Sabtu, 03 Mei 2014

Tafsir Ad Dukhaan Ayat 51-59

Ayat 51-59: Keadaan orang-orang yang bertakwa di surga dan kenikmatannya dan peringatan agar jangan mendustakan.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ (٥١) فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (٥٢) يَلْبَسُونَ مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَقَابِلِينَ (٥٣) كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ (٥٤) يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ آمِنِينَ (٥٥) لا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلا الْمَوْتَةَ الأولَى وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (٥٦) فَضْلا مِنْ رَبِّكَ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (٥٧)فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (٥٨) فَارْتَقِبْ إِنَّهُمْ مُرْتَقِبُونَ (٥٩)

Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 51-59

51. [1]Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman,

52. (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air,

53. mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadapan[2],

54. demikianlah[3], kemudian Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari[4] yang bermata jeli.

55. Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan[5] dengan aman dan tenteram[6],

56. mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya, selain kematian (pertama) di dunia. Allah melindungi mereka dari azab neraka,



57. Itu merupakan karunia dari Tuhanmu[7]. Demikian itulah kemenangan yang agung[8].

58. Sungguh, Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu[9] agar mereka mendapat pelajaran[10].

59. Maka tunggulah[11]; sungguh, mereka itu (juga sedang) menunggu[12].


[1] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang ketika di dunia menjaga diri dari kemurkaan dan azab-Nya dengan meninggalkan maksiat dan mengerjakan ketaatan, sehingga mereka memperoleh keridhaan Allah dan pahala-Nya. Mereka berada dalam naungan yang teduh karena banyak pepohonan dan buah-buahan serta mata air, di bawahnya mengalir sungai-sungai dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya.

[2] Dengan santai yang sempurna, tenang, saling mencintai, berhubungan baik dan beradab baik.

[3] Kenikmatan dan kesenangan yang sempurna itu.

[4] Yakni wanita-wanita yang cantik.

[5] Baik yang ada namanya di dunia maupun yang tidak ada namanya serta tidak ada bandingannya di dunia. Buah-buahan itu ada pada saat itu di hadapan mereka tanpa susah payah memperolehnya.

[6] Maksudnya, mereka aman dari dikeluarkan dari surga dan aman dari kematian.

[7] Mendapatkan nikmat dan terhindar dari azab termasuk karunia Allah kepada mereka dan kemurahan-Nya karena Allah yang memberi mereka taufiq untuk mengerjakan amal saleh sehingga mereka memperoleh kebaikan akhirat, serta memberikan kepada mereka apa yang tidak dicapai oleh amal mereka.

[8] Kemenangan apa yang lebih besar daripada memperoleh keridhaan Allah dan surga-Nya, serta selamat dari azab dan kemurkaan-Nya.

[9] Yakni Kami mudahkan Al Qur’an dengan bahasamu yang merupakan bahasa yang paling fasih secara mutlak dan paling agung sehingga lafaz dan maknanya mudah.

[10] Yakni mengingatkan mereka sesuatu yang bermanfaat bagi mereka sehingga mereka mengerjakannya, dan mengingatkan sesuatu yang terdapat madharrat sehingga mereka meninggalkannya.

[11] Kehancuran mereka.

[12] Kehancuranmu. Bisa juga diartikan, maka tunggulah apa yang dijanjikan Tuhanmu berupa kebaikan dan pertolongan, sesungguhnya mereka juga menunggu hal yang menimpa mereka berupa azab. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pengikutnya menunggu kebaikan di dunia dan akhirat, sedangkan musuh mereka menunggu keburukan di dunia dan akhirat.

Tafsir Ad Dukhaan Ayat 34-50

Ayat 34-39: Keingkaran kaum musyrik kepada kebangkitan dan pembatalan syubhat mereka, dan penjelasan bahwa sunnatullah berlaku dalam membinasakan kaum yang melampaui batas dan berdosa.

إِنَّ هَؤُلاءِ لَيَقُولُونَ (٣٤) إِنْ هِيَ إِلا مَوْتَتُنَا الأولَى وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَ (٣٥) فَأْتُوا بِآبَائِنَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٣٦) أَهُمْ خَيْرٌ أَمْ قَوْمُ تُبَّعٍ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ أَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (٣٧) وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ (٣٨) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٣٩)

Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 34-39

34. Sesungguhnya mereka[1] itu pasti akan berkata,

35. "Tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami tidak akan dibangkitkan[2],

36. [3]maka hadirkanlah (kembali) nenek moyang kami jika kamu orang yang benar[4].”

37. [5]Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba'[6], dan orang-orang yang sebelum mereka yang telah Kami binasakan karena mereka adalah orang-orang yang sungguh berdosa[7].

38. [8]Dan tidaklah Kami bermain-main menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.

39. Tidaklah Kami ciptakan keduanya melainkan dengan haq (benar)[9], tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui[10].



Ayat 40-50: Ancaman bagi orang-orang kafir dengan azab pada hari ketika harta, anak dan kedudukan tidak lagi bermanfaat.

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ مِيقَاتُهُمْ أَجْمَعِينَ (٤٠) يَوْمَ لا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئًا وَلا هُمْ يُنْصَرُونَ (٤١) إِلا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٤٢)إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ (٤٣) طَعَامُ الأثِيمِ (٤٤) كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ (٤٥)كَغَلْيِ الْحَمِيمِ (٤٦) خُذُوهُ فَاعْتِلُوهُ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ (٤٧)ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ (٤٨) ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ (٤٩) إِنَّ هَذَا مَا كُنْتُمْ بِهِ تَمْتَرُونَ (٥٠)

Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 40-50

40. Sungguh, hari keputusan[11] (hari Kiamat) adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya[12],

41. (yaitu) pada hari (ketika) seorang teman sama sekali tidak dapat memberi manfaat kepada teman lainnya, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan[13],

42. kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah[14]. Sungguh, Dia Mahaperkasa[15] lagi Maha Penyayang[16].

43. [17]Sungguh pohon zaqqum itu[18],

44. Makanan bagi orang yang banyak dosa.

45. Seperti cairan tembaga[19] yang mendidih di dalam perut,

46. seperti mendidihnya air yang sangat panas.

47. “Peganglah dia[20], kemudian seretlah dia sampai ke tengah-tengah neraka,

48. kemudian tuangkanlah di atas kepalanya azab (dari) air yang sangat panas.

49. “Rasakanlah, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang perkasa lagi mulia[21].

50. Sungguh, inilah azab yang dahulu kamu ragukan[22].


[1] Yaitu kaum musyrik yang mengingkari kebangkitan.

[2] Yakni menurut mereka, tidak ada kehidupan selain di dunia saja, setelah itu tidak ada kebangkitan, surga dan neraka.

[3] Selanjutnya mereka berkata dengan lancang dan berani kepada Tuhan mereka sambil mencoba melemahkan-Nya.

[4] Ini adalah usulan orang-orang yang bodoh lagi menentang. Padahal dimana letak keterkaitan kebenaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan dihadirkan kembali nenek moyang mereka, karena ayat-ayat telah membuktikan kebenaran apa yang Beliau bawa.

[5] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman.

[6] Kaum Tubba' ialah orang-orang Himyar di Yaman dan Tubba' adalah gelar raja-raja mereka.

