Sabtu, 26 April 2014

Tafsir Asy Syuura Ayat 23-35

Ayat 23-26: Batilnya anggapan orang-orang kafir bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berdusta terhadap Tuhannya, dan bantahan terhadap mereka, serta menerangkan bahwa pintu tobat bagi orang-orang yang berdosa masih terbuka.

ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ (٢٣) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَإِنْ يَشَأِ اللَّهُ يَخْتِمْ عَلَى قَلْبِكَ وَيَمْحُ اللَّهُ الْبَاطِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٢٤) وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (٢٥) وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَالْكَافِرُونَ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ (٢٦)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 23-26

23. Itulah (karunia) yang diberitahukan Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan[1]. [2]Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku[3] kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan[4].” Dan barang siapa mengerjakan kebaikan[5] akan Kami tambahkan kebaikan baginya[6]. Sungguh, Allah Maha Pengampun[7] lagi Maha Mensyukuri[8].

24. Ataukah mereka[9] mengatakan, " Dia (Muhammad) telah mengada-adakan kebohongan tentang Allah[10].” Sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia kunci hatimu[11]. Dan Allah menghapus yang batil dan membenarkan yang benar dengan kalimat-Nya[12]. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati[13].

25. [14]Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan[15] [16]dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,

26. [17]Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan[18] serta menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Orang-orang yang ingkar akan mendapat azab yang sangat keras[19].

Ayat 27-31: Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang membagi rezeki kepada hamba-hamba-Nya sesuai maslahat hamba, luasnya rahmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan peringatan terhadap maksiat.

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الأرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ (٢٧) وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ (٢٨) وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ (٢٩) وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (٣٠) وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الأرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (٣١)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 27-31

27. [20] [21]Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi[22], tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki[23]. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat[24].

28. Dan Dialah yang menurunkan hujan[25] setelah mereka berputus asa[26] dan menyebarkan rahmat-Nya[27]. Dan Dialah Yang Maha Pelindung[28] lagi Maha Terpuji[29].

29. Dan di antara tanda-tanda(kebesaran)-Nya[30] adalah penciptaan langit dan bumi[31] dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya[32]. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya[33] apabila Dia kehendaki.

30. [34]Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri[35], dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).

31. Dan kamu[36] tidak dapat melepaskan diri (dari siksaan Allah) di bumi[37], dan kamu tidak memperoleh pelindung[38] atau penolong[39] selain Allah.

Ayat 32-35: Ayat-ayat Allah dan kekuasaan-Nya tampak terlihat di langit dan di bumi.

وَمِنْ آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالأعْلامِ (٣٢) إِنْ يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَى ظَهْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (٣٣) أَوْ يُوبِقْهُنَّ بِمَا كَسَبُوا وَيَعْفُ عَنْ كَثِيرٍ (٣٤)وَيَعْلَمَ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِنَا مَا لَهُمْ مِنْ مَحِيصٍ (٣٥)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 32-35

32. Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya[40] ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung[41].

33. [42]Jika Dia menghendaki, Dia akan menghentikan angin[43], sehingga jadilah (kapal-kapal) itu terhenti di permukaan laut. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang selalu bersabar dan banyak bersyukur[44],

34. atau (Dia akan) menghancurkan[45] kapal-kapal itu karena perbuatan (dosa) mereka, dan Dia memaafkan banyak (dari mereka),

35. dan agar orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami[46] mengetahui bahwa mereka tidak akan memperoleh jalan ke luar (dari siksaan).

KANDUNGAN AYAT :

[1] Yakni kabar gembira yang besar ini merupakan kabar gembira yang paling besar secara mutlak yang diberitakan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang melalui tangan manusia paling utama (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) untuk orang-orang yang beriman dan beramal saleh, di mana yang diberitakan itu merupakan cita-cita yang paling besar, sedangkan wasilah (sarana) yang menyampaikan ke sana adalah wasilah yang paling utama.

[2] Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abdul Malik bin Maisarah ia berkata: Aku mendengar Thawus berkata, “Ibnu Abbas ditanya tentang ayat ini, “Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Ia (Thawus) berkata, “Sa’id bin Jubair berkata, “(Yaitu) hubungan kekeluargaan dengan Muhammad.” Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Engkau terburu-buru, sesungguhnya tidak ada satu pun marga dari marga-marga Quraisy kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempunyai hubungan kekerabatan dengan mereka, lalu ia berkata, “Kecuali kamu menyambung hubungan kekerabatan antara aku dengan kamu.”

[3] Yakni atas penyampaian Al Qur’an ini kepadamu dan ajakan kepada hukum-hukumnya. Aku tidak menginginkan hartamu dan berkuasa atas kamu serta kesenangan lainnya.

[4] Bisa maksudnya, aku tidak meminta kepadamu selain satu imbalan yang diperuntukkan buat kamu dan manfaatnya kembalinya kepadamu, yaitu agar kamu mencintaiku karena hubungan kekerabatan, yakni kasih sayang tambahan setelah kasih sayang karena iman, karena kasih sayang dan cinta karena beriman kepada rasul serta mendahulukannya di atas semua kecintaan -setelah cinta kepada Allah- adalah wajib bagi setiap muslim. Mereka itu diminta lebih dari itu, yaitu agar mereka mencintai Beliau karena hubungan kekerabatan, karena Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam telah langsung mendakwahkan kepada orang yang paling dekat kerabatnya dengan Beliau, bahkan sampai disebutkan bahwa tidak ada satu pun dari kabilah Quraisy kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki hubungan kekerabatan kepadanya. Bisa juga maksudnya, bahwa yang Beliau minta adalah kecintaan kepada Allah yang benar yang diiringi dengan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan mencari sarana untuk taat kepada-Nya yang menunjukkan benarnya kecintaannya. Kedua kemungkinan ini menunjukkan bahwa Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sama sekali tidak meminta upah selain sesuatu yang kembalinya buat mereka dan hal ini sesungguhnya bukanlah upah, bahkan merupakan imbalan Beliau kepada mereka.

Pengecualian dalam ayat di atas disebut istitsna’ munqathi’ (pengecualian yang memutuskan dengan sebelumnya) seperti ucapan seseorang, “Fulan tidak punya dosa kepadamu selain perbuatan ihsannya kepadamu.”

[5] Seperti shalat, zakat, puasa, haji atau berbuat ihsan kepada orang lain.

[6] Yaitu Allah akan lapangkan dadanya, memudahkan urusannya, menjadi sebab diberi taufiq kepada amalan yang lain, bertambah amalnya, tinggi derajatnya baik di sisi Allah maupun di sisi makhluk-Nya serta memperoleh pahala cepat atau lambat.

[7] Terhadap dosa-dosa meskipun besar dan banyak ketika seseorang bertobat darinya. Dengan ampunan-Nya maka diampuni dosa-dosa dan ditutup semua aib.

[8] Amal yang dikerjakan hamba dengan menerima kebaikannya meskipun sedikit dan melipatgandakannya.

