mau mendorong orang lain untuk memberi makan orang-orang miskin.

Ayat ini dan ayat sebelumnya menunjukkan bahwa sumber kebahagiaan terletak pada dua, yaitu ikhlas yang asalnya adalah beriman kepada Allah, dan berbuat ihsan kepada makhluk dengan berbagai macam bentuknya, dimana di antara yang paling besarnya adalah menutupi kebutuhan pokok orang-orang yang membutuhkan seperti memberi mereka makan.

[11] Yakni hari Kiamat.

[12] Sehingga ia merasakan penderitaan luar dan dalam, luar dengan disiksa dan dalam dengan kesedihan yang bertumpuk-tumpuk tanpa ada teman yang memberikan syafaat untuknya agar ia dapat selamat dari azab Allah. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa'at yang diterima syafa'atnya.” (Terj. Ghaafir: 18)

[13] Yang tidak menempuh jalan yang lurus, bahkan menempuh jalan ke neraka. Oleh karena itulah, mereka berhak mendapatkan azab yang pedih.

Tafsir Al Haaqqah Ayat 13-24

Ayat 13-18: Kejadian hari Kiamat, peniupan sangkakala dan hancurnya alam semesta.

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ (١٣)وَحُمِلَتِ الأرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً (١٤)فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (١٥)وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ (١٦)وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ (١٧)يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ (١٨)

Terjemah Surat Al Haaqqah Ayat 13-18

13. [1]Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup[2],

14. dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan[3].

15. Maka pada hari itu terjadilah hari Kiamat,

16. dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh.

17. Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit[4]. Pada hari itu delapan malaikat[5] menjunjung 'Arsy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka[6].

18. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu)[7], tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah)[8].



Ayat 19-24: Keadaan orang mukmin pada hari itu, yaitu diberi catatan amal dengan tangan kanannya.

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ (١٩) إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلاقٍ حِسَابِيَهْ (٢٠) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (٢١)فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ (٢٢) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ (٢٣)كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ (٢٤)

Terjemah Surat Al Haaqqah Ayat 19-24

19. [9]Adapun orang yang kitabnya[10] diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata[11], "Ambillah, bacalah kitabku (ini).”

20. Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima hisab terhadap diriku[12].

21. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai[13],

22. dalam surga yang tinggi,

23. buah-buahannya dekat[14],

24. (kepada mereka dikatakan), "Makan dan minumlah dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu[15].”


[1] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan tindakan-Nya terhadap orang-orang yang mendustakan para rasul-Nya, bagaimana Dia membalas mereka dan menyegerakan hukuman untuk mereka di dunia, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyelamatkan Rasul dan para pengikut mereka, dimana hal ini menjadi pengantar untuk menerangkan balasan di akhirat dan penyempurnaan balasan, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan perkara-perkara dahsyat yang akan terjadi pada hari Kiamat yang diawali dengan peniupan sangkakala.

[2] Yaitu tiupan yang pertama yang menghancurkan alam semesta. Setelah itu, ditiuplah tiupan kedua, maka manusia bangkit menghadap Allah Rabbul ‘aalamiin.

[3] Maka semuanya menjadi rata, tidak tampak tempat tinggi dan tidak tampak tempat rendah. Inilah yang dilakukan terhadap bumi. Ada pun terhadap langit, maka ia akan terbelah dan berubah warnanya dan menjadi lemah setelah sebelumnya kuat. Hal itu tidak lain karena perkara yang dahsyat yang membuatnya terbelah dan huru-hara yang besar yang membuatnya lemah.

[4] Dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri kepada keagungan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[5] Yang sangat kuat.

[6] Ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala datang untuk memberikan keputusan di antara manusia dengan keadilan dan karunia-Nya.

[7] Untuk dihisab.

[8] Baik badanmu, amalmu maupun sifatmu, karena sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Ketika itu, manusia dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan dalam keadaan belum disunat dan berada di atas tanah yang rata, dimana seruan akan terdengar oleh mereka dan mereka dapat terlihat semua. Ketika itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala membalas mereka sesuai yang mereka kerjakan. Oleh karena itulah, pada ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan cara pembalasan.

