Kamis, 17 Oktober 2013

Surat An-Nisa’: 157-158

Penulis: Ustadz Abu Abdillah
Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Dan karena ucapan mereka (orang-orang Yahudi): Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 157-158)
Para pembaca, sangatlah pantas jika orang-orang Yahudi adalah sekelompok manusia yang dilaknat dan dimurkai oleh Allahsubhanahu wata’ala. Perangainya yang licik dan perilakunya yang jahat menjadikan mereka sebagai umat yang hina dan rendah. Banyak ayat Al-Qur’an yang telah menjelaskan tentang watak dan sepak terjang Yahudi yang tercela ini.
Di antara kejahatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi adalah upaya pembunuhan terhadap salah satu nabi utusan Allah subhanahu wata’ala yang mulia, yaitu Isa Al-Masih bin Maryam ‘alaihissalam, setelah sebelumnya mereka dengki kepada beliau, mendustakan, dan tidak mau beriman kepada beliau. Begitulah Yahudi, membunuh nabi merupakan sifat dan kebiasaan mereka sejak dahulu. Kalau para nabi saja mereka bunuh, maka tentu menumpahkan darah kaum muslimin secara umum merupakan perbuatan yang lebih ringan lagi bagi mereka. Sehingga tidaklah mengherankan jika kemudian orang-orang Yahudi di masa kini dengan mudahnya melakukan pembantaian terhadap saudara-saudara kita kaum muslimin di Palestina dan di negeri-negeri lainnya.
Orang-orang Yahudi mengklaim telah berhasil membunuh Nabi Isa ‘alaihissalam. Namun ayat 157 surah An-Nisa’ ini membantah pengakuan mereka itu. Allah subhanahu wata’ala menjaga dan melindungi Nabi Isa ‘alaihissalam dari makar jahat mereka. Allah subhanahu wata’ala tidak membiarkan jiwa dan darah Nabi-Nya yang suci itu terkotori oleh tangan-tangan najis orang-orang Yahudi.

Peristiwa Penyaliban Itu                           

Dalam tafsirnya, al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa di antara kisah mengenai orang-­orang Yahudi -semoga laknat Allah subhanahu wata’ala, kemurkaan, kemarahan, dan adzab-Nya selalu menimpa mereka- adalah tatkala Allahsubhanahu wata’ala mengutus Isa bin Maryam ‘alaihissalam dengan membawa bukti-­bukti (kebenaran risalah-Nya) yang nyata dan petunjuk, mereka (orang-orang Yahudi) dengki kepadanya karena beliau telah dikaruniai oleh Allah subhanahu wata’alaberupa risalah kenabian dan berbagai mukjizat yang nyata. Di antara mukjizatnya adalah dapat menyembuhkan orang yang buta dan orang yang terkena penyakit sopak (penyakit belang pada kulit), menghidupkan kembali orang yang telah mati dengan izin Allah subhanahu wata’ala, mampu membuat patung seekor burung dari tanah liat lalu ia meniupnya dan jadilah patung itu burung sungguhan dan dapat terbang dengan disaksikan oleh banyak orang dengan seizin Allah subhanahu wata’ala, serta berbagai mukjizat lainnya sebagai bentuk pemuliaan Allah subhanahu wata’ala tehadap beliau ‘alaihissalam. Berbagai mukjizat tersebut atas kehendak Allah subhanahu wata’ala melalui kedua tangan Nabi Isa ‘alaihissalam.
Walaupun demikian, orang-orang Yahudi mendustakan beliau dan menyelisihinya, serta berupaya untuk mengganggunya dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Sehingga hal ini menyebabkan Nabiyullah Isa ‘alaihissalam tidak bisa tinggal dalam satu negeri bersama mereka, namun beliau banyak mengembara, dan ibunya (Maryam) pun ikut mengembara bersama beliau ‘alaihissalam.
Orang-orang Yahudi masih belum puas dengan keadaan ini. Akhirnya mereka pun berusaha menemui Raja Dimasyq (Damaskus) di masa itu. Raja Dimasyq adalah seorang musyrik penyembah bintang, para pemeluk agamanya dikenal dengan sebutan pemeluk agama Yunani.
Ketika orang-orang Yahudi itu sampai kepada raja tersebut, mereka menyampaikan (berita dusta) kepadanya bahwa di Baitul Maqdis terdapat seorang lelaki yang menebarkan fitnah di tengah-tengah manusia, menyesatkan mereka, dan mengajak mereka agar memberontak kepada raja. Si raja pun murka demi mendengar laporan tersebut. Kemudian ia menulis surat kepada wakilnya (kepala daerah) yang ada di Baitul Maqdis, memerintahkan agar menangkap lelaki yang dimaksud, lalu menyalibnya, dan meletakkan duri-duri di kepalanya agar tidak mengganggu orang-orang lagi.
Ketika surat raja itu sampai kepadanya, ia segera melaksanakan perintah rajanya itu. Lalu ia berangkat bersama sekelompok orang Yahudi menuju sebuah rumah yang di dalamnya terdapat Nabi Isa ‘alaihissalam. Ketika itu, beliau bersama sejumlah sahabatnya, jumlah mereka ada dua belas atau tiga belas orang. Menurut pendapat yang lain adalah tujuh belas orang. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Jum’at, sesudah waktu Ashar, yaitu malam Sabtu. Mereka pun mengepung rumah tersebut.
Ketika Nabi Isa ‘alaihissalam merasa bahwa mereka pasti dapat memasuki rumah itu atau ia (terpaksa) keluar rumah dan akhirnya pasti berjumpa dengan mereka, maka ia pun berkata kepada para sahabat­nya, “Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk diserupakan dengan diriku? Kelak ia akan menjadi temanku di surga.” Maka ada seorang pemuda yang bersedia untuk itu. Namun Nabi Isa ‘alaihissalam memandang pemuda itu masih terlalu kecil untuk melakukannya. Sehingga ia pun mengulangi permintaannya sebanyak dua atau tiga kali. Tetapi setiap kali ia mengulangi perkataannya, tidak ada seorang pun yang bersedia kecuali pemuda itu. Akhirnya Nabi Isa ‘alaihissalam pun berkata, “(Kalau memang demikian), kamulah orangnya.” Maka Allah subhanahu wata’ala menjadikannya mirip seperti Nabi Isa ‘alaihissalam, hingga seolah-olah ia me­mang Nabi Isa‘alaihissalam sendiri.
Lalu terbukalah salah satu bagian dari atap rumah itu, dan Nabi Isa ‘alaihissalam tertimpa rasa kantuk yang sangat hingga ia pun tertidur. Dalam keadaan demikian, Allah subhanahu wata’ala mengangkat beliau ‘alaihissalam menuju langit sebagaimana firman-Nya dalam surah Ali Imran ayat 55.
Setelah Nabi Isa ’alaihissalam diangkat ke langit, para sahabatnya keluar. Ketika mereka (orang-orang yang hendak menangkap Nabi Isa ‘alaihissalam) melihat pemuda (yang mirip Nabi Isa ‘alaihissalam) itu, mereka menyangka ia adalah Nabi Isa‘alaihissalam. Pada malam itu juga mereka menangkap dan menyalibnya, serta meletakkan ­duri-duri di kepalanya.
Orang-­orang Yahudi menampakkan bahwa merekalah yang telah berhasil menyalib Nabi Isa ‘alaihissalam dan mereka merasa bangga dengan hal ini. Ternyata beberapa kalangan dari orang-­orang Nasrani juga mempercayai hal tersebut (bahwa Nabi Isa‘alaihissalam disalib) karena kebodohan dan pendeknya akalnya mereka. Kecuali mereka yang ada di rumah tersebut bersama Nabi Isa Al-Masih ‘alaihissalam, mereka tidak mempercayainya karena menyaksikan sendiri bahwa Nabi Isa ‘alaihissalamdiangkat ke langit. Adapun selain dari mereka, semuanya menyangka sebagaimana yang disangka oleh orang-­orang Yahudi, bahwa orang yang disalib itu adalah Isa Al-Masih putra Maryam ‘alaihissalam.
Hingga akhirnya mereka pun menyebutkan (sebuah mitos) bahwa Ibunda Maryam duduk di bawah orang yang disalib itu dan menangisinya. Disebutkan pula bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam (yang mereka sangka disalib itu) bisa berbicara dengan ibundanya itu. Wallahu a’lam. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Mereka Sendiri Meragukannya

Walaupun mereka mengaku telah membunuh dan menyalib Isa Al-Masih ‘alaihissalam, namun sebenarnya mereka sendiri ragu, apakah yang dibunuh dan disalib itu benar-benar Nabi Isa ‘alaihissalam atau bukan. Allah Dzat yang Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya menyatakan (artinya):
“Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (An-Nisa’: 157).

Kini, Orang-Orang Nasrani Telah Menyimpang dari Ajaran Isa Al-Masih

Orang-orang Nasrani yang masih saja mempercayai bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam (Yesus menurut mereka) sudah meninggal dalam keadaan tersalib, maka sungguh mereka telah tertipu. Allah subhanahu wata’ala telah menyelamatkan dan mengangkat beliau ke langit. Dengan kehendak dan kemampuan-Nya, Nabi Isa ‘alaihissalam masih hidup hingga sekarang, dan nanti di akhir zaman, Allah subhanahu wata’ala akan menurunkan beliau kembali ke muka bumi dalam rangka menjalankan syariat Islam sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, menyeru umat manusia untuk menauhidkan Allah subhanahu wata’ala, mengajak mereka agar beribadah dan sujud hanya kepada-Nya, serta menjauhkan mereka dari segala bentuk kesyirikan.
Demikianlah sejak awal mula diangkat menjadi rasul, sampai meninggalnya nanti setelah turun ke bumi, Nabi Isa ‘alaihissalamsenantiasa mengajak umat manusia agar beribadah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. Nabi Isa ‘alaihissalam tidak akan pernah rela diibadahi dan dipertuhankan. Nabi Isa ‘alaihissalam tidak pernah mengajak umatnya untuk menyembah beliau dan tidak pula mengajak umatnya agar sujud kepada ibundanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya),
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua sesembahan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).” (Al-Maidah: 116)
Kalau Nabi Isa ‘alaihissalam menyaksikan keyakinan dan kehidupan beragama orang-orang Nasrani sekarang, pasti beliau akan mengingkarinya dan akan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya),
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah Rabbku dan Rabb kalian semua.” (Al-Maidah: 72)
Allah subhanahu wata’ala juga berfirman (artinya),
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali sesembahan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73)
Allah subhanahu wata’ala juga berfirman (artinya),
“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (At-Taubah: 30)
Ketika turun ke muka bumi ini, Nabi Isa ‘alaihissalam akan berjuang bersama kaum muslimin untuk menegakkan syariat Islam dan memerangi kekufuran dan syiar-syiarnya. Beliaulah yang akan membunuh Dajjal, menghancurkan salib yang merupakan simbol kebesaran dan syiar kaum Nasrani, membunuh babi-babi, dan beliau tidak menghendaki apapun dari orang-orang kafir melainkan mereka harus masuk Islam, karena jizyah (upeti) sudah tidak berlaku lagi. Hal ini sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.

“Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya (Demi Allah), sungguh telah dekat saatnya Isa putra Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil (yang menjalankan syariat ini), ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, meletakkan (tidak memberlakukan) jizyah, dan harta akan melimpah sampai-sampai tidak ada seorangpun yang mau menerimanya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Wallahu a’lam bish shawab.
Sumber:  Buletin Al-Ilmu Edisi No. 20/V/XI/1434 H

Rabu, 08 Mei 2013

Tafsir Al Baqarah Ayat 21-22

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴿٢١﴾الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai manusia, sembahlah Rabbmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh padahal kamu mengetahui [al-Baqarah/2:21-22]

AL-MUFRADAT

اعْبُدـُوا :

Taatilah Allâh Azza wa Jalla dengan mengimani dan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya disertai rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya

الثَّمَرَات :

Bentuk jamak dari الثّمْرَة yaitu segala yang dihasilkan oleh bumi seperti biji-bijian, sayuran, dan segala yang dihasilkan tumbuh-tumbuhan seperti buah-buahan.

رَبَّكُـمْ

Pencipta kalian dan Dzat yang menguasai urusan kalian dan ilaah kalian yang hak

أَنْدَادًا :

Tandingan-tandingan/sekutu-sekutu

TAFSIR AYAT
Ini adalah kalimat perintah pertama dalam al-Qur`ân. Melalui ayat ini, Allâh Azza wa Jalla memanggil semuanya dengan ‘hai manusia’ agar menjadi seruan umum bagi seluruh umat manusia di setiap tempat dan di setiap masa. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk merealisasikan tujuan penciptaan mereka yaitu beribadah kepada-Nya yang mencakup unsure menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan membenarkan berita-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [adz-Dzâriyât/51:56]

Dalam menegaskan perintah ini, Allâh Azza wa Jalla menyertakannya dengan memperkenalkan Dzat-Nya kepada mereka agar mereka mengenal sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya. Tujuannya, agar mereka menyadari dan lebih mudah menyambut perintah ini dan akhirnya menjalankan ibadah kepada-Nya yang akan menyelamatkan mereka dari siksa-Nya dan mendatangkan ridha dan jannah bagi mereka.[1]

Pertama-tama, Allâh Azza wa Jalla memulai penjelasan tentang kewajiban beribadah semata-mata kepada-Nya dengan menyebutkan bahwa Dialah Rabb mereka yang telah mentarbiyah mereka dengan berbagai kenikmatan. Dia Azza wa Jalla mengadakan mereka dari ketidakadaan menuju alam wujud, mengucurkan pada mereka beragam nikmat, yang zhahir maupun batin. Dia Azza wa Jalla menjadikan bumi sebagai firâsya yaitu hamparan (tempat berpijak kaki) layaknya tikar yang dihamparkan, hamparan yang stabil (tak bergoncang), menjadi tempat berpijak dan berjalan. Mereka pun dapat merasakan ketenangan hidup dalam rumah-rumah yang dibangun di atasnya. Orang-orang pun dapat mengambil manfaat dari bumi ini dengan hasil pertanian dan perkebunannya, dan manfaat-manfaat lainnya.

Selanjutnya, Allâh Azza wa Jalla menjadikan langit sebagai atap dan menempatkan padanya hal-hal yang sangat dibutuhkan manusia, seperti keberadaan matahari, bulan dan bintang-bintang.

Nikmat lain yang disebutkan selanjutnya, Allâh Azza wa Jalla menurunkan hujan dari langit yang dapat membantu mereka menumbuhkan tanaman-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang kemudian menghasilkan berbagai macam tanaman dan buah-buahan yang dapat disaksikan bersama, sebagai rezki, nutrisi dan makanan (bekal hidup) baik bagi mereka sendiri maupun hewan piaraan mereka. Ini juga telah Allâh tetapkan dalam beberapa ayat lain dalam al-Qur`ân.[2]

Allâh Azza wa Jalla menyebutkan langit dan bumi di antara nikmat-nikmat yang Dia sebutkan bagi mereka, karena melalui keduanya, mereka mendapatkan makanan pokok, rezki dan penghidupan serta penopang dunia mereka. Kemudian Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa Dzat yang menciptakan keduanya dan seluruh yang ada di dalam keduanya serta seluruh kenikmatan di dalamnya Dialah yang berhak ditaati oleh mereka dan berhak disyukuri dan diibadahi oleh mereka. [3]

Di antara ayat yang paling mirip kandungannya dengan ayat ini yaitu firman Allâh Azza wa Jalla :

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Allahlah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allâh Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam [Ghâfir/40: 64].

Intisari kandungan ayat ini ialah, Dialah Yang Maha Pencipta, Yang Maha Pemberi rezeki, Pemilik alam dan para penghuninya, Pemberi rezki bagi mereka. Sehingga Dia berhak menjadi satu-satunya Dzat yang diibadahi, tidak boleh ada sesuatu yang dipersekutukan dengan-Nya dalam jenis peribadahan apapun [4] .

Oleh karena itu, di akhir ayat, Allâh Azza wa Jalla menutup seruan-Nya dengan peringatan agar mereka tidak menjadikan tandingan bagi Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh padahal kamu mengetahui.

Maksudnya, janganlah kamu menyekutukan sesuatu dengan Allâh Azza wa Jalla , berupa tandingan-tandingan (dari makhluk-Nya) yang pasti tidak mampu mendatangkan kebaikan maupun madharat. Padahal, sejatinya kalian yakin sesungguhnya tidak ada rabb bagi kalian yang memberi rezki kepada kalian selain-Nya. Dan kalian pun telah tahu, bahwa perkara yang diserukan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian yang berupa penetapan tauhid adalah perkara yang haq, tidak perlu diragukan lagi akan kebenarannya. [5]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menyatakan, “(Janganlah kamu menyekutukan sesuatu dengan Allah) padahal kamu mengetahui Allâh Azza wa Jalla tiada memiliki sekutu dan tandingan, baik dalam penciptaan, pemberian rezki dan pengaturan (alam semesta), juga dalam hak uluhiyah-Nya dan kesempurnaan-Nya. Apakah pantas kalian beribadah kepada sesembahan lain bersama Allâh Azza wa Jalla , sedangkan kalian telah mengetahui hakekat tadi?. (Bila ini terjadi) maka itu adalah perbuatan yang paling aneh (tidak masuk di akal) dan kebodohan paling parah”.[6]

Sahabat Ibnu 'Abbâs menyampaikan penafsiran yang menjelaskan beberapa detail syirik kepada Allâh Azza wa Jalla berkait firman Allâh : {janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allâh}. Beliau menyatakan, "Syirik itu lebih samar daripada langkah semut di atas bebatuan yang hitam dalam kegelapan malam yang pekat, seperti ucapan seseorang, "Demi Allâh dan demi hidupmu wahai Fulan, dan demi hidupku”. Atau ucapan, “Jikalau tidak ada anjing-anjingmu ini, pastilah para pencuri akan mendatangi (rumah) kami”, atau ungkapan, “Seandainya tidak ada angsa dalam rumah, pastilah pencuri akan datang ke rumah”. Atau ucapan seseorang kepada kawannya, “Tergantung kehendak Allâh dan terserah engkau, Kalau tidak karena Allâh dan Si Fulan’, engkau tidak akan melakukan , ini semua bentuk syirik kepada Allah Azza wa Jalla.

Perintah beribadah dan bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla yang selanjutnya disertai dengan larangan dari perbuatan yang menentang tauhid (syirik) merupakan ketetapan yang berlaku dalam al-Qur`an, seperti tercantum dalam ayat-ayat lainnya. Di antaranya firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Beribadahlah kepada Allâh (saja), dan jauhilah thaghut (sesembahan selain-Nya) itu", [an-Nahl/16:36]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Beribadahlah kepada Allâh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. [an-Nisâ/4:36]

Ayat ini menjadi bukti yang pasti akan kewajiban beribadah kepada Allâh dan kebatilan peribadahan kepada selain-Nya melalui penyebutan tauhid rububiyah yang mengandung keesaan Allâh dalam hak penciptaan, pemberian rezki, pengaturan (alam semesta). Bila setiap orang mengakui tiada sekutu bagi Allâh dalam urusan-urusan tersebut, maka hendaknya ia pun meyakini bahwa Allâh tidak memiliki sekutu dalam peribadahan.[7]

BEBERAPA PELAJARAN DARI AYAT

1. Tauhid adalah asas bangungan bak akar bagi satu pohon. Karena itu, perintah pertama kali yang menjumpai orang saat membuka mushaf adalah perintah bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla .
2. Wajibnya beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla karena merupakan tujuan penciptaan seluruh umat manusia.
3. Wajibnya mengenal Allâh Azza wa Jalla melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
4. Larangan berbuat syirik, kecil maupun besar, yang zhahir maupun batin.
5. Allâh Azza wa Jalla tidak hanya memerintahkan beribadah kepada-Nya saja, akan tetapi juga langsung melarang dari perbuatan syirik kepada-Nya.
6. Kebatilan peribadahan kepada selain Allâh Azza wa Jalla.

Wallâhu a’lam.

Oleh Ustadz Muhammad Ashim Musthafa Lc

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVI/1433H/2012.]
_______
Footnote
[1]. Aisarut Tafâsir 1/29
[2]. Lihat Tafsir Ibni Jarir 1/213, Tafsir Ibnu Katsir 1/307
[3]. Tafsir Ibni Jariri 1/213
[4]. Tafsir Ibni Katsir 1/307
[5]. Tafsir Ibni Katsir 1/307
[6]. Tafsir as-Sa'di hlm. 27
[7]. Tafsir as-Sa'di hlm. 27.

Minggu, 03 Maret 2013

Tafsir Al Maidah Ayat 35

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allâh, dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. [al-Mâidah/5: 35]

al-Hâfizh Ibnu Jarîr at-Thabari rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Hai orang-orang yang membenarkan semua yang diberitakan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya kepada kalian, dan Dia k telah menjanjikan pahala dan mengancam dengan hukuman, sambutlah seruan Allâh Azza wa Jalla dalam seluruh perkara yang diperintahkan dan dilarang untuk kalian dengan penuh ketaatan kepada-Nya (dalam melaksanakan perintah dan menjauhkan larangan), dan wujudkanlah keimanan kalian dan pembenaran kalian kepada Rabb dan Nabi kalian dengan amal-amal shalih kalian.

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya,” yaitu carilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan yang diridhai-Nya.
Firman-Nya :

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya,” artinya al-qurbah , maksudnya seperti yang dikatakan oleh Imam Qatâdah rahimahullah,

تَقَرَّبُوْا إِلَيْهِ بِطَاعَتِهِ وَالْعَمَلِ بِمَا يُرْضِيْهِ.

“Hendaklah kalian mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan taat kepada-Nya dan melakukan amal shalih yang diridhai-Nya.”[1]

al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Allâh Azza wa Jalla berfirman untuk memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar bertakwa kepada-Nya. Lafazh ketakwaan apabila disertai ketaatan kepada-Nya, maksudnya yaitu tindakan menghindari segala hal yang haram dan meninggalkan semua larangan. Setelah itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya.”

Imam Qatâdah berkata, “Artinya, hendaklah kalian mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla , dengan menaati dan mengerjakan segala yang diridhai-Nya.” (Mengenai al-wasîlah ini), Imam Ibnu Zaid rahimahullah membaca ayat,

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

"Orang-orang yang kamu seru itu, mereka sendiri mencari jalan (wasilah) kepada Rabb mereka.” [Al-Isrâ’/17:57]

Itulah yang dikemukakan oleh para imam yang di dalamnya tidak terdapat perbedaan pendapat di antara ahli tafsir.

