Tampilkan postingan dengan label 110-An Nashr. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 110-An Nashr. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Mei 2014

Tafsir An Nashr

Surah An Nashr (Pertolongan)

Surah ke-110. 3 ayat. Madaniyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-3: Membicarakan tentang Fat-hu Makkah dimana ketika itu kaum muslimin menjadi mulia dan agama Islam tersebar ke jazirah Arab, dan tanda selesainya tugas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (١) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (٢) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (٣)

1. [1]Apabila telah datang pertolongan Allah[2] dan kemenangan[3],

2. dan engkau melihat manusia berbondong-bondong[4] masuk agama Allah (Islam),

3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat[5].

KANDUNGAN AYAT :

[1] Dalam surah ini terdapat kabar gembira, perintah kepada Rasul-Nya ketika memperoleh kabar gembira itu, isyarat dan pemberitahuan yang akan terjadi setelahnya.

Kabar gembira itu adalah pertolongan Allah kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, penaklukkan Mekah dan masuknya manusia secara berbondong-bondong kepada agama Allah, yakni banyak yang menjadi pemeluk agamnya dan pengikutnya setelah sebelumnya sebagai musuhnya, dan kabar gembira ini pun terjadi. Setelah hal itu terjadi, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersyukur kepada Tuhannya terhadap hal itu, bertasbih dengan memuji-Nya dan meminta ampunan kepada-Nya. Sedangkan isyarat yang ada di sana ada dua isyarat:

Pertama, isyarat bahwa pertolongan Allah itu akan terus berlanjut kepada agama ini dan akan bertambah ketika dilakukan tasbih sambil memuji-Nya dan beristighfar dari Beliau, karena hal ini termasuk syukur, sedangkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah berjanji, bahwa jika manusia bersyukur, maka Dia akan menambah nikmat-Nya, dan hal ini terbukti, seperti yang terlihat di zaman para khulafa’ raasyidin dan setelahnya bahwa pertolongan Allah Subhaanahu wa Ta'aala senantiasa berlanjut kepada umat ini, sehingga agama Islam telah sampai kepada puncaknya yang tidak dapat ditandingi oleh agama-agama selainnya, dan telah masuk ke dalamnya manusia dalam jumlah yang banyak sampai terjadilah pada umat ini penyimpangan kepada perintah Allah, maka Allah menguji mereka dengan terpecah belahnya kalimat mereka dan terjadilah apa yang terjadi. Meskipun demikian, untuk umat dan agama ini ada rahmat dan kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang tidak disangka-sangka.

Kedua, isyarat bahwa ajal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah semakin dekat. Alasannya adalah bahwa umur Beliau adalah umur yang utama, dan sudah maklum bahwa hal-hal yang utama ditutup dengan istighfar seperti shalat, haji, dsb. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam memuji dan beristighfar dalam keadaan seperti ini sehingga terdapat isyarat bahwa ajalnya hampir tiba, oleh karena itu hendaknya Beliau bersiap-siap untuk bertemu Tuhannya dan mengakhiri umurnya dengan yang paling utama yang dapat Beliau lakukan. Oleh karena itulah, Beliau menakwilkan surah itu dan banyak mengucapkan dalam ruku’ dan sujudnya, “Subhaanakallahumma wabihamdika Allahummaghfirliy.” (artinya: Mahasuci Engkau yang Allah dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah aku).

[2] Kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap musuh-musuhnya.

[3] Yakni fat-hu (penaklukkan) Mekah.

[4] Setelah sebelumnya seorang demi seorang yang masuk Islam. Namun setelah penaklukkan Mekah, maka bangsa Arab dari berbagai penjuru banyak yang datang menemui Beliau menyatakan diri masuk Islam.

[5] Dengan turunnya surah ini diketahui, bahwa ajal Beliau telah semakin dekat; penaklukkan Mekkah terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, sedangkan wafatnya Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam pada bulan Rabi’ul Awwal pada tahun ke-11 Hijriah.

=======================

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ، وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا، فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.
3. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat. [an-Nasr/110 : 1-3]

Surat an-Nashr, dikenal juga dengan sebutan surat at-Taudi’ (perpisahan) [1]. Surat yang berjumlah tiga ayat ini disepakati oleh para ulama sebagai madaniyyah. Maksudnya, turun setelah peristiwa hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah, dan termasuk surat yang terakhir diturunkan. [2]

Dalilnya yaitu:

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ قَالَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ تَعْلَمُ ( وفي لفظ: تَدْرِي ) آخِرَ سُورَةٍ نَزَلَتْ مِنْ الْقُرْآنِ نَزَلَتْ جَمِيعًا قُلْتُ : نَعَمْ . إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ قَالَ صَدَقْتَ

Dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata : Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bertanya kepadaku: “Engkau tahu surat terakhir dari al Qur`an yang turun secara keseluruhan?” Ia menjawab: “Ya, idza ja`a nashrullahi wal fath”. Beliau menjawab: “Engkau benar”.[3]

Secara pasti, terdapat silang pendapat di kalangan ulama tafsir. Ibnu Rajab rahimahullah menyimpulkan bahwa surat ini turun sebelum Fathu Makkah. Karena firman Allah :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

Menunjukkan dengan sangat jelas kalau penaklukan kota Mekkah belum terjadi [4].

