Ayat 15-18: Pentingnya berbuat ihsan dan berbakti kepada kedua orang tua, serta bahaya durhaka kepada kedua orang tua.
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلا بِكُمْ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (١٥) أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ (١٦) وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (١٧)أُولَئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ (١٨)
Tafsir Al Ahqaf Ayat 15-18
15. [1]Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan[2], sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa[3] dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku[4] dan kepada kedua orang tuaku[5] dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; [6]dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau[7], dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”
16. Mereka itulah[8] orang-orang yang Kami terima amal baiknya yang telah mereka kerjakan[9] dan (orang-orang) yang Kami maafkan kesalahan-kesalahannya, (mereka akan menjadi) penghuni-penghuni surga[10]. Itu janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka[11].
17. [12]Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya[13], "Ah. Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal beberapa umat sebelumku telah berlalu[14]? Lalu kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya berkata, "Celaka kamu, berimanlah![15] Sungguh, janji Allah itu benar.” [16]lalu dia (anak itu) berkata, "Ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu[17].”
18. Mereka itu orang-orang yang telah pasti terkena ketetapan (azab) bersama umat-umat dahulu sebelum mereka, dari golongan jin dan manusia[18]. Mereka adalah orang-orang yang rugi[19].
Ayat 19-20: Balasan terhadap amal manusia pada hari Kiamat dan keadaan orang-orang kafir ketika itu.
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (١٩)وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ (٢٠)
Tafsir Al Ahqaf Ayat 19-20
19. Dan setiap orang[20] memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan[21], dan agar Allah mencukupkan balasan perbuatan mereka, dan mereka tidak dizalimi[22].
20. [23]Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (seraya dikatakan kepada mereka), "Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu[24], dan kamu telah bersenang-senang (menikmati)nya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan, karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran[25], dan karena kamu berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah)[26].”
Ayat 21-25: Kisah Nabi Hud ‘alaihis salam ketika didustakan kaumnya dan bagaimana mereka meminta disegerakan azab serta pembinasaan mereka.
وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالأحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (٢١) قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ آلِهَتِنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (٢٢) قَالَ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَأُبَلِّغُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ (٢٣) فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢٤)تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لا يُرَى إِلا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (٢٥)
Tafsir Al Ahqaf Ayat 21-25
21. Dan ingatlah saudara kaum 'Aad[27] yaitu ketika dia mengingatkan kaumnya di bukit-bukit pasir[28], dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan setelahnya[29] (dengan berkata), "Janganlah kamu menyembah selain Allah, aku sungguh khawatir[30] nanti kamu ditimpa azab pada hari yang besar.”
22. [31]Mereka menjawab, "Apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami?[32] Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah engkau ancamkan kepada kami, jika engkau termasuk orang yang benar[33].”
23. Dia (Hud) berkata, "Sesungguhnya ilmu (tentang itu) hanya pada Allah[34] dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang diwahyukan kepadaku, tetapi aku melihat kamu adalah kaum yang berlaku bodoh[35].”
24. [36]Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.” [37](Bukan!) Tetapi itulah azab yang kamu minta agar disegerakan datangnya, (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,
25. Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya[38], sehingga mereka (kaum ‘Aad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka[39]. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa[40].
[1] Ini termasuk kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada hamba-hamba-Nya dan syukur-Nya kepada mereka; Dia memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua mereka baik dengan berkata yang lembut dan halus, memberi nafkah dan perbuatan lainnya yang termasuk ihsan. Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sebab yang mengharuskan demikian, yaitu karena ibunya mengandungnya dengan merasakan penderitaan saat mengandung, lalu penderitaan saat melahirkan dan penderitaan saat menyusui dan mengasuhnya, dan waktunya tidak sebentar; tidak satu jam atau dua jam; bahkan dalam waktu yang cukup lama, yaitu 30 bulan; untuk hamilnya sembilan bulan dan sisanya untuk menyusui, ini menurut rata-rata.
[2] Ulama berdalil dengan ayat ini, bahwa masa kehamilan paling sedikit adalah enam bulan, karena masa menyusui selama dua tahun, sehingga 30 bulan dikurang 24 bulan sama dengan 6 bulan.
[3] Yakni telah sempurna kekuatannya, akalnya, dan pandangannya, dimana paling sedikitnya adalah 30 atau 33 tahun.
[4] Baik nikmat agama maupun nikmat dunia. Mensyukurinya adalah dengan menggunakan nikmat-nikmat itu untuk menaati pemberi nikmat, mengakuinya dan merasa dirinya kurang bersyukur serta bersungguh-sungguh dalam memuji Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[5] Nikmat yang Allah berikan kepada orang tua kita merupakan nikmat bagi kita. Di antara sekian nikmat yang Allah limpahkan kepada orang tua kita yang paling besarnya adalah nikmat beragama Islam dan mengamalkannya sehingga kita dapat mengikutinya.
[6] Setelah ia berdoa kepada Allah untuk kebaikan dirinya, maka dia berdoa kepada Allah untuk kebaikan anak cucunya, yaitu agar Allah memperbaiki keadaan mereka, dan bahwa kesalihan mereka manfaatnya kembali juga kepada kedua orang tua mereka.
[7] Dari dosa dan maksiat serta kembali menaati-Mu.
[8] Yang telah disebutkan sifatnya di ayat sebelumnya.
[9] Yaitu amal ketaatan.
[10] Sehingga mereka memperoleh kebaikan dan sesuatu yang mereka cintai, dan mereka akan terhindar dari keburukan serta sesuatu yang mereka benci.
[11] Hal itu, karena janji tersebut adalah janji dari Allah yang tidak pernah mengingkari janji.
[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan keadaan orang saleh yang berbakti kepada kedua orang tuanya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kebalikannya, yaitu menyebutkan keadaan orang yang durhaka, dan bahwa keadaan tersebut adalah keadaan yang paling buruk.
[13] Kedua orang tuanya mengajaknya beriman kepada Allah dan hari akhir serta menakut-nakutinya dengan pembalasan. Ini merupakan ihsan yang terbesar yang diberikan orang tua kepada anaknya; mengajak kepada kebahagiaan dan keberuntungan yang kekal. Namun sayang, perbuatan baik ini dibalas dengan balasan yang buruk.
[14] dan mereka belum juga dibangkitkan.
[15] Kedua orang tuanya berusaha keras untuk menunjuki anaknya sampai berdoa kepada Allah untuk kebaikannya, namun dibalas dengan kata-kata yang sangat menyakitkan sampai akhirnya kedua orang tuanya mencelanya dengan keras dan menerangkan yang hak (benar) kepadanya.
[16] Kedua orang tuanya menegakkan hujjah terhadap kebenarannya semampunya, tetapi anaknya tetap saja sombong kepada kebenaran dan menjauhinya serta mencelanya dengan mengatakan, bahwa itu adalah dongengan orang-orang yang terdahulu.
[17] Padahal semua orang tahu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam seorang yang ummiy; tidak mengenal baca-tulis dan tidak belajar kepada seseorang, sehingga dari mana Beliau bisa membawa Al Qur’an yang tidak dapat ditandingi oleh jin dan manusia -meskipun mereka saling bantu-membantu untuk membuat yang semisalnya- kalau bukan berasal dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala?
[18] Yang sama-sama kafir dan mendustakan.
[19] Rugi artinya kehilangan modal, dan jika sudah kehilangan modal, maka bagaimana akan mendapat untung. Mereka telah kehilangan iman, sehingga di akhirat tidak akan mendapatkan sedikit pun kenikmatan serta tidak akan selamat dari azab neraka.
[20] Orang yang baik (mukmin) maupun orang yang buruk (kafir).
[21] Semuanya tergantung tingkat kebaikan dan keburukannya, dan tempat mereka di akhirat tergantung amal mereka. Orang-orang mukmin berada di tempat yang tinggi, yaitu surga, sedangkan orang-orang kafir berada di tempat yang rendah, yaitu neraka.
[22] Yaitu dengan ditambah keburukannya atau dikurangi kebaikannya.
[23] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan keadaan orang-orang kafir ketika dihadapkan ke neraka saat mereka dicela dan digertak.
[24] Yakni kamu merasa tenteram dengan dunia, tertipu oleh kesenangannya, ridha dengan syahwatnya, rezeki yang baik telah membuatmu lalai dari menggunakannya untuk akhirat, dan kamu bersenang-senang seperti bersenang-senangnya hewan ternak.
[25] Yakni karena kamu berkata-kata terhadap Allah dengan tidak benar, kamu nisbatkan jalan sesat yang kamu pegang selama ini kepada Allah dan kepada hukum-Nya, dan kamu dusta dalam semua itu.
[26] Yakni sombong dari menaati-Nya. Dengan demikian, mereka menggabung berkata yang batil, beramal yang batil, berdusta terhadap Allah, mencacatkan yang benar dan sombong terhadap kebenaran, sehingga mereka dihukum dengan hukuman yang sangat pedih.
[27] Yaitu Nabi Hud ‘alaihis salam salah seorang rasul yang mulia; yang Allah lebihkan dia dengan dakwahnya kepada agama-Nya dan membimbing manusia kepada-Nya.
[28] Yang berada di Yaman.
[29] Sehingga Beliau bukanlah rasul yang baru.
[30] Jika kamu menyembah selain-Nya.
[31] Namun ternyata dakwah Beliau tidak bermanfaat apa-apa bagi mereka.
[32] Yakni kamu tidak punya niat selain dengki kepada sesembahan kami, sehingga kamu ingin memalingkan kami darinya.
[33] Ini merupakan kebodohan yang dalam dan sikap keras kepala mereka.
[34] Yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang mengetahui kapan datangnya azab itu kepada kamu.
[35] Karena meminta disegerakan azab.
[36] Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengirimkan kepada mereka azab yang besar, yaitu angin yang akan membinasakan mereka. Angin tersebut seperti awan yang menuju lembah-lembah mereka untuk memberikan siraman hujan.
[37] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman.
[38] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menimpakan angin itu dengan izin dan kehendak-Nya selama 7 malam dan 8 hari terus menerus sehingga mereka mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).
[39] Jiwa, harta dan hewan ternak mereka binasa oleh azab itu.
[40] Disebabkan dosa dan kezaliman mereka, padahal Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah melimpahkan nikmat yang banyak, namun mereka tidak mensyukurinya dan tidak mengingat-Nya sebagaimana yang Allah terangkan dalam ayat selanjutnya.
Minggu, 04 Mei 2014
Sabtu, 03 Mei 2014
Tafsir Al Jaatsiyah Ayat 27-37
Ayat 27-35: Gambaran keadaan umat-umat pada hari hati Kiamat sambil menunggu tempat mereka; di surga atau di neraka.
وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَخْسَرُ الْمُبْطِلُونَ (٢٧) وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٢٨) هَذَا كِتَابُنَا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٢٩) فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِي رَحْمَتِهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ (٣٠) وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا أَفَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاسْتَكْبَرْتُمْ وَكُنْتُمْ قَوْمًا مُجْرِمِينَ (٣١) وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ لا رَيْبَ فِيهَا قُلْتُمْ مَا نَدْرِي مَا السَّاعَةُ إِنْ نَظُنُّ إِلا ظَنًّا وَمَا نَحْنُ بِمُسْتَيْقِنِينَ (٣٢) وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (٣٣) وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (٣٤) ذَلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ (٣٥)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 27-35
27. [1]Dan milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya Kiamat, maka akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan (dosa).
28. [2]Dan (pada hari itu) engkau akan melihat setiap umat berlutut[3]. Setiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya[4]. Pada hari itu kamu diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.