Wasîlah adalah sarana yang mengantarkan pada pencapaian tujuan. Wasîlah juga merupakan isim ‘alam (nama tempat) untuk tempat yang berada paling tinggi di Surga, yang merupakan kedudukan dan tempat tinggal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Surga. Itulah tempat di Surga yang paling dekat dengan ‘Arsy. Dalam Shahîh al-Bukhâri telah ditegaskan melalui jalan Muhammad bin al-Munkadir, dari Jâbir bin ‘Abdillâh Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ حِيْنَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Barang siapa setelah mendengar seruan adzan mengucapkan, ‘Ya Allâh, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini, dan shalat yang akan didirikan ini, karuniakanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta anugerahkanlah kepadanya tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepada-Nya.’ Maka, ia berhak mendapatkan syafaat pada hari Kiamat kelak. [2]

Dalam Shahîh Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Ka’ab bin ‘Alqamah, dari ‘Abdurrahmân bin Jubair, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin a-‘Ash Radhiyallahu anhu bahwa ia pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوْا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِيْ إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُوْ أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ.

Jika kalian mendengar seruan muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, lalu bershalawatlah kepadaku. Karena sesungguhnya barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allâh akan bershalawat kepada-Nya sebanyak sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah wasilah (derajat di Surga) untukku, karena sesungguhnya wasilah itu merupakan kedudukan di surga yang tidak diperuntukkan kecuali bagi salah seorang hamba dari hamba-hamba Allâh . Aku berharap orang itu adalah aku. Barang siapa memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.[3]

Firman-Nya :

وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan berjihadlah di jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Setelah Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk meninggalkan semua yang haram dan berbuat ketaatan, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk memerangi semua musuh dari kalangan orang kafir dan musyrik yang keluar dan meninggalkan agama yang lurus. Allâh Azza wa Jalla mendorong mereka dengan apa yang Dia Azza wa Jalla janjikan bagi para mujahid di jalan-Nya pada hari Kiamat kelak, berupa kemenangan dan kebahagiaan yang besar lagi abadi. Kemenangan dan kebahagiaan yang tidak berubah dan tidak sirna. Di dalam ruangan-ruangan yang tinggi dan penuh rasa aman, pemandangan yang menyenangkan, tempat tinggal yang sangat bagus. Orang yang menempatinya akan benar-benar menikmati tanpa berputus-asa, terus hidup dan tidak mati, pakaiannya tidak pernah usang, dan masa mudanya pun tidak pernah berakhir.[4]

Syaikh ‘Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini, “Ayat ini merupakan perintah dari Allâh Azza wa Jalla untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, tercakup di dalamnya iman, termasuk takwa kepada Allâh Azza wa Jalla dan berhati-hati dari adzab dan murka Allâh Azza wa Jalla . Dan semua itu (dapat direalisasikan) seorang hamba dengan bersungguh-sungguh, mencurahkan segenap kemampuan yang bisa dicapainya dalam menjauhi perkara yang dimurkai Allâh Azza wa Jalla , seperti maksiat hati, lisan, anggota badan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan seorang hamba hendaklah memohon kepada Allâh Azza wa Jalla untuk dapat meninggalkan maksiat tersebut agar selamat dari adzab Allâh Azza wa Jalla .

Firman-Nya :

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya,”

Yaitu yang dekat dari-Nya, keutamaan di sisi-Nya, dan cinta kepada-Nya. Itu semua dihasilkan dengan melaksanakan amalan-amalan hati, seperti cinta kepada Allâh Azza wa Jalla , cinta karena Allâh Azza wa Jalla , takut, harap, taubat, dan tawakkal kepada-Nya. Dan amalan-amalan badan seperti zakat dan haji. Juga amalan-amalan yang mencakup hati dan anggota tubuh seperti shalat, membaca al-Qur`ân, dzikir, berbuat baik kepada makhluk dengan harta, ilmu, kedudukan, anggota tubuh, dan saling menasehati. Semua amalan ini mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada Allâh dengan amalan-amalan tersebut sampai Allâh mencintainya….. Kemudian Allâh Azza wa Jalla mengkhususkan ibadah yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan jihad di jalan Allâh Azza wa Jalla , yaitu mencurahkan segenap kemampuan dalam memerangi orang-orang kafir, dengan harta, jiwa, akal, lisan, dan berusaha menolong agama Allâh Azza wa Jalla dengan segala kemampuan yang dimiliki seorang hamba, karena jihad di jalan Allâh Azza wa Jalla adalah ketaatan yang paling mulia dan pendekatan diri (kepada Allâh Azza wa Jalla ) yang paling utama.

لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Jika kalian bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla , dengan meninggalkan maksiat, mencari wasîlah yang mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan mengerjakan ketaatan, berjihad di jalan-Nya, dan mencari keridhaan-Nya. Al-Falâh ialah kesuksesan dan kemenangan dengan semua yang dituntut dan disukai, dan keselamatan dari semua yang ditakuti. Jadi, hakekat al-falâh adalah kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal.”[5]

Seluruh Sahabat, Tabi’in dan para Ulama mufassirin menafsirkan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

Dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya,” dengan al-qurbah , maksudnya seperti yang dikatakan oleh Imam Qatâdah rahimahullah, “Hendaklah kalian mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan taat kepada-Nya dan melakukan amal shalih yang diridhai-Nya.”[6]

Jadi, wasîlah dalam ayat ini bukan wasîlah dan tawasul yang diartikan oleh sebagian kaum Muslimin yang mengartikan tawasul dengan orang mati, atau tawasul dengan orang shalih yang sudah meninggal. Ini perbuatan tawasul yang dilarang dan ini adalah syirik.

Tawasul dalam ayat di atas memerintahkan kita untuk berlomba-lomba dan bersegera melakukan amal-amal shalih yang dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla dan menjauhkan apa-apa yang dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk mendekat diri kepada-Nya dengan melakukan amal-amal shalih, seperti ikhlas, tawakkal, takut, berharap hanya kepada Allâh Azza wa Jalla , mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla , menjauhkan segala macam bentuk kesyirikan, melaksanakan shalat, zakat, sedekah, puasa, haji, silaturrahim, menolong orang-orang yang susah, daan lainnya.

FAWAID AYAT
1. Wajib bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla .

2. Takwa seperti yang disebutkan oleh Imam Thalq bin Habîb rahimahullah adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla berdasarkan cahaya dari Allâh Azza wa Jalla karena mengharap pahala dari-Nya, dan engkau meninggalkan segala bentuk kemaksiatan kepada-Nya berdasarkan cahaya dari-Nya karena takut terhadap siksa-Nya.[7]

3. Takwa adalah melaksanakan perintah-perintah Allâh Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya.

4. Disyariatkan untuk tawasul kepada Allâh Azza wa Jalla , yaitu dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan melakukan amal shalih yang diridhai-Nya.

5. Yang dimaksud dengan tawasul dalam ayat ini adalah mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan taat kepada-Nya dan melakukan amal shalih yang diridhai-Nya.

6. Tawasul yang paling besar (agung) adalah dengan mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dan menjauhkan syirik.

7. Bertawasul (meminta keperluan atau hajat) dengan orang yang sudah mati adalah syirik besar.

8. Diperintahkan untuk berjihad di jalan Allâh Azza wa Jalla .

9. Jihad adalah ibadah dan wajib dilaksanakan menurut syarat dan kaidah yang telah ditetapkan oleh al-Qur`ân dan Hadits.

10. Keberuntungan akan tercapai dengan ilmu, tauhid, iman, amal shalih, dan jihad di jalan Allâh Azza wa Jalla .

Wallâhu a’lamu bis shawâb.

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حَفِظَهُ الله تَعَالَى

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XV/1433H/2012M.]
_______
Footnote
[1]. Diringkas dari Tafsîr at-Thabari (IV/566-567), Dârul Kutub al-‘Ilmiyyah Beirut Cet. I, Thn. 1412 H.
[2]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (Fathul Bâri, II/94, no. 614), Abû Dâwud (no. 529), at-Tirmidzi (no. 211), an-Nasâi (II/26-27) dan Ibnu Mâjah no. 722.
[3]. Shahîh: HR. Muslim no. 384, Abû Dâwud no. 523, at-Tirmidzi no. 3614, dan an-Nasâi II/25, lafazh ini milik Muslim.
[4]. Diringkas dari Tasfîr Ibni Katsîr III/103-105, tahqîq Sami Muhammad as-Salâmah, Cet.IV, Thn. 1428 H, Dâr at-Thaibah.
[5]. Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîri Kalâmil Mannân, hlm. 218-219, Maktabah al-Ma’ârif, cet.1, th. 1420 H.
[6]. Tafsîr at-Thabari IV/567 Cet.I, Thn.1412 H.
[7]. Atsar shahîh: Diriwayatkan oleh ‘Abdullâh Ibnul Mubârak dalam az-Zuhd no. 1054, Hannâd dalam az-Zuhd no. 522, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (no. 30878, 36169), dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ III/75, no. 3220. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam takhrij Kitâbul Imân no. 99, karya Ibnu Abi Syaibah. Lihat juga Risâlah at-Tabûkiyyah hlm. 43-44 karya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.

Senin, 18 Februari 2013

Tafsir An Nisa Ayat 83

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang kemenangan atau ketakutan, mereka menyiarkannya. Kalau saja mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentu kalian mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian).” (an-Nisa: 83)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnul Jauzi rahimahumallah dalam Zadul Masir menyebutkan bahwa ada dua pendapat tentang sebab turunnya ayat ini.

1. Berdasarkan riwayat yang hanya dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dari Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengasingkan diri dari istri-istri beliau, Umar masuk ke dalam masjid dan mendengar manusia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceraikan istriistrinya. Lalu beliau menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya bertanya, “Apakah Anda telah menceraikan istri-istri Anda?” Nabi menjawab, “Tidak.” Umar pun keluar sambil menyeru, “Ketahuilah, Rasulullah tidak menceraikan istri-istrinya.” Lalu turunlah ayat ini.

2. Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus sariyyah (pasukan khusus yang jumlahnya 4 sampai 400 orang). Kemudian terdengar berita bahwa mereka menang atau kalah. Akhirnya orang-orang  membicarakan dan menyebarluaskan berita tersebut. Mereka tidak bersabar hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyampaikan berita itu, kemudian turunlah ayat ini.

Mufradat Ayat

وَإِذَا جَاءَهُمْ

“Dan apabila telah datang kepada mereka.”

Mereka yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang-orang munafik, menurut penafsiran Ibnu Abbas c dan jumhur ulama.

الْأَمْنِ

“Kemenangan.”

Terdapat beberapa penafsiran di kalangan ulama ahli tafsir tentang maknanya . Mayoritas mereka memaknainya dengan kemenangan dan harta rampasan perang yang diperoleh pasukan (sariyyah).

 الْخَوْفِ

“Ketakutan.”

Mayoritas ulama ahli tafsir memaknainya sebagai musibah atau bencana (kekalahan) yang menimpa pasukan muslimin.