PENJELASAN AYAT

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

1. (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan).

Kata nashr, artinya al ‘aun (pertolongan).[5]
Yang dimaksud dengan nashrullah dalam ayat ini, menurut Ibnu Rajab rahimahullah ialah pertolongan-Nya bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat berhadapan dengan musuh-musuhnya, sehingga berhasil beliau menundukkan bangsa ‘Arab semuanya dan berkuasa atas mereka, termasuk atas suku Quraisy, Hawazin dan suku-suku lainnya. [6]

Secara eksplisit, surat ini memuat bisyarah (kabar gembira) bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin. Syaikh ‘Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata,”Dalam surat ini terdapat bisyarah dan perintah kepada Rasul-Nya n pada saat kemunculannya. Kabar gembira ini berupa pertolongan Allah bagi Rasul-Nya dan peristiwa penaklukan kota Mekkah dan masuknya orang-orang ke agama Allah lSubhanahu wa Ta’ala dengan berbondong-bondong.”[7]

Dalam menjelaskan pengertian ayat di atas, Syaikh Abu Bakr al Jazairi mengungkapkan: “Jika telah datang pertolongan Allah bagimu wahai Muhammad, hingga engkau berhasil mengalahkan para musuhmu di setiap peperangan yang engkau jalani, dan datang anugerah penaklukkan, yaitu penaklukan kota Mekkah, Allah membukanya bagi dirimu, sehingga menjadi wilayah Islam, yang sebelumnya merupakan daerah kekufuran”. [8]

Adapun pengertian al fathu pada surat ini adalah fathu Makkah. Yakni penaklukan kota suci Mekkah. Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”Yang dimaksud dengan al fathu yaitu fathu Makkah. (Ini merupakan) sebuah pendapat yang sudah bulat.” [9]

Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath Thabari rahimahullah, Imam Ibnul Jauzi rahimahullah dan Imam al Qurthubi rahimahullah juga menegaskan pendapat senada. [10]

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

2. (Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong).

Disebutkan dalam Shahihul-Bukhari, dari ‘Amr bin Salimah, ia berkata:

وَكَانَتْ الْعَرَبُ تَلَوَّمُ بِإِسْلَامِهِمْ الْفَتْحَ فَيَقُولُونَ اتْرُكُوهُ وَقَوْمَهُ فَإِنَّهُ إِنْ ظَهَرَ عَلَيْهِمْ فَهُوَ نَبِيٌّ صَادِقٌ فَلَمَّا كَانَتْ وَقْعَةُ أَهْلِ الْفَتْحِ بَادَرَ كُلُّ قَوْمٍ بِإِسْلَامِهِمْ وَبَدَرَ أَبِي قَوْمِي بِإِسْلَامِهِمْ

(Dahulu) bangsa Arab menunggu-nunggu al Fathu (penaklukan kota Mekah) untuk memeluk Islam. Mereka berkata: “Biarkanlah dia (Rasulullah) dan kaumnya. Jika beliau menang atas mereka, berarti ia memang seorang nabi yang jujur”. Ketika telah terjadi penaklukan kota Mekkah, setiap kaum bersegera memeluk Islam, dan ayahku menyegerakan keIslaman kaumnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[11]

Menurut Imam al Qurthubi, peristiwa tersebut terjadi ketika kota Mekkah berhasil dikuasi.

Bangsa Arab berkata: “Bila Muhammad berhasil mengalahkan para penduduk kota suci (Mekkah), padahal dulu mereka dilindungi oleh Allah dari pasukan Gajah, maka tidak ada kekuatan bagi kalian (untuk menahannya). Maka mereka pun memeluk Islam secara berbondong-bondong”. [12]

Tidak berbeda dengan keterangan itu, Ibnu Katsir rahimahullah juga memberi penjelasan: “Saat terjadi peristiwa penaklukan Mekkah, orang-orang memeluk agama Allah secara berbondong-bondong. Belum lewat dua tahun, Jazirah Arab sudah tersirami oleh keimanan dan tidak ada simbol di seluruh suku Arab, kecuali simbol Islam. Walillahil-Hamdu wal minnah”.[13]

Ayat ini juga menandakan, bahwa kemenangan akan terus berlangsung bagi agama ini dan akan semakin bertambah saat dilantunkannya tasbih, tahmid dan istighfar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini merupakan bentuk syukur. Faktanya yang kemudian dapat kita jumpai pada masa khulafaur-rasyidin dan generasi setelah mereka.

Pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu akan berlangsung terus-menerus sampai Islam masuk ke daerah yang belum pernah dirambah oleh agama lainnya. Dan ada kaum yang masuk Islam, tanpa pernah ada yang masuk ke agama lainnya. Sampai akhirnya dijumpai adanya pelanggaran pada umat ini terhadap perintah Allah, sehingga mereka dilanda bencana, yaitu berupa perpecahan dan terkoyaknya keutuhan mereka.[14]

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

3. (Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat).