29. (Allah berfirman), "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”
30. Maka adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan[5], maka Tuhan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Demikian itulah kemenangan yang nyata[6].
31. Dan adapun kepada orang-orang yang kafir (difirmankan[7]), "Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu[8], tetapi kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi orang-orang yang berbuat dosa[9]?"
32. [10]Dan apabila dikatakan (kepadamu), "Sungguh, janji Allah itu benar, dan hari Kiamat itu tidak diragukan adanya,” kamu menjawab, "Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami hanyalah menduga-duga saja dan kami tidak yakin[11].”
33. Dan nyatalah bagi mereka[12] keburukan-keburukan yang mereka kerjakan[13], dan berlakulah (azab) terhadap mereka yang dahulu mereka perolok-olokkan.
34. Dan kepada mereka dikatakan, "Pada hari ini Kami melupakan kamu[14] sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini[15]; dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tidak akan ada penolong bagimu[16].
35. Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu telah menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan[17], dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia[18].” Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertobat[19].
Ayat 36-37: Segala puji milik Allah Subhaanahu wa Ta'aala Yang memiliki segala sesuatu, yang mempunyai kebesaran, keperkasaan dan kekuasaan.
فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الأرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٣٦) وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٣٧)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 36-37
36. Segala puji hanya bagi Allah[20], Tuhan (pemilik) langit dan Tuhan bumi, Tuhan seluruh alam[21].
37. Dan hanya bagi-Nya segala keagungan di langit dan di bumi[22], dan Dialah Yang Mahaperkasa[23] lagi Mahabijaksana[24].
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang luasnya kerajaan-Nya, sendirinya Dia dalam di setiap waktu, dan bahwa pada saat tibanya Kiamat, sedangkan semua makhluk dikumpulkan di padang mahsyar, maka rugilah orang-orang yang berada di atas kebatilan yang menggunakan kebatilan untuk menolak yang hak, dan amal mereka juga batil karena terikat dengan yang batil sehingga batil pula pada hari Kiamat; hari dimana semua hakikat tampak jelas, kebaikan luput dari mereka dan mereka memperoleh azab yang pedih.
[2] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati dahsyatnya hari Kiamat untuk memperingatkan hamba dan agar mereka bersiap-siap menghadapinya.
[3] Karena takut dan khawatir sambil menunggu keputusan Ar Rahman.
[4] Menurut Syaikh As Sa’diy, setiap umat dipanggil kepada syariat nabi mereka yang datang kepada mereka dari sisi Allah, apakah mereka mengerjakannya sehingga mereka mendapatkan pahala dan keselamatan atau mereka malah menyia-nyiakannya sehingga mereka memperoleh kerugian? Umat Nabi Musa ‘alaihis salam akan dipanggil kepada syariat Nabi Musa, demikian pula umat Nabi Isa ‘alaihis salam dan umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Setiap umat dipanggil kepada syariat yang dibebankan kepadanya. Ini salah satu tafsir ayat tesebut, dan tafsir ini benar. Bisa juga maksudnya, bahwa setiap umat dipanggil kepada catatan amalnya dan apa yang tertulis di sana baik atau buruk, dan bahwa setiap orang akan dibalas sesuai amal yang dikerjakannya seperti dalam firman Allah Ta’ala, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” (Terj. Al Jaatsiyah: 15) Bisa jadi kedua tafsir ini merupakamn maksud ayat tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya di ayat selanjutnya, “(Allah berfirman), "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya.” Yakni ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang akan memutuskan di antara kamu dengan hak atau adil. Firman-Nya lagi, “Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.” Ini adalah catatan amal. Oleh karena itu, pada ayat selanjutnya lagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan secara rinci tindakan Allah terhadap dua golongan; golongan mukminin dan golongan kafirin.
[5] Mereka beriman dengan iman yang benar dan membenarkan keimanan mereka dengan amal saleh, baik yang wajib maupun yang sunat.
[6] Karena apabila seseorang mendapatkannya, maka ia akan mendapatkan semua kebaikan dan akan terhindar dari semua keburukan.
[7] Dengan dicela dan ditegur secara keras.
[8] Yang di sana diterangkan hal yang menjadi kebaikan bagi kamu dan dilarang hal yang memadharratkan kamu. Ia merupakan nikmat terbesar yang sampai kepada kamu jika kamu diberi taufiq untuknya, akan tetapi kamu menyombongkan diri darinya dan berpaling serta kafir kepadanya. Maka pada hari ini, kamu akan diberi balasan terhadap amalmu.
[9] Yakni orang-orang kafir.
[10] Mereka juga dicela lagi dengan ayat ini.
[11] Ia akan datang.
[12] Di akhirat.
[13] Di dunia.
[14] Yakni membiarkan kamu dalam azab.
[15] Yakni tidak beramal untuk menghadapinya. Hal itu, karena balasan sesuai dengan amal yang dikerjakan.
[16] Yang menolong kamu dari azab Allah dan menghindarkan siksa-Nya.
[17] Padahal ayat-ayat Allah itu seharusnya diseriusi dan diterima dengan senang hati.
[18] Sehingga kamu katakan, bahwa kebangkitan itu tidak ada dan neraka juga tidak ada.
[19] Karena ketika itu sudah tidak bermanfaat dan mereka tidak akan dikembalikan ke dunia.
[20] Sebagaimana yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran kerajaan-Nya.
[21] Dia berhak mendapat segala puji karena rububiyyah (pengurusan)-Nya terhadap semua makhluk, Dia yang menciptakan mereka dan mengurus mereka serta mengaruniakan berbagai nikmat kepada mereka yang tampak maupun yang tersembunyi.
[22] Dalam pujian terdapat sanjungan bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala karena sifat-Nya yang sempurna, kecintaan kepada-Nya dan pengagungan-Nya. Sedangkan pada keagungan terdapat pengagungan dan pembesaran-Nya. Dan ibadah itu dibangun di atas dua rukun, yaitu cinta kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan menghinakan diri kepada-Nya, dan keduanya muncul dari pengetahuan terhadap keberhakan Allah untuk dipuji, keagungan dan kebesaran-Nya.
[23] Dia menundukkan segala sesuatu.
[24] Dia menempatkan sesuatu pada tempatnya, Dia tidaklah mensyariatkan suatu syariat kecuali karena hikmah dan maslahat dan tidaklah mencipta kecuali karena faedah dan manfaat.
وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَخْسَرُ الْمُبْطِلُونَ (٢٧) وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٢٨) هَذَا كِتَابُنَا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٢٩) فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِي رَحْمَتِهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ (٣٠) وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا أَفَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاسْتَكْبَرْتُمْ وَكُنْتُمْ قَوْمًا مُجْرِمِينَ (٣١) وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ لا رَيْبَ فِيهَا قُلْتُمْ مَا نَدْرِي مَا السَّاعَةُ إِنْ نَظُنُّ إِلا ظَنًّا وَمَا نَحْنُ بِمُسْتَيْقِنِينَ (٣٢) وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (٣٣) وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (٣٤) ذَلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ (٣٥)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 27-35
27. [1]Dan milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya Kiamat, maka akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan (dosa).
28. [2]Dan (pada hari itu) engkau akan melihat setiap umat berlutut[3]. Setiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya[4]. Pada hari itu kamu diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.
29. (Allah berfirman), "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”
30. Maka adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan[5], maka Tuhan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Demikian itulah kemenangan yang nyata[6].
31. Dan adapun kepada orang-orang yang kafir (difirmankan[7]), "Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu[8], tetapi kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi orang-orang yang berbuat dosa[9]?"
32. [10]Dan apabila dikatakan (kepadamu), "Sungguh, janji Allah itu benar, dan hari Kiamat itu tidak diragukan adanya,” kamu menjawab, "Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami hanyalah menduga-duga saja dan kami tidak yakin[11].”
33. Dan nyatalah bagi mereka[12] keburukan-keburukan yang mereka kerjakan[13], dan berlakulah (azab) terhadap mereka yang dahulu mereka perolok-olokkan.
34. Dan kepada mereka dikatakan, "Pada hari ini Kami melupakan kamu[14] sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini[15]; dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tidak akan ada penolong bagimu[16].
35. Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu telah menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan[17], dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia[18].” Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertobat[19].
Ayat 36-37: Segala puji milik Allah Subhaanahu wa Ta'aala Yang memiliki segala sesuatu, yang mempunyai kebesaran, keperkasaan dan kekuasaan.
فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الأرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٣٦) وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٣٧)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 36-37
36. Segala puji hanya bagi Allah[20], Tuhan (pemilik) langit dan Tuhan bumi, Tuhan seluruh alam[21].
37. Dan hanya bagi-Nya segala keagungan di langit dan di bumi[22], dan Dialah Yang Mahaperkasa[23] lagi Mahabijaksana[24].
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang luasnya kerajaan-Nya, sendirinya Dia dalam di setiap waktu, dan bahwa pada saat tibanya Kiamat, sedangkan semua makhluk dikumpulkan di padang mahsyar, maka rugilah orang-orang yang berada di atas kebatilan yang menggunakan kebatilan untuk menolak yang hak, dan amal mereka juga batil karena terikat dengan yang batil sehingga batil pula pada hari Kiamat; hari dimana semua hakikat tampak jelas, kebaikan luput dari mereka dan mereka memperoleh azab yang pedih.
[2] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati dahsyatnya hari Kiamat untuk memperingatkan hamba dan agar mereka bersiap-siap menghadapinya.
[3] Karena takut dan khawatir sambil menunggu keputusan Ar Rahman.
[4] Menurut Syaikh As Sa’diy, setiap umat dipanggil kepada syariat nabi mereka yang datang kepada mereka dari sisi Allah, apakah mereka mengerjakannya sehingga mereka mendapatkan pahala dan keselamatan atau mereka malah menyia-nyiakannya sehingga mereka memperoleh kerugian? Umat Nabi Musa ‘alaihis salam akan dipanggil kepada syariat Nabi Musa, demikian pula umat Nabi Isa ‘alaihis salam dan umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Setiap umat dipanggil kepada syariat yang dibebankan kepadanya. Ini salah satu tafsir ayat tesebut, dan tafsir ini benar. Bisa juga maksudnya, bahwa setiap umat dipanggil kepada catatan amalnya dan apa yang tertulis di sana baik atau buruk, dan bahwa setiap orang akan dibalas sesuai amal yang dikerjakannya seperti dalam firman Allah Ta’ala, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” (Terj. Al Jaatsiyah: 15) Bisa jadi kedua tafsir ini merupakamn maksud ayat tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya di ayat selanjutnya, “(Allah berfirman), "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya.” Yakni ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang akan memutuskan di antara kamu dengan hak atau adil. Firman-Nya lagi, “Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.” Ini adalah catatan amal. Oleh karena itu, pada ayat selanjutnya lagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan secara rinci tindakan Allah terhadap dua golongan; golongan mukminin dan golongan kafirin.
[5] Mereka beriman dengan iman yang benar dan membenarkan keimanan mereka dengan amal saleh, baik yang wajib maupun yang sunat.
[6] Karena apabila seseorang mendapatkannya, maka ia akan mendapatkan semua kebaikan dan akan terhindar dari semua keburukan.
[7] Dengan dicela dan ditegur secara keras.
[8] Yang di sana diterangkan hal yang menjadi kebaikan bagi kamu dan dilarang hal yang memadharratkan kamu. Ia merupakan nikmat terbesar yang sampai kepada kamu jika kamu diberi taufiq untuknya, akan tetapi kamu menyombongkan diri darinya dan berpaling serta kafir kepadanya. Maka pada hari ini, kamu akan diberi balasan terhadap amalmu.