[7] Yakni mereka (kaum musyrik) saat ini tidaklah lebih baik dari mereka, bahkan sama-sama berdosa. Oleh karena itu, hendaklah mereka menunggu apa yang telah menimpa saudara-saudara mereka dahulu dari kalangan orang-orang yang berdosa.

[8] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang sempurnanya kekuasaan-Nya dan sempurnanya hikmah (kebiaksanaan)-Nya, yaitu Dia tidaklah menciptakan langit dan bumi dengan main-main atau percuma saja tanpa faedah, bahkan Dia menciptakan keduanya dengan hak (kebenaran), mengandung yang hak, dan bahwa Dia menciptakan keduanya adalah agar mereka menyembah-Nya, agar Dia memerintah dan melarang hamba, memberi pahala dan memberi siksa.

[9] Yakni untuk menunjukkan kekuasaan dan keesaan Kami.

[10] Oleh karena itu, mereka tidak memikirkan penciptaan langit dan bumi.

[11] Pada hari itu Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan keputusan kepada hamba-hamba-Nya.

[12] Semuanya akan Allah kumpulkan pada hari itu, Dia menghadirkan mereka dan menghadirkan amal mereka dan pembalasan disesuaikan dengan amal mereka. Ketika itu seorang kerabat atau teman tidak dapat menolong kerabatnya atau temannya.

[13] Yakni dihindarkan dari azab Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[14] Mereka adalah kaum mukmin, dimana sebagian mereka memberi syafaat kepada yang lain dengan izin Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[15] Dalam memberikan hukuman kepada orang-orang kafir.

[16] Kepada orang-orang mukmin.

[17] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan tentang hari Kiamat dan bahwa pada hari itu Dia akan memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya, maka Dia menyebutkan bahwa mereka terbagi menjadi dua golongan; golongan yang menjadi penghuni surga dan golongan yang menjadi penghuni neraka. Adapun golongan penghuni neraka yaitu mereka yang melakukan dosa dengan mengerjakan kekufuran dan kemaksiatan, maka balasannya sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas.

[18] Zaqqum adalah jenis pohon yang tumbuh di neraka, pohon tersebut adalah pohon yang paling jelek dan paling buruk.

[19] Muhl dalam ayat tersebut juga bisa berarti nanah yang berbau busuk, dan akan panas sampai mendidih dalam perut mereka.

[20] Yakni orang yang berdosa itu. Perkataan ini diucapkan kepada malaikat Zabaniyyah.

[21] Ucapan ini merupakan ejekan baginya, dimana dia mengira bahwa tidak ada orang yang paling perkasa dan paling mulia daripadanya. Dia mengira bahwa dirinya adalah orang yang perkasa dan mampu meloloskan diri dari azab Allah, dan bahwa dirinya adalah orang yang mulia yang tidak mungkin ditimpa azab, maka pada hari itu tampak jelas, bahwa dirinya adalah orang yang lemah dan hina.

[22] Yakni sekarang kamu baru meyakininya.

Tafsir Ad Dukhaan Ayat 17-33

Ayat 17-33: Pelajaran yang dapat diambil dari azab yang menimpa Fir’aun dan kaumnya, serta akibat sikapnya yang melampaui batas.

وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ (١٧) أَنْ أَدُّوا إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (١٨) وَأَنْ لا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ إِنِّي آتِيكُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (١٩) وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ (٢٠) وَإِنْ لَمْ تُؤْمِنُوا لِي فَاعْتَزِلُونِ (٢١) فَدَعَا رَبَّهُ أَنَّ هَؤُلاءِ قَوْمٌ مُجْرِمُونَ (٢٢) فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلا إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ (٢٣)وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ (٢٤) كَمْ تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (٢٥) وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ (٢٦) وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ (٢٧)كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ (٢٨) فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالأرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ (٢٩) وَلَقَدْ نَجَّيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنَ الْعَذَابِ الْمُهِينِ (٣٠) مِنْ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ كَانَ عَالِيًا مِنَ الْمُسْرِفِينَ (٣١) وَلَقَدِ اخْتَرْنَاهُمْ عَلَى عِلْمٍ عَلَى الْعَالَمِينَ (٣٢)وَآتَيْنَاهُمْ مِنَ الآيَاتِ مَا فِيهِ بَلاءٌ مُبِينٌ (٣٣)

Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 17-33

17. [1]Dan sungguh, sebelum mereka, Kami telah menguji kaum Fir'aun dan telah datang kepada mereka seorang Rasul yang mulia (Musa)[2],

18. (dengan berkata), "Serahkanlah[3] kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil yang kamu perbudak)[4]. Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dapat kamu percaya[5],

19. dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah[6]. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata[7].

20. [8]Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu, dari ancamanmu untuk merajamku,

21. dan jika kamu tidak beriman kepadaku, maka biarkanlah aku[9] (memimpin Bani Israil).”

22. Kemudian dia (Musa) berdoa kepada Tuhannya, "Sungguh, mereka ini adalah kaum yang berdosa[10] (segerakanlah azab kepada mereka).”

23. (Allah berfirman), "Karena itu berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar,

24. Dan biarkanlah laut itu terbelah[11]. Sesungguhnya mereka bala tentara yang akan ditenggelamkan.”



25. Betapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka tinggalkan,

26. juga kebun-kebun serta tempat-tempat kediaman yang indah,

27. dan kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana,

28. demikianlah, dan Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain (Bani Israil).

29. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka[12], dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu.

30. [13]Dan sungguh, telah Kami selamatkan Bani Israil dari siksaan yang menghinakan[14],

31. dari (siksaan) Fir'aun, sungguh, dia itu orang yang sombong[15], termasuk orang-orang yang melampaui batas[16].

32. Dan sungguh, Kami pilih mereka (Bani Israil) dengan ilmu (Kami)[17] di atas semua bangsa (pada masa itu)[18].

33. Dan Kami telah berikan kepada mereka di antara tanda-tanda (kekuasaan Kami) sesuatu yang di dalamnya terdapat nikmat yang nyata[19].


[1] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan pendustaan orang-orang yang mendustakan Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Dia menyebutkan bahwa mereka mempunyai pendahulu mereka yang sama mendustakan, yaitu kaum Fir’aun. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kisah mereka dengan Nabi Musa ‘alaihis salam dan apa yang Allah timpakan kepada mereka agar orang-orang yang mendustakan itu berhenti dari apa yang mereka pegang selama ini berupa kesyirkkan dan kekufuran.

[2] Pada diri Beliau (Nabi Musa ‘alaihis salam) terdapat kemuliaan dan akhlak yang mulia yang tidak ada pada orang lain.

[3] Yakni lepaskanlah mereka dari siksaanmu, karena mereka adalah keluargaku dan bangsa yang paling mulia di zaman ini. Kamu telah menzalimi dan memperbudak mereka dengan tanpa hak, maka lepaskanlah mereka agar beribadah kepada Tuhan mereka.

[4] Ayat ini juga bisa diartikan, “Lakukanlah apa yang aku seru kepadamu, yaitu beriman wahai hamba-hamba Allah.”

[5] Yakni dapat dipercaya terhadap risalah-Nya kepadaku, aku tidak akan menyembunyikannya meskipun sedikit, aku tidak menambah dan tidak pula mengurangi. Hal ini seharusnya membuat mereka tunduk secara sempurna kepadanya.