Imam al Qurthubi rahimahullah menurutkan penafsirannya: “Jika engkau shalat, maka perbanyaklah dengan cara memuji-Nya atas limpahan kemenangan dan penaklukan kota Mekkah. Mintalah ampunan kepada Allah”. Inilah keterangan yang beliau rajihkan.[15
.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً بَعْدَ أَنْ نَزَلَتْ عَلَيْهِ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ إِلَّا يَقُولُ فِيهَا سُبْحَانَكَ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Tidaklah Rasulullah n mengerjakan shalat setelah turunnya surat ini, kecuali membaca Subhanaka Rabbana wa bihamdika Allahummaghfirli (Maha Suci Rabb kami dan pujian kepada-Mu, ya Allah ampunilah aku)”. [16]

Sejumlah sahabat mengartikan ayat ini dengan berkata: “(Maksudnya) Allah memerintahkan kami untuk memuji dan memohon ampunan kepada-Nya, manakala pertolongan Allah telah tiba dan sudah menaklukkan (daerah-daerah) bagi kita”. Pernyataan ini muncul, saat ‘Umar bin al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu mengarahkan pertanyaan kepada mereka mengenai kandungan surat an-Nashr.[17]

Ibnu Katsir rahimahullah mengomentari penjelasan ini dengan berkata: “Makna yang ditafsirkan oleh sebagian sahabat yang duduk bersama Umar Radhiyallahu ‘anhum ialah, bahwa kita diperintahkan untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya ketika Dia telah menaklukkan wilayah Madain dan benteng-bentengnya, yaitu dengan melaksanan shalat karena-Nya dan memohon ampunan kepada-Nya merupakan pengertian yang memikat lagi tepat. Terdapat bukti penguat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat delapan raka’at pada hari penaklukan kota Mekkah. Dalam Sunan Abu Daud termaktub bahwa beliau mengucapkan salam pada setiap dua raka’at di hari penaklukan kota Mekkah. Demikianlah yang dilakukan Sa’ad bin Abil Waqqash Radhiyallahu ‘anhu pada hari penaklukan kota Mada-in”.[18]

إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

4. (Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat).

Maksudnya, Allah Maha menerima taubat orang-orang yang bertasbih dan memohon ampunan. Dia mengampuni, merahmati mereka dan menerima taubat mereka. Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja yang sudah ma’shum (terpelihara dari dosa-dosa) diperintahkan untuk beristighfar, maka bagaimanakah dengan orang lain?[19]

ISYARAT LAIN DARI MAKNA KEMENANGAN
Selain makna yang sudah dikemukakan di atas, juga terdapat pengertian lain yang terkandung dalam surat yang mulia ini.

Menurut Syaikh ‘Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah, ayat ini menjadi isyarat mengenai (datangnya) ajal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah dekat dan hampir tiba. Bahwa umur beliau adalah umur yang mulia, Allah bersumpah dengannya. Sudah menjadi kebiasaan pada perkara-perkara yang mulia ditutup dengan istighfar, misalnya shalat, haji dan ibadah lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya untuk mengucapkan pujian dan istighfar dalam keadaan seperti ini, sebagai isyarat tentang ajal beliau yang akan berakhir. (Maksudnya), hendaknya beliau bersiap-siap untuk menjumpai Rabbnya dan menutup usianya dengan amalan terbaik yang ada pada beliau alaihis shalatu wassalam.

Ibnul Jauzi rahimahullah sendiri memberikan pandangannya mengenai ayat ini. Beliau rahimahullah berkata,”Para ulama tafsir mengatakan, telah disampaikan dan diberitahukan kabar wafat beliau, dan sungguh waktu ajal beliau sudah dekat. Maka diperintahkan untuk bertasbih dan istighfar guna menutup usia dengan tambahan amalan shalih.” [20]

Begitu pula yang disampaikan oleh Syaikh Abu Bakr al Jazairi: “Ayat ini membawa tanda dekatnya ajal bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [21]

Imam al Bukhari rahimahullah dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita:

Dahulu ‘Umar memasukkan diriku bersama orang-orang tua yang ikut serta dalam perang Badar. Sepertinya sebagian mereka kurang menyukai kehadiranku. Ada yang berkata: “Kenapa (anak) ini masuk bersama kita. Padahal kita juga punya anak-anak seperti dia?”

‘Umar menjawab,”Sungguh, kalian mengetahui (siapa dia),” maka suatu hari ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu memanggilku dan memasukkanku bersama mereka. Tidaklah aku berpikir alasan beliau mengundangku, selain ingin memperlihatkan kapasitasku kepada mereka.

Beliau berkata (kepada orang-orang): “Apakah pendapat kalian tentang firman Allah:”idza ja`a nashrullahi wal fath”.

Mereka menjawab,”Allah memerintahkan kami untuk memuji dan memohon ampunan kepada-Nya manakala pertolongan Allah telah tiba dan sudah menaklukkan (daerah-daerah) bagi kita.” Sebagian orang terdiam (tidak menjawab). Kemudian ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu beralih kepadaku: “Apakah demikian pendapatmu, wahai Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma?”
Aku (Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ) menjawab,”Tidak!”
‘Umar bertanya,”Apa pendapatmu?”
Aku (Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma) menjawab,”Itu adalah (kabar tentang) ajal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukannya kepada beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “”idza ja`a nashrullahi wal fath”. Dalam keadaan seperti itu terdapat tanda ajalmu, maka bertasbihlah dan mintalah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat.”