[9] Yakni orang-orang kafir.
[10] Mereka juga dicela lagi dengan ayat ini.
[11] Ia akan datang.
[12] Di akhirat.
[13] Di dunia.
[14] Yakni membiarkan kamu dalam azab.
[15] Yakni tidak beramal untuk menghadapinya. Hal itu, karena balasan sesuai dengan amal yang dikerjakan.
[16] Yang menolong kamu dari azab Allah dan menghindarkan siksa-Nya.
[17] Padahal ayat-ayat Allah itu seharusnya diseriusi dan diterima dengan senang hati.
[18] Sehingga kamu katakan, bahwa kebangkitan itu tidak ada dan neraka juga tidak ada.
[19] Karena ketika itu sudah tidak bermanfaat dan mereka tidak akan dikembalikan ke dunia.
[20] Sebagaimana yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran kerajaan-Nya.
[21] Dia berhak mendapat segala puji karena rububiyyah (pengurusan)-Nya terhadap semua makhluk, Dia yang menciptakan mereka dan mengurus mereka serta mengaruniakan berbagai nikmat kepada mereka yang tampak maupun yang tersembunyi.
[22] Dalam pujian terdapat sanjungan bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala karena sifat-Nya yang sempurna, kecintaan kepada-Nya dan pengagungan-Nya. Sedangkan pada keagungan terdapat pengagungan dan pembesaran-Nya. Dan ibadah itu dibangun di atas dua rukun, yaitu cinta kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan menghinakan diri kepada-Nya, dan keduanya muncul dari pengetahuan terhadap keberhakan Allah untuk dipuji, keagungan dan kebesaran-Nya.
[23] Dia menundukkan segala sesuatu.
[24] Dia menempatkan sesuatu pada tempatnya, Dia tidaklah mensyariatkan suatu syariat kecuali karena hikmah dan maslahat dan tidaklah mencipta kecuali karena faedah dan manfaat.
Tafsir Al Jaatsiyah Ayat 14-26
Ayat 14-15: Balasan bagi orang-orang mukmin dan hukuman bagi orang-orang kafir.
قُلْ لِلَّذِينَ آمَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّهِ لِيَجْزِيَ قَوْمًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (١٤) مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (١٥)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 14-15
14. Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan (gangguan dari) orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah[1], karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.
15. [2]Barang siapa mengerjakan kebajikan, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmu dikembalikan[3].
Ayat 16-19: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Bani Israil berupa kitab Taurat, kekuasaan dan kenabian, tetapi mereka mengingkarinya dan malah mengikuti yang batil seperti keingkaran mereka kepada kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah mereka mengetahui bukti-bukti kebenarannya.
وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (١٦) وَآتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الأمْرِ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (١٧) ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ (١٨) إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (١٩)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 16-19
16. Dan sungguh, kepada Bani Israil telah Kami berikan kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian[4], Kami anugerahkan kepada mereka rezeki yang baik[5], dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masa itu).
17. Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas tentang urusan (agama)[6]; [7]maka mereka tidak berselisih[8]kecuali setelah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka[9]. Sungguh, Tuhanmu akan memberi putusan kepada mereka pada hari Kiamat terhadap apa yang selalu mereka perselisihkan[10].
18. Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari (agama itu)[11], maka ikutilah (syariat itu)[12] dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui[13].
19. Sungguh, mereka tidak akan dapat menghindarkan engkau sedikit pun dari (azab) Allah[14]. Dan Sungguh, orang-orang yang zalim itu sebagian menjadi pelindung atas sebagian yang lain; sedang Allah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa[15].
Ayat 20-22: Al Qur’anul Karim adalah kitab yang mengandung petunjuk dan cahaya, dan perbedaan antara orang yang beramal saleh dengan orang yang beramal buruk.
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٢٠) أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (٢١) وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (٢٢)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 20-22
20. Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia[16], petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini[17].
21. Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu[18] mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan[19], yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?[20] Alangkah buruknya penilaian mereka itu[21].
22. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar[22], dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya[23], dan mereka tidak akan dirugikan.
Ayat 23-26: Bantahan terhadap ucapan kaum musyrik tentang akhirat dan terhadap sangkaan mereka bahwa mereka tidak akan dibangkitkan.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (٢٣) وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ (٢٤)وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ مَا كَانَ حُجَّتَهُمْ إِلا أَنْ قَالُوا ائْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٢٥) قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لا رَيْبَ فِيهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٦)
23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya[24] dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya[25], dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya[26] serta meletakkan tutupan atas penglihatannya[27]? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)[28]? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?[29]
24. [30]Dan mereka berkata[31], "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup[32], dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa[33]." Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu[34], mereka hanyalah menduga-duga saja[35].
25. Dan apabila kepada mereka dibacakan ayat-ayat Kami yang jelas[36], tidak ada bantahan mereka selain mengatakan, "Hidupkanlah kembali nenek moyang kami jika kamu orang yang benar[37]."
26. Katakanlah, "Allah-lah yang menghidupkan[38] kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu[39] pada hari kiamat yang tidak diragukan lagi; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[40].
[1] Yang dimaksud hari-hari Allah ialah hari-hari di waktu Allah menimpakan siksaan-siksaan kepada mereka.
[2] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar berakhlak mulia, bersabar terhadap gangguan kaum musyrik yang tidak takut azab Allah kepada mereka yang durhaka kepada-Nya dan tidak menginginkan pahala-Nya. Orang-orang yang mukmin, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan membalas iman, sikap memaafkan dan bersabar dari mereka dengan pahala yang besar, sedangkan mereka (kaum musyrik) jika tetap mendustakan maka mereka akan ditimpa azab yang pedih dan kehinaan.
[3] Lalu Dia akan memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat jahat.
[4] Yakni Kami telah memberi berbagai nikmat kepada Bani Israil yang tidak diberikan kepada bangsa yang lain; Kami beri mereka kitab, yaitu Taurat dan Injil, kekuasaan terhadap manusia, dan kenabian. Oleh karena itu, banyak para nabi yang berasal dari Bani Israil.
[5] Seperti makanan, minuman, pakaian, manna dan salwa.
[6] Seperti tentang yang halal dan yang haram dan tentang pengutusan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ayat ini bisa juga diartikan dengan, “Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas dari perkara (qadari).” Yakni yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala sampaikan kepada mereka. Keterangan yang jelas ini menurut Syaikh As Sa’diy adalah mukjizat-mukjizat yang mereka lihat di tangan Nabi Musa ‘alaihis salam.
[7] Nikmat-nikmat yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala berikan kepada Bani Israil ini menghendaki mereka mengikuti yang hak secara sempurna dan berkumpul di atas yang hak yang telah Allah terangkan kepada mereka, akan tetapi kenyataannya berbeda, mereka malah melakukan sebaliknya; mereka berpecah belah dalam hal yang mereka diperintahkan untuk berkumpul di atasnya. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka mereka tidak berselisih kecuali setelah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka.” Ilmu yang datang kepada mereka menghendaki mereka agar tidak berselisih, tetapi mereka malah berselisih disebabkan kedengkian mereka antara yang satu dengan yang lain dan disebabkan kezaliman.
[8] Tentang kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[9] Seperti kedengkian mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[10] Dia akan memisahkan yang hak dengan yang batil.
[11] Yakni kemudian Kami mensyariatkan kepadamu syariat yang sempurna yang mengajak kepada semua kebaikan dan melarang semua keburukan yang berasal dari perintah Kami yang syar’i.
[12] Karena dengan mengikutinya seseorang akan bahagia, baik dan beruntung.
[13] Yaitu mereka yang keinginannya tidak mengikuti ilmu dan tidak berjalan di belakangnya. Mereka ini adalah orang-orang yang hawa nafsunya tidak sejalan dengan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
[14] Maksudnya mereka tidak bermanfaat bagimu di sisi Allah; mereka tidak dapat memberikan kebaikan kepadamu dan tidak dapat menghindarkan keburukan darimu jika kamu mengikuti keinginan mereka. Oleh karena itu, kamu tidak pantas sejalan dan sepakat dengan mereka karena kamu dan mereka berbeda, sedangkan mereka menjadi pelindung antara sesama mereka.
[15] Dia akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya disebabkan ketakwaan mereka.
[16] Dengan Al Qur’an diperoleh pandangan yang jelas dalam menyikapi semua masalah, sehingga orang-orang mukmin akan mendapatkan manfaat, petunjuk dan rahmat.
[17] Dengan Al Qur’an mereka memperoleh petunjuk ke jalan yang lurus baik dalam masalah ushul (dasar) maupun furu’ (cabang), demikian pula tercapai kebaikan, kesenangan, kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan inilah rahmat. Dengannya jiwa mereka menjadi bersih, kecerdasan mereka bertambah, demikian pula keimanan dan keyakinan mereka dan dengannya hujjah pun menjadi tegak kepada orang yang tetap membangkang.
[18] Yaitu mereka yang banyak dosa dan meremehkan hak Tuhan mereka.
[19] Yaitu mereka yang memenuhi hak-hak Tuhan mereka, menjauhi kemurkaan-Nya, dan senantiasa mengutamakan keridhaan Tuhan mereka daripada hawa nafsu mereka.
[20] Maksudnya, apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka akan disamakan dengan kaum mukmin di akhirat, yakni berada dalam kebaikan dan kenikmatan seperti halnya orang-orang mukmin. Bahkan tidak demikian, mereka (orang-orang kafir) di akhirat berada dalam azab, kehinaan, dan kesengsaraan tidak seperti keadaan mereka ketika di dunia, sedangkan kaum mukmin di akhirat mendapatkan pahala, kemenangan, keberuntungan, kebahagiaan karena amal mereka ketika di dunia, seperti shalat, zakat, puasa, dsb.
[21] Hal itu karena keputusan tersebut menyelisihi kebijaksanaan hakim yang paling baik dan paling adil, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Keputusan tersebut juga bertentangan dengan akal yang sehat dan fitrah yang lurus, bertentangan dengan kitab-kitab yang diturunkan dan bertentangan dengan apa yang dibawa para rasul.
[22] Untuk menunjukkan kekuasaan dan keesaan-Nya. Atau maksud “bil haq” adalah dengan hikmah (kebijaksanaan) dan agar Dia diibadahi saja, selanjutnya Dia akan menghisab mereka setelah itu, yakni setelah mereka diperintahkan beribadah dan dikaruniakan berbagai nikmat, apakah mereka bersyukur dan mengerjakan perintah-Nya atau tidak? Atau bahkan mereka malah kufur dan meninggalkan perintah-Nya?
[23] Baik berupa ketaatan atau kemaksiatan.
[24] Yakni apa yang diinginkan hawa nafsunya dia kerjakan, baik mendatangkan keridhaan Allah atau kemurkaan-Nya.
[25] Maksudnya Allah membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa orang itu tidak mau menerima petunjuk yang diberikan kepadanya sebelum ia diciptakan.
[26] Sehingga dia tidak dapat mendengar petunjuk dan tidak dapat memahami.
[27] Sehingga ia tidak dapat melihat petunjuk.
[28] Tidak ada seorang pun yang dapat memberinya hidayah ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menutup pintu-pintu hidayah dan membuka pintu-pintu kesesatan. Allah tidaklah menzaliminya, akan tetapi dialah yang menzalimi dirinya dan yang mengadakan sebab untuk terhalang dari rahmat Allah.