[6] Dengan enggan beribadah kepada-Nya serta bersikap sombong terhadap hamba-hamba Allah.

[7] Yaitu mukjizat dan dalil, namun ternyata mereka mendustakan Beliau dan hendak membunuh Beliau dengan mengancam akan merajam Beliau.

[8] Maka Nabi Musa ‘alaihis salam berlindung kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari ancaman itu.

[9] Yakni jika kamu tidak mau beriman kepadaku, maka jangan menggangguku. Tetapi mereka di samping tidak mau beriman malah menambah dengan mengganggunya.

[10] Yakni mereka telah mengerjakan dosa yang mengharuskan untuk disegerakan hukuman. Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa dengan menyebutkan keadaan mereka, dan ini adalah doa bil haal (dengan menyebutkan keadaan), dimana doa ini lebih dalam daripada doa dengan perkataan sebagaimana doa Nabi Musa ‘alaihisa salam ketika lapar, “Ya Rabbi, sesungguhnya aku butuh kepada kebaikan yang Engkau turunkan.” Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Beliau membawa pergi Bani Israil pada malam hari dan memberitahukan, bahwa Fir’aun dan kaumnya akan mengejar mereka.

[11] Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam membawa pergi Bani Israil pada malam hari sebagaimana yang Allah perintahkan, lalu Fir’aun mengejar mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Musa memukul laut. Lalu Musa memukulnya sehingga terbelahlah dua belas jalan, dan ketika itu air laut seperti gunung yang besar, lalu Musa dan kaumnya melintasinya. Setelah mereka melintasinya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Musa agar membiarkan laut seperti itu agar Fir’aun dan tentaranya melintasinya karena mereka akan ditenggelamkan. Ketika kaum Fir’aun telah masuk ke dalamnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan laut agar menyatu sehingga mereka (Fir’aun dan kaumnya) tenggelam semuanya, mereka mati dalam keadaan meninggalkan kesenangan yang banyak dari kehidupan dunia (lihat ayat 26-28 surah ini) dan Allah mewariskannya kepada Bani Israil yang sebelumnya diperbudak oleh mereka.

[12] Bahkan merasa senang dengan kematian mereka, karena mereka meninggalkan sesuatu yang buruk yang merusak bumi. Berbeda dengan orang-orang mukmin, maka bumi yang menjadi tempat shalat mereka akan menangisi mereka, demikian pula langit yang menjadi tempat naiknya amal mereka akan menangis.

[13] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan nikmat kepada Bani Israil.

[14] Yaitu pembunuhan anak laki-laki dan menjadikan kaum wanita sebagai pelayan.

[15] Dia sombong di muka bumi dengan tanpa hak.

[16] Yakni yang melanggar batasan Allah dan berani mengerjakan larangan-Nya.

[17] Yakni dengan pengetahuan Kami terhadap keadaan mereka dan layaknya mereka mendapatkan keutamaan itu.

[18] Allah melebihkan mereka pada masa itu dan memberi mereka nikmat yang tidak diberikan-Nya kepada selain mereka.

[19] Yang dimaksud tanda-tanda kekuasaan Allah ialah seperti naungan awan, turunnya manna dan salwa, terpancarnya air dari batu, terbelahnya laut merah. Itu semua merupakan hujjah atas mereka yang membuktikan kebenaran apa yang dibawa Nabi mereka Musa ‘alaihis salam.

Tafsir Ad Dukhaan Ayat 1-16

Surah Ad Dukhaan (Asap)

Surah ke-44. 59 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-8: Turunnya Al Qur’an pada malam yang diberkahi, yaitu malam Lailatul Qadr.



حم (١) وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ (٢) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (٣) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (٤) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ (٥) رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٦) رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ (٧) لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ (٨)

Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 1-8

1. Haa miim.

2. [1]Demi kitab (Al Quran) yang menjelaskan,

3. sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi.[2] Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.

4. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan[3] yang penuh hikmah[4],

5. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami[5]. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul[6],

6. Sebagai rahmat dari Tuhanmu[7]. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui[8],

7. Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya[9]; jika kamu orang-orang yang meyakini[10].

8. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Dia yang menghidupkan dan yang mematikan[11]. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu dahulu.



Ayat 9-16: Sikap kaum musyrik terhadap Al Qur’anul Karim, keraguan mereka terhadapnya padahal jelas bukti-bukti kebenarannya dan ancaman azab untuk mereka.

بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ يَلْعَبُونَ (٩) فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ (١٠) يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (١١) رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ (١٢) أَنَّى لَهُمُ الذِّكْرَى وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ (١٣) ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ (١٤) إِنَّا كَاشِفُوا الْعَذَابِ قَلِيلا إِنَّكُمْ عَائِدُونَ (١٥) يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ (١٦)

Terjemah Surat Ad Dukhaan Ayat 9-16

9. [12]Tetapi mereka dalam keraguan[13], mereka bermain-main[14].

10. [15]Maka tunggulah[16] pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas[17],

11. yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.

12. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sungguh, kami akan beriman[18].”

13. Bagaimana mereka dapat menerima peringatan, padahal (sebelumnya pun) seorang rasul telah datang memberi penjelasan kepada mereka,

14. kemudian mereka berpaling darinya dan berkata, "Dia itu orang yang menerima ajaran (dari orang lain) dan orang gila[19].”

15. Sungguh, (kalau) Kami melenyapkan azab itu sedikit saja, tentu kamu akan kembali (ingkar)[20].

16. (Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan keras[21]. Kami pasti memberi balasan.


[1] Ini adalah sumpah Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan Al Qur’an untuk Al Qur’an. Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan Al Qur’an yang menjelaskan, yakni menjelaskan semua yang butuh dijelaskan.

[2] Malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan, yaitu malam Lailatul qadr. Lailatuq dar adalah malam yang diberkahi, karena pada malam itu banyak kebaikan dan berkah, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan ucapan yang paling mulia di malam yang paling mulia kepada manusia yang paling mulia dengan bahasa orang-orang Arab yang mulia untuk memperingatkan kaum yang diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan, agar mereka mendapat penerangan dengan sinarnya dan dapat mengambil petunjuknya, serta berjalan di belakangnya sehingga mereka memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.”

[3] Yang dimaksud dengan segala urusan di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti hidup, mati, rezeki, keberuntungan, kerugian dan sebagainya.

[4] Ibnu Katsir berkata, “Yakni pada malam Lailatul qadr dijelaskan dari Lauh Mahfuzh kepada para malaikat yang mencatat, urusan yang terjadi setahun, dan apa yang terjadi pada tahun itu berupa ajal, rezeki, dan apa yang terjadi sampai akhir tahun.”

Syaikh As Sa’diy menjelaskan, “Yakni dipisahkan dan dicatat semua perkara, baik yang qadari (terhadap alam semesta) dan yang syar’i (terhadap agama) yang Allah putuskan. Pemisahan dan pencatatan yang terjadi pada malam Lailatul qadr ini adalah salah satu catatan yang ditulis dan dipisahkan, sehingga bersesuaian antara catatan pertama yang Allah catat dengannya taqdir semua makhluk, ajalnya, rezeki, amal dan keadaan mereka, kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala mewakilkan kepada para malaikat untuk mencatat apa yang akan terjadi pada seorang hamba, yaitu ketika dia masih dalam perut ibunya. Selanjutnya Dia menyerahkan kepada mereka (para malaikat) setelah manusia terlahir ke dunia, Allah menyerahkan kepada para malaikat yang mulia lagi mencatat, mereka menulisnya dan menjaga amal manusia. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menaqdirkan pada malam Lailatul qadr apa yang terjadi dalam setahun. Semua ini termasuk sempurnanya pengetahuan-Nya, sempurnanya kebijaksanaan-Nya, teliti menjaganya dan perhatian-Nya kepada makhluk-Nya.”