[9] Yang mendustakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

[10] Karena menisbatkan Al Qur’an kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, padahal mereka mengetahui kejujuran dan amanahnya, lalu mengapa mereka berani menuduh Beliau berdusta. Tuduhan tersebut sebenarnya juga mencacatkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, karena Allah yang memberikan kesempatan kepada Beliau untuk mengemban dakwah yang agung ini, menyuarakannya dan menisbatkannya kepada-Nya, dan Dia memperkuat Beliau dengan mukjizat yang nyata dan dalil-dalil yang kuat, ditambah dengan pertolongan-Nya yang jelas dan keberhasilan mengalahkan musuhnya, padahal Allah Subhaanahu wa Ta'aala berkuasa memutuskan dakwah ini dari dasarnya, yaitu dengan mengunci hati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga Beliau tidak dapat menerima apa-apa dan tidak lagi dimasuki oleh kebaikan. Jika hati sudah dikunci maka perkara apa pun terhenti. Ini merupakan dalil yang qath’i benarnya apa yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan persaksian dari Allah yang paling kuat terhadap aa yang Beliau ucapkan, dan bahwa tidak ada persaksian yang lebih besar daripada ini. Oleh karena itulah, termasuk hikmah, rahmat dan sunnah-Nya yang berjalan di alam semesta ini adalah Dia menghapuskan kebatilan dan menyingkirkannya meskipun terkadang kebatilan dalam suatu waktu memiliki sedikit kekuatan, namun akhirnya akan binasa.

[11] Untuk bersabar terhadap gangguan mereka.

[12] Baik kalimat-Nya di alam semesta yang tidak dapat dirubah dan diganti, janji-Nya yang benar, kalimat agama-Nya yang mewujudkan apa yang disyariatkan-Nya berupa kebenaran, mengokohkannya di hati serta menerangi ulul albab (orang-orang yang berakal). Sehingga termasuk penguatan-Nya terhadap yang hak adalah Dia adakan kebatilan untuk melawannya, jika kebatilan melawannya, maka kebenaran menyerangnya dengan bukti dan keterangannya, sehingga dari cahaya dan petunjuknya kalahlah yang batil itu dan tampak jelas kebatilannya oleh semua orang dan kebenaran semakin jelas bagi setiap orang.

[13] Yakni yang ada di dalamnya dan sifat yang melekat padanya baik atau buruk, yang disembunyikan maupun yang ditampakkan.

[14] Ayat ini menerangkan sempurnanya kemurahan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, luasnya pemberian-Nya dan sempurnanya kelembutan-Nya; Dia menerima tobat yang muncul dari hamba-hamba-Nya saat mereka mencabut dosa mereka dan menyesalinya serta berazam untuk tidak mengulanginya jika maksud mereka adalah mencari keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala tetap menerimanya meskipun telah sempurna sebab seseorang binasa.

[15] Yakni menghapusnya dan menghapus pengaruhnya, seperti aib dan hukuman yang menghendakinya, dan orang yang bertobat di sisi-Nya menjadi mulia seakan-akan dia tidak pernah mengerjakan kejahatan pun, Dia juga mencintainya dan memberinya taufik kepada sesuatu yang mendekatkan kepada-Nya.

[16] OIeh karena tobat terkadang sempurna karena sempurnanya keikhlasan dan kejujurannya, namun bisa saja berkurang ketika kurang ikhlas dan jujur, bahkan bisa saja sia-sia jika maksudnya untuk memperoleh tujuan duniawi, dan karena hal itu terletak di hati dimana tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, maka Dia tutup ayat ini dengan firman-Nya, “dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,

[17] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajak semua hamba-hamba-Nya untuk kembali kepada-Nya dan tobat terhadap kelalaiannya, maka terbagilah mereka kepada dua golongan; golongan yang mengikuti yaitu orang-orang yang beriman dan golongan yang tidak mau mengikuti, yaitu orang-orang yang kafir.

[18] Maksudnya orang-orang yang beriman memenuhi ajakan Tuhan mereka saat mengajak mereka kepada-Nya, tunduk kepada-Nya dan mendatangi seruan-Nya, karena iman dan amal saleh yang ada pada mereka membawa mereka kepadanya. Ketika mereka mau mengikuti, maka Allah mensyukuri mereka dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Dia tambahkan kepada mereka pula karunia, taufiq dan semangat untuk beramal serta menambahkan kelipatannya dalam hal pahala melebihi hal yang seharusnya diperoleh amal mereka berupa pahala dan keberuntungan yang besar.

[19] Adapun orang-orang yang tidak mau memenuhi panggilan Allah, yaitu mereka yang tetap membangkang yang kafir kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, maka mereka mendapatkan azab yang keras di dunia dan di akhirat.

[20] Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada ‘Amr bin Harrits dan lainnya, bahwa mereka berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan penduduk Shuffah (serambi masjid), “Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki.” Hal itu karena mereka mengatakan, “Kalau sekiranya kamu punya…dst.” Mereka berangan-angan.

+ show / hide Penjelasan Tambahan

[21] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan, bahwa di antara kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia tidak melapangkan rezeki kepada mereka yang dapat membahayakan agama mereka.

[22] Yakni tentu akan lalai dari menaati Allah, mendatangi kesenangan dunia, sehingga hidup mereka penuh dengan memenuhi hawa nafsu meskipun sebagai kemaksiatan dan kezaliman.

[23] Yakni sesuai kelembutan dan kebijaksanaan-Nya.

+ show / hide Penjelasan Tambahan

[24] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberi mereka rezeki yang Dia pilih yang di sana terdapat kebaikan bagi mereka, Dia lebih tahu dalam hal itu, sehingga Dia memberikan kekayaan orang yang berhak mendapatkannya dan membuat fakir orang yang berhak mendapatkannya. Jika kekayaan memperbaiki imannya, maka Dia memberikannya, tetapi jika kekayaan malah merusaknya, maka Dia berikan kefakiran. Demikian pula jika kesehatan memperbaiki imannya, maka Dia memberikannya dan jika sakit yang memperbaiki imannya, maka Dia berikan sakit.

[25] Yakni hujan yang deras yang mengenai negeri dan penduduknya.

[26] Seyelah mereka mengira bahwa hujan tidak akan turun kepada mereka.

[27] Seperti dikeluarkan-Nya makanan untuk mereka dan hewan ternak mereka, sehingga mereka bergembira dengannya.

[28] Yakni yang mengurus hamba-hamba-Nya dengan berbagai pengurusan, Dia mengurus maslahat agama mereka maupun dunia mereka.

[29] Dalam pengurusan-Nya dan pengarahan-Nya. Demikian pula Maha Terpuji karena kesempurnaan-Nya dan karena Dia melimpahkan berbagai karunia kepada hamba-hamba-Nya.

[30] Yakni termasuk dalil yang menunjukkan kekuasaan-Nya yang besar dan bahwa Dia akan menghidupkan orang yang telah mati setelah matinya.