‘Umar Radhiyallahu ‘anhu berkomentar: “Tidaklah yang kuketahui darinya (surat itu), kecuali apa yang engkau sampaikan”.[22]

Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْكَلِمَاتُ الَّتِي أَرَاكَ أَحْدَثْتَهَا تَقُولُهَا قَالَ جُعِلَتْ لِي عَلَامَةٌ فِي أُمَّتِي إِذَا رَأَيْتُهَا قُلْتُهَا إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ إِلَى آخِرِ السُّورَةِ

Sebelum wafat, Rasulullah memperbanyak ucapan Subhanaka wa bihamdika astaghfiruka wa atubu ilaik. Aisyah bertanya,”Wahai Rasulullah untuk apakah kata-kata yang aku melihat engkau tidak biasa engkau ucapkan?” Beliau menjawab,”Telah ditetapkan bagiku sebuah tanda pada umatku. Bila aku telah menyaksikannya, aku akan mengucapkannya (kata-kata tadi) : idza ja`a nashrullahi wal fath …dst.” [23]

Dalam riwayat lain:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَاكَ تُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَقَالَ خَبَّرَنِي رَبِّي أَنِّي سَأَرَى عَلَامَةً فِي أُمَّتِي فَإِذَا رَأَيْتُهَا أَكْثَرْتُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَقَدْ رَأَيْتُهَا إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ فَتْحُ مَكَّةَ …

Rasulullah memperbanyak ucapan Subhanaka wa bihamdika astaghfiruka wa atubu ilaik. Maka aku bertanya: “Aku melihatmu memperbanyak ucapan Subhanaka wa bihamdika astaghfiruka wa atubu ilaik,” Beliau menjawab,”Rabbku telah memberitahukan kepadaku, bahwasanya aku akan menyaksikan tanda pada umatku. Jika aku melihatnya, aku akan memperbanyak ucapan Subhanaka wa bihamdika astaghfiruka wa atubu ilaik. Sungguh aku telah menyaksikannya idza ja`a nashrullahi wal fath.” Al fathu, maksudnya penaklukan kota Mekkah…dst. [24]

Imam an-Nasa-i meriwayatkan dalam kitab Tafsirnya, bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan tentang surat an-Nashr ini: “Ketika diturunkan, ia (surat an-Nashr) mengabarkan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau lebih meningkatkan ketekunan dalam urusan akhirat”.[25]

APA YANG DIAMPUNI DARI DIRI RASULULLAH n YANG MULIA?
Mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih tetap memanjatkan permohonan ampunan, padahal dosa-dosa beliau sudah terampuni, baik yang sudah berlalu maupun yang akan datang?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kiranya mengangkat pandangan Ibnu Katsir yang menggambarkan kesempurnaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Katsir berkata: “Pada seluruh urusannya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam ketaatan, kebaikan, istiqamah yang tidak terdapat pada manusia lainnya, baik dari kalangan orang-orang terdahulu, maupun generasi kemudian. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling sempurna secara mutlak, dan pemimpin manusia di dunia dan akhirat”. [26]

Al Qadhi Ibnul ‘Arabi mengungkapkan alasannya, para ulama hadits meriwayatkan, bila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, beliau memanjatkan doa yang berbunyi:

رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ وَعَمْدِي وَجَهْلِي وَهَزْلِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Ya Allah, ampunilah kesalahanku, tindak kebodohanku, sikap berlebihanku dalam seluruh urusanku, dan yang Engkau lebih mengetahuinya. Ya Allah, ampunilah kesalahan-kesalahanku, kesengajaanku dan kebodohanku, gurauanku, semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah apa yang sudah aku kerjakan dan apa yang belum aku kerjakan, apa yang aku sembunyikan dan apa yang aku tampakkan. Engkaulah Dzat Yang mendahulukan (dan menempatkannya pada tempatnya), dan Engkau Dzat yang mengundurkan (dan menempatkannya pada tempatnya) dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.[27]

Selanjutnya, Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata: “Semua itu ada pada diriku begitu banyak. Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (beliau) terbebas darinya. Hanya saja, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap (amalan) pribadinya sedikit, lantaran begitu besarnya curahan nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada beliau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang “kekurangan” dalam menjalankan hak kenikmatan tersebut (dengan beribadah) sebagai dosa-dosa. Sementara dosa-dosaku, aku lakukan dengan penuh kesengajaan, tak acuh, dan merupakan pelanggaran yang nyata. Semoga Allah l masih sudi membuka pintu taubat dan menganugerahkan perlindungan dengan karunia, kemurahan dan rahmat-Nya, tiada Rabb selain-Nya”. [28]

Al Imam al Qurthubi, selain mengemukakan alasan senada di atas, beliau juga membawakan beberapa keterangan lain. Bahwa maksud permohonan ampunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah: (1) Memintakan ampunan bagi umatmu. (2) Istighfar merupakan ibadah yang harus dikerjakan, bukan untuk memohon ampunan, akan tetapi untuk ta’abbud (ibadah). (3) Untuk mengingatkan umat beliau, agar jangan merasa aman (dari dosa) sehingga meninggalkan istighfar. [29]

Al Qadhi ‘Iyadh berpendapat, permohonan ampunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut merupakan cermin ketawadhuan, ketaataan dan ketundukan, serta ungkapan syukur beliau kepada Rabbnya, lantaran mengetahui dosa-dosanya sudah diampuni.