[5] Yakni perkara yang penuh hikmah ini muncul dari sisi Kami.

[6] Yakni untuk menyampaikan perintah-perintah-Nya.

[7] Maksudnya, pengutusan rasul dan penurunan kitab adalah rahmat dari Rabbul ‘alamin. Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah memberikan rahmat yang lebih besar daripada memberikan hidayah kepada mereka dengan menurunkan kitab dan mengutus rasul, dimana setiap kebaikan yang mereka peroleh di dunia dan akhirat adalah karena hal itu dan sebabnya.

[8] Dia mendengar semua suara dan mengetahui semua perkara yang lahir maupun yang batin. Dia mengetahui butuhnya hamba-hamba-Nya kepada para rasul dan kitab, maka Dia merahmati mereka dengan menurunkan kitab dan mengutus para rasul serta menganugerahkan nikmat kepada mereka.

[9] Dia yang menciptakan semua itu, yang mengaturnya dan yang bertindak padanya sesuai yang Dia kehendaki.

[10] Jika kamu meyakini bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala Tuhan pemelihara langit dan bumi, maka yakinilah bahwa Dia yang berhak disembah saja dan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah utusan-Nya.

[11] Dia yang sendiri menghidupkan dan mematikan, dan akan menghimpun kamu setelah kamu mati, lalu memberi balasan kepada amalmu, jika baik maka dibalas dengan kebaikan dan jika buruk, maka dibalas dengan keburukan.

[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyatakan rububiyyah dan uluhiyyah-Nya (ketuhanan dan keberhakan-Nya disembah) dimana hal ini mengharuskan ada pengetahuan yang sempurna (yakin) dan menolak keraguan, maka Dia memberitahukan, bahwa orang-orang kafir setelah dijelaskan hal ini, ternyata masih bergelimang di atas keraguan dan syubhat serta lalai dari tujuan mereka diciptakan, demikian juga mereka menyibukkan dengan permainan yang batil yang tidak menghasilkan bagi mereka selain bahaya.

[13] Terhadap tauhid dan kebangkitan.

[14] Yakni mengolok-olok Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau berdoa kepada Allah agar menimpakan kepada mereka kemarau panjang selama tujuh tahun sebagaimana yang menimpa bangsa Mesir di zaman Nabi Yusuf ‘alaihis salam.

[15] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Masruq, ia berkata: Abdullah (Ibnu Mas’ud) berkata, “Sesungguhnya hal ini adalah karena orang-orang Quraisy ketika mereka mendurhakai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau mendoakan mereka agar ditimpakan kemarau panjang seperti kemarau (pada zaman) Nabi Yusuf, sehingga mereka merasakan kelaparan dan kesusahan sampai mereka memakan tulang, lalu ada seorang yang melihat ke langit dan ia lihat antara dirinya dengan langit ada seperti asap, hal itu karena penderitaan yang menimpanya, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat, “Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas,-- yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (Ad Dukhan: 10-11) Maka orang itu mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu dikatakan kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan kepada Allah untu suku Mudhar, karena mereka telah binasa.” Beliau menjawab, “(Apa) untuk Mudhar? Sesungguhnya engkau benar-benar lantang.” Maka Beliau meminta hujan, lalu mereka diberi hujan, maka turunlah ayat, “Tentu kamu akan kembali (ingkar).” (Ad Dukhan: 15) Ketika mereka memperoleh kesenangan, maka mereka kembali kepada keadaan mereka ketika senang sebelumnya, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat, “(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan keras. Kami pasti memberi balasan.” (Terj. Ad Dukhaan: 16) Ia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Yaitu pada perang Badar.”

Syaikh Muqbil berkata, “Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Imam Muslim juz 17 hal. 141 dan di sana disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Abdullah dan berkata, “Saya tinggalkan seseorang di masjid yang menafsirkan Al Qur’an dengan pendapatnya, ia menafsirkan ayat, “Pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas,” bahwa pada hari Kiamat akan datang kepada manusia dukhaan (asap) lalu mengena kepada nafas-nafas mereka sehingga mengenai mereka seperti pilek, lalu Abdullah berkata, “Barang siapa yang mengetahui ilmu, maka katakanlah dan barang siapa yang tidak tahu, maka katakanlah, “Allahu a’lam (Allah lebih tahu).” Karena termasuk kepandaian seseorang adalah mengatakan kepada yang tidak ia ketahui, “Allahu a’lam.” Sesungguhnya hal ini adalah karena…dst.” Lalu disebutkanlah hadits itu. Hadits itu ada di Bukhari juga, dan diriwayatkan oleh Ahmad juz 1 hal. 381.”

[16] Yakni azab.

[17] Para mufassir berbeda pendapat tentang maksud dukhan (asap/kabut) di ayat ini. Ada yang berpendapat, bahwa dukhan tersebut adalah asap yang meliputi manusia ketika neraka mendekat kepada orang-orang yang berdosa pada hari Kiamat, dan bahwa Dia mengancam mereka dengan azab pada hari Kiamat serta menyuruh Nabi-Nya menunggu hari itu. Hal ini diperkuat oleh jalan yang dilalui Al Qur’an dalam memberikan ancaman kepada orang-orang kafir dan menakut-nakuti mereka dengan hari itu dan azabnya, sekaligus menghibur rasul dan kaum mukmin agar menunggu azab yang menimpa orang yang mengganggu mereka. Hal ini juga diperkuat dengan firman-Nya, “Bagaimana mereka dapat menerima peringatan, padahal (sebelumnya pun) seorang rasul telah datang memberi penjelasan kepada mereka.” (Terj. Ad Dukhaan: 13) Hal ini diucapkan pada hari Kiamat kepada orang-orang kafir ketika mereka meminta kembali ke dunia lalu dikatakan bahwa waktunya telah hilang.

Adapula yang berpendapat, bahwa maksud dukhan (kabut/asap) yang nyata ialah bencana kelaparan yang menimpa kaum Quraisy karena mereka menentang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak mau beriman dan sombong kepada kebenaran sehingga Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa kepada Allah agar menimpakan kepada mereka kemarau yang menimpa bangsa Mesir pada zaman Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menimpakan kepada mereka kelaparan yang dahsyat sehingga mereka memakan bangkai dan tulang serta melihat seperti ada kabut di antara langit dan bumi karena lapar yang dahsyat. Mereka tetap seperti ini sampai meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar dikasihani serta meminta kepada Beliau agar Beliau berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala agar Dia menghilangkan azab itu dari mereka, lalu Beliau berdoa dan Allah menghilangkan azab itu. Sehingga firman-Nya, “Sungguh, (kalau) Kami melenyapkan azab itu sedikit saja, tentu akan kembali (ingkar).” Merupakan pemberitahuan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menghilangkannya dan memberitahukan bahwa mereka akan kembali ingkar, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menghukum mereka dengan azab yang lebih besar lagi sebagaimana pada lanjutan ayatnya (ayat 16), yaitu dengan terjadinya perang Badar.