[29] Bisa juga diartikan, “Tidakkah kamu ingat?” Yakni ingat sesuatu yang bermanfaat bagimu lalu kamu mengerjakannya dan ingat sesuatu yang bermadharrat sehingga kamu dapat menjauhinya.
[30] Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Orang-orang jahiliyyah mengatakan bahwa yang membinasakan kami adalah malam dan siang, itulah yang membinasakan kami, mematikan dan menghidupkan kami.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman dalam kitab-Nya, “Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Beliau bersabda, “Mereka mencaci-maki masa, maka Allah Tabaaraka wa Ta'aala berfirman, “Anak Adam menyakiti-Ku karena mencaci-maki masa. Aku adalah masa; di tangan-Ku segala urusan; Aku mengatur malam dan siang.” (Hadits ini disebutkan As Suyuthi dalam Al Lubab secara mauquf sampai kepada Abu Hurairah dan ia menisbatkan kepada Ibnul Mundzir, dan di sana disebutkan, maka Allah menurunkan ayat, dan disebutkanlah ayat itu. Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya juz 4 hal. 151, “Ibnu Jarir menyebutkan dengan susunan yang asing sekali,” lalu ia menyebutkannya dan berkata, “Demikian pula Ibnu Abi Hatim dari Ahmad bin Manshur dari Suraih bin Nu’man dari Ibnu Uyaynah.” Syaikh Muqbil berkata, “Saya tidak mengetahui sisi gharib (asing) pada susunannya. Adapun sanad, maka para perawinya perawi hadits shahih, Al Haafizh menyebutkannya dalam Al Fath-h juz 10 hal. 195 dan ia mendiamkannya.”
[31] Sambil mengingkari kebangkitan.
[32] Yakni sebagian kita mati, sedangkan sebagian lagi hidup (lahir).
[33] Yakni berlalunya waktu. Oleh karena itu, menurut mereka setelah seorang mati, maka ia tidak akan kembali kepada Allah dan tidak akan dibalas amalnya.
[34] Yakni tentang ucapan itu.
[35] Oleh karena mereka hanya menduga-duga saja sehingga mereka mengingkari akhirat, mendustakan para rasul tanpa dalil dan bukti yang menguatkan sikap mereka itu. Hal itu hanyalah sangkaan-sangkaan mereka saja yang kosong dari hakikat.
[36] Yakni yang menunjukkan bahwa Kami berkuasa membangkitkan.
[37] Ini adalah sikap beraninya mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dimana mereka mengusulkan usulan ini dan menyangka bahwa untuk membuktikan kebenaran para rasul Allah tergantung apakah mereka (para rasul tersebut) mampu mendatangkan nenek moyang mereka atau tidak, dan meskipun para rasul telah mendatangkan semua ayat, mereka tidak akan beriman kecuali jika rasul mengikuti usulan mereka. Mereka telah berdusta dalam ucapannya itu, maksud mereka hanyalah untuk menolak dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan untuk diterangkannya yang hak.
[38] Ketika kamu sebelumnya sebagai mani.
[39] Dalam keadaan hidup.
[40] Kalau seandainya pengetahuan mereka terhadap hari akhir masuk ke dalam hati mereka, tentu mereka akan mengerjakan amalan-amalan untuk menghadapinya.
قُلْ لِلَّذِينَ آمَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّهِ لِيَجْزِيَ قَوْمًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (١٤) مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (١٥)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 14-15
14. Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan (gangguan dari) orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah[1], karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.
15. [2]Barang siapa mengerjakan kebajikan, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmu dikembalikan[3].
Ayat 16-19: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Bani Israil berupa kitab Taurat, kekuasaan dan kenabian, tetapi mereka mengingkarinya dan malah mengikuti yang batil seperti keingkaran mereka kepada kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah mereka mengetahui bukti-bukti kebenarannya.
وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (١٦) وَآتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الأمْرِ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (١٧) ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ (١٨) إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (١٩)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 16-19
16. Dan sungguh, kepada Bani Israil telah Kami berikan kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian[4], Kami anugerahkan kepada mereka rezeki yang baik[5], dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masa itu).
17. Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas tentang urusan (agama)[6]; [7]maka mereka tidak berselisih[8]kecuali setelah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka[9]. Sungguh, Tuhanmu akan memberi putusan kepada mereka pada hari Kiamat terhadap apa yang selalu mereka perselisihkan[10].
18. Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari (agama itu)[11], maka ikutilah (syariat itu)[12] dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui[13].
19. Sungguh, mereka tidak akan dapat menghindarkan engkau sedikit pun dari (azab) Allah[14]. Dan Sungguh, orang-orang yang zalim itu sebagian menjadi pelindung atas sebagian yang lain; sedang Allah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa[15].
Ayat 20-22: Al Qur’anul Karim adalah kitab yang mengandung petunjuk dan cahaya, dan perbedaan antara orang yang beramal saleh dengan orang yang beramal buruk.
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٢٠) أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (٢١) وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (٢٢)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 20-22
20. Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia[16], petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini[17].
21. Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu[18] mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan[19], yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?[20] Alangkah buruknya penilaian mereka itu[21].
22. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar[22], dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya[23], dan mereka tidak akan dirugikan.
Ayat 23-26: Bantahan terhadap ucapan kaum musyrik tentang akhirat dan terhadap sangkaan mereka bahwa mereka tidak akan dibangkitkan.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (٢٣) وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ (٢٤)وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ مَا كَانَ حُجَّتَهُمْ إِلا أَنْ قَالُوا ائْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٢٥) قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لا رَيْبَ فِيهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٦)
23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya[24] dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya[25], dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya[26] serta meletakkan tutupan atas penglihatannya[27]? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)[28]? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?[29]
24. [30]Dan mereka berkata[31], "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup[32], dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa[33]." Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu[34], mereka hanyalah menduga-duga saja[35].
25. Dan apabila kepada mereka dibacakan ayat-ayat Kami yang jelas[36], tidak ada bantahan mereka selain mengatakan, "Hidupkanlah kembali nenek moyang kami jika kamu orang yang benar[37]."
26. Katakanlah, "Allah-lah yang menghidupkan[38] kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu[39] pada hari kiamat yang tidak diragukan lagi; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[40].
[1] Yang dimaksud hari-hari Allah ialah hari-hari di waktu Allah menimpakan siksaan-siksaan kepada mereka.
[2] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar berakhlak mulia, bersabar terhadap gangguan kaum musyrik yang tidak takut azab Allah kepada mereka yang durhaka kepada-Nya dan tidak menginginkan pahala-Nya. Orang-orang yang mukmin, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan membalas iman, sikap memaafkan dan bersabar dari mereka dengan pahala yang besar, sedangkan mereka (kaum musyrik) jika tetap mendustakan maka mereka akan ditimpa azab yang pedih dan kehinaan.
[3] Lalu Dia akan memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat jahat.
[4] Yakni Kami telah memberi berbagai nikmat kepada Bani Israil yang tidak diberikan kepada bangsa yang lain; Kami beri mereka kitab, yaitu Taurat dan Injil, kekuasaan terhadap manusia, dan kenabian. Oleh karena itu, banyak para nabi yang berasal dari Bani Israil.
[5] Seperti makanan, minuman, pakaian, manna dan salwa.
[6] Seperti tentang yang halal dan yang haram dan tentang pengutusan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ayat ini bisa juga diartikan dengan, “Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas dari perkara (qadari).” Yakni yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala sampaikan kepada mereka. Keterangan yang jelas ini menurut Syaikh As Sa’diy adalah mukjizat-mukjizat yang mereka lihat di tangan Nabi Musa ‘alaihis salam.
[7] Nikmat-nikmat yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala berikan kepada Bani Israil ini menghendaki mereka mengikuti yang hak secara sempurna dan berkumpul di atas yang hak yang telah Allah terangkan kepada mereka, akan tetapi kenyataannya berbeda, mereka malah melakukan sebaliknya; mereka berpecah belah dalam hal yang mereka diperintahkan untuk berkumpul di atasnya. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka mereka tidak berselisih kecuali setelah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka.” Ilmu yang datang kepada mereka menghendaki mereka agar tidak berselisih, tetapi mereka malah berselisih disebabkan kedengkian mereka antara yang satu dengan yang lain dan disebabkan kezaliman.
[8] Tentang kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[9] Seperti kedengkian mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[10] Dia akan memisahkan yang hak dengan yang batil.
[11] Yakni kemudian Kami mensyariatkan kepadamu syariat yang sempurna yang mengajak kepada semua kebaikan dan melarang semua keburukan yang berasal dari perintah Kami yang syar’i.
[12] Karena dengan mengikutinya seseorang akan bahagia, baik dan beruntung.
[13] Yaitu mereka yang keinginannya tidak mengikuti ilmu dan tidak berjalan di belakangnya. Mereka ini adalah orang-orang yang hawa nafsunya tidak sejalan dengan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
[14] Maksudnya mereka tidak bermanfaat bagimu di sisi Allah; mereka tidak dapat memberikan kebaikan kepadamu dan tidak dapat menghindarkan keburukan darimu jika kamu mengikuti keinginan mereka. Oleh karena itu, kamu tidak pantas sejalan dan sepakat dengan mereka karena kamu dan mereka berbeda, sedangkan mereka menjadi pelindung antara sesama mereka.
[15] Dia akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya disebabkan ketakwaan mereka.
[16] Dengan Al Qur’an diperoleh pandangan yang jelas dalam menyikapi semua masalah, sehingga orang-orang mukmin akan mendapatkan manfaat, petunjuk dan rahmat.
[17] Dengan Al Qur’an mereka memperoleh petunjuk ke jalan yang lurus baik dalam masalah ushul (dasar) maupun furu’ (cabang), demikian pula tercapai kebaikan, kesenangan, kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan inilah rahmat. Dengannya jiwa mereka menjadi bersih, kecerdasan mereka bertambah, demikian pula keimanan dan keyakinan mereka dan dengannya hujjah pun menjadi tegak kepada orang yang tetap membangkang.
[18] Yaitu mereka yang banyak dosa dan meremehkan hak Tuhan mereka.
[19] Yaitu mereka yang memenuhi hak-hak Tuhan mereka, menjauhi kemurkaan-Nya, dan senantiasa mengutamakan keridhaan Tuhan mereka daripada hawa nafsu mereka.
[20] Maksudnya, apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka akan disamakan dengan kaum mukmin di akhirat, yakni berada dalam kebaikan dan kenikmatan seperti halnya orang-orang mukmin. Bahkan tidak demikian, mereka (orang-orang kafir) di akhirat berada dalam azab, kehinaan, dan kesengsaraan tidak seperti keadaan mereka ketika di dunia, sedangkan kaum mukmin di akhirat mendapatkan pahala, kemenangan, keberuntungan, kebahagiaan karena amal mereka ketika di dunia, seperti shalat, zakat, puasa, dsb.
[21] Hal itu karena keputusan tersebut menyelisihi kebijaksanaan hakim yang paling baik dan paling adil, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Keputusan tersebut juga bertentangan dengan akal yang sehat dan fitrah yang lurus, bertentangan dengan kitab-kitab yang diturunkan dan bertentangan dengan apa yang dibawa para rasul.
[22] Untuk menunjukkan kekuasaan dan keesaan-Nya. Atau maksud “bil haq” adalah dengan hikmah (kebijaksanaan) dan agar Dia diibadahi saja, selanjutnya Dia akan menghisab mereka setelah itu, yakni setelah mereka diperintahkan beribadah dan dikaruniakan berbagai nikmat, apakah mereka bersyukur dan mengerjakan perintah-Nya atau tidak? Atau bahkan mereka malah kufur dan meninggalkan perintah-Nya?