أَذَاعُوا بِهِ

“Mereka lalu menyiarkannya,”

yaitu menyebarluaskan. Asy-Syaukani rahimahumallah berkata dalam kitab tafsirnya,

أَذَاعَ الشَّيْءَ وَأَذَاعَ بِهِ: إِذَا أَفْشَاهُ وَأَظْهَرَهُ

Adza’a artinya menyiarkan, menyebarkan, dan mengumumkan. Menurut Ibnu Jarir rahimahumallah, dhamir ha’ pada kalimat ini kembali ke amrun (berita).

وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ

“ Dan kalau mereka mau menyerahkannya kepada Rasul….”

Maksudnya, menunggu hingga Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menyampaikan (berita).

 وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ

“Dan ulil amri di antara mereka.”

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, mereka seperti Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali . Al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan Ibnu Juraij rahimahumullah berpendapat bahwa mereka adalah para ulama.

Adapun menurut Ibnu Zaid dan Muqatil, mereka adalah para pemimpin pasukan. Asy-Syaukani rahimahumallah mengatakan bahwa mereka adalah para ulama dan orang-orang yang memiliki akal yang kokoh—yang kepada merekalah urusan kaum muslimin dikembalikan (ditanyakan)—atau para penguasa.

يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ

“Mereka akan dapat mengetahuinya.”

Kata istinbath berasal dari kata istikhraj (mengeluarkan). Az-Zajjaj mengatakan, istinbath berasal dari kata النَّبْطُ , yaitu air yang pertama kali keluar dari sumbernya ketika sumur digali.

 فَضْلُ اللَّهِ

“Karunia Allah.”

Ada yang memaknainya sebagai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Islam, al-Qur’an, atau ulil amri.

 وَرَحْمَتُهُ

“Dan rahmat-Nya.”

Sebagian ulama memaknainya sebagai wahyu, kelembutan, kenikmatan, atau taufik.

Makna Ayat

Asy-Syaukani rahimahumallah menyatakan, kaum muslimin yang memiliki sikap lemah, ketika mendengar salah satu urusan kaum muslimin—seperti berita kemenangan mereka, terbunuhnya musuh, atau ketakutan seperti kekalahan dan terbunuhnya mereka—mereka menyiarkannya. Mereka mengira bahwa hal itu tidak bermasalah. (Alangkah baiknya) kalau mereka tidak melakukannya (yakni tidak menyiarkannya dengan segera) dan sabar menunggu hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri atau ulil amri di antara mereka yang menyampaikannya. Sebab, merekalah yang lebih mengetahui, berita mana yang seharusnya disiarkan dan berita mana yang harus disembunyikan.

Sebagian ulama tafsir memaknainya, “Kalau bukan karena karunia Allah l kepada kalian, yaitu diutusnya Rasul dan diturunkannya kitab (al-Qur’an), tentulah kalian mengikuti setan dan tetap berada di atas kekufuran, kecuali sebagian kecil saja.”

Ada pula yang memaknainya, “Mereka lalu menyiarkannya kecuali sebagian kecil saja.” Ada pula yang memaknainya, “Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya, kecuali sebagian kecil saja.”

Tafsir Ayat

Ibnu Katsir rahimahumallah mengatakan, (ayat ini mengandung) pengingkaran terhadap orang yang begitu mendapat berita (perkara) lalu tergesa-gesa memberitakan, menyiarkan, dan menyebarkan, sebelum memastikan keberadaannya. Sebab, bisa jadi berita tersebut tidak benar.

Al-Imam Muslim rahimahumallah—dalam mukadimah kitab Shahih-nya— menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Seorang dianggap telah berdusta apabila memberitakan seluruh perkara yang ia dengar.”

Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Abu Dawud rahimahumallah dalam “Kitabul Adab”, dari jalan Muhammad bin Husain bin Asykab, dari Ali bin Hafsh, dari Syu’bah secara musnad (sanadnya sampai kepada Nabi n). Selain itu, dikeluarkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dan Abu Dawud rahimahumallah dari jalan yang lain secara mursal (sanadnya tidak sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam).

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan riwayat dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang qila wa qala (katanya dan katanya), yaitu suka menyiarkan apa yang dikatakan orang lain tanpa memastikan, mencermati, dan mencari kejelasan terlebih dahulu tentang ucapan orang lain tersebut.

Asy – Syaikh as – Sa ’di rahimahumallah mengatakan, ini adalah pengajaran dari Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya terhadap tindakan mereka yang tidak patut dilakukan. Seharusnya, ketika suatu perkara (berita)—yang penting; atau menyangkut kemaslahatan bersama terkait dengan kemenangan dan kegembiraan orang-orang mukmin; atau ketakutan, seperti musibah yang menimpa—sampai kepada mereka, hendaknya mereka pastikan terlebih dahulu dan tidak tergesagesa menyiarkannya. (Yang sepantasnya mereka lakukan ialah) mengembalikannya kepada Rasul n atau ulil amri di antara mereka, yaitu para pemikir, ahli ilmu, penasihat, orang yang memahami permasalahan, bagus pendapatnya, yang mengetahui urusan(dengan baik), mana yang membawa maslahat dan mana yang tidak. Jika mereka pandang menyiarkan berita mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin, menambah semangat dan menyenangkan mereka, serta terjaga dari musuh, mereka akan menyebarkannya.

Jika mereka pandang tidak ada maslahat, atau ada maslahat namun kemadaratan yang terjadi lebih besar, mereka tidak menyiarkannya. Ayat di atas menjadi pedoman yang mendidik, yaitu apabila terjadi penelitian tentang suatu masalah, hendaknya diserahkan kepada ahlinya dan kita tidak mendahului mereka. Hal ini lebih mendekatkan kita kepada kebenaran dan lebih patut bagi kita agar selamat dari kesalahan.

Ayat di atas juga mengandung larangan seseorang terburu-buru menyiarkan sebuah berita saat pertama kali mendengarnya. Dia diperintahkan untuk memikirkan dan memandang terlebih dahulu sebelum menyampaikannya, apakah hal itu membawa maslahat sehingga disampaikan atau tidak ada manfaat sehingga tidak boleh disebarkan.

Surat Yusuf: 54-55

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat denganku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 54-55)

“Pucuk di cinta ulam tiba”, begitulah sebuah ungkapan yang terucap dari seorang yang merasa senang dan bahagia, atas tercapainya suatu dambaan yang selama ini dicari dan dicitakan, bahkan melebihi dari apa yang diduga dan dikira.

Adalah kesempatan emas, yang disenangi oleh banyak manusia, khususnya bagi para pengembara kursi (jabatan), tahta, dan dunia, tatkala dihadapkan pada sebuah tawaran, untuk duduk di atas kursi (jabatan).

Bisa jadi seseorang akan menanggapi dan berkata: “Ini namanya kejatuhan rezeki, susah dicari, dan untuk mendapatkannya sulit sekali. Belum tentu seumur hidup bisa ketemu sekali. Mengapa ditolak?” Atau mungkin…

“Betul, di dalamnya banyak penyimpangan dan pelanggaran. Akan tetapi, kalau bukan kita yang mengubah, lantas siapa lagi?”

“Kalau kursi jabatan diduduki oleh orang luar, siapa yang akan melakukan perubahan, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, mewujudkan syariat Islam dan sistem kenegaraan yang bernuansa Islam?”

“Segala sesuatu itu apabila sudah dikuasai dan dipegang kepalanya, yang lain akan mudah dikendalikan dan dikuasai.”



Penjelasan dan Makna Ayat

“Dan raja berkata.”

Al-Imam Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir t (224-318 H), dalam tafsirnya Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an (16/147) menerangkan bahwa raja yang dimaksud dalam ayat ini adalah raja yang terbesar (terkemuka). Ia bernama Ar-Rayyan bin Al-Walid, sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat dari jalan Ali bin Hussain, dari Muhammad bin Isa, dari Salamah, dari Muhammad bin Ishaq. (lihat pula Tafsir Ibnu Katsir 4/275, Ibnu Abi Hatim 8/383)

“Aku memilih dia sebagai orang yang rapat denganku.”

Maknanya adalah: “Aku jadikan dia sebagai orang khusus dan penasihat khusus bagi diriku.” (Lihat Tafsir Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Baghawi).

Ibnu Abi Hatim, Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi t (wafat pada th. 327 H), menyebutkan dalam kitab tafsirnya (8/386), riwayat dari Ibnu Abbas c. Raja mengatakan kepada nabi Yusuf q, “Sesungguhnya aku menyukai agar kamu menemaniku dalam setiap keadaan, kecuali dalam urusan keluargaku. Karena aku tidak suka makan bersamamu.”

Mendengar hal itu, Nabi Yusuf q marah sambil berkata: “Aku lebih berhak untuk menjauhkan diri, karena orangtuaku adalah Ibrahim Khalilullah, orangtuaku Ishaq dzabihullah.” Pada riwayat lain dengan lafadz: “Yusuf bin Ya’qub, Nabiyullah bin Ishaq dzabihullah bin Ibrahim Khalilullah.”

“Maka tatkala telah bercakap-cakap dengannya.”

Al-Imam Al-Baghawi, Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud t wafat th. 516 H, dalam tafsirnya Ma’alimut Tanzil (4/250-251) menyebutkan riwayat dari Wahb (bin Munabbih, pen.). Ketika Nabi Yusuf q mendatangi sang raja dan mengucapkan salam kepadanya dengan bahasa Arab. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Nabi Yusuf q menjawab, “Ini bahasa pamanku, Nabi Ismail.” Kemudian Nabi Yusuf q mendoakannya dengan bahasa Ibrani. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Dijawab, “Ini bahasa ayah-ayahku dan raja tidak tahu dengan dua bahasa tersebut.”

Wahb juga bercerita bahwa sang raja (Ar-Rayyan bin Al-Walid) ini menguasai 70 bahasa. Setiap kali berbicara dengan suatu bahasa, Nabi Yusuf menjawabnya dengan bahasa yang sesuai, bahkan menambah dengan dua bahasa, yaitu Arab dan Ibrani. Melihat hal ini, sang raja heran dan terkesan, dalam keadaan Nabi Yusuf masih muda. Usia beliau pada waktu itu baru mencapai 30 tahun. Maka raja mendudukkannya, dan berkata, sebagaimana yang Allah l firmankan:

“Dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami’.”

Sebagian meriwayatkan, bahwa raja ingin mendengarkan secara langsung tentang ta’bir mimpi yang pernah diceritakan sebelumnya (lihat apa yang tersebut dalam surat Yusuf dari ayat 43 sampai 49, pen.).

Setelah mendengar seluruh penuturan Nabi Yusuf q, Sang Raja bertanya, “Siapa yang akan mendampingiku dalam hal ini, serta mampu menyelesaikan, mengerjakan, dan mengatur semua urusan ini?”

Nabi Yusuf q menjawab, sebagaimana firman Allah l:

Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”

Raja berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.”

Ibnul Jauzi t (588-587 H), menyebutkan dalam tafsirnya riwayat Ibnu Abbas c, makna ﭱ ﭲ adalah “Aku telah mengokohkan, menguatkan, dan memercayakan urusan kekuasaan (kerajaan/negara) kepadamu.”

Al-Muqatil t berkata, makna الْـمَكِينُ yaitu orang yang punya kedudukan (terkemuka). Sedangkan الْأَمِينُ yaitu yang menjaga, memelihara, dan melindungi. (Lihat Zadul Masir 3/439)

Al-Baghawi t menyebutkan dalam tafsirnya, الْـمَكِينُ yaitu berpangkat, berkedudukan. Sedangkan الْأَمِينُ adalah yang dipercaya.