[31] Dengan keadaannya yang luas dan besar yang menunjukkan kekuasaan-Nya dan luas-Nya kerajaan-Nya. Apa yang tampak pada keduanya berupa kerapihan dan keindahan menunjukkan kebijaksanaan-Nya. Demikian pula apa yang ada pada keduanya berupa berbagai manfaat dan maslahat menunjukkan rahmat-Nya, dan bahwa hal itu menunjukkan bahwa Dia berhak ditujukan berbagai ibadah, dan bahwa peribadahan kepada selain-Nya adalah batil.

[32] Sebagai maslahat dan manfaat bagi hamba-hamba-Nya.

[33] Setelah mereka mati di padang mahsyar pada hari Kiamat.

[34] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa tidaklah Dia menimpakan musibah pada badan mereka, harta mereka, dan anak-anak mereka dan apa saja yang mereka cintai, dimana mereka sangat mencintainya kecuali disebabkan perbuatan tangan mereka, yaitu karena mereka melakukan berbagai maksiat, namun Allah lebih banyak memaafkan, karena Dia tidak menzalimi hamba-hamba-Nya, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri, Dia berfirman, “Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Terj. Fathir: 45) Dan penundaan itu bukanlah berarti meremehkan atau karena lemah.

+ show / hide Penjelasan

[35] Digunakan kata tangan, karena kebanyakan tindakan yang dilakukan oleh manusia dengan tangannya. Musibah bagi orang-orang yang berdosa adalah untuk menghapuskan dosa-dosa mereka, adapun bagi orang yang tidak berdosa, maka untuk meninggikan derajat mereka di surga.

[36] Wahai kaum musyrik.

[37] Yani kamu tidak dapat melemahkan kekuasaan Allah terhadapmu, bahkan kamu semua adalah lemah, dan kamu tidak dapat menolak apa yang Allah tetapkan untukmu.

[38] Sehingga kamu memperoleh manfaat.

[39] Yang menghindarkan bahaya darimu.

[40] Yakni di antara dalil yang menunjukkan rahmat dan perhatian-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

[41] Allah menundukkan lautan untuk kapal itu, menjaganya dari gelombang yang besar dan menjadikan kapal itu dapat membawamu dan membawa barang-barangmu yang banyak ke negeri dan daerah yang jauh serta menundukkan semua sebab yang dapat membantu hal itu.

[42] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan tentang sebab-sebab itu.

[43] Dimana dengan angin kapal mereka dapat berjalan.

[44] Orang itu adalah orang mukmin, di mana ia bersabar saat menerima musibah dan terhadap hal yang memberatkan dirinya, seperti rasa lelah ketika menjalankan ketaatan, menolak segala yang mengajak kepada maksiat serta menahan dirinya agar tidak keluh kesah. Demikian pula ia bersyukur saat memperoleh kelapangan dan saat mendapatkan nikmat; dia mengakui nikmat Tuhannya dan tunduk kepada-Nya serta mengalihkan nikmat-nikmat itu untuk mencari keridhaan-Nya. Orang inilah yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Adapun orang yang tidak bersabar dan bersyukur, maka ia tetap saja berpaling atau membangkang dan tidak mendapatkan manfaat dari ayat-ayat-Nya.

[45] Yakni dengan menenggelamkannya dan membinasakannya, akan tetapi Dia Maha Penyantun dan banyak memaafkan.

[46] Dengan kebatilan mereka.

Tafsir Asy Syuura Ayat 13-22

Ayat 13-15: Semua rasul mengajak untuk menyembah Allah yang Maha Esa, perintah untuk bersatu dan larangan berpecah belah dan pentingnya beristiqamah di atas agama.

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (١٣) وَمَا تَفَرَّقُوا إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِهِمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ (١٤) فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لأعْدِلَ بَيْنَكُمُ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ لا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ (١٥)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 13-15

13. [1]Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu, tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan)[2] dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya[3]. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka[4]. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid[5] dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)[6].

14. [7]Dan mereka tidak berpecah belah, kecuali setelah datang kepada mereka ilmu (kebenaran yang disampaikan para nabi), karena kedengkian antara sesama mereka[8]. Jika tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan[9], pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan[10]. Dan sesungguhnya orang-orang yang mewarisi kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad)[11], benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentang kitab (Al Qur’an) itu[12].

15. Karena itu serulah (mereka beriman)[13] dan tetaplah (beriman dan berdakwah)[14] sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka[15] dan katakanlah[16], "Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah[17] dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu[18]. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu[19]. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu[20]. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu[21], Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali[22].”

Ayat 16-19: Al Qur’an adalah kebenaran, syariat Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah timbangan kebenaran terhadap amal, kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada hamba-hamba-Nya dan bahwa di Tangan-Nya rezeki hamba-hamba-Nya.

وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُ حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ (١٦) اللَّهُ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ (١٧)يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِهَا وَالَّذِينَ آمَنُوا مُشْفِقُونَ مِنْهَا وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا الْحَقُّ أَلا إِنَّ الَّذِينَ يُمَارُونَ فِي السَّاعَةِ لَفِي ضَلالٍ بَعِيدٍ (١٨) اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (١٩)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 16-19

16. Dan orang-orang yang berbantah-bantah[23] tentang (agama) Allah setelah (agama itu) diterima[24], perbantahan mereka itu sia-sia di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah)[25] dan mereka mendapat azab yang sangat keras[26].

17. [27]Allah yang menurunkan kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran dan neraca (keadilan)[28]. [29]Dan tahukah kamu, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat?

18. Orang-orang yang tidak beriman kepada hari Kiamat[30] meminta agar hari itu segera terjadi dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya[31] dan mereka yakin bahwa Kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya Kiamat itu benar-benar telah tersesat jauh[32].

19. [33]Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang Dia kehendaki, dan Dia Mahakuat lagi Mahaperkasa[34].

Ayat 20-22: Allah memberikan pembalasan kepada amal seseorang menurut niatnya, orang yang beramal untuk akhirat dan balasannya dan orang yang tertipu dengan dunia serta bagian yang diperolehnya dari dunia, penghinaan terhadap orang-orang kafir dengan azab yang akan mereka terima dan kabar gembira kepada orang-orang mukmin dengan surga.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ (٢٠) أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢١) تَرَى الظَّالِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا وَهُوَ وَاقِعٌ بِهِمْ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فِي رَوْضَاتِ الْجَنَّاتِ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (٢٢)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 20-22

20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan (pahala) di akhirat[35] akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya[36] dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia[37] Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia)[38] tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat[39].

21. [40]Apakah mereka mempunyai sembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridhai) Allah[41]? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan[42]. Dan sungguh, orang-orang zalim itu[43] akan mendapat azab yang sangat pedih[44].

