Tampilkan postingan dengan label 070-Al Ma’aarij. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 070-Al Ma’aarij. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Mei 2014

Tafsir Al Ma’aarij Ayat 36-44

Ayat 36-39: Membicarakan tentang orang-orang kafir yang mengolok-olok Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan anehnya mereka ingin masuk surga.

فَمَالِ الَّذِينَ كَفَرُوا قِبَلَكَ مُهْطِعِينَ (٣٦) عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ (٣٧) أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ (٣٨)كَلا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ (٣٩)

Terjemah Surat Al Ma’aarij ayat 36-39

36. [1]Maka mengapa orang-orang kafir itu datang bergegas ke hadapanmu (Muhammad),

37. dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok[2]?

38. Apakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk surga yang penuh kenikmatan[3]?

39. Tidak mungkin![4] Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui[5].

Ayat 40-44: Sumpah bahwa kebangkitan dan pembalasan adalah hak (benar), tidak ada keraguan padanya dan bahwa ia pasti terjadi.





فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ (٤٠) عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ (٤١) فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّى يُلاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ (٤٢) يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الأجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَى نُصُبٍ يُوفِضُونَ (٤٣) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ (٤٤)



Terjemah Surat Al Ma’aarij ayat 40-44

40. [6]Maka Aku bersumpah demi Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya (matahari, bulan dan bintang), sungguh, Kami pasti mampu,

41. untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami tidak dapat dikalahkan.

42. [7]Maka biarkanlah mereka tenggelam dan bermain-main (dalam kesesatan) sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka[8],

43. [9](yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia)[10],

44. pandangan mereka tertunduk ke bawah diliputi kehinaan[11]. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka.


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menerangkan tentang tertipunya orang-orang kafir.

[2] Dengan merasa bangga terhadap apa yang ada pada mereka. Menurut keterangan sebagian ahli tafsir, ayat ini berhubungan dengan peristiwa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat dan membaca Al Quran di dekat ka'bah lalu orang-orang musyrik berkumpul berkelompok-kelompok di hadapannya sambil mengejek dan mengatakan, “Jika orang-orang mukmin benar-benar akan masuk surga sebagaimana kata Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tentu kita yang akan masuk lebih dahulu.” Maka turunlah ayat 38.

[3] Sebab apa yang membuat mereka berkeinginan demikian? Bukankah yang mereka siapkah hanya kekafiran dan mengingkari Rabbul ‘aalamiin.

[4] Keadaannya tidaklah sesuai dengan harapan mereka dan mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan meskipun mereka kerahkan kemampuan mereka.

[5] Yang dimaksud dengan ayat ini ialah, bahwa mereka (orang-orang kafir) diciptakan Allah dari air mani untuk beriman dan bertakwa kepada-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan Rasul. Jika mereka tidak beriman dan bertakwa, maka mereka tidak berhak masuk surga. Atau maksudnya, karena mereka diciptakan dari air mani sehingga mereka lemah tidak berkuasa apa-apa untuk memberikan manfaat kepada diri mereka dan menghindarkan bahaya, tidak berkuasa mematikan, menghidupkan dan membangkitkan.

[6] Ini merupakan sumpah Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan tempat-tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang, karena di sana terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan bahwa Dia berkuasa membangkitkan dan berkuasa mengganti mereka dengan kaum yang lebih baik.

[7] Jika telah tetap kebangkitan dan pembalasan, namun mereka masih tetap mendustakan juga dan tidak mau tunduk kepada ayat-ayat Allah, maka biarkanlah mereka tenggelam dan bermain-main dalam kesesatan.

[8] Karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyediakan untuk mereka pada hari itu siksaan dan bencana akibat sikap mereka itu.

[9] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan keadaan manusia ketika mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka.

[10] Ada pula yang menafsirkan ‘nushub’ dengan ‘bendera’, yakni mereka seakan-akan pergi dengan segera kepadanya. Mereka pergi untuk berdiri di hadapan Allah Rabbul ‘aalamiin.

[11] Hal itu, karena kehinaan dan kecemasan menguasai hati mereka sehingga penglihatan mereka pun ikut tertunduk, gerakan pun berhenti dan suara pun terdiam.