Ada pula yang berpendapat, bahwa maksud dukhan adalah salah satu tanda Kiamat dan bahwa pada akhir zaman akan ada dukhan (asap/kabut) yang mengena kepada nafas manusia dan menimpa orang-orang mukmin di antara mereka seperti asap. Wallahu a’lam.

Syaikh As Sa’diy berkata, “Jika beberapa ayat ini turun menurut dua makna (kemungkinan itu), maka engkau tidak temukan dalam lafaz yang menolaknya, bahkan engkau menemukannya sama persis, dan inilah yang tampak dan rajih menurut saya, wallahu a’lam.”

[18] Kepada Nabi-Mu.

[19] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dituduh menerima pelajaran dari seorang yang bukan bangsa Arab bernama Addas yang beragama Kristen.

[20] Ternyata mereka kembali ingkar.

[21] Hantaman yang keras itu terjadi di peperangan Badar di mana orang-orang musyrik dipukul dengan sehebat-hebatnya sehingga menderita kekalahan dan banyak di antara pemimpin-pemimpin mereka yang tewas.

Kamis, 01 Mei 2014

Tafsir Az Zukhruf Ayat 81-89

Ayat 81-89: Bantahan Al Qur’an tentang kepercayaan Tuhan mempunyai anak, bersihnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari sekutu dan anak dan perintah memperhatikan kerajaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ (٨١) سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ (٨٢) فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّى يُلاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ (٨٣) وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الأرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ (٨٤)وَتَبَارَكَ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَعِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٨٥) وَلا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (٨٦) وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (٨٧) وَقِيلِهِ يَا رَبِّ إِنَّ هَؤُلاءِ قَوْمٌ لا يُؤْمِنُونَ (٨٨) فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (٨٩)

Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 81-89

81. Katakanlah (Muhammad)[1], “Jika benar Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, maka akulah orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)[2].

82. Mahasuci Tuhan pemilik langit dan bumi, Tuhan pemilik 'Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu[3].

83. Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main[4] sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka[5].

84. [6]Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi, dan Dialah Yang Mahabijaksana[7] lagi Maha Mengetahui[8].

85. Dan Mahatinggi Allah[9] yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah ilmu tentang hari Kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.



86. [10]Dan orang-orang yang menyeru kepada selain Allah tidak mendapat syafa'at (pertolongan di akhirat)[11]; kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini[12].

87. Dan jika engkau bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, "Allah; jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)[13],

88. Dan (Allah mengetahui) ucapannya (Muhammad)[14], "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.”

89. Maka berpalinglah dari mereka[15] dan katakanlah, "Salam (selamat tinggal)." Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk)[16].


[1] Kepada orang-orang yang mengatakan Allah punya anak, padahal Dia Maha Esa, semua makhluk bergantung kepada-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.

[2] Yakni akan tetapi kenyataannya Dia tidak punya anak, sehingga aku tidak menyembahnya. Oleh karena itulah, aku adalah orang yang pertama mengingkarinya dan menafikannya. Ayat ini merupakan hujjah yang besar yang menerangkan kebatilan perkataan mereka, dan bahwa tidak ada satu pun kebaikan, kecuali para rasul adalah orang yang pertama melakukannya, dan tidak ada satu pun keburukan kecuali para rasul adalah orang yang pertama meninggalkannya, mengingkarinya dan menjauhinya. Bisa juga maksud ayat ini adalah, bahwa jika Allah Yang Maha Pengasih punya anak, maka aku sebagai orang yang pertama beribadah kepada Allah, sehingga termasuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah menetapkan apa yang ditetapkan-Nya dan meniadakan apa yang ditiadakan-Nya, dan hal ini termasuk ibadah pada perkataan dan keyakinan. Dengan demikian, jika hal itu benar tentu aku adalah orang yang pertama menetapkannya, sehingga dari sini diketahui kebatilan perkataan orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa Allah punya anak baik secara akal maupun naql (nukilan).

[3] Yaitu penisbatan anak, istri, sekutu, penolong kepada-Nya Subhaanahu wa Ta'aala yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.

[4] Di dunia. Oleh karena itu, ilmu mereka merugikan mereka dan tidak bermanfaat; mereka tenggelam dalam mengkaji ilmu-ilmu untuk menolak yang hak dan apa yang dibawa para rasul. Perbuatan mereka adalah main-main dan kebodohan, tidak membersihkan jiwa dan membuahkan pengetahuan. Oleh karena itu, pada lanjutan ayatnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengancam mereka dengan hari Kiamat, “Sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.”

[5] Yaitu hari Kiamat, dimana mereka akan mengetahui apa yang mereka dapatkan, yaitu kesengsaraan yang kekal dan azab yang tetap.

[6] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa Dia yang berhak disembah saja baik di langit maupun di bumi. Oleh karena itu, penghuni langit semuanya dan penduduk bumi yang beriman mereka beribadah kepada-Nya, mengagungkan-Nya, dan tunduk kepada kebesaran-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (Terj. Ar Ra’d: 15)

Ayat di atas sama seperti firman-Nya, “Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi.” (Terj. Al An’aam: 3) Yakni Dia yang disembah dan dicintai baik di langit maupun di bumi. Adapun Dzat-Nya, maka berada di atas ‘Arsyi-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya, sendiri dengan keagungan-Nya dan mulia dengan kesempurnaan-Nya.

[7] Dia merapihkan ciptaan-Nya dan merapihkan syariat-Nya. Oleh karena itu, Dia tidaklah menciptakan sesuatu kecuali karena hikmah (kebijaksanaan) dan tidak mensyariatkan sesuatu kecuali karena hikmah, dan ketetapan-Nya baik yang qadari (terhadap alam semesta) maupun yang syar’i (dalam agama-Nya) juga mengandung hikmah.

[8] Terhadap hal yang bermaslahat bagi mereka. Dia mengetahui segala sesuatu, yang tampak maupun yang tersembunyi, dan tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah Subhaanahu wa Ta'aala seberat dzarrah (debu) pun baik di langit maupun di bumi, demikian pula yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar.

[9] Tabaaraka artinya Mahatinggi, Maha Agung, Mahabanyak kebaikan-Nya, luas sifat-Nya dan Maha besar kerajaan-Nya. Oleh karena itu, Dia menyebutkan luasnya kerajaan-Nya meliputi langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya, demikian pula luas ilmu-Nya dan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, sehingga Dia sendiri saja dalam mengetahui banyak hal gaib yang tidak ada satu pun makhluk mengetahuinya, baik nabi yang diutus maupun malaikat yang didekatkan. Dia menerangkan bahwa di sisi-Nyalah pengetahuan tentang kapan datang hari Kiamat.

Di antara sempurnanya kerajaan-Nya dan luasnya adalah bahwa Dia yang memiliki dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Dia berfirman, “dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” Yaitu di akhirat, lalu Dia akan memberikan keputusan di antara kamu dengan keputusan-Nya yang adil.

[10] Di antara sempurnanya kerajaan-Nya juga adalah tidak ada seorang pun yang berkuasa terhadap urusan-Nya, dan tidak ada yang berani memberi syafaat kecuali dengan izin-Nya.