22. [45]Kamu akan melihat orang-orang zalim[46] itu sangat ketakutan karena (kejahatan-kejahatan) yang telah mereka lakukan, [47]dan (azab) menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman[48] dan mengerjakan kebajikan[49] (berada) di dalam taman-taman surga[50], mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan[51]. Yang demikian itu adalah karunia yang besar[52].

PENJELASAN AYAT

[1] Ayat ini menerangkan nikmat yang paling besar yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu mensyariatkan untuk mereka agama terbaik dan paling utama, paling mulia dan paling suci, yaitu agama Islam, dimana Allah mensyariatkan agama itu kepada hamba-hamba pilihan-Nya bahkan makhluk terbaik dan paling tinggi derajatnya, yaitu para rasul ulul ‘azmi yang disebutkan dalam ayat ini. Kalau bukan karena agama Islam, maka tidak ada seorang pun di antara makhluk menjadi makhluk yang tinggi. Dengan demikian, agama Islam merupakan ruh kebahagiaan, poros kesempurnaan, dimana hal itu terkandung dalam kitab yang mulia ini; dimana yang diserukannya adalah tauhid, amal, akhlak dan adab.

Ayat ini menunjukkan bahwa agama para nabi adalah agama tauhid (Islam) meskipun syariatnya berbeda-beda sesuai dengan kondisi umat pada waktu itu.

[2] Yang dimaksud dengan menegakkan agama Islam di sini adalah mengesakan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta menaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya atau menegakkan semua syariat baik yang ushul (dasar) maupun yang furu’ (cabang), yaitu kamu menegakkannya oleh dirimu dan berusaha menegakkannya juga pada selain dirimu serta saling bantu-membantu di atas kebaikan dan takwa.

[3] Agar agama dapat tegak secara sempurna. Termasuk di antara sarana berkumpul di atas agama dan tidak berpecah adalah apa yang diperintahkan syari’ (Allah dan Rasul-Nya) untuk berkumpul di waktu haji, pada hari raya, shalat Jum’at dan jamaah, berjihad dan ibadah-ibadah lainnya yang tidak mungkin sempurna kecuali dengan berkumpul bersama dan tidak berpecah belah.

[4] Jangankan mengikuti, disebut nama Allah saja mereka tidak suka.

[5] Allah memilih di antara makhluk-Nya orang yang Dia ketahui layak dipilih untuk menerima risalah atau kewalian-Nya. Termasuk pula Dia memilih umat ini dan melebihkannya di atas seluruh umat.

[6] Kembali kepada-Nya merupakan sebab dari seorang hamba yang dengannya ia memperoleh hidayah Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Dengan demikian baiknya niat seorang hamba dan berusaha memperoleh hidayah termasuk sebab untuk dimudahkan kepada hidayah Allah, sebagaimana firman-Nya, “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, …dst.” (Terj. Al Ma’idah: 16).

[7] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan agar kaum muslimin berkumpul di atas agama mereka serta melarang mereka berpecah belah, maka Dia memberitahukan kepada mereka agar jangan tertipu hanya karena Allah telah menurunkan kitab kepada mereka, karena Ahli Kitab sebelumnya tidaklah berpecah belah sampai Allah menurunkan juga kitab kepada mereka yang menghendaki mereka untuk bersatu, namun ternyata mereka mengerjakan kebalikan dari apa yang diperintahkan dalam kitab tersebut. Hal itu terjadi karena kedengkian di antara mereka; mereka saling benci membenci dan saling dengki-mendengki sehingga terjadilah perpecahan, oleh karena itu hendaknya kita berhati-hati agar tidak seperti mereka.

[8] Maksudnya, orang-orang yang beragama atau Ahli Kitab tidaklah berpecah belah dalam hal agama, kecuali setelah nyata kebenaran, namun mereka pun tetap berpecah belah.

[9] Yaitu hari Kiamat.

[10] Dengan mengazab mereka di dunia, akan tetapi kebijaksanaan dan santun-Nya menghendaki untuk menunda azab dari mereka.

[11] Yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani.

[12] Yakni benar-benar berada dalam kesamaran yang besar yang menjatuhkan ke dalam perselisihan, dimana pendahulu mereka berselisih baik karena dengki maupun karena sikap membangkang. Generasi setelah mereka juga berselisih karena ragu-ragu, dan semuanya sama-sama dalam perselisihan yang tercela.

[13] Yakni kepada agama yang lurus dan agama yang benar, dimana Al Qur’an Allah turunkan membawanya dan para rasul diutus Allah dengan membawanya. Oleh karena itu, serulah umatmu kepadanya dan dorong mereka kepadanya serta berjihadlah melawan orang-orang yang tidak menerimanya.

[14] Maksudnya, tetaplah dalam agama dan lanjutkanlah berdakwah. Atau tetaplah sesuai perintah Allah, tidak meremehkan dan tidak berlebihan, bahkan di atas perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan konsisten di atasnya. Dalam ayat ini Allah memerintahkan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menyempurnakan dirinya dengan tetap istiqamah dan menyempurnakan orang lain dengan berdakwah kepadanya. Sudah menjadi maklum perintah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi perintah pula untuk umatnya jika tidak ada takhshis(pengkhusus)nya.

[15] Yakni hawa nafsu orang-orang yang menyimpang dari agama seperti orang-orang kafir dan munafik, bisa dengan mengikuti sebagian agama mereka, meninggalkan dakwah, dan tidak istiqamah. Karena sesungguhnya, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu datang kepadamu, maka engkau akan menjadi orang-orang yang zalim. Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti agama mereka.” Karena hakikat agama mereka adalah apa yang Allah syariatkan untuk mereka, yaitu agama para rasul, akan tetapi mereka tidak mengikutinya, bahkan mereka mengikuti hawa nafsu mereka dan menjadikan agama mereka sebagai bahan permainan.

[16] Ketika berdebat dengan mereka.

[17] Yakni hendaknya perdebatan mereka didasari atas asas yang besar ini, dimana hal ini menunjukkan kemuliaan Islam, keagungannya, dan pengawasannya terhadap semua agama. Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa Ahli Kitab jika mereka mengajak berdebat atas dasar beriman kepada sebagian kitab atau sebagian rasul, maka tidak diterima, karena kitab yang mereka serukan kepadanya dan rasul yang mereka menisbatkan diri kepadanya mensyaratkan harus membenarkan semua kitab dan semua rasul.

[18] Yakni dalam memberikan keputusan terhadap hal yang kamu perselisihkan. Oleh karena itu, wahai Ahli Kitab! Janganlah kebencian dan permusuhanmu menghalangimu untuk berbuat adil terhadap kami.

[19] Yakni Tuhan kita semuanya.

[20] Masing-masing dibalas sesuai amalnya.

[21] Maksudnya, setelah jelas hakikatnya, kebenaran daripada kebatilan juga menjadi jelas, petunjuk daripada kesesatan juga menjadi jelas, maka tidak ada lagi perdebatan, karena maksud dari perdebatan adalah adalah menerangkan yang hak dari yang batil agar orang yang cerdas mendapat petunjuk dan agar hujjah tegak kepada orang-orang yang sesat, namun hal ini bukanlah berarti bahwa Ahli Kitab tidak didebat, tetapi maksudnya seperti tadi.