[23] Baik berupa ketaatan atau kemaksiatan.
[24] Yakni apa yang diinginkan hawa nafsunya dia kerjakan, baik mendatangkan keridhaan Allah atau kemurkaan-Nya.
[25] Maksudnya Allah membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa orang itu tidak mau menerima petunjuk yang diberikan kepadanya sebelum ia diciptakan.
[26] Sehingga dia tidak dapat mendengar petunjuk dan tidak dapat memahami.
[27] Sehingga ia tidak dapat melihat petunjuk.
[28] Tidak ada seorang pun yang dapat memberinya hidayah ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menutup pintu-pintu hidayah dan membuka pintu-pintu kesesatan. Allah tidaklah menzaliminya, akan tetapi dialah yang menzalimi dirinya dan yang mengadakan sebab untuk terhalang dari rahmat Allah.
[29] Bisa juga diartikan, “Tidakkah kamu ingat?” Yakni ingat sesuatu yang bermanfaat bagimu lalu kamu mengerjakannya dan ingat sesuatu yang bermadharrat sehingga kamu dapat menjauhinya.
[30] Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Orang-orang jahiliyyah mengatakan bahwa yang membinasakan kami adalah malam dan siang, itulah yang membinasakan kami, mematikan dan menghidupkan kami.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman dalam kitab-Nya, “Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Beliau bersabda, “Mereka mencaci-maki masa, maka Allah Tabaaraka wa Ta'aala berfirman, “Anak Adam menyakiti-Ku karena mencaci-maki masa. Aku adalah masa; di tangan-Ku segala urusan; Aku mengatur malam dan siang.” (Hadits ini disebutkan As Suyuthi dalam Al Lubab secara mauquf sampai kepada Abu Hurairah dan ia menisbatkan kepada Ibnul Mundzir, dan di sana disebutkan, maka Allah menurunkan ayat, dan disebutkanlah ayat itu. Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya juz 4 hal. 151, “Ibnu Jarir menyebutkan dengan susunan yang asing sekali,” lalu ia menyebutkannya dan berkata, “Demikian pula Ibnu Abi Hatim dari Ahmad bin Manshur dari Suraih bin Nu’man dari Ibnu Uyaynah.” Syaikh Muqbil berkata, “Saya tidak mengetahui sisi gharib (asing) pada susunannya. Adapun sanad, maka para perawinya perawi hadits shahih, Al Haafizh menyebutkannya dalam Al Fath-h juz 10 hal. 195 dan ia mendiamkannya.”
[31] Sambil mengingkari kebangkitan.
[32] Yakni sebagian kita mati, sedangkan sebagian lagi hidup (lahir).
[33] Yakni berlalunya waktu. Oleh karena itu, menurut mereka setelah seorang mati, maka ia tidak akan kembali kepada Allah dan tidak akan dibalas amalnya.
[34] Yakni tentang ucapan itu.
[35] Oleh karena mereka hanya menduga-duga saja sehingga mereka mengingkari akhirat, mendustakan para rasul tanpa dalil dan bukti yang menguatkan sikap mereka itu. Hal itu hanyalah sangkaan-sangkaan mereka saja yang kosong dari hakikat.
[36] Yakni yang menunjukkan bahwa Kami berkuasa membangkitkan.
[37] Ini adalah sikap beraninya mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dimana mereka mengusulkan usulan ini dan menyangka bahwa untuk membuktikan kebenaran para rasul Allah tergantung apakah mereka (para rasul tersebut) mampu mendatangkan nenek moyang mereka atau tidak, dan meskipun para rasul telah mendatangkan semua ayat, mereka tidak akan beriman kecuali jika rasul mengikuti usulan mereka. Mereka telah berdusta dalam ucapannya itu, maksud mereka hanyalah untuk menolak dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan untuk diterangkannya yang hak.
[38] Ketika kamu sebelumnya sebagai mani.
[39] Dalam keadaan hidup.
[40] Kalau seandainya pengetahuan mereka terhadap hari akhir masuk ke dalam hati mereka, tentu mereka akan mengerjakan amalan-amalan untuk menghadapinya.
Tafsir Al Jaatsiyah Ayat 14-26
Ayat 14-15: Balasan bagi orang-orang mukmin dan hukuman bagi orang-orang kafir.
قُلْ لِلَّذِينَ آمَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّهِ لِيَجْزِيَ قَوْمًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (١٤) مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (١٥)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 14-15
14. Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan (gangguan dari) orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah[1], karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.
15. [2]Barang siapa mengerjakan kebajikan, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmu dikembalikan[3].
Ayat 16-19: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Bani Israil berupa kitab Taurat, kekuasaan dan kenabian, tetapi mereka mengingkarinya dan malah mengikuti yang batil seperti keingkaran mereka kepada kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah mereka mengetahui bukti-bukti kebenarannya.
وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (١٦) وَآتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الأمْرِ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (١٧) ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ (١٨) إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (١٩)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 16-19
16. Dan sungguh, kepada Bani Israil telah Kami berikan kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian[4], Kami anugerahkan kepada mereka rezeki yang baik[5], dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masa itu).
17. Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas tentang urusan (agama)[6]; [7]maka mereka tidak berselisih[8]kecuali setelah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka[9]. Sungguh, Tuhanmu akan memberi putusan kepada mereka pada hari Kiamat terhadap apa yang selalu mereka perselisihkan[10].
18. Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari (agama itu)[11], maka ikutilah (syariat itu)[12] dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui[13].
19. Sungguh, mereka tidak akan dapat menghindarkan engkau sedikit pun dari (azab) Allah[14]. Dan Sungguh, orang-orang yang zalim itu sebagian menjadi pelindung atas sebagian yang lain; sedang Allah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa[15].
Ayat 20-22: Al Qur’anul Karim adalah kitab yang mengandung petunjuk dan cahaya, dan perbedaan antara orang yang beramal saleh dengan orang yang beramal buruk.
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٢٠) أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (٢١) وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (٢٢)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 20-22
20. Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia[16], petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini[17].
21. Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu[18] mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan[19], yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?[20] Alangkah buruknya penilaian mereka itu[21].
22. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar[22], dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya[23], dan mereka tidak akan dirugikan.
Ayat 23-26: Bantahan terhadap ucapan kaum musyrik tentang akhirat dan terhadap sangkaan mereka bahwa mereka tidak akan dibangkitkan.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (٢٣) وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ (٢٤)وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ مَا كَانَ حُجَّتَهُمْ إِلا أَنْ قَالُوا ائْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٢٥) قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لا رَيْبَ فِيهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٦)
23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya[24] dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya[25], dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya[26] serta meletakkan tutupan atas penglihatannya[27]? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)[28]? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?[29]
24. [30]Dan mereka berkata[31], "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup[32], dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa[33]." Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu[34], mereka hanyalah menduga-duga saja[35].
25. Dan apabila kepada mereka dibacakan ayat-ayat Kami yang jelas[36], tidak ada bantahan mereka selain mengatakan, "Hidupkanlah kembali nenek moyang kami jika kamu orang yang benar[37]."
26. Katakanlah, "Allah-lah yang menghidupkan[38] kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu[39] pada hari kiamat yang tidak diragukan lagi; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[40].
[1] Yang dimaksud hari-hari Allah ialah hari-hari di waktu Allah menimpakan siksaan-siksaan kepada mereka.
[2] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar berakhlak mulia, bersabar terhadap gangguan kaum musyrik yang tidak takut azab Allah kepada mereka yang durhaka kepada-Nya dan tidak menginginkan pahala-Nya. Orang-orang yang mukmin, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan membalas iman, sikap memaafkan dan bersabar dari mereka dengan pahala yang besar, sedangkan mereka (kaum musyrik) jika tetap mendustakan maka mereka akan ditimpa azab yang pedih dan kehinaan.
[3] Lalu Dia akan memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat jahat.
[4] Yakni Kami telah memberi berbagai nikmat kepada Bani Israil yang tidak diberikan kepada bangsa yang lain; Kami beri mereka kitab, yaitu Taurat dan Injil, kekuasaan terhadap manusia, dan kenabian. Oleh karena itu, banyak para nabi yang berasal dari Bani Israil.
[5] Seperti makanan, minuman, pakaian, manna dan salwa.
[6] Seperti tentang yang halal dan yang haram dan tentang pengutusan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ayat ini bisa juga diartikan dengan, “Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas dari perkara (qadari).” Yakni yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala sampaikan kepada mereka. Keterangan yang jelas ini menurut Syaikh As Sa’diy adalah mukjizat-mukjizat yang mereka lihat di tangan Nabi Musa ‘alaihis salam.
[7] Nikmat-nikmat yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala berikan kepada Bani Israil ini menghendaki mereka mengikuti yang hak secara sempurna dan berkumpul di atas yang hak yang telah Allah terangkan kepada mereka, akan tetapi kenyataannya berbeda, mereka malah melakukan sebaliknya; mereka berpecah belah dalam hal yang mereka diperintahkan untuk berkumpul di atasnya. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka mereka tidak berselisih kecuali setelah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka.” Ilmu yang datang kepada mereka menghendaki mereka agar tidak berselisih, tetapi mereka malah berselisih disebabkan kedengkian mereka antara yang satu dengan yang lain dan disebabkan kezaliman.
[8] Tentang kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[9] Seperti kedengkian mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[10] Dia akan memisahkan yang hak dengan yang batil.
[11] Yakni kemudian Kami mensyariatkan kepadamu syariat yang sempurna yang mengajak kepada semua kebaikan dan melarang semua keburukan yang berasal dari perintah Kami yang syar’i.
[12] Karena dengan mengikutinya seseorang akan bahagia, baik dan beruntung.
[13] Yaitu mereka yang keinginannya tidak mengikuti ilmu dan tidak berjalan di belakangnya. Mereka ini adalah orang-orang yang hawa nafsunya tidak sejalan dengan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
[14] Maksudnya mereka tidak bermanfaat bagimu di sisi Allah; mereka tidak dapat memberikan kebaikan kepadamu dan tidak dapat menghindarkan keburukan darimu jika kamu mengikuti keinginan mereka. Oleh karena itu, kamu tidak pantas sejalan dan sepakat dengan mereka karena kamu dan mereka berbeda, sedangkan mereka menjadi pelindung antara sesama mereka.
[15] Dia akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya disebabkan ketakwaan mereka.
[16] Dengan Al Qur’an diperoleh pandangan yang jelas dalam menyikapi semua masalah, sehingga orang-orang mukmin akan mendapatkan manfaat, petunjuk dan rahmat.
[17] Dengan Al Qur’an mereka memperoleh petunjuk ke jalan yang lurus baik dalam masalah ushul (dasar) maupun furu’ (cabang), demikian pula tercapai kebaikan, kesenangan, kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan inilah rahmat. Dengannya jiwa mereka menjadi bersih, kecerdasan mereka bertambah, demikian pula keimanan dan keyakinan mereka dan dengannya hujjah pun menjadi tegak kepada orang yang tetap membangkang.
[18] Yaitu mereka yang banyak dosa dan meremehkan hak Tuhan mereka.
[19] Yaitu mereka yang memenuhi hak-hak Tuhan mereka, menjauhi kemurkaan-Nya, dan senantiasa mengutamakan keridhaan Tuhan mereka daripada hawa nafsu mereka.
[20] Maksudnya, apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka akan disamakan dengan kaum mukmin di akhirat, yakni berada dalam kebaikan dan kenikmatan seperti halnya orang-orang mukmin. Bahkan tidak demikian, mereka (orang-orang kafir) di akhirat berada dalam azab, kehinaan, dan kesengsaraan tidak seperti keadaan mereka ketika di dunia, sedangkan kaum mukmin di akhirat mendapatkan pahala, kemenangan, keberuntungan, kebahagiaan karena amal mereka ketika di dunia, seperti shalat, zakat, puasa, dsb.