[11] Syaikh As Sa’diy menerangkan, bahwa semua yang diibadahi selain Allah, baik para nabi, malaikat, maupun selain mereka tidak memiliki syafaat, dan mereka tidaklah memberi syafaat kecuali dengan izin Allah, dan lagi mereka pun tidak memberi syafaat kecuali kepada orang yang Allah ridhai. Oleh karena itulah pada lanjutan ayatnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini.” Dengan demikian, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan Nabi yang lain ‘alaihimush shalaatu was salam dapat memberi syafa'at setelah diberi izin oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan kepada orang yang diridhai-Nya.

[12] Yakni mengucapkan dengan lisannya dan mengakui dengan hatinya serta mengetahui (meyakini) apa yang diikrarkannya itu. Demikian pula disyaratkan pengakuan ini terhadap yang hak, yaitu bersaksi bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang berhak disembah saja (Laailaahaillallah), mengakui kenabian dan kerasulan para rasul-Nya dan benarnya apa yang mereka bawa, baik yang terkait dengan dasar agama maupun cabang, hakikat maupun syariat. Mereka inilah oran yang bermanfaat bagi mereka syafaat orang-orang yang memberi syafaat dan mereka inilah orang-orang yang selamat dari azab Allah serta mendapatkan pahala-Nya.

[13] Pengakuan mereka bahwa Allah Pencipta mereka mengharuskan mereka untuk beribadah hanya kepada-Nya. Hal ini merupakan dalil terbesar yang menunjukkan batilnya perbuatan syrik.

[14] Yaitu keluhannya kepada Tuhannya karena pendustaan kaumnya dan rasa sedihnya Beliau terhadapnya karena mereka tidak mau beriman. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahui keadaan Beliau, mampu segera menyiksa mereka, akan tetapi Dia Maha halim (santun), Dia menundanya agar mereka bertobat dan kembali. Oleh karena itulah dalam ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka berpalinglah dari mereka dan katakanlah, "Salam (selamat tinggal)."

[15] Yakni maafkanlah gangguan yang datang kepadamu dari mereka baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, dan jangan kamu sikapi selain dengan sikap yang dilakukan oleh orang-orang yang berakal dan berpandangan tajam terhadap orang-orang yang bodoh, yaitu sikap salam (selamat tinggal). Maka Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan perintah Tuhannya, dan menyikapi gangguan kaumnya dengan membiarkan dan memaafkan serta tidak membalas selain dengan berbuat ihsan kepada mereka serta ucapan yang baik. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Beliau atas kesabarannya.

[16] Yakni akibat perbuatan mereka.

Tafsir Az Zukhruf Ayat 67-80

Ayat 67-73: Balasan bagi orang-orang yang bertakwa dan kenikmatan di akhirat yang akan mereka peroleh, dan pentingnya memilih teman yang saleh lagi bertakwa.

الأخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ (٦٧) يَا عِبَادِ لا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (٦٨) الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ (٦٩) ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ (٧٠) يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٧١) وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٧٢)لَكُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ كَثِيرَةٌ مِنْهَا تَأْكُلُونَ (٧٣)

Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 67-73

67. Teman-teman karib[1] pada hari itu saling bermusuhan[2] satu sama lain kecuali mereka yang bertakwa[3].

68. [4]"Wahai hamba-hamba-Ku! Tidak ada ketakutan bagimu pada hari itu dan tidak pula kamu bersedih hati[5].

69. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami[6] dan mereka berserah diri[7].

70. Masuklah kamu ke dalam surga[8], kamu dan pasanganmu[9] akan digembirakan[10].”

71. Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas[11], dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata[12]. Dan kamu kekal di dalamnya[13].

72. Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan[14].

73. Di dalam surga itu terdapat banyak buah-buahan untukmu yang sebagiannya kamu makan[15].



Ayat 74-80: Penjelasan tentang azab yang akan menimpa orang-orang yang berdosa.

إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي عَذَابِ جَهَنَّمَ خَالِدُونَ (٧٤) لا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ وَهُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ (٧٥) وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ (٧٦)وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ (٧٧) لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ (٧٨) أَمْ أَبْرَمُوا أَمْرًا فَإِنَّا مُبْرِمُونَ (٧٩) أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ (٨٠)

Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 74-80

74. [16]Sungguh, orang-orang yang berdosa itu[17] kekal di dalam azab neraka Jahannam[18].

75. Tidak diringankan (azab) itu dari mereka[19], dan mereka berputus asa di dalamnya[20].

76. Dan tidaklah Kami menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.

77. Dan mereka berseru[21], "Wahai (malaikat) Malik[22]! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja[23].” Dia menjawab[24], "Sungguh, kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).”

78. [25]Sungguh, Kami telah datang membawa kebenaran kepada kamu[26], tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu[27].

79. Ataukah mereka telah merencanakan suatu tipu daya (jahat), maka sesungguhnya Kami telah berencana (mengatasi tipu daya mereka)[28].

80. Ataukah mereka mengira[29], bahwa Kami tidak mendengar rahasia[30] dan bisikan-bisikan mereka?[31] [32]Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) selalu mencatat[33] di sisi mereka.


[1] Yang bersahabat di atas kekafiran, mendustakan dan maksiat kepada Allah sewaktu di dunia.

[2] Hal itu, karena persahabatan mereka bukan karena Allah sehingga pada hari Kiamat berubah menjadi permusuhan.

[3] Yakni mereka yang menjauhi diri dari syrik dan maksiat, maka persahabatan mereka akan kekal dan terus-menerus.

[4] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan pahala orang-orang yang bertakwa, dan bahwa Allah akan memanggil mereka pada hari Kiamat dengan sesuatu yang membuat senang hati mereka dan ketika itu hilang segala musibah dan penderitaan.

[5] Yakni tidak ada kekhawatiran yang akan menimpamu di masa mendatang dan tidak pula kamu bersedih hati terhadap hal yang telah berlalu bagimu. Jika sesuatu yang tidak diinginkan sudah hilang dari berbagai sisi, maka yang ada adalah hal yang diinginkan dan diharapkan.

[6] Sifat mereka beriman kepada ayat-ayat Allah, hal ini tentu mencakup membenarkannya, dan melakukan sesuatu yang dengannya pembenaran menjadi sempurna, yaitu mengetahui maknanya dan mengamalkan konsekwensinya.

[7] Kepada Allah dan tunduk kepada-Nya dalam semua keadaan mereka. Oleh karena itu, mereka menggabung antara mengerjakan amalan zhahir (berserah diri dan tunduk) maupun batin (beriman).

[8] Yang merupakan tempat menetap.

[9] Yang seperti amalmu; baik istri, anak, kawan, maupun lainnya.

[10] Yakni akan diberi nikmat dan akan dimuliakan, dan karunia Tuhanmu akan datang kepadamu baik berupa kebaikan, kesenangan maupun kenikmatan yang tidak dapat diuraikan oleh lisan.

[11] Pelayan mereka yang terdiri dari anak muda yang tetap muda mengedarkan makanan dan minuman kepada mereka dengan piring dan gelas yang paling baik, yaitu piring dan gelas emas.

[12] Semua yang diinginkan oleh hati, seperti makanan, minuman, menggauli istri, dan yang sedap dipandang mata seperti pemandangan yang indah, pohon-pohon yang lebat, kesenangan yang mengagumkan ada bagi mereka dengan keadaan yang paling sempurna dan paling utama.