[22] Yakni pada hari Kiamat, lalu Dia membalas masing-masing sesuai amalnya dan ketika itu jelaslah yang benar daripada yang dusta.

[23] Hal ini menguatkan firman-Nya di ayat sebelumnya, “Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu.” Di ayat ini Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang membantah agama Allah dengan hujjah-hujjah yang batil serta syubhat yang bertentangan.

[24] Oleh orang-orang yang berakal setelah Allah menerangkan kepada mereka ayat-ayat yang qath’i (pasti) dan hujjah yang jelas, maka mereka yang mendebat kebenaran setelah jelas seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi, hujjahnya batal dan tertolak di sisi Tuhan mereka, karena mengandung penolakan terhadap yang hak, sedangkan segala sesuatu yang menyelisihi yang hak adalah batil.

[25] Karena kedurhakaan mereka dan berpalingnya mereka dari hujjah-hujjah Allah serta bukti-buktinya dan karena mereka mendustakannya.

[26] Itu merupakan atsar (bekas) dari kemurkaan Allah kepada mereka. Inilah hukuman bagi setiap orang yang mendebat yang hak dengan yang batil.

[27] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan bahwa hujjah-hujah-Nya begitu jelas dan terang, dimana hujjah-Nya diterima oleh orang yang memiliki kebaikan, maka Allah menyebutkan dasar dan kaidahnya, bahkan merupakan semua hujjah yang Allah sampaikan kepada hamba.

[28] Kitab di sini adalah Al Qur’an. Ia turun dengan membawa kebenaran, mengandung kebenaran, kejujuran dan keyakinan. Semuanya adalah ayat-ayat yang jelas, dalil yang terang terhadap semua tuntutan ilahi dan keyakinan dalam beragama, maka Al Qur’an datang dengan membawa masalah yang paling baik dan dalil yang paling jelas. Adapun neraca, maka maksudnya keadilan dan memandang dengan qiyas yang shahih dan akal yang kuat. Termasuk ke dalam neraca yang Allah turunkan dan letakkan di antara hamba-hamba-Nya adalah semua dalil ‘aqli (akal), baik ayat-ayat yang ada di ufuk maupun yang ada pada diri manusia, memandang dari sisi syar’i, munasabah (kesesuaian), illat (alasan-alasan), hukum-hukum dan hikmah-hikmah. Allah letakkan di antara hamba-hamba-Nya agar mereka menimbang masalah-masalah yang masih samar, mengetahui benarnya apa yang Dia beritakan kepada mereka, dan apa yang diberitakan para rasul-Nya. Oleh karena itu, apa yang berada di luar perkara ini (kitab dan neraca) yang dianggap sebagai hujjah atau dalil maka ia adalah batil dan bertentangan, dimana asasnya rusak, bangunannya roboh demikian pula cabang-cabangnya. Hal itu diketahui oleh orang yang mengetahui masalah dan pengambilannya, mengetahui perbedaan antara dalil yang rajih dengan yang kurang rajih, serta dapat membedakan antara hujjah dan syubhat. Adapun orang yang tertipu dengan ungkapan yang terkesan indah, lafaz yang dihias, bashirah(mata hati)nya tidak sampai kepada makna yang dikehendaki, maka ia tidak termasuk ke dalam orang-orang tersebut.

[29] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menakut-nakuti orang-orang yang meminta disegerakan Kiamat lagi mengingkarinya.

[30] Dengan sikap membangkang, mendustakan, dan melemahkan Tuhannya.

[31] Yakni takut karena keimanan mereka kepadanya, mereka tahu sesuatu yang akan terjadi pada hari itu yaitu pembalasan terhadap amal, mereka takut karena mereka kenal Tuhan mereka; mereka takut jika amal mereka tidak membahagiakan mereka dan tidak menyelamatkan.

[32] Yakni setelah mereka membantahnya; membantah rasul dan para pengikutnya yang menetapkan adanya Kiamat, maka sesungguhnya mereka berada dalam pertengkaran dan permusuhan yang jauh dari kebenaran, bahkan jauh sekali. Padahal sesuatu apa yang lebih jauh dari kebenaran daripada orang-orang yang mendustakan negeri yang sebenarnya; negeri yang diciptakan untuk tetap dan kekal; negeri tempat pembalasan yang di sana Allah menampakkan keadilan dan karunia-Nya, sedangkan negeri ini (dunia) jika dibandingkan dengannya seperti orang yang mengendarai kendaraan yang beristirahat di bawah naungan pohon lalu ia pergi meninggalkannya. Negeri tersebut adalah negeri tempat berlalu dan bukan tempat menetap. Tetapi mereka malah membenarkan negeri yang akan sirna dan fana karena mereka menyaksikannya dan mendustakan negeri akhirat yang telah mutawatir diberitakan oleh kitab-kitab samawi dan para rasul yang mulia serta para pengikutnya yang merupakan makhluk paling sempurna akalnya, paling banyak ilmunya, dan paling dalam kecerdasan dan kepintarannya.

[33] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya agar mereka mengenal dan mencintai-Nya dan mencari kelembutan dan kemurahan-Nya. Kelembutan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, maknanya bahwa Dia mengetahui yang tersembunyi maupun yang rahasia, dimana Dia menyampaikan kepada hamba-hamba-Nya –khususnya kaum mukmin- kepada sesuatu yang di sana terdapat kebaikan bagi mereka dari arah yang tidak mereka ketahui dan tidak mereka sangka. Ya Allah, berikanlah kembutan-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah kelembutan-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah kelembutan-Mu kepadaku.

Di antara kelembutan-Nya kepada hamba-Nya yang mukmin adalah Dia menunjukinya kepada kebaikan dengan petunjuk yang tidak terlintas dalam hatinya karena Dia memudahkan sebab-sebab kepadanya, seperti fitrahnya untuk mencintai yang hak, tunduk kepadanya, ilham Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada para malaikat yang mulia agar mereka mengokohkan hamba-hamba-Nya yang mukmin.dan mendorong mereka kepada kebaikan serta menaruh ke dalam hati mereka indahnya kebenaran yang mendorong mereka untuk mengikutinya.

Termasuk kelembutan-Nya adalah Dia memberintahkan kaum mukmin ibadah yang dilakukan secara jama’i (berjamaah), dimana dengannya niat mereka kuat dan cita-cita mereka bangkit dan terjadilah perlombaan kepada kebaikan serta mencintainya, demikian pula mengikutinya sebagian mereka kepada sebagian yang lain.