[9] Mereka yang disebutkan dalam ayat ini adalah orang-orang yang berbahagia, mereka diberi catatan amal dengan menerimanya dengan tangan kanan untuk memisahkan antara mereka dengan yang lain dan meninggikan mereka.

[10] Maksudnya, catatan amal perbuatannya.

[11] Dengan gembira dan senang.

[12] Yakni yang menyebabkan aku memperoleh keadaan ini adalah karena nikmat Allah kepadaku dengan mengaruniakan keimanan kepadaku kepada kebangkitan dan hisab, sehingga aku mempersiapkan diri dengan mengerjakan amal yang bisa aku lakukan.

[13] Yang di dalamnya terdapat semua yang menyenangkan dan menyejukkan pandangan serta memuaskan mereka sehingga mereka tidak mau memilih lagi yang lain.

[14] Yakni dapat dipetik oleh orang yang berdiri, duduk dan berbaring.

[15] Seperti shalat, zakat, puasa, haji, berbuat ihsan kepada manusia, dzikrullah dan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, amal saleh Allah jadikan sebagai sebab seseorang masuk surga, sebagai bahan kenikmatannya dan sumber kebahagiaannya.

Tafsir Al Haaqqah Ayat 1-12

Surah Al Haaqqah (Hari Kiamat)

Surah ke-69. 52 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-12: Peristiwa dahsyat pada hari Kiamat dan hukuman bagi orang-orang yang mendustakannya.

الْحَاقَّةُ (١) مَا الْحَاقَّةُ (٢) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّةُ (٣) كَذَّبَتْ ثَمُودُ وَعَادٌ بِالْقَارِعَةِ (٤) فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِ (٥) وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (٦) سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (٧) فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ (٨) وَجَاءَ فِرْعَوْنُ وَمَنْ قَبْلَهُ وَالْمُؤْتَفِكَاتُ بِالْخَاطِئَةِ (٩) فَعَصَوْا رَسُولَ رَبِّهِمْ فَأَخَذَهُمْ أَخْذَةً رَابِيَةً (١٠) إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ (١١) لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ (١٢)

Terjemah Surat Al Haaqqah Ayat 1-12

1. Hari kiamat[1],

2. Apakah hari kiamat itu?

3. Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?[2]

4. Kaum Tsamud[3], dan 'Aad[4] telah mendustakan hari Kiamat[5].

5. Maka adapun kaum Tsamud, mereka telah dibinasakan dengan suara yang sangat keras[6],

6. Sedangkan kaum 'Aad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan[7] yang sangat dingin[8],

7. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus menerus[9]; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk)[10].



8. Maka adakah kamu melihat seorang pun yang masih tersisa di antara mereka[11]?

9. Kemudian datang Fir'aun[12] dan orang-orang yang sebelumnya[13] dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkirbalikkan karena kesalahan yang besar[14].

10. Maka mereka mendurhakai utusan Tuhannya, Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras[15].

11. Sesungguhnya ketika air telah naik (sampai ke gunung), Kami membawa (nenek moyang) kamu[16] ke dalam kapal[17],

12. agar Kami jadikan peristiwa itu[18] sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar[19].


[1] Al Haaqaah menurut bahasa berarti yang pasti terjadi. Hari kiamat dinamakan Al Haaqqah karena ia pasti terjadi dan akan menimpa makhluk, akan menjelaskan hakikat berbagai perkara dan apa yang disembunyikan dalam hati. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memperbesar urusannya dengan pengulangan kata-kata Al Haaqqah seperti yang anda lihat.

[2] Yakni sesungguhnya urusannya begitu besar dan dahsyat, dimana di antara kedahsyatannya adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala membinasakan umat-umat yang yang mendustakan hari Kiamat dengan azab yang segera. Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan salah satu contohnya yang terjadi dan dapat disaksikan di dunia, yaitu azab yang Allah timpakan kepada umat-umat yang melampaui batas.