Al-Alusi t dalam kitabnya Ruhul Ma’ani juga menyebutkan, Al-Makin yaitu berpangkat dan berkedudukan yang tinggi. Al-Amin yaitu dipercaya atas segala sesuatu.

Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir).”

Abu Ja’far Ath-Thabari t berkata dalam tafsirnya, kata خَزَائِنُ adalah bentuk jamak dari خَزَانَةٌ artinya tempat menyimpan, yaitu tempat peyimpanan makanan dan harta. Sedangkan الْأَرْضُ alif-lam di sini berfungsi sebagai pengganti idhafah, maknanya خَزَائِنُ أَرْضِكَ yaitu bendahara negaramu (Mesir).

Al-Imam Al-Qurthubi t juga menyebutkan sebuah riwayat dari jalan Sa’id bin Manshur t ia berkata, “Saya mendengar dari Malik bin Anas z berkata: ‘Negeri Mesir adalah ﭷ ﭸﭹ . Tidakkah kalian mendengar firman Allah l:

yaitu untuk menjaganya (menjadi bendahara negara), dengan menghilangkan mudhaf.

“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”

Al-Imam Ath-Thabari t setelah menyebutkan ayat ini, mengatakan bahwa para ulama berselisih dalam menafsirkannya hingga menjadi tiga pendapat:

Pertama, mereka berpendapat, maknanya adalah: “Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dititipkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap apa yang telah diserahkan/dilimpahkan kepadaku.”

Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari Ibnu Humaid, dari Salamah, dari Ibnu Ishaq.

Kedua, pendapat yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dilimpahkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap perkara (urusannya).”

Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari jalan Bisyr, dari Yazid, dari Sa’id, dari Qatadah.

Ketiga, ada pula yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah seorang yang pandai menjaga untuk hisab/perhitungan (perihal pengeluaran dan pemasukan harta milik negara, pen.), mengetahui beberapa bahasa.”

Pendapat ini disandarkan kepada sebuah riwayat, dari jalan Ibnu Waqi’, dari ‘Amr, dari Al-Asyja’i.

Setelah memaparkan tiga pendapat di atas, beliau berkata: “Menurut kami pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. Karena ucapan ini terjadi setelah Nabi Yusuf q mengatakan kepada raja: ”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir).” Bentuk permohonan Nabi Yusuf kepada raja, bahwa ia mampu mengurusi (sebagai bendahara) negara Mesir, menunjukkan, bahkan sekaligus sebagai pemberitaan bahwa beliau memiliki kemampuan dalam hal ini. Makna ini lebih sesuai untuk memaknai kalimat ﭻ ﭼ ketimbang dimaknakan dengan makna sebagaimana yang tersebut pada pendapat ketiga (tersebut di atas).”

Abul Fida Isma’il bin Umar, terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir t (700-774 H), berkata setelah menyebutkan dua ayat di atas: “Dalam ayat ini, Allah l mengabarkan tentang Raja Mesir (Ar-Rayyan bin Al-Walid), setelah memastikan terbebasnya Nabi Yusuf q, bersih dan sucinya kehormatan beliau dari apa yang dituduhkan kepadanya. Raja mengatakan sebagaimana firman Allah l:

“Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat denganku”, yakni jadikanlah dia sebagai orang khusus dan penasihat khusus bagiku.

“Maka tatkala telah bercakap-cakap dengan dia” yakni raja telah bercakap-cakap dengannya, mengetahui serta melihat keutamaan, kepandaian, kemahiran, dan kecakapan serta keutamaan dan kesempurnaan pada rupa dan perangainya, berkatalah raja kepadanya, sebagaimana firman Allah l:

“Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami” yakni, sesungguhnya kamu di sisi kami telah menjadi seseorang yang berkedudukan dan dipercaya. Yusuf q berkata, sebagaimana firman Allah l:

”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”

Nabi Yusuf q memuji dirinya. Hal ini diperbolehkan bagi seorang yang belum diketahui tentang keadaan dirinya, pada saat yang dibutuhkan. Allah l menyebutkan bahwa ia adalah orang yang ﭻ (pandai menjaga), penjaga/bendahara yang dipercaya, ﭼ (berpengetahuan), yakni memiliki pengetahuan, ketelitian, dan kejelian terhadap segala perkara yang diurusinya. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/275)

Perlu diketahui sekali lagi, bahwa Nabi Yusuf q mengucapkan ucapan yang mengandung pujian terhadap dirinya tersebut adalah ketika beliau telah mendapatkan kedudukan dan kepercayaan di sisi raja. Bukan serta merta beliau memuji dirinya untuk meraih kedudukan. Tentu hal ini berbeda dengan keadaan para kontestan pemilu atau para politikus yang berkampanye memuji diri dalam rangka meraih kedudukan dan ambisi politiknya.



Faedah

Al-Imam Al-Qurthubi t menyebutkan dalam tafsirnya: “Sebagian ulama berkata, pada ayat ini terdapat dalil tentang diperbolehkannya bagi orang yang baik (shalih), bekerja untuk orang yang buruk (fajir) atau penguasa yang kafir. Dengan syarat, orang tersebut tahu, bahwa segala pekerjaan/tugas diserahkan kepadanya (diberi kekuasaan penuh untuk mengaturnya), dan bukan diatur oleh (orang-orang yang fajir atau penguasa yang kafir tersebut, pen.). Sehingga, ia akan mengatur sesuai dengan apa yang dia kehendaki (untuk hal yang baik dan bermanfaat). Adapun kalau pekerjaan tersebut harus berdasarkan pada kemauan dan kehendak orang yang fajir atau (penguasa yang kafir), menuruti hawa nafsu dan kekufurannya (di bawah aturan mereka), hal yang demikian ini tidak diperbolehkan.

Sebagian mereka berpendapat, perihal ini (bekerja untuk orang buruk/ penguasa yang kafir) khusus hanya untuk Nabi Yusuf q saja. Adapun sekarang tidak diperbolehkan. Pendapat yang pertama lebih kuat (boleh dan bukan kekhususan), dengan syarat yang telah disebutkan tadi.

Al-Mawardi t berkata: “Apabila yang berkuasa adalah orang yang zalim, para ulama berbeda pendapat tentang boleh dan tidaknya, seorang untuk bekerja dengannya.

Pendapat pertama, membolehkan. Apabila seorang bekerja dengan baik dan benar (memenuhi hak), pada perkara yang telah diserahkan penuh kepadanya (untuk mengaturnya). Karena dalam ayat ini, Nabi Yusuf q bekerja (menerima pekerjaan) dari raja (Fir’aun)1. Pertimbangan ini berdasarkan pekerjaan (kemampuan) beliau dan bukan pada orang lain.

Pendapat kedua, tidak membolehkan. Hal ini berdasarkan adanya bentuk/unsur menolong atas kezaliman yang mereka lakukan. Memuji mereka, dengan meniru (melakukan) perbuatannya.

Para ulama yang berpendapat membolehkan bekerja dengan orang yang zalim, menjawab perihal yang terjadi pada Nabi Yusuf ketika menerima pekerjaan dari Fir’aun, dengan dua jawaban:

Pertama, Fir’aun (raja)-nya Nabi Yusuf waktu itu seorang yang shalih (muslim). Adapun Fir’aun yang membangkang (kafir), adalah Fir’aun (raja)-nya Nabi Musa q.

Kedua, hal ini melihat pada kekuasaan dan bukan pada pekerjaannya.”

Al-Mawardi berkata: “Yang benar dalam hal ini adalah merinci masalah menjadi tiga kesimpulan:

1. Boleh bagi orang yang memiliki kemampuan dan keahlian untuk melakukannya. Dengan catatan, tidak ada unsur berijtihad (berpendapat) dalam melaksanakan tugasnya seperti menyalurkan shadaqah dan zakat.

Boleh seseorang menerima pekerjaan dan tugas dari orang yang zalim. Karena, adanya nash/dalil yang menerangkan kepada siapa shadaqah dan zakat itu disalurkan telah mencukupi, sehingga tidak memerlukan lagi adanya ijtihad. (Maka kebebasan bertindak dalam hal ini, telah menjadi cukup baginya [terbebaskan] dari mengikuti perintah [peraturan orang zalim tersebut, pen.]).

2. Keadaan di mana seseorang tidak diperbolehkan untuk bertindak sendiri, adanya keharusan untuk berijtihad (berpendapat, berinisiatif) dalam mengatur urusan, seperti menangani harta rampasan.

Keadaan seperti ini tidak boleh bagi seseorang untuk menerima penugasan dari orang yang zalim. Hal ini dikarenakan ia telah melakukan tindakan yang tidak benar dan berijtihad (berpendapat, mengatur) pada perkara yang tidak berhak untuk melakukannya.

3. Keadaan yang boleh melimpahkan tugas kepada orang yang ahli dan boleh baginya berijtihad, seperti menangani hukum dan pidana. Apabila terjadi kesepakatan dari kedua belah pihak dan tidak ada yang dipaksa, (maka boleh baginya bekerja untuk orang yang zalim, pen.). Namun apabila terjadi pemaksaan, tidak diperbolehkan.

Asy-Syaikh As-Sa’di t dalam Taisir Al-Lathiful Mannan, berkata setelah menyebutkan ayat di atas: “Pada ayat ini terdapat keutamaan ilmu, ilmu syar’i dan hukum, ilmu ta’bir mimpi, ilmu mengatur dan mengurusi negara, serta ilmu kepemerintahannya. Yang menjadi salah satu sebab Nabi Yusuf q memperoleh kedudukan yang tinggi di dunia dan di akhirat kelak, yaitu adanya ilmu yang beragam dan banyak (mengetahui berbagai macam ilmu). Hal ini juga menunjukkan bahwa ilmu ta’bir mimpi termasuk bagian dari fatwa. Maka tidak boleh bagi siapapun untuk mena’birkan suatu mimpi dan memastikannya, sebelum mengetahui secara pasti. Sebagaimana halnya (dalam hukum/perkara), tidak boleh bagi siapapun berfatwa dalam hal apapun tanpa ilmu. Karena dalam surat Yusuf ini, Allah l menamai kemampuan mena’birkan mimpi, dengan nama ilmu, sebagaimana firman Allah l:

“Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari ta’bir mimpi-mimpi.” (Yusuf: 6)

Ayat ini juga menerangkan, tidak mengapa seseorang memberitakan tentang dirinya, berupa sifat-sifat yang baik dan sempurna, berilmu pengetahuan dan yang lainnya. Hal ini boleh dilakukan selama membawa maslahat, selamat dari berdusta, dan tidak bermaksud untuk memperlihatkan diri (riya’). Seperti yang tersebut dalam ayat: Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 55)

Jumat, 01 Februari 2013

Tafsir Al Baqarah Ayat 62

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shâbi’un, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allâh dan hari akhir serta beramal shaleh mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka; tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. [al-Baqarah/2:62]

SABAB NUZUL AYAT
as-Suddy rahimahullah mengatakan, “Ayat ini turun membahas tentang kawan-kawan Salmân al-Fârisy Radhiyallahu anhu, waktu itu Salman menceritakan keadaan kawan-kawannya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan, bahwa mereka dulu melaksanakan puasa, melaksanakan shalat, beriman kepadamu dan mereka juga bersaksi bahwa kamu akan diutus sebagai Nabi. Setelah Salman memuji mereka tersebut, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya, “Wahai Salman mereka termasuk penduduk neraka”. Jawaban tersebut sangat menyedihkan hatinya, maka Allâh Azza wa Jalla menurunkan ayat tersebut sebagai jawabannya, yang pada intinya bahwa keimanan orang-orang Yahudi adalah dengan berpegang teguh terhadap Taurat dan tuntunan Nabi Musa sampai datang Isa. Ketika Nabi Isa datang, mereka yang berpegang teguh dengan Injil dan syariat Isa telah berada diatas keimanan yang sah sampai datang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Barangsiapa tidak mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah kedatangannya dan tidak meninggalkan syariat Nabi Isa dan Injil maka dia akan celaka. Dan diriwayatkan pula dari Sa’id bin Jubair[1].