Termasuk kelembutan-Nya adalah Dia menetapkan kepada hamba-Nya semua sebab yang menghalanginya berbuat maksiat, sehingga Allah Subhaanahu wa Ta'aala karena Dia mengetahui bahwa dunia, harta dan kepemimpinan dan yang semisalnya -yang biasa dikejar oleh orang-orang yang cinta dunia-, dimana hal itu dapat memutuskan hamba-Nya dari ketaatan kepada-Nya atau membuatnya lalai dari-Nya atau membuatnya jatuh ke dalam maksiat, maka Dia palingkan hamba-Nya dan membatasi rezekinya. Oleh karena itulah Dia berfirman, “Dia memberi rezeki kepada yang Dia kehendaki,” sesuai hikmah (kebijaksanaan) dan kelembutan-Nya.

[34] Dia memiliki kekuatan semuanya, tidak ada daya dan upaya bagi makhluk kecuali dengan pertolongan-Nya, dimana segala sesuatu tunduk kepada-Nya.

[35] Yakni pahala dan balasan-Nya, dia mengimaninya dan membenarkannya serta berusaha kepadanya.

[36] Yakni satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan atau lebih, ia juga memperoleh bagian dari dunia ini. Oleh karena itu, orang yang mencari akhirat seperti orang yang menanam padi, dimana akan tumbuh pula rumput. Sedangkan orang yang mencari dunia seperti orang yang menanam rumput, tidak akan tumbuh padi.

[37] Maksudnya dunia yang menjadi tujuannya dan akhir cita-citanya, tidak mau mengejar akhiratnya, tidak mengharap pahalanya dan tidak takut siksa pada hari itu.

[38] Yakni Kami berikan kepadanya bagian yang telah ditetapkan untuknya.

[39] Ia tidak masuk surga dan tidak memperoleh kenikmatannya, bahkan berhak masuk neraka dan memperoleh kesengsaraannya. Ayat ini sama seperti firman-Nya di ayat lain, “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.-- Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Terj. Huud: 15-16).

[40] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa kaum musyrik mengambil para sekutu, dimana mereka berwala’ (menaruh sikap setia) kepadanya, dan mereka bersama-sama dengan para sekutu itu dalam kekafiran dan amalan kufur, dari kalangan setan manusia para penyeru kekafiran.

Ada pula yang menafsirkan, apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan yang menetapkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?

[41] Seperti syirk, mengingkari kebangkitan, bid’ah, mengharamkan apa yang Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan dan sebagainya sesuai hawa nafsu mereka. Padahal aturan dalam agama itu tidak boleh kecuali apa yang disyariatkan Allah Ta’ala. Dengan demikian, hukum asal dalam ibadah itu haram sampai ada dalil yang memerintahkannya dari Allah dan Rasul-Nya.

* Allah menyebut tindakan berkreasi dalam melakukan ibadah (yang diistilahkan dengan bid’ah) sebagai tindakan menyekutukan Allah dalam masalah penetapan syariat (aturan beribadah). dia menandingi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah penetapan aturan ibadah.

* Garis bawahi kalimat, ‘mensyariatkan untuk mereka agama’ artinya aturan itu diyakini sebagai aturan agama, padahal Allah tidak pernah mengizinkannya. Tidak Allah izinkan berarti kosong dari dalil. Dan itulah bid’ah.

[42] Pada saat itu juga karena yang menghendaki untuk dibinasakan sudah ada, akan tetapi Dia menundanya karena santun-Nya dan karena kebijaksanaan-Nya.

[43] Yakni orang-orang kafir.

[44] Di akhirat.

[45] Pada hari itu.

[46] Kepada diri mereka dengan kekafiran dan kemaksiatan.

[47] Oleh karena orang yang takut terhadap sesuatu yang ditakuti terkadang mendapatkan sesuatu yang ditakuti itu dan terkadang tidak, maka Allah memberitahukan, bahwa sesuatu yang ditakuti itu (azab) akan menimpa mereka. Hal itu, karena mereka telah mengerjakan sebab yang sempurna yang menghendaki mereka disiksa tanpa ada penghalang, seperti tobat atau lainnya dan telah mencapai tempat yang tidak berlaku lagi penangguhan dan penundaan.

[48] Dengan hati mereka kepada Allah, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan apa yang mereka bawa.

[49] Baik yang terkait dengan hati, lisan maupun anggota badan, yang wajib maupun yang sunat.

[50] Taman tersebut disandarkan ke surga, maka berarti indahnya tidak dapat terbayangkan, baik sungainya, pohon-pohonnya, burung-burungnya, suara yang terdengar di sana dan berkumpul dengan kekasih. Taman-taman tersebut semakin hari semakin bertambah indah dan eloknya, dan tidak menambah kepada penduduknya selain kerinduan kepada kenikmatannya.

[51] Apa yang mereka inginkan selalu ada dan apa yang mereka minta selalu hadir di hadapan, dimana kenikmatannya sampai tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas di hati manusia.

[52] Karunia apa yang lebih besar daripada mendapatkan keridhaan Allah, mendapatkan kenikmatan di dekat-Nya di tempat istimewa-Nya (surga).

======================================================================

Beberapa Pelajaran [Asy-Syuro: 21]
1) Mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah artinya berbuat bid’ah dalam agama. Al-Imam Al-Mufassir Ibnu Jarir Ath-Thobari rahimahullah (w. 310 H) berkata,
يقول تعالى ذكره: أم لهؤلاء المشركين بالله شركاء في شركهم وضلالتهم (شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ) يقول: ابتدعوا لهم من الدين ما لم يبح الله لهم ابتداعه
“Firman Allah ta’ala dzikruhu tersebut maknanya: Apakah orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang lain dalam kesyirikan dan kesesatan mereka itu “yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah!?” Artinya: Mengada-ada (berbuat bid’ah) untuk mereka agama yang Allah tidak izinkan untuk mereka mengada-adakannya!?” [Tafsir Ath-Thobari, 21/522, Muassasah Ar-Risalah Beirut, Cet. 1, 1420 H, Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir]
Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah (w. 597 H) berkata,
والمعنى: ألَهُمْ آلهةٌ شَرَعُوا أي ابتدعوا لَهُمْ دِيناً لم يأذن به الله؟!
“Maknanya: Apakah mereka memiliki sesembahan-sesembahan yang mensyari’atkan, artinya yang berbuat bid’ah untuk mereka agama yang Allah tidak izinkan?!” [Zaadul Masir fi ‘Ilmit Tafsir, 4/63, Daarul Kutub Al-‘Arabi Beirut, Cet. 1, 1422 H, Tahqiq: Abdur Rozzaq Mahdi]
2) Hanya Allah ta’ala yang berhak menetapkan aturan-aturan dan cara-cara beribadah dalam agama, yang Dia turunkan dalam kitab-Nya Al-Qur’an yang mulia atau melalui lisan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam dalam As-Sunnah.
3) Allah subhanahu wa ta’ala menyamakan para pembuat syari’at dan cara-cara ibadah kaum musyrikin dengan sesembahan-sesembahan selain Allah ta’ala, maka ayat yang mulia ini mengandung celaan yang keras terhadap orang-orang yang menetapkan hukum yang bertentangan dengan syari’at atau berbuat bid’ah dalam agama, pada hakikatnya mereka telah menyamakan diri mereka dengan Allah ta’ala, dan para pengikut mereka telah meyamakan mereka dengan Allah ta’ala, sadar atau tidak.
4) Pentingnya menuntut ilmu agama berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sesuai Pemahaman Salaf, karena seseorang tidak mungkin dapat beribadah kepada Allah ta’ala sesuai dengan syari’at-Nya tanpa memiliki ilmunya.
5) Bahaya taklid buta; ikut-ikutan terhadap tokoh-tokoh, tradisi nenek moyong dan kebiasaan masyarakat tanpa mencocokkannya terlebih dahulu dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sesuai Pemahaman Salaf, karena akan menjerumuskan ke dalam syirik dan bid’ah sebagaimana yang terjadi pada kaum muysrikin dahulu dan telah terjadi pada sebagian kaum muslimin, waspadalah…!