[21] Hal itu karena keputusan tersebut menyelisihi kebijaksanaan hakim yang paling baik dan paling adil, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Keputusan tersebut juga bertentangan dengan akal yang sehat dan fitrah yang lurus, bertentangan dengan kitab-kitab yang diturunkan dan bertentangan dengan apa yang dibawa para rasul.
[22] Untuk menunjukkan kekuasaan dan keesaan-Nya. Atau maksud “bil haq” adalah dengan hikmah (kebijaksanaan) dan agar Dia diibadahi saja, selanjutnya Dia akan menghisab mereka setelah itu, yakni setelah mereka diperintahkan beribadah dan dikaruniakan berbagai nikmat, apakah mereka bersyukur dan mengerjakan perintah-Nya atau tidak? Atau bahkan mereka malah kufur dan meninggalkan perintah-Nya?
[23] Baik berupa ketaatan atau kemaksiatan.
[24] Yakni apa yang diinginkan hawa nafsunya dia kerjakan, baik mendatangkan keridhaan Allah atau kemurkaan-Nya.
[25] Maksudnya Allah membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa orang itu tidak mau menerima petunjuk yang diberikan kepadanya sebelum ia diciptakan.
[26] Sehingga dia tidak dapat mendengar petunjuk dan tidak dapat memahami.
[27] Sehingga ia tidak dapat melihat petunjuk.
[28] Tidak ada seorang pun yang dapat memberinya hidayah ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menutup pintu-pintu hidayah dan membuka pintu-pintu kesesatan. Allah tidaklah menzaliminya, akan tetapi dialah yang menzalimi dirinya dan yang mengadakan sebab untuk terhalang dari rahmat Allah.
[29] Bisa juga diartikan, “Tidakkah kamu ingat?” Yakni ingat sesuatu yang bermanfaat bagimu lalu kamu mengerjakannya dan ingat sesuatu yang bermadharrat sehingga kamu dapat menjauhinya.
[30] Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Orang-orang jahiliyyah mengatakan bahwa yang membinasakan kami adalah malam dan siang, itulah yang membinasakan kami, mematikan dan menghidupkan kami.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman dalam kitab-Nya, “Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Beliau bersabda, “Mereka mencaci-maki masa, maka Allah Tabaaraka wa Ta'aala berfirman, “Anak Adam menyakiti-Ku karena mencaci-maki masa. Aku adalah masa; di tangan-Ku segala urusan; Aku mengatur malam dan siang.” (Hadits ini disebutkan As Suyuthi dalam Al Lubab secara mauquf sampai kepada Abu Hurairah dan ia menisbatkan kepada Ibnul Mundzir, dan di sana disebutkan, maka Allah menurunkan ayat, dan disebutkanlah ayat itu. Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya juz 4 hal. 151, “Ibnu Jarir menyebutkan dengan susunan yang asing sekali,” lalu ia menyebutkannya dan berkata, “Demikian pula Ibnu Abi Hatim dari Ahmad bin Manshur dari Suraih bin Nu’man dari Ibnu Uyaynah.” Syaikh Muqbil berkata, “Saya tidak mengetahui sisi gharib (asing) pada susunannya. Adapun sanad, maka para perawinya perawi hadits shahih, Al Haafizh menyebutkannya dalam Al Fath-h juz 10 hal. 195 dan ia mendiamkannya.”
[31] Sambil mengingkari kebangkitan.
[32] Yakni sebagian kita mati, sedangkan sebagian lagi hidup (lahir).
[33] Yakni berlalunya waktu. Oleh karena itu, menurut mereka setelah seorang mati, maka ia tidak akan kembali kepada Allah dan tidak akan dibalas amalnya.
[34] Yakni tentang ucapan itu.
[35] Oleh karena mereka hanya menduga-duga saja sehingga mereka mengingkari akhirat, mendustakan para rasul tanpa dalil dan bukti yang menguatkan sikap mereka itu. Hal itu hanyalah sangkaan-sangkaan mereka saja yang kosong dari hakikat.
[36] Yakni yang menunjukkan bahwa Kami berkuasa membangkitkan.
[37] Ini adalah sikap beraninya mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dimana mereka mengusulkan usulan ini dan menyangka bahwa untuk membuktikan kebenaran para rasul Allah tergantung apakah mereka (para rasul tersebut) mampu mendatangkan nenek moyang mereka atau tidak, dan meskipun para rasul telah mendatangkan semua ayat, mereka tidak akan beriman kecuali jika rasul mengikuti usulan mereka. Mereka telah berdusta dalam ucapannya itu, maksud mereka hanyalah untuk menolak dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan untuk diterangkannya yang hak.
[38] Ketika kamu sebelumnya sebagai mani.
[39] Dalam keadaan hidup.
[40] Kalau seandainya pengetahuan mereka terhadap hari akhir masuk ke dalam hati mereka, tentu mereka akan mengerjakan amalan-amalan untuk menghadapinya.
قُلْ لِلَّذِينَ آمَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّهِ لِيَجْزِيَ قَوْمًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (١٤) مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (١٥)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 14-15
14. Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan (gangguan dari) orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah[1], karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.
15. [2]Barang siapa mengerjakan kebajikan, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmu dikembalikan[3].
Ayat 16-19: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Bani Israil berupa kitab Taurat, kekuasaan dan kenabian, tetapi mereka mengingkarinya dan malah mengikuti yang batil seperti keingkaran mereka kepada kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah mereka mengetahui bukti-bukti kebenarannya.
وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (١٦) وَآتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الأمْرِ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (١٧) ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ (١٨) إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (١٩)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 16-19
16. Dan sungguh, kepada Bani Israil telah Kami berikan kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian[4], Kami anugerahkan kepada mereka rezeki yang baik[5], dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masa itu).
17. Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas tentang urusan (agama)[6]; [7]maka mereka tidak berselisih[8]kecuali setelah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka[9]. Sungguh, Tuhanmu akan memberi putusan kepada mereka pada hari Kiamat terhadap apa yang selalu mereka perselisihkan[10].
18. Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari (agama itu)[11], maka ikutilah (syariat itu)[12] dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui[13].
19. Sungguh, mereka tidak akan dapat menghindarkan engkau sedikit pun dari (azab) Allah[14]. Dan Sungguh, orang-orang yang zalim itu sebagian menjadi pelindung atas sebagian yang lain; sedang Allah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa[15].
Ayat 20-22: Al Qur’anul Karim adalah kitab yang mengandung petunjuk dan cahaya, dan perbedaan antara orang yang beramal saleh dengan orang yang beramal buruk.
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٢٠) أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (٢١) وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (٢٢)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 20-22
20. Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia[16], petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini[17].
21. Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu[18] mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan[19], yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka?[20] Alangkah buruknya penilaian mereka itu[21].
22. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar[22], dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya[23], dan mereka tidak akan dirugikan.
Ayat 23-26: Bantahan terhadap ucapan kaum musyrik tentang akhirat dan terhadap sangkaan mereka bahwa mereka tidak akan dibangkitkan.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (٢٣) وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ (٢٤)وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ مَا كَانَ حُجَّتَهُمْ إِلا أَنْ قَالُوا ائْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٢٥) قُلِ اللَّهُ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لا رَيْبَ فِيهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٦)
23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya[24] dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya[25], dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya[26] serta meletakkan tutupan atas penglihatannya[27]? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)[28]? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?[29]
24. [30]Dan mereka berkata[31], "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup[32], dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa[33]." Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu[34], mereka hanyalah menduga-duga saja[35].
25. Dan apabila kepada mereka dibacakan ayat-ayat Kami yang jelas[36], tidak ada bantahan mereka selain mengatakan, "Hidupkanlah kembali nenek moyang kami jika kamu orang yang benar[37]."
26. Katakanlah, "Allah-lah yang menghidupkan[38] kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu[39] pada hari kiamat yang tidak diragukan lagi; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[40].
[1] Yang dimaksud hari-hari Allah ialah hari-hari di waktu Allah menimpakan siksaan-siksaan kepada mereka.
[2] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar berakhlak mulia, bersabar terhadap gangguan kaum musyrik yang tidak takut azab Allah kepada mereka yang durhaka kepada-Nya dan tidak menginginkan pahala-Nya. Orang-orang yang mukmin, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan membalas iman, sikap memaafkan dan bersabar dari mereka dengan pahala yang besar, sedangkan mereka (kaum musyrik) jika tetap mendustakan maka mereka akan ditimpa azab yang pedih dan kehinaan.
[3] Lalu Dia akan memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat jahat.
[4] Yakni Kami telah memberi berbagai nikmat kepada Bani Israil yang tidak diberikan kepada bangsa yang lain; Kami beri mereka kitab, yaitu Taurat dan Injil, kekuasaan terhadap manusia, dan kenabian. Oleh karena itu, banyak para nabi yang berasal dari Bani Israil.
[5] Seperti makanan, minuman, pakaian, manna dan salwa.
[6] Seperti tentang yang halal dan yang haram dan tentang pengutusan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ayat ini bisa juga diartikan dengan, “Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas dari perkara (qadari).” Yakni yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala sampaikan kepada mereka. Keterangan yang jelas ini menurut Syaikh As Sa’diy adalah mukjizat-mukjizat yang mereka lihat di tangan Nabi Musa ‘alaihis salam.
[7] Nikmat-nikmat yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala berikan kepada Bani Israil ini menghendaki mereka mengikuti yang hak secara sempurna dan berkumpul di atas yang hak yang telah Allah terangkan kepada mereka, akan tetapi kenyataannya berbeda, mereka malah melakukan sebaliknya; mereka berpecah belah dalam hal yang mereka diperintahkan untuk berkumpul di atasnya. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka mereka tidak berselisih kecuali setelah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka.” Ilmu yang datang kepada mereka menghendaki mereka agar tidak berselisih, tetapi mereka malah berselisih disebabkan kedengkian mereka antara yang satu dengan yang lain dan disebabkan kezaliman.
[8] Tentang kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[9] Seperti kedengkian mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[10] Dia akan memisahkan yang hak dengan yang batil.
[11] Yakni kemudian Kami mensyariatkan kepadamu syariat yang sempurna yang mengajak kepada semua kebaikan dan melarang semua keburukan yang berasal dari perintah Kami yang syar’i.
[12] Karena dengan mengikutinya seseorang akan bahagia, baik dan beruntung.
[13] Yaitu mereka yang keinginannya tidak mengikuti ilmu dan tidak berjalan di belakangnya. Mereka ini adalah orang-orang yang hawa nafsunya tidak sejalan dengan syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
[14] Maksudnya mereka tidak bermanfaat bagimu di sisi Allah; mereka tidak dapat memberikan kebaikan kepadamu dan tidak dapat menghindarkan keburukan darimu jika kamu mengikuti keinginan mereka. Oleh karena itu, kamu tidak pantas sejalan dan sepakat dengan mereka karena kamu dan mereka berbeda, sedangkan mereka menjadi pelindung antara sesama mereka.
[15] Dia akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya disebabkan ketakwaan mereka.
[16] Dengan Al Qur’an diperoleh pandangan yang jelas dalam menyikapi semua masalah, sehingga orang-orang mukmin akan mendapatkan manfaat, petunjuk dan rahmat.