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengutip keterangan Imam ath-Thabari rahimahullah tentang masalah ini, yang menyampaikan alasan, bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beristighfar ialah untuk melaksanakan perintah Allah yang ditujukan kepada beliau, yaitu agar bertasbih dan memohon ampunan, bila datang pertolongan dari Allah dan penaklukan (kota Mekah). Selain itu, al Hafizh juga menukil penjelasan al Qurthubi (penulis al Mufhim), bahwasannya terjadinya dosa dari para nabi adalah mungkin, karena mereka juga orang-orang mukallaf, hingga khawatir kalau itu terjadi pada diri mereka, dan akibatnya tersiksa karenanya. Pendapat lainnya, yaitu agar umatnya meneladani beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[31]

SEBAB-SEBAB DITURUNKAN AMPUNAN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA
Mengenai faktor-faktor yang dapat mendatangkan turunnya maghfirah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Syaikh ‘Abdur Rahman as Sa’di rahimahullah menghitungnya berjumlah empat.

Pertama : Taubat. Yaitu kembali kepada Allah dari keadaan yang tidak disukai-Nya, baik zhahir maupun batin, menuju keadaan yang dicintai oleh-Nya zhahir dan batin. Taubat ini akan menghapus dosa-dosa, besar kecil sebelumnya.

Kedua : Keimanan. Yaitu pengakuan dan pembenaran yang mantap lagi menyeluruh terhadap semua yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya yang mengharuskan pelaksanaan amalan-amalan hati, yang diikuti dengan amalan-amalan jawarih (anggota tubuh). Tidak disangsikan, kadar keimanan dapat menghapus dosa-dosa yang sudah terjadi dan dapat menghalanginya dari terjerumus ke dalam dosa. Sesungguhnya seorang mukmin, dengan keimanan dan pancaran keimanan yang tertancap kuat di dadanya, ia tidak sudi menyatu dengan kemaksiatan-kemaksiatan.

Ketiga : Amalan Shalih. Ini mencakup seluruh amalan, amalan hati, amalan jawarih, ucapan-ucapan lisan. Sebab kebaikan akan menghapuskan kesalahan-kesalahan.

Keempat : Istiqamah di atas keimanan dan hidayah serta berusaha mendulang tambahannya.

Siapa saja yang berhasil menempuh empat langkah ini, bergembiralah dengan mendapatkan ampunan dari Allah yang menyeluruh.[32] Pijakan yang dipakai sebagai landasan Syaikh ‘Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah atas keterangan tersebut, yakni firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar” [Thaha/20:82]

PELAJARAN DARI SURAT AN-NASHR
– Banyaknya anugerah Allah yang dikaruniakan kepada umat Islam.
– Kewajiban bersyukur manakala kenikmatan tercurahkan. Di antaranya dengan sujud syukur.
– Kewajiban untuk selalu beristighfar setiap saat.

Maraji`:
1. Aisar at-Tafasir li Kalamil-‘Aliyyil-Kabir, Abu Bakar Jabir al Jazairi, Cetakan VI, Tahun 1423 H/ 2003 M, Maktabah al Ulum wal- Hikam, al Madinah al Munawwarah, KSA.
2. Al Jami’ li Ahkamil-Qur`an, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al Qurthubi, Tahqiq Abdur-Razzaq al Mahdi, Cetakan II, Tahun 1421 H/1999 M, Dar al Kitab al ‘Arabi.
3. Fathul-Bari Syarhu Shahihil-Bukhari, al Hafizh Ibnu Hajar.
4. Ikmalul-Mu’lim bi Fawaidi Muslim, al Qadhi ‘Iyadh, Tahqiq Dr. Yahya Isma’il, Darul Wafa, Cetakan I, Tahun 1419 H / 1998 M.
5. Tafsir ath-Thabari (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil-Qur`an), Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath- Thabari (224-310 H), Cetakan I, Tahun 1423 H/2002 M, Dar Ibni Hazm.
6. Tafsiru Suratin-Nashar, al Hafizh Ibnu Rajab al Hambali, Tahqiq ‘Abdullah al ‘Ajmi.
7. Tafsir al Qur’an al ‘Azhim, Abu al Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir (700-774 H), Tahqiq Sami bin Muhammad as Salamah, Cetakan I, Tahun 1422 H/2002 M, Dar ath-Thayibah, Riyadh.
8. Taisir al Karimir-Rahman fi Tafsiri Kalamil-Mannan, Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di, Tahqiq Abdur-Rahman bin Mu’alla al Luwaihiq, Cetakan I, Tahun 1422 H/2001 M, Dar as-Salam, Riyadh, KSA.
9. Taisirul-Lathifir Rahman fi Khulashati Tafsiril-Qur`an, ‘Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di, Cetakan III, Tahun 1414H /1993M.
10. Zadul-Masir fi ‘Ilmit-Tafsir, Abul Faraj Abdur-Rahman bin ‘Ali (Ibnul Jauzi), Tahqiq ‘Abdur-Razzaq al Mahdi, Cetakan I, Tahun 1422 H/2001M, Darul Kitabil ‘Arabi.