Kamis, 24 April 2014

Tafsir Asy Syuura Ayat 1-12

Surah Asy Syuura (Musyawarah)

Surah ke-42. 53 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-6: Kemukjizatan Al Qur’an, pemberitahuan bahwa apa yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah wahyu, dan bahwa alam semesta adalah milik Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

حم (١) عسق (٢) كَذَلِكَ يُوحِي إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٣) لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (٤) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَالْمَلائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الأرْضِ أَلا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٥) وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَولِيَاءَ اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ (٦)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 1-6

1. Haa Miim.

2. 'Ain Siin Qaaf.

3. [1]Demikianlah Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana[2] mewahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada orang-orang yang sebelummu.

4. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi[3]. Dan Dialah Yang Mahatinggi[4] lagi Mahabesar[5].

5. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat[6] bertasbih memuji Tuhan-nya[7] dan memohonkan ampunan untuk orang yang ada di bumi[8]. Ingatlah, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[9].

6. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah[10], Allah mengawasi (perbuatan) mereka[11]; adapun engkau (Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka[12].



Ayat 7-12: Al Qur’an adalah peringatan untuk seluruh umat manusia, dan penjelasan bahwa perselisihan-perselisihan umat manusia dikembalikan penyelesaiannya kepada kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.



وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لا رَيْبَ فِيهِ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ (٧)وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (٨) أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ فَاللَّهُ هُوَ الْوَلِيُّ وَهُوَ يُحْيِي الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٩) وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (١٠) فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١١) لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (١٢)

Terjemah Surat Asy Syuura Ayat 7-12

7. [13]Dan demikianlah Kami wahyukan Al Quran kepadamu dalam bahasa Arab[14], agar engkau memberi peringatan kepada penduduk ibu kota (Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) di sekelilingnya[15] serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (Kiamat)[16] yang tidak diragukan adanya. [17]Segolongan masuk surga[18], dan segolongan masuk neraka[19].

8. Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia jadikan mereka satu umat[20], tetapi Dia memasukkan orang-orang yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim[21] tidak ada bagi mereka pelindung[22] dan penolong[23].

9. Atau mereka mengambil pelindung-pelindung selain Dia[24]? Padahal Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya)[25]. Dan Dia menghidupkan orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu[26].

10. Dan apa pun yang kamu perselisihkan[27] padanya tentang sesuatu, keputusannya (terserah) kepada Allah[28]. (Yang memiliki sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku[29]. kepada-Nya aku bertawakkal[30] dan kepada-Nya aku kembali[31].

11. (Allah) Pencipta langit dan bumi[32]. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri[33], dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga)[34], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia[35]. Dia Yang Maha Mendengar[36] dan Maha Melihat[37].

12. Milik-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi[38]; [39]Dia melapangkan rezeki dan membatasinya[40] bagi siapa yang Dia kehendaki[41]. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu[42].


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al Qur’anul Karim kepada Nabi yang mulia Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana Dia mewahyukan kepada para nabi dan para rasul sebelumnya. Di sana terdapat keterangan yang jelas tentang karunia-Nya dengan menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul baik yang dahulu maupun setelahnya, dan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bukanlah rasul yang baru, dan bahwa jalan Beliau adalah sama seperti jalan rasul-rasul sebelum Beliau, demikian pula keadaannya sama seperti keadaan para rasul sebelumnya. Apa yang Beliau bawa sama seperti yang mereka bawa, karena semuanya hak dan benar.

[2] Kitab Al Qur’an itu turun dari Tuhan yang memiliki sifat ketuhanan, keperkasaan dan kebijaksanaan.

[3] Yakni milik-Nya, ciptaan-Nya dan hamba-Nya. Semuanya di bawah pengaturan-Nya baik yang bersifat qadari (ketetapan-Nya terhadap alam semesta) maupun syar’i (ketetapan-Nya dalam agama).

[4] Baik zat-Nya, kedudukan-Nya maupun kekuasaan-Nya.

[5] Karena kebesaran-Nya langit itu hampir saja pecah.

[6] Yakni malaikat yang mulia lagi didekatkan tunduk kepada keagungan-Nya, menyerahkan diri kepada keperkasaan-Nya dan tunduk dengan rububiyyah-Nya.

[7] Maksudnya, mengagungkan-Nya dari setiap kekurangan, dan menyifati-Nya dengan semua kesempurnaan.

[8] Yaitu kaum mukmin.

[9] Kalau bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia akan menyegerakan hukuman yang membinasakan kepada makhluk-Nya yang durhaka. Dengan disifatinya Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan sifat-sifat ini setelah disebutkan bahwa Dia memberi wahyu kepada para rasul secara umum dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam secara khusus terdapat isyarat bahwa dalam Al Qur’anul Karim ini terdapat dalil-dalil dan bukti-bukti serta ayat-ayat yang menunjukkan kesempurnaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Demikian pula disifatinya Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan nama-nama yang agung akan membuat hati penuh dengan ma’rifat (mengenal) kepada-Nya, mencintai-Nya, mengagungkan-Nya dan memuliakan-Nya, serta membuat manusia mengarahkan ibadah baik yang tampak maupun yang tersembunyi kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan bahwa sebuah kezaliman yang paling besar serta perkataan yang paling buruk adalah ketika mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal tandingan-tandingan itu tidak mampu memberikan manfaat dan menimpakan madharrat.

[10] Yaitu kepada patung dan berhala, dimana mereka menyembah kepadanya. Maka sesungguhnya yang mereka ambil adalah sesuatu yang batil, bukan pelindung sama sekali.

[11] Yakni menjaga amal mereka, dan akan membalasnya dengan yang baik atau yang buruk.

[12] Kewajibanmu hanyalah menyampaikan.

[13] Selanjutnya Allah menyebutkan nikmat-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada manusia karena telah menurunkan Al Qur’an.

[14] Jelas lafaz dan maknanya.