[13] Inilah pelengkap kenikmatan surga, yaitu kekal selamanya di sana, dimana di dalamnya mengandung tetapnya nikmat itu dan bertambah serta tidak pernah putus.

[14] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mewariskannya kepada kamu karena amal yang telah kamu kerjakan, dan menjadikan surga karena karunia-Nya sebagai balasan terhadap amalmu serta menyimpan di dalamnya dari rahmat-Nya apa yang Dia simpan.

[15] Yaitu buah yang kamu pilih di antara sekian buah yang enak itu.

[16] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kenikmatan di surga, maka Dia melanjutnya dengan menyebutkan azab di neraka Jahanam.

[17] Karena kekafiran dan pendustaan mereka.

[18] Azab meliputi mereka dari berbagai sisi.

[19] Yakni tidak dikurangi apalagi dihilangkan.

[20] Mereka berputus asa dari semua kebaikan dan tidak mengharapkan lagi jalan keluar. Hal itu adalah karena mereka menyeru Tuhan mereka dengan mengatakan, “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim."--Allah berfirman, "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (Terj. Al Mu’minuun: 107-108) Azab yang pedih ini disebabkan perbuatan mereka dan karena mereka menzalimi diri mereka sendiri, dan Allah tidaklah menzalimi mereka; Dia tidak menghukum mereka tanpa dosa sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya.

[21] Ketika berada dalam neraka dengan harapan mereka dapat beristirahat.

[22] Malik adalah Malaikat penjaga neraka.

[23] Yakni agar kami dapat beristirahat, karena kami dalam kesedihan yang sangat dan azab yang keras, kami tidak sanggup bersabar terhadapnya.

[24] Dengan jawaban yang tidak sesuai dengan yang mereka minta dan membuat mereka bertambah sedih.

[25] Selanjutnya mereka dicela lagi.

[26] Melalui lisan para rasul.

[27] Oleh karena itu kamu mendapatkan kesengsaraan yang tidak ada lagi kebahagiaan setelahnya.

[28] Maksudnya, kaum musyrikin Mekah bukan saja benci kepada kebenaran, bahkan mereka juga telah merencanakan hendak membunuh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi rencana itu gagal, karena Allah juga mempunyai rencana untuk menyelamatkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Bisa juga maksudnya, mereka (orang-orang kafir) juga telah membuat rencana jahat terhadap kebenaran dan orang-orangnya agar mereka dapat membatalkan yang hak, seperti dengan menghias kebatilan, namun Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah berencana pula untuk mengatasinya dengan menetapkan sebab dan dalil untuk mengokohkan yang hak dan membatalkan yang batil sebagaimana firman-Nya, “Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap...dst.” (Terj. Al Anbiyaa’: 18)

[29] Dengan kebodohan dan kezaliman mereka.

[30] Yang disembunyikan dalam hati mereka.

[31] Sehingga mereka berani berbuat maksiat dan mengira bahwa maksiat itu tidak ada akibatnya serta tidak diberikan balasan terhadap hal yang tersembunyi darinya.

[32] Allah Subhaanahu wa Ta'aala membantah sangkaan mereka itu.

[33] Mereka mencatat apa yang mereka kerjakan dan menjaganya untuk mereka sampai tiba hari Kiamat, lalu mereka mendapatkan amal mereka ada di hadapan, dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak pernah menzalimi seorang pun.

Tafsir Az Zukhruf Ayat 57-66

Ayat 57-66: Ajakan Nabi Isa ‘alaihis salam kepada kaumnya agar beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, batilnya sangkaan golongan-golongan sesat terhadap Nabi Isa ‘alaihis salam, dan ancaman bagi orang-orang kafir dengan azab pada hari Kiamat.

وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ (٥٧) وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ (٥٨) إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ (٥٩)وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلائِكَةً فِي الأرْضِ يَخْلُفُونَ (٦٠) وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (٦١) وَلا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (٦٢) وَلَمَّا جَاءَ عِيسَى بِالْبَيِّنَاتِ قَالَ قَدْ جِئْتُكُمْ بِالْحِكْمَةِ وَلأبَيِّنَ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (٦٣) إِنَّ اللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (٦٤) فَاخْتَلَفَ الأحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ عَذَابِ يَوْمٍ أَلِيمٍ (٦٥) هَلْ يَنْظُرُونَ إِلا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٦٦)

Tafsir Surat Az Zukhruf Ayat 57-66

57. [1]Dan ketika putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (suku Quraisy) bersorak karenanya.

58. Dan mereka berkata, "Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?" Mereka tidak memberikan (perumpamaan itu) kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja; sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar[2].

59. Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat (kenabian) kepadanya, dan Kami jadikan dia[3] sebagai tanda contoh bagi Bani lsrail[4].

60. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun[5].

61. Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat[6]. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (Kiamat) itu[7] dan ikutilah aku[8]. Inilah jalan yang lurus[9].

62. Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan[10]; sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu[11].



63. Dan ketika Isa datang membawa keterangan[12], dia berkata[13], "Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa hikmah[14], dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu perselisihkan[15]; maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku[16].

64. Sungguh, Allah, Dia Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus[17].”

65. [18]Tetapi golongan-golongan (yang ada) saling berselisih[19] di antara mereka; maka celakalah[20] orang-orang yang zalim[21] karena azab pada hari yang pedih (Kiamat).

66. Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari Kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya[22].


[1] Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Maula bin ‘Aqil ia berkata: Ibnu Abbas berkata, “Sungguh aku mengetahui sebuah ayat dalam Al Qur’an yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun. Aku tidak mengetahui, apakah orang-orang sudah mengetahuinya sehingga tidak lagi bertanya atau mereka tidak mengerti sehingga (perlu) bertanya?” Lalu ia (Ibnu Abbas) mulai berbicara dengan kami. Ketika ia (Ibnu Abbas) bangun (dan pergi), maka kami saling cela-mencela karena tidak bertanya kepadanya, maka aku berkata, “Saya siap untuk bertanya, jika ia datang besok. Ketika ia datang, aku berkata, “Wahai Ibnu Abbas, kemarin engkau menyebutkan tentang sebuah ayat yang belum ditanyakan oleh seorang pun; engkau tidak mengetahui apakah orang-orang sudah mengetahuinya sehingga tidak lagi bertanya atau mereka tidak mengerti? Lalu aku melanjutkan kata-kataku, “Beritahukanlah kepadaku tentang ayat itu dan tentang beberapa ayat yang telah engkau bacakan.” Ia (Ibnu Abbas) menjawab, “Ya.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata kepada orang-orang Quraisy, “Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya tidak ada satu pun yang disembah selain Allah ada kebaikannya.” Orang-orang Quraisy mengetahui, bahwa orang-orang Nasrani menyembah Isa putra Maryam dan mengetahui apa yang dikatakan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, “Wahai Muhammad! Bukankah engkau menyangka bahwa Isa seorang nabi dan salah satu hamba di antara hamba-hamba Allah yang saleh. Jika engkau benar, maka sesungguhnya sembahan-sembahan mereka sama seperti yang engkau katakan.” Maka Allah menurunkan ayat, “Dan ketika putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (suku Quraisy) bersorak karenanya.” Aku bertanya, “Apa maksud bersorak?” Ia (Ibnu Abbas) menjawab, “Berteriak dengan gaduh.” (Apa maksud), “Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat.” (Az Zukhruf: 61) Ibnu Abbas menjawab, “Yaitu keluarnya Isa putra Maryam ‘alaihis salam sebelum hari Kiamat.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Thahawi dalam Musykilul Aatsar juz 1 hal. 431. Hadits ini menurut Haitsami dalam Majma’uz Zawaa’id juz 7 hal. 104, diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani yang sama seperti itu (hanyasaja di sana disebutkan lafaznya, “Fa in kunta shaadiqan fa innahaa li aalihatihim”) dan di dalam sanadnya terdapat ‘Ashim bin Bahdalah yang ditsiqahkan oleh Ahmad dan yang lain, ia buruk hapalannya, sedangkan para perawi selebihnya adalah para perawi hadits shahih. As Suyuthiy dalam Lubaabun Nuqul berkata, “Sesungguhnya sanadnya shahih,” Syaikh Muqbill mengatakan, bahwa yang ditetapkan oleh Adz Dzahabi dalam Al Mizan adalah bahwa hadits ‘Ashim itu hasan.”).