Tafsir Al Ma’aarij Ayat 19-35

Ayat 19-21: Tabiat manusia yang tidak dilengkapi iman dan pendidikan, dan bahwa ajaran Islam mengatasi sifat-sifat buruk pada manusia.

إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (٢١)

Terjemah Surat Al Ma’aarij Ayat 19-21

19. Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh[1].

20. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah[2],

21. dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir[3],

Ayat 22-35: Sifat orang-orang mukmin dan balasan untuk mereka.

إِلا الْمُصَلِّينَ (٢٢) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ (٢٣) وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (٢٤) لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (٢٥) وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (٢٦) وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (٢٧) إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (٢٨) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (٢٩) إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (٣٠) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (٣١)وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (٣٢) وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (٣٣) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (٣٤)أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ (٣٥)

Terjemah Surat Al Ma’aarij Ayat 22-35

22. Kecuali orang-orang yang melaksanakan shalatnya[4],

23. mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya[5],

24. dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu[6],

25. Bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta,

26. dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan[7],

27. dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya[8],



28. sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang merasa aman (dari kedatangannya),

29. dan orang-orang yang memelihara kemaluannya[9],

30. kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki[10] maka sesungguhnya mereka tidak tercela.

31. Maka barang siapa mencari di luar itu[11], mereka itulah orang-orang yang melampaui batas[12].

32. Dan orang-orang yang memelihara amanat[13] dan janjinya[14],

33. dan orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya[15],

34. dan orang-orang yang memelihara shalatnya[16].

35. Mereka itu[17] dimuliakan dalam surga[18].


[1] Inilah sifat yang menjadi tabiat asli manusia, yaitu haluu' (suka mengeluh), dan diterangkan secara lebih lanjut tentang sifat haluu’ ini di ayat selanjutnya.

[2] Ia berkeluh kesah ketika mendapatkan musibah seperti kemiskinan, sakit, hilangnya yang dicintai baik harta, istri maupun anak dan tidak menyikapinya dengan sikap sabar dan ridha kepada taqdir Allah.

[3] Dia tidak menginfakkan harta yang Allah berikan kepadanya dan tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya; dia berkeluh kesah ketika mendapatkan kesusahan dan menjadi kikir ketika mendapatkan kesenangan.

[4] Yaitu orang-orang mukmin. Mereka apabila mendapatkan kebaikan, maka mereka bersyukur kepada Allah dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Allah berikan, dan apabila mereka mendapatkan kesusahan, maka mereka bersabar dan mengharap pahala. Sifat-sifat mereka ini disebutkan dalam ayat selanjutnya.

[5] Mereka senantiasa melakukan shalat pada waktunya dengan memenuhi syarat dan penyempurnanya. Mereka bukanlah orang yang tidak melaksanakannya dan bukan pula orang yang mengerjakannya jarang-jarang atau melakukannya secara kurang.

[6] Untuk zakat dan sedekah.

[7] Yakni beriman kepada apa yang Allah dan Rasul-Nya beritakan, seperti kebangkitan dan pembalasan, mereka meyakininya dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Beriman kepada hari pembalasan mengharuskan pula beriman kepada para rasul dan apa yang mereka bawa.

[8] Oleh karena itulah, mereka menjauhi segala yang dapat membuat mereka diazab.

[9] Oleh karena itu, mereka tidak menaruhnya di tempat yang haram seperti zina, liwath (homoseks), menaruhnya di dubur atau ketika istri haidh, dsb. Mereka juga meninggalkan sarana-sarana yang haram yang dapat mendorong mereka berbuat keji.

[10] Maksudnya, budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. Dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan ini bukanlah suatu yang diwajibkan. Imam boleh melarang kebiasaan ini.

[11] Yakni selain istrinya dan budaknya, seperti melakukan zina, homoseks, lesbian dan sebagainya.

[12] Dari yang halal kepada yang haram. Ayat ini juga menunjukkan haramnya nikah mut’ah (kontrak), karena keadaan wanitanya bukan istri yang dimaksudkan dan bukan pula budak.