[15] Maksudnya, penduduk dunia seluruhnya.

[16] Hari Kiamat disebut hari berkumpul karena pada hari itu semua makhluk baik yang terdahulu maupun yang kemudian dikumpulkan.

[17] Ketika itu manusia terbagi menjadi dua golongan.

[18] Yaitu mereka yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul-Nya.

[19] Mereka adalah orang-orang kafir yang mendustakan.

[20] Di atas petunjuk, karena Dia mampu melakukannya, akan tetapi Dia ingin memasukkan ke dalam rahmat-Nya orang yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya.

[21] Yang tidak cocok memperoleh kebaikan, maka mereka terhalang dari mendapatkan rahmat.

[22] Sehingga tidak ada yang membimbing mereka memperoleh hal yang dicintai.

[23] Sehingga tidak ada yang menghindarkan sesuatu yang tidak disukai dari mereka.

[24] Sungguh, mereka telah berbuat sangat salah sekali.

[25] Allah Dialah wali yang sebenarnya, Dia yang membimbing hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya dan menaati-Nya serta untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan taqarrub yang bisa dilakukan, Dia pula yang mengurus hamba-hamba-Nya secara umum dengan pengaturan-Nya dan berlakunya qadar bagi mereka, Dia pula yang mengurus hamba-hamba-Nya yang mukmin secara khusus dengan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Demikian pula mengurus mereka dengan kelembutan-Nya dan membantu mereka dalam semua urusan mereka.

[26] Dialah yang mengatur mereka dengan menghidupkan dan mematikan, kehendak dan qadar-Nya berlaku bagi mereka. Dialah Tuhan yang berhak diibadahi satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

[27] Tentang ushul (masalah pokok) maupun furu’ (masalah cabang) yang kamu tidak bersepakat di sana..

[28] Yakni dikembalikan kepada kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, yang dihukuminya adalah hak dan yang menyelisihinya adalah batil. Mafhum ayat ini adalah bahwa kesepakatan umat merupakan hujjah yang qath’i (pasti), karena Allah tidak memerintahkan kita mengembalikan kepada-Nya kecuali jika kita berselisih, sehingga dalam hal yang kita sepakati, maka sudah cukup dengan kesepakatan umat, dan bahwa ia terpelihara dari kesalahan. Namun demikian, kesepakatannya harus sesuai dengan yang ada dalam kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.

Ada pula yang menafsirkan, bahwa apa pun yang kamu perselisihkan dengan orang kafir, maka keputusan-Nya diserahkan kepada Allah pada hari Kiamat, yakni Dia akan memutuskannya di antara kamu pada hari itu.

[29] Yakni oleh karena Allah adalah Ar Rabb; Pencipta, Pemberi rezeki, dan pengatur, maka Allah pula yang memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya dengan keputusan qadari-Nya, syar’i-Nya dan jaza’i(pembalasan)-Nya.

[30] Yakni aku bersandar kepada-Nya dalam mendatangkan manfaat dan menolak madharat serta percaya kepada-Nya bahwa Dia akan memberikan pertolongan.

[31] Yakni menghadap, baik dengan hatiku maupun badanku serta taat dan beribadah kepada-Nya. Syaikh As Sa’diy berkata, “Kedua hal ini merupakan dasar yang sering disebut Allah dalam kitab-Nya, karena dengan berkumpulnya keduanya tercapailah kesempurnaan pada seorang hamba, dan kesempurnaan itu akan hilang ketika keduanya hilang atau salah satunya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin” (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), demikian pula firman-Nya, “Fa’bud-hu wa tawakkal ‘alaih.” (Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya).

[32] Dengan kekuasaan-Nya, kehendak-Nya dan kebijaksanaan-Nya.

[33] Sehingga kamu merasakan ketenangan dengannya dan memperoleh keturunan dan memperoleh manfaat.

Ada yang menafsirkan dengan Dia menjadikan Hawa’ dari tulang rusuk Adam.

[34] Ada jantan dan ada betina. Itu semua karena kamu, yakni untuk melimpahkan nikmat kepadamu.

[35] Yakni tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang serupa dan sama dengan-Nya baik dengan zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-Nya, maupun perbuatan-Nya. Hal itu, karena semua nama-Nya paling indah dan sifat-Nya adalah sifat sempurna dan agung. Sedangkan perbuatan-Nya, maka dengannya Dia mengadakan makhluk-makhluk yang besar tanpa ada yang ikut serta dengan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada yang serupa dengan-Nya karena sendirinya Dia dengan kesempurnaan dari segala sisi.

Ayat ini merupakan bantahan kepada kaum Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Sedangkan lanjutan ayatnya, yaitu wahuwas samii’ul ‘aliim (Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat) merupakan bantahan terhadap kaum Mu’aththilah (yang meniadakan sifat bagi Allah). Ahlussunnah pertengahan antara kaum musyabbihah dan kaum mu’aththilah, mereka menetapkan sifat bagi Allah seperti yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya dan disebutkan Rasul dalam sunnah-Nya, namun mereka tidak menyamakan sifat tesebut dengan sifat makhluk-Nya.


* Penetapan sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tanpa ada penyerupaan sedikitpun dengan makhluk-Nya.

[36] Dia mendengar semua suara dengan beragam bahasa serta bermacam-macam kebutuhan.

[37] Dia melihat rayapan semut yang hitam di malam yang gelap di atas batu yang keras. Dia juga melihat bagaimana makanan mengalir kepada makhluk-makhluk kecil serta mengalirnya air di dahan-dahan yang tipis. Jika yang paling kecil saja dan yang tersembunyi Dia mengetahuinya lalu bagaimana dengan yang besar dan jelas.

[38] Yakni milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi dan di Tangan-Nya kunci-kunci rahmat dan rezeki, serta nikmat-nikmat yang tampak maupun yang tersembunyi. Semua makhluk butuh kepada Allah dalam mendatangkan maslahat mereka dan menghindarkan madharrat dan dalam setiap keadaan, dan tidak ada seorang pun yang berkuasa terhadapnya.

Ada yang menafsirkan perbendaharaan langit dan bumi maksudnya hujan dan tumbuh-tumbuhan.

[39] Allah Subhaanahu wa Ta'aala Dialah yang memberi dan menghalangi, yang menimpakan bahaya dan memberikan manfaat, dimana tidak ada satu pun nikmat yang diperoleh hamba kecuali dari-Nya dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Dia. Sebagaimana firman-Nya, “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Terj. Fathir: 2) Oleh karena itulah di ayat ini Dia berfirman, “Dia melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki.”

[40] Sehingga rezeki itu hanya sebatas kebutuhannya dan tidak lebih.

[41] Semua ini mengikuti pengetahuan dan hikmah-Nya.

[42] Dia mengetahui semua keadaan hamba-hamba-Nya, Dia memberikan masing-masingnya yang sesuai dengan hikmah-Nya dan dikehendaki oleh masyi’ah (kehendak)-Nya.