KORELASI AYAT DENGAN AYAT SEBELUMNYA
Dalam ayat sebelumnya, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan keadaan orang-orang Yahudi dan prilaku nenek moyang mereka, serta balasan yang mereka dapatkan sebagai pelajaran bagi generasi setelah mereka [2] . Allâh berfirman dalam ayat ke-61,

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نَصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ ۚ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja, oleh sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya." Musa berkata, "Maukah kamu mengambil yang lebih rendah sebagai ganti dari yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta !" Lalu ditimpahkanlah kepada mereka kenistaan dan kehinaan, serta mereka mendapat murka dari Allâh. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allâh dan membunuh para nabi tanpa sebab yang benar. Yang demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas." [al-Baqarah/2:61]

Lalu dalam selanjutnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa nasab (keturunan, seperti Bani Israil maupun yang lainnya) tidak ada harganya dihadapan Allâh Azza wa Jalla . Yang berharga adalah keimanan dan amal shalih yang mensucikan ruh manusia. Oleh karena itu kaum Muslimin dan kaum Yahudi, Nasrani, Sabi’un maupun yang lainnya seperti kaum Majusi, barang siapa yang beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan hari akhir dengan keimanan yang sebenarnya serta melakukan amal shalih yang disyariatkan maka tidak ada rasa takut baginya setelah mereka bertaubat dan tidak ada kesedihan yang menimpa mereka disaat mereka mati.[3]

PENJELASAN AYAT
Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa para pemeluk agama itu tidak akan mendapatkan suatu keutamaan dan kebaikan kecuali jika mereka beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan kepada hari akhir serta melakukan amal shalih yang diridhai Allâh Azza wa Jalla . Dan termasuk amal shalih adalah beriman kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam karena iman seseorang tidak dianggap sah kecuali dengannya.[4]

Jika demikian keadaannya, maka baginya pahala yang besar, dan tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Adapun orang yang inkar dan kufur terhadap itu semua maka mereka akan ditimpa kekhawatiran dan kesedihan [5].

Ada satu permasalahan yang berhubungan dengan ayat di atas, yaitu di awal ayat Allâh Azza wa Jalla berfirman إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا dan di akhirnya Allâh berfirman مَنْ آمَنَ بِاللهِ apa maksud dari pengulangan kata iman disini ? Dalam menjawab pertanyaan ini para Ulama berbeda pendapat, setidaknya ada dua pendapat secara garis besarnya:

Pendapat pertama, yang dimaksud إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا adalah orang-orang yang beriman dengan keimanan yang sebenarnya.[6] Kemudian mereka berselisih pendapat dalam menentukan siapa mereka itu ?

1. Ada yang mengatakan, “Mereka adalah orang yang beriman di zaman fathrah (masa kekosongan rasul) dan mereka adalah para pencari agama. Pada saat yang sama mereka juga berlepas diri dari kebatilan agama Yahudi dan Nasrani, seperti Habîb al-Najjâr, Quss bin Sâ’idah, Zaid bin ‘Amr bin Nufail, Waraqah bin Naufal, Bahira Sang Pendeta, Salmân al-Farisy, Abu Dzar al-Ghifary, dan utusan al-Najâsyi.[7] Sebagian diantara mereka ada yang sempat bertemu dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengikutinya sementara sebagian yang lainnya tidak bertemu. Maka seakan-akan Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman sebelum diutusnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta orang-orang yang dahulunya para pemeluk agama yang batil dan yang telah dirubah seperti Yahudi, Nasrani, dan Shabi’un, barang siapa yang beriman kepada Allah, hari akhir dan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka baginya pahala di sisi Rabbnya.[8]

2. Ada pula yang mengatakan, “Mereka adalah orang yang beriman dari umat ini.[9]

3. Ada pula yang mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[10]

Pendapat kedua, keimanan yang disebutkan pada permulaan ayat tersebut adalah keimanan yang tidak sebenarnya iman. Kemudian mereka berselisih pendapat dalam menentukan subtansinya :

1. Ada yang mengatakan mereka yang beriman kepada Para Nabi terdahulu dan tidak beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam [11].

2. Ada yang mengatakan, “Mereka itu adalah orang-orang munafik yang beriman dengan lisan mereka, akan tetapi hati mereka tidak beriman,[12] oleh sebab itu mereka di kelompokkan dengan kaum Yahudi, Nasrani dan Shabi’un.[13] Seakan-akan Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Mereka semuanya jika beriman dengan iman yang sebenarnya maka mereka mendapatkan predikat Mukmin di sisi Allâh Azza wa Jalla ."[14]

Diantara sekian banyak pendapat tersebut, menurut penulis jika hal itu dilihat dari keumuman lafadz ayat, maka semuanya dapat saling melengkapi, dan yang demikian itu menunjukkan betapa cakupan makna ayat tersebut sangat luas. Dan jika dilihat dari kekhususan sabab nuzul (sebab turun)nya, maka yang selaras dengan sabab nuzûl ayat tersebut adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang yang beriman di awal ayat tersebut adalah “Mereka yang beriman kepada Para Nabi terdahulu dan tidak beriman kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau diutus. Karena ayat tersebut turun sebagai jawaban atas pertanyaan Salman al-Fârisy tentang kawan-kawannya yang dulunya beriman kepada para rasul dan kepada Rasûlullâh sebelum beliau diutus, akan tetapi setelah beliau diutus mereka mengingkarinya, oleh karena itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka masuk Neraka”, wallahua’lam bishshawab.

APAKAH SEMUA AGAMA SAMA ?
Sebagian orang memahami ayat diatas dengan pemahaman yang tidak benar, mereka menganggap bahwa ayat diatas telah melegitimasikan (membenarkan) agama-agama selain Islam, artinya menurut mereka semua agama adalah sama, sehingga muncul suatu kesimpulan bahwa boleh bagi seseorang untuk memeluk Islam, esok hari masuk agama Yahudi, lusa masuk Nasrani dan seterusnya.

Pemahaman tersebut tidaklah benar, karena tidak didasarkan pada dasar pijakan yang kuat. Ayat tersebut jika dipahami secara mendalam, sama sekali tidak menunjukkan hal itu, bahkan pemahaman tersebut bertentangan dengan ayat itu sendiri, sebagaimana yang telah disebutkan oleh penulis diatas. Meskipun banyak penafsiran para Ulama tentang إن الذين آمنوا akan tetapi tidak satupun diantara mereka yang menafsirkan bahwa Islam, Yahudi, Nasrani dan yang lainnya adalah sama. Apakah para Ulama’ tafsir kurang memahami bahasa arab dengan baik dan benar ? Atau kurang mengetahui sabab nuzulnya ? Atau kurang mengetahui ayat-ayat yang lainnya yang mendukung penafsiran mereka? Atau kurang mengetahui kaidah-kaidah penafsiran ? Sehingga tidak satupun penafsiran mereka mendukung pemahaman yang dianggap benar tersebut. Semua pertanyaan itu cukup dijawab dengan jawaban singkat “tidak”!, Bahkan sebaliknya, tidak adanya penafsiran para Ulama yang sesuai dengan pemahaman tersebut adalah bukti dangkalnya pemahaman tersebut. Adapun salah satu penafsiran Ulama yang mengatakan orang yang beriman di awal ayat tersebut adalah mereka yang beriman dari umat ini atau mereka yang beriman kepada Rasûlullâh, maka hal itu sama sekali tidaklah menyamakan antara mereka dengan para pemeluk agama lainnya. Karena perintah untuk beriman bagi mereka diakhir ayat adalah perintah agar mereka tetap dalam keadaan beriman sampai akhir hayat.

Di sisi lain pemahaman tersebut juga bertentangan dengan ayat-ayat yang lainnya, diantaranya :

1. Ayat yang menunjukkan bahwa agama yang benar disisi Allâh Azza wa Jalla adalah Islam, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama yang benar disisi Allâh adalah Islam [Ali Imran/3:19]

Ibn Juraij mengatakan, “Tidak ada agama milik Allâh Azza wa Jalla kecuali Islam.”[15]

Dari Ibn Sirin dari Abi al-Rabab al-Qusyairy dalam menafsiri ayat di atas ia mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada manusia untuk memeluk agama Islam dan melarang mereka memeluk agama yang lain.”[16]

Dalam ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. [Ali ‘Imrân/3:85]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada satu agama pun yang diterima disisi Allâh Azza wa Jalla dari seseorang kecuali Islam.[17]

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa semua agama tidaklah sama, dan Islamlah agama yang benar disisi Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa memeluk agama selain Islam setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, maka agamanya itu tidak akan diterima oleh Allâh Azza wa Jalla .

2. Bertentangan dengan ayat yang menunjukkan bahwa pemeluk agama Yahudi, Nasrani maupun kaum musyrikin adalah kafir.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya, mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. [al-Bayyinah/98:6]

Abu Ja’far al-Thabary rahimahullah mengatakan, “sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengingkari kenabiannya dari orang-orang Yahudi, Nasrani maupun orang-orang musyrik, mereka semuanya akan masuk neraka dan tinggal di dalamnya selama-lamanya.[18]

Di ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla berfirman.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allâh salah satu dari tiga tuhan”, padahal sekali-kali tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Allâh Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih." [al-Maidah/5:73]

Kedua ayat diatas menunjukkan bahwa tidaklah sama antara Muslim dengan kafir.

3. Bertentangan pula dengan ayat yang menunjukkan keumuman risalah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu kecuali kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Saba/34:28]

Fakhruddin al-Razi mengatakan ayat ini menunjukkan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan agama Islam sebagai penghapus atas agama-agama sebelumnya.[19]

Jika suatu agama telah dihapus dan dibatalkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam dengan Islam, maka tidaklah pantas sebagai makhluk Allâh Azza wa Jalla mengesahkan dan membenarkan agama tersebut setelah di naskh (dibatalkan) oleh Allâh .

Pemahaman di atas juga bertolak belakang dengan fakta sejarah dakwah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajak ahlu kitab untuk masuk Islam dengan cara mengirim surat kepada mereka. Diantaranya beliau mengutus Dihyah bin Khalifah al-Kalby untuk mengirim surat kepada raja Romawi, dan juga mengutus ‘Abdullah bin Hudzafah al-Sahmi kepada raja Persia, dan mengutus ‘Amr bin ‘Umaiyyah al-Dhamry kepada Najasyi (sebutan raja) Habasyah, dan mengutus Hathib bin Abi Balta’ah kepada al-Muqaiqis raja Mesir, dan juga mengutus Sulaith bin ‘Amr al-‘Amury kepada Haudzah bin ‘Ali al-Hanafy di Yamamah.[20]

Ini menunjukkan bahwa pemeluk agama Nasrani dan lainnya adalah bagian dari obyek dakwah yang harus diajak masuk Islam dan meninggalkan agama lama yang ia yakini sebelumnya. Karena agama mereka jika dianggap benar dan sah atau sama dengan Islam setelah diutusnya Rasûlullâh, maka untuk apa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersusah-payah mengajak mereka masuk Islam?