[13] Mereka memeliharanya, melaksanakan kewajibannya dan berusaha memenuhinya. Amanah di sini mencakup amanah antara seorang hamba dengan Tuhannya seperti beban (kewajiban) agama dan beban-beban yang menjadi tanggung jawabnya yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh Allah seperti titipan, maupun amanah antara seorang hamba dengan hamba yang lain baik dalam hal harta maupun sesuatu yang dirahasiakan.

[14] Baik janji antara dia dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, maupun janji antara dia dengan hamba-hamba Allah. Janji ini akan ditanya; apakah dia memenuhinya atau tidak?

[15] Mereka bersaksi sesuai yang mereka ketahui tanpa menambah, mengurangi atau menyembunyikan, tidak memihak kepada kerabat, teman dan lainnya, tetapi dia lakukan karena mencari keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagaimana firman-Nya, “Wa aqiimusy syahaadata lillah.” (artinya: tegakkanlah persaksian karena Allah).

[16] Dengan melaksanakannya pada waktunya, terpenuhi rukun dan syaratnya dan mengerjakan yang wajib dan sunnahnya.

[17] Yang telah disebutkan sifatnya.

[18] Kesimpulan ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati orang-orang yang berbahagia dengan sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia, yaitu ibadah badan seperti shalat dan konsisten di atasnya, ibadah hati seperti takut kepada Allah yang mendorong melakukan semua perbuatan yang baik, Ibadah harta, ‘aqidah yang bermanfaat, akhlak yang utama, bermu’amalah dengan Allah dan dengan makhluk-Nya dengan mu’amalah yang terbaik seperti inshaf (adil), memelihara janji dan rahasia, memiliki rasa ‘iffah (menjaga diri dari yang haram) secara sempurna dengan menjaga kemaluan dari perkara yang dibenci Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

Tafsir Al Ma’aarij Ayat 1-18

Surah Al Ma’aarij (Tempat-tempat naik)

Surah ke-70. 44 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-7: Sikap melampaui batas orang-orang kafir dan bagaimana mreka mengolok-olok peringatan dan azab yang diancamkan.

سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ (١) لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ (٢) مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ (٣) تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ (٤) فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلا (٥) إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا (٦) وَنَرَاهُ قَرِيبًا (٧)

Terjemah Surat Al Ma’aarij Ayat 1-7

1. [1]Seseorang bertanya[2] tentang azab yang pasti terjadi,

2. Bagi orang-orang kafir[3], yang tidak seorang pun dapat menolaknya[4],

3. (azab) dari Allah, yang memiliki tempat-tempat naik[5].

4. Para malaikat dan Jibril[6] naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun[7].

5. Maka bersabarlah engkau (Muhammad) dengan kesabaran yang baik[8].

6. Mereka memandang (azab) itu[9] jauh (mustahil)[10].

7. Sedang Kami memandangnya dekat (pasti terjadi).

Ayat 8-18: Peristiwa pada hari Kiamat dan keadaan orang-orang yang berdosa pada hari itu.



يَوْمَ تَكُونُ السَّمَاءُ كَالْمُهْلِ (٨) وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ (٩) وَلا يَسْأَلُ حَمِيمٌ حَمِيمًا (١٠) يُبَصَّرُونَهُمْ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ (١١) وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ (١٢) وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ (١٣) وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنْجِيهِ (١٤) كَلا إِنَّهَا لَظَى (١٥) نَزَّاعَةً لِلشَّوَى (١٦) تَدْعُو مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّى (١٧) وَجَمَعَ فَأَوْعَى (١٨)

Terjemah Surat Al Ma’aarij Ayat 8-18

8. [11](Ingatlah) pada hari ketika langit menjadi bagaikan cairan tembaga[12],

9. dan gunung-gunung bagaikan bulu (yang beterbangan)[13],

10. Dan tidak ada seorang teman karib pun menanyakan temannya[14],

11. Sedang mereka saling melihat[15]. Pada hari itu, orang yang berdosa[16] ingin sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab dengan anak-anaknya,

12. dan istrinya dan saudaranya,

13. dan keluarganya yang melindunginya (di dunia)[17],

14. dan orang-orang di bumi seluruhnya, kemudian mengharapkan (tebusan) itu dapat menyelamatkannya.