Oleh Ustadz Muhammad Ashim bin Musthofa
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XI/1428H/2007. ]
_______
Footnote
[1]. Jami’ul-Bayan (20/211)
[2]. Tafsir Suratin-Nashr, hlm. 37, Tafsirul Qur`anil ‘Azhim (8/513), Zadul Masir (4/501).
[3]. HR Muslim, Kitabut-Tafsir no. 3024.
[4]. Tafsir Suratin-Nashr, hlm. 41.
[5]. Al Jami li Ahkamil-Qur`an (20/211).
[6]. Tafsir Suratin-Nashr, hlm. 42.
[7]. Taisirul-Karimir-Rahman, hlm. 1023.
[8]. Aisarut-Tafasir (2/1500).
[9]. Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim (8/513)
[10]. Jami’ul Bayan ‘an Ta`wili Ayil-Qur`an (15/426), Zadul-Masir (4/ 501), al Jami’ li Ahkamil-Qur`an (20/211), Aisarut-Tafasir (2/1500).
[11]. HR al Bukhari di dalam al Maghazi, 4302, dan lainnya.
[12]. Al Jami’ li Ahkamil-Qur`an (20/212)
[13]. Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim (8/513)
[14]. Taisirul-Karimir-Rahman, hlm. 1023.
[15]. Al Jami’ li Ahkamil-Qur`an (20/211).
[16]. HR al Bukhari, Kitabut-Tafsir (4967) dan Muslim.
[17]. Al Jami’ li Ahkamil-Qur`an (20/215)
[18]. Tafsir Quranil Azhim 8/511-512 dengan dirigkas
[19]. Al-Jami Li Ahkamil Qur’an (20/215)
[20]. Zadul-Masir (4/501).
[21]. Aisarut-Tafasir, hlm. (2/1500).
[22]. HR al Bukhari no. 4430, 4970.
[23]. HR Shahih Muslim, Kitabush-Shalah Bab Ma Yu Qaalu Fir Ruku was Sujud no.484
[24]. ibid
[25]. Tafsir an-Nasa-i (2/566-567 no. 732). Syaikh Ahmad Syakir menilai sanadnya shahih. Dikutip dari Tafsir ash-Shahih, karya Dr. Hikmat bin Basyir, Cetakan I, Tahun 1420 H – 1999 M, Darul Ma-atsir Madinah, 4/677.
[26]. Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim (7/328) pada tafsir surat al Fath ayat 1-2.
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang”
[27]. HR al Bukhari dalam Kitabud Da’awat (al-Fath 14/438) Makna al Muqaddim dan al Muakhkhir berasal dari pengertian yang ditulis Ibnul Atsir di dalam an-Nihayah. Makna ini juga disepakati oleh Syaikh al Albani. Dikutip dari Syarhu Shahihil-Adabil-Mufrad, karya Hushain bin ‘Audah al ‘Awayisyah, Cetakan I, Tahun 1423 H/2003 M, Maktabah Islamiyah, 2/333.
[28]. Zadul Masir (4/350).
[29]. Al Jami’ li Ahkamil-Qur`an (20/215).
[30]. Ikmalul-Mu’lim (8/214).
[31]. Fathul-Bari ( / ).
[32]. Taisirul Lathifir-Rahman fi Khulashati Tafsiril-Qur`an, hlm. 186-187 secara ringkas.
===============
al Ustadz Abu Muawiyyah Askari bin Jamal

1.Surat an NashrArchive1.3 MB

Abu Abdillah Muhammad Asnur Download Audio Tafsir al Qur'an Surat An-Nasr
Abdullah Shaleh Hadrami Download Audio Tafsir al Qur'an Surat An-Nasr

Senin, 04 Juli 2011

Surat An-Nashr Ayat 1-3

Para pembaca, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala selalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sebuah perjuangan dalam meninggikan kalimat Allah Subhanallahu wa Ta’ala tidaklah lepas dari ujian ataupun cobaan. Ia akan menimpa siapa saja yang menginginkan sebuah kemuliaan. Semakin besar nilai perjuangan itu, semakin besar pula kadar ujian yang akan diterimanya. Itulah perjuangan. Setiap insan tentu menginginkan keberhasilan dari perjuangan yang dijalaninya. Tanpa putus asa dan terus berusaha dengan diiringi doa kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala semata, keberhasilan dan kemuliaan akan Allah Subhanallahu wa Ta’ala berikan, insya Allah.
Terlebih manakala yang diperjuangkan adalah agama Allah Subhanallahu wa Ta’ala, sebagaimana yang Allah Subhanallahu wa Ta’ala tegaskan dalam Al Qur’an (artinya):


“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

Itulah janji yang akan Allah Subhanallahu wa Ta’ala berikan kepada para hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.