PELAJARAN DARI AYAT
Dari keterangan diatas dapat diambil pelajaran, diantaranya:
1. Para pemeluk agama samawi sebelum datangnya Islam, mereka yang beriman kepada Allâh dan hari akhir, dan tidak berbuat syirik, atau mereka yang beriman kepada Rasûlullâh setelah beliau diutus, maka mereka akan mendapatkan keberuntungan. Adapun mereka yang berbuat syirik atau beriman kepada Allâh dan hari akhir akan tetapi setelah diutusnya Rasûlullâh mereka inkar dan tidak beriman kepadanya maka mereka akan celaka.

2. Islam adalah agama terakhir yang menghapus agama sebelumnya.

3. Agama yang benar di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah agama Islam.

4. Rasûlullâh diutus oleh Allâh Azza wa Jalla keseluruh lapisan umat, berbeda dengan Nabi Musa dan Isa, mereka diutus hanya kepada Bani Israil saja sebelum datanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bahkan Nabi Isa nanti ketika turun ke bumi ia akan mengikuti syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

5. Paham pluralisme agama yang menyatakan bahwa semua agama sama adalah paham yang bathil dan tidak sejalan dengan ajaran Islam.

Washallallahu alaa Nabiyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi washahbihi wasallam

Ustadz Nur Kholis bin Kurdian

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XV/1433H/2012M. ]
_______
Footnote
[1]. Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin Idris al-Razy Ibn Abi Hatim (w. 327 H), Juz 1 (KSA; Maktabah Mushtafa Baz, 1419 H), hlm. 127. Lihat Asbâb Nuzûl al-Qur’an, ‘Ali bin Ahmad bin Muhammad al-Wahidy (w. 468 H), (Dammam; Dar al-Ishlah, 1992 M / 1412 H), hlm. 24. Riwayat Dari Mujahid. Lihat Lubâbun Nuqûl fi Asbâbin Nuzûl, ‘Abdur Rahman bin Abi Bakr Jalal al-Dien al-Suyuthy (w. 911 H), (Lebanon; Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tanpa tahun), hlm. 9. Riwayat Dari Mujahid. Lihat al-Durr al-Mantsûr fit Tafsîr bil Ma’tsûr, al-Suyuthy, juz 1 (Beirut; Dar al-Fikr, tanpa tahun), hlm. 128. Dari Mujahid.
[2]. at-Tafsîrul Munîr fil ‘Aqîdah was Syarî’ah wal Manhaj, Dr. Wahbah bin Musthafa al-Zuhaily, Juz 1 (Damaskus; Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1418 H), hlm. 177-178. Lihat al-Bahrul Muhîth fit Tafsîr, Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf al-Andalusy, juz 1 (Beirut; Dar al-Fikr, 1420 H), hlm. 389.
[3]. Aisarut Tafâsîr li Kalâmil ‘Aliyyil Kabîr, Jabir bin Musa Abu Bakr al-Jazairy, juz 1 (Madinah Munawwarah; Maktabah Ulum wa al-Hikam, 1424 H/ 2003 M), hlm. 65.
[4]. Lubâbut Ta’wîl fi Ma’âniit Tanzîl, ‘Ali bin Muhammad Abu al-Hasan al-Khazin (w. 741 H), Juz 2 (Beirut; Dar al-Kutub, 1415 H), hlm. 64.
[5]. Taisîrul Karîmir Rahman fi Tafsîr Kalâmil Mannan, Abdur Rahman bin Nasir al-Sa’dy (w. 1376 H), (Bairut; Muassasah al-Risalah, 1420 H / 2000 M), hlm. 54.
[6]. Lubâbut Ta’wîl, 1/50
[7]. Mafâtihul Ghaib, Muhammad bin ‘Umar al-Razi (w. 606 H), juz 3 (Beirut; Dar Ihya’ Turats al-‘Araby, 1420 H), hlm. 536. Lihat Tafsir al-Qur’an, Manshur bin Muhammad Abu Mudzaffar al-Sam’any (w. 489 H), Juz 1 (Riyadh; Dar al-Wathan, 1418 H / 1997), hlm. 88.
[8]. Lubâbut Ta’wîl …, hlm. 50.
[9]. Zâdul Masir fi ‘Ilm al-Tafsîr, ‘Abdur Rahman bin ‘Ali Abu al-Faraj Ibn al-Jauzi (w. 597 H), Juz 1 (Beirut; Dar al-Kitab al-‘Araby, 1422 H), hlm. 72. Lihat Taisîrul Karîmir Rahmân …, al-Sa’dy, hlm. 54.
[10]. Jâmi’ul Bayân fi Ta’wîlil Qur’ân, Muhammad bin Jarir Abu Ja’far al-Thabary (w. 301), juz 2 (Beirut; Muassasah al-Risalah, 1420 H/ 2000 M), hlm. 143. Lihat al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, Muhammad bin Ahmad al-Qurthuby (w. 671 H), Juz 1 (Mesir; Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1384 H/ 1964 M), hlm. 432. Lihat Fathul Qadîr, Muhammad bin ‘Ali al-Syaukany (w. 1250 H), juz 1 (Beirut; Dar Ibn Katsir, 1414 H), hlm. 110. Lihat Tafsîrul Manâr, Muhammad Rasyid bin ‘Ali Ridha (w. 1354 H), juz 1 (Mesir; al-Hai’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1990 M), hlm. 278. Lihat Tafsir al-Munir…, hlm. 178. Lihat Tafsîrul Qur’ânil ‘Azhîm, Isma’il bin ‘Umar bin Kathir (w. 774), Juz 1 (Riyadh; Dar al-Taibah, 1420 H/ 1999 M), hlm. 284. Lihat Bahrul ‘Ulûm, Nashr bin Muhammad al-Samarqandy (w. 373 H), Juz 1(tanpa disebutkan nama, tempat dan tahun cetakan), hlm. 59.
[11]. al-Wajîz fi Tafsîr al-kitâb al-‘Aziz, ‘Ali bin Ahmad al-Wahidy (w. 468 H), (Beirut; Dar al-Qalam, 1415 H), hlm. 110. Lihat Lubab al-Ta’wil…, hlm. 50.
[12]. Al-Kasysyaf ‘an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil, Mahmud bin ‘Amr al-Zamakhsyary (w. 538), juz 1 (Beirut; Dar al-Kitab al-‘Araby, 1407 H), hlm. 146. Lihat Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta’wil, ‘Abdullah bin Ahmad al-Nasafy (w. 710 H), Juz 1 (Beirut; Dar Kalim al-Tayyib, 1419 H/ 1998 M), hlm. 94. Lihat Irsyad al-‘Aql al-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim, Muhammad bin Muhammad Abu al-Su’ud (w. 982 H), juz 3 (Beirut; Dar Ihya’ al-Kitab al-‘Araby, tanpa tahun cetakan), hlm. 62.
[13]. al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân…, hlm. 432.
[14]. Lubâbut Ta’wîl…, hlm. 50.
[15]. Jâmi’ul Bayân…,6/503.
[16]. Tafsîr al-Qur’anil ‘Azhîm, ‘Abdur Rahman bin Muhammad Ibn Abi Hatim al-Razi (w. 327 H), Juz 2 (Arab Saudi; Maktabah Nizar Musthafa al-Baz, 1419 H), hlm. 617.
[17]. Tafsîr al-Qur’anil ‘Azhîm …,juz 2, hlm. 25.
[18]. Jâmi’ul Bayân 24/542.
[19]. Mafâtihul Ghaib…, 6/523.
[20]. al-Sirah al-Nabawiyah al-Shahihah, Dr. Akram Dhiya’ al-‘Umary, juz 2 (Riyadh; Maktabah al-‘Ubeikan, 1424 H/2003 H), hlm. 454.

Selasa, 01 Januari 2013

Surat An Nisa : 171

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allâh kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allâh dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan dengan tiupan roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allâh dan rasul-rasul-ya, dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga”. Berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allâh Ilaah Yang Maha Esa, Maha Suci Allâh dari mempunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allâh sebagai Pemelihara [an-Nisâ/4:171]

PENJELASAN AYAT
Ayat Untuk Kaum Nasrani

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allâh kecuali yang benar.

Pada permulaan ayat ini, Allâh Azza wa Jalla memperingatkan Ahli Kitab dari perbuatan ghuluw dalam beragama, tindakan yang merupakan pangkal dari berbagai kesesatan, kerusakan dan kekufuran serta kesyirikan. Makna asal ghuluw, melampaui batas-batas yang telah ditentukan. Dengan demikian yang dimaksud dengan ghuluw dalam beragama yaitu bersikap berlebihan dengan melampaui batasan yang telah ditetapkan oleh syariat dalam suatu perkara agama dengan melakukan hal-hal yang tidak masyru’ [1]

Perbuatan ghuluw yang terlarang bagi mereka diterangkan pada ayat kelanjutannya yaitu, ‘janganlah kamu mengatakan terhadap Allâh kecuali yang benar’. Maksudnya, janganlah kalian mengatakan Allâh memiliki sekutu, anak atau istri[2] .

Berdasarkan pendapat Jumhur Ulama tafsir [3] , larangan pada ayat di atas tertuju pada kaum Nasrani, meskipun kaum Yahudi pun tidak lepas dari larangan ini karena telah mengatakan Uzair adalah putra Allâh . Mereka (kaum Nasrani) telah melampaui batas dalam memuji dan mengagungkan Isa dengan mengkultuskan dan menuhankannya, memposisikan Isa di atas kedudukan nubbuwah dan risalah (sebagai nabi dan rasul) menuju maqam (kedudukan) rubûbiyah (penguasa alam) yang hanya pantas dimiliki oleh Allâh Azza wa Jalla .

Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “(Maksudnya) wahai para pemegang Injil, janganlah kalian melampaui batas dalam beragama yang nanti akan mengakibatkan kalian terjerumus dalam sikap yang berlebihan. Janganlah kalian berbicara tentang Isa dengan perkataan yang tidak benar. Sesungguhnya perkataan kalian bahwa Isa putra Allâh adalah perkataan yang tidak benar atas nama Allâh Azza wa Jalla . Sebab Allâh Azza wa Jalla tidak pernah mengangkat seorang anak, sehingga Isa atau yang lain menjadi putra-Nya”[4] .