15. Sama sekali tidak![18] Sungguh, neraka itu api yang bergejolak,

16. yang mengelupaskan kulit kepala[19],

17. Yang memanggil orang yang membelakangi (kebenaran) dan yang berpaling (dari agama),

18. dan orang yang mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya[20].


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menerangkan tentang bodohnya orang-orang yang menentang Rasul-Nya, dimana mereka meminta disegerakan azab sambil mengolok-olok, menyusahkan diri dan berusaha untuk melemahkan.

[2] Yakni meminta disegerakan azab. Orang ini adalah An Nadhr bin Al Haarits Al Qurasyi atau orang musyrik lainnya yang berkata, “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, ia benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”

[3] Karena mereka berhak mendapatkannya.

[4] Oleh karena itu, azab dari Allah akan menimpa mereka, bisa saja Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyegerakan untuk mereka di dunia dan bisa saja Allah Subhaanahu wa Ta'aala menunda di akhirat. Kalau sekiranya mereka mengenal Allah Subhaanahu wa Ta'aala, mengenal keagungan-Nya, luasnya kekuasaan-Nya, sempurnanya nama dan sifat-Nya, tentu mereka tidak akan meminta disegerakan azab dan tentu mereka akan tunduk serta beradab terhadap-Nya. Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala di ayat selanjutnya memberitahukan tentang keagungan-Nya yang bertentangan dengan kata-kata mereka yang buruk.

[5] Yakni tempat para malaikat naik, yaitu langit-langit. Ada pula yang menafsirkan dengan yang mempunyai ketinggian kebesaran dan keagungan serta kepengurusan terhadap semua makhluk.

[6] Ar Ruh di ayat ini ada yang menafsirkan dengan malaikat Jibril, dan ada pula yang menafsirkan dengan semua ruh, baik ruh orang baik maupun ruh orang jahat, yaitu ketika wafat. Ruh orang-orang yang baik naik kepada Allah, lalu ia diizinkan melewati langit yang satu ke langit berikutnya dan seterus sampai ke langit yang di sana ada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Adapun ruh orang-orang kafir, maka ia naik ke atas langit sampai di langit pertama ternyata tidak diizinkan untuk melewati langit tersebut dan dilepaslah ruhnya oleh para malaikat yang membawanya sehingga ia jatuh dari langit seperti yang difirmankan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala, “Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Terj. Al Hajj: 31)

[7] Maksudnya, para malaikat dan ruh jika menghadap Allah Subhaanahu wa Ta'aala memakan waktu satu hari yang apabila dilakukan oleh manusia, memakan waktu lima puluh ribu tahun. Ada pula yang berpendapat, bahwa maksudnya adalah hari Kiamat yang Allah jadikan bagi orang-orang kafir seukuran lima puluh ribu tahun, berbeda dengan orang-orang mukmin yang hanya sebentar.