Pembaca yang dimuliakan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala, diantara kemuliaan yang telah Allah Subhanallahu wa Ta’ala anugerahkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan umat Islam adalah diturunkannya surat An-Nashr (Pertolongan) yang menerangkan tentang pertolongan dan kemenangan yang telah dan akan terus diperoleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para pengikutnya.


Kemuliaan Surat An-Nashr

Surat An-Nashr merupakan salah satu surat yang terakhir diturunkan secara lengkap satu surat, sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya: “Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah berkata: “Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma bertanya kepadaku: “Wahai Ibnu ‘Utbah, apakah engkau tahu surat Al-Qur’an yang terakhir turun?” Aku menjawab: “Ya,

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” Kemudian Ibnu Abbas menjawab: “Benar.” (Shahih Muslim no. 3024). Surat An-Nashr ini termasuk surat Madaniyah (surat yang diturunkan setelah hijrahnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ke Madinah).


Asy-Syaikh As-Sa’dy rahimahullah, ketika menjelaskan global kandungan surat ini, mengatakan: “Di dalam surat yang mulia ini terdapat kabar gembira, perintah bagi Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ketika kabar gembira tersebut menjadi kenyataan, serta adanya isyarat (tanda) dan konsekuensinya.

Kabar gembira tersebut adalah pertolongan Allah untuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, penaklukan kota Makkah, serta masuknya umat manusia ke dalam agama Islam secara berbondong-bondong, dan menjadi penolong agama Islam yang sebelumnya sebagai musuh-musuh agama ini. Kabar gembira tersebut telah menjadi kenyataan.

Adapun perintah Allah kepada Rasul-Nya setelah terwujudnya kabar gembira dan penaklukan kota Makkah adalah perintah untuk bersyukur kepada-Nya atas kemenangan tersebut, bertasbih dengan memuji-Nya, dan beristighfar.

Sedangkan isyaratnya ada dua macam: yaitu pertolongan yang terus berlangsung untuk Islam dan akan semakin bertambah pertolongan tersebut dengan adanya tasbih, memuji Allah, dan permohonan ampun kepada-Nya dari Rasul-Nya. Ini termasuk perwujudan rasa syukur, Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):


“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Ibrohim: 7)

Pertolongan tersebut juga telah terwujud pada zaman Al-Khulafa` Ar-Rasyidin dan yang setelah mereka dari umat ini, dan terus berlangsung hingga agama Islam mencapai apa yang belum pernah dicapai oleh agama-agama lain; serta banyak orang yang menyambut agama Islam yang agama lain tidak dapat menandinginya. Sampai akhirnya muncul penyimpangan dan penyelisihan perintah Allah pada umat ini. Oleh karena itu, Allah Subhanallahu wa Ta’ala timpakan musibah dengan perpecahan dan tercerai-berainya urusan, hingga terjadilah apa yang terjadi.

Walaupun demikian, umat Islam dan agama ini akan senantiasa dirahmati Allah Subhanallahu wa Ta’ala, apa yang tidak terbetik dalam benak ini dan tidak terlintas dalam angan.


Adapun isyarat yang kedua adalah isyarat tentang ajal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang semakin dekat. Bersamaan dengan hal itu, usia Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dipenuhi dengan keutamaan yang dengannya Allah Subhanallahu wa Ta’ala bersumpah.

Dan telah ditetapkan bahwa hal-hal yang memiliki keutamaan seringkali diakhiri dengan istighfar, seperti sholat, haji, dan yang selainnya.” (Tafsir As-Sa’dy, hal. 934)


Pembaca yang kami cintai, pemaparan Asy-Syaikh As-Sa’dy rahimahullah tersebut memberikan gambaran bahwa pertolongan yang hanya datang dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala dijanjikan untuk umat ini tatkala mereka istiqomah di atas agama-Nya, melaksanakan apa yang telah disyariatkan oleh Sang Pencipta, Penguasa dan Pengatur alam ini, yaitu Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Namun manakala kebanyakan umat Islam telah melalaikan kenikmatan ini, syari’at-Nya dicampakkan, maka pertolongan yang sempat dirasakan umat ini pun sedikit demi sedikit dicabut dan digantikan dengan musibah yang melanda. Itulah manusia, disadari atau tidak adalah makhluk yang lalai, lalai dari mengerjakan amal kebajikan dan ketaqwaan, disisi lain juga lalai dari dosa dan maksiat, sehingga dianggap remeh dan dikerjakan. Wallahul musta’an.

KANDUNGAN SURAT AN-NASHR

Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:


(Artinya): “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”

Ayat pertama:

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”

Pembaca yang dimuliakan Allah Subhanallahu wa Ta’ala, ayat yang pertama ini merupakan kabar gembira dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan umat ini dengan datangnya pertolongan dan kemenangan atas perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersama kaum muslimin.