[3] Tsamud adalah kabilah yang terkenal yang menempati Hijr, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus kepada mereka Nabi Shalih ‘alaihis salam, Beliau melarang mereka berbuat syirk dan memerintahkan mereka bertauhid, namun mereka menolak dakwah Beliau dan mendustakannya serta mendustakan apa yang Beliau beritakan tentang hari Kiamat.

[4] Mereka tinggal di Hadhramaut; Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus kepada mereka Rasul-Nya Hud ‘alaihis salam yang mengajak mereka mentauhidkan Allah, namun mereka mendustakan Beliau dan mendustakan apa yang Beliau beritakan tentang kebangkitan, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala membinasakan kedua kabilah itu dengan azab yang segera.

[5] Al Qaari'ah menurut bahasa berarti yang menggentarkan hati, hari kiamat dinamakan Al Qaari'ah karena ia menggentarkan hati.

[6] Yaitu petir yang sangat keras yang menyebabkan suara yang mengguntur yang dapat menghancurkan dan membinasakan, sehingga ruh mereka keluar dari jasad mereka dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan.

[7] Yakni angin yang sangat kencang hembusannya sampai memiliki suara melebihi suara guruh.

[8] Yakni yang keras sampai melampaui batas.

[9] Sehingga menghancurkan dan membinasakan mereka.

[10] Yakni seperti batang-batang pohon kurma yang telah terpotong pangkalnya dan jatuh.

[11] Maksudnya, mereka habis dihancurkan sama sekali dan tidak mempunyai keturunan. Kalimat pertanyaan ini isinya adalah penguatan untuk menafikan bahwa tidak ada seorang di antara mereka yang masih hidup.

[12] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus kepadanya hamba dan Rasul-Nya Musa ‘alaihis salam, menunjukkan kepadanya bukti-bukti akan kebenarannya, tetapi ia mengingkarinya karena zalim dan keras kepala.

[13] Maksudnya, umat-umat dahulu yang mengingkari nabi-nabi seperti kaum Shaleh, kaum Syu'aib dan lain-lain.

[14] Maksud negeri-negeri yang dijungkirbalikkan ialah negeri-negeri kaum Luth. Sedangkan kesalahan yang dilakukan mereka ialah mendustakan para rasul ditambah melakukan perbuatan keji dan munkar.

[15] Yakni siksaan yang melebihi batas dan ukuran sehingga membuat mereka binasa. Di antara mereka yang dibinasakan itu adalah kaum Nuh; Allah Subhaanahu wa Ta'aala membinasakan mereka dengan banjir besar yang sampai menutupi bagian bumi yang tinggi seperti gunung dan perbukitan.

[16] Yang dibawa dalam kapal Nabi Nuh ‘alaihis salam untuk diselamatkan ialah keluarga Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman selain anaknya yang durhaka.

[17] Yang dibuat oleh Nabi Nuh ‘alaihis salam. Oleh karena itu, pujilah Allah dan bersyukurlah kepada-Nya karena Dia telah menyelamatkan kamu ketika Dia membinasakan orang-orang yang melampaui batas, dan ambillah pelajaran darinya yang menunjukkan keesaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan kekuasaan-Nya.

[18] Yakni penyelamatan kaum mukmin dan penenggelaman orang-orang kafir. Ada pula yang menafsirkan dhamir (kata ganti nama) ‘haa’ dengan kapal, yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan kapal itu sebagai pengingat terhadap kapal pertama yang dibuat, kisahnya dan bagaimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyelamatkan orang-orang yang beriman kepada-Nya dan mengikuti Rasul-Nya, dan bagaimana Dia membinasakan penghuni bumi semuanya.

[19] Yaitu orang-orang yang berakal, dimana mereka akan memikirkannya dan mengetahui maksudnya. Berbeda dengan orang yang berpaling dan lalai, maka mereka tidak dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah karena tidak mau mendengarkan dan memikirkan ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta'aala.