Syaikh As Sa’diy berkata, “Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan jarak yang ditempuh para malaikat dan ruh ketika menghadap Allah, dan bahwa mereka naik dalam sehari dengan sebab dan bantuan yang Allah berikan kepada mereka berupa kehalusan, ringan dan cepat bergerak, padahal jarak tersebut biasanya ditempuh lamanya seukuran lima puluh ribu tahun dari mulai naik sampai tiba di tempatnya yang ditentukan untuknya dan menjadi tempat terakhir penghuni langit yang tinggi. Ini adalah kerajaan yang besar, alam yang besar, baik bagian atas maupun bawahnya; semuanya diurus ciptaan dan pengaturannya oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala Yang Mahatinggi. Dia mengetahui keadaan mereka yang tampak maupun yang tersembunyi, mengetahui tempat menetap (dunia) dan tempat penyimpanannya (akhirat), Dia menyampaikan kepada mereka rahmat-Nya, kebaikan-Nya dan rezeki-Nya yang merata dan menyeluruh kepada mereka serta memberlakukan hukum qadari-Nya terhadap mereka, hukum syar’inya dan hukum jaza’i(pembalasan)nya. Maka sungguh sengsara mereka yang tidak mengetahui keagungan-Nya, tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang semestinya sehingga mereka meminta disegerakan azab sambil melemahkan dan hendak menguji coba, dan Mahasuci Allah Yang Mahasantun yang menunda mereka dan tidak membiarkan, mereka menyakiti-Nya namun Dia sabar terhadap mereka, menjaga mereka dan mengaruniakan rezeki. Ini adalah salah satu tafsir terhadap ayat yang mulia tersebut, sehingga naik ke atas ini maksudnya di dunia karena susunan yang pertama menunjukkan demikian. Bisa juga maksudnya, bahwa hal ini pada hari Kiamat dan bahwa Allah Tabaaraka wa Ta'aala pada hari Kiamat memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya di antara keagungan dan kebesaran-Nya yang menjadi dalil terbesar untuk mengenal-Nya karena mereka menyaksikan naiknya para malaikat dan ruh ke atas dan ke bawah dengan pengaturan ilahi dan urusan-urusan terhadap makhluk, pada hari itu yang ukurannya lima puluh ribu tahun karena lama dan dahsyatnya, akan tetapi Allah Subhaanahu wa Ta'aala meringankannya untuk orang mukmin.”

[8] Yakni bersabarlah dalam mendakwahi kaummu dengan kesabaran yang baik yang tidak ada sikap bosan di sana. Tetaplah di atas perintah Allah dan ajaklah manusia mentauhidkan-Nya dan janganlah menghalangimu untuk berdakwah sikap mereka tidak mau tunduk terhadap dakwahmu karena bersabar terhadapnya terdapat kebaikan yang besar.

[9] Bisa juga dhamir (k. ganti nama) pada kata “huu” di ayat tersebut kembalinya kepada kebangkitan, dimana pada saat itu terjadi azab terhadap orang-orang yang memintanya itu.

[10] Keadaan mereka adalah keadaan orang-orang yang mengingkarinya sehingga menganggap jauh apa yang ada di hadapannya berupa kebangkitan, padahal Allah Subhaanahu wa Ta'aala memandangnya dekat karena Dia Mahalembut, Mahasantun dan tidak cepat-cepat, dan Dia mengetahui bahwa hal itu pasti terjadi dan sesuatu yang pasti terjadi adalah dekat.

[11] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan huru-hara pada hari Kiamat dan apa yang akan terjadi ketika itu.

[12] Karena terbelahnya dan peristiwa ketika itu sedemikian dahsyat.

[13] Selanjutnya menjadi debu yang berterbangan. Jika kecemasan menimpa benda-benda langit yang besar dan kuat, lalu bagaimana dengan manusia yang lemah yang punggungnya dibebani oleh dosa-dosa? Apa tidak membuat jantungnya berdebar-debar dan membuatnya lupa kepada setiap orang? Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan tidak ada seorang teman karib pun menanyakan temannya.” Meskipun ia melihat temannya, sehingga dalam hatinya tidak terpikir untuk bertanya kepada temannya dan tidak ada yang dipikirkannya selain dirinya.

[14] Karena masing-masing sibuk dengan keadaannya.

[15] Namun tidak bercakap-cakap.

[16] Yaitu orang yang berhak mendapatkan azab.

[17] Pada hari Kiamat seseorang tidak bisa memberikan manfaat kepada seorang pun dan tidak dapat memberi syafaat kecuali dengan izin Allah Subhaanahu wa Ta'aala, bahkan kalau ia (orang yang berdosa) menebus dirinya dari azab dengan semua orang yang ada di bumi agar ia dapat diselamatkan dari azab tentu tidak diterima tebusannya.

[18] Sebagai penolakan terhadap harapan dan keinginannya.

[19] Ada pula yang menafsirkan dengan anggota badan luar dan dalam karena sangat dahsyatnya.

[20] Maksudnya, orang yang menyimpan hartanya dan tidak mau mengeluarkan zakat serta tidak pula menafkahkannya ke jalan yang benar, maka neraka akan memanggil dan melahapnya