[17] Dengan Al Qur’an mereka memperoleh petunjuk ke jalan yang lurus baik dalam masalah ushul (dasar) maupun furu’ (cabang), demikian pula tercapai kebaikan, kesenangan, kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan inilah rahmat. Dengannya jiwa mereka menjadi bersih, kecerdasan mereka bertambah, demikian pula keimanan dan keyakinan mereka dan dengannya hujjah pun menjadi tegak kepada orang yang tetap membangkang.
[18] Yaitu mereka yang banyak dosa dan meremehkan hak Tuhan mereka.
[19] Yaitu mereka yang memenuhi hak-hak Tuhan mereka, menjauhi kemurkaan-Nya, dan senantiasa mengutamakan keridhaan Tuhan mereka daripada hawa nafsu mereka.
[20] Maksudnya, apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka akan disamakan dengan kaum mukmin di akhirat, yakni berada dalam kebaikan dan kenikmatan seperti halnya orang-orang mukmin. Bahkan tidak demikian, mereka (orang-orang kafir) di akhirat berada dalam azab, kehinaan, dan kesengsaraan tidak seperti keadaan mereka ketika di dunia, sedangkan kaum mukmin di akhirat mendapatkan pahala, kemenangan, keberuntungan, kebahagiaan karena amal mereka ketika di dunia, seperti shalat, zakat, puasa, dsb.
[21] Hal itu karena keputusan tersebut menyelisihi kebijaksanaan hakim yang paling baik dan paling adil, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Keputusan tersebut juga bertentangan dengan akal yang sehat dan fitrah yang lurus, bertentangan dengan kitab-kitab yang diturunkan dan bertentangan dengan apa yang dibawa para rasul.
[22] Untuk menunjukkan kekuasaan dan keesaan-Nya. Atau maksud “bil haq” adalah dengan hikmah (kebijaksanaan) dan agar Dia diibadahi saja, selanjutnya Dia akan menghisab mereka setelah itu, yakni setelah mereka diperintahkan beribadah dan dikaruniakan berbagai nikmat, apakah mereka bersyukur dan mengerjakan perintah-Nya atau tidak? Atau bahkan mereka malah kufur dan meninggalkan perintah-Nya?
[23] Baik berupa ketaatan atau kemaksiatan.
[24] Yakni apa yang diinginkan hawa nafsunya dia kerjakan, baik mendatangkan keridhaan Allah atau kemurkaan-Nya.
[25] Maksudnya Allah membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa orang itu tidak mau menerima petunjuk yang diberikan kepadanya sebelum ia diciptakan.
[26] Sehingga dia tidak dapat mendengar petunjuk dan tidak dapat memahami.
[27] Sehingga ia tidak dapat melihat petunjuk.
[28] Tidak ada seorang pun yang dapat memberinya hidayah ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menutup pintu-pintu hidayah dan membuka pintu-pintu kesesatan. Allah tidaklah menzaliminya, akan tetapi dialah yang menzalimi dirinya dan yang mengadakan sebab untuk terhalang dari rahmat Allah.
[29] Bisa juga diartikan, “Tidakkah kamu ingat?” Yakni ingat sesuatu yang bermanfaat bagimu lalu kamu mengerjakannya dan ingat sesuatu yang bermadharrat sehingga kamu dapat menjauhinya.
[30] Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Orang-orang jahiliyyah mengatakan bahwa yang membinasakan kami adalah malam dan siang, itulah yang membinasakan kami, mematikan dan menghidupkan kami.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman dalam kitab-Nya, “Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Beliau bersabda, “Mereka mencaci-maki masa, maka Allah Tabaaraka wa Ta'aala berfirman, “Anak Adam menyakiti-Ku karena mencaci-maki masa. Aku adalah masa; di tangan-Ku segala urusan; Aku mengatur malam dan siang.” (Hadits ini disebutkan As Suyuthi dalam Al Lubab secara mauquf sampai kepada Abu Hurairah dan ia menisbatkan kepada Ibnul Mundzir, dan di sana disebutkan, maka Allah menurunkan ayat, dan disebutkanlah ayat itu. Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya juz 4 hal. 151, “Ibnu Jarir menyebutkan dengan susunan yang asing sekali,” lalu ia menyebutkannya dan berkata, “Demikian pula Ibnu Abi Hatim dari Ahmad bin Manshur dari Suraih bin Nu’man dari Ibnu Uyaynah.” Syaikh Muqbil berkata, “Saya tidak mengetahui sisi gharib (asing) pada susunannya. Adapun sanad, maka para perawinya perawi hadits shahih, Al Haafizh menyebutkannya dalam Al Fath-h juz 10 hal. 195 dan ia mendiamkannya.”
[31] Sambil mengingkari kebangkitan.
[32] Yakni sebagian kita mati, sedangkan sebagian lagi hidup (lahir).
[33] Yakni berlalunya waktu. Oleh karena itu, menurut mereka setelah seorang mati, maka ia tidak akan kembali kepada Allah dan tidak akan dibalas amalnya.
[34] Yakni tentang ucapan itu.
[35] Oleh karena mereka hanya menduga-duga saja sehingga mereka mengingkari akhirat, mendustakan para rasul tanpa dalil dan bukti yang menguatkan sikap mereka itu. Hal itu hanyalah sangkaan-sangkaan mereka saja yang kosong dari hakikat.
[36] Yakni yang menunjukkan bahwa Kami berkuasa membangkitkan.
[37] Ini adalah sikap beraninya mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dimana mereka mengusulkan usulan ini dan menyangka bahwa untuk membuktikan kebenaran para rasul Allah tergantung apakah mereka (para rasul tersebut) mampu mendatangkan nenek moyang mereka atau tidak, dan meskipun para rasul telah mendatangkan semua ayat, mereka tidak akan beriman kecuali jika rasul mengikuti usulan mereka. Mereka telah berdusta dalam ucapannya itu, maksud mereka hanyalah untuk menolak dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan untuk diterangkannya yang hak.
[38] Ketika kamu sebelumnya sebagai mani.
[39] Dalam keadaan hidup.
[40] Kalau seandainya pengetahuan mereka terhadap hari akhir masuk ke dalam hati mereka, tentu mereka akan mengerjakan amalan-amalan untuk menghadapinya.
Tafsir Al Jaatsiyah Ayat 1-13
Surah Al Jaatsiyah (Yang Berlutut)
Surah ke-45. 37 ayat. Makkiyyah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-5: Keutamaan Al Qur’anul Karim, isyarat agar hati sadar dan tidak lalai, dan dalil-dalil terhadap keesaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
حم (١) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (٢) إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ (٣) وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٤) وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (٥)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 1-5
1. Haa Miim.
2. [1]Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
3. Sungguh, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan dan keesaan Allah) bagi orang-orang mukmin.
4. Dan pada penciptakan dirimu[2] dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini[3],
5. dan pada pergantian malam dan siang, dan hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dengan (air hujan) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering); dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengerti.
Ayat 6-13: Sifat orang-orang kafir, ancaman untuk mereka dengan azab pada hari Kiamat dan menerangkan tentang keagungan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan keesaan-Nya.
تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ (٦) وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (٧) يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَى عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (٨) وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (٩) مِنْ وَرَائِهِمْ جَهَنَّمُ وَلا يُغْنِي عَنْهُمْ مَا كَسَبُوا شَيْئًا وَلا مَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠) هَذَا هُدًى وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَهُمْ عَذَابٌ مِنْ رِجْزٍ أَلِيمٌ (١١) اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٢) وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (١٣)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 6-13
6. Itulah ayat-ayat Allah[4] yang Kami bacakan kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman setelah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya.
7. [5]Celakalah bagi setiap orang yang banyak berdusta[6] lagi banyak berdosa[7],
8. (yaitu) orang yang mendengar ayat-ayat Allah ketika dibacakan kepadanya, namun dia tetap menyombongkan diri[8] seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka peringatkanlah dia dengan azab yang pedih.
9. Dan apabila dia mengetahui sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang akan menerima azab yang menghinakan.
10. Di hadapan mereka neraka Jahannam[9], dan tidak akan berguna bagi mereka sedikit pun apa yang telah mereka usahakan[10], dan tidak pula (bermanfaat) apa yang mereka jadikan sebagai pelindung-pelindung (mereka) selain Allah[11]. Dan mereka akan mendapat azab yang besar.
11. [12]Ini (Al Quran) adalah petunjuk[13]. Dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhannya[14], mereka akan mendapat azab berupa siksaan yang sangat pedih.
12. [15]Allah-lah yang menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya dan agar kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya[16] dan agar kamu bersyukur[17].
13. Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit[18] dan apa yang ada di bumi[19] untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berpikir[20].
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan suatu berita yang di dalamnya mengandung perintah mengagungkan Al Qur’an dan memuliakannya. Hal itu, karena Al Qur’an turun dari Allah Tuhan yang berhak disembah karena sifat sempurna pada-Nya dan karena Dia yang sendiri melimpahkan nikmat-nikmat-Nya. Dia memiliki keperkasaan dan kebijaksanaan yang sempurna. Selanjutnya, Dia menguatkan hal itu dengan menyebutkan ayat-ayat-Nya yang ada di ufuk (cakrawala) dan pada diri manusia, berupa penciptaan langit dan bumi serta makhluk yang disebarkan-Nya pada keduanya, serta apa yang Dia simpan pada keduanya berupa berbagai manfaat, demikian pula apa yang Allah turunkan dari langit berupa air hujan yang dengannya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghidupkan negeri dan penduduknya. Ini semua merupakan ayat yang jelas dan dalil yang terang yang menunjukkan kebenaran Al Qur’an dan kebenaran isinya yang terdiri dari hikmah dan hukum-hukum. Demikian pula menunjukkan kesempurnaan yang dimiliki Allah Subhaanahu wa Ta'aala, serta menunjukkan benarnya kebangkitan manusia setelah mati.
[2] Dari mani, lalu berubah menjadi segumpal darah dan berubah menjadi segumpal daging sehingga kemudian menjadi manusia.
[3] Adanya kebangkitan. Mereka ini adalah orang-orang mukmin.
[4] Yang menunjukkan keesaan-Nya.
[5] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala membagi manusia dari sisi dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya atau tidak kepada dua golongan:
Pertama, golongan yang dapat mengambil dalil darinya, yang memikirkan ayat-ayat-Nya, mereka dapat mengambil manfaat darinya sehingga keadaan mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir dengan keimanan yang sempurna yang sampai kepada derajat yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih, pengetahuan dan pandangan mereka semakin bertambah dan tajam.
Kedua, golongan yang mendengar ayat-ayat Allah yang hanya sebagai penegak hujjah saja bagi mereka, ia lalu berpaling dan sombong seakan-akan belum pernah mendengarnya karena hatinya tidak menjadi bersih karenanya, bahkan dengan sebab kesombongannya maka bertambahlah sikap melampaui batasnya. Bahkan ketika ia mengetahui sedikit ayat-ayat Allah, maka ia menjadikannya sebagai bahan olok-olokkan sehingga Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengancam celaka kepadanya.
[6] Dalam ucapannya.
[7] Dalam perbuatannya.
[8] Dari beriman.
[9] Yang cukup sebagai hukuman yang dahsyat baginya.
[10] Seperti harta dan perbuatan.
[11] Yaitu patung-patung dan berhala-berhala yang mereka sembah.
[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan ayat-ayat-Nya baik yang ada dalam Al Qur’an atau yang ada di alam semesta yang mereka saksikan, dan bahwa manusia dalam hal tersebut terbagi menjadi dua golongan, maka Dia memberitahukan bahwa Al Qur’an yang mengandung tuntutan-tuntutan yang tinggi ini adalah sebagai petunjuk.