[2] Ayat 57 dan 58 di atas menceritakan kembali kejadian ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan di hadapan orang-orang Quraisy surah Al Anbiya ayat 98 yang artinya, “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahannam.” Maka seorang Quraisy bernama Abdullah bin Az Zab'ari menanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang keadaan Isa yang disembah orang Nasrani apakah beliau juga menjadi bahan bakar neraka Jahannam seperti halnya sembahan-sembahan mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terdiam dan mereka pun mentertawakannya; lalu mereka menanyakan lagi mengenai mana yang lebih baik antara sembahan-sembahan mereka dengan Isa ‘alaihis salam? Pertanyaan-pertanyan mereka ini hanyalah mencari perbantahan saja, bukan mencari kebenaran. Jalan pikiran mereka itu adalah kesalahan yang besar. Nabi Isa ‘alaihis salam yang disembah oleh orang-orang Nasrani sesungguhnya tidak rela dijadikan sesembahan.

Di samping itu, penyamaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala antara larangan menyembah berhala dan larangan menyembah Nabi Isa ‘alaihi salam adalah karena ibadah adalah hak Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja, tidak dimiliki oleh seorang pun dari makhluk, baik malaikat yang didekatkan, para nabi yang diutus maupun lainnya, dimanakah letak syubhat ketika pelarangan diratakan baik menyembah patung maupun menyembah Isa ‘alaihis salam? Tidak ada bukan? Dan lagi kelebihan Nabi Isa ‘alaihis salam dan keadaannya yang dekat dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah menunjukkan dibedakannya Beliau dalam masalah ini, karena Beliau sebagaimana diterangkan dalam lanjutan ayat adalah seorang hamba yang Allah berikan nikmat kepadanya dengan kenabian, hikmah, ilmu dan amal.

Adapun firman Allah Ta’ala di surah Al Anbiya: 98, “Innakum wa maa ta’buduuna minduunillahi hashabu Jahannam” (artinya: Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahannam.) maka dapat dikaji sebagai berikut:

Pertama, firman-Nya tersebut menggunakan kata “maa” (apa) yang biasa digunakan untuk sesuatu yang tidak berakal, sehingga tidak termasuk ke dalamnya Nabi Isa ‘alaihis salam.

Kedua, ayat ini tertuju kepada orang-orang musyrik yang tinggal di Mekah dan sekitarnya, dimana mereka menyembah patung dan berhala dan tidak menyembah Al Masih.

Ketiga, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala setelah ayat tersebut berfirman, “Bahwa orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka,” (Terj. Al Anbiyaa’: 101) Tidak diragukan lagi bahwa Isa dan para nabi yang lain serta para wali tergolong ke dalam ayat ini.

[3] Lahir dari Maryam tanpa bapak. Hal itu sebagai dalil Mahakuasanya Allah Subhaanahu wa Ta'aala atas apa yang Dia kehendaki.

[4] Ayat ini menegaskan pandangan Islam terhadap kedudukan lsa ‘alaihis salam, yaitu sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.

[5] Yakni lalu mereka tinggal di bumi, kemudian Allah mengutus utusan yang terdiri dari para malaikat. Adapun kamu wahai manusia! Maka tidak bisa yang diutus kepadamu adalah para malaikat (tidak sejalan). Oleh karena itu, termasuk rahmat Allah kepadamu adalah Dia mengutus para rasul dari jenismu agar kami dapat menimba ilmu dari mereka.

[6] Yakni ketika Isa turun ke dunia di akhir zaman saat Dajjal telah keluar, merupakan tanda dekatnya hari Kiamat, demikian pula menunjukkan bahwa yang berkuasa menciptakannya tanpa bapak, berkuasa pula membangkitkan orang-orang yang telah mati dari kubur mereka.

[7] Karena meragukannya adalah sebuah kekufuran.

[8] Yaitu dengan mengerjakan apa yang aku perintahkan dan menjauhi apa yang aku larang. Di antara yang aku perintahkan adalah mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla.

[9] Yang menghubungkan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[10] Dari menjalankan perintah Allah.

[11] Ia berusaha sekuat tenaga untuk menyesatkan kamu.

[12] Yang menunjukkan benarnya kenabian Beliau dan apa yang Beliau bawa, seperti menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit sopak.

[13] Kepada Bani Israil.

[14] Yang dimaksud dengan hikmah di sini ialah kenabian, Injil, ilmu dan hukum.

[15] Sehingga kesamaran menjadi hilang. Oleh karena itu, Nabi Isa ‘alaihis salam datang menyempurnakan syariat Nabi Musa ‘alaihis salam dan datang membawa sebagian kemudahan yang seharusnya diikuti dan diterima

[16] Yakni sembahlah Allah saja, ikutilah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya, berimanlah kepadaku, benarkanlah aku dan taatilah aku.

[17] Dalam ayat ini terdapat pengakuan terhadap tauhid rububiyyah (Allah adalah Pengatur alam semesta) dan tauhid Uluhiyyah (Allah yang berhak disembah saja), demikian pula terdapat pemberitahuan bahwa Isa ‘alaihis salam adalah salah satu di antara hamba-hamba Allah, dan bahwa apa yang disebutkan ini adalah jalan yang lurus; yang menyampaikan kepada Allah dan kepada surga-Nya.

[18] Setelah Nabi Isa ‘alaihis salam menerangkan kebenaran.

[19] Tentang Nabi Isa, ada yang mengatakan bahwa dia adalah Allah, atau dia putra Allah atau dia salah satu di antara yang tiga. Padahal yang benar bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula mereka membantah apa yang Beliau bawa. Kecuali orang-orang yang beriman, yang bersaksi terhadap kerasulan Beliau, membenarkan semua yang Beliau bawa, dan mereka berkata tentang Beliau, bahwa Beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.

[20] Yakni alangkah sedih, rugi dan celaka mereka pada hari itu.

[21] Yakni orang-orang yang kafir karena ucapan mereka yang salah tentang Nabi Isa ‘alaihis salam.

[22] Ketika Kiamat tiba, maka janganlah engkau tanya keadaan orang-orang yang mendustkannya dan orang-orang yang mengolok-oloknya, dan bahwa teman akrab pada hari itu akan bermusuhan.