Sementara itu, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah menjelaskan bahwa mereka (kaum Nasrani) itu telah melakukan tindakan melampaui batas dalam membenarkan (kenabian) Isa Alaihissallam . Tindakan melampaui batas itu dalam bentuk meninggikan derajat Isa di atas kedudukan yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan kepadanya. Mereka mengangkat beliau dari tingkat kenabian menuju pendaulatan sebagai tuhan selain Allâh Azza wa Jalla . Mereka menyembahnya sebagaimana mereka beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . (Bahkan tidak itu saja), mereka juga berlebihan terhadap para penganut dan pendukung Isa yang mengaku-aku masih mengikut ajaran agamanya (Isa Alaihissallam ). Umat Nasrani mengklaim orang-orang tersebut terpelihara dari kekeliruan dan dosa, sehingga umat (Nasrani) mengikuti apa saja yang dikatakan, baik itu kebenaran maupun kebatilan, berisi kesesatan atau petunjuk menuju jalan lurus, benar atau tidak.[5]

Sebagian mereka menyebut Isa Alaihissallam adalah putra Allâh Azza wa Jalla . Sebagian lain menyatakan Isa itulah tuhan. Sebagian yang lain mengatakan Isa merupakan tuhan bersama Allâh Azza wa Jalla . Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengomentari perbedaan tajam kalangan Nasrani tentang Isa dengan berkata, “Kaum Nasrani, kebodohan mereka tidak ada ukurannya dan kekufuran mereka pun tidak ada batasnya”.[6]

Perselisihan mereka yang lain, soal apakah Isa menyatu dengan tuhan, bercampur, atau tuhan yang menyatu dengan Isa. Tentang tajamnya silang pendapat di kalangan kaum Nasrani, sampai-sampai ada yang mengatakan, “Jika ada sepuluh orang Nasrani berkumpul, maka mereka akan berpisah dengan sebelas pandangan yang saling berbeda-beda”. Maha Suci Allâh dari perkataan-perkataan yang batil tersebut yang menyebabkan mereka telah kufur kepada Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana telah Allâh Azza wa Jalla jelaskan dalam beberapa ayat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ

Dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masîh itu putra Allâh”. [at-Taubah/9:30]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allâh ialah al-Masih putra Maryam [al-Mâidah/5:72]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allâh salah satu dari tiga… [al-Mâidah/6:73]

Larangan mengatakan terhadap Allâh kecuali yang benar memuat tiga perkara: (yaitu) dua larangan yaitu berdusta atas nama Allâh Azza wa Jalla dan berbicara tanpa ilmu (yang benar) tentang nama dan sifat-Nya, syariat dan para rasul-Nya. Ketiga, (satu) perkara yang diperintahkan yaitu berkata dengan benar dalam perkara-perkara tersebut.[7]

KEBENARAN TENTANG ISA ALAIHSSALLAM

إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ

Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allâh dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan dengan tiupan roh dari-Nya.

Inilah kebenaran tentang Isa putra Maryam. Beliau tidak punya nasab selain itu (putra Maryam). Derajat tertinggi dan kesempurnaan diri yang beliau capai, kedudukan makhluk yang paling tinggi yaitu derajat risâlah (menjadi utusan Allâh), yang merupakan martabat paling tinggi dan karunia yang paling agung[8] .Di sini, Allâh menunjukkan kedustaan-kedustaan yang diyakini kaum Nasrani. [9]

Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Wahai orang-orang yang berlebihan terhadap Isa Ibnu Maryam, janganlah kalian berlebihan dalam beragama, al-Masih bukanlah putra Allâh Azza wa Jalla sebagaimana persepsi kalian. Akan tetapi, Isa adalah putra Maryam, bukan putra yang selainnya. Ia tidak memiliki nasab selain itu. Kemudian Allâh Azza wa Jalla memuji Isa Ibnu Maryam Alaihissallam dengan menjelaskan kedudukannya bahwa ia adalah utusan Allâh Azza wa Jalla , diutus oleh Allâh Azza wa Jalla dengan al-haq kepada umat yang dituju”.[10]

Kemudian Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa Isa diciptakan dengan kalimat-Nya yang Dia firmankan dengan kalimat, “Kun (Jadilah)”, maka jadilah Isa. Ia bukanlah kalimat itu sendiri, akan tetapi muncul melalui kalimat tersebut. Ini termasuk kategori idhâfah takrîm dan tasyrîf (penisbatan untuk kemuliaan). Isa memperoleh kemuliaan dengan penisbatan itu.[11]

Demikian juga, yang dimaksud dengan ‘ruh dari-Nya’ bukanlah bagian dari-Nya sebagaimana pandangan kaum Nasrani, akan tetapi termasuk ruh yang Allâh Azza wa Jalla ciptakan dan sempurnakan dengan sifat-sifat utama dan akhlak-akhlak yang luhur (daripada ruh yang lain). Allâh mengutus Jibril q untuk meniupkannya pada Maryam sehingga menjadi hamil dengan izin Allâh Azza wa Jalla[12] .

Setelah menjelaskan hakekat Isa Alaihissallam , Allâh memerintahkan Ahli Kitab untuk mengimaninya dan mengimani rasul-rasul yang lain, melarang mereka menjadikan Allâh satu dari tiga (oknum).

LEBIH BAIK KAUM NASRANI MENINGGALKAN KEYAKINAN KELIRU TENTANG NABI ISA

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ

Maka berimanlah kamu kepada Allâh dan rasul-rasul-ya, dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga”. Berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu.

Maksudnya, yakinilah bahwa Allâh Maha Esa lagi Maha Satu, tidak memiliki istri juga tidak punya anak. ketauhi dan yakinilah sesungguhnya Isa adalah hamba Allâh dan Rasul-Nya. Janganlah kalian menjadikan Isa dan ibunya sebagai sekutu bagi Allâh [13]

Selesai menegaskan hakekat Isa al-Masih, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Ahli Kitab untuk beriman kepada Isa dan rasul-rasul Allâh yang lain, sekaligus melarang mereka menjadikan Allâh tiga dari yang tiga dalam aqidah mereka yang lebih dikenal dengan tatslîts (trinitas).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk berhenti (dari perkataan batil mereka tentang Isa) dan mengabarkan jika itu (berhenti dari keyakinan batil) lebih baik bagi mereka. Sebab, itulah yang wajib diikuti, merupakan jalan keselamatan, selain itu merupakan jalan kebinasaan”.[14]

ALLAH AZZA WA JALLA TIDAK MEMILIKI ANAK

إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ

Sesungguhnya Allâh Ilaah Yang Maha Esa, Maha Suci Allâh dari mempunyai anak

Allah Maha Esa dalam hak peribadahan, tidak ada yang berhak diibadahi selain-Nya. (hlm.209). Bagaimana mungkin Dia k memiliki anak? seorang anak akan mirip dengan orang tuanya, sementara tidak ada yang mirip dengan-Nya [15]

SEMUANYA ADALAH CIPTAAN ALLAH AZZA WA JALLA

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allâh sebagai Pemelihara

Maksudnya, semua adalah milik Allâh dan ciptaan-Nya. Semua yang ada di langit dan bumi adalah hamba-Nya. Mereka berada di bawah aturan dan perbuatan-Nya. Allâh Pemelihara segala sesuatu. Bagaimana mungkin Allâh memiliki istri dan anak dari makhluk-makhluk itu? Yang punya anak tidak mungkin berhak menjadi ilâh yang haq, tidak tepat menjadi ilâh yang diibadahi.[16]

Isa putra Maryam termasuk makhluk yang ada di langit dan bumi. Bagaimana ia kemudian bisa berubah menjadi tuhan. Seandainya Allâh memungkinkan punya anak, maka dimungkinkan juga memiliki banyak anak. sehingga siapa saja yang memiliki mukjizat maka akan menjadi putra-Nya (?!) [17] . . Ini jelas tidak mungkin

Semua milik Allâh Azza wa Jalla, membutuhkan-Nya. Maka mustahil Allâh mempunyai sekutu atau putra dari makhluk-Nya.[18] Allâh Azza wa Jalla berfirman: “Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu” [al-An’âm/6:101]

Dalam beberapa ayat, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan sisi kemanusiaan dan penghambaan yang tetap melekat pada diri Isa dan Ibunya, sehingga tampak jelas mereka bukanlah tuhan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ

Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allâh [an-Nisâ/4:172]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul dan ibadah seorang yang sangat benar, keduanya biasa memakan makanan [al-Mâidah/5:75]

Allâh Azza wa Jalla juga telah mengabarkan bahwa sepanjang hidup Isa tetap memerintahkan umatnya untuk hanya beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla semata, tidak pernah menyuruh mereka untuk mengkultuskan dirinya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Padahal al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah, rabbku dan rabb kalian”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pastilah Allâh mengharamkan kepadanya surge dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”.[al-Mâidah/5:72]

Dengan demikian, menjadi jelaslah kebatilan agama Nasrani dengan keyakinan trinitasnya. Sebuah keyakinan yang sulit dicerna akal sehat.

WARISAN ULAMA ISLAM DALAM ILMU KRISTOLOGI
Para Ulama Islam telah memberikan perhatian dalam membantah agama Nasrani dan konsep ketuhanan mereka yang sangat janggal dalam berbagai karya ilmiah. Di antaranya, al-Ajwibah al-Fâkhirah ‘anil As`ilatil Fâjirah karya al-Qarâfi, al-Jawâbus Shahîh liman Baddala Dînal Masîh karya Ibnu Taimiyah rahimahullah , Hidâyatul Huyâra, karya Ibnul Qayyim[19]

PELAJARAN DARI AYAT:
• Larangan berbuat ghuluw.
• Kerusakan pada agama Nasrani sebuah keniscayaan. Bahkan kerusakannya terjadi pada perkara yang sangat fundamental, masalah aqidah.
• Kedustaan pangkal dari segala keburukan.
• Terbantahkannya akidah trinitas.
• Aqidah yang lurus tentang Isa Alaihissallam .
• Persamaan inti risalah seluruh utusan Allâh Azza wa Jalla .
• Berhenti dari perbuatan buruk tanda kebaikan.
• Allâh Azza wa Jalla Maha Suci dari anak dan diperanakkan.
• Seluruh alam semesta hanya milik Allâh Azza wa Jalla dan berada dalam penguasaan dan pengaturan-Nya, sehingga tidak mungkin Allâh Azza wa Jalla membutuhkannya. Wallâhu a’lam

Ustadz Muhammad Ashim Lc

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Taisîr al-Karîmir Rahmân 208, al-Ghuluw hlm.22 ‘Ali bin ‘Abdil ‘Aziz asy-Syibl, Tafsîr ath-Thabari 6/46
[2]. Adhwâul Bayân 1/380
[3]. Zâdul Masîr 1/ 501
[4]. Tafsîr ath-Thabari 6/46
[5]. Tafsîru al-Qur`ânil ‘Azhîm 2/478
[6]. Ibid 2/480
[7]. Taisîr al-Karîmir Rahmân hlm. 209
[8]. Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 209
[9]. Adhwâul Bayân 1/381
[10]. Tafsir ath-Thabari 6/47
[11]. Zâdul Masîr 1/502, Tafsîru al-Qur`ânil ‘Azhîm 2/480, Taisîr al-Karîmir Rahmân hlm. 209
[12]. Tafsîru al-Qur`ânil ‘Azhîm 2/480, Taisîr al-Karîmir Rahmân hlm. 209
[13]. Tafsîru al-Qur`ânil ‘Azhîm 2/480
[14]. Taisîr al-Karîmir Rahmân hlm. 209
[15]. Tafsir al-Qurthubi 6/25, Taisîr al-Karîmir Rahmân hlm.209
[16]. Tafsir al-Qur`ânil ‘Azhim 2/481, Tafsir ath-Thabari 6/49
[17]. Tafsir al-Qurthubi 6/25
[18]. Taisîr al-Karîmir Rahmân hlm. 209
[19]. Lihat Dirâsaatul Adyân, al-Yahûdiyyah wan Nashrâniyyah, DR. Su’ûd bin ‘Abdil ‘Azîz al-Khalaf, hlm. 20-23