[13] Petunjuk merupakan sifat yang merata kepada seluruh isi Al Qur’an. Al Qur’an menunjuki ma’rifatullah (mengenalkan Allah) dengan sifat-sifat-Nya yang suci dan perbuatan-Nya yang terpuji. Demikian pula menunjuki kepada mengenal para rasul-Nya, para wali-Nya, musuh-musuh-Nya serta sifat-sifat mereka. Ia (Al Qur’an) juga menunjuki amal yang saleh dan mengajak kepadanya, demikian pula menerangkan amal yang buruk serta melarangnya, serta menunjuki dengan menerangkan balasan terhadap amal serta menerangkan balasan di dunia dan akhirat. Orang-orang yang mendapat petunjuk mengambil petunjuk darinya sehingga mereka beruntung dan berbahagia.
[14] Yang begitu jelas, dimana tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang sudah terlalu zalim dan banyak sikap melampaui batasnya.
[15] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan karunia dan ihsan-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan menundukkan lautan agar dapat dilintasi kapal dan perahu dengan perintah dan kemudahan-Nya.
[16] Yaitu dengan melakukan perdagangan dan bisnis.
[17] Kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, karena dengan bersyukur kepada-Nya, maka Dia akan menambahkan nikmat-nikmat-Nya serta membalas dengan pahala yang besar terhadap sikap syukur itu.
[18] Seperti matahari, bulan, bintang dan benda-benda langit lainnya baik yang diam maupun yang bergerak.
[19] Seperti binatang melata, pepohonan, sungai, barang tambang dan lainnya. Semua itu diciptakan untuk manfaat dan maslahat manusia. Hal ini tentunya mengharuskan mereka banyak bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala atas nikmat-nikmat-Nya dan berusaha memikirkan ayat-ayat-Nya dan hikmah-hikmah-Nya.
[20] Ya, pada penciptaan, pengaturan dan penundukan-Nya kepada alam semesta terdapat dalil yang menunjukkan berlakunya kehendak Allah dan sempurnanya kekuasaan-Nya. Demikian pula kerapihan, keserasian dan indahnya ciptaan-Nya juga menunjukkan sempurnanya hikmah-Nya dan ilmu-Nya. Apa yang terlihat di alam semesta berupa luas, besar dan banyak juga menunjukkan luasnya kerajaan-Nya. Pengkhususan yang diberikan-Nya serta adanya sesuatu yang berlawanan juga menunjukkan bahwa Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Manfaat dan maslahat baik yang terkait dengan agama maupun dunia menunjukkan luasnya rahmat-Nya, meratanya karunia dan ihsan-Nya, dan pada indahnya kelembutan-Nya dan kebaikan-Nya dan pada semua yang disebutkan tadi juga menunjukkan bahwa Dia yang berhak disembah, dimana tidak pantas ibadah, penghinaan diri dan kecintaan kecuali kepada-Nya, dan bahwa apa yang dibawa para rasul-Nya adalah benar. Ini adalah dalil ‘aqli (akal) yang begitu jelas, yang tidak menerima lagi keraguan dan kebimbangan.
Surah ke-45. 37 ayat. Makkiyyah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-5: Keutamaan Al Qur’anul Karim, isyarat agar hati sadar dan tidak lalai, dan dalil-dalil terhadap keesaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
حم (١) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (٢) إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ (٣) وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٤) وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (٥)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 1-5
1. Haa Miim.
2. [1]Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
3. Sungguh, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan dan keesaan Allah) bagi orang-orang mukmin.
4. Dan pada penciptakan dirimu[2] dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini[3],
5. dan pada pergantian malam dan siang, dan hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dengan (air hujan) itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering); dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengerti.
Ayat 6-13: Sifat orang-orang kafir, ancaman untuk mereka dengan azab pada hari Kiamat dan menerangkan tentang keagungan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan keesaan-Nya.
تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ (٦) وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (٧) يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَى عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (٨) وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (٩) مِنْ وَرَائِهِمْ جَهَنَّمُ وَلا يُغْنِي عَنْهُمْ مَا كَسَبُوا شَيْئًا وَلا مَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠) هَذَا هُدًى وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَهُمْ عَذَابٌ مِنْ رِجْزٍ أَلِيمٌ (١١) اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٢) وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (١٣)
Terjemah Surat Al Jaatsiyah Ayat 6-13
6. Itulah ayat-ayat Allah[4] yang Kami bacakan kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman setelah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya.
7. [5]Celakalah bagi setiap orang yang banyak berdusta[6] lagi banyak berdosa[7],
8. (yaitu) orang yang mendengar ayat-ayat Allah ketika dibacakan kepadanya, namun dia tetap menyombongkan diri[8] seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka peringatkanlah dia dengan azab yang pedih.
9. Dan apabila dia mengetahui sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang akan menerima azab yang menghinakan.
10. Di hadapan mereka neraka Jahannam[9], dan tidak akan berguna bagi mereka sedikit pun apa yang telah mereka usahakan[10], dan tidak pula (bermanfaat) apa yang mereka jadikan sebagai pelindung-pelindung (mereka) selain Allah[11]. Dan mereka akan mendapat azab yang besar.
11. [12]Ini (Al Quran) adalah petunjuk[13]. Dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhannya[14], mereka akan mendapat azab berupa siksaan yang sangat pedih.
12. [15]Allah-lah yang menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya dan agar kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya[16] dan agar kamu bersyukur[17].
13. Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit[18] dan apa yang ada di bumi[19] untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berpikir[20].
[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan suatu berita yang di dalamnya mengandung perintah mengagungkan Al Qur’an dan memuliakannya. Hal itu, karena Al Qur’an turun dari Allah Tuhan yang berhak disembah karena sifat sempurna pada-Nya dan karena Dia yang sendiri melimpahkan nikmat-nikmat-Nya. Dia memiliki keperkasaan dan kebijaksanaan yang sempurna. Selanjutnya, Dia menguatkan hal itu dengan menyebutkan ayat-ayat-Nya yang ada di ufuk (cakrawala) dan pada diri manusia, berupa penciptaan langit dan bumi serta makhluk yang disebarkan-Nya pada keduanya, serta apa yang Dia simpan pada keduanya berupa berbagai manfaat, demikian pula apa yang Allah turunkan dari langit berupa air hujan yang dengannya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghidupkan negeri dan penduduknya. Ini semua merupakan ayat yang jelas dan dalil yang terang yang menunjukkan kebenaran Al Qur’an dan kebenaran isinya yang terdiri dari hikmah dan hukum-hukum. Demikian pula menunjukkan kesempurnaan yang dimiliki Allah Subhaanahu wa Ta'aala, serta menunjukkan benarnya kebangkitan manusia setelah mati.
[2] Dari mani, lalu berubah menjadi segumpal darah dan berubah menjadi segumpal daging sehingga kemudian menjadi manusia.
[3] Adanya kebangkitan. Mereka ini adalah orang-orang mukmin.
[4] Yang menunjukkan keesaan-Nya.
[5] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala membagi manusia dari sisi dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya atau tidak kepada dua golongan:
Pertama, golongan yang dapat mengambil dalil darinya, yang memikirkan ayat-ayat-Nya, mereka dapat mengambil manfaat darinya sehingga keadaan mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir dengan keimanan yang sempurna yang sampai kepada derajat yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih, pengetahuan dan pandangan mereka semakin bertambah dan tajam.
Kedua, golongan yang mendengar ayat-ayat Allah yang hanya sebagai penegak hujjah saja bagi mereka, ia lalu berpaling dan sombong seakan-akan belum pernah mendengarnya karena hatinya tidak menjadi bersih karenanya, bahkan dengan sebab kesombongannya maka bertambahlah sikap melampaui batasnya. Bahkan ketika ia mengetahui sedikit ayat-ayat Allah, maka ia menjadikannya sebagai bahan olok-olokkan sehingga Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengancam celaka kepadanya.
[6] Dalam ucapannya.
[7] Dalam perbuatannya.
[8] Dari beriman.
[9] Yang cukup sebagai hukuman yang dahsyat baginya.
[10] Seperti harta dan perbuatan.
[11] Yaitu patung-patung dan berhala-berhala yang mereka sembah.
[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan ayat-ayat-Nya baik yang ada dalam Al Qur’an atau yang ada di alam semesta yang mereka saksikan, dan bahwa manusia dalam hal tersebut terbagi menjadi dua golongan, maka Dia memberitahukan bahwa Al Qur’an yang mengandung tuntutan-tuntutan yang tinggi ini adalah sebagai petunjuk.
[13] Petunjuk merupakan sifat yang merata kepada seluruh isi Al Qur’an. Al Qur’an menunjuki ma’rifatullah (mengenalkan Allah) dengan sifat-sifat-Nya yang suci dan perbuatan-Nya yang terpuji. Demikian pula menunjuki kepada mengenal para rasul-Nya, para wali-Nya, musuh-musuh-Nya serta sifat-sifat mereka. Ia (Al Qur’an) juga menunjuki amal yang saleh dan mengajak kepadanya, demikian pula menerangkan amal yang buruk serta melarangnya, serta menunjuki dengan menerangkan balasan terhadap amal serta menerangkan balasan di dunia dan akhirat. Orang-orang yang mendapat petunjuk mengambil petunjuk darinya sehingga mereka beruntung dan berbahagia.
[14] Yang begitu jelas, dimana tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang sudah terlalu zalim dan banyak sikap melampaui batasnya.
[15] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan karunia dan ihsan-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan menundukkan lautan agar dapat dilintasi kapal dan perahu dengan perintah dan kemudahan-Nya.
[16] Yaitu dengan melakukan perdagangan dan bisnis.
[17] Kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, karena dengan bersyukur kepada-Nya, maka Dia akan menambahkan nikmat-nikmat-Nya serta membalas dengan pahala yang besar terhadap sikap syukur itu.
[18] Seperti matahari, bulan, bintang dan benda-benda langit lainnya baik yang diam maupun yang bergerak.
[19] Seperti binatang melata, pepohonan, sungai, barang tambang dan lainnya. Semua itu diciptakan untuk manfaat dan maslahat manusia. Hal ini tentunya mengharuskan mereka banyak bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala atas nikmat-nikmat-Nya dan berusaha memikirkan ayat-ayat-Nya dan hikmah-hikmah-Nya.
[20] Ya, pada penciptaan, pengaturan dan penundukan-Nya kepada alam semesta terdapat dalil yang menunjukkan berlakunya kehendak Allah dan sempurnanya kekuasaan-Nya. Demikian pula kerapihan, keserasian dan indahnya ciptaan-Nya juga menunjukkan sempurnanya hikmah-Nya dan ilmu-Nya. Apa yang terlihat di alam semesta berupa luas, besar dan banyak juga menunjukkan luasnya kerajaan-Nya. Pengkhususan yang diberikan-Nya serta adanya sesuatu yang berlawanan juga menunjukkan bahwa Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Manfaat dan maslahat baik yang terkait dengan agama maupun dunia menunjukkan luasnya rahmat-Nya, meratanya karunia dan ihsan-Nya, dan pada indahnya kelembutan-Nya dan kebaikan-Nya dan pada semua yang disebutkan tadi juga menunjukkan bahwa Dia yang berhak disembah, dimana tidak pantas ibadah, penghinaan diri dan kecintaan kecuali kepada-Nya, dan bahwa apa yang dibawa para rasul-Nya adalah benar. Ini adalah dalil ‘aqli (akal) yang begitu jelas, yang tidak menerima lagi keraguan dan kebimbangan.
Langganan:
Postingan (Atom)