Pertolongan itu datangnya dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala satu-satunya, dan hanya akan diberikan kepada siapa saja yang berpegang teguh kepada perintah Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Allah Subhanallahu wa Ta’ala menyatakan dalam Al-Qur’an (artinya):

“Dan pertolongan itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imron: 126)


Sebaliknya, pertolongan hakiki itu tidak mungkin, bahkan mustahil, akan diberikan kepada orang-orang yang mengaku dan menyeru untuk berjuang serta berkorban demi tegaknya syari’at Allah Subhanallahu wa Ta’ala, namun justru mereka menggunakan cara-cara yang jauh dari syari’at Allah Subhanallahu wa Ta’ala, jauh dari tuntunan yang telah dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para shahabatnya.

Para pembaca yang kami muliakan, disebutkan oleh sebagian Mufassirun (ahli tafsir), diantaranya Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobary rahimahullah, bahwa الفتح (Kemenangan) yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) yang sebelumnya dikuasai oleh kaum musyrikin Quraisy.

Ayat kedua:

“Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.”


Inilah salah satu bentuk pertolongan yang diberikan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Ketika manusia berdatangan secara berbondong-bondong dari berbagai negeri, sampai penduduk Yaman sekalipun, datang dan menyatakan keimanan mereka di hadapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobary rahimahullah, dari shahabat Abdullah bin Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata: “Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berada di Madinah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bertakbir: “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan telah datang penduduk Yaman, kemudian beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ditanya: “Wahai Rasulullah, siapa mereka penduduk Yaman?, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Mereka adalah kaum yang luhur budi pekertinya, lemah lembut perangai dan akhlaknya. Keimanan di Yaman, Fiqh di Yaman dan Hikmah juga di Yaman.” (Tafsir Ath-Thobary, hal. 603)


Pada saat itu, agama Islam menampakkan kewibawaannya di mata musuh-musuhnya. Bahkan, banyak dari mereka yang pada awal-awal Islam sebagai penghalang dan musuh bagi agama ini, berbalik masuk Islam dan menjadi penolongnya.

Ayat ketiga:

“Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”

Sebagai wujud syukur atas pertolongan dan kemenangan yang telah diberikan Allah Subhanallahu wa Ta’ala kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan umat ini, Allah Subhanallahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk bertasbih, memuji Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan memohon ampun kepada-Nya.


Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menyebutkan bahwa ‘Aisyah radliyallahu ‘anha berkata: “Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di akhir-akhir hidupnya memperbanyak ucapan:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

“Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”

Sebagaimana disebutkan juga oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya hadits no. 484.

Setelah turunnya surat An-Nashr ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga banyak membaca dalam ruku’ dan sujudnya:


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

“Maha Suci Engkau, Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, Ya Allah, ampunilah aku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pembaca yang kami muliakan, turunnya surat An-Nashr ini merupakan pertanda bahwa ajal (kematian) beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sudah dekat, dan inilah yang disepakati oleh para shahabat radliyallahu ‘anhum. Al-Hafizh Al-Baihaqi rahimahullah menyebutkan riwayat dari shahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata: “Ketika turun surat (An-Nashr), Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam memanggil Fathimah (putrinya-red) dan berkata: “Sesungguhnya aku telah mendapat kabar tentang kematianku”, maka ketika itu Fathimah radliyallahu ‘anha tampak menangis dan kemudian tertawa. Kemudian ia (Fathimah-pen) berkata: “Aku diberi tahu tentang berita kematiannya (yaitu kematian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam -pen), maka akupun menangis. Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Bersabarlah! karena kamu adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku, maka akupun (Fathimah-pen) tertawa.” (Dala`il An-Nubuwwah Li Al-Baihaqiy, 7/167).


Dikisahkan juga oleh Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma: “Suatu hari ketika Umar bin Al-Khatthab radliyallahu ‘anhu membawaku masuk bersama para pejuang pertempuran Badr (pada saat itu Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma masih muda belia). Tampak keganjilan dalam hati pada sebagian yang hadir, mereka berkata: “Mengapa Umar mengkhususkan anak ini (Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma-red) padahal kita juga memiliki anak sepertinya?” Lalu Umar radliyallahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya siapapun telah mengetahui sebagaimana yang kalian ketahui tentangnya (yaitu Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma-red).” Umar radliyallahu ‘anhu bertanya kepada mereka (para pejuang Badr radliyallahu ‘anhum) tentang tafsir surat An-Nashr, maka sebagian dari mereka menjawab: “Bahwa dalam ayat ini Allah Subhanallahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada kita agar memuji Allah, dan memohon ampun kepada-Nya jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan bagi kita.” Sebagian yang lain terdiam dan tidak berkomentar sedikitpun. Kemudian Umar radliyallahu ‘anhu bertanya kepadaku: “Apakah tafsir seperti itu yang engkau pahami, wahai Ibnu Abbas?” Aku menjawab: “Tidak, (bukan sekedar itu-red).” Umar radliyallahu ‘anhu berkata: “Lalu bagaimana menurutmu?” Akupun berkata: “Yaitu berita tentang kematian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang telah diberitahukan Allah Subhanallahu wa Ta’ala kepadanya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam,” kemudian Umar berkata: “Tidaklah aku memahaminya melainkan sama seperti yang telah engkau ucapkan.” (Shahih Al-Bukhari no. 4970)